25/08/2011

the house


tempat ini adalah "love nest" ke-dua gue dan adit. 

rumah pertama kita adalah rumah pinjaman dari nyokap gue. lokasinya di karawaci, nggak jauh dari rumah nyokap. begitu gue hamil, kita jadi mendamba punya rumah sendiri, terutama rumah yang letaknya nggak di pinggir jalan dan bentuknya cluster. sebelum hamil sih emang udah punya cita-cita punya rumah sendiri, tapi kondisi expecting baby membuat kita makin terpacu. rumah pinjaman itu letaknya di jalan utama yang ramai dan berisik, dari segi keamanan juga 'kurang' karena posisinya nggak secluded (meski alhamdulillah kita sering lupa ngunci pintu rumah tapi barang-barang aman).

nggak lama, cita-cita kami mendapat jalan. nggak jauh dari rumah pinjaman, kita menemukan sebuah cluster kecil yang terdiri dari 50 rumah saja. suasana di situ tenaaang banget, karena kondisinya yang 'tertutup.' lucunya, asman gue di kantor ternyata punya saudara yang tinggal di cluster tersebut. dia lantas memberikan info bahwa ada satu rumah yang dijual, tapi pemiliknya maju mundur terus, begitu udah ditawar eh dia batalin. 
adit lantas mulai 'bergerilya' ngumpulin info rumah yang kabarnya mau dijual itu. dia mencoba nongkrong di pos satpam cluster itu, dan menggali info cara mengontak si empunya rumah (kondisi rumah saat itu dikontrakkan ke orang yang bekerja sebagai tour guide, so he's away most of the time). to cut a story short, we got the house after a couple of months process. kalau diingat-ingat sekarang, banyak juga obstacle sampai akhirnya rumah tersebut resmi jadi milik kami. tapi alhamdulillah, banyak juga solusi dari arah yang tidak disangka-sangka. sebut aja, DP untuk pembelian dipinjemin nyokap (an extremely soft loan it was), bos adit setuju memberikan ijin deviasi untuk fasilitas KPR (seharusnya kerja 5 tahun dulu baru bisa ngutang rumah), dan dengan perjuangan yang berat menghadapi si pemilik rumah yang... let's say ababil to the max dan jenis manusia yang "langka" (believe me, this is an euphemism), alhamdulillah kami bisa menempati si rumah impian. 

tapi emang bener deh kalau manusia itu gampang lupa dan pinter nyari-nyari kejelekan untuk dikeluhkan (bawa-bawa nama umat manusia untuk menutupi keburukan diri, huhu). sebelum pindah, gue sama sekali nggak pernah memasuki rumah itu. jadilah pas udah masuk, gue terkaget-kaget. kondisinya perlu banyak (bangettt!) perbaikan, dan luasnya juga kurang dibanding rumah pinjaman nyokap. i know, i was ignorant about the house selama proses pembelian (maklum baru punya orok :P), i was so naive to expect the condition when we were about to move in was at least resembled our previous house. ternyata, kami perlu merenovasi toiletnya dulu (besar-besaran *sigh*), perlu memberesi kebocoran di bagian belakang rumah, ngecat di sana-sini, merapikan halaman, taman, and so on and so on. 
setelah semua usaha perbaikan itu selesai, we were left kinda bankrupt (hehe) and still not quite satisfied with the house. to be honest, i was the one who's always complaining. harus gue akui bahwa sebelumnya gue keenakan tinggal di rumah yang udah difasilitasi nyokap gue. pas pindah, kondisinya udah nyaman dan layak karena emang udah direnovasi. terlebih gue nggak perlu keluar duit untuk urusan renovasi. nah di rumah baru ini, udahlah keluar duit (yang menurut gue) banyak, tapi tetep aja masih nggak puas dengan hasilnya. boro-boro deh kepikiran dan punya budget untuk bikin kitchen set apalagi bedroom set, merenovasi 'seadanya' aja udah bikin kantong ngos-ngosan. kita, oh well gue, jadi tau kalo beli rumah tuh bukan cuma perlu uang DP, tapi juga biaya notaris, BPHTB (untungnya didiskon karena fasilitas karyawan), asuransi rumah, endebre endebre. 

