27/08/2015

#backtowork

Finally! Setelah 3 minggu kembali ngantor, akhirnya gue bisa ngupdate blog lagii. 

Ngantor??
Iya, seperti judul, eke back to work, buu. Full time. 8 to 5 (say "amen" to this?). 
Emang tiba-tiba banget, sih. 
Jumat siang gue lagi nyetir abis jemput Bumy dari sekolah, tiba-tiba ditelpon sama orang HR tlkm. Gue disuruh dateng ke kantor gatsu hari senin jam 9-10. Phonecall kayak begini emang udah gue tunggu-tunggu, karena status kepegawaian gue gantung sejak bulan Mei. CLTP gue udah nggak bisa diperpanjang, jadi rencana awal mau ambil cuti selama 3 tahun (jatah maksimal) terpaksa berubah. 
Mau sontak ngajuin resign kok rasanya nggak enak... seolah membuang begitu saja kesempatan untuk jadi pekerja lagi. Belum siap mental gitu judulnya. Jadi gue ajuin permohonan untuk kembali bekerja. 
Strategi ini terasa paling tepat - setelah didiskusiin sama Adit - jadi gue bisa melihat dulu penempatan gue di mana. Kalo emang nggak cucok sama kondisi kita sekarang, barulah gue babay beneran. Tapii, jawaban dari permohonan kembali bekerja ini nggak dateng-dateng selama 3 bulan itu. 

Kondisi hati sih sebenernya masih gamang... 
Masih belum sreg untuk balik ke industri dan lingkungan 'lama.'
Sementara di dunia freelancing tulis-menulis dan translating juga belum punya resume yang mumpuni. Sempat berniat nyobain kerja full-time di dunia kreatif, tapi hati belum kokoh untuk ninggalin anak seharian. Gitu-gitu deh, dilemanya. 

Tapi emang, kalau Allah udah bilang "it's time," then it's time! Nggak bisa di-delay barang sedetik pun!
Pas ngadep ke HR, tau-tau gue disuruh jadi karyawan lagi. Dan kapan harus mulai kerjanya? Ya sesegera mungkin! 
Gue ditempatin di kantor Gatsu (takjub ey, karena emang cuma kantor ini yang cocok sama kondisi kita sekarang), dan hari itu juga dibawa sama orang HR ke ruangan kerja buat dikenalin sama bos-bosnya. 
Terdilo-dilo banget... 
Jujur aja, gue kira dateng buat disuruh resign. Nggak ada persiapan buat kerja lagi, samsek! 
Yaudah, kelar urusan di tlkm, gue (dan Adit) buru-buru nelponin beberapa kandidat daycare. Siang sampe sorenya kita survey ke 2 lokasi daycare. Trus langsung nge-hire abang ojek langganan Adit untuk jemput Bumy dari sekolah. Trus minta ijin buat markir mobil di sekolah Bumy, dsb dst. Riweuh! Tapi alhamdulillah nemu aja jalan keluar, sih....

Dan sekarang, udah 3 minggu aja. 
Rutinitas gue bener-bener jungkir-balik. 
Padahal udah mulai rutin olahraga 3-4 kali seminggu. Udah berencana rutin "kencan keringet" sama konco kenthel si Weich. Udah mulai rutin masak makanan sendiri. 

Kini, kita ngekos demi memangkas waktu commuting. Olahraga juga so far baru sempet on weekend (digebeeer. Bukaan, bukan karena sok-sokan atletico kampreto, tapi ngeri sama hasil kolesterol). Masak? Cuti dulu dah, harharhar. 
Gue juga BELAJAR mengikhlaskan Bumy dipegang sama pihak ketiga selama gue bekerja; mulai dari sekolahnya, abang ojeknya, daycarenya. 
Learning how to trust... menitipkan nasib si anak ke tangan Sang Empunya Mahluk, Allah SWT, yang Maha Menjaga, Maha Kuat. Gue mah apa atuh... cuma manusia dengan keterbatasan tapi dikit-dikit parnoan dan maunya apa-apa sempurna. Ihik. 

Jadi, sekarang gue mulai dari nol lagi. 
Belajar beradaptasi sama kehidupan 'kantoran,' sama commuting (meski cuma 3,5 km sik. Tapi trafficnya booo), sama rutinitas baru, sama setan-setan di jiwa yang kerap muncul saat gue kelabakan menyeimbangkan waktu dan tenaga, sama semuanya, deh.

Di awal-awal, suka mellow inget betapa gue suka bobo siang berdua Bumy, trus sekarang tiba-tiba rutinitas itu terampas (kangen Bumynya apa tidur siangnya?!). Trus geli-geli miris denger Bumy suka kelepasan manggil gue "miss" (secara setiap harinya dia lebih lama bersama si miss daripada sama gue!). 
Suka gamang juga menghadapi budaya perusahaan yang masih nggak berubah sejak 2,5 tahun lalu, dan bertanya-tanya sendiri "Apa yang gue cari di sini?" 

Tapi... I choose to be brave. 
Emang, jalan di depan masih gelap. Meski kalo ditanya apa tujuan gue bekerja, gue bisa jawab kalo it's more than just money. Tapi kenapa gue kudu balik ke tlkm, itu belom bisa gue jawab sekarang. RencanaNya pasti baik. 
Kayak dibilang di majelis tafakur: kadang kita nggak nyaman sama perubahan, karena nggak bisa melihat apa potensi kebaikan yang dibawa sama perubahan itu. Mungkin ada potensi mengenal diri, memperbaiki diri, dan lainnya yang 'mata' kita belum bisa lihat. 

