22/10/2016

rookie parent: the montessori edusession

di blogpost sebelumnya, gue curhat soal meeting 'dadakan' sama kepsek dan gurunya bumy di sekolah. dari situ sempat kesebut juga soal seminar yang diadain di sekolah Bumy. dilanjutin yaa ceritanya.

jadiii, di awal term kemarin, dalam rangka Parents-Teachers Conference (PTC), sekolah Bumy ngundang psikolog bu Alzena Masykouri buat ngasih materi berjudul "Understanding Child Development aged 6-12 years old."
gue sendiri excited banget buat denger materinya, maklum ortu amatiran yang untungnya masih haus belajar. timing yang dipilih juga pas banget buat ngasih materi ini, yaitu di awal tahun ajaran. bisalah dianggap effort supaya ortu dan sekolah bisa satu visi dan misi.
seperti PTC sebelumnya, juga ada presentasi dari para guru mengenai yaitu topik dan metode pembelajaran yang diterapkan dalam tiap aktivitas montessori. guru-guru SD mendemonstrasikan metode belajar bahasa, matematika, science, Islamic studies dan lainnya menggunakan apparatus Montessori. 
guru sedang mendemonstrasikan penggunaan apparatus montessori

demonstration of learning math the montessori way

sesudah sesi presentasi guru, akhirnya dimulai juga penyampaian materi dari bu Alzena. pertama-tama beliau menanyakan ke kita para audiens, kenapa sih memilih SD montessori buat nyekolahin anak?
jawabannya tentunya macem-macem.. yang kemudian sama beliau dibawa ke seperti apa ciri khas pendekatan montessori.
jadi, pendekatan montessori yang memberikan pendidikan sesuai tahapan perkembangan anak (developmentally appropriate practice), punya ciri khas mengenalkan konsep secara konkret, bersifat interaktif, dan menerapkan mindful-ness dalam aplikasinya.


beliau kemudian mengajak kita mengenali seperti apa ciri-ciri anak usia middle childhood. bu Alzena menjelaskan kalau secara ilmu, ciri-ciri anak tadi bisa dikategorikan dalam empat hal, antara lain kognitif, fisik, afektif, dan sosial.
sembari kita orangtua menyebutkan ciri-ciri yang dikenali dari anak sendiri, bu Alzena nulisin masuk ke kategori mana ciri tersebut.
hasilnya begini,
1. kognitif - wujudnya berupa pengetahuan yang bertambah luas, semakin ingin tau, kreatif, kemampuan berkomunikasi yang semakin baik, semakin banyak maunya, bisa talk back kalo dikasih tau (haha), dll.
2. fisik - berupa badan yang meninggi, gigi bertambah banyak, makannya juga jadi lebih banyak, dll.
3. afektif - sikapnya minta diperhatikan, maunya harus diturutin, lebih susah dikasih tau, ekspresinya kadang lebay, dll.
4. sosial - lebih pede, lebih mandiri, makin tertarik membentuk persahabatan dan teamwork, ingin disukai dan diterima teman-temannya, dll.


dalam ilmu psikologi, di rentang usia 7 sampai 11, anak-anak sedang berada di periode perkembangan kognitif yang disebut oleh Jean Piaget sebagai tahapan concrete operational.

keseluruhannya ada 4 tahapan sbb:
1. tahap sensory motor usia 0-2 tahun
anak mengenal dunia lewat gerakan dan sensasi.
2. tahap preoperational usia 2-7 tahun
anak mulai mengenal berpikir lewat simbol dan belajar menggunakan kata-kata dan gambar untuk mewakili objek. meskipun udah lebih fasih berbicara, tapi anak masih cenderung berpikir dan memahami hal-hal secara konkret.
3. tahap concrete operational usia 7-11 tahun
cara anak berpikir udah lebih logis dan terorganisir, tapi masih sangat konkret - mereka masih kesulitan menangkap konsep yang abstrak atau hipotesis.
4. formal operational usia 12 tahun ke atas
anak sudah bisa mengerti konsep abstrak atau bersifat hipotesis. ketika sudah remaja, mereka mulai memikirkan soal isu moral, filosofi, etika, sosial dan politik yang membutuhkan penalaran teoritis dan abstrak.

dari situ, bisa disimpulkan kalau cara anak berpikir pada dasarnya berbeda dengan orang dewasa. anak-anak middle childhood, berada di tahap concrete operational. yang meskipun kemampuan berkomunikasinya udah lebih baik, tapi masih belum bisa memahami hal-hal yang abstrak. karena itulah, pendekatan montessori yang mengenalkan konsep secara konkret dianggap paling tepat untuk anak usia middle childhood, karena sesuai banget dengan tahap perkembangan anak usia tsb.


bu Alzena speaking

Bu Alzena lantas "menceritakan" soal taksonomi Bloom. dalam konteks pendidikan, sesungguhnya ada tiga kawasan di diri anak, antara lain
1. kognitif
2. afektif
3. psikomotor

yeuk dibahas satu-satu.

- kawasan kognitif ini isinya perilaku yang menekankan aspek intelektual. kayak kemampuan berpikir, kemampuan memahami, kecerdasan, dan keterampilan.

- kawasan afektif berisi perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, kayak sikap, minat, dan apresiasi. wujud penerapannya dalam mendidik anak, yaitu mendidik dengan melibatkan faktor afektif juga. suka denger 'kan omongan psikolog atau expert pendidikan kalo anak bisa menyerap materi dengan lebih cepat dan lebih baik kalau perasaannya bisa disentuh?

- kawasan psikomotor isinya perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik kayak tulisan tangan, kemampuan mengoperasikan sesuatu, atau kebisaan berenang. materi yang kita ingin untuk anak kuasai bisa disampaikan lewat gerakan. gue inget pada PTC beberapa waktu silam para guru mendemonstrasikan cara mengenalkan abjad pada anak yang ternyata nggak cuma lewat see & tell, tapi juga bisa lewat menggerakan jari di atas sandpaper, pun pakai gerakan badan seperti ngajak anak olahraga atau joget.

nah, dari sini bisa disimpulkan kalo stimulasi kognitif tetep perlu, tapi bukan cuma itu doang yang perlu digempur.. inget kalau ada kawasan "feeling" sama "psikomotor" juga yang perlu dikembangkan.

pendekatan montessori memberikan stimulasi yang menyeluruh dengan mengembangkan seluruh kawasan di diri anak, sementara sekolah konvensional cuma menekankan atau menggempur kawasan kognitif. jadi inget sekolah gue dulu, deh... dan ini juga yang bu Alzena sampaikan, pendidikan sekolah tipe old-school memproduksi banyak anak yang ketika sudah melewati masa middle childhood justru 'tumpul' feelingnya dan/atau nggak bisa olahraga. padahaaal semua kawasan itu sama penting dan krusialnya untuk dididik.

berikutnya, bu Alzena ngasih masukan tentang gimana cara stimulasi yang tepat yang bisa dilakukan orangtua untuk anak-anak usia middle childhood ini.