tahun ini, alhamdulillah kita tergerak dan punya rejeki untuk mengganti warna cat rumah. i like the color, lebih kalem, dan memberikan suasana yang lebih cerah. gue dengan spontan bilang ke adit, "rumah ini 'dibenerin' sedikit aja tapi jadi terasa lebih nyaman ya bi," kebetulan hari itu jumat, adit bilang dia jadi inget isi khotbah yang baru dia dengar. 
"Nabi Muhammad SAW dulu tuh lantai rumahnya dari tanah doang loh beb. tapi beliau berkata 'baiti jannati,' rumahku surgaku. jadi rumah itu nggak harus mewah untuk nyaman ditinggali, tapi lebih ke rasa syukur yang menempati." 
ealahh tumben suami eike bijaksana kekeke... tapi mau nggak mau gue jadi tersentil mendengarnya. semoga kami diberkati dengan rasa syukur yang melimpah, ya Tuhanku.... 

anyways i'd like to share some shoots from our humble love nest. the pictures are before the 'makeover', so let me remind you they're uber-humble, hehehe. biarpun demikian, tapi udah beberapa kali ditawar orang loh... hihihi, mungkin karena kondisi clusternya yang, seperti gue sebut tadi, tenang dan secluded. kali aja ada yang tertarik jadi tetangga gue ;D you are so welcome (masih ada satu rumah tuh yang dijual). 


03/08/2011

untitled #53

selintas dokumentasi hari:
- tadi pagi ada talkshow QM di hardrock, tapi yang ngisi Fitri Noeriman. tema yang dibawakan adalah basic financial planning. ada satu kalimat yang gue suka banget, mungkin karena gue merasakan banget pesan di kalimat itu: "Dari kecil, kita cuma diajarkan gimana menabung dan berhemat, tapi tidak tentang bagaimana membelanjakan uang dengan bijak." bener banget deh! selanjutnya dia paparkan bahwa karena itulah begitu kita megang duit sendiri, some of us jadi foya-foya karena bingung duitnya mau diapain. hahaha... duit, mau dipegang atau ditaruh di atm, kalau nggak jelas peruntukkannya, jadinya nyampur aja gitu. gue jadi teringat quote yang gue sebut di blgopost sebelumnya tentang uang yang nyampur-nyampur bagaikan air. padahal seharusnya air tuh kita pisahkan, mana yang buat minum, mana yang buat cebok :D
semoga Bumy dapat edukasi yang penting itu yah... lebih baik lagi kalau dapatnya dari gue!
- ceramah di tvone yang gue dengar sore ini menarik, tapi berhubung gue nontonnya dari kejauhan (kita-kita 6 meter deh), gue nggak tau siapa nama ustadznya, atau bahkan judul ceramahnya. yang jelas, temanya adalah tentang rezeki. gue mulai memperhatikan ceramahnya ketika ada pertanyaan "kenapa kok ada orang beriman yang miskin, sementara ada orang kafir yang kaya raya?" jawaban si ustadz bagus deh menurut gue. dia bilang (disclaimer: agak gue dramatisir ya jawabannya, hihi), "kalau ada orang kafir loncat dari lantai 12 pakai parasut, dan orang beriman loncat juga tanpa parasut, kira-kira siapa yang mati? lagipula, rezeki itu bukan cuma berupa materi, tapi bisa juga berupa kenikmatan ibadah. kalau ada orang yang ngomong, 'ah gue nggak sholat tapi dapat jabatan oke tuh.'
coba kita lihat dari sudut pandang yang lain: memang dari segi materi dia mendapat kelimpahan, tapi apakah dia merasakan manisnya ibadah? apa dia merasakan nikmatnya bangun dan bersujud di sepertiga malam? apa dia bisa mengucurkan airmata ketika berdoa kepada Allah?"
duh... duh T_T
- berkat meminjam majalah cleo si debi, gue jadi tau film "one day" sudah beredar. tapi kurang jelas juga beredarnya di indonesia berwujud film bioskop atau dvd (bajakan). i hope anne hathaway would do justice to emma morley's character!

an amateur's sotoy guide about dana pendidikan

the title says it all. gue ini emak-emak yang amatir dalam urusan perencaan keuangan. tapi berhubung gue pernah beberapa kali dapet pertanyaan "Gimana sih cara nyusun dana pendidikan?" jadi gue coba tuliskan aja apa yang gue tau berdasarkan pengalaman browsing dan menggunakan jasa financial planner. wajar kalau disebut "sotoy" kan?