Pelan-pelan gue sadari... bagaimana pada Jumat pagi itu gue baru nerima kabar kalo kontrak kerjaan part-time gue diputus. Eeh, siangnya tau-tau ditelpon tlkm. Jadilah gue dibukakan pintu rejeki baru. 
Trus, di minggu yang sama gue baruu aja drafting review 2,5 tahun jadi SAHM; apa aja yang udah gue lakuin, lessons learned, bahkan gue bikin SWOT analysis terhadap diri sendiri hehe. Lalu gara-gara dengerin "Train Song"-nya Vashti Bunyan, kepikiran untuk hidup dengan mengikuti #passion, tinggal di Jogja/Bali....
Coba, deh, lirik di bawah ini dibayangin "you"-nya itu si #passion
"It's so many miles and so long since I've met you
Don't even know what I'll find when I get to you
But suddenly now I know where I belong
It's many hundred miles and it won't be long"

I want to be where I belong. Dan sama Allah, gue dibawa ke tlkm. Gimana, mau protes? Bukankah Dia yang Maha Mencukupkan?


07/08/2015

mendadak healthfreak

Dua minggu lalu, gue menerima kejutan.
Sayangnya bukan kejutan yang menyenangkan.

Jadi, sekitar 1,5 bulan lalu kita 'iseng' kontrol ke dokter speasialis penyakit dalam. Awalnya karena mau ngecek kadar kolesterol Adit, sehubungan sejak 2 tahun lalu dia didiagnosa punya kadar kolesterol (jahat) yang cukup tinggi. Sebenernya Adit dapet jatah MCU dari kantornya setahun sekali, tapi entah kenapa kemarin tuh kita pengen aja buat kontrol bareng. Gue sendiri nggak punya keluhan sama sekali, nggak kaya Adit yang suka ngeluh lehernya pegel-pegel atau pusing.
Tapi berhubung lagi iseng, jadi ya kenapa nggak?

Kita sengaja nemuin dokter SpPD yang udah kita 'kenal.' Beliau ini dulu menangani gue pas menjalani pengobatan TB selama hampir 1 tahun. Setelah konsul, 2 minggu lalu akhirnya kita cek darah. Begitu duduk berhadapan sama si dokter untuk dibacain hasil tes lab, barulah kejutan itu gue terima. Fufu.
Adit kolesterolnya hampir 200. Melonjak dari hasil tes lab sebelumnya. Glek.
Sementara gue, yang tadinya nggak bermasalah dengan kolesterol sama sekali, sekarang hasilnya lebih dari 150. SHIOK!
Ya kagetlah, soalnya gue nggak punya keluhan samsek, apalagi gue juga nggak overweight (rada buncit sih iya). Jujur gue merasa agak "sombong" menghadapi cek darah, karena ngerasa hasilnya bakal oke-oke aja. Terbukti kemudian itu ilusi semata xD.

Dokternya langsung bilang, wah kalo serumah bisa sama begini (kadar kolesterol jahatnya tinggi - red), kemungkinan besar karena makanan.
Yep, menurut dia, makanan yang terlalu berlemak bisa menjadi faktor penyebab. Selain kurang berolahraga, kebanyakan karbo, faktor keturunan, dsb. Lebih lanjut, menurut dia sih kadar kolesterol jahat yang tinggi itu sama sekali nggak ada gejalanya. Jadi, pegel-pegel atau pusing itu nggak bisa dibilang gejala kolesterol tinggi, bisa semata-mata karena kurang stretching. Wajar aja kalo gue nggak curiga hasil gue bakal begitu karena nggak punya keluhan fisik apa-apa.

So (setelah terkaget-kaget menerima hasil tes dan diagnosa), what's next?
Nggak heran, kita disuruh
1) Kurangi asupan karbo dan makanan berlemak. Dijelasinlah kalau karbo yang nggak 'kepake' di badan itu akan jadi lemak dan efeknya ya bikin kadar lemak di darah tinggi. Trus makanan yang berlemak jenuh juga wajib dikurangi. Udah kebayang 'kan yah, babay gorengan, mayo, dan segala makanan "kotor" lainnya.
2) Rajin olahraga. pastinyaaalahay. Nggak perlu jadi atlet-wannabe segala, sik, cukup 3-4 kali seminggu, masing-masing 30 menit, atau 1 jam lebih bagus. Intinya bergerak aktif.
3) Minum Lipitor!! x))))))) (baca: ketawa miris).
Emang siih, kadar kolesterol di bawah 200 katanya masih "normal." Apalagi melihat gaya hidup sekarang, banyak bangeeet orang masih muda-muda yang kolesterolnya di atas 100 (btw, kadar kolesterol jahat yang sehat itu baiknya di bawah 100).
Dia jelasin, gaya hidup kita sekarang ini 'kan membuat sangat MUDAH untuk membeli dibandingkan bikin sendiri. Tempat jajan bertaburan di mana-mana, males keluar tinggal angkat telpon buat delivery service, udah gitu ada faktor kesibukan juga yang bikin kita prefer jajan. Sementara itu, makanan jaman sekarang kebanyakan kalorinya tinggi, berminyak atau manisz.
Diperburuk sama kondisi kurang bergerak. Jadi, deh, tuh kolesterol melejit tinggi tanpa disadari.
Ya, bener, tanpa disadari. Karena kaya yang dia bilang tadi, kolesterol tinggi itu nggak ada gejalanya. Maka, semacam lazim ditemui orang yang pas kontrol tau-tau udah ratusan kadar kolesterol jahatnya di darah.
Kata pak dokter, Lipitor ini fungsinya membantu kerja enzim yang bertugas mengolah lemak di darah, dan mengontrol lemak-lemak itu supaya nggak menyumbat pembuluh darah (naudzubillah, serem dengernya). Kalau kita mau berusaha jaga makan dan olahraga, kita bisa stop konsumsi lipitor sama sekali nantinya (AMEEEEN!).

Perasaan gue sendiri agak-agak jungkir-balik abis mendengar diagnosa pak dokter. Antara merasa
- Bodoh, karena udah dikelabui kondisi badan yang terasa baik-baik aja,
- Marah sama diri sendiri, karena udah memilih gaya hidup yang nggak sehat, dan juga
- Terguncang, karena harus minum obat yang sama kayak bokap-nyokap yang usianya udah 50 tahun lebih!

