27/10/2015

Orangtua: Pelatih atau Penyemangat?


Anak saya baru berusia 5 tahun, masih duduk di kelas nol besar. Tapi setiap weekend, dia sudah sibuk wara-wiri untuk mengikuti beberapa les.
Memang sih, mengingat usianya, lesnya belum ada yang berbau akademik seperti membaca atau berhitung, melainkan baru yang sifatnya fisikal (olahraga) dan juga musikal (main electone). Tapi, jujur, saja nih, Mommies, kadang saya suka sutris sendiri memikirkan progress anak saya dalam kedua les itu.

Contohnya untuk les berenang, sudah hampir setahun dia mengikuti les dengan rutin. Tapii, gaya yang dipelajari kok masih itu-itu saja, sih? *gemas* 
Di pikiran saya, seharusnya dia sudah bisa seperti anak lain, yang sudah jago menyelam, atau lincah renang dengan gaya kupu-kupu. (Uhm, meskipun saya sendiri hanya bisa gaya katak, sih...) 
Lalu untuk les electone-nya, sulit sekali rasanya mengajarkan dia di rumah. Padahal kami hanya mengulang materi yang diberikan oleh gurunya di kelas. Saya sampai perlu mengeluarkan 'jurus' andalan supaya anak semangat latihan di rumah... apalagi kalau bukan dengan iming-iming? 

Nah, pengalaman teman saya yang anaknya sudah lebih besar lain lagi. Anaknya suka bermain sepakbola, dan setiap kali anaknya bertanding, justru orang tuanya yang stres. Saya sendiri kerap menyaksikan banyak orangtua yang sibuk memberikan instruksi kepada anaknya di lapangan, lewat bangku penonton. Atau mendapati orangtua yang sibuk mengkritik anaknya sesudah pertandingan, sesudah performance, atau kegiatan lain yang dilakukan anak. Hmm, tak terkecuali saya, sih. 

Maksud orangtua (seperti saya) pastinya "baik," yaitu supaya anak belajar dari kesalahannya dan bisa tampil dengan lebih baik pada kesempatan berikutnya. Begitupun kalau orangtua (lagi-lagi seperti saya) sedikit 'memaksa' anak untuk menekuni suatu kursus atau kemampuan tertentu. Tujuannya supaya anak mengenali apa hal yang dia sukai sejak kecil. 'Kan katanya "If you live life doing what you love, then you don't have to work a day in your life."
Orangtua mana yang nggak ingin anaknya bisa menjalani hidup sesuai passion-nya?
Apalagi sekarang ini persaingan antar manusia sudah semakin tinggi. Ada pressure di diri orangtua untuk menjadikan anak punya spesialisasi skill sejak dini, mampu bekerja keras, dan pastinya, sukses.  

Kalau begitu, apakah sebenarnya kita, para orangtua, perlu mengambil peran sebagai pelatih atau coach juga bagi anak? Meskipun dijalani sambil sutris sendiri? Hehehe. 
Idealnya, orangtua memberikan apa yang anak benar-benar butuhkan yaitu dukungan dan kata-kata penyemangat. Menurut sebuah riset, sumber stres terbesar di diri anak datang dari ekspektasi orangtua. Sebuah studi di Amerika Serikat menyatakan bahwa kekhawatiran terbesar atlit anak-anak berusia 9-14 tahun sebelum bertanding terkait dengan bagaimana respon orangtua jika mereka tidak perform dengan bagus. 
Sementara itu, orangtua kerap kali terlalu tinggi menilai kemampuan anaknya sehingga muncul ambisi yang tidak pada tempatnya. Penyebabnya adalah karena ketidakpahaman orangtua mengenai seperti apa diri anak skill-wise.

Penting untuk kita ketahui bahwa ada 3 tahap yg dilalui anak saat akan mengembangkan talent:
1. Romantic stage (usia 6 - 13)
Anak terpikat oleh keseruan di lapangan atau betapa kerennya bisa memainkan alat musik. Ini membuat anak tertarik untuk mengeksplorasi lebih jauh, apalagi jika mereka bisa menikmati serunya suatu kegiatan. 
2. Technical stage (usia 13 - 16)
Pada tahap ini, fokus belajar anak mulai bergerak ke arah teknik dan kedisiplinan. Transisi menuju ke sini bisa berisiko karena sesuatu yang tadinya enjoyable bagi anak mulai berubah menjadi sesuatu yang perlu dikerjakan sungguh-sungguh. Banyak anak yang 'tumbang' dalam prosesnya. 
3. Mature stage (usia 16 ke atas)
Anak beranjak menjadi ahli dalam bidangnya. Mereka bisa mengembangkan gaya dan interpretasinya sendiri. Mereka juga termotivasi dari dalam untuk terus berlatih.

Apa yang dapat kita simpulkan dari ketiga tahapan ini?
Jawabannya, mengenali bakat dan kemampuan anak itu butuh waktu.
Para pelatih sendiri tidak bisa menebak mana anak yang akan sukses dalam bidang kemampuannya kelak. Menurut para pelatih, anak yang paling berhasil bukan selalu yang paling berbakat. Yang membedakan seorang pencetak prestasi dengan yang bukan adalah faktor-faktor berikut: persistence (kegigihan), determination (kebulatan tekad), dan willingness (keinginan yang kuat). 