1. Gimana cara ngitung dana pendidikan?
gue kenal istilah "dana pendidikan" dari talkshow ligwina di hard rock fm. dari situ, gue tau bahwa tool untuk menghitung dana pendidikan disediakan di website www.qmfinancial.com, namanya kalkulator dana pendidikan. jadi hal pertama yang gue lakukan ya mengisi biaya untuk tiap level pendidikan, angka-angka ini disebut present value. nanti kalkulator QM akan memberikan future value sesuai dengan target waktu tiap level pendidikan. setelah itu kita akan disuguhkan totalnya deh... jengjeng!! beware, bagian ini yang biasanya bikin tersedak :P

ohya gue pernah baca di artikel yang ditulis ligwina, biaya yg kita input ini boleh uang pangkalnya aja, boleh juga kalau mau sekalian dihitung biaya tahunannya (seperti SPP, dikalikan jumlah tahun sekolah) dan biaya hidup si anak nantinya (ini direkomendasikan untuk yang berencana menyekolahkan anak di luar negeri).

berikut gue sertakan ilustrasi perhitungan untuk mengetahui berapa besar investasi bulanan atau tahunan yang diperlukan (link). template awal sheet yang gue share ini gue dapatkan dari blognya the infamous darina danil, hehe. tapi lantas gue sesuaikan dengan pengetahuan yang gue share di sini.
disclaimers:
(a) gue gak bisa memastikan validitas perhitungan ilustrasi ini, karena emang nyontek juga dari hitungan orang :P
(b) data yang diinput bukan dari plan dana pendidikan gue yaaa! penting itu untuk di-state hehehe.

2. Sebenernya produk yang oke buat dana pendidikan tuh apa? LM? RD? tabungan?
nah setelah urusan input-menginput di kalkulator tadi selesai, baru deh bisa diulik produk apa yang sesuai. setau gue (yang belum pernah ikut Pelatihan QMPC ini, fyi), faktor utama untuk menentukan produk yang sesuai adalah jangka waktu tujuannya. karena jangka waktu ini berkaitan dengan resiko suatu produk keuangan. we know the adage: high risk high return. kurang lebih kayak gitu acuannya: kalau mau return yang lebih besar, ya resiko yang harus diambil juga besar. jadi kalau untuk mencapai tujuan jangka pendek, paling bener ya ambil produk keuangan yang resikonya rendah.

kalau menurut ligwina, tujuan finansial dibagi tiga: jangka pendek (3-5 tahun), jangka menengah (5-10 tahun), dan jangka panjang (10-15 tahun) serta di atas 15 tahun.
Tujuan < 5 tahun, pilih produk yang rata-rata return per tahunnya sekitar 7%. produknya bisa reksadana pasar uang, tabungan, deposito. bisa juga reksadana terproteksi, obligasi, ORI, atau sukuk.
Tujuan 5-15 tahun, pilih produk yang rata-rata return per tahunnya sekitar 10%, yaitu reksadana campuran. untuk produk ini jenisnya ada yang moderat, konservatif, dan agresif. kita lihat aja di prospektusnya, kalau komposisi sahamnya makin besar berarti makin agresif.
Tujuan >15 tahun, pilih produk yang rata-rata return per tahunnya sekitar 25% yaitu reksadana saham.

tapi ternyata ada juga pertimbangan selain jangka waktu investasi, seperti yang gue kutip dari artikel tentang ligwina di sini:
"Namun, ia juga menyebutkan, pilihan ini dapat tergantung dari karakter orang yang mau berinvestasi. “Ada orang yang agresif, di atas 10 tahun, sudah bisa masuk reksadana saham,” ungkapnya.

Untuk itu, ia kembali menegaskan, tujuan untuk berinvestasi itu penting diketahui sejak awal. Baru setelah itu menentukan berapa tahun investasi dan jenis investasinya."

untuk memilih produk reksadana berdasarkan rata-rata return per tahun ini, gue pakai alat bantu pantau performansi reksadana di infovesta.com dan bloomberg.com. di situ dipaparkan return 1 bulan sampai 5 tahun, tinggal kita lihat aja produk mana yang returnnya 'masuk' ke target future value kita. ohya gue dapat tips dari salah seorang perencana keuangan, kalau kita cari reksadana untuk tujuan yang jangka waktunya 5 tahun, maka performansi yang kita lihat adalah performansi 5 tahun produk tersebut. setau gue dari kedua website itu, maksimal performansi yang ditampilkan 5 tahun deh, jadi untuk tujuan yang di atas 5 tahun, acuan gue tetap yang 5 tahun :P adakah yang tau gimana cara lihat performansi puluhan tahun??

fyi, untuk LM, rata-rata return per tahunnya diberikan angka 20%. gue juga sempat kepikiran untuk pakai LM sebagai salah satu instrumen dana pendidikan, tapi akhirnya gak jadi. dengan berbagai pertimbangan akhirnya LM masuk ke instrumen dana darurat sahaja.

