22/11/2015

masih soal memilih sekolah

minggu ini bagi gue 'berkualitas' banget. alhamdulillah...
  • masuk kerja cuma satu hari, jumat doang! hahaha.
  • bisa begitu karena gue ambil cutii - yaiyalah xD we spent it on a mini vacation to the little red dot <3
  • pas weekend, sabtunya kita ke sekolah Bhumy untuk liat doi beraksi di ajang science fair. abis itu langsung tafakuran, trus cuss ke Mrican untuk balikin mobil dan quality time sama oma opa hehe... hari minggunya, oma opa nganterin kita ke Ciganjur, makan soto mie bareng-bareng di rumah, trus sorenya grocery shopping. subhanallah komplit.
hasrat hati sih mau langsung membahas soal liburan kemarin panjang lebar, hahaha.. tapi biar 'seimbang,' gue mau beberkan dulu apa aja yang menjadi sumber kegelisahan gue saat ini. semoga bukan berarti ini wujud kurang bersyukur yah. gue cuma pengen mengingatkan diri kalau nikmat itu selain berupa kesenangan, tapi juga bisa mengambil bentuk dilema atau ujian (kalimat ini wajib dibubuhkan hashtag #sokbijak hehe).


gambar dari sini
jadi, sekarang ini yang membebani pikiran gue adalah soal memilih sekolah Bhumy. iya, belum kelar-kelar ey proses memikir dan menimbang-nimbangnya! pilihan emang sudah mengerucut sih, jadi tinggal 2 opsi. tapi hasil assessment pro-cons terhadap 2 opsi ini sama-sama memberatkan untuk dipilih.

sekolah #1 ya sekolahnya Bhumy sekarang.

pro-nya:
- metode dan kurikulum montessori; sesuai banget sama perkembangan (otak) anak, mendukung multiple intelligences, active learning, melatih kemandirian, dst dsb yang rasanya udah sering gue bahas di blog. oh ya, karena nantinya anak-anak di sini tetap harus ikut UN, maka akan ada semacam pengayaan untuk persiapan UN mulai kelas 5.
- learning with Islamic values; iya, sekolah ini bukan sekolah Islam, jadi nggak menuntut anak hafal Al-Qur'an sekian juz, hafal hadits dsb. tapi selain mengajarkan tentang sejarah, konsep tauhid, fiqih, syariah, dst, juga menekankan pada penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari dan juga bermasyarakat.
- guru-gurunya "oke" dalam artian kualifikasi pendidikannya bagus, paham agama, modest, santun, dan komunikatif.
- ekskulnya kok ya seru-seru, ada pramuka (intra curricular), mandarin, sama memanah!

tapiiii:

- uang pangkal untuk SD angkatan Bhumy naik 20% dari biaya tahun laluuuu T______T
- jauh dari rumah dan dari segi transportasi rada ribet, apalagi pas nggak ada supir kayak sekarang uhuhuhuhu.
- lahan sekolahnya terbatas. bangunan emang masih baru dan fasilitasnya cukup memadai. tapi ya gitu, nggak ada yang namanya lapangan basket (apalagi lapangan bola), kolam renang juga seadanya alih-alih olympic size haha.
- usia sekolahnya relatif baru, murid masih sedikit, lulusan bahkan belum ada. dengan demikian, sekolah ini belum dapat akreditasi, dan untuk UN sementara menumpang dulu di sekolah lain.


dari science fair kemarin

untuk uang pangkal, yaahh meskipun mencekik, tapi bisalah diusahain.. insya Allah. jarak nih dilema terbesarnya. agak ketar-ketir membayangkan harus hire supir baru lagi dari awal, dan menghadapi potensi drama.. hhh.

sementara untuk keterbatasan lahan, kalau kita udah memilih menyekolahkan Bhumy di situ, ya pastinya harus tutup matalah soal itu.

sementara sekolah #2

pro-nya:
- cuma 1 km dari rumah! dan ada jemputannya! OMAGAAHH, faktor ini doang aja udah menggiurkan banget!
- uang pangkal untuk SD bisa 'dicicil' per tahun!
- sudah eksis selama 20 tahun... berarti lebih berpengalaman, bukaan. akreditasinya juga A, rata-rata nilai UN-nya tinggi. (but do I really care about that-numbers and grades and all that is 'visible' to the eyes?) 
- kurikulumnya IPC. well, ini bisa jadi faktor pemberat maupun pengurang kecondongan hati, sih, tergantung dari cara pandang dan visi-misi ortu. IPC ini semacam jalan tengah antara kurikulum IB yang 'praktek' banget dengan kurikulum nasional yang teoritis/akademis banget. maafkan yah kalau pemahaman dan pemaparan gue ini banyak ngaconya, soalnya berdasarkan riset abal-abal via internet dan ingatan sekadarnya. 
terus karena kurnas sudah di-blend in dengan penerapan kurikulum IPC, jadi anak sepertinya bakal lebih terbiasa dengan kurnas alih-alih baru mulai dibiasakan dengan kurnas pada 2 tahun terakhir level primary aja. 
dari hasil survey kemarin, contoh yang paling nyata adalah sekolah ini hampir nggak ada field trip (adanya outing, yang mana ya untuk refreshing aja setelah tahun ajaran selesai). sementara di sekolah #1 ada field trip paling nggak 1 kali setiap term (3 bulan) untuk menunjang proses belajar. bahkan bisa lebih, untuk memfasilitasi ketertarikan dan curiosity anak. 
trus soal PR, di montessori, nggak ada PR samsek. tapi untuk kurikulum IPC ini ada worksheet untuk dikerjakan anak setiap harinya. am I against PR? nggak, kok. gue justru berpikir pengulangan itu perlu. tapi, ini semacam menjadi 'pertanda' kalau faktor akademis menjadi 'warna' utama dalam pendidikan di sini kelak.
- sekolahnya luaaaas. yah, bisa dimengerti. lokasi sekolah #2 ini terbilang pinggiran jakarta, sementara sekolah #1 ada di tengah kota. jadi, sekolah #2 ini fasilitasnya mumpuni; ada lapangan bola 2 bijik(!), lapangan basket, dll. makanya, pilihan ekskul untuk siswa juga jauh lebih beragam.

lalu cons-nya:

- pendidikan agama cuma 2 jam per minggu. emang, setiap harinya anak-anak beragama Islam akan diajak sholat dzuhur berjamaah. trus ada ekskul Iqra juga. tapi.. porsinya jelas berbeda jauh dengan sekolah #1.
- school fee bulanannya lebih mahal hampir 40% dari sekolah #1. hmm... diitung-itung, bisa tergantikan sama uang bensin dan gaji supir, sih. tapi, ini berkaitan dengan poin selanjutnya, yaitu...
- waktu kita visit ke situ saat jam pulang sekolah, kita lihat deretan mobil yang akan menjemput. hmm.. kok ada jaguar aja? haha.. alphard dan sekelasnya juga bererot, semacam mobil 'standar' di situ xD jadi agak gentar juga, membayangkan gimana kalo anak kita jadi semacam Sanchai di antara para anak konglomerat, kekekek...
- ini mungkin preferensi pribadi semata, tapi kegiatan pramuka baru ada di level middle school. berkat melihat sang teman hidup yang "boy scout" banget sanubari dan adab perilakunya (hahaha), gue jadi sadar kalau kepanduan itu ilmu yang penting dan berguna banget untuk diajarkan ke anak.

