26/05/2016

thursday playlist: travelling north

so I'm starting out this new "series" for my blog, which is a playlist series. 
this is where I document a chain of songs that captures the way I'm feeling throughout the week. 

and for a start, I made this one called "travelling north." 
what the heck is it intended for?

masih berhubungan dengan blogpost gue di minggu ini, yang berjudul "on loving." di situ gue ngebahas soal konsep mencintai diri sendiri - more or less. I wrote something like, 
"..kalo memang passion gue itu hal yang membuat gue bahagia/fulfilled/feel whole, maka gue harus terus mengejarnya, mencari-cari alasan untuk 'bertemu' dengannya, dan mencurahkan energi untuk bisa 'bersama'nya. 
just like when you're in love."

and this is what the playlist all about. 
tentang jatuh cinta, pada sesuatu yang MUNGKIN nggak akan pernah bisa lo rasakan untuk miliki. tentang gimana perasaan yang kuat itu terus menarik lo, sehingga mau nggak mau lo mengambil risiko juga untuk "berjudi." 
even though you might end up broken and beaten down, but you just have to take the chance anyways. because you just can't fight the feeling. that longing to something that pulls your heart the hardest. that one thing that never fails to excite you. that passion. 

a wise man once said passion adalah sesuatu yang we enjoy the most, sekaligus sesuatu yang sifatnya "must" buat kita. 
"Must is who we are, what we believe, and what we do when we are alone with our truest, most authentic self. It's that which calls to us most deeply. It's our convictions, our passions, our deepest held urges and desires - unavoidable, undeniable, and inexplicable.To choose Must is to say yes to hard work and constant effort, to say yes to a journey without a road map or guarantees, and in so doing, to say yes to what Joseph Campbell called 'the experience of being alive, so that our life experiences on the purely physical plane will have resonance within our innermost being and reality, so that we actually feel the rapture of being alive.'Choosing Must is the greatest thing we can do with our lives."
(from the book "The Crossroads of Should and Must")
the words "travelling north" are uttered in Vashti Bunyan's "Train Song."
bagi gue, lirik lagu itu berbicara tentang mencari sesuatu yang udah lama hilang. elo tau apa yang lo cari, tapi nggak tau harus ke mana supaya ketemu. so you travel north to find it... lo nggak tau apa yang akan terjadi ketika lo akhirnya bisa bertemu sama dia/hal tsb ("don't even know what I'll find when I get to you"), but you know for sure that you will finally be where you truly belong. *sigh*

but as we all know, the journey to attain something we desire is often not a smooth one. you will feel endless doubts. you'll question yourself so many times you'd lose your mind. 
you'll get lost. you'll be afraid to even possess the faintest sight of hope. 
so you'll try to relent that desire. you'll even try to turn back and change your course... you'll try to say goodbye. you'll struggle to stop wanting, but fail. until one day you just don't care "if the feeling goes both ways," and start the search all over again. 

and so it's all rendered in these following songs:
1. Oh Nadine (You were in My Dreams) - Willow Smith
2. The Circle Married the Line - Feist
3. Your Type - Carly Rae Jepsen
4. Kiss It Better - Rihanna
5. Lost in You - Ash
6. Goodbye to Love - The Carpenters
7. Feels Like We Only Go Backwards - Tame Impala
8. Do I Wanna Know? - Arctic Monkey
9. Train Song - Ben Gibbard & Feist


19/05/2016

on loving

ada sebuah pernyataan di majalah parenting yang nyantol banget di kepala gue. 
dalam sebuah artikel, dikatakan kalau apa yang dibutuhkan oleh anak dari orangtua bisa terangkum dalam 3 hal, yaitu cinta, aturan, dan konsistensi. 
berasal dari narasumber yang juga psikolog dan bisa dianggap expert di bidangnya, mata gue bak dibukakan lebar-lebar saat 'menemukan' pernyataan tersebut. terlebih waktu itu gue masih menjabat titel orangtua baru alias newbie, yang sehari-harinya berkutat dengan perasaan takuuut, was-was, dan khawatiiiir, tanpa henti mempertanyakan apakah yang gue lakukan selama ini udah 'bener' apa malah 'salah' tanpa gue ketahui. 

I'm no expert myself. kalau dinilai, semua yang gue lakuin dalam menjalankan peran sebagai ibu menerapkan paham trial & error semata. tapi semenjak mengenal konsep "3 Bahan Pokok" tadi, gue merasakan langkah gue lebih ringan.. well, if you can't trust your own heart, what else can it be? walhasil, setelah tau teori ini, kelar deh teori yang lain-lain. 

sampai lalu tiba-tiba terbetik di pikiran, kalau 3 hal tadi esensial demi well-being anak, kenapa nggak coba diterapin ke diri sendiri juga?

mencintai (anak maupun mencintai diri sendiri), kayaknya terdengar mudah banget, deh. of course we love our children. and of course we love ourselves. tapi gue rasa tantangannya terletak pada gimana mencintai secara sehat. mencintai tanpa menggenggam erat-erat, tanpa merasa anak itu "milik" atau our God-given right sehingga berhak kita perlakukan kayak gimana aja, semau kita. 

kalau meminjam istilah Ki Hadjar Dewantara, menurut gue wujud cinta yang bener itu adalah dengan menumbuhkan ia atau mereka yang kita cintai, bukannya dengan mengekang atau mendikte.... 
attachment is the very opposite of love. love says "I want you to be happy." attachment says "I want you to make me happy."
saat udah menjabat titel sebagai orangtua, gue hampir secara otomatis ngerasa perlu banyaakk banget belajar. waktu masih newbie dulu, getol banget melajarin soal ASI, MPASI, dan tumbuh-kembang anak. abis itu jadi getol belajar soal financial planning demi terwujudnya impian-impian buat anak dan keluarga. lantas getol belajar tips 'n tricks seputar parenting (demi bisa meghentikan tantrum anak tanpa harus ketularan tantrum), seputar pendidikan (demi bisa memilih sekolah 'terbaik' jadi nggak malu-maluin kalau check in location di Path), seputar ini itu, banyaaak sekali. 
emak-emak jaman sekarang pasti udah familiar banget deh sama ungkapan, "perasaan dulu emak-bapak gue nggak ribet-ribet amat kayak begini, dah!"
dan ya, sungguh ya, kalimat itu juga terlontar di benak gue. 
meski harus gue akui kalau implikasi dari pemikiran tersebut kadang berupa hal negatif, sih, di gue. kadang gue jadi suka menyesalkan, kok dulu nyokap gue nggak concern sama hal ini sih. atau kok dulu bokap gue nggak peduli amat waktu gue lagi begini begitu. I wish they would have learned "how to be a parent" like I've been doing until now! 

hehehe gue ngerti siih, nggak bolehlah nyalah-nyalahin emak-bapak sendiri. they did their best, and yes I believe in that as well! nggak ngerasa gue orangtua paripurna juga, kok... tapi ya itu tadi, sometimes, I just can't help not to wonder... how much difference would that make?

well, kembali ke saat ini, gara-gara kepikiran untuk menerapkan aturan "3 Bahan Pokok" tadi, gue jadi mulai berpikir, bahwa sekarang ini, saat gue udah kadung dewasa, tanggung jawabnya ya ada di tangan gue sendiri. gue yang harus mensuplai apa-apa yang gue perlukan tadi; ya cinta, ya aturan, ya konsistensi. ("lha emang iyaaaa, jeng.. telmi amat!" mungkin begitu respon sebagian khalayak blog ini saat membaca kalimat gue itu kekekek. but I'm a slow learner, so.. maklumin ye). 

gue perlu memberikan cinta yang menumbuhkan itu ke diri gue sendiri, for my own sake. gue yang perlu menerima segala kelebihan dan kekurangan diri, tanpa judging, tanpa bad-mouthing, and without being discouraging. 
lucu deh kalau dipikir-pikir, kita jauuuuh lebih sungkan sama orang yang kita nggak kenal dibanding sama diri kita sendiri. 