3. Trus gimana cara memilih produk reksadananya?
this is what i did: melototin thread "Investasi Reksadana" di forum Fashionese Daily (FD)! it took a week for me to 'complete' the whole thread... hahaha. di thread itu banyak suhu investasi yang mau berbagi ilmu dan pengalaman, gue tau di mana beli produk reksadana, cara buka account commbank, sampai nama-nama produk yang recommended dari situ.

kalau mau 'gampang' sih search aja google "reksadana terbaik versi kontan tahun 2010/09/dst" hihi, gue juga melakukan itu untuk cek dan ricek.
tapi IMHO, memang diperlukan riset sebelum terjun ke dunia investasi. banyak browsing, baca-baca artikel di koran, atau bahkan datang ke talkshow seputar financial planning dan produk keuangan akan sangat membantu memberikan wawasan. gue jadi merasa tercerahkan bukan cuma soal produk keuangan (salah satunya bahwa unitlink itu produk yang sangat gak direkomendasikan. untuk argumen sekaligus perdebatan lengkapnya bisa disimak di banyak link yang membahas 'keburukan' unitlink), tapi juga soal pengaturan keuangan pribadi.

4. Beli reksadana di mana?
yang gue tau, ada 3 bank yang menjadi supermarket reksadana. mandiri, commbank, dan HSBC. masing-masing punya keunggulan dan kekurangan, dipilih aja mana yang paling nyaman buat kita dalam praktek investasinya. gue prefer commbank, karena:
- internet banking dan mobile bankingnya juara.. hahaha. tampilannya memudahkan, informasinya detil. so far sih gue baru nyoba 3 produk internet banking, dan bukan hanya gue yang memuji tampilan dan kepraktisan e-banking-nya commbank, tapi juga salah seorang pegawai bank kompetitor yang kritis banget orangnya, tuh, temen tidur gue.
- kalau beli reksadana lewat e-banking, kita dapat diskon fee pembelian 50%.
- chargesnya minim dan narik atm di atm MANAPUN gratis.
- monthly statement-nya terperinci dan jelas.
- pilihan produk reksadana yang dijual beragam, dan terutama, belinya bisa 'recehan' hihi. sebenernya tergantung dari produk reksadananya, tapi ada tuh yang bisa dibeli mulai dari 100 ribuan.
- gak ribet! gak masalah mau beli reksadana di cabang X, gak harus buat rekening baru lagi kalau kita mau beli reksadana di cabang Y. semuanya udah online.
- frontlinernya gak nawarin unitlink ketika kita lagi apply comminvest, hahaha.

5. Gimana cara pantau hasil investasi kita?
well, karena infovesta udah gak gratis, jadi gue pakai bloomberg.com. ada sih aplikasi bloomberg mobile, tapi gue masih belum bisa makainya, hehe. tinggal diinput aja nama produk reksadana apa aja yang kita punya, NAB reksadana, besarnya pembelian, dan tanggal pembelian.
ohya nama produk yang diinput berupa kode gitu, bisa dilihat di menu Mutual Funds Screener.

sejauh ini sih demikian yang bisa gue ceritain. gue sendiri baru mulai rutin beli reksadana per akhir tahun lalu, jadi belum merasakan banyak asam garam. semoga membantuuu.