untuk menambahkan ketegangan, kita sudah harus memutuskan Bhumy mau bersekolah di mana per Desember ini. sementara sampe sekarang gue dan Adit masih bingung sejadi-jadinya.

hati kita sih sepakat, condong ke sekolah #1. tapi perjuangannya nampak akan lebih berat... terutama terkait faktor jarak dan transportasi.
gue sempat curhat sedikit sama dokter Yuniar seputar memilih sekolah ini, eh jawaban beliau tak dinyana sekonyong-konyong menghujam hatik: "itu jihad kita sebagai orangtua, Ris." glek...

gue jadi berpikir, ajang Bhumy masuk SD kelak ini akan jadi milestone juga buat kita sekeluarga. gue inginnya tetap bisa memberikan waktu, perhatian, dan pendampingan yang berkualitas buat Bhumy, sambil tetap bekerja. gue emang berdoa (Adit juga - getok kalo nggak), semoga jalan kita dimudahkan dan dimuluskan kalau memang sekolah #1 yang terbaik untuk Bhumy. 

karena kalau di-crosscheck sama "kriteria" memilih sekolah yang gue tulis tempo hari, begini hasilnya:
- kurikulum IB -> gue menganggap kurikulum montessori banyak kemiripan dengan IB. di montessori, anak-anak bisa memberikan input tentang bagaimana mereka mau diajar, dan mereka bisa mengontrol cara belajar mereka dibandingkan anak-anak di sekolah berkonsep "tradisional." montessori juga 'lahan' yang tepat untuk menggarap anak sesuai kecerdasan majemuknya, karena gaya belajar alami dan preferensi anak dihargai dan didukung. kemampuan analitis anak juga didukung lewat gaya belajar yang nggak fokus ke textbook semata. btw info ini gue dapat selain lewat browsing, juga lewat hasil diskusi sama Kepsek sekolah Bumy sekarang. 
kurikulum IPC sendiri juga mendukung active learning dan juga konsep kecerdasan majemuk dalam prakteknya. gue kutip dari situs ini, dijelaskan sbb "Kurikulum IPC ini sebenernya seperti kurikulum IB yang disempurnakan. Jadi disini tidak hanya sekedar framework, tapi sudah jelas topik-topik dan panduan apa yang akan dipelajari. Kurikulum ini menekankan field study dan penerapan aplikasi teori."

lalu dalam hal "teknis," 
- fasilitas - yakin nih, gue nggak mupeng dengan sekolah yang fasilitasnya "lengkap bin mumpuni sampai ada lapangan hoki dan ice skating segala?" fufufufu... 
- pergaulan - sebelumnya, hal ini nggak gue jadiin pertimbangan banget. tapi, gimana kalo abis liburan nanti temen-temen sekelas Bumy pada seru bilang abis liburan ke Mount Titlis atau Raja Ampat, sementara Bumy... ngider-ngider BSD-Karawaci aja? x))))
- lokasi - kemarin gue tulis dengan sombongnya kalau jarak bukan masyalah buat kita.. eeh abis itu langsung diuji dong, dengan supir resign dadakan! baru deh, terasa... kasian banget Bumy harus menempuh jarak segitu jauh naik motor. berjibaku sama macet pula. 

wishlist terbesar kita (yang mungkin agak nggak tau diri sekaligus rada gila) adalah bisa tinggal deket sekolah #1. gue membayangkan Bhumy nggak perlu commuting jauh-jauh membelah macet setiap paginya, serta gue dan Adit bisa balik dari kantor dan ketemu Bhumy dengan lebih cepat karena nggak perlu berjibaku dengan kemacetan jam pulang kerja.
berlebihan-kah?
yah... it's up for you to judge.
tapi kita juga sadar banget kalau bisa tinggal di landed house di tengah Ciganjur begini merupakan sebuah privilege yang tak ternilai buat kita. Bhumy bisa lelarian sama Naya tiap sore, jauh dari polusi dan keriweuhan tengah kota.

BRB istikhoroh dulu, deh... :)))


12/11/2015

beauty is in the essence

ada keheranan yang gue rasakan, saat melihat jajaran popular posts blog ini. minggu demi minggu, postingan tentang skincare regime selalu masuk daftar tersebut. 
heran, karena ternyata banyak yang nyangkut di blog gue ketika gugling suatu produk. padahal rasanya gue nggak pernah nyebut-nyebut lagi soal skincare... 
kenapa nggak pernah disebut-sebut lagi? karena jujur ajah, telaten menjalani sesuatu hal - termasuk skincare routine - adalah satu dari sekian banyak hal yang rada impossible buat seorang gue lakukan. 
setelah berjalan beberapa lama, skincare routine gue mulai memendek rangkaiannya. 
double cleansing sih tetep... kadang-kadang. kalau nggak keburu ngantuk. sementara ngantuknya sering. walhasil seringnya ya ngoles micellar water doang... dan skip cuci muka. zzz....

double toning? kadang iya kadang nggak. 

pakai rangkaian perawatan korean skincare yang meliputi balancer - pre-essence - serum/ampoule - essence - emulsion - cream - sleeping pack dst? pastinya ini yang terpangkas! 
balancer masih gue pakai, karena gue suka after effect-nya yang bikin kulit terasa seger. pre-essence? sejak first care activating serum abis, gue belum repurchase lagi. terlebih setelah baca-baca kalau kandungan alkohol produk ini lumayan tinggi. 
serum? nggak ada. 
essence? pake siih, hadalabo merah aja. 
emulsion dan cream? skip and skip. gue merasa kandungannya terlalu melembapkan, sementara kulit gue 'kan berminyak, dan karenanya, bikin jerawat gue pada nongol.

(gue belum tau betapa salahnya pemikiran tsb!)


skincare routine yang sekadarnya itu berlanjut sampai lalu gue balik ngantor, dan tak disangka, kenal sama seorang bencong skincare. haha. 

dese dari umur junior gue bangetttt, beda 7 tahun bok! tapii, obrolan kita emang kerap diisi sama tetek-bengek skincare (selain makanan, gosip, dan... makanan plus gosip). gue sendiri sebatas 'meramaikan' topik skincare aja, berbekal pengetahuan selama jadi proofreader sebuah beauty website hehe. tapi antusiasme gue kalah jauh sama sang lawan ngobrol; karena gue saat itu sudah merasa terlalu lelah untuk mengaplikasikan skincare berlapis-lapis setiap malam. not to mention nggak punya budget juga sih buat nyusun skincare wishlist macem-macem xD
hingga lalu suatu hari, Desi sang lawan ngobrol tadi ngajak gue iseng-iseng test usia kulit di konter SK-II. 
entah kenapa waktu diajak itu gue mules. awalnya sih excited, kebayang bakal dapet sample gratisan. tapi begitu mendekati giliran muka gue dites, gue semakin resah. secara gue sadar sepenuhnya kalo skincare routine yang gue praktekin sekadarnya aja. semacam udah punya firasat kalo hasilnya bakal jelek. 