- di kawasan kognitif, orangtua bisa menawarkan kesempatan belajar buat anak lewat berbagai cara. misalnya dengan membaca bersama anak untuk meng-encourage anak membaca. gunanya banyak, di antaranya untuk menambah kosakatanya dan meningkatkan konsentrasi.

butuh nggak les yang bersifat akademik? 
nah di sini bu Alzena ngejelasin seputar hobi, minat, dan bakat. ketiganya hal yang berbeda. hobi itu kegiatan produktif yang dilakukan anak di waktu luang. "anak harus merasa bosen dulu untuk mencari kegiatan," kata beliau. tapi inget, kegiatannya harus yang produktif untuk bisa disebut hobi.

anak disebut punya bakat, jika ia mampu menguasai suatu hal dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan anak lain.
sementara minat, ya ketertarikan anak, yang bisa berubah-ubah. satu hari minat main bola, hari lain minatnya karate.

tugas orangtua adalah (hanyalah?) memancing anak, untuk mengenali bakatnya, untuk memfasilitasi minatnya, dan untuk mengarahkan anak memilih hobi (yang produktif, cateut).
menurut bu Alzena, anak boleh ambil les kalau memang BUTUH. either untuk mengembangkan bakat atau butuh secara akademik JIKA kemampuan anak ada di bawah rata-rata. karena yang dibutuhkan anak usia middle childhood lebih ke kegiatan yang mengasah di bidang olahraga dan seni.

- di kawasan fisik, disarankan kita terus memantau tumbuh-kembang anak secara rutin. sehingga bisa segera diketahui kalau ada hal-hal yang perlu perhatian khusus. tinggi anak sebaiknya diukur secara rutin. trus ditekankan juga pentingnya resting time.

sekolah anak gue setiap harinya berjalan sampai jam 3-4 sore. kalau anak bisa/mau tidur siang itu bagus, tapi kalau nggak, yang penting mereka dapet resting time, yaitu waktu untuk bisa leyeh-leyeh secara fisik tanpa distraksi tv/gadget atau teman/saudara lain. semacam "me time" kali ya, di mana anak bisa memulihkan diri lagi setelah beraktivitas.
bu Alzena juga menekankan pentingnya berolahraga buat anak. disarankan anak mengikuti olahraga rutin selama 1 jam setiap minggu. kalau berenang, bukan yang cipak-cipuk nggak terarah, tapi yang beneran belajar teknik berenang. begitupun kalau main futsal, yoga, atau lainnya. gue artikan berolahraga di sini berarti mengalokasikan waktu dan tenaga untuk menguasai teknik tertentu secara terarah.

- sekarang kawasan afeksi, ini nih yang banyak pe-ernya...
anak usia middle childhood kebutuhan sosialnya besar. karena emang lagi begitu adanya sesuai dengan tahap perkembangan mereka. buat mereka, ini masanya buat mulai berinteraksi dengan scope dunia yang lebih lebar, seperti di sekolah. di masa ini, peer pressure juga akan terasa lebih kuat buat anak. semakin anak merasa nyaman dengan dirinya, semakin kuat pula ia dalam menghadapi terpaan peer pressure yang negatif dan justru akan bisa membuat pilihan yang baik untuk dirinya sendiri.
apa yang perlu dilakukan orangtua?

bu Alzena lantas menjelaskan soal tahapan emosi, yang terdiri dari: Merasakan - Menyatakan - Mengidentifikasi - Mengelola. 
anak butuh banget peran orangtua sebagai coach untuk mengelola emosinya. caranya?

- the priceless stuff in life come for free. berikan perhatian dan kasih sayang sebanyak-banyaknya buat anak. kata kuncinya adalah "mindful" yang tadi udah disebut di awal. be present, be khusyuk saat bersama anak.
khusyuk 'kan berarti melibatkan perhatian dan segenap jiwa raga, jadi cencunya ya disingkirkan dulu segala beban pikiran yang dibawa dari kantor dan segala layar yang tangtingtung minta perhatian. 
ajak anak ngobrol soal sekolah - bukan soal pelajaran sekolah atau soal dapet nilai berapa di sekolah - tapi soal apa yang terjadi di sekolah. siapa temen baiknya, apa yang bikin dia senang, apa hal baru yang dia pelajari.

- ajarin anak untuk ngasih nama untuk perasaannya. "oh kamu sedih ya?" "kamu merasa marah?" "kamu kangen sama mama?"

- bantu anak mengelola emosi dengan menunjukin cara penyaluran yang sehat dan aman untuk meluapkan emosi. emosi negatif bukan berarti harus dipendam atau dianggap nggak ada. acknowledge perasaannya, kasih nama untuk perasaannya itu, dan ajarin cara yang tepat untuk mengelola emosi itu.

gosh... kayanya justru gue yang perlu menguasai ilmu seputar emosi ini deh, sebelum bisa ngajarin Bumy xD

bahasan lebih lanjut tentang kawasan emosi ini terjadi lewat sesi tanya-jawab.

- Ada orangtua yang bertanya gimana kalau anak mencontoh perilaku teman yang nggak baik. saran bu Alzena, orangtua bisa langsung menyatakan tidak suka (sama perilaku tsb) tanpa menjelekkan temannya.

beliau juga ngingetin, "imun, bukannya steril." dalam artian, jadi orangtua itu bukannya berusaha bikin anak steril dari segala pengaruh buruk di dunia ini, karena kita nggak bisa menghilangkan keburukan atau menghindar selamanya. tapi bikin anak punya kekebalan alami. ya seperti ulasan soal peer pressure tadi, bikin anak strong enough untuk bisa menimbang sendiri mana yang buruk dan mana yang jelek buat dirinya.
balik ke soal menyatakan ketidaksukaan akan kelakuan teman anak, pesan bu Alzena cukup menyentil, "Kalo kita punya hubungan dekat dengan anak, pasti dia mengerti."

- Ada yang nanya cara menumbuhkan motivasi anak, karena dirasa anaknya nggak seperti anak lain yang berani bahkan nyaman berkompetisi.
bu Alzena bilang, jangan pernah membandingkan anak dengan anak lain. TAPIII kita bisa ajak anak acknowledge perasaannya dan perasaan yang bakal ditimbulkan kalau dia misalnya, ikut berkompetisi atau rajin belajar atau suka menolong, dan sebagainya. choose our words wisely. jangan memuji hasil atau keberhasilan (anak sendiri atau anak lain), tapi usahanya. ini akan bikin anak fokus sama the joy of learning or competing or helping supaya menumbuhkan motivasi intrinsik.