11/07/2011

second meeting

kamis lalu, gue dan adit ketemu lagi dengan financial planner (FP) kami. setelah melalui traffic yang amit-amit, dari thamrin ke mega kuningan 2,5 jam sahaja T__T akhirnya sampe juga kita di kantor QM. untungnya FP kami yang baik hati mau menunggu kita ngaret 1,5 jam dari janji, dan meladeni pertemuan sampai jam 9 malam.

ringkasan meeting kemarin:
- FP memberikan rencana keuangan kami yang hampir 'matang.' kita dikasih tau angka investasi bulanan dan tahunan kita. melihat angka investasi bulanan, respon kita: senyum dikulum. saat melihat angka investasi tahunan, respon kita: "emang kita afford segitu, mbak??" panik mode on ceritanya. FP bilang, angka yang diberikan ini menjadi acuan kita dalam menyisihkan yearly income. mekanisme investasinya nggak harus sekaligus, bertahap juga bisa. misalnya dapat yearly income 5 juta, sementara ada 5 pos tujuan keuangan yang perlu diisi. kita bagi-bagi aja untuk tiap pos jadi masing-masing dapat 1 juta. atau bisa juga kita penuhi dulu angka kebutuhan di satu pos tertentu.
- sementara ini yang perlu asuransi jiwa adit aja, karena peran doi sebagai pemberi nafkah utama.
- review produk reksadana yang sudah kita miliki. alhamdulillah, dari 8 produk yang udah gue pilih, semuanya masuk ke rekomendasi reksadana QM. gak sia-sia gue melototin thread reksadana di FD huahahha, emang mantap rekomendasi para suhu di situ :P
jadi, investasi terhadap produk-produk itu bisa dilanjutin, cuma peruntukkannya aja yang berubah. kalau tadinya produk reksadana A untuk tujuan Y, berdasarkan rekomendasi sang FP, peruntukkannya berubah jadi untuk tujuan X. FP membuat rekomendasi disesuaikan dengan jenis tujuan kita, apakah itu dana darurat, dana pensiun, atau dana pendidikan. FP kita memberikan pilihan sih, mau nerusin peruntukkan yang udah gue buat atau mau ngikutin rekomendasi  dia, jadi nggak ada yang bersifat wajib. karena gue sadar diri jam terbang browsing gue gak bisa disandingkan dengan jam terbang si FP menangani real clients, jadi gue nurut pisan deh.
- membahas teknis implementasi rencana keuangan. karena gue udah punya rekening Commbank, jadi tinggal meneruskan cara pembelian reksadana sekarang. kalau mau diserahkan kepada Client Representative Officer (CRO) juga bisa, tergantung bagaimana nyamannya kita. selain itu adit juga menanyakan gimana bentuk 'pelaporan' hasil investasi kita nantinya, sudah sejauh mana mencapai tujuan dan sebagainya.

weekend kemarin, kita mencoba mereview kebiasaan kita yang baik apalagi yang jelek menyangkut duit. kita sadari 'kelemahan' terbesar kita adalah pada tahap penerapan budgeting: gak bisa menerapkan budgeting seindah konsepnya. akhirnya kita coba list down apa aja pengeluaran 'dadakan' yang sering kita buat, dan menyusun aliran uang yang paling nyaman tapi juga 'membatasi' supaya kita punya rem. karena kita sadari, service dari QM ini membantu dalam hal pencapaian tujuan finansial, wujudnya adalah rekomendasi produk. tapi kalau untuk penerapan budgeting, kembali ke diri sendiri bisa disiplin atau nggak, mau mengubah gaya hidup atau gak.

setelah gue dan adit berdiskusi, pos pengeluaran kita akan terdiri dari:
1. dompet di rumah (untuk hal-hal yang sifatnya bulanan dan rutin)
2. dompet di kantor/rekening payroll masing-masing (untuk lunch)
3. dompet di mobil (because we literally spend 5 to 8 hours a day on the road. jadi ini untuk kebutuhan selama kita di jalan: makan, parkir, tol)
4. rekening kesehatan (untuk membayar jasa kesehatan di luar coverage asuransi dari kantor)
5. rekening belanja bulanan dan mingguan
6. rekening reimburse (untuk bayar credit card)
7. rekening dana darurat
8. rekening belanja tersier (sifatnya akumulatif, jadi kalau jatah bulan ini gak dipakai, bulan depan jatah belanjanya lebih besar. selama ini sih gue belum pernah berhasil mengakumulasi :|)
9. rekening commbank untuk 'belanja' reksadana.