Tapi sesudahnya gue mencoba berpikir objektif dan berkaca... Kayak kata pak dokter, ini semua kebanyakan bermuara di lifestyle.
Pelan-pelan gue SADARI kalau
- Pagi-pagi gue udah makan berat: nasi uduk, lontong sayur, bubur ayam, you name it. nggak sering sih, tapi sukalah.
- Suka males makan sayur dan buah.
- Doyan ngemil nggak sehat, contohnya: nyaplok kue lebaran saat "laper" malem-malem, ngabisin 1 batang coklat dalam sekali lep kalo lagi PMS, rutin ngopi dengan susu non-skim dan gula.
- Nggak teratur olahraga. Apalagi sejak bulan puasa, gue bener-bener nggak pernah olahraga lagi.
- "Lupa" sama clean eating. hahaha. Kalo lagi inget ya dilakuin, tapi tetep suka tergoda sama delivery service atau jajan di luar. Udah gitu, pilihan makan di luarnya juga nggak pernah "clean."



Yaudah, ikhlas, I do deserve this. *duduk di pojokan*
Jadi, ya gini deh PR kita sekarang: revamping our lifestyle. Goals gue nggak neko-neko, sih... "cuma" sbb:
1. No more emotional eating or mindless snacking
2. Bye bye pills! Au revoir potions!
3. Stay committed.

Buat goal nomor satu, gue usahain dengan nyetok camilan 'bersih' dan bikin makanan sendiri di rumah. Susah? Ya pastinya! Buat gue, cooking is hard. Keeping myself healthy is harder. Discipline is a pain in the a*s!
Apalagi kalo gue udah kembali ke rutinitas nganter-jemput Bhumy kayak sekarang. Harus ngulik waktu supaya sempat masak. Harus kreatif juga nyusun menu makanan. Tapi sejak dapet 'tamparan keras' ini, otomatis hasrat masak-bersih gue kembali membara, sih. Mungkin emang iya locus of control gue eksternal, jadi kudu dapet wake-up call dulu macam ini.

Baby steps, deh. Pelan-pelan.
Sekarang gue nyoba pake aplikasi Two Grand (being a gen Y that I am, tentunya yang diandalin ya gadget dulu haha). App ini ngebantu tracking makanan yang dikonsumsi dalam sehari dan tracking pencapaian tujuan kita - entah itu berat badan, konsumsi cairan, atau goals lain berupa kebiasaan baik. Food journal ini berguna buat gue jadi nggak perlu repot nyusun menu lagi, tinggal ngulang per dua minggu, gitu. Lagian bisa mengakomodir hobi gue curhat juga, sih, karena bisa naro kesan dan pesan kita seputar sepak terjang dalam sehari udah ngapain aja haha.

Sementara buat olahraga, gue belum sign up ke kelas atau gym tertentu. Masih nyoba rutin yoga di rumah pake yutub.
Pas weekend, kita lagi nyoba rutin jogging - udah 2 kali nyoba di Lippo Karawaci di minggu pagi. lumayan nyaman di situ. Trus baruuu aja semalem nyoba lari di Senayan malem-malem ngajak Bhumy juga. Adit sih semacem rutin 1-2 kali seminggu lari malem di situ sama temen-temen kantornya, tapi gue baru pertama kali. Kali ada yang mau lari bareng nemenin gue, gitu?

Satu catatan penting buat diri sendiri dari 'kejutan' ini, yaitu gaya hidup sehat seharusnya nggak cuma jadi sebuah fase. Tapi perlu berkesinambungan supaya bisa jadi kebiasaan. Bagaimanapun, pasang-surut pasti akan ada; yang jadi penentu keberhasilan gue rasa cuma komitmen diri (goal nomor tiga).
Agak mirip sama pernikahan, kalo dipikir-pikir. Tapi yang ini 'pernikahan' sama tubuh sendiri. Apa iya perlu bikin marriage vow juga?
"Hereby, I take 'me' or my physical being, as a lifelong companion, and I promise to take care of 'me' and to love 'me' from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, through highs and lows, in sickness and health, to infinity and beyond."
Hehehe.

So, wish me luck, people. Semoga 'pernikahan' (kedua?) gue ini bisa langgeng dan samawa xD

06/08/2015

wants vs. needs

Beberapa waktu lalu, gue berpapasan dengan pesan yang bikin tergugu. It says, Allah pasti akan mencukupkan apapun yang kita butuhkan. Tapi untuk hal-hal yang kita inginkan, kita sendiri yang harus berupaya mendapatkannya. 


The first setence *IS* true, karena tertuang di Al-Qur'an kalau Allah pasti akan mencukupkan kebutuhan hamba-Nya. Dia 'kan Maha Mengetahui, Dia pasti tahu apa yang kita butuhkan. Tapi, yang bikin manusia sering merasa galau, gelisah atau bahkan kecewa, adalah karena kita kerap didera oleh keinginan-keinginan. Dan keinginan kita itu banyak banget. We want so much. Bahkan mungkin keinginan kita itu nggak ada batasnya; begitu satu hal terpenuhi, fokus kita langsung bergerak ke hal-hal lain yang belum terwujud. 
And so we strive to fulfill it. 

Padahal, apa-apa yang gue butuhkan, Allah udah cukupi. Tapi, kayak yang gue tulis tadi, keinginan yang bermacam-macam rupa itu bikin diri susah ngerasa 'tenang.' Wajar sih, karena belum semua (and I mean ALL, every single thing on our "checklist") yang kita inginkan itu terpenuhi. Kita jadi belum merasa fullfilled, dan efeknya, nggak ada perasaan content atau puas. Ini kali, ya, yang suka bikin susah bersyukur? 
Mewujudkan konsep bersyukur kalau cuma di bibir aja sih gampang. Mungkin tinggal pasang status "Alhamdulillah yaa, hari ini aku bisa lari 5 km, anak makannya abis, pembantu rajin banget... #blessed." 
Atau bersyukur di otak aja, dengan memikirkan "Apa, sih, yang gue nggak punya? Rumah ada, mobil bagus, kerjaan oke, bisa jalan-jalan ke sana ke mari. Duh, kebangetan deh, kalo gue nggak bersyukur." 
Tapi meRASAkan syukur, bener-bener merasa diperhatikan dan dicintai oleh Sang Pencipta dan karenanya, sampe nggak enak ati banget kalo nggak mewujudkan syukur dalam perbuatan - apa gue bisa sampe ke 'tahap' itu? 