- Bangun sense of responsibility anak dengan ngasih tugas rumahtangga. 
menurut bu Alzena, anak bisa dikasih sesuai usianya. hitungannya gini, 1 tahun 1 tugas rumahtangga.
sekarang Bumy hampir 7 tahun, berarti bisa dapet 7 tugas.

kita udah sepakati tugasnya dia ini:
1. merapikan kamar
2. mandi sendiri
3. makan sendiri
4. siapkan tas sekolah: baju ganti, comm book, snack box dan botol air.
5. cuci piring sendok gelas sendiri habis makan
6. kasih makan snack kucing peliharaan
7. jaga kebersihan electone


bu Alzena ngajak beberapa ortu jadi volunteer 'percobaan' hehe
"kenyang" banget deh rasanya setelah dengerin materinya bu Alzena.
dari sesi PTC ini, gue jadi tau gimana pandangan beliau soal pendidikan anak, di mana beliau paham banget soal montessori. 
nah, sebagai tindaklanjut meeting sama Kepsek kemarin, akhirnya kita putuskan untuk mulai konsultasi sama beliau. apa aja masukan yang didapet akan gue share di blogpost berikutnyahh. 



18/10/2016

tentang seorang teman belajar.

"sometimes you still love the person but you just have to let go."

itu headline salah satu artikel yang muncul di newsletter yang gue terima (don't ask what website it's from). it does sound cheesy. but I've always been a sucker for anything cheesy anyway. 

gue jadi bengong sejenak sesudah baca kalimat itu... kok semacam sinkron dengan apa yang lagi gue rasain akhir-akhir ini. 
entah kenapa gue semakin merasa hidup sedang mencoba mendewasakan gue dengan menyuguhkan sajian demi sajian rasa kehilangan. 
it's all beginning to feel familiar now: the loss, and the need to let go. 

setahun lalu, di bulan-bulan september dan oktober seperti sekarang, gue harus melepas Kiti (kembali) ke Inggris. kebetulan momen itu bersamaan dengan keharusan gue melepas comfort (really? maybe it's merely familiar) zone dari dunia yang berotasi di urusan domestik aja. 
it wasn't easy.
at. all. 
gue masih berjuang untuk bisa juggling antara rumah dan kantor. which is a STRUGGLE - hooh, pake "is" bukan "was" karena hidup memegang beberapa peran di saat yang bersamaan tetap c̶h̶a̶l̶l̶e̶n̶g̶i̶n̶g̶ SULIT buat gue jalani. sampai sekarang.  

di titik oktober tahun ini, gue sudah kehilangan beberapa orang lagi... 
some I can't get to see anymore - on this earth, at least. 
while some other I lost because they choose a different direction in life. seperti yang dilakukan one of my younger colleagues at work. 

even though I've (only) known her for exactly a year now, tapi kepergian dia ternyata ngasih dampak yang... well, cukup bikin gue tercenung dan merenung. 
segitunya, yak?

maybe I'm the kind of person who gets attached too easily at people.
or maybe because she reminds so much of myself. 
my younger self, to be precise. 
umurnya genap sepuluh tahun lebih muda dari gue. 
anak (cewek) pertama juga kayak gue. 
pinter. suka belajar hal-hal baru. sedang mencoba mandiri. 
gue banyak menemukan tindak-tanduk, kepribadian, dan cara berpikirnya yang bikin gue ngerasa "ih kaya gue banget.. dulu." 
seperti apa yah kalo bisa digambarkan? mungkin berupa a mixture of curiosity (cluelessness?), optimism (naivety?), and determination (stubbornness?). 


I remember exactly what it was like to be her.. baru lulus, bingung mau "ngapain" sehingga main lahap aja sajian pertama yang dihidangkan hidup. abis itu bingung sendiri... is this what I really want? why don't I feel satisfied? do I even know what it is that I really want??

ada begitu banyak pilihan rute hidup. ada begitu banyak persimpangan dan jalan memutar. if that is not overwhelming, then I don't know what is. 
karenanya tiap kali kita ngobrol, terutama seputar kerjaan, seringkali gue sibuk menasehati dia tanpa diminta. haha. entahlah.. gue cuma gak mau dia mengulang kesalahan yang sama kayak gue (gejala "sok tua") or maybe because she triggers the protective instinct in me. 
katanya sih...

tapi jika dipikir lagi sekarang, sesungguhnya dari interaksi-interaksi kita, gue sendiri belajar tentang banyak hal.
gue belajar kalo spontanitas ternyata barang mewah. karena tendensi diri untuk bersikap spontan semakin menipis seiring dengan pertambahan umur. dan sekarang ini - pas udah menua - baru kepikiran kalau menipisnya atau bahkan ketiadaan spontanitas ternyata membatasi kita dari banyak kesempatan... 

gue belajar kalo untuk bisa tau apa yang kita mau, apa yang kita suka, apa yang kita butuh, itu semua butuh proses. and there is NO competition. human race is a big fat lie. nggak semua hal yang menurut ukuran duniawi bagus-oke-atau-penting itu beneran baik buat kita. 

gue belajar, dan semakin yakin, kalo there is no finish line in self-discovery. somehow, quite in a strange way, gue nggak lagi mengutuk diri sendiri karena masih kerap bingung, nggak pede, atau nggak puas. karena perasaan-perasaan itu bukanlah indikasi kalau gue ini orang gagal, tapi justru nunjukin kalau gue masih 'bertumbuh.' 

some day

kadang gue khawatir juga sih, ocehan gue (dan geng tantes di kantor) yang seringnya bitter dan sinis ini 'merusak' kepolosan dia dalam melihat dunia. 
tapi dia malah pernah bilang kalo anak pertama kaya dia malah butuh sosok 'kakak'... 
perasaan ini juga akrab banget rasanya buat gue. 
gue inget banget dulu suka berharap punya sosok pelindung dan pembimbing yang bisa ngasih gue walkthrough dalam kehidupan. bukannya orangtua sama sekali lepas tangan, tapi buat mereka pun gue ini "first time"-nya mereka. 
pertama kali mereka nyekolahin anak. pertama kali mereka nguliahin anak. pertama kali mereka nikahin anak. dst.
they were as clueless as I was.  