trus, as we all know, mencintai juga terwujud dalam usaha membahagiakan, right? 
kalo buat anak, setengah mati deh kita berusaha memberikan yang terbaik (kaki jadi kepala, kepala jadi kaki kalo kata bapak-bapak di kantor). why not do the same buat diri sendiri? 
it does sound kinda selfish sih, terutama buat emak-emak. karena seperti yang gue rasain sendiri, begitu jadi emak-emak, prioritas kesenangan diri munduuur ke urutan sekian puluh. padahal udah sering denger 'kan salah satu rumus parenting yang bilang kalo "happy mothers make happy kids?" segitu esensialnya loh membahagiakan diri sendiri, sampe dianggap bisa ngejadiin anak-anak kita bahagia juga. esensial, dan juga segitu simplenya kalo dipikir-pikir.  

hmm... in order to do that, firstly we need to define what "happiness" means for us dulu nggak sih? karena setiap orang pasti punya konsep yang berbeda-beda tentang bahagia itu seperti apa. kalo di tafakur sih dibilangin kalau bahagia itu kondisi jiwa, batiniah, bukannya badan atau jasmaniah. jiwa ini yang abadi. ketika badan udah nggak bisa berfungsi lagi, atau rusak, atau hancur, jiwa ini masih akan terus eksis. cuma berpindah alam aja.. dari alam dunia ke alam kubur lantas alam akhirat. 
kalo udah aware of that fact, masih penting lagi nggak sih apa-apa yang kita kejar di alam dunia inih? 
seharusnya sih... kita membahagiakan jiwa dengan sebanyak-banyaknya ngumpulin bekal. karena kayak dibilang tadi, jiwa ini yang abadi, yang bakalan "pulang." 

some things changed sejak gue balik kerja full-time lagi. secara fisik ya jelas banget, gue jadi punya tempat yang dituju setiap pagi selain sekolah bumy. tapi yang paling berasa ada perubahan ya jelas di hati. I definitely feel "happier." bukan berarti hari-hari di kantor melulu diisi tawa canda riang serta asupan nilai, ilmu, dan inspirasi yang bermakna. sucky things happen. almost always.. like a lot, malahan hahaha. tapi gue jadi makin kenal kebutuhan jiwa gue sih, yang butuh bersosialisasi, yang butuh memedulikan hal-hal di luar urusan domestik. gue seneng ngantor karena I get to meet people. even though the work is not satisfying, soul-wise. 
tempo hari waktu tafakur, dokter yuniar ngingetin gue lagi soal niat bekerja. supaya terhitung ibadah, kita perlu lurusin niat... apalagi sebagai perempuan, nyari nafkah itu bukan "main job" gue. kalo menurut beliau sih, niat yang 'lurus' itu adalah membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga... bukan yang lain-lain. 
gue nggak bisa bilang apakah sanubari gue setuju sepenuhnya dengan pernyataan itu, sih. karena ada hal lain yang gue "cari" dari bekerja. gue pengen bisa ngasih impact yang nyata, bikin perubahan positif, termasuk juga bener-bener mengenal dan menumbuhkan diri gue. 


tempo hari ada kesempatan berkarir yang hampir datang ke pangkuan gue. meskipun akhirnya batal, tapi proses yang udah gue lalui bikin gue tersadar, kalo gue akhirnya tau apa passion gue. gue juga tersadar kalo memang passion gue itu hal yang membuat gue bahagia/fulfilled/feel whole, maka gue harus terus mengejarnya, mencari-cari alasan untuk 'bertemu' dengannya, dan mencurahkan energi untuk bisa 'bersama'nya. 
just like when you're in love. 

tapiiii kembali ke prinsip "3 Bahan Pokok" tadi, kalo nurutin cinta doang, ya bisa-bisa buta, terjatuh, atau mabuk. sebagai orangtua, apapun yang gue lakukan buat anak rasanya dilandaskan sama pemikiran kalau semua itu demi kebaikan dia. tapi cinta yang menumbuhkan, yang bener, juga berarti memagari dengan peraturan. seperti yang pernah gue bahas di blogpost ini, cinta ibu ke anaknya sampai bisa dianalogikan dengan cinta Tuhan pada mahlukNya. Tuhan aja ngasih kita peraturan; yang mana semuanya itu demi kebaikan kita (di akhirat kelak). dari situ bisa jadi contoh juga buat gue sebagai orangtua, kalo mencintai bukan berarti membebaskan sejadi-jadinya. 
kalau untuk diterapkan ke diri sendiri, dengan demikian gue juga PERLU menerapkan aturan ke diri gue sendiri. mulai dari disiplin bangun pagi, sholat lima waktu, disiplin urusan duit, eat right, fight right, punya batasan-batasan yang nggak boleh dilanggar, dan lain sebagainya. in short, I need to do the RIGHT things. 

terakhir, adalah konsistensi. yak, semua aturan yang udah diterapkan tadi ya perlu dilakukan terus-menerus. kalau kita larang anak melakukan satu hal, ya harus konsisten dilarang di setiap kesempatan dan kondisi, tanpa ada dalih alih-alih hehe. begitupun ke diri sendiri, kalau udah yakin sama satu nilai/value tertentu, ya jangan dikotak-katik lagi... 
makanya gue suka banget kata-kata/doa "semoga istiqomah." di dalamnya ada harapan untuk bisa terus sukses melakukan sesuatu sampai titik akhir... sesuatu yang bener, yang positif, tentunya. 
"I'll take it nice and slow
Feeling good on my own without you
Got me speaking in tongues
The beautiful, it comes without you
I'm gonna put my body first
And love me so hard 'til it hurts"

13/05/2016

membongkar mitos-mitos montessori

tempo hari gue nyetatus di Path seperti ini:
"New milestone unlocked: bayar uang pangkal SD."

lega rasanya udah menjatuhkan pilihan, meskipun seperti yang pernah gue ocehkan di sini, sampe batas waktu terakhir harus memilih tetep aja gue belum merasa 100% sreg.

dipikir-pikir sekarang, yang bikin kita nggak sreg adalah faktor-faktor di luar metode pendidikan yang diterapkan. contohnya lokasi, yang udah nggak bisa diapa-apain kecuali kita pindah rumah (#ihaveadream). trus juga uang pangkalnya yang bakal bikin kita mikir sekian kali kalau mau relokasi - ya sapa tauk adit dapet kerjaan di negeri tetangga atau pindah benua, gituh (#agirlcandream) - saking agak 'meleset'nya dari ancer-ancer uang pangkal SD di financial plan awal.
serta sederet hal-hal lainnya sih... yang udah pernah gue beberkan sebelumnya. intinya, it wasn't THE perfect choice.

but when the time came for us to make a choice, setelah ditimbang-timbang, satu hal yang bikin sreg sampai bisa melampaui faktor-faktor tadi ya metode pendidikan yang dipake. it's none other than the authentic montessori method, applied with Islamic values. yang udah paket combo bangetlah di mata gue!


kenapa montessori segitu memikatnya bagi gue secara pribadi, jawabannya ya karena pendidikan tsb oke banget. secara garis besarnya, karena montessori menyesuaikan dengan perkembangan (otak) anak, mendukung multiple intelligences dan active learning, melatih kemandirian anak (dalam berpikir dan berperilaku), PLUS... membentuk anak jadi lifelong learner.
biar afdol, kalau mau liat pembahasan lebih runut seputar kayak apa montessori dan manfaatnya kayaknya bisa ditemukan di sini.

well, mungkin ada yang mikir semua benefit tadi iming-iming 'dagang' semata.. of kors gue pun nggak menampik gimana output dari pendidikan montessori akan sangat tergantung pada penerapannya di lapangan.