banyak yah. salah satu faedah pasangan bekerja di bank adalah keribetan pembukaan rekening bisa diminimalisir. selain itu, akses ke atm juga gampang, mau pecahan 20, 50, 100 ribu, sampai untuk cash depositpun ada. adit tinggal turun ke lobby kantornya doang, hehe. trus gak semua rekening itu rutin diisi setiap bulan (misalnya rekening belanja tersier *sigh*) karena emang jatah bulanannya gak selalu ada x) yang penting posnya udah ada supaya gak tercampur dengan jatah pengeluaran yang lain. gue pernah baca twit seorang FP (a famous one, but can't remember which one), "air untuk minum ya jangan dicampur sama air buat mandi."
begitulah, semoga bisa memberi gambaran bagi anda yang tertarik menggunakan jasa FP *winks at Nisha* :D

school search

weekend kemarin, gue membawa adit dan bumy melihat-lihat (yang diharapkan salah satunya nanti menjadi) sekolah bumy.  gue nggak punya target spesifik sekolah mana aja yang mau dilihat, karena gue nggak terlalu updated mengenai sekolah, terutama preschool, di lingkungan tempat tinggal gue. selain karena perkembangan jumlah preschool yang pesat di wilayah pinggiran seperti karawaci, gue juga belum punya waktu (ceileh) untuk secara khusus 'survey' sekolah.
lagi-lagi berkaitan urusan financial planning, sejak pertemuan pertama di QM, gue dan adit udah diajak berkhayal ingin menyekolahkan bumy di mana. saat itu, karena blank, kita main tunjuk aja sekolah swasta yang jaraknya paling dekat dari rumah. kenapa sekolah swasta yang menjadi acuan udah gue paparkan di posting mengenai "first meeting with my planner." jadi yaa mengikuti 'naluri asal sebut' seperti yang kita lakukan di QM, kemarin kita meluncur menuju sekolah swasta terdekat tersebut dan lalu ke BSD untuk lihat-lihat Al-Azhar.

sekolah swasta terdekat dari rumah gue dan cukup 'punya nama' adalah Islamic Village (selanjutnya gue singkat Isvil). pendidikannya berbasis islam, fasilitasnya lumayan (kolam renang, mesjid sendiri), jenjang pendidikan lengkap mulai dari playgroup sampai SMA, dan jenis kurikulumnya macem-macem, mulai dari yang standar nasional sampai internasional (dengan biaya yang berbeda-beda pula). emang dasar orangtua amatir, kita 'survey' sekolah di hari minggu aja gituh... jadi kita niatkan sejak berangkat dari rumah bahwa hari itu kita mau liat kondisi dan fasilitas sekolahnya aja, informasi detil kayak kurikulum, biaya, dan metode pengajaran bisa ditanyakan lewat telpon... atau pada survey berikutnya :P

di Isvil ini, nggak ada pihak yang bisa ditanya seputar urusan administrasi (wajar sih), tapi di Al-Azhar BSD, satpam dan petugas parkirnya tau loh usia minimal masuk playgroupnya, yaitu 2 tahun 8 bulan. di masing-masing sekolah, kita diijinikan masuk ke lingkungan sekolah dan lihat ruangan kelasnya (dari luar, karena dikunci, neik). di Al-Azhar, jenjang pendidikannya juga lengkap, dari PG sampai SMA. ada kantin di dalam lingkungan sekolah, yang menurut info ibu-ibu kantor yang anaknya sekolah di situ, berada di bawah supervisi sekolah. jadi nggak neko-neko pakai pewarna tekstil dan formalin segala, insya Allah.

saat berjalan di lorong sekolah Al-Azhar, gue dan bubi ngobrol,
B: "dari dulu aku selalu berkhayal loh gimana ya rasanya sekolah di tempat yang bagus."
R: "aku juga gak tau gimana rasanya. dari SD sampe SMA di sekolah negri terus. malah kuliah di swasta! kebalik yah, harusnya SD-SMA di swasta, kuliahnya negri."
B: "semoga bumy bisa ya kayak gitu."
ihik, jadi merasa sebagai orangtua sebenar-benarnya kalau udah mikirin sekolah anak (selama ini kan weekend parents semata :P) . bukan cuma biayanya aja yang perlu dipikirin, tapi juga visi misi kita dalam mendidik/pendidikan anak.

gue sempat baca di sini mengenai pendidikan anak. beliau pernah ikut seminar di mana para orangtua diminta membayangkan visi misinya tentang pendidikan anak sebelum memilih sekolah dan sebagainya.
visi adalah satu saja keinginan untuk anak kita sebelum kita menutup mata untuk selama-lamanya. sementara langkah-langkah yang akan kita lakukan demi tercapainya visi kita tadi disebut misi. nah kita juga harus tau mana yang ingin kita capai lebih dulu dari berbagai tujuan/visi misi tadi.