waktu si dedek bilang mau resign demi mengikuti homestay di luar kota, gue langsung cedih karena membayangkan nggak ada lagi temen "senasib sepenanggungan" di unit gue. reaksi hati langsung kayak defensif gitu lho. "ngapain siihh dedek pake resign segala?" "mendingan kerja di sini dulu sembari nunggu kesempatan yang lebih baik." atau "do you know that it's a wild world out there, kiddo??"
tapi untungnya kalimat-kalimat itu nggak ada yang sampe terucap...

gue kesadar gimana dulu waktu masih jadi fresh graduate pengen banget nyobain kuliah lagi dulu, nyicipin tinggal di kota lain, atau simply dapet kesempatan mengenal jati diri dulu. 
meskipun semua impian-masa-muda itu nggak ada yang kewujud - dan gue juga nggak menyesali jalan idup yang udah (terlanjur) dipilih, but still, it would be nice if I had taken the chance... 


belum lagi kalo teringat gimana penyesalan kadang masih merundung kalo kepikiran tempat kerja terbaik buat gue "was" and "is" waktu di citi. bahkan sampai sekarang, masih ada aja yang berkomentar "you should've stayed. you'll get a good career if you had stayed in banking industry." 
tapi yaah.. how could you expect anak berusia 21 tahun bisa membuat keputusan yg bijaksana?


karena pemikiran-pemikiran itulah, sikap terbaik yang bisa gue tunjukin buat menanggapi hasrat si dedek bertualang melihat dunia hanyalah ngasih dukungan. the journey to self-discovery is personal... kalo si dedek mau membuat kesalahan, let it be her own mistake. bukannya karena disuruh atau dipengaruhi sama orang lain. 
begitupun kalau dia mau mereguk kebahagiaan... biarkan dia tentuin sendiri apa yang jadi tolak ukur kebahagiaannya, bukannya (standar) orang lain, bukannya social media. 

so here I am now, bidding an(other) adieu. 
it was a blessing for me to have meeting her. 
semoga dia pun merasa demikian, hehe.... 


I'm gonna miss you, dedek <3

big love from all the tantes (and om) <3  <3



10/10/2016

term pertama di SD montessori: problems, excitements, etc


sebulan sesudah jadi anak SD, si anak terlihat.. well, baik-baik aja, sih.
di urusan akademis, dia nyambung-nyambung aja, nggak ada keluhan sama sekali. sekolahnya ini emang nggak ngasih PR, nggak ada ulangan maupun ujian (kecuali UN, yang if God's willing bakal udah dihapus pas Bumy mau lulus SD), tapi gue liat kemampuan kognitif dia terasah dengan baik, bahkan kalo dibandingin sama yang sekolah di tempat bermetode konvensional.

secara sosial, dia suka bilang kangen sama teman-temannya di TK (sekolahnya nerapin mixed-age classroom, jadi beberapa temennya ada yg masih TK). tapiii kayanya dia bisa move on sih, karena dia juga menyebut nama-nama baru yang nggak lama diakui sebagai BFFs-nya.
in short, he looks fine.

sampai suatu hari, ya sekitar sebulan sesudah Bumy di SD, gue dan Adit dipanggil ke sekolah.
kaget sih... kok tau-tau? tanpa ada agenda pertemuan ortu atau apapun. saking tegangnya (secara udah feeling bakal ngadepin urusan nggak enak), gue coba ngorek info dari si anak, "Bum, kamu ngerasa bikin yang aneh-aneh di sekolah, nggak?" tapi ya namanya bocah, gue nggak bisa dapet jawaban yang memuaskan.

besoknya ketika meeting, gue dan Adit ditemuin sama kepala sekolah SD dan guru kelas Bumy. pertama-tama mereka nyeritain gimana perkembangan bumy di sekolah. seperti yang gue rasain, doi bisa mengikuti dan beradaptasi dengan baik-baik aja. nggak ada masalah di urusan akademis whatsoever. tapiiii (here it goes) justru ada "concern" di urusan sosial.
glek....

concern pertamanya gini: Bumy suka menyebut nama seekor binatang di luar konteks. maksudnya buat lucu-lucuan, carper, ya intinya menarik reaksi dari temen-temennya. guru dan si kepsek bilang, kalau yang raising concern bukan karena Bumy ngomong begitu untuk memaki atau ngomong kasar, tapi karena udah ada beberapa temennya yang menyatakan terganggu dengan aksi penyebutan nama binatang itu, tapi Bumy tetep mengulangi.

waktu denger ini gue nggak kaget sih.. karena dia juga pernah ngelakuin hal yang sama di depan gue. konteksnya bercanda, sambil dia tiru-tiruin suara binatangnya. tapi yang gak gue sangka adalah di sekolah dia masih nyebut-nyebut itu binatang. padahal di rumah udah pernah gue jelasin kalo gue gak nyaman dengernya dan dia pun gak pernah mengulanginya lagi.
tapi ternyata... *pandangan mata mamah berkunang-kunang *bumi bak terbelah xD

kepseknya bilang, "mungkin ini menunjukkan Bumy udah acquire skills baru, bu. dia udah bisa memfilter mana yang bisa diceritain ke ibu, mana yang nggak."
doi nambahin lagi, di usia segini wajar ditemui isu anak 'bereksperimen' dengan penerapan aturan. dia lagi butuh assurance kalau aturan yang dia terima itu dijalankan dengan konsisten. makanya penting banget ada kesinkronan antara rumah dan sekolah... sehingga, untuk itulah gue dan Adit diajak 'ngobrol' soal ini. hoo... I see *manggut-manggut*


trus sekarang soal concern yang kedua.
isunya adalah anak ini lagi suka becanda yang "fisik" banget di sekolah sama temen-temen cowoknya. becandanya model pura-pura berantem gitu, yang alhamdulillah nggak sampai melukai anak orang atau gimana (jangan sampee).
in Bumy's defense, guru dan kepseknya bilang kalau concern ini emang lagi masanya buat anak-anak seumur Bumy. hampir semua anak cowok di kelasnya lagi 'hobi' becanda fisik seperti itu, yang mana mereka follow up juga ke orangtuanya.

Adit tiba-tiba berefleksi "apa gara-gara suka main berantem-beranteman sama saya ya?" *ih malah ngaku dia*
kepseknya sih bilang, becanda seperti itu sama orangtua sendiri malah diperlukan. gunanya supaya si bapak bisa jelasin batasan; ngasih tau kalau diginiin sakit lho, atau kalau kamu seperti itu bahaya lho.