dan begitu hasilnya ditunjukin... dhuaar... firasat itupun terbukti: kulit gue disebut 7 tahun lebih tua dari usia gue sebenarnyaaa... omagaahh *sempoyongan dramatis di konter SK-II* 

menelan pahitnya kekecewaan, gue pun mulai menyesal. why oh whyyy gue nggak telaten merawat muka?? *cakar dinding*
kata-kata Desi sebelum skin test pun terngiang-ngiang, "Pasti abis skin test jadi nggak males lagi nerapin skincare routine tiap malem deh, mbak." 
bener banget, tragedi hasil-skintest-jelek ini secara instan dan nyata memotivasi gue! 

gue juga jadi tau, kalo ternyata keputusan gue ngeskip emulsion dan cream itu salah. kulit gue jadi jerawatan dan berminyak bukan karena 2 macem produk itu, tapi justru karena kulit gue KERING atau dehidrasi - dan bisa juga karena kurang bersih cuci mukanya. tapi gue merasa penyebab yang pertama lebih banyak berkontribusi. karena emang gue lebih banyak berada di ruangan ber-AC, jarang minum, dan nggak pake produk yang melembapkan wajah sama sekali. 


malemnya, gue langsung ngoprek tumpukan skincare di rumah. apaan aja sih yang masih bisa dan layak dipake?

akhirnya ini yang gue terapkan:

- bersihin makeup pake Sulwhasoo Cleansing Oil. 

- cuci muka pake Hadalabo AHA BHA Face Wash (malem) bergantian dengan Kiehl's Rare Earth Cleansing Scrub (pagi). btw ini Kiehl's awet banget karena emang sempat off gue pakai. 
- toning pertama, kalau cumuknya pake Kiehl's ya gue terusin sama Kiehl's Rare Earth Toner. kalo pake Hada Labo diterusin sama toner AHA/BHA (selang-seling tiap malem) (masih pake Paula's Choice BHA sama Alpha-H).
- toning kedua, pake Hada Labo biru (pagi) dan Sulwhasoo Balancing Water (malem).
- pre-essence: skip. wishlist sih mau coba SKI-II FTE lagi. duluuu banget gue pernah pake FTE dan hasilnya, bermunculan jerawat kecil-kecil di muka. pas ditanya ke mbak SPG-nya, dibilang itu wujud detox dan wajar, diliat aja 3 bulan kemudian masih sama atau nggak reaksinya. tapi ini bikin gue males beli FTE full size, khawatir hal yang sama akan terjadi dan selama lebih dari 3 bulan. jadi sejauh ini belum ada pre-essence yang gue pakai. 
- serum: guepun memutuskan mencoba perawatan 35-hari dengan Sulwhasoo Herbclinic Restorative Ampoule. berhubung muka gue diliputi banyak problema, mulai dari pori-pori gede, jerawat dan bekasnya, aging, blabla. dan gue baca produk ini mumpuni buat 'benerin' kondisi kulit muka. 
- essence: tadinya pake Whoo Qi & Jin Essence (malem) dan Secret Key Dragon Blood Essence (pagi). tapi karena gue baca kalo lagi pake ampoule di atas sebaiknya jangan dicampur sama produk lain dulu, jadi sekarang gue skip essence.
- emulsion: Sulwhasoo Emulsion (malem) dan Hada Labo biru (pagi).
- cream: untuk pagi, gue pakai Pond's Gold Radiance Day Cream yang ada SPF 15 (ngabisin stok), lanjut sama sunblock Skinaqua putih. kalo malem, gue pakai bergantian antara Secret Key Deep Moisture Face Oil (ngabisin stok juga) sama Sulwhasoo Concentrated Ginseng Renewing Cream.
- oya krim mata: berhubung Ole Henriksen dan Clinique All About Eyes gue abis, jadi sekarang gue pake L'occitane Divine Eye Cream yang waktu itu dapet sample size gratisan heuheu.

uwis. done. fin.


setelah sebulan gue jalani dengan (mencoba) setelaten mungkin, perlahan-lahan ada efek yang mulai terasa... dan terlihat.

- seminggu pertama, muka jadi lebih cerah, kekusaman berkurang. 
- seminggu kedua, gue mulai suka pake CC cream lagi (Borjouis). tadinya gue sempet mogok pake CC atau BB cream karena hasilnya terlihat kurang blended di wajah... berasa banget dempulannya. tapi, kayanya karena kulit gue udah lebih lembap, si CC cream pun bisa meresap dengan lebih baik dan hasil coveragenya jadi lebih memuaskan. 
- seminggu ketiga, its mejik! muka gue terlihat "baik-baik saja" tanpa foundation!!! aseli no tipu-tipu. gue sendiri kaget pas liat... ternyata, gue bisa 'survive' tanpa foundie! sebelumnya, gue semacam udah menahbiskan bahwa gue ada di usia di mana gue nggak bisa terlihat di depan umum tanpa pulasan foundie. karena muka gue nggak jelas banget wujudnya tanpa dempulan! 
tapi ternyata, setelah menerapkan skincare regimen ini dengan sepenuh hati, alhamdulillah, pori-pori di muka gue yang sebelumnya bak menganga, menantang, tanpa ditutup foundie, kini mulai bisa mingkem. minyak di muka juga nggak nggilani seperti biasanya. 
sumringah daku dibuatnyaaa. 
- sebulan kemudian, gue pun memberanikan diri untuk... skin test lagi! 
kali ini, gue melangkah ke konter SK-II dengan agak lebih gagah berani. sebenernya lebih dominan rasa penasaran, apa iya penerapan skincare routine selama sebulan ini bener-bener ngaruh ke kondisi kulit muka. and so the moment of truth came... hasilnya, rapot gue emang membaik nilainya; usia kulit sekarang sama kayak usia sendiri. lumayan nggak sih, ponten gue naik 7 poin? 
terlepas dari kesahihan skin test ini, pokoknya gue seneng aja liat hasilnya!! ahahahah.. seketika pengen muter2 nyanyi "I feel pretty! oh so pretty!" pake rok lebar.




pas skin test kedua ini, gue dan Desi sengaja bela-belain ke LoVe buat belanja di duty free. pas compare harga, ya lumayan sih. tapi akhirnya tetep belum jadi beli, hehe. sesudah skin test, gue dikasih FTE sample size sama mbak SPG-nya. jadi kayanya mau gue coba abisin dulu dan liat apakah bakal bruntusan lagi atau nggak sebelum beli full size. 


trus mumpung lagi di LoVe, kita sempatinlah buat mampir ke konter-konter lain. pas ke Kiehl's, berhasil minta sample-nya serum MRC (Midnight Recovery Concentrate) yang beberapa tahun lalu sempat booming. nyoba-nyoba hand cream di L'occitane. trus mampir sejenak di konter History of Whoo. menurut SPG-nya, Whoo ini di atas Sulwhasoo levelnya. kalo diliat-liat, harganya emang jauh lebih mahal, sih... ada regimen yang dibanderol 24 jutaan :O

di sini, kita ditawarin trial kit setelah sebelumnya dipersilakan nyoba balancer-nya. bau balancernya sih enak, sama-sama kental nuansa ginseng kayak Sul. trus di sini juga ada produk dengan fungsi sejenis FTE, yaitu Jasaeng Essence. akhirnya gue dan Desi ngangkut trial kit ini deh, yang isinya sbb:







Jasaeng Essence ini pre-essence juga


ukurannya lumayan

yang berabe adalah gimana kalo ternyata regimen ini cocok setelah dipake? full size-nya seharga hampir 3 jutaan aja, siiis.


anyways, sekarang ini gue belum punya wishlist macem-macem. cuma kepikiran sama
- eye cream yang cucok

lagian mau punya skincare bejubel juga kalau nggak dipakai secara disiplin, ya hasilnya bakalan nggak oke juga, bukan. jadi kesimpulan dari artikel ini mirip sama judulnya: beauty is in the essence. and what are those essences? pastinya essence yang mumpuni (literally) dan keteguhan hati buat menjalani 10-17 langkah skincare routine setiap malem x)))

10/11/2015

Ritual Makan Bersama, Apa Pentingnya?