Tentunya kita sebagai orangtua juga ingin bisa menilai anak kita secara objektif seperti para pelatih atau coach. Bagaimana caranya? Menurut buku "The Secrets of Happy Families" karangan Bruce Feiler, ini yang perlu dilakukan orang tua:

1. Jangan memaksakan suatu olahraga atau kegiatan pada anak. 
Kita justru perlu menunggu anak menunjukkan ketertarikan. Ketika anak berinisiatif ingin mencoba, barulah orangtua terlibat. 
2. Definisikan lagi tujuan.  
Orangtua perlu mengenali apa tujuan yang ingin dicapai anak dalam berolahraga. Apakah supaya anak menjadi atlet hebat, atau untuk belajar teamwork, berteman, dan sebagainya. Jangan lupa untuk meminta anak untuk menjawab juga apa tujuannya. 
3. No verb
Ketika anak-anak ditanya apa yang paling mereka tidak sukai dari bertanding atau tampil, mereka menjawab tidak suka kalau orangtua sibuk memberi perintah ini-itu. 
Tugas orangtua hanya memberi semangat, bukannya arahan. 
4. Hindari merekonstruksi kesalahan anak sesudah pertandingan atau pertunjukkan. 
5. Ajak anak terlibat dalam percakapan konstruktif. 
Minta pendapat anak tentang penampilannya, namun jika ada hal negatif yang ia rasakan, responlah dengan positif. 

Lewat tampil dalam pertunjukkan, berlomba atau bertanding, anak memang jadi belajar banyak skill penting, di antaranya kepercayaan diri, sikap kompetitif, serta risiko. Tapi sebenarnya semua hal itu bisa diraih seiring dengan berjalannya waktu. Yang terpenting untuk saat ini adalah menjadikan saat-saat belajar dan berolahraga sebagai momen yang menyenangkan. Baik untuk anak maupun orangtua. Jadikan momen ini sumber keterhubungan dalam keluarga. 
Kesimpulannya, kita nggak perlu jadi coach untuk anak-anak kita, malah seharusnya jadi cheerleader yang baik bagi mereka.

So Mommies, have you prepared your pompoms? :D

26/10/2015

tentang keseimbangan

balancing work and home. 
ini isu yang tipikal dan familiar banget buat gue, deh. gue sebut begitu karena melulu gue temui sepanjang berstatus ibu bekerja. contohnya ya seperti sekarang ini. 
gue pernah membeberkan dalam sebuah blogpost, gimana saat gue masih bisa-di-rumah-aja (baca: jadi IRT), gue pernah iseng membayangkan WHAT IF gue balik ngantor lagi. apakah gue bisa berkomitmen penuh pada kerjaan di kantor gue yang workload dan budayanya "seperti itchu?" 
trus, gimana kalo anak gue sakit? kebayang rasa sungkan ketika harus minta ijinnya. atau kalau harus keluar kota, pulang malem karena lembur, dst... maka saat itu, hasrat untuk bekerja lagi yang sempat meninggi di sanubari, mendadak surut.

tapi atas kehendak Allah, gue kembali jadi karyawati. 
lalu apa yang terjadi?
well, kalau mau dicari nggak enaknya, ya pasti ada aja (*dalam hati menjerit "banyaaaak!"*). tapi, yang harus disyukuri ya juga nggak kalah banyak. misalnya lokasi kantor yang sesuai dengan doa gue dan Adit, unit kerja yang ngurusin segmen business (instead of retail) dan cakupannya di level regional (nggak terlalu luas, tapi juga nggak terlalu 'sempit'), juga keberadaan faktor-faktor pendukung lain seperti suasana pertemanan yang so far so good.  
tapi, seperti yang gue duga, masih muncul ketidaknyamanan ketika gue dihadapkan pada skenario-skenario yang sebelumnya sudah gue bayangkan. 
contohnya, benar gue merasa bete kalau harus pulang kantor malem-malem (atau lebih tepatnya, kalau nggak jam 5 TENG). 
benar gue merasa bersalah ketika diajak jalan-jalan dari kantor keluar kota dan menjadikan harus nginep selama beberapa hari. 
bahkan, untuk saat ini, gue agak mumet mikirin seandainya level posisi gue dinaikin. padahal temen-temen seangkatan gue hampir semuanya udah berada di level posisi tersebut. membayangkan tanggung jawab yang otomatis akan bertambah, komitmen waktu yang diperlukan, dst, bikin gue gentar. 

konsekuensinya, kinerja gue ya nggak jauh beda dengan yang gue tunjukkan 3 tahun lalu. gue masih kalang-kabut menghadapi tantangan waktu. trus terkait hati, gue merasa udah menemukan passion gue tapi kerjaan full-time gue nggak berhubungan sama sekali dengan passion gue itu. meskipun begitu, gue takut menghadapi apa yang akan terjadi "di luar sana" once I decided to step out of this 'safe zone.'
will it be different if I worked full-time doing something I'm passionate about? apakah gue nggak akan merasa bersalah sama anak lagi?

anyways, I remember a Saturday I had a few weeks ago. 
entah kenapa saat itu semua angan ambisius untuk menikmati weekend menguap begitu saja. 
gue kehilangan ambisi untuk quick getaway ke bandung (atau puncak atau anyer). 
I didn't even exercise. gue juga nggak kepengen nyalon atau pijet - like I normally would. gue nggak datang tafakur. gue nggak mengisi waktu dengan melakukan survey ke sekian banyak sekolah seperti yang sudah gue targetkan. 
alih-alih meng'optimal'kan weekend, saat itu gue malah sangaaaat menikmati duduk di sofa panjang gerai fast food bersama Bumy di sebelah gue. he's playing a game on my gadget. gue sendiri asik cetat-cetut di ipad. we ate loads of junkfood. I was listening to Belle and Sebastian's "Funny Little Frog" and had no plans whatsoever on my mind. 
yet I felt so in touch with my heart. there's an absence of restlessness. gue nggak bisa inget kapan terakhir kali gue merasa begini. mungkin perasaan seperti ini yang dimaksud dengan "contentment." 

karena, gue puas bisa berada di dekat Bumy right at that moment. meskipun kami nggak sedang melakukan high-quality bonding activity.
gue puas bisa mendengarkan lagu-lagu dari band-band kesukaan (#nowplaying Beirut's "Postcard to Italy". how is that not to love?).
gue puas bisa melanglang sendirian... berkelana di dalam labirin pikiran dan perasaan gue sendiri. 
I just hope I could feel it more often. 

