10/10/2016

term pertama di SD montessori: problems, excitements, etc


sebulan sesudah jadi anak SD, si anak terlihat.. well, baik-baik aja, sih.
di urusan akademis, dia nyambung-nyambung aja, nggak ada keluhan sama sekali. sekolahnya ini emang nggak ngasih PR, nggak ada ulangan maupun ujian (kecuali UN, yang if God's willing bakal udah dihapus pas Bumy mau lulus SD), tapi gue liat kemampuan kognitif dia terasah dengan baik, bahkan kalo dibandingin sama yang sekolah di tempat bermetode konvensional.

secara sosial, dia suka bilang kangen sama teman-temannya di TK (sekolahnya nerapin mixed-age classroom, jadi beberapa temennya ada yg masih TK). tapiii kayanya dia bisa move on sih, karena dia juga menyebut nama-nama baru yang nggak lama diakui sebagai BFFs-nya.
in short, he looks fine.

sampai suatu hari, ya sekitar sebulan sesudah Bumy di SD, gue dan Adit dipanggil ke sekolah.
kaget sih... kok tau-tau? tanpa ada agenda pertemuan ortu atau apapun. saking tegangnya (secara udah feeling bakal ngadepin urusan nggak enak), gue coba ngorek info dari si anak, "Bum, kamu ngerasa bikin yang aneh-aneh di sekolah, nggak?" tapi ya namanya bocah, gue nggak bisa dapet jawaban yang memuaskan.

besoknya ketika meeting, gue dan Adit ditemuin sama kepala sekolah SD dan guru kelas Bumy. pertama-tama mereka nyeritain gimana perkembangan bumy di sekolah. seperti yang gue rasain, doi bisa mengikuti dan beradaptasi dengan baik-baik aja. nggak ada masalah di urusan akademis whatsoever. tapiiii (here it goes) justru ada "concern" di urusan sosial.
glek....

concern pertamanya gini: Bumy suka menyebut nama seekor binatang di luar konteks. maksudnya buat lucu-lucuan, carper, ya intinya menarik reaksi dari temen-temennya. guru dan si kepsek bilang, kalau yang raising concern bukan karena Bumy ngomong begitu untuk memaki atau ngomong kasar, tapi karena udah ada beberapa temennya yang menyatakan terganggu dengan aksi penyebutan nama binatang itu, tapi Bumy tetep mengulangi.

waktu denger ini gue nggak kaget sih.. karena dia juga pernah ngelakuin hal yang sama di depan gue. konteksnya bercanda, sambil dia tiru-tiruin suara binatangnya. tapi yang gak gue sangka adalah di sekolah dia masih nyebut-nyebut itu binatang. padahal di rumah udah pernah gue jelasin kalo gue gak nyaman dengernya dan dia pun gak pernah mengulanginya lagi.
tapi ternyata... *pandangan mata mamah berkunang-kunang *bumi bak terbelah xD

kepseknya bilang, "mungkin ini menunjukkan Bumy udah acquire skills baru, bu. dia udah bisa memfilter mana yang bisa diceritain ke ibu, mana yang nggak."
doi nambahin lagi, di usia segini wajar ditemui isu anak 'bereksperimen' dengan penerapan aturan. dia lagi butuh assurance kalau aturan yang dia terima itu dijalankan dengan konsisten. makanya penting banget ada kesinkronan antara rumah dan sekolah... sehingga, untuk itulah gue dan Adit diajak 'ngobrol' soal ini. hoo... I see *manggut-manggut*


trus sekarang soal concern yang kedua.
isunya adalah anak ini lagi suka becanda yang "fisik" banget di sekolah sama temen-temen cowoknya. becandanya model pura-pura berantem gitu, yang alhamdulillah nggak sampai melukai anak orang atau gimana (jangan sampee).
in Bumy's defense, guru dan kepseknya bilang kalau concern ini emang lagi masanya buat anak-anak seumur Bumy. hampir semua anak cowok di kelasnya lagi 'hobi' becanda fisik seperti itu, yang mana mereka follow up juga ke orangtuanya.

Adit tiba-tiba berefleksi "apa gara-gara suka main berantem-beranteman sama saya ya?" *ih malah ngaku dia*
kepseknya sih bilang, becanda seperti itu sama orangtua sendiri malah diperlukan. gunanya supaya si bapak bisa jelasin batasan; ngasih tau kalau diginiin sakit lho, atau kalau kamu seperti itu bahaya lho.

*****

kalo dari lubuk hati yang terdalam, jujurnya gue kaget sampe dipanggil gini.
tapi semakin gue menyelami apa maksud dan tujuan pihak sekolah manggil, gue jadi makin ngerti kenapa komunikasi ini perlu banget diadain.
selain bikin gue jadi tau gimana perilaku Bumy di sekolah, pertemuan ini juga bikin gue melihat sisi lain dari sekolah yang udah gue pilih sebagai partner dalam mendidik Bumy ini.
hal-hal kayak

- sekolah ini lebih concerned kalo Bumy kelakuannya 'aneh-aneh' dibanding kalau misalnya dia belom bisa baca dan menulis dengan lancar.
just for the record, Bumy juga belajar baca tulis (maupun hitung)nya dalam 2 bahasa.. and he can do it all well. tanpa metode belajar yang terlalu demanding dan padat (gak ada PR, gak ada ulangan), kemampuan kognitif anak tetap terasah tanpa bikin anak stres.
gue pernah dengar ada orangtua yang dipanggil ke sekolah karena anaknya belum lancar calistung loh... dari pengalaman ini, gue jadi tau kalo sekolah ini fokusnya ada di urusan akhlak dan interpersonal anak, gimana bersosialisasi dengan baik, dan sejenisnya, alih-alih memusingkan anak gue udah se'pinter' apa.
isn't that relieving? buat gue sih iya.

- gurunya ADA. maksudnya bukan cuma hadir dan turut menyaksikan segala kejadian saat anak-anak bersosialisasi, tapi juga aware akan semua 'fenomena' sosial di kelasnya Bumy. dia tau Bumy love-and-hate-relationship sama siapa aja, tau tabiatnya Bumy, ya intinya bisa melihat Bumy secara menyeluruh.
again, I find it relieving.