Pada artikel tentang tradisi keluarga, dibahas betapa dahsyat manfaat yang bisa didapatkan dari menjalani sebuah ritual secara rutin. Ritual yang dilakukan tidak harus selalu besar-besaran, yang kecil dan sederhana pun cukup. Contohnya dengan makan malam bersama. Beberapa tahun belakangan ini, ritual makan malam bersama mendapat banyak sorotan. Di Amerika Serikat, selebriti dan figur publik berlomba-lomba menyuarakan pentingnya melakukan ritual family dinner. Bahkan presiden Obama turut menghimbau rakyatnya untuk membiasakan makan malam bersama keluarga. 

Gambar dari sini
Buat kita di Indonesia, makan bersama rasanya sudah dipandang penting sejak lama. Di mana lagi coba, ada semboyan seterkenal "makan nggak makan asal kumpul?" Hehe. 
Nah, sebenarnya esensi dari makan malam bersama itu sendiri memang bukan makannya, tapi... ya justru ngumpulnya! 
Makan malam bersama adalah kesempatan untuk bonding; seluruh anggota keluarga duduk bareng setelah menjalani hari yang panjang, untuk mempererat kembali rasa kebersamaan. 
Makan malam bersama juga kesempatan untuk mengenal sejarah keluarga, lho. Riset menunjukkan bahwa anak-anak yang makan malam bersama keluarganya cenderung tidak minum-minum, merokok, menggunakan obat-obatan, hamil di luar nikah, bunuh diri, atau mengalami gangguan makan setelah dewasa. 
Di mana hubungannya?

Dengan mengetahui di mana kakek-nenek lahir, bagaimana papa-mama saling mengenal, siapa anggota keluarga yang pernah sakit atau mengalami kemalangan, dan lain sebagainya, anak akan mengetahui sejarah hidupnya. Riset menyimpulkan bahwa anak yang lebih mengenal sejarah keluarganya akan bisa menghadapi kesulitan hidup dengan lebih baik. Anak akan menjadi lebih resilien, yang artinya bisa mengurangi efek dari stres. 
Hasil lain dari riset menyatakan bahwa anak-anak itu akan punya kosakata lebih banyak, sikap lebih baik, gaya makan lebih sehat, dan harga diri lebih tinggi. 

Bahkan menurut survey paling komprehensif yang dilakukan University of Michigan, waktu makan jauh lebih berpengaruh dibandingkan waktu yang dihabiskan di sekolah, belajar, menghadiri kegiatan keagamaan, atau berolahraga. Dari situ, Mommies sadar nggak, kalau semua hal-hal yang membuat kita parno sebagai orangtua, bisa dihindari HANYA dengan duduk bareng untuk makan? 

Memang sih, kalau melihat kondisi kehidupan di kota besar yang serba sibuk - belum lagi godaan distraksi gadget! - makan malam bersama setiap hari agak sulit diwujudkan. Tapi, seperti sudah dipaparkan tadi, yang penting ya ngumpulnya. Mommies bisa mengganti jadwal menjadi sarapan bersama, atau makan malam beberapa kali saja dalam seminggu. Atau mungkin saat weekend saja. Yang penting, seluruh kelurga bisa duduk bareng untuk saling bicara. 

Pertanyaan berikutnya, apa yang mesti dibicarakan ketika duduk bareng?
Kebayang dong, kalau kita bertanya dengan gaya interogatif, anak malah akan malas menjawab dan pembicaraan berjalan satu arah saja. Ritual keluarga yang baik seharusnya menyenangkan dan berkesan. Dari buku "The Secrets of Happy Families" karangan Bruce Feiler, saya mendapatkan beberapa ide untuk mengisi waktu makan bersama keluarga. 

Senin: Word of the Day.
Ini bisa menjadi kesempatan Mommies untuk mengajarkan satu kata baru setiap makan bersama. Jenis permainannya bisa bermacam-macam, antara lain
- Mommies melempar kata-kata seperti “kuda,” “bukit” atau “hijau,” lalu ajak yang lain menyebut sebanyak mungkin kata-kata yang berhubungan. Tujuannya apa lagi kalau bukan merangsang kreativitas.
- Perkenalkan prefix (dis-, un-, il-) atau suffix (-able, -ness) dalam bahasa Inggris, atau imbuhan dalam bahasa Indonesia, lalu minta yang lain membuat kata-kata baru. 
- Bawa koran, majalah, atau katalog, dan suruh yang lain mencari kata yang mereka tidak tahu artinya.

Selasa: Malam Otobiografi.
Untuk melatih anak menggambarkan kejadian yang telah lalu, minta anak mengingat kembali pengalaman yang berkesan bagi mereka. Mommies bisa memancing dengan pertanyaan yang elaboratif. Ingat 5W 1H 'kan? 

Rabu: Pain Points. 
Pain point berarti masalah yang perlu dipecahkan. Mommies bisa sharing kesulitan dalam mengatur menu keluarga, atau minta anak bercerita tentang tugasnya bekerja sama dengan teman yang nyebelin. Tujuannya tentu untuk membedah masalah dan mencari solusi, sehingga problem-solving skill anak dapat terasah. 

Kamis: Permainan Kata.
- Thesaurus: minta yang lain menyebut kata lain yang maknanya sama. 
- Minta yang lain menyebut kata yang dimulai dengan huruf yang sama untuk membentuk satu kalimat.
- Fill in the blanks. Mommies memulai dengan menyebut "Ketika aku main di taman, aku merasa..." atau "Aku ingin sekali bisa...."
- Cari perbedaan, misalnya dari kota A versus kota B. Bedanya capung dengan lalat, daan lain-lain.

Jumat: Baik dan Buruk. 
Menjelang akhir pekan, ajak anak me-review minggu yang sudah berjalan dengan menyebutkan satu hal baik dan satu hal buruk. Memang sih, kalau anak sedang nggak konek, bisa saja dia jadi malas bercerita. Nggak perlu dipaksa, kok Mommies. 

Gimana, apa Mommies jadi nggak sabar menanti makan bersama keluarga seperti saya? Don't forget to put your gadgets on silent mode, ya!

27/10/2015

Orangtua: Pelatih atau Penyemangat?