--------


maybe life will never be balanced. 
dan gue mengatakan ini bukan dengan nada yang sinis atau pahit. dunia emang udah ditakdirkan bersifat fana, bukan? apa-apa yang ada di sini nggak kekal, berubah-ubah kondisinya. kerjaan kadang padat, kadang nyenengin. kebersamaan sama anak kadang mengalir dengan mudah dan menyenangkan, kadang banyak dramanya. 
you just have to seize the moment when it passes you by. tangkap kebahagiaan saat dia datang. hadapin bau busuknya saat ke-enggakenak-an harus dilewati. 
hmm.. sepertinya paragraf ini perlu ditandai dengan hashtag #bukankatabijak #sedangsadarsesaat, deh. 
karena sejujurnya, it's never easy. kembalinya gue ke pekerjaan full-time bukan cuma bikin gue perlu banyak adaptasi, tapi juga berdampak ke diri Bumy. gue perhatiin, dia jadi lebih sensitif, suka nangis lebay karena alasan sepele. dia harus nungguin gue dan Adit pulang ke rumah setiap malem, cuma sama si embak. not to mention perkembangan segala kegiatan les-nya yang agak terbengkalai sejak gue kembali bekerja. 
to me, leaving him feels harder now that I've experienced becoming a SAHM. mungkin, sulit juga bagi dia untuk membiasakan nggak bersama gue setiap saat di rumah. 

gue teringat suatu momen, Minggu malam di pom bensin. Bumy lagi mellow gara-gara baru say byebye ke oma. gue sendiri sedang merasa nggak nyaman; campuran dari perasaan hampa, bingung, dan resah. saat itu, kita berdua sama-sama sedang butuh "obat hati."
seperti apa harusnya obat itu?
should I stop working? 
should I take him to the mall and buy him stuff?
apakah ketidaknyamanan seperti ini akan berhenti terjadi begitu gue jadi IRT *lagi*? 
tapi, apa yang sedang gue ajarkan ke anak gue lewat pilihan-pilihan gue ini? am I being selfish? am I being materialistic? or am I teaching him about hardwork and a life earned from it? am I teaching him to be happy no matter what the situation is like? 

yang jelas, gue nggak bisa melarikan diri (lagi). 
kalau sekarang gue belum bisa "menghidupkan hidup" seperti semboyannya Ho, setidaknya gue bisa mencoba survive lah. 
gue udah pernah bikin survival guide untuk IRT, berdasar pengalaman selama jadi IRT, yang isinya the things that kept me sane. ndak ada salahnya gue coba bikin survival guide juga buat profesi sekarang, 'kan? meskipun mungkin sebagian besar cuma dikarang-karang, haha. 




but if I am to write one right now, what will be in that so-called survival guide?

let's say I'm trying to give myself "wise" but do-able advices here.. so please, spare me from being a smartass :) 
I think this is what the currently-working me should do: 

1. try to like where I am. try hard, lebih tepatnya :)))
in Leo Babauta's words, "get good at discomfort." 

2. keep doing things that I love.
gue merasa paling nyaman sama diri gue sendiri saat bisa berbagi ide, cerita, atau perasaan. kadang gue wujudkan lewat tulisan, kadang lewat ngobrol. jadi, nampaknya gue perlu cari cara untuk menyalurkan hasrat ini sembari bekerja. 
sekarang ini, gue nyambi bikin-bikin blog sama temen-temen (ada ini dan ini, hehe). kerjaan freelancing juga masih gue lakuin, meski untuk merampungkannya butuh effort dan waktu khusus. tapi yaa, demi menyalurkan hasrat, dan ujung-ujungnya, menjaga kewarasan. 

3. stop COMPARING. 
ini berlaku buat kondisi diri sendiri, maupun kondisi anak dan keluarga. 
we all have our own demons and battles to face. cuma masing-masing yang tahu hidupnya beneran bahagia atau nggak. 

4. mencoba disiplin.
poin yang ini kayanya wajib ada di daftar gue baik mau jadi WM maupun IRT. disiplin waktu selalu jadi yang paling penting buat gue; gue perlu membiasakan tidur di waktu yang sama setiap malam, bangun pagi supaya sempat olahraga, cuci muka sebelum tidur, tafakur setiap minggu. begitupun buat anak, merutinkan jadwal latihan electone, baca buku bareng setiap malam, dll. 

5. batasin waktu megang gadget.
poin ini juga rasanya udah terlalu sering diulang, yah hehehe. 

6. spend less, and less. I just realized that possession is an illusion. because things we buy, they come with responsibilities. kalau kita nggak sanggup memenuhi responsibilities itu, the things we own can only end up owning us. 
 
tapi gimana dengan cicilan ini dan itu yang udah terlanjur ada? hahaha. 
ya nggak boleh skip juga buat diperhitungkan, pastinya... tapi setidaknya coba ngerem diri, deh, kalau mau belanja impulsif. 
another note to self: usahain "kebutuhan" skincare dan belenjong tersier lainnya udah dibudgetin sejak jauh-jauh hari, kekeke. 