jujur gue tergiur banget setelah lihat sekolah-sekolah bagus kemarin. padahal belum juga mengeksplorasi kurikulum dan metode pengajarannya... tapi membayangkan anak gue pakai seragam sekolah itu, ngerasain sekolah di tempat bagus, aduhh guenya yang jadi merinding mupeng, hahaha.
tapi tentunya gue dan adit  harus kembali ke fokus utama kita, seperti yang udah dibilang di blog bu Indah tadi, kita harus menyusun visi dan misi dulu sebelum nantinya memilih sekolah. visi misi itu yang nantinya akan menjadi guidance kita dalam menyusun skala prioritas dan pemilihan sekolah untuk bumy.

jam 3 subuh hari ini, gue terbangun karena bumy jatuh dari tempat tidur (!!!). setelah menenangkan bumy, dan puas mengutuk diri "bad mommy! bad!!" gue nggak langsung bisa tidur dan malah jadi mencoba menyusun "visi" gue terhadap bumy.
kalau gue diminta 'memilih' harapan gue akan bumy, akan menjadi anak yang bagaimana dia nantinya, gue ingin dia:
- soleh. wellofkorrrs lah ya... semoga bisa menjadi investasi dunia akherat.
- mandiri
- have a "can-do" attitude
- penuh cinta kasih terhadap sesama dan lingkungan
- knows what he wants from life.

selanjutnya mengenai sekolah yang gue pikir akan membantu mewujudkan visi tadi, gue membayangkan sekolah yang:
- memberikan dasar pengetahuan agama
- memberikan stimulasi sesuai milestone anak
- mengajarkan anak untuk 'survive' di dunia orang dewasa (memberikan basic life skills, tata krama, how to operate tools found in house, on the street, and familiar places the kid goes to).
faktor-faktor lain semacam fasilitas pendukung belajar, kualitas guru, lokasi, dan tentunya biaya, juga menentukan pilihan kita nantinya. semoga aja berjodoh dengan yang paling tepat. kita sendiri berencana menyekolahkan bumy di PG ketika usianya 3 tahun, jadi kita masih punya kesempatan untuk survey dan menimbang-nimbang. untuk saat ini, gue tertarik masukin bumy ke Rumah Main Cikal (RMC) karena di situ disediakan program tertentu sesuai kebutuhan perkembangan anak. gue berniat mengikutkan doi ke program Early Talkers & I Can Do It Myself, karena perbendaharaan kata anak gue (yang bisa dimengerti) masih limited banget ey. namun karena RMC jaooh aje dari rumah, pilihan lainnya mungkin ke Gymboree yang kabarnya akan dibuka di Lippo Karawaci. lumayanlah paling nggak bisa menyuplai kebutuhan anak gue untuk lari-lari dan jumpalitan, selain itu dia juga haus teman sepermainan hehe, jadi bisa dimanfaatkan untuk sarana bumy bersosialisasi juga.

secret wish: semoga sebelum bumy berusia 3 tahun, kita punya rejeki buat naro bumy di daycare yang memberikan pendidikan montessori selain untuk tempat makan, mandi dan tidur. atau kalau mau lebih ngelunjak, semoga by the time bumy reaches 3 years old, gue udah bisa resign (jengjeng!!) dan bisa memberikan supervisi maupun pendalaman materi tanpa batasan waktu. dream big, right?!

05/07/2011

hotel, food, and everything nice.