*****

kalo dari lubuk hati yang terdalam, jujurnya gue kaget sampe dipanggil gini.
tapi semakin gue menyelami apa maksud dan tujuan pihak sekolah manggil, gue jadi makin ngerti kenapa komunikasi ini perlu banget diadain.
selain bikin gue jadi tau gimana perilaku Bumy di sekolah, pertemuan ini juga bikin gue melihat sisi lain dari sekolah yang udah gue pilih sebagai partner dalam mendidik Bumy ini.
hal-hal kayak

- sekolah ini lebih concerned kalo Bumy kelakuannya 'aneh-aneh' dibanding kalau misalnya dia belom bisa baca dan menulis dengan lancar.
just for the record, Bumy juga belajar baca tulis (maupun hitung)nya dalam 2 bahasa.. and he can do it all well. tanpa metode belajar yang terlalu demanding dan padat (gak ada PR, gak ada ulangan), kemampuan kognitif anak tetap terasah tanpa bikin anak stres.
gue pernah dengar ada orangtua yang dipanggil ke sekolah karena anaknya belum lancar calistung loh... dari pengalaman ini, gue jadi tau kalo sekolah ini fokusnya ada di urusan akhlak dan interpersonal anak, gimana bersosialisasi dengan baik, dan sejenisnya, alih-alih memusingkan anak gue udah se'pinter' apa.
isn't that relieving? buat gue sih iya.

- gurunya ADA. maksudnya bukan cuma hadir dan turut menyaksikan segala kejadian saat anak-anak bersosialisasi, tapi juga aware akan semua 'fenomena' sosial di kelasnya Bumy. dia tau Bumy love-and-hate-relationship sama siapa aja, tau tabiatnya Bumy, ya intinya bisa melihat Bumy secara menyeluruh.
again, I find it relieving.

- gue salut sama prinsip 'gerak cepat' mereka dalam menangani sebuah isu.. let me quote kata-kata dari sang kepsek, "dalam setiap mistake ada kesempatan belajar, tergantung kita bisa segera 'menangkap' kesempatan belajar itu atau nggak."
rasanya semakin lama meeting berjalan, semakin banyak juga ilmu yang gue dapet.

*****

sebelum meeting berakhir, sang kepsek ngomong sesuatu yang bikin gue ngerasa adem banget. beliau bilang, in case ke depannya ada konflik atau kejadian yang nggak diinginkan antara Bumy dan temannya di sekolah, mereka maunya sekolah yang turun tangan duluan. bukannya gue yang men-japri ortu lain atau ambil tindakan langsung untuk approach ortu lain; begitupun sebaliknya.

beliau bilang, "sebaiknya urusan di sekolah kami yang selesaikan bu, jangan langsung antar ortu. karena segala yang terjadi di ranah sekolah itu menjadi tanggung jawab kami."

ih!
mau nggak mau gue keingat sebuah sekolah yang dulu jadi tumpuan harapan gue.
kok ya beda bangetttt.
di sana mereka dikit-dikit nyuruh orangtua 'terlibat' - bahkan di ranah yang jelas-jelas jadi kewajiban mereka (misal: kebersihan sekolah sampai ada-nggaknya sabun cuci tangan di kelas!). waktu gue protes, eh malah dibilang lepas tangan, cuma mau tau beres, bahkan dicap "ambivalen." haha.

obrolan sama kepsek sekolah yang sekarang ini bikin kesadar, kalau beginilah yang namanya punya PARTNER. setiap pihak berfungsi sesuai ranahnya masing-masing, bukannya segala hal dikembaliin ke ortu. fungsi pendidik(an)nya mana kalo kaya gitu??

oke oke, ntar disangka belum move on kalo bahas-bahas yang itu lagi xD
intinya in the end gue justru 'seneng' dapet kesempatan belajar kaya gini.
ternyataaa gini toh rasanya jadi orangtua anak SD hehehe.. other than that, I think this current school has really set the bar high in terms of education standard. for me personally, to say the least.

anyways di akhir Agustus lalu, sekolah Bumy ngadain parents-teachers conference (PTC), seperti yang rutin dilakuin setiap awal semester.
gue pernah ceritain di blogspost ini, kalau PTC biasanya diisi presentasi dari para guru tentang topik dan metode pembelajaran yang diterapin di sekolah.

tapiii, ada yang berbeda nih begitu udah di SD. kemarin, selain ada sesi presentasi dari guru, juga ada sesi edukasi dari psikolog. sesi yang dikasih judul Parenting Sharing Session ini mengundang psikolog bu Alzena Masykouri.
materi yang diberikan ke kita para orangtua adalah tentang "Understanding Child Development aged 6-12 years old." sesuai banget pastinyaa sama audiens terutama yang kayak gue, yang baru pertama kali nyekolahin anak di SD.
selain itu, timingnya yang dipilih untuk memberikan materi ini juga pas, yaitu di awal tahun ajaran. paling nggak kegiatan ini bisa dinilai sebagai usaha supaya ortu dan sekolah bisa on the same page baik dari segi pemahaman tentang montessori maupun ekspektasi dalam mendidik anak. karena as we know, montessori emang menekankan pentingnya link atau keterhubungan antara keluarga dan sekolah.

cerita soal materinya gue lanjutin di blogpost selanjutnya aja, yah. setelah denger bu Alzena ceramah di event PTC ini, gue sempat konsultasi langsung juga sama beliau. tujuannya ya sebagai tinjut meeting kemarin. pertemuan-pertemuan dengan beliau ngasih banyak pencerahan ey, so I think it would be nice to share it here, supaya bisa jadi bahan referensi di masa depan.
just wait for it, okaay.

16/09/2016

a little life in september

hello thursday.
I thought this was gonna be a long, dragging week. but so far, there's been some twists and glitches that make it bearable. well, kind of.
minggu lalu gue (akhirnya ikut) ke Jogja sama orang-orang kantor.
capek banget - karena pulang pergi naik kereta - tapi, surprisingly, it was fun. the experience really exceeded my expectation, hehe.