7. never underestimate the power of prayer.
say no more. 

that's all I could come up with for now.. setelah 3 bulan kembali ngantor full-time. rasa bersalah, ketidaknyamanan, drama - they are always a part of this role I've chosen. I just need to be good at dealing with them. *bookmark halaman ini for future reference* :))

14/10/2015

school-hunting season

di sinilah gue, duduk manis sendirian sambil ngetak-ngetik di ipad. this could be enjoyable, this could be a luxury. tapi nggak demikian yang gue rasakan. kenyataannya adalah gue lagi nungguin Adit kuliah sepulang kerja. sementara Bumy menanti gue di rumah cuma sama si embak. he has said many times that he misses me. but... let's just deal with it.

sekarang ini, gue kembali berjibaku dengan urusan memilih SD buat buat Bumy.



yak, sedang terjadi dilema milah-milih sekolah pada diri beta, all over again. 'kan gue cerita di blogpost ini, kalo gue udah memutuskan Bumy dimasukin SD tahun depan ajah (insya Allah), tapi melihat kondisi hidup sekarang - di mana gue tiba-tiba kerja full-time lagi - gue jadi mempertimbangkan lagi untuk masukin dese ke SD bulan Januari ini.
anaknya sih kemaren bilang, "Bumy gak mau buru-buru masuk SD, ah. abis pulangnya jam 3." nah lo, udah paham dia. tapi mau dimasukin bulan januari atau juli, yang pasti 'kan gue harus nyari sekolahnya dulu. mana nih yang paling tepat?? sd loh ini.. esdeee *zoom in zoom out* bayar uang pangkalnya buat 6 tahun sekaligus buuuu!

awalnya gue udah mantep mau nyekolahin bumy sd di sekolah yang enih. karena berasa udah cocok dari segi metode, biaya, sampe gaya hidup. tapi namanya juga emak-emak, ada yang 'ngomporin' dikit soal sekolah x, y, atau z, seketika membara hasrat keponya.

tapi kembali ke soal kriteria, seharusnya emang kita sendiri yang menentukan, rite? bukannya asupan/rekomendasi/kabar angin dari pihak-pihak luar. mungkin bagi si A, sekolah dengan kurikulum nasional cocok, sementara buat si B, sekolah alam lebih efektif.

soal kurikulum buat gue penting banget, nih. dari browsing sana-sini, gue menemukan kalau kurikulum yang terasa cocok baik dengan harapan gue buat Bumy, maupun dengan kepribadian dan gaya belajar Bumy, adalah kurikulum IB.
IB menekankan pada kemampuan analitis, jadi anak akan banyak diminta membuat laporan, essay dan riset. diskusi dan creative thinking selalu diasah karena nggak ada textbook wajib. trus minat non-akademis anak (kayak musik, seni, dan olahraga) dikembangkan dan diarahkan; karena 'kan nggak semua anak 'berbakat' untuk sukses secara akademik.
cuma kekurangannya juga ada, karena punya standar khusus, makanya sekolah IB biayanya mahal. selain itu, sekalinya 'nyemplung' ke IB, ya harus lanjut, karena akan sulit pindah ke kurikulum lain yang terstruktur lebih ketat.
sementara sekolah Bumy sekarang ini, diklaim menerapkan kurikulum montessori. nah, selama ini gue cuma kenal sama kurikulum nasional, nasional plus, internasional (IB, cambridge, IPC).

jadi gue rasa, sekarang ini waktu yang tepat buat memantapkan/merevisi kriteria sekolah. so far, kriteria gue untuk SD Bumy kelak sbb:

- menyediakan pendidikan yang holistik, yang meng-cover pendidikan hati, akal, dan fisik.
untuk hati, ya meliputi budi pekerti, perkembangan secara emosional, dan juga pemahaman agama.
trus untuk akal, pendidikan yang diberikan sesuai dengan perkembangan otak. ini bukan berarti mengharamkan calistung sama sekali, ya. tapi anak dibikin tertarik untuk bisa baca-tulis-hitung dengan bikin anak tertarik, serta bisa menanamkan pemahaman konsep calistung yang kuat.
kebeneran montessori ini titik berat konsep pendidikannya di pengembangan emosional anak. kaya gue ceritain di entry inilah, jadi selama usia kritikal (0-12 tahun), montessori fokus di pendidikan untuk hati, bukannya akademik.
mengutip ucapan seorang mamah di grup WA, "kalo perkembangan emosional anak baik, cukup mengenal diri sendiri, tau bersikap, maka mau ke SMP dengan kurikulum apapun gak masalah." noted!


- biayanya kita afford... baik uang pangkal dan biaya bulanannya, bisa kita bayar tanpa harus ngutang hehe. udah gitu gaya hidupnya juga nggak nggilani; jujur gue gentar menghadapi sekolah yang setiap ngadain event harus nyewa tempat di luar sekolah, suka ngadain studi banding ke luar negri, intinya banyak biaya tambahannya, gitu. belum lagi hidden cost untuk pergaulan... yang meskipun itu semua seharusnya nggak mengikis ke-DBAS-an asal kita bisa pake kacamata kuda, tapi yaa gue maunya anak terbiasa bergaya hidup sesuai kemampuan emak-bapaknyalah.

- gimana dengan Location Location Location? haha kode pos sekolah kayanya udah nggak terlalu berpengaruh buat kita - secara udah setahun ini nyekolahin Bumy ke kawasan macet yang jaraknya 9 km dari rumah. tapi yang jadi pertimbangan adalah kondisi lingkungan sekolahnya, maunya sih yang bersih, terawat, dan terjaga.

- hal-hal lain yang penting-nggakpenting juga jadi pertimbangan, sih, semacam
  • classroom setting - maunya yang nggak duduk berjejer ke arah papan tulis. karena ini menggambarkan metode pengajaran yang dipake; bisa keliatan dong kalo menghadap satu arah kaya gue di SD negri dulu, metodenya akan berupa guru monolog di depan. gue maunya anak diajak banyak diskusi (bukan banyak dikasih hafalan dan PR), disuruh bikin essay dan conduct research alih-alih menyalin doang.
  • rasio guru dibanding anak - nggak terlalu sedikit tapi juga nggak kebanyakan. 1:30 justru kondisi 'ideal' kalo dari mbaca buku Malcolm Gladwell.
  • fasilitas - nggak harus lengkap bin mumpuni sampai ada lapangan hoki dan ice skating segala, yang penting bersih dan terurus.
  • kompetensi pengajar - menilik pengalaman yang tlah lalu, level edukasi guru ternyata ngaruh banget sama kualitas pendidikan yang dideliver.
  • komunikasi antara sekolah dengan ortu - kalo bisa sih ada PTA, dan kepseknya juga komunikatif (tidak arogan adalah syarat utama!).
  • penerapan disiplin secara konkret - disiplinnya tentang apa: baju, absen, attitude? pembentukan perilakunya lewat apa?