Anak saya baru berusia 5 tahun, masih duduk di kelas nol besar. Tapi setiap weekend, dia sudah sibuk wara-wiri untuk mengikuti beberapa les.
Memang sih, mengingat usianya, lesnya belum ada yang berbau akademik seperti membaca atau berhitung, melainkan baru yang sifatnya fisikal (olahraga) dan juga musikal (main electone). Tapi, jujur, saja nih, Mommies, kadang saya suka sutris sendiri memikirkan progress anak saya dalam kedua les itu.

Contohnya untuk les berenang, sudah hampir setahun dia mengikuti les dengan rutin. Tapii, gaya yang dipelajari kok masih itu-itu saja, sih? *gemas* 
Di pikiran saya, seharusnya dia sudah bisa seperti anak lain, yang sudah jago menyelam, atau lincah renang dengan gaya kupu-kupu. (Uhm, meskipun saya sendiri hanya bisa gaya katak, sih...) 
Lalu untuk les electone-nya, sulit sekali rasanya mengajarkan dia di rumah. Padahal kami hanya mengulang materi yang diberikan oleh gurunya di kelas. Saya sampai perlu mengeluarkan 'jurus' andalan supaya anak semangat latihan di rumah... apalagi kalau bukan dengan iming-iming? 

Nah, pengalaman teman saya yang anaknya sudah lebih besar lain lagi. Anaknya suka bermain sepakbola, dan setiap kali anaknya bertanding, justru orang tuanya yang stres. Saya sendiri kerap menyaksikan banyak orangtua yang sibuk memberikan instruksi kepada anaknya di lapangan, lewat bangku penonton. Atau mendapati orangtua yang sibuk mengkritik anaknya sesudah pertandingan, sesudah performance, atau kegiatan lain yang dilakukan anak. Hmm, tak terkecuali saya, sih. 

Maksud orangtua (seperti saya) pastinya "baik," yaitu supaya anak belajar dari kesalahannya dan bisa tampil dengan lebih baik pada kesempatan berikutnya. Begitupun kalau orangtua (lagi-lagi seperti saya) sedikit 'memaksa' anak untuk menekuni suatu kursus atau kemampuan tertentu. Tujuannya supaya anak mengenali apa hal yang dia sukai sejak kecil. 'Kan katanya "If you live life doing what you love, then you don't have to work a day in your life."
Orangtua mana yang nggak ingin anaknya bisa menjalani hidup sesuai passion-nya?
Apalagi sekarang ini persaingan antar manusia sudah semakin tinggi. Ada pressure di diri orangtua untuk menjadikan anak punya spesialisasi skill sejak dini, mampu bekerja keras, dan pastinya, sukses.  

Kalau begitu, apakah sebenarnya kita, para orangtua, perlu mengambil peran sebagai pelatih atau coach juga bagi anak? Meskipun dijalani sambil sutris sendiri? Hehehe. 
Idealnya, orangtua memberikan apa yang anak benar-benar butuhkan yaitu dukungan dan kata-kata penyemangat. Menurut sebuah riset, sumber stres terbesar di diri anak datang dari ekspektasi orangtua. Sebuah studi di Amerika Serikat menyatakan bahwa kekhawatiran terbesar atlit anak-anak berusia 9-14 tahun sebelum bertanding terkait dengan bagaimana respon orangtua jika mereka tidak perform dengan bagus. 
Sementara itu, orangtua kerap kali terlalu tinggi menilai kemampuan anaknya sehingga muncul ambisi yang tidak pada tempatnya. Penyebabnya adalah karena ketidakpahaman orangtua mengenai seperti apa diri anak skill-wise.

Penting untuk kita ketahui bahwa ada 3 tahap yg dilalui anak saat akan mengembangkan talent:
1. Romantic stage (usia 6 - 13)
Anak terpikat oleh keseruan di lapangan atau betapa kerennya bisa memainkan alat musik. Ini membuat anak tertarik untuk mengeksplorasi lebih jauh, apalagi jika mereka bisa menikmati serunya suatu kegiatan. 
2. Technical stage (usia 13 - 16)
Pada tahap ini, fokus belajar anak mulai bergerak ke arah teknik dan kedisiplinan. Transisi menuju ke sini bisa berisiko karena sesuatu yang tadinya enjoyable bagi anak mulai berubah menjadi sesuatu yang perlu dikerjakan sungguh-sungguh. Banyak anak yang 'tumbang' dalam prosesnya. 
3. Mature stage (usia 16 ke atas)
Anak beranjak menjadi ahli dalam bidangnya. Mereka bisa mengembangkan gaya dan interpretasinya sendiri. Mereka juga termotivasi dari dalam untuk terus berlatih.

Apa yang dapat kita simpulkan dari ketiga tahapan ini?
Jawabannya, mengenali bakat dan kemampuan anak itu butuh waktu.
Para pelatih sendiri tidak bisa menebak mana anak yang akan sukses dalam bidang kemampuannya kelak. Menurut para pelatih, anak yang paling berhasil bukan selalu yang paling berbakat. Yang membedakan seorang pencetak prestasi dengan yang bukan adalah faktor-faktor berikut: persistence (kegigihan), determination (kebulatan tekad), dan willingness (keinginan yang kuat). 

Tentunya kita sebagai orangtua juga ingin bisa menilai anak kita secara objektif seperti para pelatih atau coach. Bagaimana caranya? Menurut buku "The Secrets of Happy Families" karangan Bruce Feiler, ini yang perlu dilakukan orang tua:

1. Jangan memaksakan suatu olahraga atau kegiatan pada anak. 
Kita justru perlu menunggu anak menunjukkan ketertarikan. Ketika anak berinisiatif ingin mencoba, barulah orangtua terlibat. 
2. Definisikan lagi tujuan.  
Orangtua perlu mengenali apa tujuan yang ingin dicapai anak dalam berolahraga. Apakah supaya anak menjadi atlet hebat, atau untuk belajar teamwork, berteman, dan sebagainya. Jangan lupa untuk meminta anak untuk menjawab juga apa tujuannya. 
3. No verb
Ketika anak-anak ditanya apa yang paling mereka tidak sukai dari bertanding atau tampil, mereka menjawab tidak suka kalau orangtua sibuk memberi perintah ini-itu. 
Tugas orangtua hanya memberi semangat, bukannya arahan. 
4. Hindari merekonstruksi kesalahan anak sesudah pertandingan atau pertunjukkan. 
5. Ajak anak terlibat dalam percakapan konstruktif. 
Minta pendapat anak tentang penampilannya, namun jika ada hal negatif yang ia rasakan, responlah dengan positif. 

Lewat tampil dalam pertunjukkan, berlomba atau bertanding, anak memang jadi belajar banyak skill penting, di antaranya kepercayaan diri, sikap kompetitif, serta risiko. Tapi sebenarnya semua hal itu bisa diraih seiring dengan berjalannya waktu. Yang terpenting untuk saat ini adalah menjadikan saat-saat belajar dan berolahraga sebagai momen yang menyenangkan. Baik untuk anak maupun orangtua. Jadikan momen ini sumber keterhubungan dalam keluarga. 
Kesimpulannya, kita nggak perlu jadi coach untuk anak-anak kita, malah seharusnya jadi cheerleader yang baik bagi mereka.