tapi gue harus bilang kalau sejauh ini I feel quite optimistic, sih.
ada kejadian di mana bumy ikut 'tes' observasi di sekolah lain yang tadinya jadi kandidat calon SD. sekolah ini reputasinya terbilang cetar-lah. kurikulumnya lumayan didominasi nuansa akademik, nilai UN level SD-nya oke, dapat peringkat ke sekian di DKI. dari hasil riset, kunjungan, dan hearsay, bisa disimpulkan kalau sekolah ini punya threshold yang cukup tinggi untuk kemampuan kognitif calon siswanya.
gue sih nggak nyiapin apa-apa buat bumy untuk ngikutin tes di situ. bahkan yang nganterin bumy tes cuma embak ART (dan tukang kebon freelancer sebagai ojek dadakan).
setelah tes, tentunya hasilnya diobrolin oleh Kepsek sekolah tersebut dengan gue. as I said, gue nggak ngoyo untuk masukin anak ke sini, dengan berbagai pertimbangannya, jadi nggak ada debar-debar aneh juga ketika mau denger gimana hasil observasinya. but when I talked with the principal, this is what I heard: "aduh, kalo anak montessori nggak usah ditanya lagi deh, kemampuan calistungnya di atas rata-rata. (mereka) juga mandiri dan dewasa banget dibandingkan yang lain."
*insert gif hidung kembang-kempis*

singkatnya, bumy diterima masuk ke situ. tapiii setelah mikir bolak-balik, alih-alih masukin bumy ke sekolah tsb, gue dan adit tetep milih sekolah bumy yang sekarang dengan segala risikonya. sekolah bermetode montessori otentik yang memang belum bisa menyelenggarakan UN di sekolah sendiri (karena belum punya lulusan), yang belum dapet akreditasi, lahannya terbatas, dan manajemennya juga masih 'hijau.'
tapi jika dilihat lewat perspektif yang berbeda, sekolah bumy sekarang ini udah cukup lumayanlah dalam menerapkan metode yang diusung - karena ya keliatan hasilnya di bumy.

kalau gue liat-liat sekeliling, cukup banyak orangtua yang milih nyekolahin anaknya di sekolah bermetode montessori. karena nama montessori sendiri nggak dipatenkan, makanya banyak sekolah yang bisa mengadopt maupun mengklaim menerapkan metode tersebut - meski mungkin cuma sebagian, dengan dicampur metode pendidikan lainnya. montessori juga lebih banyak diterapkan buat pendidikan anak usia dini aja alih-alih dilanjutin sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
ketika diulik-ulik (meski tanpa sengaja hehe), ternyata banyak stigma yang beredar seputar montessori, bahkan di kalangan orangtua yang juga udah menyekolahkan anaknya di TK montessori. salah satu yang suka gue denger adalah "aduh montessori kayaknya terlalu santai/kurang nampol kalo buat SD."

gue paham banget sih maksudnya. sekolah montessori (anak gue) emang nggak ngasih nilai, rewards, hukuman, bahkan juga nggak ada PR.
sementara di mata (banyak) orangtua, masa bersekolah di SD itu seharusnya dipergunakan untuk 'menggempur' anak dengan pelajaran, rupa-rupa skills, dan disiplin dalam belajar. I used to think that way jugak.

tapi... kala ku menyadari kalo diri ini nggak bisa sabar ngajarin anak, gue bersyukur sekolah bumy ngajarin calistung tanpa harus gue drill sama sekali di rumah (tau-tau anaknya bisaa aja).
menyadari diri ini pemalas, begitu mendarat di rumah maunya main-main sama anak sekadarnya, gue bersyukur sekolah bumy nggak ngasih PEER dan project yang sulit-sulit.
menyadari diri ini mudah stres, hati gue adem pas baca status temen yang anaknya bersekolah di SD montessori kayak begini: "di saat ibu-ibu lain lagi sutris ngajarin anaknya buat UTS, kami bisa leyeh-leyeh, ketawa-ketawa, main-main bareng." ya secara sekolah bumy nggak ngasih ujian, ulangan, atau sejenisnya tiap sekian bulan.
guilty as charged, gue mikirin yang enak di gue doang hahaha.

but in a more serious light, I believe in montessori education. efeknya keliatan banget di diri bumy. mungkin ini mamak semacam pamer bin riya' yah, tapi jika memang yang dijadikan tolak ukur cuma kemampuan kognitif semacam calistung, 'rapot' bumy udah bisa dapet nilai A semua.
meskipun begitu, gue prefer menilai anak secara lebih luas. seperti yang pernah gue tulis di sini, scope penilaian setiap kemampuan anak yang diterapkan di pendidikan montessori nggak sesempit yang gue kira. anak bukan cuma dibentuk untuk lulus dari TK dengan kemampuan akademik yang kuat; tapi yang lebih penting, dengan ATTITUDE bahwa belajar itu menyenangkan, seru, dan tanpa batas.
karena itulah gue terkagum-kagum melihat gimana ada semacam eagerness di diri bumy untuk belajar dan menguasai suatu hal. terasa kalau ada working ethics yang ditumbuhkan di dirinya. ini hal yang nggak kasat mata, karena nggak bisa diukur cuma dengan menanyakan "1+1 berapa?" atau "ini huruf apa? dibacanya gimana?"

kalau mau bicara faktor penguat secara scientific, ternyata ada studi yang diterbitkan di jurnal "Science" di tahun 2006 yang menyatakan bahwa murid-murid montessori cenderung menunjukkan skill sosial dan kreativitas yang lebih advanced, dan bisa perform lebih baik dalam ujian baca dan matematika dibandingkan anak-anak lain di program tradisional.

that being said, asumsi kalo montessori itu nggak memberikan efek 'nampol' buat anak sejatinya bisa disebut mitos.. ya ndak?

dari situ, gue pun mulai lebih kepo sama asumsi-asumsi semacam ini.
tujuannya apa? bukaan, bukan supaya bisa bales nyinyir ke orang lain hahaha. justru supaya gue bisa lebih sreg sama pilihan yang udah dibuat. lalu kalaupun ada asumsi negatif yang ternyata emang valid, ya supaya gue udah siap aja, gitu *pasrah*
kebetulan, suatu hari seorang ibu yang punya concern besar sama pendidikan (dan kebetulan nyekolahin anak-anaknya di sd montessori hehe) nge-share artikel di sini. judulnya "Montessori Myths Busted", dan ini yang mau gue share ulang di blogpost ini. kurang lebih gue bakal nerjemahin apa isi artikelnya aja sih, tapi mungkin bakal ditambahin juga sama pendapat gue pribadi.

Mitos #1: Montessori cuma buat anak-anak yang berbakat.
apa iya anak harus berbakat buat bisa disekolahin di montessori?
jelaslah sebenernya montessori itu buat semua anak, tanpa memandang level kemampuannya. tapi asumsi ini muncul mungkin karena di mata orang awam, murid-murid montessori kerap terlihat lebih advanced dibandingkan anak-anak lain seusianya, yang menimbulkan asumsi kalo sekolah tsb cuma bisa memenuhi pendidikan untuk anak-anak yang berbakat. (personal note: ini kok berasa humblebrag banget yak? hahaha).

padahal yang sesungguhnya terjadi adalah, pendidikan Montessori memanfaatkan dorongan alami di diri setiap anak, yaitu dorongan kuat untuk belajar, dan memberi stimulasi sesuai kecerdasan majemuk anak. ketertarikan anaklah yang menjadi pedoman bagi guru untuk mengatur pembelajaran yang bisa menstimulasi anak.