hihihi penting-nggakpenting tapi segitu detil yah ceu penjabarannya xD

okelah, semoga kita bisa menjatuhkan pilihan dengan mudah yaa - maksudnya karena udah yakin banget, gitu, hehe. how 'bout you mommas out there? udah mulai school hunting jugakah?
first-world school problem :D

28/09/2015

this week's lesson

hi there, life. what have i learned about you lately?

i think you're teaching me about letting go.

first of all, gue sedang belajar melepas nyamannya rutinitas jadi ibu rumah tangga. yang selama anak sekolah bisa ngopi cantik sambil ketak-ketik (hehe). melepas kenyamanan bisa konek sama diri sendiri, dan kebebasan mengatur jadwal sesuka hati. i do terribly miss it at times. even though i could remember clearly how lonely i used to feel.

lalu yang kedua, gue belajar 'melepas' kiti untuk kembali ke inggris. to me, this was tougher than it looked like from the outside.


tentunya gue senenglah dia bisa meraih cita-citanya untuk lanjutin sekolah lagi, untuk hidup dan berkiprah lagi di inggris. it goes without saying that kalau dia seneng, gue juga akan seneng. tapi, di sisi lain, gue tau gue akan sangat kehilangan dia.
hampir setahun belakangan ini gue tersadarkan, kalau kiti bagi gue itu lebih dari sekadar teman atau sahabat. she's like my sister from a different mother. entah gimana hidup perlahan-lahan menyaring keberadaan orang-orang di sekitar gue. and she's one of the (very) few that's left. gue merasakan banget gimana kita bertumbuh bersama, dan alhamdulillah, ke arah yang sama. dia mengisi kekosongan di hati gue dengan sesuatu yang bukan cuma gue butuhin, tapi juga 'baik' buat gue. she fills my soul by 'teaching' me how to be a better person. dia juga menjelma jadi sosok yang "satu frekuensi" dengan gue. i feel stronger and more whole by our connection. tapi, gue juga sadar kalau dalam hidup ini kita perlu mandiri. bukan cuma secara fisik, keuangan, atau mental, tapi kalbu gue juga harus mandiri, dengan bersandar hanya kepada Allah.
jadi, sekarang ini gue sedang belajar, untuk meyakini kalau keberangkatan kiti kembali ke inggris pasti akan membawa lebih banyak kebaikan untuk dia, dan juga untuk gue.

yang ketiga, it's about my grandma. thankfully she's still alive. dua minggu lalu dia singgah ke tangerang bersama keluarga tante gue dari bengkulu. tante gue cerita kalau sejak tiga bulan belakangan ini beliau mulai pikun. usianya udah 78 tahun, so it's understandable. and it's bound to happen anyway, right? but it's hard for me to see her in this condition. matanya blank, dan dia bener-bener terlihat seperti anak-anak lagi. sosok wajahnya polos; nggak ada secorak beban kehidupan, rasa takut, atau kekhawatiran. she just seems... living in the present. and that's supposed to be... good, i assume?
but it feels like such a loss to me. kehilangan sosok nenek yang sangat pintar, yang mengajarkan gue banyak hal sedari kecil. sahabat pena gue. teman jalan-jalan gue. dan gue merasa sangaaaaat menyesal nggak memanfaatkan waktu sebelum tiga bulan lalu itu just to have a chat with her. before her old self went away for good....

dipikir-pikir, life should be easier that way - when we could finally let go.
masih banyak hal-hal lain yang perlu gue 'lepas.' entah karena masih bikin penasaran, bikin susah move on, atau bikin sakit hati.
number one on my (long) list, is definitely letting go of high school. someone once said to me that "high school never ends." bukan cuma kenangannya, tapi juga imaji yang melekat di dirilo dan orang-orang yang lo kenal saat itu, seolah abadi. i used to define myself with the kind of girl i was in high school. that way, i become my unfulfilled wishes, the boys i never got to date, the achievements i never made, and the kind of beauty, look or whatever that i never lived up to. i need to stop defining myself from those that i cannot change. because that chapter should've ended long ago.




jadi, yah, mungkin ini salah satu cara #realitycheck. living in the present by focusing on and appreciating what's in our lives now.
at this moment alone, i have an abundance of things to be grateful for. (aside from health, family, faith, and fulfillment of basic needs), i'm glad to have the chance to do something i love; the chance to learn a thing or two from life, death, and faith.. 

also the chance to feel, to grieve for, and, hopefully, finally to accept loss....

One Art

By Elizabeth Bishop

The art of losing isn’t hard to master;
so many things seem filled with the intent
to be lost that their loss is no disaster.

Lose something every day. Accept the fluster
of lost door keys, the hour badly spent.
The art of losing isn’t hard to master.

Then practice losing farther, losing faster:
places, and names, and where it was you meant
to travel. None of these will bring disaster.

I lost my mother’s watch. And look! my last, or
next-to-last, of three loved houses went.
The art of losing isn’t hard to master.

I lost two cities, lovely ones. And, vaster,
some realms I owned, two rivers, a continent.
I miss them, but it wasn’t a disaster.

—Even losing you (the joking voice, a gesture
I love) I shan’t have lied. It’s evident
the art of losing’s not too hard to master
though it may look like (Write it!) like disaster.