(the above paragraph was written exactly a week ago) 
(untung harinya sama, jadi anggap aja sahih buat dilanjutin)

so, let me continue.. bahas jogja aja dulu.
it was my first trip with the whole team. tapi sebelum berangkat gue udah membayangkan dan karenanya bener-bener menyiapkan diri kalau the whole trip bakalan...yagitudehhh. so I couldn't say I was enthusiastic.
terlebih mikirin harus jauh dari Bumy selama 3 hari 2 malam. pas dilepas Adit di Stasiun Gambir, rasanya awak melloowwwww banget..
tapi alhamdulillah, perjalanannya lancar, Bumy di rumah juga adem-ayem sama bapaknya.

selama di Jogja, kegiatannya begini
- hari pertama diisi dengan workshop sepanjang hari (my emotion ranged between ngantuk-bosen-ngantuk-bosen and so on)
- malemnya ketemuan sama Rio, kita (gue plus dua dedek-dedek) diajaknya nongkrong di Jakal. ternyata Il Tempo Gelato buka cabang yang gede banget di Jakal! tapi gue gak bisa nyobain karena lagi sakit tenggorokan, huhu. akhirnya gue mimik-mimik di kafe sebelahnya yang kebetulan punya specialty di chocolate drink.
- hari kedua kita diajak Merapi Lava Tour. gue udah sering denger soal ini, jadi kita akan dibawa naik jeep melintasi 'rute' tempat-tempat yang dilewati kawah saat merapi meletus. begitu dijalani, seru banget ternyata. kita naik jeep terbuka gitu, dengan kondisi jalan yang berbatu-batu dan super berguncang. titik tertinggi yang dicapai adalah lokasi Bunker Kaliadem. 
tapi sebelumnya ada beberapa titik di mana kita bisa mampir, seperti "museum" efek letusan merapi, dan the so-called Batu Alien spot.
- kelar dari situ, kita dibawa ke Pantai Sadranan di Wonosari. perjalanannya lamaaa dan jauh dari Kaliurang, sekitar 2 jam. but, the beach was worth it. asoy bangetlah sore-sore bisa nongkrong di pantai. yang lain sih ada yang snorkeling, tapi katanya pantainya terlalu dangkal dan berkarang, jadi pada lecet-lecet gitu sesudahnya.
- makanan 'baru' yang gue cobain di sana antara lain Soto Pak Marto (soto sapi tapi dagingnya lembut banget - which I'm thankful for), sama Sate Klathak (sapi lagi... tapi chewy dan berlemak, so it wasn't my favorite).
nothing fancy, tapi lumayan buat referensi kalau ke Jogja lagi (soon, I hope).




the jeep we rode on

 
tante-tante dipotoin gen Z, hasilnya langsung instagrammable.. ya gak??



finally arrived at sadranan

almost sunset
the train ride. looked comfy, ain't it? tapi tetep aja badan pegel-pegel
sebenernya trip masih berlanjut di hari ketiga, rangorang pada ke Kalibiru yang katanya spot foto terkenal. tapi gue nggak ikutan. pertama, karena udah ada janji ke psikolog (will ramble about it later); dua, karena yaa males aja xD
lebih cepet bisa ketemu anak selalu lebih baik buat gue.

****

minggu-minggu sesudah Jogja trip diisi dengan kesibukan, kegilaan, dan keriuhan yang biasa di Jakarta.
minggu lalu, selama 2 hari gue bisa ngantor di luar kantor, karena titah dari kantor, dan dengan biaya makan yang sepenuhnya ditanggung sama kantor. haha. 
tentunya ya karena ada tugas, jadi gue lagi disuruh semacam bikin makalah, bareng beberapa orang. nongkrongnya di kawasan sekitar kantor juga (untungnya), dan enak aja ganti suasana meski yang diliat muka orang-orang kantor juga.
wishlist: more of this, everyday.
also still from last week: I went through another interview session. posisinya buat jadi content specialist in yet another startup.
the founder, the one who interviewed me, seemed very passionate about what she's doing. I had a great time talking to her, regardless how the result would turn out. gajinya jelasssss di bawah yang gue dapetin sekarang, tapi kerjanya bisa telecommuting. cuma perlu ngumpul buat meeting 2 kali seminggu, dan itupun cuma 2-3 jam. menarik banget, yah?
well, I am intrigued. 
apakah gue bakal berjodoh kerja di situ apa nggak, itu urusan nanti, deh.

lalu ada long weekend berkat libur Idul Adha.
si embak dadakan minta pulkam. which is very wesbiyasak of her -___-
walhasil Jumat malamnya kita langsung cuss ke Karawaci. ngungsi, lebih tepatnya.


long weekend kita isi dengan kelayapan ke sana ke mari. 
Sabtunya, Opa kita ajak nonton film "Sully" (sama Bumy dan Adit), sementara Oma gue ajak pijet di Bersih Sehat. haha baru kepikiran aja tuh ngajak mereka "me time" setelah sekian lama. 
malemnya kita makan beramai-ramai sama Bun, Abah, dan Abhi. sayang gagal full team, karena si Rio baru sampe Karawaci besoknya. 

and then the next day, Minggu, gue emji sama Elmo.
we had a loooonng, heavy, substantial, and as always, pleasant chat. Elmo nih udah beberapa waktu belakangan tekun banget menjalani yang-katanya healthy lifestyle. mungkin nggak tepat sih untuk melabel-labeli idup orang, haha, tapi kenyataannya dia emang nge-gym teratur, dan menjaga asupan makannya - dengan serius. 

trus seolah menjaga kesehatan badan aja nggak cukup (why you have to set the standard so high, elms??), dia juga lagi getol menerapkan mindfulness. intinya gue belajar banyaaakkkkk dari dia hari itu. 
contohnya soal gimana biar punya motivasi yang awet buat berolahraga atau jaga makan, gitu - dia bilang, "jangan fokus sama hasilnya, tapi sama gimana PERASAAN elo kalau bisa berhasil melakukannya." 

contoh: pengen kurus adalah niat yang kurang tepat dan nggak bakal bikin lo bisa konsisten jaga makan atau olahraga. lebih tepat kalau lo ubah mindset dengan mengafirmasi diri, "martabak enak sih... tapi bakal lebih enak kalo gue bisa muat pake jeans ukuran 26 / kalau gue bisa menua dalam kondisi sehat jadi nggak nyusahin orang / kalau gue bisa ngerasa bugar seharian." semacam itulah. 

ohya kita juga main ke kawasan Jakbar.. to have a #jakbarmoment kalo kata si Ika. 
kebetulan baru buka (yet another) mall gitu di sebelah Central Park, namanya Neo Soho. jadi ada jembatan antara kedua mall itu, yang mayan heits buat dipoto-poto hahaha... di situ kita nyobain nongkrong di Hog's Breath, resto di Tribecca Park. btw taman(-tamanan) ini hal favorit gue di CP. sangat sangat singapur suasananya hehe. 
the bridge will be iconic
****

another highlight of the week/last week berhubungan sama toastmasters. 
Gatsu Club ngadain evaluation contest untuk pertama kalinya. kontesnya macam apa? 
jadiii, yang dilombain adalah hasil evaluasi kita terhadap sebuah speech yang dibawain sama seorang yang ditunjuk jadi test speaker; di kontes kemarin test speaker kita Pak Anggoro (of course. who else. nothing better.). 


the orange is in our hands?
beberapa hari kemudian, Bonsir Club ngadain evaluation contest juga. tau-tau gue yang ditunjuk jadi test speakernya.. -___- jauh bangetttt kalibernya dari Pak Anggoro, jelasss. 
mana hari itu gue lagi ribet banget, yang ujungnya nggak nyiapin bahas speech SAMA SEKALI. 
mungkin baru 5 detik sebelum ngomong gue baru tau mau ngomongin apa - which is so typically me xD 
but! what matters most is the experience. bisa dapet evaluasi yang keren-keren tentang gimana gue ngoceh, plus nggak disangka ocehan gue itu bisa jadi lesson learned buat orang lain. 