Bukan berarti lantas kita harus mengeliminasi keinginan dari sanubari, sih. Ingin ini ingin itu 'kan manusiawi banget. tapi, semakin tua gini - dan semakin nggak nyaman didera perasaan susah puas - gue jadi tersadarkan kalo gue perlu fokus. Fokus sama apa yang jadi tujuan gue. 
Sudah beberapa bulan belakangan ini gue ikutan majelis tafakur, namanya Mutiara Tauhid. Berawal dari merasa jiwa gue kering-kerontang banget, nggak pernah disiram sama tausiyah dan ilmu agama. Akhirnya gue tanya ke Kiti perihal pengajian yang rutin dia ikuti sejak sekitar setahun terakhir. Alhamdulillah, ternyata gue cocok banget ikut pengajian di situ. Yang gue dapet bukan cuma tausiyah atau ilmu agama, tapi juga kesadaran! 
Salah satunya yang berkaitan dengan curhatan gue kali ini, gue disadarkan kalau keinginan yang banyak banget dan nggak ada abisnya itu tuh sebenernya keinginan "badan" atau fisik. Badan ini pengen jadi cantik, jadi sehat, jadi kaya, ganti mobil, kerjaan yang keren, daaan lain sebagainya. Tapi apa yang JIWA gue butuhkan? Jiwa, entitas yang akan tersisa setelah badan ini berhenti berfungsi. Jiwa, yang akan kembali pada Allah, yang akan terus 'hidup' setelah masanya di alam dunia habis. Apa sih yang penting buat jiwa gue?

Lagi-lagi lewat (dan berkat tafakur), gue diingetin kalau tujuan hidup manusia itu "cuma": Kebahagiaan di dunia dan di akhirat. 
Simpel? Apa malah rumit? 
Masalahnya, kita harus redefine dulu kebahagiaan itu apa. Sama atau nggak dengan kesenangan?
Mulai, deh, di sini dikupas... Ternyata, harta yang banyak, anak yang baik, suami yang setia, mertua yang sayang sama kita, pekerjaan yang keren, dan bahkan badan yang sehat, itu semua kesenangan semata. Hooh! Itu semua bukan definisi  kebahagiaan. 
Balik lagi ke Al-Qur'an, ternyata kebahagiaan itu adalah "Tidak adanya rasa gelisah, khawatir, atau sedih." 
Referensinya ayat ini:
(QS. Al-Baqarah, 38) "Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Hmm... kalau gitu, nampaknya gue perlu mengoreksi persepsi gue kalau melihat orang yang kaya, cantik, dan punya 'paket lengkap,' nope, nggak berarti orang itu (sudah) bahagia. Orang itu hidupnya enak, itu bener, karena hidupnya dipenuhi dengan kesenangan. 
Tapi kebahagiaan? Apakah orang itu udah selalu merasa tenang? Nggak pernah khawatir?
Justru seandainya gue melihat keluarga yang hidup seadanya tapi nggak pernah berantem, bisa menikmati apa yang ada di meja makan dengan penuh syukur dan senyum, mungkin mereka itulah yang hidupnya bahagia kalau mereka bisa merasa tenang, nggak stres, meskipun nggak kaya.  


Dari situ, gue semakin merasa perlu membedakan kebutuhan dan keinginan. Keinginan bagi gue lekat dengan kesenangan. Seperti gue tulis tadi, keinginan nggak ada abisnya, tak terbatas, dan we tend to want it all. Karena faktor penentu kesenangan adanya di "luar" diri kita, ditentukan sama hal-hal yang nggak bisa kita kontrol - kekayaan, kesehatan, anak, suami/istri, mertua, pekerjaan, dst. Sementara kebahagiaan itu letaknya di "dalam."
Lebih lanjut gue sadari, berkat berkaca dari pengalaman; dari materi tafakur yang mengacu ke Al-Qur'an dan hadits; juga dari blog seputar minimalism yang akhir-akhir ini gue gandrungi, punya banyak barang atau punya banyak ilmu itu nggak menjamin kebahagiaan. Not at all.
Kita harus membedakan hal-hal mana yang emang kita butuhkan. And the truth is, we don't need a lot. Iya, kita butuh kesehatan. Iya, kita butuh hidup berkecukupan. Tapi apa artinya kalo saat kita tiba-tiba sakit, atau tiba-tiba harta kita terenggut, kebahagiaan kita langsung terampas?  

Kembali ke premis awal tentang "Allah pasti akan mencukupkan apapun yang kita butuhkan. Tapi untuk hal-hal yang kita inginkan, kita sendiri yang harus berupaya mendapatkannya." Gue yakin ketentuan dariNya pasti yang terbaik, makanya apa-apa yang kita 'miliki' sekarang pasti ada for a reason. Rasa malas berolahraga, rasa serakah, rasa nggak pernah puas, nggak bisa manajemen waktu, nggak sabar, dan lain-lain, semuanya kita (ups, gue) miliki untuk sebuah alasan. Kalau kita (iya, gue!) ingin rajin olahraga, murah hati, hobi bersyukur, bisa ngatur waktu dengan baik, jadi penyabar, ya gue sendiri yang harus mengusahakannya.  
After all, gue yakin Allah mencintai proses, no matter how messy or erratic that process is. 