27/09/2015

mommy drama

mommy drama, adakah yang pernah nggak terlibat sama hal ini?

meskipun gue merasa diri gue rada ansos di kalangan ibu-ibu, tapi sempat juga gue terlibat mommy drama. waktu itu issuenya seputar (dan dengan orang-orang di) sekolah anak. lucu juga kalo dipikir-pikir!
ceritanya gini, di sekolah Bhumy yang lama, ada beberapa ibu yang melontarkan keluhan mereka tentang sekolah. beginilah, begitulah. sejujurnya, keluhan mereka itu juga sama seperti concern gue. makanya, beberapa bulan sebelum tahun ajaran kelar, gue udah rajin mensurvey beberapa sekolah lain. dari beberapa sekolah yang udah gue liat dan sambangi, gue simpulkan kalo sekolah (lama) Bhumy masih lebih unggul, karena banyak faktor bagusnya yang nggak gue dapetin di sekolah lain.
balik ke soal ibu-ibu yang ngeluh. waktu itu mereka memaparkan keluhan sambil misuh-misuh, bahkan percakapannya juga udah bernada destruktif menurut gue, karena pake nyinyir dan mocking. gue sendiri sebelumnya pernah mengeluh soal kekurangan sekolah itu secara terbuka, yaitu lewat grup WA juga. tapii ketika itu di chatroom, setelah melakukan "studi banding," gue merasa perlu nyampein kalo "woy, sekolah ini masih ada kelebihannya, loh." seenggaknya untuk menawarkan pandangan yang objektiflah, kalo nggak bisa menghibur ibu-ibu itu (ya nggak sih mereka perlu dihibur? 'kan udah repot misuh-misuh tapi nggak bisa nyari sekolah lain?).
eeh gara-gara itu gue dimusuhin, dong! x)))))
yang mana bikin gue heran... lha 'kan gue ngomong (eh ngetik) bukan berdasar emengan semata, tapi lewat survey dan bahkan trial di beberapa sekolah lain. sementara mereka? ngebandingin langsung kayanya juga nggak deh, cuma hearsay atau modal browsing.

bagian lucunya adalah, ibu-ibu yang "kontra" itu bikin grup WA sendiri. :)))) ditengarai supaya bisa bebas misuh-misuhin ibu-ibu lain yang nggak sepemikiran sama mereka. termasuk yang terkesan ngebelain kayak gue. mereka juga suka ngumpul-ngumpul sok eksklusif, padahal beberapa di antara mereka itu 'deket' sama gue. bukan kayak BFF or anything, tapi cukup suka berikrib-ikrib manislah 'ma gue. pernah juga satu dari mereka (sok?) kelepasan "eh nanti mau gini di X, kan ya?" yang gue respon dengan "oh ya? nggak tau, nggak diajak gue." zzz...

lalu gimana kelanjutan dari drama itu? well, gue sih udah mindahin Bhumy dari sekolah lama itu ya. sementara dedengkot grup WA tandingan itu sampai sekarang anaknya masiih setia ngendon di sekolah yang sibuk dikomplain itu. #tongkosongnyaringbunyinya :)))))

bagi gue, lesson learned dari drama nggak-penting-tapi-ngenekin itu mungkin
- gue jadi nggak mau terlalu aktif di chatroom grup manapun, apalagi grup ibu-ibu yang baru gue kenal. rawan salah persepsi, bo.
- jangan terlalu fanatik mencinta maupun membenci suatu sekolah. hahaha. biasa ajaa, malu 'kan kalo nanti dikecewain atau malah dibikin seneng sama itu sekolah?
- kalo udah kadung terlibat drama sama ibu-ibu kurang piknik, pilihannya cuma: hadapi, lawan, atau... tinggalin. akun socmed-nya tinggal dibikin mute. sapa seperlunya kalo ketemu. pokoknya minimalisir urusan, deh.


oh how we all wish for world peace :)))
last but not least, sepertinya emang bener kalo semakin tua, semakin susah juga nyari temen yang beneran nyambung, dan juga 'baik' buat kita. our circle may become wider, but the connection is getting harder to get.
demikian curhat kali ini, wassalam.
kekekke.

02/09/2015

my life as an IRT, 2 and a half years later

oke, udah pertengahan tahun 2015 aja. malah tinggal empat bulan menjelang pergantian tahun. udah 'sampe' di mana guee?

milestone hidup gue sepertinya bisa diukur sejak gue cuti kerja buat jadi SAHM, deh. udah 2,5 tahun aja, ternyata gue jadi SAHM. bikin review kecil-kecilan, ah.

jadi, setelah 2,5 tahun, gue...
  • masih belum nambah anak
ini hal yang selaluuu aja ditanyakan setiap ketemu temen atau kenalan. "anak udah berapa?" 
masih satu aja, buuu. 
kepengen nambah? kadang-kadang, sih, tapi lebih sering nggak pengen. buat gue, bayi masih identik dengan kata "repot." mulai dari usaha buat hamilnya, kehamilannya, melahirkannya - yang sampe sekarang masih bikin trauma, sampai ngurus newborn-nya. 
kenalan dari kantor lama yang paling suka terheran-heran pas tau gue belum juga nambah anak. mungkin di pikiran mereka, ngapain cuti segala kalo bukan buat nambah anak?




seperti layaknya menetapkan target yang ketinggian untuk dicapai sehingga hampir nggak mungkin, gue juga punya kondisi ideal di benak yang buat gue layak untuk punya anak kedua. maunya, sih, kalo mau nambah anak, gue (dan Adit) udah 
- bisa hamil tanpa usaha yang 'berat' kayak pas mau punya Bhumy dulu. no pills, no injections. 
- bisa menjalani kehamilan dengan sehat, mudah dan menyenangkan. 
- bisa melahirkan secara normal dengan selamat. etapi nulis gini aja otomatis bikin deg-degan, kumaha atuh?! 
- bisa tinggal deket sekolah Bhumy, jadi kita bisa minta Jali (ojek langganan Adit) untuk antar-jemput Bhumy sekolah.
- bisa punya kerjasama yang enak untuk ngurus anak, rumah, dan kerjaan; bisa menyediakan lingkungan yang aman dan positif buat anak-anak kelak. nggak mau "salah ngasuh" kayak sama Bhumy. 
kira-kira bisa kesampean nggak tuh? xD