Mitos #2 – ruang kelas Montessori itu kacaww alias chaos.
kalo ada yang nyoba merhatiin seperti apa kegiatan dalam ruang kelas montessori sehari-seharinya, selama dua jam gitu misalnya, maka yang akan diliat sesungguhnya bakalan jauh banget dari ribut dan kisruh. penerapan sistem pembelajaran dalam montessori mengizikan anak melakukan banyak hal sendiri. kemerdekaan pembelajaran sangat ditekankan, dan sebaliknya intervensi dari orang dewasa dalam lingkungan belajar sangat tidak dianjurkan. anak-anak didorong untuk melatih self-discipline-nya sendiri, dan ini berlaku juga bahkan untuk anak-anak yang masih sangat kecil.
guru lebih bertindak sebagai pemandu dan memfasilitasi anak untuk belajar sendiri, dengan menggunakan material yang sudah dirancang khusus untuk tujuan belajar tsb.

berbeda dengan di sekolah tradisional, dalam pendidikan montessori anak-anak nggak diajak berpindah-pindah tempat dalam kelas secara berkelompok atau disuruh melakukan aktivitas yang sama di saat bersamaan. anak-anak justru akan dipaparkan pada berbagai jenis material yang bersifat self-correcting.
prosesnya gini, pertama-tama guru akan mendemonstrasikan sebuah material, atau bahkan terkadang bisa ditemukan anak yang lebih tua yang melakukan demonstrasi itu. lalu anak-anak bebas memilih aktivitas mana yang menarik bagi mereka. mereka ditinggalkan sendiri untuk bereksperimen dan berlatih dengan material tadi, yang sebenernya suatu hal yang membantu anak-anak ini mengajarkan diri sendiri berkonsentrasi, membangun skill koordinasi, dan juga kemandirian dalam suatu keteraturan yang tidak membutuhkan pengawasan orang dewasa.

montessori percaya kalau setiap anak harus merasa santai, tenang, dan tenggelam dalam aktivitas. saat terjadi argumentasi antara anak-anak, mereka dibiarkan berusaha menyelesaikannya sendiri. meskipun begitu, mereka juga memperoleh keterampilan manajemen konflik dari para guru, yang membantu mereka menyelesaikan masalah.

Mitos #3 – Montessori tidak memfasilitasi perkembangan sosial.
respek yang ditunjukkan guru kepada setiap anak menjadi teladan bagi anak-anak untuk saling menghargai. anak-anak kecil berinteraksi dengan anak-anak lain dan juga dengan orang dewasa, sehingga secara bertahap mereka menjadi lebih peduli dan sensitif terhadap sekelilingnya. rentang usia 2-3 tahun dalam kelas menyebabkan pembelajaran terjadi dari anak-anak yang lebih besar ke yang lebih kecil, dan ini terjadi secara alamiah.

namun montessori juga menghargai anak dan kebutuhannya akan privasi. selain memenuhi kebutuhan anak untuk beraktivitas sendiri(an), area dan aktivitas dalam kelas juga memungkinkan anak-anak saling berinteraksi. anak-anak yang lebih besar sering menjadi guru bagi yang lebih kecil, serta anak bisa bekerja sama ataupun sendiri-sendiri sesuai pilihan mereka.



Mitos #4 – Montessori tidak ketat secara akademis.
banyak orangtua khawatir menyekolahkan anak di pendidikan Montessori karena berpikir metode ini tidak akan mempersiapkan anak-anak mereka untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Sekali lagi, ini bisa dibilang sangat tidak benar.
Sistem Montessori tahu bahwa anak-anak yang masih sangat kecil dapat memahami konsep-konsep yang rumit jika mereka diperkenalkan secara konkret. Sebagai contoh, jika mereka telah belajar tentang tabel perkalian menggunakan material '100's Board' maka mereka akan memiliki pemahaman yang jauh lebih besar tentang perkalian ketika pembelajaran berkembang menjadi simbol abstrak.

Seiring anak tumbuh dewasa, mereka mempelajari keterampilan seperti membaca, menulis dan juga meneliti dengan mengeksplorasi mata pelajaran lain dalam kurikulum, seperti kajian budaya dan ilmu pengetahuan. Keterampilan tidak hanya diajarkan untuk kepentingan itu, tapi juga untuk mendorong peserta didik maju lebih cepat karena mereka sering mempelajari area yang menarik bagi mereka.



Seperti dikutip dalam studi Angeline Lillard yang diterbitkan dalam jurnal, Science, pada tahun 2006, "Siswa Montessori terbukti secara signifikan lebih siap untuk sekolah dasar dalam keterampilan membaca dan matematika daripada anak-anak non-Montessori.
"Mereka juga teruji lebih baik pada 'fungsi eksekutif,' yaitu kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan dan masalah yang lebih kompleks, suatu indikator kesuksesan dalam bersekolah dan hidup di masa depan."

Menurut neuroscientist, Dr Steven Hughes, "Jika kami memutuskan bahwa tujuan pendidikan seharusnya adalah membantu otak setiap anak mencapai potensi tertinggi perkembangan ... pendidikan Montessori menyajikan pendekatan pendidikan yang secara radikal berbeda - dan juga secara radikal efektif -  yang mungkin menjadi metode terbaik untuk memastikan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional yang optimal dari setiap anak."

Mitos #5 – Anak-anak yang lebih besar akan mengintimidasi yang lebih kecil.
anak-anak Montessori disusun dalam kelas dengan rentang usia 2 sampai 3 tahun. ini bikin banyak orang tua khawatir nantinya anak-anak yang lebih tua akan mengintimidasi anak-anak yang lebih kecil.

padahal kondisi mixed-age (campur-usia) ini memberikan kesempatan bagi siswa yang lebih berpengalaman untuk menjadi role model dan membantu anak lain. hal ini menaikkan harga diri anak.
dengan adanya rentang usia di kelas, kompetisi diminimalisir sebagai motivator. Para siswa dapat dengan nyaman berbagi pengetahuan dengan satu sama lain. Mereka belajar untuk bekerja sebagai tim dan menghargai kontribusi masing-masing anggota dalam situasi apapun. Kemampuan ini bisa menjadi "alat" bagi anak dalam memecahkan konflik, yang akan membangun toleransi untuk sudut pandang yang berbeda dan mempersiapkan anak-anak menjadi orang dewasa yang penuh kasih.

Mitos #6 – Montessori Terlalu Terstruktur
Beberapa orang meyakini kalau Montessori kacau dan tidak terstruktur, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, sementara yang lain percaya kalau montessori terlalu terstruktur. di mata mereka, anak-anak duduk dan bekerja sepanjang hari dan tidak diizinkan untuk bergerak.
Dalam kelas Montessori, anak-anak benar-benar memiliki kebebasan untuk berjalan-jalan di sekitar kelas, menyelesaikan pekerjaan dalam urutan yang mereka pilih. Tidak ada batasan waktu di dalam kelas, yang berarti selama 3 jam siklus kerja, anak-anak dapat mengunjungi meja suara, atau material sensorik, practical life, kemudian pindah ke Matematika. Satu hal yang penting adalah ketika mereka berinteraksi dengan material, 'bekerja' terasa lebih seperti 'bermain' yang semakin membuat mereka terlarut dalam aktivitasnya.

Mitos #7 – Anak-anak bebas melakukan apa saja di dalam kelas montessori
Sebenarnya lingkungan montessori disiapkan dengan sangat hati-hati dan kaya dengan material yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak.
anak dapat mengeksplorasi apa yang menjadi ketertarikan mereka. Jika anak-anak diajarkan kemerdekaan memilih sejak dini, mereka dapat jauh lebih termotivasi untuk belajar.



Guru bergerak di dalam kelas, membimbing dan mendorong anak-anak untuk menantang diri mereka sendiri di area pembelajaran yang sedang mereka jelajahi dan di area-area baru. Guru menjadi pengamat terlatih danmembantu anak-anak untuk bertumbuh secara intelektual selagi mereka menguasai keterampilan baru. Bahkan, di tingkat yang lebih rendah, anak-anak belajar untuk membuat rencana kerja mereka sendiri untuk satu hari yang mencakup area dasar seperti matematika, membaca, budaya, ilmu pengetahuan dan banyak lagi. Manajemen diri ini menjadi fondasi penting seiring tingkat pemahamana anak bergerak ke tingkat lebih tinggi.