So Mommies, have you prepared your pompoms? :D

26/10/2015

tentang keseimbangan

balancing work and home. 
ini isu yang tipikal dan familiar banget buat gue, deh. gue sebut begitu karena melulu gue temui sepanjang berstatus ibu bekerja. contohnya ya seperti sekarang ini. 
gue pernah membeberkan dalam sebuah blogpost, gimana saat gue masih bisa-di-rumah-aja (baca: jadi IRT), gue pernah iseng membayangkan WHAT IF gue balik ngantor lagi. apakah gue bisa berkomitmen penuh pada kerjaan di kantor gue yang workload dan budayanya "seperti itchu?" 
trus, gimana kalo anak gue sakit? kebayang rasa sungkan ketika harus minta ijinnya. atau kalau harus keluar kota, pulang malem karena lembur, dst... maka saat itu, hasrat untuk bekerja lagi yang sempat meninggi di sanubari, mendadak surut.

tapi atas kehendak Allah, gue kembali jadi karyawati. 
lalu apa yang terjadi?
well, kalau mau dicari nggak enaknya, ya pasti ada aja (*dalam hati menjerit "banyaaaak!"*). tapi, yang harus disyukuri ya juga nggak kalah banyak. misalnya lokasi kantor yang sesuai dengan doa gue dan Adit, unit kerja yang ngurusin segmen business (instead of retail) dan cakupannya di level regional (nggak terlalu luas, tapi juga nggak terlalu 'sempit'), juga keberadaan faktor-faktor pendukung lain seperti suasana pertemanan yang so far so good.  
tapi, seperti yang gue duga, masih muncul ketidaknyamanan ketika gue dihadapkan pada skenario-skenario yang sebelumnya sudah gue bayangkan. 
contohnya, benar gue merasa bete kalau harus pulang kantor malem-malem (atau lebih tepatnya, kalau nggak jam 5 TENG). 
benar gue merasa bersalah ketika diajak jalan-jalan dari kantor keluar kota dan menjadikan harus nginep selama beberapa hari. 
bahkan, untuk saat ini, gue agak mumet mikirin seandainya level posisi gue dinaikin. padahal temen-temen seangkatan gue hampir semuanya udah berada di level posisi tersebut. membayangkan tanggung jawab yang otomatis akan bertambah, komitmen waktu yang diperlukan, dst, bikin gue gentar. 

konsekuensinya, kinerja gue ya nggak jauh beda dengan yang gue tunjukkan 3 tahun lalu. gue masih kalang-kabut menghadapi tantangan waktu. trus terkait hati, gue merasa udah menemukan passion gue tapi kerjaan full-time gue nggak berhubungan sama sekali dengan passion gue itu. meskipun begitu, gue takut menghadapi apa yang akan terjadi "di luar sana" once I decided to step out of this 'safe zone.'
will it be different if I worked full-time doing something I'm passionate about? apakah gue nggak akan merasa bersalah sama anak lagi?

anyways, I remember a Saturday I had a few weeks ago. 
entah kenapa saat itu semua angan ambisius untuk menikmati weekend menguap begitu saja. 
gue kehilangan ambisi untuk quick getaway ke bandung (atau puncak atau anyer). 
I didn't even exercise. gue juga nggak kepengen nyalon atau pijet - like I normally would. gue nggak datang tafakur. gue nggak mengisi waktu dengan melakukan survey ke sekian banyak sekolah seperti yang sudah gue targetkan. 
alih-alih meng'optimal'kan weekend, saat itu gue malah sangaaaat menikmati duduk di sofa panjang gerai fast food bersama Bumy di sebelah gue. he's playing a game on my gadget. gue sendiri asik cetat-cetut di ipad. we ate loads of junkfood. I was listening to Belle and Sebastian's "Funny Little Frog" and had no plans whatsoever on my mind. 
yet I felt so in touch with my heart. there's an absence of restlessness. gue nggak bisa inget kapan terakhir kali gue merasa begini. mungkin perasaan seperti ini yang dimaksud dengan "contentment." 

karena, gue puas bisa berada di dekat Bumy right at that moment. meskipun kami nggak sedang melakukan high-quality bonding activity.
gue puas bisa mendengarkan lagu-lagu dari band-band kesukaan (#nowplaying Beirut's "Postcard to Italy". how is that not to love?).
gue puas bisa melanglang sendirian... berkelana di dalam labirin pikiran dan perasaan gue sendiri. 
I just hope I could feel it more often. 

--------


maybe life will never be balanced. 
dan gue mengatakan ini bukan dengan nada yang sinis atau pahit. dunia emang udah ditakdirkan bersifat fana, bukan? apa-apa yang ada di sini nggak kekal, berubah-ubah kondisinya. kerjaan kadang padat, kadang nyenengin. kebersamaan sama anak kadang mengalir dengan mudah dan menyenangkan, kadang banyak dramanya. 
you just have to seize the moment when it passes you by. tangkap kebahagiaan saat dia datang. hadapin bau busuknya saat ke-enggakenak-an harus dilewati. 
hmm.. sepertinya paragraf ini perlu ditandai dengan hashtag #bukankatabijak #sedangsadarsesaat, deh. 
karena sejujurnya, it's never easy. kembalinya gue ke pekerjaan full-time bukan cuma bikin gue perlu banyak adaptasi, tapi juga berdampak ke diri Bumy. gue perhatiin, dia jadi lebih sensitif, suka nangis lebay karena alasan sepele. dia harus nungguin gue dan Adit pulang ke rumah setiap malem, cuma sama si embak. not to mention perkembangan segala kegiatan les-nya yang agak terbengkalai sejak gue kembali bekerja. 
to me, leaving him feels harder now that I've experienced becoming a SAHM. mungkin, sulit juga bagi dia untuk membiasakan nggak bersama gue setiap saat di rumah. 

gue teringat suatu momen, Minggu malam di pom bensin. Bumy lagi mellow gara-gara baru say byebye ke oma. gue sendiri sedang merasa nggak nyaman; campuran dari perasaan hampa, bingung, dan resah. saat itu, kita berdua sama-sama sedang butuh "obat hati."
seperti apa harusnya obat itu?
should I stop working? 
should I take him to the mall and buy him stuff?
apakah ketidaknyamanan seperti ini akan berhenti terjadi begitu gue jadi IRT *lagi*? 
tapi, apa yang sedang gue ajarkan ke anak gue lewat pilihan-pilihan gue ini? am I being selfish? am I being materialistic? or am I teaching him about hardwork and a life earned from it? am I teaching him to be happy no matter what the situation is like? 

yang jelas, gue nggak bisa melarikan diri (lagi). 
kalau sekarang gue belum bisa "menghidupkan hidup" seperti semboyannya Ho, setidaknya gue bisa mencoba survive lah. 
gue udah pernah bikin survival guide untuk IRT, berdasar pengalaman selama jadi IRT, yang isinya the things that kept me sane. ndak ada salahnya gue coba bikin survival guide juga buat profesi sekarang, 'kan? meskipun mungkin sebagian besar cuma dikarang-karang, haha. 




but if I am to write one right now, what will be in that so-called survival guide?

let's say I'm trying to give myself "wise" but do-able advices here.. so please, spare me from being a smartass :) 
I think this is what the currently-working me should do: 

1. try to like where I am. try hard, lebih tepatnya :)))
in Leo Babauta's words, "get good at discomfort." 