  • masih suka galau pengen kerja. 
padahal sampe sekarang gue juga masih clueless sih kalaupun balik kerja lagi, gue mau berkiprah di bidang apa. pengen nyoba jadi copywriter atau gabung di media atau startup. tapi kalo mau jujur, kebutuhan utama gue sebenernya berada di tengah orang-orang dewasa. kayaknya otak bisa terstimulasi untuk jadi kreatif, sekaligus bisa bersosialisasi juga. tapiiii, begitu ngebayangin skenario-skenario secara spesifik jikalau gue jadi ibu pekerja, macam nggak enak bolos kalo anak sakit, stres kalo kudu pulang malem atau keluar kota, hasrat pengen kerja lagi kok ya surut... 
sempat kepikiran buat kuliah S2 aja, buat ilmu dan networking-nya. tapi dari segi dana masih sulit untuk saat ini. 
pengen bikin-bikin "sesuatu" sama Kiti, my BFF, tapi kok yaaa sampe sekarang belum kewujud gara-gara kurang komitmen xD
kalo punya bisnis, sempat kepikiran, sih. tapi makin ke sini, gue makin ngerasa lebih cocok self-employed. gue nyadarin kalau belum berani ngambil risiko, dan belum ada ide yang bener-bener 'klik' juga.




  • belum rutin olahraga, belum rutin makan sehat, belum rutin memperkaya jiwa. 
malahan mengidap kolesterol tinggi. -__- mau baby steps lagi untuk makan "bersih." olahraga juga insya Allah dirutinin. 
untuk urusan jiwa, alhamdulillah gue dipertemukan sama majelis tafakur. di situ gue merasa dipertemukan sama orang-orang yang sejiwa; sahabat-sahabat terbaik yang selalu mengingatkan sama akhirat. <3


  • sementara dalam kehidupan sosial, yang paling terasa sih, gue jadi sering kesepian
sejak pegang jabatan SAHM, interaksi gue dengan sesama orang dewasa emang lebih sedikit dibanding waktu bekerja. tapi kayaknya sih yang bikin ngerasa kesepian adalah gue kurang dapet "connection"nya.
mungkin gini ya, dulu gue mendefinisikan diri gue sebagai ibu bekerja, dan itu bikin gue ngerasa belong di 'komunitas' ibu bekerja. 
sementara sekarang, gue udah jadi ibu rumah tangga, tapi bekerja juga meski cuma part-time dan freelancing. dari interaksi sama ibu-ibu SAHM aliran murni (maklumi istilah ngasal ini), gue bisa cukup nyambung bersosialisasi. tapi, perasaan "connect"-nya itu yang kadang nggak didapetin. 
gue pengen dapetin percakapan tentang hal-hal yang menjadi minat gue (dan lawan bicara). percakapan yang memungkinkan gue bertukar ide, yang membawa ke pertumbuhan, atau yang bisa memfasilitasi impian. bukan berarti sekarang gue nggak dapetin itu sama sekali dari orang-orang di sekitar gue, tapi hal itu yang gue dambakan kalo lagi merasa kesepian. 
or maybe I just think too much. 
atau perlu 'pindah' ke jogja atau ubud? hehehe.


  • lastly, apa aja yang udah gue kerjain selama 2,5 tahun? 


kekekek... yes, I'm glued to tv most days, but I do have "jobs!" 
- nulis artikel buat Mommies Daily dan Cantik.com
- jadi proofreader dan editor freelance
- nerjemahin lepas. alhamdulillah dapet aja klien entah itu korporat atau perseorangan. 
- ikutan event buat blogging atau reportase ke MD. 
- nimbrung nulis untuk buku kumpulan artikel, dan kumpulan cerpen.
pintu rejeki emang macem-macem, ya. tapi di kasus gue, banyak banget yang datangnya lewat @nenglita hehehe. semoga dapet balasan yang berlipat-ganda, ya kakk. :*

ke depannya gimana? 
pengennya sih masih bisa memperpanjang isi resume. 
dalam waktu dekat, gue juga pengen bisa bikin blog di luar urusan curhat; pengen bisa lebih banyak terjun di reportase event; dapet project translating, proofreading dan copywriting yang besar; juga pengen jadi kontributor tetap di media online bidang edukasi keuangan. 


yang bikin postingan ini terasa lucu (dan agar getir) buat gue, adalah fakta bahwa sekian jam sesudahnya, gue balik kerja lagi di tlkm. padahal liat aja paragraf terakhir, nggak ada nyebut-nyebut mau balik ke ranah profesi telekomunikasi xD
kadang gue merasa hidup tuh seperti mencoba menyatukan potongan-potongan puzzle yang nggak lengkap. I'm constantly trying to figure it all out.... 

27/08/2015

#backtowork

Finally! Setelah 3 minggu kembali ngantor, akhirnya gue bisa ngupdate blog lagii. 

Ngantor??
Iya, seperti judul, eke back to work, buu. Full time. 8 to 5 (say "amen" to this?). 
Emang tiba-tiba banget, sih. 
Jumat siang gue lagi nyetir abis jemput Bumy dari sekolah, tiba-tiba ditelpon sama orang HR tlkm. Gue disuruh dateng ke kantor gatsu hari senin jam 9-10. Phonecall kayak begini emang udah gue tunggu-tunggu, karena status kepegawaian gue gantung sejak bulan Mei. CLTP gue udah nggak bisa diperpanjang, jadi rencana awal mau ambil cuti selama 3 tahun (jatah maksimal) terpaksa berubah. 
Mau sontak ngajuin resign kok rasanya nggak enak... seolah membuang begitu saja kesempatan untuk jadi pekerja lagi. Belum siap mental gitu judulnya. Jadi gue ajuin permohonan untuk kembali bekerja. 
Strategi ini terasa paling tepat - setelah didiskusiin sama Adit - jadi gue bisa melihat dulu penempatan gue di mana. Kalo emang nggak cucok sama kondisi kita sekarang, barulah gue babay beneran. Tapii, jawaban dari permohonan kembali bekerja ini nggak dateng-dateng selama 3 bulan itu. 