- gue salut sama prinsip 'gerak cepat' mereka dalam menangani sebuah isu.. let me quote kata-kata dari sang kepsek, "dalam setiap mistake ada kesempatan belajar, tergantung kita bisa segera 'menangkap' kesempatan belajar itu atau nggak."
rasanya semakin lama meeting berjalan, semakin banyak juga ilmu yang gue dapet.

*****

sebelum meeting berakhir, sang kepsek ngomong sesuatu yang bikin gue ngerasa adem banget. beliau bilang, in case ke depannya ada konflik atau kejadian yang nggak diinginkan antara Bumy dan temannya di sekolah, mereka maunya sekolah yang turun tangan duluan. bukannya gue yang men-japri ortu lain atau ambil tindakan langsung untuk approach ortu lain; begitupun sebaliknya.

beliau bilang, "sebaiknya urusan di sekolah kami yang selesaikan bu, jangan langsung antar ortu. karena segala yang terjadi di ranah sekolah itu menjadi tanggung jawab kami."

ih!
mau nggak mau gue keingat sebuah sekolah yang dulu jadi tumpuan harapan gue.
kok ya beda bangetttt.
di sana mereka dikit-dikit nyuruh orangtua 'terlibat' - bahkan di ranah yang jelas-jelas jadi kewajiban mereka (misal: kebersihan sekolah sampai ada-nggaknya sabun cuci tangan di kelas!). waktu gue protes, eh malah dibilang lepas tangan, cuma mau tau beres, bahkan dicap "ambivalen." haha.

obrolan sama kepsek sekolah yang sekarang ini bikin kesadar, kalau beginilah yang namanya punya PARTNER. setiap pihak berfungsi sesuai ranahnya masing-masing, bukannya segala hal dikembaliin ke ortu. fungsi pendidik(an)nya mana kalo kaya gitu??

oke oke, ntar disangka belum move on kalo bahas-bahas yang itu lagi xD
intinya in the end gue justru 'seneng' dapet kesempatan belajar kaya gini.
ternyataaa gini toh rasanya jadi orangtua anak SD hehehe.. other than that, I think this current school has really set the bar high in terms of education standard. for me personally, to say the least.

anyways di akhir Agustus lalu, sekolah Bumy ngadain parents-teachers conference (PTC), seperti yang rutin dilakuin setiap awal semester.
gue pernah ceritain di blogspost ini, kalau PTC biasanya diisi presentasi dari para guru tentang topik dan metode pembelajaran yang diterapin di sekolah.

tapiii, ada yang berbeda nih begitu udah di SD. kemarin, selain ada sesi presentasi dari guru, juga ada sesi edukasi dari psikolog. sesi yang dikasih judul Parenting Sharing Session ini mengundang psikolog bu Alzena Masykouri.
materi yang diberikan ke kita para orangtua adalah tentang "Understanding Child Development aged 6-12 years old." sesuai banget pastinyaa sama audiens terutama yang kayak gue, yang baru pertama kali nyekolahin anak di SD.
selain itu, timingnya yang dipilih untuk memberikan materi ini juga pas, yaitu di awal tahun ajaran. paling nggak kegiatan ini bisa dinilai sebagai usaha supaya ortu dan sekolah bisa on the same page baik dari segi pemahaman tentang montessori maupun ekspektasi dalam mendidik anak. karena as we know, montessori emang menekankan pentingnya link atau keterhubungan antara keluarga dan sekolah.

cerita soal materinya gue lanjutin di blogpost selanjutnya aja, yah. setelah denger bu Alzena ceramah di event PTC ini, gue sempat konsultasi langsung juga sama beliau. tujuannya ya sebagai tinjut meeting kemarin. pertemuan-pertemuan dengan beliau ngasih banyak pencerahan ey, so I think it would be nice to share it here, supaya bisa jadi bahan referensi di masa depan.
just wait for it, okaay.

16/09/2016

a little life in september

hello thursday.
I thought this was gonna be a long, dragging week. but so far, there's been some twists and glitches that make it bearable. well, kind of.
minggu lalu gue (akhirnya ikut) ke Jogja sama orang-orang kantor.
capek banget - karena pulang pergi naik kereta - tapi, surprisingly, it was fun. the experience really exceeded my expectation, hehe.

(the above paragraph was written exactly a week ago) 
(untung harinya sama, jadi anggap aja sahih buat dilanjutin)

so, let me continue.. bahas jogja aja dulu.
it was my first trip with the whole team. tapi sebelum berangkat gue udah membayangkan dan karenanya bener-bener menyiapkan diri kalau the whole trip bakalan...yagitudehhh. so I couldn't say I was enthusiastic.
terlebih mikirin harus jauh dari Bumy selama 3 hari 2 malam. pas dilepas Adit di Stasiun Gambir, rasanya awak melloowwwww banget..
tapi alhamdulillah, perjalanannya lancar, Bumy di rumah juga adem-ayem sama bapaknya.

selama di Jogja, kegiatannya begini
- hari pertama diisi dengan workshop sepanjang hari (my emotion ranged between ngantuk-bosen-ngantuk-bosen and so on)
- malemnya ketemuan sama Rio, kita (gue plus dua dedek-dedek) diajaknya nongkrong di Jakal. ternyata Il Tempo Gelato buka cabang yang gede banget di Jakal! tapi gue gak bisa nyobain karena lagi sakit tenggorokan, huhu. akhirnya gue mimik-mimik di kafe sebelahnya yang kebetulan punya specialty di chocolate drink.
- hari kedua kita diajak Merapi Lava Tour. gue udah sering denger soal ini, jadi kita akan dibawa naik jeep melintasi 'rute' tempat-tempat yang dilewati kawah saat merapi meletus. begitu dijalani, seru banget ternyata. kita naik jeep terbuka gitu, dengan kondisi jalan yang berbatu-batu dan super berguncang. titik tertinggi yang dicapai adalah lokasi Bunker Kaliadem. 
tapi sebelumnya ada beberapa titik di mana kita bisa mampir, seperti "museum" efek letusan merapi, dan the so-called Batu Alien spot.
- kelar dari situ, kita dibawa ke Pantai Sadranan di Wonosari. perjalanannya lamaaa dan jauh dari Kaliurang, sekitar 2 jam. but, the beach was worth it. asoy bangetlah sore-sore bisa nongkrong di pantai. yang lain sih ada yang snorkeling, tapi katanya pantainya terlalu dangkal dan berkarang, jadi pada lecet-lecet gitu sesudahnya.
- makanan 'baru' yang gue cobain di sana antara lain Soto Pak Marto (soto sapi tapi dagingnya lembut banget - which I'm thankful for), sama Sate Klathak (sapi lagi... tapi chewy dan berlemak, so it wasn't my favorite).
nothing fancy, tapi lumayan buat referensi kalau ke Jogja lagi (soon, I hope).