Meski tulisan gue ini terkesan sok alim dan sok bijak pangkat seribu, tapi yakinlah bahwa ini murni kontemplasi semata. Gue cuma pengen sharing tentang perjalanan jiwa yang masih hobi galau, khawatir, dan ketakutan ini. Jiwa yang belum bahagia. Gue masih punya sederet wishlist yang semuanya duniawi banget. Gue masih gampang 'ngamuk' dan 'terampas.' Kata-kata yang gue tuangkan di sini juga yah, sekadar kata-kata, hasil dari isi pikiran gue, bukannya perilaku nyata. But this thought is a part of my journey. 

Dan di titik perjalanan ini, gue menyadari kalau yang gue butuhkan adalah
1. Bisa membedakan keinginan dan kebutuhan
2. Bisa membedakan kesenangan dan kebahagiaan 
3. Fokus sama tujuan 

Well, I guess with this, gerakan Kawal Kalbu is officially started? Hehe.. lagi-lagi ini cuma usaha untuk bisa lebih 'bahagia.' 
Bismillah.

22/07/2015

life is like driving

a bit too cliche, huh?
but that's what crossed my mind a few days ago. nothing new, though. there's already so many popular adages and slogans that analogize riding, driving, or the road, with life. i mean, you're surely familiar with "kasih ibu sepanjang jalan."
or "i took the road less travelled and that's what makes the difference."
or "life is like riding a bicycle, step by step first."
or "love is like a winding road."
and so on.
but as i spend my time commuting and wandering and being stuck in traffic jam, it's only logical that my mind tries to find virtues from all the roadtripping.



lanjut bahasa indo aja deh. hehe.


gue kepikiran soal analogi yang gue sebut itu pas lagi kejebak macet - yang mana semacam rutinitas idup di jakarta, tapi yang ngezelin saat itu udah jam 9 malam. kita udah capek dan lecek, tapi masih jauh dari rumah. berkat Google Maps, kita dapet jalur alternatif untuk menghindari macet. namanya juga jalur alternatif bukannya jalur utama, kita diarahin ke jalanan pemukiman yang sempit, ruwet, banyak polisi tidur pula.

pas akhirnya bisa nyampe ke jalur 'mainstream' lagi, eeh kita ketemu mobil yang tadinya barengan kejebak macet sama kita. apparently, mereka milih jalur biasa yang kita liat di google maps tadi merah kereng warnanya (yang berarti muacretcret). kalo gitu, berarti waktu tempuhnya sama aja dong, mau lewat jalan utama yang padet, atau mau lewat jalan alternatif yang lancar tapi berliku-liku?
dan kalo dipikir-pikir, idup emang gitu gak sih? *pasang kedok sok-bijaksana*
kadang kita nggak sabaran ngadepin macet, yang bikin kita melambat. akhirnya kita pilih muter-muter nyari jalur alternatif, dengan harapan kita bisa terus bergerak. tapi ternyata pas udah dijalanin, ada juga halangannya - cuma belum kebayang aja sebelumnya.
kalo diibaratkan karir atau perjalanan hidup, ada orang yang kudu muter-muter dulu sebelum mencapai kesuksesan, ada yang perjalanannya lurus-lurus aja, sesuai jalur atau on track. misalnya abis lulus SMA masuk "ivy league" trus dapet kerjaan oke. atau begitu masuk ke dunia kerja langsung nyemplung di bidang yang sesuai minat dan passion-nya.
tapi ada yang muter-muter dulu... dia mungkin ambil kuliah jurusan x, nggak lama baru sadar kalo dia lebih cocok di jurusan y. atau pindah-pindah kerjaan karena masih mencari yang sesuai passion-nya.
let's say dua orang itu ketemu lagi di usia 50 tahunan.
bisa jadi secara kasat mata nggak keliatan bedanya, mereka sama-sama bisa sukses, sama-sama hepi, atau sama-sama kaya. cuma yang satu mungkin udah sukses/hepi/kaya sejak usia 27 tahun, yang satu baru 'sampe' di usia 40 tahun.
jadi mungkin... in the end, it doesn't matter how long it takes to get to your destination, just as long as you get there.

lantas tanpa disengaja, gue pun terlarut mencari 'hikmah' lain yang bisa diambil dari jalanan.


jika melanjutkan skenario di atas soal "mencapai tujuan," hal lain yang membedakan mungkin kualitas perjalanannya.

apakah kamu/elo/sampeyan setuju sama kata-kata "nggak penting ke mana dan ngapainnya, yang penting tuh sama siapanya?"
kalo iya, then we're alike. being a clueless wanderer, i find a wonderful companion essential, mandatory even. meskipun terkadang butuh sendirian juga, because afterall, every journey is personal.

kalo begitu, mungkin nggak sih, jalan hidup kita tercipta akibat perasaan dan preferensi kita masing-masing?

ada orang yang sukanya lewat jalan tol. pertimbangannya mungkin daripada ribet - jalan tol 'kan diklaim bebas hambatan. kita nggak perlu ngambil risiko menebak-nebak arah dan nyasar.
tapi, ada yang malah seneng kalo nyasar. atau setidaknya dia bisa menikmatilah ketika harus nyasar. orang ini nggak keberatan menempuh jalur baru yang asing, karena buat dia, it's better than being stuck.
the moral of this?
ya orang tuh beda-beda.some can enjoy being lost, taking risks, or gambling. some prefer thinking logically and minimizing risks.
gue sendiri ya tipe yang pertama, yang demen nyasar. lha wong hobi gue emang ngider-ngider nggak jelas. hmm... apa gara-gara ini ya tujuan idup gue juga jadi nggak jelas? ahak! *tersedak*



dilihat dari sudut pandang yang berbeda, semacam-moral yang bisa dipetik mungkiin... jangan suka nanya "kapan nikah?" "kapan nambah anak?" "kapan kerja lagi?" dan sejenisnya, hahaha.