2. keep doing things that I love.
gue merasa paling nyaman sama diri gue sendiri saat bisa berbagi ide, cerita, atau perasaan. kadang gue wujudkan lewat tulisan, kadang lewat ngobrol. jadi, nampaknya gue perlu cari cara untuk menyalurkan hasrat ini sembari bekerja. 
sekarang ini, gue nyambi bikin-bikin blog sama temen-temen (ada ini dan ini, hehe). kerjaan freelancing juga masih gue lakuin, meski untuk merampungkannya butuh effort dan waktu khusus. tapi yaa, demi menyalurkan hasrat, dan ujung-ujungnya, menjaga kewarasan. 

3. stop COMPARING. 
ini berlaku buat kondisi diri sendiri, maupun kondisi anak dan keluarga. 
we all have our own demons and battles to face. cuma masing-masing yang tahu hidupnya beneran bahagia atau nggak. 

4. mencoba disiplin.
poin yang ini kayanya wajib ada di daftar gue baik mau jadi WM maupun IRT. disiplin waktu selalu jadi yang paling penting buat gue; gue perlu membiasakan tidur di waktu yang sama setiap malam, bangun pagi supaya sempat olahraga, cuci muka sebelum tidur, tafakur setiap minggu. begitupun buat anak, merutinkan jadwal latihan electone, baca buku bareng setiap malam, dll. 

5. batasin waktu megang gadget.
poin ini juga rasanya udah terlalu sering diulang, yah hehehe. 

6. spend less, and less. I just realized that possession is an illusion. because things we buy, they come with responsibilities. kalau kita nggak sanggup memenuhi responsibilities itu, the things we own can only end up owning us. 
 
tapi gimana dengan cicilan ini dan itu yang udah terlanjur ada? hahaha. 
ya nggak boleh skip juga buat diperhitungkan, pastinya... tapi setidaknya coba ngerem diri, deh, kalau mau belanja impulsif. 
another note to self: usahain "kebutuhan" skincare dan belenjong tersier lainnya udah dibudgetin sejak jauh-jauh hari, kekeke. 

7. never underestimate the power of prayer.
say no more. 

that's all I could come up with for now.. setelah 3 bulan kembali ngantor full-time. rasa bersalah, ketidaknyamanan, drama - they are always a part of this role I've chosen. I just need to be good at dealing with them. *bookmark halaman ini for future reference* :))

14/10/2015

school-hunting season

di sinilah gue, duduk manis sendirian sambil ngetak-ngetik di ipad. this could be enjoyable, this could be a luxury. tapi nggak demikian yang gue rasakan. kenyataannya adalah gue lagi nungguin Adit kuliah sepulang kerja. sementara Bumy menanti gue di rumah cuma sama si embak. he has said many times that he misses me. but... let's just deal with it.

sekarang ini, gue kembali berjibaku dengan urusan memilih SD buat buat Bumy.



yak, sedang terjadi dilema milah-milih sekolah pada diri beta, all over again. 'kan gue cerita di blogpost ini, kalo gue udah memutuskan Bumy dimasukin SD tahun depan ajah (insya Allah), tapi melihat kondisi hidup sekarang - di mana gue tiba-tiba kerja full-time lagi - gue jadi mempertimbangkan lagi untuk masukin dese ke SD bulan Januari ini.
anaknya sih kemaren bilang, "Bumy gak mau buru-buru masuk SD, ah. abis pulangnya jam 3." nah lo, udah paham dia. tapi mau dimasukin bulan januari atau juli, yang pasti 'kan gue harus nyari sekolahnya dulu. mana nih yang paling tepat?? sd loh ini.. esdeee *zoom in zoom out* bayar uang pangkalnya buat 6 tahun sekaligus buuuu!

awalnya gue udah mantep mau nyekolahin bumy sd di sekolah yang enih. karena berasa udah cocok dari segi metode, biaya, sampe gaya hidup. tapi namanya juga emak-emak, ada yang 'ngomporin' dikit soal sekolah x, y, atau z, seketika membara hasrat keponya.

tapi kembali ke soal kriteria, seharusnya emang kita sendiri yang menentukan, rite? bukannya asupan/rekomendasi/kabar angin dari pihak-pihak luar. mungkin bagi si A, sekolah dengan kurikulum nasional cocok, sementara buat si B, sekolah alam lebih efektif.

soal kurikulum buat gue penting banget, nih. dari browsing sana-sini, gue menemukan kalau kurikulum yang terasa cocok baik dengan harapan gue buat Bumy, maupun dengan kepribadian dan gaya belajar Bumy, adalah kurikulum IB.
IB menekankan pada kemampuan analitis, jadi anak akan banyak diminta membuat laporan, essay dan riset. diskusi dan creative thinking selalu diasah karena nggak ada textbook wajib. trus minat non-akademis anak (kayak musik, seni, dan olahraga) dikembangkan dan diarahkan; karena 'kan nggak semua anak 'berbakat' untuk sukses secara akademik.
cuma kekurangannya juga ada, karena punya standar khusus, makanya sekolah IB biayanya mahal. selain itu, sekalinya 'nyemplung' ke IB, ya harus lanjut, karena akan sulit pindah ke kurikulum lain yang terstruktur lebih ketat.
sementara sekolah Bumy sekarang ini, diklaim menerapkan kurikulum montessori. nah, selama ini gue cuma kenal sama kurikulum nasional, nasional plus, internasional (IB, cambridge, IPC).

jadi gue rasa, sekarang ini waktu yang tepat buat memantapkan/merevisi kriteria sekolah. so far, kriteria gue untuk SD Bumy kelak sbb:

- menyediakan pendidikan yang holistik, yang meng-cover pendidikan hati, akal, dan fisik.
untuk hati, ya meliputi budi pekerti, perkembangan secara emosional, dan juga pemahaman agama.
trus untuk akal, pendidikan yang diberikan sesuai dengan perkembangan otak. ini bukan berarti mengharamkan calistung sama sekali, ya. tapi anak dibikin tertarik untuk bisa baca-tulis-hitung dengan bikin anak tertarik, serta bisa menanamkan pemahaman konsep calistung yang kuat.
kebeneran montessori ini titik berat konsep pendidikannya di pengembangan emosional anak. kaya gue ceritain di entry inilah, jadi selama usia kritikal (0-12 tahun), montessori fokus di pendidikan untuk hati, bukannya akademik.
mengutip ucapan seorang mamah di grup WA, "kalo perkembangan emosional anak baik, cukup mengenal diri sendiri, tau bersikap, maka mau ke SMP dengan kurikulum apapun gak masalah." noted!


- biayanya kita afford... baik uang pangkal dan biaya bulanannya, bisa kita bayar tanpa harus ngutang hehe. udah gitu gaya hidupnya juga nggak nggilani; jujur gue gentar menghadapi sekolah yang setiap ngadain event harus nyewa tempat di luar sekolah, suka ngadain studi banding ke luar negri, intinya banyak biaya tambahannya, gitu. belum lagi hidden cost untuk pergaulan... yang meskipun itu semua seharusnya nggak mengikis ke-DBAS-an asal kita bisa pake kacamata kuda, tapi yaa gue maunya anak terbiasa bergaya hidup sesuai kemampuan emak-bapaknyalah.