the jeep we rode on

 
tante-tante dipotoin gen Z, hasilnya langsung instagrammable.. ya gak??



finally arrived at sadranan

almost sunset
the train ride. looked comfy, ain't it? tapi tetep aja badan pegel-pegel
sebenernya trip masih berlanjut di hari ketiga, rangorang pada ke Kalibiru yang katanya spot foto terkenal. tapi gue nggak ikutan. pertama, karena udah ada janji ke psikolog (will ramble about it later); dua, karena yaa males aja xD
lebih cepet bisa ketemu anak selalu lebih baik buat gue.

****

minggu-minggu sesudah Jogja trip diisi dengan kesibukan, kegilaan, dan keriuhan yang biasa di Jakarta.
minggu lalu, selama 2 hari gue bisa ngantor di luar kantor, karena titah dari kantor, dan dengan biaya makan yang sepenuhnya ditanggung sama kantor. haha. 
tentunya ya karena ada tugas, jadi gue lagi disuruh semacam bikin makalah, bareng beberapa orang. nongkrongnya di kawasan sekitar kantor juga (untungnya), dan enak aja ganti suasana meski yang diliat muka orang-orang kantor juga.
wishlist: more of this, everyday.
also still from last week: I went through another interview session. posisinya buat jadi content specialist in yet another startup.
the founder, the one who interviewed me, seemed very passionate about what she's doing. I had a great time talking to her, regardless how the result would turn out. gajinya jelasssss di bawah yang gue dapetin sekarang, tapi kerjanya bisa telecommuting. cuma perlu ngumpul buat meeting 2 kali seminggu, dan itupun cuma 2-3 jam. menarik banget, yah?
well, I am intrigued. 
apakah gue bakal berjodoh kerja di situ apa nggak, itu urusan nanti, deh.

lalu ada long weekend berkat libur Idul Adha.
si embak dadakan minta pulkam. which is very wesbiyasak of her -___-
walhasil Jumat malamnya kita langsung cuss ke Karawaci. ngungsi, lebih tepatnya.


long weekend kita isi dengan kelayapan ke sana ke mari. 
Sabtunya, Opa kita ajak nonton film "Sully" (sama Bumy dan Adit), sementara Oma gue ajak pijet di Bersih Sehat. haha baru kepikiran aja tuh ngajak mereka "me time" setelah sekian lama. 
malemnya kita makan beramai-ramai sama Bun, Abah, dan Abhi. sayang gagal full team, karena si Rio baru sampe Karawaci besoknya. 

and then the next day, Minggu, gue emji sama Elmo.
we had a loooonng, heavy, substantial, and as always, pleasant chat. Elmo nih udah beberapa waktu belakangan tekun banget menjalani yang-katanya healthy lifestyle. mungkin nggak tepat sih untuk melabel-labeli idup orang, haha, tapi kenyataannya dia emang nge-gym teratur, dan menjaga asupan makannya - dengan serius. 

trus seolah menjaga kesehatan badan aja nggak cukup (why you have to set the standard so high, elms??), dia juga lagi getol menerapkan mindfulness. intinya gue belajar banyaaakkkkk dari dia hari itu. 
contohnya soal gimana biar punya motivasi yang awet buat berolahraga atau jaga makan, gitu - dia bilang, "jangan fokus sama hasilnya, tapi sama gimana PERASAAN elo kalau bisa berhasil melakukannya." 

contoh: pengen kurus adalah niat yang kurang tepat dan nggak bakal bikin lo bisa konsisten jaga makan atau olahraga. lebih tepat kalau lo ubah mindset dengan mengafirmasi diri, "martabak enak sih... tapi bakal lebih enak kalo gue bisa muat pake jeans ukuran 26 / kalau gue bisa menua dalam kondisi sehat jadi nggak nyusahin orang / kalau gue bisa ngerasa bugar seharian." semacam itulah. 

ohya kita juga main ke kawasan Jakbar.. to have a #jakbarmoment kalo kata si Ika. 
kebetulan baru buka (yet another) mall gitu di sebelah Central Park, namanya Neo Soho. jadi ada jembatan antara kedua mall itu, yang mayan heits buat dipoto-poto hahaha... di situ kita nyobain nongkrong di Hog's Breath, resto di Tribecca Park. btw taman(-tamanan) ini hal favorit gue di CP. sangat sangat singapur suasananya hehe. 
the bridge will be iconic
****

another highlight of the week/last week berhubungan sama toastmasters. 
Gatsu Club ngadain evaluation contest untuk pertama kalinya. kontesnya macam apa? 
jadiii, yang dilombain adalah hasil evaluasi kita terhadap sebuah speech yang dibawain sama seorang yang ditunjuk jadi test speaker; di kontes kemarin test speaker kita Pak Anggoro (of course. who else. nothing better.). 


the orange is in our hands?
beberapa hari kemudian, Bonsir Club ngadain evaluation contest juga. tau-tau gue yang ditunjuk jadi test speakernya.. -___- jauh bangetttt kalibernya dari Pak Anggoro, jelasss. 
mana hari itu gue lagi ribet banget, yang ujungnya nggak nyiapin bahas speech SAMA SEKALI. 
mungkin baru 5 detik sebelum ngomong gue baru tau mau ngomongin apa - which is so typically me xD 
but! what matters most is the experience. bisa dapet evaluasi yang keren-keren tentang gimana gue ngoceh, plus nggak disangka ocehan gue itu bisa jadi lesson learned buat orang lain. 


Bonsir crowd was da bomb :))))
in a more acceptable pose this time
****


last but not least, the two books I'd finished reading these past two weeks: 
- Gone Girl by Gillian Flynn 
- The Girl on the Train by Paula Hawkins

I like the first one better than the other. tapi penasaran liat film buat buku yang kedua jadinya gimana. okelah segitu dulu reportasenya (setelah 1000++ kata). 