Bonsir crowd was da bomb :))))
in a more acceptable pose this time
****


last but not least, the two books I'd finished reading these past two weeks: 
- Gone Girl by Gillian Flynn 
- The Girl on the Train by Paula Hawkins

I like the first one better than the other. tapi penasaran liat film buat buku yang kedua jadinya gimana. okelah segitu dulu reportasenya (setelah 1000++ kata). 

29/08/2016

a head full of dreams

after the holiday, comes the time to put some stuff back in order.
ya menata perasaan. uh first and foremost it is.
ya menata keuangan. esensi nan hakiki.
ya menata ekspektasi.



let me tell you that I find kehidupan di sg membuat rasa ingin dan juga iri melonjak sampai ke ubun-ubun. seriously. dulu nggak begini-begini amat padahal.
our last visit makes me feel certain things strongly. gue kepincut setengah matik sama keteraturan di sana. betapa transportasi umum yang reliable dan on time itu ternyata bisa diwujudkan. begitupun trotoar yang layak, sampah yang dibuang pada tempatnya, air comberan yang bersih, dan hal-hal lain yang sepertinya nggak akan pernah ditemukan di jakarta.
bukan berarti hidup di sana (bakal) sempurna banget, gue tau.

pun tak berarti gue udah segitu muaknya sama jakarta.
gue masih kekeuh kalau cuaca jakarta ini paling juarak (buat gue si anak tropika), gue juga bersyukur punya penghidupan yang layak di sini, ada support system, dan dapet sekolah yang bagus banget buat bumy.
tapi mungkin gue cuma butuh kesempatan untuk merindukan jakarta...

everything has been too familiar. with all its chaotic, hostile, daily condition. I think I've been here long enough; so long that I've learned to love it in my own twisted way. this city has become that annoying partner I can't get rid of. it's a witness for many of my life episodes: when I found love, when I lost a best friend, when my dreams shattered, and now, when I feel like I don't get myself anymore.
entahlah.. I feel like i've stopped growing. here, to say the least. waktu menjadi semakin mahal. aturan selalu bisa dicari celahnya. empati semakin sulit ditemukan. semua orang berlomba-lomba, saling sikut untuk memenangkan entah-apa. seolah 5 menit lebih cepat di perjalanan berarti sesuatu. seolah-olah menjadi yang "paling" itu penting. seolah-olah nampak seperti sesuatu lebih penting dari apa yang sesungguhnya dilakukan...
gue pun merasa perlu untuk semakin jago berbohong. karena di sini, sesuatu tak pernah dihargai sebagaimana adanya. you need to put on your mask, be the kind of person you're expected to be, and just suffocate beneath it.
mungkin karena itu semua... muncul hasrat yang menggedor-gedor untuk memulai segala sesuatu dari "nol" lagi.. dengan menempati sebuah kota baru, belajar, dan beradaptasi dari awal...

in short, I need to get away from this city.
of course it won't happen overnight. gue juga nggak ngoyo menargetkan harus tinggal di singapur dalam sekian tahun. if it's supposed to happen, then it will happen.
all that I know is that I need to get my shit together while I'm still here, in jakarta. I need to put my priorities in order..
because being like this, right now, doing what I've been doing, terbukti membuat gue seperti tadi... pembohong, nggak bahagia, dan ingin melarikan diri.

where do I start, then?

hidup selama hampir 33 tahun meluruskan beberapa hal untuk gue. I've made too many mistakes I shouldn't bother on repeating... seperti yang dibilang di tafakur, perilaku nggak akan berubah selama belum ada kesadaran akan suatu hal. so I guess I should first rethink about what really, actually, the fuck matters.

get my body together. 
yang pertama mungkin I should really give a fuck about my body. tubuh ini 'kan "kendaraan" gue di dunia. besides, men sana in corpore sano, they say. mungkin kualitas kehidupan gue bisa diperbaiki lewat berolahraga? I've never been athletic my entire life, but maybe I could try to get fit.

after all I've learned that
  • taking a break is better than "work hard, party hard." kalo udah terkapar tak berdaya di rumah sakit mungkin baru sadar sih sama ini. gue dulu cuma dirawat gegara typhus aja nyesel banget rasanya. gara-gara makan jorok sembarangan, sampai harus melewatkan hari ultah bumy di RS.
  • gaya hidup 'bersih' > begadang - ngerokok - mager. bad cholesterol, fatty foods, nicotine, and lack of sleep give all sorts of ugly effects on my body. berasa banget kala udah semakin uzur begini. badan jadi cepet capek, kena asep rokok langsung sakit tenggorokan, and just like I wrote here, (cholesterol) numbers don't lie, baby.
  • 10-steps skincare > suntik putih, sedot lemak, tanem benang dan apalah. haha sekarang sih ngomongnya gitu, nggak tau kalo udah semakin kendor dan longsor.  
  • rutin medical check up > dirawat karena sakit (kecuali udah qadar Allah). 
plus..
  • menyisihkan uang untuk rutin ke psikolog dan nge-gym > (emotional) shopping, (emotional) eating, and other instant quick fixes. I should've known better. 

get my financial life together. 
I do believe we have to respect money. nooo, bukannya mendewakan duit... tapi lebih ke menghargai setiap sen yang masuk ke rekening sebagai hasil jerih payah kita. we're also respecting money by not clenching our fists and holding it tight, and by giving meaningful goals for it.
  • giving > buying and receiving. jelas ada ayat Al-Qur'an-nya untuk ini... we become rich by giving more and more. tapi jujur aja pengetahuan ini belum jadi keyakinan sih di diri gue. buktinya masih sering terbawa emotional shopping, huhu. 
  • memories > things.  INDEED. (jadi beli tiket pesawat dan booking hotel lebih terjustifikasi dong? haha). 
  • menabung untuk suatu tujuan yang bermanfaat buat orang banyak dan ngasih pahala buat afterlife >> buang-buang uang nggak genah. oh well... guess I should just merem aje liat promo tiket murah. 
pic from here

get my LIFE together.

oh boy.
I wonder if I could be committed in putting these thoughts in mind before I decided to do anything?
I truly don't know.
but these are the thoughts that went to my head as I sit here in my crabby office room..