Kondisi hati sih sebenernya masih gamang... 
Masih belum sreg untuk balik ke industri dan lingkungan 'lama.'
Sementara di dunia freelancing tulis-menulis dan translating juga belum punya resume yang mumpuni. Sempat berniat nyobain kerja full-time di dunia kreatif, tapi hati belum kokoh untuk ninggalin anak seharian. Gitu-gitu deh, dilemanya. 

Tapi emang, kalau Allah udah bilang "it's time," then it's time! Nggak bisa di-delay barang sedetik pun!
Pas ngadep ke HR, tau-tau gue disuruh jadi karyawan lagi. Dan kapan harus mulai kerjanya? Ya sesegera mungkin! 
Gue ditempatin di kantor Gatsu (takjub ey, karena emang cuma kantor ini yang cocok sama kondisi kita sekarang), dan hari itu juga dibawa sama orang HR ke ruangan kerja buat dikenalin sama bos-bosnya. 
Terdilo-dilo banget... 
Jujur aja, gue kira dateng buat disuruh resign. Nggak ada persiapan buat kerja lagi, samsek! 
Yaudah, kelar urusan di tlkm, gue (dan Adit) buru-buru nelponin beberapa kandidat daycare. Siang sampe sorenya kita survey ke 2 lokasi daycare. Trus langsung nge-hire abang ojek langganan Adit untuk jemput Bumy dari sekolah. Trus minta ijin buat markir mobil di sekolah Bumy, dsb dst. Riweuh! Tapi alhamdulillah nemu aja jalan keluar, sih....

Dan sekarang, udah 3 minggu aja. 
Rutinitas gue bener-bener jungkir-balik. 
Padahal udah mulai rutin olahraga 3-4 kali seminggu. Udah berencana rutin "kencan keringet" sama konco kenthel si Weich. Udah mulai rutin masak makanan sendiri. 

Kini, kita ngekos demi memangkas waktu commuting. Olahraga juga so far baru sempet on weekend (digebeeer. Bukaan, bukan karena sok-sokan atletico kampreto, tapi ngeri sama hasil kolesterol). Masak? Cuti dulu dah, harharhar. 
Gue juga BELAJAR mengikhlaskan Bumy dipegang sama pihak ketiga selama gue bekerja; mulai dari sekolahnya, abang ojeknya, daycarenya. 
Learning how to trust... menitipkan nasib si anak ke tangan Sang Empunya Mahluk, Allah SWT, yang Maha Menjaga, Maha Kuat. Gue mah apa atuh... cuma manusia dengan keterbatasan tapi dikit-dikit parnoan dan maunya apa-apa sempurna. Ihik. 

Jadi, sekarang gue mulai dari nol lagi. 
Belajar beradaptasi sama kehidupan 'kantoran,' sama commuting (meski cuma 3,5 km sik. Tapi trafficnya booo), sama rutinitas baru, sama setan-setan di jiwa yang kerap muncul saat gue kelabakan menyeimbangkan waktu dan tenaga, sama semuanya, deh.

Di awal-awal, suka mellow inget betapa gue suka bobo siang berdua Bumy, trus sekarang tiba-tiba rutinitas itu terampas (kangen Bumynya apa tidur siangnya?!). Trus geli-geli miris denger Bumy suka kelepasan manggil gue "miss" (secara setiap harinya dia lebih lama bersama si miss daripada sama gue!). 
Suka gamang juga menghadapi budaya perusahaan yang masih nggak berubah sejak 2,5 tahun lalu, dan bertanya-tanya sendiri "Apa yang gue cari di sini?" 

Tapi... I choose to be brave. 
Emang, jalan di depan masih gelap. Meski kalo ditanya apa tujuan gue bekerja, gue bisa jawab kalo it's more than just money. Tapi kenapa gue kudu balik ke tlkm, itu belom bisa gue jawab sekarang. RencanaNya pasti baik. 
Kayak dibilang di majelis tafakur: kadang kita nggak nyaman sama perubahan, karena nggak bisa melihat apa potensi kebaikan yang dibawa sama perubahan itu. Mungkin ada potensi mengenal diri, memperbaiki diri, dan lainnya yang 'mata' kita belum bisa lihat. 

Pelan-pelan gue sadari... bagaimana pada Jumat pagi itu gue baru nerima kabar kalo kontrak kerjaan part-time gue diputus. Eeh, siangnya tau-tau ditelpon tlkm. Jadilah gue dibukakan pintu rejeki baru. 
Trus, di minggu yang sama gue baruu aja drafting review 2,5 tahun jadi SAHM; apa aja yang udah gue lakuin, lessons learned, bahkan gue bikin SWOT analysis terhadap diri sendiri hehe. Lalu gara-gara dengerin "Train Song"-nya Vashti Bunyan, kepikiran untuk hidup dengan mengikuti #passion, tinggal di Jogja/Bali....
Coba, deh, lirik di bawah ini dibayangin "you"-nya itu si #passion
"It's so many miles and so long since I've met you
Don't even know what I'll find when I get to you
But suddenly now I know where I belong
It's many hundred miles and it won't be long"

I want to be where I belong. Dan sama Allah, gue dibawa ke tlkm. Gimana, mau protes? Bukankah Dia yang Maha Mencukupkan?