29/08/2016

a head full of dreams

after the holiday, comes the time to put some stuff back in order.
ya menata perasaan. uh first and foremost it is.
ya menata keuangan. esensi nan hakiki.
ya menata ekspektasi.



let me tell you that I find kehidupan di sg membuat rasa ingin dan juga iri melonjak sampai ke ubun-ubun. seriously. dulu nggak begini-begini amat padahal.
our last visit makes me feel certain things strongly. gue kepincut setengah matik sama keteraturan di sana. betapa transportasi umum yang reliable dan on time itu ternyata bisa diwujudkan. begitupun trotoar yang layak, sampah yang dibuang pada tempatnya, air comberan yang bersih, dan hal-hal lain yang sepertinya nggak akan pernah ditemukan di jakarta.
bukan berarti hidup di sana (bakal) sempurna banget, gue tau.

pun tak berarti gue udah segitu muaknya sama jakarta.
gue masih kekeuh kalau cuaca jakarta ini paling juarak (buat gue si anak tropika), gue juga bersyukur punya penghidupan yang layak di sini, ada support system, dan dapet sekolah yang bagus banget buat bumy.
tapi mungkin gue cuma butuh kesempatan untuk merindukan jakarta...

everything has been too familiar. with all its chaotic, hostile, daily condition. I think I've been here long enough; so long that I've learned to love it in my own twisted way. this city has become that annoying partner I can't get rid of. it's a witness for many of my life episodes: when I found love, when I lost a best friend, when my dreams shattered, and now, when I feel like I don't get myself anymore.
entahlah.. I feel like i've stopped growing. here, to say the least. waktu menjadi semakin mahal. aturan selalu bisa dicari celahnya. empati semakin sulit ditemukan. semua orang berlomba-lomba, saling sikut untuk memenangkan entah-apa. seolah 5 menit lebih cepat di perjalanan berarti sesuatu. seolah-olah menjadi yang "paling" itu penting. seolah-olah nampak seperti sesuatu lebih penting dari apa yang sesungguhnya dilakukan...
gue pun merasa perlu untuk semakin jago berbohong. karena di sini, sesuatu tak pernah dihargai sebagaimana adanya. you need to put on your mask, be the kind of person you're expected to be, and just suffocate beneath it.
mungkin karena itu semua... muncul hasrat yang menggedor-gedor untuk memulai segala sesuatu dari "nol" lagi.. dengan menempati sebuah kota baru, belajar, dan beradaptasi dari awal...

in short, I need to get away from this city.
of course it won't happen overnight. gue juga nggak ngoyo menargetkan harus tinggal di singapur dalam sekian tahun. if it's supposed to happen, then it will happen.
all that I know is that I need to get my shit together while I'm still here, in jakarta. I need to put my priorities in order..
because being like this, right now, doing what I've been doing, terbukti membuat gue seperti tadi... pembohong, nggak bahagia, dan ingin melarikan diri.

where do I start, then?

hidup selama hampir 33 tahun meluruskan beberapa hal untuk gue. I've made too many mistakes I shouldn't bother on repeating... seperti yang dibilang di tafakur, perilaku nggak akan berubah selama belum ada kesadaran akan suatu hal. so I guess I should first rethink about what really, actually, the fuck matters.

get my body together. 
yang pertama mungkin I should really give a fuck about my body. tubuh ini 'kan "kendaraan" gue di dunia. besides, men sana in corpore sano, they say. mungkin kualitas kehidupan gue bisa diperbaiki lewat berolahraga? I've never been athletic my entire life, but maybe I could try to get fit.

after all I've learned that
  • taking a break is better than "work hard, party hard." kalo udah terkapar tak berdaya di rumah sakit mungkin baru sadar sih sama ini. gue dulu cuma dirawat gegara typhus aja nyesel banget rasanya. gara-gara makan jorok sembarangan, sampai harus melewatkan hari ultah bumy di RS.
  • gaya hidup 'bersih' > begadang - ngerokok - mager. bad cholesterol, fatty foods, nicotine, and lack of sleep give all sorts of ugly effects on my body. berasa banget kala udah semakin uzur begini. badan jadi cepet capek, kena asep rokok langsung sakit tenggorokan, and just like I wrote here, (cholesterol) numbers don't lie, baby.
  • 10-steps skincare > suntik putih, sedot lemak, tanem benang dan apalah. haha sekarang sih ngomongnya gitu, nggak tau kalo udah semakin kendor dan longsor.  
  • rutin medical check up > dirawat karena sakit (kecuali udah qadar Allah). 
plus..
  • menyisihkan uang untuk rutin ke psikolog dan nge-gym > (emotional) shopping, (emotional) eating, and other instant quick fixes. I should've known better. 

get my financial life together. 
I do believe we have to respect money. nooo, bukannya mendewakan duit... tapi lebih ke menghargai setiap sen yang masuk ke rekening sebagai hasil jerih payah kita. we're also respecting money by not clenching our fists and holding it tight, and by giving meaningful goals for it.
  • giving > buying and receiving. jelas ada ayat Al-Qur'an-nya untuk ini... we become rich by giving more and more. tapi jujur aja pengetahuan ini belum jadi keyakinan sih di diri gue. buktinya masih sering terbawa emotional shopping, huhu. 
  • memories > things.  INDEED. (jadi beli tiket pesawat dan booking hotel lebih terjustifikasi dong? haha). 
  • menabung untuk suatu tujuan yang bermanfaat buat orang banyak dan ngasih pahala buat afterlife >> buang-buang uang nggak genah. oh well... guess I should just merem aje liat promo tiket murah. 
pic from here

get my LIFE together.

oh boy.
I wonder if I could be committed in putting these thoughts in mind before I decided to do anything?
I truly don't know.
but these are the thoughts that went to my head as I sit here in my crabby office room..

  • admitting that you're scared >> secretly nervous trus marah-marah nggak jelas karena nggak bisa mengelola emosi. tell-me-about-it. 
  • bertanya > sok pinter. 
  • sticking to the river >> chasing waterfalls. THE SONG HAS WARNED US. 
  • Bumy's happiness> jago piano, jago menghafal, menang menang dan menang. 
  • umroh dan haji > AUS, JPN, USA, dsb. 
  • keluarga, teman, dan hubungan baik antar manusia >>> money and pride. always, always put people first. 
  • belajar sesuatu dan mendalami hobi because you truly want to learn > trying to impress people. 

kalau bisa dipersempit, tujuan hidup gue 'kan CUMA bahagia dunia dan akhirat, yak.
dan lagi-lagi, bahagia itu di jiwa, bukan di badan. therefore I don't need to be rich, to be pretty all the time, to be respected, and anything else the body needs. what the soul needs is to be peaceful. wherever I am, whatever is happening for me.