"kapan?" - this word can be so useless. karena tiap orang punya pilihan sesuai desain jalan hidupnya masing-masing... yes, even the nggak jelas one like me! #beladiri

ah, tiba-tiba gue keinget omongan bokap waktu ngajarin gue nyetir, "ngebut itu gampang. orang itu dinilai jago nyetir atau nggak diliat pas nyetir pelan, bukannya kenceng."
dipikir-pikir, iya juga sik!
buat bisa parkir rapih itu butuh skill. buat bisa lewatin jalanan sempit apalagi.
omongan beliau lainnya yang gue inget banget adalah ketika nggak ngijinin gue nyetir (padahal gue udah bolak-balik belajar dan kursus nyetir). dia bilang, "nggak (boleh bawa mobil sendiri dulu), ah. abis kamu kalo bawa mobil matanya nekat."
berasa mata gue nyalang macem penjahat pas nyetir!
tapi, belakangan gue sadarin... syukurlah gue baru aktif nyetir pas udah dewasa. lha udah tua gini aja masih suka emosi di jalan. masih suka ngambil risiko yang nggak perlu - nyerobot, ngebut, ngeladenin pemotor kurang piknik, dsb. gimana kalo bokap gue ngasih nyetir pas masih SMA? nggak kebayang.

emang jalanan tuh ngasih banyak pelajaran, sih. karena ada aja ujiannya.

namanya berbagi jalanan sama banyak orang, konflik suka nggak bisa dihindari.
kalau nemuin halangan - entah itu macet, banjir, atau razia - mau nggak mau ya kita harus lewatin; ya masa mobilnya mau ditinggal di tengah jalan?
kita juga belajar nunggu giliran. layaknya rezeki, tiap orang punya jatah yang berbeda-beda. ada yang perjalanannya muluus aja, ketemu lampu ijo mulu. tapi ada juga yang pas lagi buru-buru, malah ketemu orang yang nyetirnya lamban dan susah buat disalip. pilihannya ada di kita sendiri, mau sibuk pencet-pencet klakson, ngeluh, atau stay cool.



 

kadang, kita nyasar tanpa bisa dihindari. 
kalo udah keblinger, seharusnya emang nggak gengsi nanya arah. paling nggak berhenti dulu, gitu. because sometimes we need to pause. jeda. rehat. 
karena baru gue sadari juga, kalo... in driving, all that it takes from me is being calm. so i can figure out what to do.
mungkin perlu mulai gue praktekin juga dalam idup.





08/07/2015

desire be desire go

yaampun udah hari ke-20 ramadhan aja :(((
rasanya belum maksimal banget deh aah gue menggapai ramadhan. yang bikin makin ngenes, baru hari ini gue nemu aplikasi yang oke banget di appstore. jadi app ini bisa membantu kita memantau progress ibadah selama ramadhan, namanya Ramadan Legacy. nanti kita bisa 'laporan' di situ apakah dalam sehari kita sholat 5 waktu, baca berapa juz, menghafal hadits apa - macam diary ramadhan waktu SD gitu. 




selain itu juga bisa nambahin "goal" khusus selama ramadhan; misalnya mau berbuat satu kebaikan setiap hari, mau menghafal juz 30, membuang kebiasaan buruk, dan lain-lain sesuka hati kita, dan nanti kita record gimana progress-nya di sini. cuma ya itu tadi, gue baru tau keberadaan aplikasi ini sekarang! tapi gue yakin nggak ada yang sia-sia kok, contohnya aja, ini aplikasi bisa gue pakai juga buat memantau progress ibadah setelah puasa *baru kepikiran*.


sekarang cerita ngalor-ngidulnya. udah hampir seminggu gue nggak puasa. kebetulan pas Bumy lagi ikut kegiatan summer club, jadi alhamdulillah nggak tepar nganter-jemput-nongkrong nungguinnya. yang berat justru pas sebelum mens, PMS parah! minggu kemarin itu ujiannya numplek jadi satu, deh. PMS udah jelas, bikin hormon bergejolak dan imbasnya bikin mood ngaco. dikombinasiin sama gue kena flu lumayan berat. kepala puyeng, badan lemes.

nggak cuma sampe di situ komponen 'ujian' gue; kebeneran Bumy baru mulai libur sekolah dan ngendon di rumah aja, full-time. udah deh, nggak bisa megang kerjaan sama sekali padahal 'utang' gue lumayan numpuk. mau main sama anak juga nggak bisa all out (kayak biasanye all out aje) karena kudu banyak berbaring.

tapi ya sutra, udah lewat juga ujiannya (dan kesempatan dapet pahalanya - kalo gue lulus haha). Bumy bisa ikutan summer club selama 7 hari, seneng banget dia bisa belajar tentang Jepang - karena lagi tergila-gila sama ninja. dan tentunya yang paling bikin dia hepi yakarena bisa kenal dan main temen-temen baru. pas lagi di rumah aja, untungnya ada GummyBox! lumayan bangeeet, bisa jadi bahan main dan bikin-bikin buat kita berdua. 

pas weekend, kita melancong ke karawaci. sebelumnya, kita mampir ke Pasar Modern BSD. random aja, seperti biasa, buat nyari bukaan. mau beli serabi tapi ngantrinya panjang banget, padahal baru jam 3 sore. akhirnya beli pisang goreng srikaya, abis itu liat-liat toko makanan organik. gue nemu items kayak kacang almond, pumpkin seed, chia seed, ovomaltine, dengan harga yang agak miring. abis itu Bumy dan Adit nyobain gerai jasa pangkas rambut di pasar yang sama. namapun di kawasan Serpong ya, tau-tau gue ketemu temen SMA. dulu sih lumayan sering nongkrong bareng, gue inget dia suka manggil gue "mom" -__- soalnya dese kecil sementara gue, ya gitu, dewasa hakhakahk. sekarang dese kaget nemu gue udah jadi mom beneran, pas liat Bumy komentarnya "yaampun 'ni anak dulu belom ada!"