Mitos #8 – program Montessori tidak akan bisa mengimbangi kurikulum di sekolah non-Montessori.
Mitos ini sering diangkat dan pastinya tidak terjadi. Faktanya anak-anak Montessori seringkali maju jauh melampaui tingkat yang dicapai di sekolah umum. Ini telah dibuktikan oleh hasilnya. Sering ada komentar bahwa anak-anak Montessori sangat cemerlang dan lebih unggul secara akademis ketika dimasukkan ke sekolah umum. Ini juga terbukti saat mereka berada di jenjang SMA.

Mitos #9 – Montessori hanya berhasil untuk anak-anak tertentu.
lagi-lagi ini hanyalah mitos. montessori bisa diterapkan pada setiap anak. pendidikan ini menerapkan ketiga model pembelajaran, yaitu visual, pendengaran dan kinetik, sehingga setiap peserta didik bisa mencapai kesuksesan. Guru juga bertindak sebagai pengamat yang terampil seperti telah disebutkan tadi, sehingga bisa tahu kekuatan dan tantangan yang dihadapi setiap murid dalam kelasnya. setiap guru menghandle kelompok kecil murid sehingga bisa memastikan anak-anak memahami konsep sebelum bergerak ke pekerjaan independen yang terkait.

Mitos #10 – Montessori tidak memberi peluang untuk bermain bebas atau
pengembangan kreativitas.
Ada banyak waktu untuk anak bermain bebas di waktu istirahat. juga banyak kegiatan tambahan yang ditawarkan seperti seni, musik, drama, bahasa tambahan dan pendidikan jasmani. Kelas-kelas ini dianggap sangat penting untuk pengembangan anak secara keseluruhan. Kreativitas juga dipelihara dan didorong dalam lingkungan kelas dengan mendukung rasa ingin tahu dan minat anak. kita mungkin akan kaget kalau tahu berapa banyak inovator dalam teknologi tinggi dan seni yang punya landasan pendidikan di sekolah Montessori.

demikianlah. panjang yak... karena emang ternyata banyak mitos seputar pendidikan montessori. apalagi buat level pendidikan yang lebih tinggi dari PAUD; wajarlah banyak asumsi karena di Indo kita kenalnya kurikulum nasional yang akademik banget.
kesimpulannya, mitos-mitos ini timbul jika kita hanya melihat Montessori secara selintas. padahal dalam kenyataannya, pendidikan ini sangat memperkaya perkembangan diri anak.


click to enlarge
Article source: https://www.spielgaben.com/montessori-myths-busted/

19/04/2016

what I need to know about parenting, I learn it from..

Orange is the New Black.

gue udah pernah bilang sebelumnya, kalau serial ini membuat gue tergila-gila. gue bener-bener dibuat takjub dan terinspirasi setiap kali nonton, ya karena jalan ceritanya, karakter-karakternya, dan terutama, sama insight tentang gimana para perempuan ini bertahan hidup di penjara.
perempuan-perempuan yang ditampilkan di sini, meski emang bertitel "inmates" alias pesakitan, tapi they're basically "regular" women. kebanyakan dari mereka nyemplung ke penjara karena latar belakang ekonomi, meskipun later on I know kalo bukan itu doang faktor yang bikin seseorang terperosok ke penjara. contohnya sang tokoh utama, si Piper, yang anak orang kaya dan berpendidikan tinggi. begitupun Nicky yang gue sebut sekilas di sini. mereka nggak kekurangan duit, tapi tetep bisa kecebur melakukan kejahatan, and thus, end up in prison.



bicara soal terinspirasi, keseluruhan tiga season ngasih gue banyak banget insight, salah satunya ya soal parenting. yang unik, diceritain ada ibu dan anak yang dipenjara bareng, yaitu Daya dan ibunya, Aleida... technically sih ibunya duluan yang dipenjara, dan ketika tau anaknya dipenjara, hal pertama yang Aleida lakukan saat ketemu Daya adalah... nampar. haha, tapi tindakan itu bisa dimengerti banget! ya kalau diliat pakai kacamata emak-emak, siapa coba yang mau anaknya ngikutin jejak langkah yang salah? meskipun diri kita sendiri yang dicontoh.. *atut* 

anyways, beberapa kali gue menemukan diri gue mewek sembari nonton OITNB. episod yang berkesan banget tuh yang tentang Hari Ibu. jadi, penjara yang jadi background serial ini adalah Lichfield, penjara dengan tingkat keamanan rendah, di mana mereka yang dipenjara juga bukan pelaku kejahatan 'berat.' terharu deh ngeliat gimana 'perjuangan' anak-anak yang ibunya dipenjara hanya untuk bisa menghabiskan satu hari bersama sang ibu dalam kondisi seru dan ceria, meski masih tetap di dalam penjara.
diceritain juga betapa pusing ibu yang dipenjara saat menemui kenyataan anaknya getting out of hand. gimana coba caranya 'mengontrol' dan menjaga hidup anak-anaknya dari pengaruh buruk, sementara mereka sendiri lagi dipenjara? 


kiri: Daya, kanan: Aleida, Daya's mom
ada juga konflik yang dihadapi Daya yang tadi gue mention. dia hamil gara-gara pacaran sama seorang sipir (John, yang guanteng dan muanis banget hihihi). singkat cerita, seiring kehamilannya bertambah besar, Daya makin yakin kalo dia mau kehidupan yang jauuuh lebih baik buat anaknya. so she finally decided to give her child up for adoption. 
but then there's a twist!
ibunya, Aleida, ternyata ngebohongin pihak pengadopsi supaya anaknya Daya/cucunya bisa tetap bersama ibunya... emang sih, dengan segala risiko kemiskinan, kejahatan, dan sejenisnya. tapi itu semua semacam "nggak ada apa-apanya" dibandingkan terpisah dari ibu sendiri.... 
this is what she (Aleida) said exactly, 


Aleida: "I know that feeling you got when you had her in your arms. And if that went away forever, you'd be all kinds of f*cked up."
Daya: "You make her sound like she's drugs."
Aleida: "The worst kind. She's gonna make you feel better than you ever thought you could, then drain all your money and ruin your life.
You're always gonna need her. And even when you hate her, you're gonna love her."
that's it. I soooooo can relate with what she's describing. 
that's exactly what having a child is like... 
dan karena pada episod tersebut juga diceritain flashback Aleida waktu masih muda dan ngurus Daya yang masih kecil, mau nggak mau gue jadi teringat my own mamak. the one I always have fights with (yep, even until today). digambarin gimana pelan-pelan Daya mulai 'jauh' dari ibunya sendiri, emotionally. and I think that's also what happened between me and my mamak. 
dari awal gue dan dia nggak bisa berteman. iya, nggak bisa aja. karena beda generasi, kali. atau beda "style." atau bisa juga karena karakter kita terlalu sama. hahaha entahlah! yang jelas, pas adegan demi adegan flashback Aleida diputarkan, gue jadi kayak ngeliat apa yang nyokap gue alami dan rasakan saat ngebesarin gue yang beranjak ABG... 
boy, it was damn hard to watch! x( mewek berember-ember gue nontonnya... 

semacam disadarkan kalo selama "itu" ternyata nyokap selalu sayang sama gue. in her own way. 
because even when she hates me, she still loves me damn much. 
hiks. 

dan sekarangpun, setelah gue sendiri jadi ibu, itulah yang gue rasakan. my kid is like my drug. candu.
semua prioritas berubah, jungkir-balik bahkan, begitu dia hadir. I'm no longer that important. 
bagian yang akan gue tulis berikutnya mungkin melenceng jauh banget dari topik Orange is the New Black. adalah sekelumit isi tausiyah yang tempo hari gue dengar di kantor, yang ngasih tau kalo ternyata, Allah menciptakan "miniatur"nya di dunia, dalam wujud seorang IBU. 