21/08/2016

in the attempt of not forgetting


beberapa hari lalu gue sedang ngobrol dengan seorang kawan, who recently has a new boyfriend. tiba-tiba dia bertanya ke gue, "kok tumben lu nggak kepoin cowok gue?" heran banget kayaknya dia, sampe harus bertanya begitu, haha. i have to admit, kalau gue ini super kepo *terutama* di urusan percintaan orang lain xD apalagi temen-temen yang single. wajar banget sih gue rasa, namanya juga emak-emak kurang drama. 
to be honest, gue dibuat semacam terhenyak sih oleh pertanyaan itu. and i just answered with the only thing i've been feeling: "iya nih.. gue akhir-akhir ini lagi agak gloomy sejak temen gue meninggal."  
and that's the only truth i know. kepergian weich, kepergian mendadak bapak mertua, semua fakta dan peristiwa itu terhidang. selalu ada pilihan, untuk menjalaninya hingga semua dampak dan perasaan yang ada berlalu, atau coba memaknainya sembari melaju. and i chose the latter. 
gue jadi tersadar kalo makna yang gue lekatkan pada sebuah peristiwa itulah yang menentukan seperti apa respon gue…. 

selama ini gue tau, kalau hidup cuma sementara. we are merely passerbys. kedua peristiwa kematian orang terdekat gue di bulan juli lalu sama-sama terjadi secara tiba-tiba. none of them had a chance to say goodbye or put some kinda closure to their life. mereka sama sekali nggak sakit sebelumnya. bapak mertua gue lagi seneng-senengnya menanti kehadiran cucu ketiga yang bakal tinggal di rumahnya. weich juga lagi seneng-senengnya menapaki kehidupan baru di sydney.

peristiwa kematian mereka membuat gue jadi sadar kalau selama ini gue nggak paham apa itu kematian. 
gue tau, tapi gue belum punya kesadaran yang tepat tentangnya. 
pengetahuan gue itupun masih sama dangkalnya dengan yang gue miliki sejak gue masih duduk di bangku SD. yaitu bahwa kematian berarti perpisahan karena kita nggak akan pernah bertemu orang itu lagi. bahwa kematian itu hal yang nggak nyaman buat dibahas. harus dilekatkan dengan kata "amit-amit" atau "pamali." bahwa kematian, dan bahkan pembicaraan tentang kematian, harus ditunda, didorong sejauh-jauhnya ke pojok ruangan. lupakan tentang itu sebisa mungkin. enjoy LIFE. live it to the fullest. just-don't-think-about-it… about death.
dan karena pemikiran itulah, gue jadi menganggap bahwa it can't happen to me, nor to my family, nor to my closest friends. it shouldn't happen to us! - because we are the people that live everyday and strive to put meaning in it, and will be successful in achieving things we're meant to achieve. 
how silly and clueless and misguided i must've been… semua karena pemaknaan gue yang salah. 

gue nggak sadar kalau kematian itu bersisian begitu dekat dengan kehidupan. dan bahwa hanya dengan memahami, mendalami, dan merangkul adanya kematianlah kita bisa benar-benar menghidupi hidup… 
this is how i realize that i've been trying to survive - no, not living - inside a bubble. gelembung pemikiran dan kepercayaan yang rapuh, yang gue buat untuk melindungi diri sendiri dari hal-hal 'menakutkan' yang mengingatkan gue pada konsep kematian. 

hari demi hari melulu gue isi dengan bagaimana caranya supaya bisa 'eksis.'
gimana supaya gue bisa meninggalkan nama besar di dunia. atau gimana supaya hidup gue enak, terhindarkan dari kemiskinan. gimana supaya gue bisa melangkahkan kaki gue ke seluruh penjuru dunia. gimana supaya gue dapat ilmu sebanyak-banyaknya. gimana supaya gue "sukses."
as if that really even matters….
seorang mayit nggak akan peduli whether dia dielu-elukan atau dihina sama orang-orang yang masih ada di dunia. karena nggak akan ada efeknya lagi buat dia… 
cuma sedikit banget yang bisa dibawa ke alam selanjutnya. and it's surely not wealth, pride, or knowledge. 
cuma amal baik kita doang…. 

weich dan bapak mertua gue emang bukan manusia sempurna. gue tau celah-celah kekurangan mereka just like they knew mine. tapi mereka benar-benar berhati emas. banget. keduanya nggak punya personality yang sama tapi SELALU menolong orang lain. they shone love through their deeds. yang satu meninggal di usia 33 tahun, sebulan setelah ulang tahunnya. yang satu di usia 67 tahun, hanya tiga hari setelah hari ulang tahunnya. keduanya punya mimpi dan rencana-rencana besar. namun keduanya pergi tanpa sempat mewujudkannya… 
gue jadi tersadar kalau masih memaknai kematian sebagai akhir dari segalanya. as a sad ending to a life not yet fulfilled. padahal kematian adalah awal kehidupan baru, di alam yang berbeda. 
bedanya, di sana kita hanya tinggal merengguk konsekuensi dari apa-apa yang udah kita buat di alam dunia. and that's when i realized that weich and my father in law would be just fine… 

they have nothing to regret. they're at the best place they can be now. 
dan 'tugas' gue sekarang hanyalah mendoakan mereka, dan MENCONTOH bagaimana agar gue bisa mengumpulkan banyak amal baik di dunia seperti mereka. 

bismillah… semoga gue bisa bangkit dari rasa kehilangan dan kebingungan ini. 
semoga gue bisa terus mengirimkan cinta kepada mereka yang telah mendahului. 
dan semoga 'kesadaran' ini bisa membawa gue untuk lebih dekat denganNya. 