  • admitting that you're scared >> secretly nervous trus marah-marah nggak jelas karena nggak bisa mengelola emosi. tell-me-about-it. 
  • bertanya > sok pinter. 
  • sticking to the river >> chasing waterfalls. THE SONG HAS WARNED US. 
  • Bumy's happiness> jago piano, jago menghafal, menang menang dan menang. 
  • umroh dan haji > AUS, JPN, USA, dsb. 
  • keluarga, teman, dan hubungan baik antar manusia >>> money and pride. always, always put people first. 
  • belajar sesuatu dan mendalami hobi because you truly want to learn > trying to impress people. 

kalau bisa dipersempit, tujuan hidup gue 'kan CUMA bahagia dunia dan akhirat, yak.
dan lagi-lagi, bahagia itu di jiwa, bukan di badan. therefore I don't need to be rich, to be pretty all the time, to be respected, and anything else the body needs. what the soul needs is to be peaceful. wherever I am, whatever is happening for me.

21/08/2016

in the attempt of not forgetting


beberapa hari lalu gue sedang ngobrol dengan seorang kawan, who recently has a new boyfriend. tiba-tiba dia bertanya ke gue, "kok tumben lu nggak kepoin cowok gue?" heran banget kayaknya dia, sampe harus bertanya begitu, haha. i have to admit, kalau gue ini super kepo *terutama* di urusan percintaan orang lain xD apalagi temen-temen yang single. wajar banget sih gue rasa, namanya juga emak-emak kurang drama. 
to be honest, gue dibuat semacam terhenyak sih oleh pertanyaan itu. and i just answered with the only thing i've been feeling: "iya nih.. gue akhir-akhir ini lagi agak gloomy sejak temen gue meninggal."  
and that's the only truth i know. kepergian weich, kepergian mendadak bapak mertua, semua fakta dan peristiwa itu terhidang. selalu ada pilihan, untuk menjalaninya hingga semua dampak dan perasaan yang ada berlalu, atau coba memaknainya sembari melaju. and i chose the latter. 
gue jadi tersadar kalo makna yang gue lekatkan pada sebuah peristiwa itulah yang menentukan seperti apa respon gue…. 

selama ini gue tau, kalau hidup cuma sementara. we are merely passerbys. kedua peristiwa kematian orang terdekat gue di bulan juli lalu sama-sama terjadi secara tiba-tiba. none of them had a chance to say goodbye or put some kinda closure to their life. mereka sama sekali nggak sakit sebelumnya. bapak mertua gue lagi seneng-senengnya menanti kehadiran cucu ketiga yang bakal tinggal di rumahnya. weich juga lagi seneng-senengnya menapaki kehidupan baru di sydney.

peristiwa kematian mereka membuat gue jadi sadar kalau selama ini gue nggak paham apa itu kematian. 
gue tau, tapi gue belum punya kesadaran yang tepat tentangnya. 
pengetahuan gue itupun masih sama dangkalnya dengan yang gue miliki sejak gue masih duduk di bangku SD. yaitu bahwa kematian berarti perpisahan karena kita nggak akan pernah bertemu orang itu lagi. bahwa kematian itu hal yang nggak nyaman buat dibahas. harus dilekatkan dengan kata "amit-amit" atau "pamali." bahwa kematian, dan bahkan pembicaraan tentang kematian, harus ditunda, didorong sejauh-jauhnya ke pojok ruangan. lupakan tentang itu sebisa mungkin. enjoy LIFE. live it to the fullest. just-don't-think-about-it… about death.
dan karena pemikiran itulah, gue jadi menganggap bahwa it can't happen to me, nor to my family, nor to my closest friends. it shouldn't happen to us! - because we are the people that live everyday and strive to put meaning in it, and will be successful in achieving things we're meant to achieve. 
how silly and clueless and misguided i must've been… semua karena pemaknaan gue yang salah. 

gue nggak sadar kalau kematian itu bersisian begitu dekat dengan kehidupan. dan bahwa hanya dengan memahami, mendalami, dan merangkul adanya kematianlah kita bisa benar-benar menghidupi hidup… 
this is how i realize that i've been trying to survive - no, not living - inside a bubble. gelembung pemikiran dan kepercayaan yang rapuh, yang gue buat untuk melindungi diri sendiri dari hal-hal 'menakutkan' yang mengingatkan gue pada konsep kematian. 

hari demi hari melulu gue isi dengan bagaimana caranya supaya bisa 'eksis.'
gimana supaya gue bisa meninggalkan nama besar di dunia. atau gimana supaya hidup gue enak, terhindarkan dari kemiskinan. gimana supaya gue bisa melangkahkan kaki gue ke seluruh penjuru dunia. gimana supaya gue dapat ilmu sebanyak-banyaknya. gimana supaya gue "sukses."
as if that really even matters….
seorang mayit nggak akan peduli whether dia dielu-elukan atau dihina sama orang-orang yang masih ada di dunia. karena nggak akan ada efeknya lagi buat dia… 
cuma sedikit banget yang bisa dibawa ke alam selanjutnya. and it's surely not wealth, pride, or knowledge. 
cuma amal baik kita doang…. 

weich dan bapak mertua gue emang bukan manusia sempurna. gue tau celah-celah kekurangan mereka just like they knew mine. tapi mereka benar-benar berhati emas. banget. keduanya nggak punya personality yang sama tapi SELALU menolong orang lain. they shone love through their deeds. yang satu meninggal di usia 33 tahun, sebulan setelah ulang tahunnya. yang satu di usia 67 tahun, hanya tiga hari setelah hari ulang tahunnya. keduanya punya mimpi dan rencana-rencana besar. namun keduanya pergi tanpa sempat mewujudkannya… 
gue jadi tersadar kalau masih memaknai kematian sebagai akhir dari segalanya. as a sad ending to a life not yet fulfilled. padahal kematian adalah awal kehidupan baru, di alam yang berbeda. 
bedanya, di sana kita hanya tinggal merengguk konsekuensi dari apa-apa yang udah kita buat di alam dunia. and that's when i realized that weich and my father in law would be just fine… 

they have nothing to regret. they're at the best place they can be now. 
dan 'tugas' gue sekarang hanyalah mendoakan mereka, dan MENCONTOH bagaimana agar gue bisa mengumpulkan banyak amal baik di dunia seperti mereka. 

bismillah… semoga gue bisa bangkit dari rasa kehilangan dan kebingungan ini. 
semoga gue bisa terus mengirimkan cinta kepada mereka yang telah mendahului. 
dan semoga 'kesadaran' ini bisa membawa gue untuk lebih dekat denganNya.