berkat GummyBox, jadi ada bahan bikin-bikin di rumah





classes at Club Kembang



berbuka di mrican means only one thing: overeating.

nyokap gue gitu loh, segalaa dibeli. 'kan bikin yang makan jadi napsu ngabisin juga xD abis maghrib nggak ada yang bisa bangun karena perut pada kenceng kekenyangan. besoknya, kita menghabiskan setengah hari di kawasan lippo karawaci; gue ngendon di Books 'n Beyond buat ngelarin 'utang' kerjaan, Bumy dan Adit beredar di Benton dan Supermal. kalo dipikir-pikir, saat gue bisa duduk manis, bengong-bengong nulis, sementara suami megangin anak kayak begini nih, yang mau nggak mau bikin teringat ayat "maka nikmat manakah yang kamu dustakan?" :')


cerita apa lagi yah?

hmm.. baru nyadar kalo suasana hati mellow sumellow gue ini emang efek menstruasi. karena gue baru keinget momen di mana gue menanggapi sesuatu dengan lebaynya, tanpa alasan yang jelas. contohnya, baca berita tentang Martunis yang dikontrak jadi pemain klub Spanyol bikin gue cirambay. air mata berderai-deraaai ngebayangin dahsyatnya ujian hidup Martunis.

momen lebay-akibat-PMS lainnya adalah pas jam 11 malem mengendap-endap ke bawah - karena apalagi kalo bukan kelaperan! - trus nonton TV sambil makan. kebeneran lagi ada rerun Sex and the City season 6. i'm a self-proclaimed fan of this series. kalo dites quote ini yang ngomong siapah, kayaknya sih bisalah 80% jawab bener hahahah. 
episod yang gue tonton itu ada adegan prom-like, di mana Carrie dan Stanford dateng as a couple (karena Stanny lagi ngambek sama pacarnya). pas mereka berdua lagi dansi, lagu yang mengalun ternyata "If You Leave Me Now"-nya Chicago (yes, i totally forgot about that!). namanya juga lagi oversensitif, tau-tau gue meratap.


and of course, they become prom king and queen :)))

nggak totally tanpa alasan juga sih meweknya... lagu ini semacem punya kesan tersendiri dalam hubungan gue dan Adit. we both love the song. tanpa terasa, tahun ini udah 10 tahun aja bok kita bersama. with all the ups and downs... with all the struggle, and tests... oh yes, ain't there TESTS *seka keringat di jidat*
denger lagu ini, jadi tersadar bahwa sungguh bener-bener karunia Allah kita masih bersama sampe sekarang. :')

gue tempelin lagunya, deh, di sini biar bisa karaoke (menerawang mode: on).



30/06/2015

slow down, recharge

hello there, blogverse... udah akhir juni aja. 
kayaknya udah lama juga gue nggak bikin postingan seputar random updates. terlalu serius sepertinya belakangan ini *lirik post archive*
btw ini udah hari ke-13 ramadhan. some things are different than last year.

- nggak punya langganan katering lagii.
bulan puasa lalu ibu peri domestik gue, Uncu, nyediain jasa katering yang bukan cuma uenak tapi juga dianterin ke rumah tanpa charge tambahan (the best abis dah! hahaha). tahun ini, meskipun udah dirayu sama para pelanggan setianya, tapi Uncu nggak buka katering lagi, ey, karena staf dapurnya berkurang.
tapi alhamdulillah, sejauh ini gue nggak sutris seperti yang gue bayangin. buat buka, nggak lagi heboh mikirin mau takjil ini-itu. cukup pake kurma, abis itu baru makan besar. lagian, pas nyoba buka pake es campur gitu, malah eneg karena manis banget dan ujung-ujungnya blenger. 
trus buat sahur, alhamdulillah nggak ribet juga. entah karena gue dan adit suka pake oatmeal aja jadi buat lauknya tinggal pake buah+kacang atau nyeplok telor (#nothealthierthanthou), atau karena udah biasa makan "seadanya" kali, secara gue nggak bisa masak yang ribet-ribet. 
yang jelas Allah banyak kasih kemudahan, deh. salah satunya ya itu tadi, suami yang ekspetaksinya rendah menyangkut kebisaan istrinya masak, kekekek.

- alhamdulillah sempat baca artikel "5 Things to Do Differently This Ramadhan" tepat sebelum mulai puasa. ringkasnya, penulis artikel itu ngajak kita ngubah beberapa kebiasaan, antara lain

1. sahur yang "ringan" dan simpel. 
"Not only is it healthy, peaceful and spiritually uplifting but it is the Sunnah of the Prophet Muhammad (peace be upon him)."
image from here

2. bukaan yang juga "ringan."
menurutnya, kita suka berlebihan dalam menilai seberapa banyak makanan yang sebenernya dibutuhkan tubuh kita. walhasil pas buka jadi berlebihan juga deh makannya. 
bukan cuma sunnah Rasulullah SAW, tapi iftaar yang ringan banyak benefitnya juga. kita jadi bisa lebih konsen pas sholat taraweh - karena nggak kekenyangan. 
selain itu, kita jadi nggak berlebihan juga dalam menyiapkan makanan buka. kebayang 'kan, waktu di antara ashar dan maghrib seringnya kita abisin buat masak dan nyiapin bukaan. padahal, ramadhan itu waktunya kita meraih sebanyak mungkin pengalaman spiritual. akan lebih baik kalo kita manfaatin waktu tadi untuk tilawah dan meresapi makna ayat-ayat Al-Qur'an. 
image from here


image from here
3. kurangi bersosialisasi
ini kayanya menanggapi fenomena gempuran bukber di bulan puasa, yah. menurut penulis, sih, hal ini memengaruhi 2 poin di atas tadi. jadi, kalo kita berbuka di rumah, akan lebih gampang untuk berbuka dan juga sahur dengan "ringan." beda sama kalo kita lagi bukber, ada kecenderungan untuk melahap makanan yang biasanya disajikan dengan melimpah.
lagian, menurutnya, "You can always visit them for Eid or during the other 11 months of the year in which they forget to invite you." hahahah.