19/08/2016

#backtowork review: agustus dulu dan kini


hey, it's august already!
bukaaan, bukan mau ngereview resolusi entah-apa-itu kok haha. gue justru mau memeringati sebuah tonggak sejarah dalam idup, sesuatu yang sifatnya sangat esensyal. yaitu tepat setahunnya gue kembali bekerja. #backtowork beibih! kekekek...
semangat banget ya kayanya? apa iya secara riil gue (masih) segitu bersemangatnya?

ngejawabnya nggak bisa plek-plekan "iya dong!" atau "puhleeez i can't wait to be back to gabut SAHM life" doang, tentunya. lagian nggak bisa ngoceh panjang-lebar dong awak kalau nggak pake bumbu-bumbu drama kehidupan dulu 'tuk menjawabnya. 
gue memilih untuk memakai "alat ukur" berupa career triangle seperti yang pernah dibahas di blogpost ini beberapa waktu lalu. kilas balik dikit, career triangle alias segitiga karir adalah pengelompokan pilihan dan konsekuensi karir menjadi 3 hal besar, antara lain money - fulfillment - time. 
jadi mari kita telaah! 

>duit
ya tentunya enak ada pemasukan (lagi), bisa berkontribusi lagi buat keluarga. ya secara kita mahzab keuangannya satu pintu, semua plek jadi satu. ya gaji, ya bonus, ya utang, hahaha. eh kecuali duit dari freelancing sih biasanya masuk ke kantong gue sendiri xP 

tapiii as we all know, buat kelas menengah nan mandiri kayak kami ini (aamiin ya Allah), bekerjanya gue juga berarti memunculkan pos-pos pengeluaran baru juga. 
di bulan pertama gue ngantor, kita ngekos dan titipin bumy di daycare. sekarang, beralih jadi pakai jasa ART dan supir. belum lagi hidden cost of being a working mom (tadinya gak mau nulis 'working mom' tapi 'worker' aja for the sake of the feminist inside me, tapi dipikir-pikir lagi, Adit kok gak punya hidden cost macem-macem buat jadi worker, haha). 

sehubungan status pekerjaan gue yang sebagai karyawati BUMN, makna "duit" di career triangle bisa meluas jadi kompensasi dalam bentuk yang lain, sih. misalnya benefit asuransi kesehatan sesudah pensiun, daan kesempatan ambil pensiun dini. juga manfaat intrinsik berupa sifat pekerjaan yang terbilang 'safe' - dalam artian lebih 'stabil' dibandingkan industri tempat Adit kerja. 

kesimpulan sementara yang didapat: it *does* fel good to earn my own money. terlepas dari seberapa besar kontribusi yang diberikan, tapi perasaan berdaya alias empowered itu yang tak ternilai. 

>waktu
kalau waktu dimaknai sebagai kesempatan untuk masih punya waktu atau "me time" di luar kantor, ya alhamdulillah sejauh ini gue masih sempat punya me time, hehe. 
seandainya gue tetap mau beraktivitas freelancing nulis atau blogging pun bisa dicari waktu ngerjainnya. tapiii lagi-lagi seperti biasa, seperti yang sudah-sudah, BALIK LAGI ke pinter-pinternya sang diri nerapin time management. and i still suck at that.. hkahkahkahkk. makanya makin minim aja kontribusi yang gue buat ke blog manapun. jelek sih efeknya, gue jadi kerap kelu dan gugup untuk bertutur. skill nulis juga rasanya nggak nambah-nambah. 

kalau dipikir-pikir lagi, bukannya porsi waktu tuh segitu-gitu aja buat semua orang di muka bumi? we can only make the best of what we're given. jatah waktu idup barulah berbeda-beda... 
the concept of time even says that it's relative. setahun bisa terasa lama when we're stuck at a job we hate. tapi juga bisa terasa terlalu cepat ketika kita mengenang tahun-tahun yang udah terlewatkan.  
gue jadi inget perkataan tentang bagaimana pada hakikatnya setiap peristiwa itu netral. kitalah yang punya pilihan mau gimana memaknainya dan mau seperti apa kita bertindak (free will, remember?). jadi, kayanya bagi GUE untuk bisa megang banyak peran dengan baik (bukan sempurna loh), gue bukan cuma perlu nerapin time management yang baik, tapi lebih bermanfaat kalau punya MOOD MANAGEMENT. hahaha.. mood memegang kendali banget sik di gue. gimana cara ngerebut setirnya yak?? aslik ini mah derajat kesulitannya di awang-awang buat gue. 

but! never say never, sister. 
(so, where should I start? *berbisik* *clueless*)

kesimpulan sementara: kerja atau jadi IRT nggak ngaruh; gabut bisa di mana aja kapan aja x)))

>eksistensi/fulfillment
okeh ini dia yang seksi menggigit.. perempuan bekerja dan eksistensi. 
jujur aja yak, i do feel a lot better sejak bekerja lagi. as i wrote, i think i value myself more karena bisa berkontribusi buat (keuangan) keluarga. 
gue juga seneng bisa keluar rumah untuk suatu tujuan - yaitu ngantor - setiap harinya. ini mungkin tepat buat orang seperti gue, yang kontrol dirinya eksternal, alias perlu hal-hal di luar diri sebagai motivasi. 
meskipun begitu, di sisi lain, gue merasa kantor gue nggak bisa memfasilitasi personal growth gue. ada yang bilang you can't have it all, dan itulah yang terjadi. kalau di bisnis dibilang dari 3 kata sifat faster, better, cheaper, lo cuma bisa dapet 2 dari 3. nah gue jadi mau ngarang teori. mungkin in terms of kerjaan, kata-katanya bisa diganti dengan: bikin kaya, bikin pinter, bikin bahagia. the same rule applies, cuma 2 dari 3 yang bisa didapet. hahahha... pure ngarang sik. 

kalo gue balik lagi liat ke kondisi diri, apakah kerjaan gue bikin kaya dan bahagia? well, in a way, it is. gue jadi punya income sendiri yang nominalnya CUKUP buat gue. gue juga somewhat "bahagia" karena bisa sesekali sering gabut xD tapi kayak yang tadi gue tulis, I got zero personal growth a.k.a. pekerjaan ini nggak bikin gue pinter. 