kalau ditilik dari asal katanya (kebetulan yang ngomong ahli fiqih S2 or S3 dari Kairo, so I think she knows what she's talking about), 
ibu dalam bahasa Arab juga disebut dengan istilah murabbi, yaitu miniaturnya "Rabb."
Rabb disebut juga Al Khalik (pencipta), Ar Razziq (pemberi rizki), dan Al Malik (pengatur), sesuai dengan sifat-sifatNya. 
dan semua sifat ini ada di diri seorang ibu... ibu 'menciptakan' anak ke dunia (atas kehendak Allah), ibu memberikan rizki kehidupan pada anak-anaknya, dan juga udah 'bawaan' seorang ibu untuk jadi tukang ngatur... in this case mulai dari mengatur lewat didikan pada anak-anaknya, sampai mengatur hal-hal kecil perikehidupan. 

fakta ini lalu dikaitkan dengan perintah dan ketentuan Allah. kalau Allah nyuruh atau melarang kita melakukan sesuatu, jangan tanya "kenapa?" justru kita perlu bertanya "apa hikmahnya buat gue?" 
karena cinta Dia pada kita tuh bener-bener unconditional - hanya bisa dianalogikan dengan cinta ibu pada anaknya.. Apa yang seorang ibu lakukan pasti demi kebaikan anaknya... 

jadi mungkin karena itulah ridho Allah = ridho orangtua, dan juga kenapa surga sampai disebut ada di telapak kaki ibu.  

oh mother... sekarang ini, gue merasa bersyukur banget seandainya performansi gue sebagai seorang ibu bisa seujung kukuuuuu aja dibanding nyokap gue. sebanyak apapun kekurangan beliau selama membesarkan gue sampai sekarang,tetep nggak akan bisa gue tandingi. 
"I have to keep reminding myself that I am their mother. Sometimes we are sitting at home and I feel like we are waiting for our mom to come home.- Ruby Wax"

15/04/2016

rainy day thursday

hari ini bisa berlalu begitu aja... seperti yang sudah-sudah. 
toh udah sekitar 3 bulan sejak gue terakhir ngapdet blog dan ngobrol sama diri sendiri (dan khalayak tidak kasat mata yg bermurah hati buka blog ini). 
tapi hari ini, kok rasanya keterlaluan aja kalau sampai nggak menuliskan betapa banyak dan 'padat' yg sudah dilimpahkan ke 'pangkuan' gue... yak, meskipun hari ini baru berjalan beberapa jam aja. 

gue memulai hari ini tanpa rencana bermakna... seperti biasa. 
yang berbeda cuma, I tried on a different foundation. and a different shade of liquid lipstick. I also noticed that my heart felt a bit 'lighter' after like, a week of feeling gloomy and intense. 
pas lagi jalan dari widya chandra, gue menimbang-nimbang apakah gue sebaiknya sarapan sendirian di kantin sam-sung atau langsung ke indikape aja. I chose the latter and then deeply regretted it. 
seketika gue merasa hari ini bakalan jadi menyebalkan buat gue. mana abis itu gue menemukan kantor nggak diisi siapapun kecuali satu orang aneh yang bikin gue nggak nyaman. entah kenapa juga dia milih duduk tepat di depan gue! we, both he and I, then sat in this silent, empty room. that asshole didn't even bother to turn the tv on. 

akhirnya gue putuskan buat buka-buka modul Toastmaster International aja. kebetulan baru sampe dua hari lalu..
jadi gini, sekarang gue udah resmi jadi member Toastmasters (TM). TM ini bukan semacam sekte, melainkan organisasi yang ada di seluruh dunia, dan kebetulan di Tlkm Gatsu ada club-nya. in short kegiatannya ngajak kita 'belajar' public speaking dengan baik.

anyways, pas gue udah baca-baca bukunya, jadi tau kalo ternyata misi TM bukan cuma mau menjadikan member-nya bisa berkomunikasi dengan efektif, tapi juga gimana biar berkembang leadership skills-nya, makanya ada modul Competent Leader juga. 


gue liat modul ini berisi 10 projects yg perlu "dilengkapi" sebelum kita bisa dianggap sebagai Competent Leader. derajat kesulitan project-project itu berjenjang, contohnya project pertama itu 'cuma' Listening, alias belajar mendengar (yang bukan cuma pake kuping, tapi juga mata dan hati) yang mana ternyata kompetensi dasar leadership.
kalau udah 'lulus' di project ini, selanjutnya ada project Critical Thinking, Time Management, sampai Mentoring.

setelah gue bolak-balik modul leadership ini, ada beberapa hal yang bikin gue termangu.. salah satunya poin-poin self-assessment di project Time Management ini:



guilty as charged, boro-boro gue bisa mendelegasikan tugas dengan baik, lha susunan prioritas aja belum jelas. 

atau poin-poin self-assessment di project Giving Feedback ini:



kenapa? karena rasa-rasanya gue belum bisa ngelakuin "(to) talk with a team member about his performance when I am calm" - anggaplah objek team member itu diganti jadi anak dan suami sendiri karena gue nggak punya anak buah. 
itu baru poin pertama loh, gimana dengan yang lain? coba aja telaah satu demi satu.
  • I offer feedback only on the team member's actions, not on her personality or qualitites. 
  • I offer specific suggestions for improvement. 
jawaban yang bisa gue berikan untuk semua pertanyaan itu "never" semua kayaknya!

tapi tapi tapi, semua fakta yang terbeberkan ini tujuannya bukan semata-mata untuk menelanjangi diri sendiri, sih. 

kehadiran modul ini sekonyong-konyong bikin gue teringat sama kata-kata 
"When the student is ready, the teacher will appear."
Dalam idup nggak ada yg kebetulan, 'kan?
poin-poin itu kok rasanya (bakal) berguna banget buat gue. nggak jauh-jauh mikir untuk jadi leader atau apalah (terlebih di kantor ini), justru gue berpikir hal-hal itu bisa untuk diterapin dalam ngurus anak. 
gue sendiri berpikir kalau leadership itu tergolong skill karena kemampuan itu macem otot, kalo dilatih terus akan jadi "sterek," tapi kalo nggak ya bakal tetep "klemer-klemer."
oh well. semoga deh lewat TM ini gue bisa jadi "leader" yang lebih baik, at least buat diri sendiri. 

benefit alias keuntungan yang bisa didapat dari mentoring dari sudut pandang organisasi. berguna banget, 'kan? sayangnya banyak organisasi atau perusahaan yang silap melakukannya *ehem*
ini poin-poin checklist di project Mentoring. gimana, selama ini udah pernah merasa dimentor kah?
but what this day has to offer me doesn't stop there. 
kelar mbolak-balik modul, gue kembali liatin laptop. buka-buka portal kantor, browsing tempat-tempat buat dikunjungin di singapur, dan sejenisnya. abis itu gue jalan ke toilet... eh ada ibu-ibu kantor yang baru balik umroh. jujur aja, insting awal gue adalah pengen menghindari beliau. 
nggak tau kenapa.
padahal ibu ini tergolong "revolusioner" dan "asik" dibanding orang-orang lain seumurannya di sini. dari obrolan-obrolan sekilas kita di toilet (selalu papasan di sini soalnya haha), terkuak kalo ibu ini pernah jadi atlet lari marathon kantor, aktivis serikat karyawan, dst. 