- gimana dengan Location Location Location? haha kode pos sekolah kayanya udah nggak terlalu berpengaruh buat kita - secara udah setahun ini nyekolahin Bumy ke kawasan macet yang jaraknya 9 km dari rumah. tapi yang jadi pertimbangan adalah kondisi lingkungan sekolahnya, maunya sih yang bersih, terawat, dan terjaga.

- hal-hal lain yang penting-nggakpenting juga jadi pertimbangan, sih, semacam
  • classroom setting - maunya yang nggak duduk berjejer ke arah papan tulis. karena ini menggambarkan metode pengajaran yang dipake; bisa keliatan dong kalo menghadap satu arah kaya gue di SD negri dulu, metodenya akan berupa guru monolog di depan. gue maunya anak diajak banyak diskusi (bukan banyak dikasih hafalan dan PR), disuruh bikin essay dan conduct research alih-alih menyalin doang.
  • rasio guru dibanding anak - nggak terlalu sedikit tapi juga nggak kebanyakan. 1:30 justru kondisi 'ideal' kalo dari mbaca buku Malcolm Gladwell.
  • fasilitas - nggak harus lengkap bin mumpuni sampai ada lapangan hoki dan ice skating segala, yang penting bersih dan terurus.
  • kompetensi pengajar - menilik pengalaman yang tlah lalu, level edukasi guru ternyata ngaruh banget sama kualitas pendidikan yang dideliver.
  • komunikasi antara sekolah dengan ortu - kalo bisa sih ada PTA, dan kepseknya juga komunikatif (tidak arogan adalah syarat utama!).
  • penerapan disiplin secara konkret - disiplinnya tentang apa: baju, absen, attitude? pembentukan perilakunya lewat apa?

hihihi penting-nggakpenting tapi segitu detil yah ceu penjabarannya xD

okelah, semoga kita bisa menjatuhkan pilihan dengan mudah yaa - maksudnya karena udah yakin banget, gitu, hehe. how 'bout you mommas out there? udah mulai school hunting jugakah?
first-world school problem :D

28/09/2015

this week's lesson

hi there, life. what have i learned about you lately?

i think you're teaching me about letting go.

first of all, gue sedang belajar melepas nyamannya rutinitas jadi ibu rumah tangga. yang selama anak sekolah bisa ngopi cantik sambil ketak-ketik (hehe). melepas kenyamanan bisa konek sama diri sendiri, dan kebebasan mengatur jadwal sesuka hati. i do terribly miss it at times. even though i could remember clearly how lonely i used to feel.

lalu yang kedua, gue belajar 'melepas' kiti untuk kembali ke inggris. to me, this was tougher than it looked like from the outside.


tentunya gue senenglah dia bisa meraih cita-citanya untuk lanjutin sekolah lagi, untuk hidup dan berkiprah lagi di inggris. it goes without saying that kalau dia seneng, gue juga akan seneng. tapi, di sisi lain, gue tau gue akan sangat kehilangan dia.
hampir setahun belakangan ini gue tersadarkan, kalau kiti bagi gue itu lebih dari sekadar teman atau sahabat. she's like my sister from a different mother. entah gimana hidup perlahan-lahan menyaring keberadaan orang-orang di sekitar gue. and she's one of the (very) few that's left. gue merasakan banget gimana kita bertumbuh bersama, dan alhamdulillah, ke arah yang sama. dia mengisi kekosongan di hati gue dengan sesuatu yang bukan cuma gue butuhin, tapi juga 'baik' buat gue. she fills my soul by 'teaching' me how to be a better person. dia juga menjelma jadi sosok yang "satu frekuensi" dengan gue. i feel stronger and more whole by our connection. tapi, gue juga sadar kalau dalam hidup ini kita perlu mandiri. bukan cuma secara fisik, keuangan, atau mental, tapi kalbu gue juga harus mandiri, dengan bersandar hanya kepada Allah.
jadi, sekarang ini gue sedang belajar, untuk meyakini kalau keberangkatan kiti kembali ke inggris pasti akan membawa lebih banyak kebaikan untuk dia, dan juga untuk gue.

yang ketiga, it's about my grandma. thankfully she's still alive. dua minggu lalu dia singgah ke tangerang bersama keluarga tante gue dari bengkulu. tante gue cerita kalau sejak tiga bulan belakangan ini beliau mulai pikun. usianya udah 78 tahun, so it's understandable. and it's bound to happen anyway, right? but it's hard for me to see her in this condition. matanya blank, dan dia bener-bener terlihat seperti anak-anak lagi. sosok wajahnya polos; nggak ada secorak beban kehidupan, rasa takut, atau kekhawatiran. she just seems... living in the present. and that's supposed to be... good, i assume?
but it feels like such a loss to me. kehilangan sosok nenek yang sangat pintar, yang mengajarkan gue banyak hal sedari kecil. sahabat pena gue. teman jalan-jalan gue. dan gue merasa sangaaaaat menyesal nggak memanfaatkan waktu sebelum tiga bulan lalu itu just to have a chat with her. before her old self went away for good....

dipikir-pikir, life should be easier that way - when we could finally let go.
masih banyak hal-hal lain yang perlu gue 'lepas.' entah karena masih bikin penasaran, bikin susah move on, atau bikin sakit hati.
number one on my (long) list, is definitely letting go of high school. someone once said to me that "high school never ends." bukan cuma kenangannya, tapi juga imaji yang melekat di dirilo dan orang-orang yang lo kenal saat itu, seolah abadi. i used to define myself with the kind of girl i was in high school. that way, i become my unfulfilled wishes, the boys i never got to date, the achievements i never made, and the kind of beauty, look or whatever that i never lived up to. i need to stop defining myself from those that i cannot change. because that chapter should've ended long ago.




jadi, yah, mungkin ini salah satu cara #realitycheck. living in the present by focusing on and appreciating what's in our lives now.
at this moment alone, i have an abundance of things to be grateful for. (aside from health, family, faith, and fulfillment of basic needs), i'm glad to have the chance to do something i love; the chance to learn a thing or two from life, death, and faith.. 

also the chance to feel, to grieve for, and, hopefully, finally to accept loss....

One Art

By Elizabeth Bishop

The art of losing isn’t hard to master;
so many things seem filled with the intent
to be lost that their loss is no disaster.

Lose something every day. Accept the fluster
of lost door keys, the hour badly spent.
The art of losing isn’t hard to master.

Then practice losing farther, losing faster:
places, and names, and where it was you meant
to travel. None of these will bring disaster.

I lost my mother’s watch. And look! my last, or
next-to-last, of three loved houses went.
The art of losing isn’t hard to master.

I lost two cities, lovely ones. And, vaster,
some realms I owned, two rivers, a continent.
I miss them, but it wasn’t a disaster.

—Even losing you (the joking voice, a gesture
I love) I shan’t have lied. It’s evident
the art of losing’s not too hard to master
though it may look like (Write it!) like disaster.