MUNGKIN... penyebabnya adalah gue emang nggak mau ambil kesempatan untuk jadi lebih "pinter." karena gue masih mau bermain di ranah yang gue kenali aja or in other words: gue nggak mau melakukan lebih dari apa yang ada di job desc gue. belajar bisa di mana dan kapan aja, 'kan, kalo kata kakek bijak di anggur cap orangtua. 
it's all in my hands. 

kesimpulan: BELUM merasa fulfilled karena belum mau belajar. 

ya gitu deh... 
sekarang, gue nggak bisa membayangkan gimana setahun kemarin gue bisa 'bertahan' hidup di ranah domestik thok. dan masih teringat gimana setahun kemarin gue sedang dengan beratnya menjalani tahapan transisi peran ini... ketika gue tengok foto-foto dari periode setahun lalu, gue ingat itulah masa-masa di mana gue dan juga Bumy masih 'kaget' karena gue udah harus ngantor lagi. 
muncul rasa mellow sih... liat Bumy kepalanya diplester karena dinakalin temennya di daycare T__T 
keinget kita suka makan malem bebek goreng bertiga di dalem kamar kosan karena ibu kosannya jual bebek goreng haha... 
ahamdulillah waktu itu kita DIMUDAHKAN banget nyari kosan maupun tenaga antar-jemput bumy dari sekolah.. huhuhu. jadi berasa kalau yang suka disampaikan di majelis tafakur itu bener, "ketika Allah sedang menguji kita, jangan MERONTA... justru kita harus larut dan berserah diri padaNya" karena Dia memang memberikan ketidaknyamanan, tapi tidak pernah memberikan keburukan. 


we were on a dinner after I worked. I remembered he told me he was missing me soooo much T___T

di kamar kos

dinakalin anak daycare!!! T____T

a coincidence? I guess not..
for now, I could say that I don't like or even love my job, but I believe me being back to work dan semua 'drama' yang menyertainya terjadi untuk kebaikan kami sekeluarga. I believe life is happening for me. just like I wrote a year ago, again, I just have to trust the process and focus on the big picture. 

*bookmark blogpost ini sebagai referensi kalau lagi kumat "meronta"nya hehehe..
*the title is copied from an article's title on the Magdalene

16/08/2016

the august holiday



Is this what people call post-holiday blues?
Hati gue nlongso bener rasanya hari ini.
Setelah hampir seminggu di singapur, hari ini – Jumat, gue pun back to work.
Diawali dengan bangun kesiangan. Karena itu ditambah kemacetan nan biasa, Bumy telat 10 menit sampai ke sekolah. Padahal cuma seminggu menikmati kondisi tanpa macet dan public transportation yang (amat) layak, tapi perasaan langsung agak-agak eneg gimana gitu.. hahaha.
Di perjalanan menuju kantor, muncul “firasat” bos ter(not)cinta bakal nyuruh gue pergi keluar kantor hari ini. Padahal gue berekspektasi bisa ngaso-ngaso maniez di kantor; kayak ngeblog, maksi sama tante-tante, lanjut bobok siang sejenak dua jenak xD tapi ya namanya buruh, kudu nurut apa kata majikan, 'kan. Dan bener aja, jam 8an gue dititahkan ngikut rapat di luar kantor. Hhhh....
Saat mau berangkuts, hati jadi semakin mangkel ketika menyadari kalau charger laptop gue RAIB. Belengcek banget nggak sihhhh... Tapi alhamdulillah the so-called rapat bisa selesai jam 4 sore (itupun udah seharian). Jadi di jam 5 sore ini gue udah bisa nongkrong ngopi sembari nungguin Adit ketemu dosen.
What is it that I wanted to talk about?
Singapore has been.. refreshing. Capek sih, as expected. Tapi pikiran dan mental jadi jernih dibuatnya. Entah karena efek jalan kaki hampir 10 km per hari (hiperbol), atau juga karena segala keteraturan di sana ngasih kita perspektif ‘baru’dalam hidup. Itu esensinya traveling, ‘kan? To gain something intangible: experience, inspiration, and the chance to miss your home. Enam hari tetep ajah kurang rasanya. Adit langsung ambisius, “Insya Allah next time kita dua minggu ya di sinih.” Aamiin. 
Tapi tau nggak, hal pertama yang terucap dari mulut gue begitu menjejakkan kaki di lobi terminal 2 Cengkareng adalah, “Aslik enakan di sini.” Yes, in Jakarta I mean! Hahaha… Dan Adit setuju dong, dengan pernyataan gue ituh. 
Kenapa, yak? Well, yang terutama banget banget sih karena cuacanya… Di sg rasanya sumukkkk bin lembap ampun-ampunan. Keluar dari ruangan (ber-ac) langsung terasa drastis banget perbedaan hawanya. Alasan kempi sih, tapi emang begitu adanya yang dirasakan. Bukan berarti lantas bakal menampik kesempatan buat tinggal di negara selain Indo lah. Naluri merantau gue masih tetep kentel kok secara emang #urangawak haha.. intinya hanyalah, Indonesia nyaman banget buat ditinggalin. Cuaca nih faktor besar untuk dipertimbangkan kalau mau pindah negara, nggak sih? Gue mau nggak mau teringat almarhum Weich yang begitu berat menjalani minggu-minggu awalnya di Sydney yang kebetulan pas lagi musim dingin. Sedingin-dinginnya di Jakarta, ya palingan kalo lagi rutin hujan (plus banjir plus macet). And that's what I'm used to sejak dilahirkan. 
Udah gitu Jakarta juga rasanya lebih ‘berwarna.’ 
Gue pernah denger seorang businessman (lupa namanya) Indonesia yang sukses di New York bilang kalo “Sekarang ini istilah yang tepat bukan lagi ‘If you can make it in New York, you can make it anywhere’ tapi ‘If you can make it in Jakarta, you can make it anywhere!’” Sebegitunya bok!
Ya jelas aja, di sini metromini sama angkot bisa seenak-enaknya ngubah trayek, jalan di trotoar aja kudu hati-hati karena jadi tempat lewat motor x))) tapi kalo pernyataan tadi lebih serius ditelaah, buat para pelaku bisnis gue tebak Jakarta nih challenging. Mungkin karena konon regulasi bisa dibengkokkan sedemikian rupa tergantung siapa yang beking, udah gitu karakter pasarnya juga unik – at least kata Adit yang lagi kuliah marketing hehe. 
Kebetulan lagi-lagi pas baru sampe di Soetta dan lagi jalan ke parkiran mobil, kita tau-tau nemu kejadian orang lagi berantem. Kita langsung berkomentar, “Yang kaya begitu di sono kayanya nggak ada, yak!” Sempat sih liat ada pasangan berantem di Changi, tapi ternyata orang endonesah juga haha.