tapi emang udah digariskan gue kudu papasan dan berbasa-basi sama beliau, kayaknya, karena that's exactly what happened afterwards. 
obrolannya sih standar aja, seputar gimana pas umroh kemaren. tapi ada satu yang agak mencolek nurani gue... dia bilang apa yang 'didapat' masing-masing orang dari kunjungan ke sana tuh beda-beda. tergantung niatnya. ada yang puas dengan bisa check in dan foto-foto, ada juga yang udah mampir untuk ketiga, kelima, kesekian kalinya. dan ada juga yang bisa meraup banyak hikmah seperti beliau.. beliau cerita betapa terharunya dia pas bisa menyentuh Ka'bah. kata-katanya bikin air mata gue menggenang, 
"gimana sih, mbak, orang biasanya saya cuma bisa memandangi Ka'bah lewat sajadah saat sholat, sekarang bisa saya lihat langsung, sentuh bahkan." 
hiks... 
dia juga ngajak gue buat buru-buru ke sana, "mumpung masih muda, masih kuat. pergi deh mbak, sekeluarga. rejekinya pasti ada kalau udah ada niatnya." menusuk banget deh bok rasanya, apalagi didenger tepat sesudah gue browsing tempat halan-halan di singapur xD

entah gimana tau-tau obrolannya lantas beralih ke soal ngajak suami ke jalan yang benar, hahaha. menurut beliau, kadang harus kita yang jadi penggerak. "siapa sih yang nggak berharap dapet suami yang alim bak ustadz pas baru nikah dulu?" tapi hati manusia itu berubah-ubah. meskipun suaminya harus jadi imam, tapi kita tetep nggak boleh nyerah berusaha mengarahkan... 
ada celetukan beliau yang juga membekas banget, "makanya saya nasehatin anak saya supaya rajin belajar, bukannya bermaksud materialistis sih, mbak. tapi biar dia bisa leluasa buat beribadah. kalau ngejar dunia sih nggak akan ada abisnya, mendingan uang dipakai buat ngejar akhirat."

yaampun terhura gue dengernya!
kita pun menyudahi obrolan. "gih mbak, kerja lagi," katanya sambil senyum-senyum manis. gue hanya bisa menjawab dengan, "makasih banyak ya bu, buat oleh-oleh umrohnya. berharga banget loh oleh-oleh kayak begini, hihihi." 
setulus hati ey gue mengucapkannya. hikmah seindah ini jauh lebih bikin seneng dibandingkan oleh-oleh kurma, pacar, atau sajadah <3

abis itu, tiba-tiba rasanya hari ini jadi "cerah." meskipun dalam kondisi sebenarnya sore sampai malam malahan hujan deras banget, tapi it just made the day even better. 
I even saw a rainbow on my way home. 


03/03/2016

cabut gigi perdana

tanpa disadari, si anak usianya udah 6 tahun aja.. alhamdulillah yah bundaa. seiring dengan makin besarnya dia, gue mulai ngeh, biasanya kan anak-anak umur segini udah mulai ompong, tapi bumy kok belum? naluri #kompetitif gue pun tersulut; kenapa beginii... padahal temen-temen yang seumuran di sekolahnya rata-rata udah ompong satu-dua gigi. 
waktu gue tanya ke anaknya apakah udah ada gigi yang goyang apa belum, jawabannya: belum ada, tuh. 

hari demi hari berlalu sampai saat lagi ngegosokin gigi bumy, gue menemukan sebuah kejanggalan. di gigi seri bawahnya, muncul satu gigi di belakang gigi susu! walaah.. gue pernah sih mendengar 'kasus' gigi tetap tumbuh duluan gini, tapi nggak nyangka bisa kejadian di anak sendiri. 
kebetulan beberapa hari sesudahnya kita ketemu sama mertua adek gue yang seorang dokter gigi. sempat dicek oleh beliau, dan katanya itu wajar, cuma sebaiknya segera nemuin dokter buat konsul dan cabut gigi susunya. 

akhirnya gue telpon rumah sakit langganan, KMC, untuk mendaftar konsul sama dokter gigi anak. sebelumnya, bumy pernah cek-cek dan tambal gigi 2 kali di sana, selalu sama drg. Henny O Danan. tapi saat diinfoin jadwal prakteknya sama mbak di reservasi, kok waktunya nggak ada yang cocok.. akhirnya kita ditawarkan untuk konsul sama drg. Nila Alya, yang langsung gue iyakan karena waktunya pas. 

hari konsul pun tiba jua, dikasih jadwal jam 4:30 dan kita sampai jam 4:30 lebih dikit. udah ada pasien yang sedang ditangani, tapi kita nggak perlu menunggu lama. 
saat ketemu dokter alya, kesan pertama gue, "dokternya baiikkkk bangeettt iih..." seraya terkagum-kagum ngeliat cara doi ngajak bumy ngobrol. dan bukan ngobrol asal semata, tapi bener-bener engage si anak dalam sebuah percakapan. she was trying to get to know bumy. bumy emang nggak ada rasa takut gimana-gimana sih ketemu dokter gigi, tapi berkat aura sang dokter nan baik hati bak peri, dia jadi makin nyaman kayaknya. 

sejurus kemudian, sebuah lonceng di kepala gue berbunyi... kloneng.. wait, apakah ini dokter nila alya yang ITU? dulu, waktu gue masih 'rajin' bolak-balik ke Smile Center di Tebet, gue pernah mendaftarkan bumy konsul sama drg. nila alya yang heits banget direkomendasikan sama bunda-bunda. waktu gue daftarin bumy, dibilang harus masuk waiting list dulu karena jadwal beliau udah penuh selama 1,5 bulan ke depan... iya, segitu ramenya pasien beliau.  
tapi yaampoon, nggak disangka akhirnya bisa bertemu juga bumy (dan gue) sama beliau! 

back to konsulnya, ternyata setelah dicek, dokter alya menyimpulkan kalau di mulut bumy sedang terjadi 2 kondisi radang. hooh, 2 aja gitu, dan semuanya di bagian geraham belakang. gusinya bumy meradang karena ada gigi-gigi geraham yang mau nongol. nah, di saat seperti ini sebaiknya nggak dilakukan pencabutan gigi slash membuat luka tambahan dulu, karena bisa berisiko infeksi (maap kalo penjelasannya salah, nggak nyatet sih cuma berbekal ingatan). akhirnya kita cuma dikasih resep obat dan disaranin untuk observasi sekitar 2 minggu, tapi sembari usaha biar gigi susu yang 'dibalap' itu bisa copot sendiri. dokter alya nyaranin bumy makan yang keras-keras seperti ngegigit apel, gitu. 

2 minggu berlalu, gigi susu tadi nggak kunjung tanggal, maka kembalilah gue menemui beliau. alhamdulillah, sekali nelpon langsung dapet jatah konsul, tanpa harus masuk waiting list. saat diobservasi untuk kedua kalinya ini, dokter alya jelasin kalau radang di mulut bumy udah nggak ada, dan pencabutan gigi pun bisa ditunaikan. 
lagi-lagi, bumy dengan lempeng duduk di kursi tindakan. dokter alya nawarin bumy milih tontonan tv yang terletak tepat di hadapan kursi tadi. sambil teruus ngajak bumy ngobrol; bumy suka apa, mau jadi apa, sekolah di mana, dan seterusnya. dokter alya juga selalu nginfoin mau melakukan apa ke bumy, "permisi ya, mas bumy, dokter mau pakai alat yang begini begini (dijelasin fungsinya dan bunyinya bakal kayak apa)," atau "habis ini dokter mau olesin gel ini, gunanya supaya gini gitu." 
sayapun terpesona....

proses cabut giginya bumy sebentar banget, dan alhamdulillah berjalan mulus dan lancar. dokter alya memuji bumy karena udah bisa kooperatif, dan nawarin bumy milih stiker untuk dibawa pulang sebagai hadiah. 
yang lucu, gigi susu bumy yang habis dicabut itu bisa kita bawa pulang juga, hehehe.. 


  
pulang-pulang bawa "suvenir" gigi

gagal ompong!
kini, hampir 2 bulan berlalu, dan gue baruu aja menemukan kalau terjadi kasus yang sama di gigi seri bawah tepat di sebelah gigi yang kemarin 'dibalap.' yak, udah muncul gigi tetap sebelum gigi susunya copot. LAGI. 
berarti udah waktunya silaturahmi lagi deh ini sama dokter alya. sayangnya kali ini gue nggak seberuntung sebelumnya. waktu mau bikin janji di KMC, mbak reservasi bilang kalau untuk minggu depan jadwal dokter alya udah penuh huhuhu. kali ini masuk waiting list, deh, kitaa.. 