4. memahami Al-Qur'an
sayang banget kalo membaca Al-Qur'an di bulan ramadhan ini diritualkan jadi super speed recital tanpa pemahaman. padahal, kita bisa nyoba memahami makna bacaan pelan-pelan supaya bisa "lulus" dari ramadhan jadi muslim yang lebih baik.

5. berdoa dengan sungguh-sungguh
salah satu caranya dengan menikmati sholat dan lebih khusyu juga. tujuannya ya supaya bisa mentransformasi diri kita jadi lebih baik.

 
kok ujung-ujungnya serius juga, yak. ini maksudnya mau sharing doang sih, karena nasehatnya bagus banget menurut gue.

- back to random updates, minggu ini Bumy mulai libur panjang. rutinitas gue berubah lagi, deh. sementara minggu lalu itu rasanya heboh banget. ibu-ibu di sekolah Bumy pada ngajak nyiapin acara bukber di sekolah sekaligus ngadain baksos. waktu pelaksanaannya untungnya beda, jadi nggak gabruk dalam sehari. di sisi personal, alhamdulillah gue dapet tambahan kerjaan nulis konten. seneng banget bisa punya "playground" baru untuk nuangin ide, tapi ya otomatis tanggung jawab juga bertambah. makanya, gue rada sibuk juggling antara beradaptasi dengan puasa, ngatur waktu untuk kerjaan, sama ngurus rumah. 
challenging banget, hooh. tapi seneng ey jalaninnya. and i guess that's what makes it all worthwhile.

selasanya gue dan ibu-ibu baksos di sekolah, rabunya bukber bareng anak-anak sekaligus graduation anak TK. malem abis acara bukber, kita ke Karawaci. berhubung besoknya itu bagi rapot, jadi seperti yang disaranin sekolah, sebaiknya kita nggak bawa Bumy karena agendanya 'kan untuk ngebahas dia hehe. 
bagi rapot udah, sementara Bumy masih di Karawaci, jadinya apa? bisa me time-lah gue, haha. tapi ya lagi puasa juga, gue males ngider-ngider jadi molor aja di rumah. 

charity at school
baca doa berbuka puasa #rabidmommamoment
pas weekend, kita sempat pijet di Bersih Sehat sebelum jemput Bumy kekeke. abis itu weekend-an bareng Kiti sesudah pengajian; Bumy dan Adit nonton Minions, gue dan Kiti kencan. sorenya, dadakan bukber sama Uncu dan Rahma di Cinere. sesudahnya, tepaaaar.

bocah-bocah yang suka pake baju "seragam" tanpa janjian

besoknya, secara impulsif kita mutusin ngabuburin ke arah JakPus. udah lupa aja sama tepar kemaren. gue kira perpustakaan di TIM Cikini buka juga pas weekend, ternyata tutup. jadi kita melipir ke arah Ibis Hotel yang ada kolam renang Cikininya buat ngajak Bumy makan di the legendary AH. dari situ, kita ke Taman Suropati. kebetulan lagi ada syuting yang meliput kegiatan bermusik sore-sore di situ. lumayan jadinya, ngadem sore-sore disuguhi musik. 
dari taman, kita mampir sebentar ke Mesjid Sunda Kelapa, trus berbuka di Nasi Uduk Gondangdia. Bumy doyan beneeeur nasi uduk ini, sampe nggak mau udahan makan -__-
pas di perjalanan balik ke rumah, kita bertiga rasanya seneng bener bisa ngelayap ke tempat yang agak beda dari biasanya, hehe.

reaksinya: "ma bumy mau main violin juga!" -__-

girang banget ngejar gelembung doang :')
kolam renangnya gedeeee dan jernih. kapan-kapan mau ah nyoba renang di mari
 

16/06/2015

i hear colours

songs that mention colors. 


the first one is Blur's "Colours." 


Blue is where I want to be
Makes me feel I'm in the sea
Look at all the stars they told me to say
Red's the color when you're dead
It gets there under your head
I don't feel the end, I just want to be

And I know so many things
Oh well I have to sing
There's nothing left to do
And my house is made of bricks
But that's just such a fix
There's nothing I can do

Black is where I want to stay
I think it is in my way
But I won't hurt myself, I'll just let it flow
White is what I was to start
But I don't want to get undone
All my life I've just set everything free

And I know so many things
Oh well I'm just the knee
Puts it on the side
And her house is made of bricks
Oh well it's such a fix
I ain't got nothing now
You'll be bad when everything is slow

and the second one, i only heard it recently. 
come to think of it, it *is* quite "recent" compared to other songs in my library. 
it's Taylor Swift's "Red." 
heard it just a few weeks ago, and it's such a good song! gosh, i think i'm officially a Swiftie.




Loving him is like driving a new Maserati down a dead-end street
Faster than the wind, passionate as sin, ending so suddenly
Loving him is like trying to change your mind once you're already flying through the free fall
Like the colors in autumn, so bright just before they lose it all

Losing him was blue like I'd never known
Missing him was dark grey all alone
Forgetting him was like trying to know somebody you never met
But loving him was red

Loving him was red

Touching him was like realizing all you ever wanted was right there in front of you
Memorizing him was as easy as knowing all the words to your old favorite song
Fighting with him was like trying to solve a crossword and realizing there's no right answer
Regretting him was like wishing you never found out that love could be that strong

Losing him was blue like I'd never known
Missing him was dark grey all alone
Forgetting him was like trying to know somebody you never met
But loving him was red
Oh, red
Burning red

Remembering him comes in flashbacks and echoes
Tell myself it's time now, gotta let go
But moving on from him is impossible
When I still see it all in my head
In burning red
Burning, it was red

And that's why he's spinnin' 'round in my head
Comes back to me, burning red

His love was like driving a new Maserati down a dead-end street