Kalau sebagai rakyat jelata/buruh, gue menilai Jakarta lebih ‘nyaman’ in a way apa-apa lebih murah (penting!), fasilitas lengkap, plus memungkinkan buat punya support system. Kalau dibandingkan di sana, ya jelas kita di Jakarta dimanjakan bangetlah. Iya, dimanjakan dengan berbagai loop holes yang ada. Jujur gue lebih seneng kalo Bhumy bisa berangkat dan pulang dari sekolah pakai transportasi umum dengan aman nyaman, bisa banyak jalan kaki, dan bisa menikmati udara yang bersih (kalau lagi nggak kena kabut asep yah). Tapi selagi masih tinggal di Jakarta, ya dinikmati aja segala kemudahannya haha. 
Sekarang soal jalan-jalannya... Berbeda dengan kunjungan ke sg sebelumnya, kali ini gue mau berepot-repot bikin itinerary. Tema besar kunjungannya sih nggak ada… Cuma kebetulan akan bertepatan sama National Day alias hari kemerdekaan sg di tanggal 9 Agustus. Selain bakal berkesempatan liat national day parade, kunjungan ke seluruh museum juga akan gratis di hari tersebut. Jadi of kors agenda ke museum kita masukin ke itin. Nginep kali ini alhamdulillah kesampean di Royal Plaza on Scotts yang di kawasan Orchard. Kita emang udah berangan-angan mau nginep di sini waktu kunjungan bulan November lalu, karena berada di tengah pusat keramaian. Nyari makan nggak suseh karena bertebaran food court dan dekeut banget sama MRT maupun bus station. Tapi kita ambil deal yang tanpa sarapan sih, biar lebih ekonomis haha. 

Ringkasan kegiatan kita selama di Sg seperti inih...
First day (Friday, Aug 5): 
  • Mendarat di sg jam 11 siang 
  • Check in jam 1
  • Ngisi perut ke Food Opera ION Orchard
  • Cuss ke Vivo City ngajak Bumy main air
  • Malamnya ngider di seputar Bras Basah (cek entrance fee Singapore Art Museum aka SAM ternyata sekitar SGD 10 per orang, jadi mendingan nunggu 9 Agustus biar gratis hehe)
  • Dinner di Subway di SMU (just across SAM).

Second day (Saturday): 

  • Sarapan di Killiney Kopitiam HQ - haha di (mana deui) Killiney Road yang ternyata cuma 1 km-an dari Orchard Road
  • Melancong ke Singapore Discovery Centre & National Army Museum
  • Had a late lunch di Raffles City Mall (yang letaknya di atas MRT station City Hall)
  • Jalan sore ke arah Haji Lane dan numpang sholat di Sultan Mosque
  • Hang out di sekitar Orchard, kebetulan malam minggu, jadi rame gitu, sempat liat atraksi buskers juga.
the view that I miss
Third day (Sunday): 
  • Ke Paragon untuk menyambangi The Soup Spoon dan Toys R Us
  • Mengarah ke Chinatown untuk mampir ke Red Dot Museum, URA Centre, dan makan di Maxwell Food Centre
  • Dari situ, jalan kaki melintasi Ann Siang Hill, cuss ke MRT station menuju keee
  • Singapore Botanic Gardens
  • Malamnya mau ke Dempsey Hill tapi udah nda sangguuup.
Fourth day (Monday): 
  • Had a verrrry late lunch at Serangoon NEX Mall demi bisa makan di Sushi Express. 
  • Abis itu main ke public library-nya. Awalnya mau ajak Bumy main air di waterpark yang ada di Skygarden mall tersebut, tapi cuaca lagi puanaas banget. 
  • Lanjut ke Mustafa Centre buat beli oleh-oleh, trus jalan kaki sampai ke Jalan Besar Road menuju ke...
  • Queensway Shopping Centre dan Henderson Waves Bridge
  • Berangkuts ke Novena Square buat beli Paula’s Choice 
  • Makan malam di Newton Food Centre.


Fifth day (Tuesday): pi bersdeyy singapuur. 

  • Sarapan di Killiney Kopitiam lagi - tapi kali ini yang di Lucky Plaza ajah. 
  • Memulai tour de museums diawali dari Singapore Art Museum di mana lagi ada eksebisi Imaginarium, yang dilanjutkan ke National Museum of Singapore yang walking distance ajah dari SAM. 
  • Ke Esplanade di mana udah banyak orang berkumpul. 
  • Nyebrang Helix Bridge, sampailah di The Shoppes at Marina Bay
  • Balik dari situ, kita pun ke arah Orchard, mampir ke mall 313 Sommerset dan Cineleisure yang hipster ke-gen Y-gen Y-an haha.





Sixth day/last day (Wednesday): 

  • Sarapan di sebrang hotel ajah, yaitu di KFC-nya Far East Plaza. 
  • Dari situ lanjut ke Esplanade buat mampir ke ArtScience Museum


Berhubung menghabiskan waktu cukup lama - hampir 3 jam - di eksebisi Future World nan cetar ituh (memikat anak-anak banget eksebisi inih), jadi kita udah nggak sempat mampir ke mana-mana lagi. Sekitar jam 1 kita balik ke Orchard untuk maksi, trus ke hotel ambil koper, dan langsung cusss ke Changi.
Alhamdulillah trip kemarin berjalan lancar. Meskipun sehari sebelumnya rasanya capeekk banget; gue kudu ke dokter gigi Eko malem-malem karena tambelan gigi tiba-tiba copot(!) dan harus nginep di Karawaci karena perlu ngambil koper dan stroller. Badan gue juga tadinya udah nggak enak, kayak mau flu gitu. Tapi alhamdulillah selama di sg terasa baik-baik aja. 
Di post-post lanjutan nanti sih maunya membahas lebih lengkap dan seksama mengenai tempat-tempat yang dikunjungi kemarin. (Yaah lagian apalagi sih tujuan liburan selain buat bahan apdet blog??) Hehe.. Wait for it, blog! 
Penutup:
"bonus" rela disuruh keluar kantor hari ini: bertemu bunda Nissa solehah yang rajin bekerja dan merawat kulit muka <3