22/02/2016

wildest dreams

tempo hari Lita nulis tentang 30 hal yang dia nggak suka. it kind of inspired me to make a list out of something. but since I'm not in the mood to remind myself of things I dislike, jadi kali ini gue susun a list of my current favorite things aja. hal-hal yang dimasukin di sini random, seperti layaknya pikiran gue yang suka melompat-lompat ke sana ke mari, hehe. so please, bear with me through the rest of the list.   

• gara-gara Grammy 2016, gue jatuh cinta abis-abisan sama dua hal ini: 
a) Demi Lovato singing a cover version of Lionel Richie's "Hello" (merinding gila mak!).


and b) Hamilton
ini adalah judul pertunjukan teater Broadway yang menang Grammy untuk kategori Best Musical Theater Album. awalnya perhatian gue tercuri gara-gara Lin-Manuel Miranda, sang kreator sekaligus bintang pertunjukan ini, ngerap saat bacain acceptance speech-nya. kok seru amat 'ni orang?, gue pikir. setelah baca sana-sini, gue pun hinggap ke video opening number "Hamilton" yang dihadirkan live saat Grammy. opening number alias lagu pembuka ini mengenalkan siapa sih Hamilton ini, yang disebut "America's 'Founding Father Without a Father'" dengan memaparkan sejarah singkat masa kecilnya dan gimana dia sampe merantau ke dataran Amerika. silakan diliat sendiri, deh, betapa KEREN GILAKnya performance para pemain dan musiknya! 



gue nonton ini bersama Bumy, yang kemudian juga sama melongo dan terpukaunya kayak gue. dia abis-abisan bilang Leslie Odom, Jr. "keren, ma! bagus suaranya!" hahaha. ih, semoga someday kita bisa nonton pertunjukan di Broadway ya, nak! (menerima ucapan doa online dengan hashtag #emakinginnontonbroadway).

• next one is about skincare. (told you it's gonna be random)
berbeda dengan saat gue berceloteh seputar skincare regimen sebelumnya, di mana gue belum memakai pre-essence, sekarang gue udah pake. 
buat pagi, gue pakai SK-II Facial Treatment Essence yang alhamdulillah banget kali ini nggak bikin wajah bruntusan. dianalisa lagi, ada perbedaan yang memang kentara. sekarang gue rajin double cleansing. diawali dengan mengusap muka pakai Vichy Micellar Water untuk ngilangin makeup, dilanjutin dengan Sulwhasoo Cleansing Oil, lantas cleansing foam/scrub - which makes me wonder whether I've been TRIPLE cleansing :| 

apapun istilahnya, yang jelas it's all been ok.  
gambar dari sini
buat malam, gue memakai pre-essence yang berbeda. bukannya mau sok ala-ala skincare junkie yang paham kenapa malem dan pagi harus beda produknya, sikk... murni karena kebetulan ada sampel pre-essence yang belum dipake, haha. akhirnya gue prawanin juga History of Whoo's Ja Saeng Essence yang kebetulan sudah gue kekep beberapa lama. gue udah mendengar banyak review positif tentang produk ini, tapi to be honest belum muncul keinginan membara buat nyoba. singkat cerita, I finally gave it a try, dan udah hampir sebulan gue pakai produk ini, jadi layaklah ya buat kasih testimoni? tanggapan gue terhadap produk ini termuat dalam satu kalimat sahaja: it does me wonder. 

uh-huh, no more no less than a wondrous effect it is. terdengar terlalu lebay kah? hehehe. percayalah, gue tidak dibayar dengan produk gratisan sama Whoo (#kode). all I know is, sejak pakai ini, my skin has been supple, dan jerawat jadi jarang nongol (hanya sesekali saat mau dapet dan itupun cepet kering abis 'disumpal' pake si Ja Saeng ini). jadi begitulah, how can I not love this product?
kepikiran mau beli full size-nya sih, tapi pas gue tanya mbak BA-nya, dijawab harganya lebih dari 2 juta rupiah. er... agak gentar yah eke jadinya #dilema #pilihmukaapacicilan. mungkin gue bakalan restock sample size lagi, sik kalau begini caranya. tapi kalaupun gue somehow bisa beli full size, gue rasa setahun juga nggak abis, deh. karena ini aja cuma 5 ml tapi awet sebulan.  

• next on my favorite things is hosting friends.
gue baruuu aja berceloteh di blogpost ini, betapa gue seneng kalau bisa menjamu teman-teman yang mampir ke rumah. tempo hari 'kan ada Ika dan suami yang mampir ke rumah buat berlatih moto dengan cara motoin kita sekeluarga, hahaha. ya kita mah seneng banget atuh xD udahlah disamperin, dipotoin pula!
lalu minggu laluuu, kita kedatengan tamu lagi. kali ini konco-konco kentel gue jaman SMP. kaget dan seneng banget gueee, karena kita bisa kumpul lagi dan mereka sudi mampir ke pelosok ciganjur uhuhuhu. 
semoga Allah kasih gue banyak kesempatan buat latihan jadi nyonya rumah yang oke, yaak hehehe... 


hasil photo sessionnya <3

rasanya baru sekejap berlalu sejak kita gegoleran nonton vcd take that dan boyzone live in concert sepulang sekolah. hiks :')

• perihal tontonan, Orange is the New Black adalah tv show yang membuat gue melotot malam demi malam demi namatin season 1-3 dan bermata panda keesokan harinya. this show is a real bad a**! emang I would not recommend this show for anyone who's conservative in mind, sih. ada graphic depiction of s*x, profanity, and violence, even. tapi cerita yang disampaikan bener-bener 'hidup' lewat para tokohnya. I don't think I've ever fallen in love with so many characters in a show before. 




- lastly, THIS.
It's a very nice and inspiring writing by someone whose life seems to be led by passion. 
Let me quote some parts:
"If you feel you’re stupid, read books. If you think you’re smart, read more books. 
"Membicarakan atau mendiskusikan buku bersama orang lain yang juga senang membaca buku adalah satu dari sedikit kebahagiaan yang tidak mahal — dan jauh lebih baik daripada ikut membicarakan gosip terbaru para selebritas. Saling bertukar buku, tentu saja, juga lebih baik dibandingkan dengan bertukar pasangan. 
"Membaca buku adalah salah satu pekerjaan paling sulit yang saya tahu — dan itulah alasan kenapa banyak orang tidak suka membaca buku."
karena tulisan tadi dan lain hal, gue menyadari kalau buku adalah passion gue yang nggak pernah padam dari dulu sampai sekarang. it makes me feel alive. 
maka gue pun mulai 'memaksa' diri untuk kembali menyentuh dan akrab dengan buku. 
perjalanan diawali dengan langkah-langkah kecil... seperti memperbarui keanggotaan di Rimba Baca. gue kepikiran melakukan ini supaya selain pilihan bacaan Bhumy semakin banyak, juga untuk merangsang minat bacanya. nilai keanggotaannya totally worth the price (cuma Rp375.000/tahun) dibandingkan membeli sendiri. 

kebetulan banget, tau-tau Gemma (@lilbibliophile) ngajak ikut meramaikan hashtag #SatuHariSatuBuku-nya. tujuannya selain mendokumentasikan buku yang dibaca bareng anak, juga untuk ngasih review buku-buku yang udah dibaca. 

maunya sih bisa melangkah lebih lebar lagi ke depannya... gue mulai menargetkan kelar berapa buah buku per 2 minggu, trus kalau bisa, organize a book club sama temen-temen. berhubung gue anaknya seneng sharing, jadi rasanya kecintaan itu bisa tersalurkan lewat menceritakan opini dan berdiskusi soal buku sama orang lain. ada yang tertarik gabung? monggo banget lohhh. 







something to start the book club with...

one afternoon at Rimba Baca


if this is not inspiring, then what is?