gue membeberkan cerita secara runut hari per hari, jadi bagian berikutnya adalah tentang yang terjadi di jumat malam lantas weekend.
seperti yang gue sebutkan di post sebelumnya, gue dan adit semacam sepakat bahwa kita membutuhkan refreshing. setelah kita menilik agenda weekend, ternyata ada janji ke dokter gigi di smile centre plus 2 undangan pernikahan di hari sabtu, dan 1 undangan sunat di hari minggu (yang sunat saudara, dan bapaknya adit juga menitahkan dia dateng, jadi yaa...). adit ngajak nginep di sari pan pacific LAGI, karena lokasinya di tengah kota, dan we're familiar with the place. familiar di sini maksudnya udah tau kamarnya gimana, fasilitasnya apa aja.
to be honest, i wasn't too excited, badan udah tambah drop karena flu. tapi gue setuju aja, karena akan menghemat waktu, tenaga, dan bensin untuk bolak-balik ke jakarta. Bumy juga bisa ngerasain suasana baru di hotel. jumat malam jam 8, gue sms the infamous Mamma Kanin untuk pesan baby meals mendadak. alhamdulillah respon mbak Inta the owner bagus banget, dia menyanggupi request gue untuk ambil ordernya jam 11 pagi. gue juga konsultasi sama dia, makanan apa yang paling praktis dalam hal penyimpanan dan penghangatan mengingat we would be on the road most of the time. akhirnya gue pesan small macaroni schotel dan small indonesich pastei (kalo gak salah), plus the infamous cheese bliss cookies juga dunks.
besoknya, kita mulai siap-siap packing jam 8 pagi, dan baru beres jam 10 lewat! gue udah deg-degan karena nggak enak kalo telat ambil order di mamma kanin :( padahal kemaren buat requestnya buru-buru dan mendadak pula. setelah menempuh perjalanan yang riweuh dan macet sepanjang serpong, akhirnya sampai juga di rumah mbak Inta di bintaro jam 11:30. dari bintaro, kita meluncur menuju PTIK untuk menghadiri kondangan #1. tapi pas lagi mengantri di kemacetan tanah kusir, tiba-tiba adit bilang, "beb mesin panas, nih. aku minggir dulu ya." panik juga sih gue, agak trauma sama kejadian mesin panas (apa sih yang gak bikin gue trauma??). untung kita bisa berhenti pas di toko ban, jadi adit bisa masukin mobil ke parkiran toko itu, gue dan Bumy juga bisa turun trus numpang ngadem di ruang tunggu toko. pas keluar dari mobil, ya ampuuun udara panas bangetttt... gue bingung juga kenapa mesin mobil bisa tau-tau panas. sebelumnya 'ni mobil nggak pernah bermasalah kayak gitu. tapi karena bisa ngadem di ruang tunggu, gue bisa tenang karena bisa sambil nyuapin Bumy. Bumy lari-lari dengan riang di situ karena banyak benda-benda aneh di mata dia: display ban, kap mobil, dan tv guede.

setelah sekitar 30 menit di situ, kita jalan lagi. ketika di radal, gue liat waktu udah jam 12:45. sementara undangan cuma sampe jam 1. kita pikir-pikir, daripada nanti sampai di gedung acaranya udah bubar, sementara itu kita juga udah kelaperan tapi malah susah lagi cari makanan (yaddayadda), kita putuskan untuk melipir aja ke Hema dan yakk batal dateng ke kondangan #1.
dulu waktu pacaran kita lumayan sering nongkrong di sini. entah kenapa dulu gue pikir makanan di sini enak-enak, hahaha. last time we went there was when i was 30-something-week pregnant, with bloated body and pimples and everything. kemaren ke sana lagi udah bawa anak! :D
di situ kita pesan nasi goreng ala hema (adit), sup dengan puff pastry (asli gue blank ini namanya apa), lasagna, dan minuman float. floatnya terlalu manis sampe gak bisa gue habisin >_< lasagna-nya terlalu encer, seperti buat makanan bayi, tapi baby meals dari mamma kanin aja masih kalah encer dibanding ini! total damage IDR 120.000. quite pricey yah untuk makanan dengan kualitas dan kuantitas yang cuma segitu.
dari Hema, kita capcus ke Sarpas untuk check in. jam 2 siang check in, jam 2:30 harus udah jalan lageee ke Smile Centre di Tebet. hayahhh gue males banget sebenernya... lagi ngantukkk, dan gue juga selalu berat hati sih menyambangi dokter gigi, secara akan bertemu rasa ngilu sakit nyeri. huffh. urusan di Smile Centre selesai jam 4:30. Bumy seneng banget main di play corner mini di situ, sampe gak mau diajak pulang. kita bilang, "mi pulang yuk!" eh dia malah kisbai dan dadah-dadah ke kita. emang nyaman banget deh buat tempat main anak, sayang sekali kita gak foto. jadi lantainya dikasih parket trus dilapisi karpet evamat dan bantal-bantal duduk gitu. di situ dihamburkanlah segala macem mainan untuk anak dan buku-buku bacaan. sederhana sebenernya, tapi cukup nyaman buat anak-anak.

kondangan #2 diadakan malem jam 7 di al-azhar kebayoran. jam 5 sore kita udah tiba lagi di hotel. niatnya mau leyeh-leyeh sebentar, tapi kok... ngantuk tenan ya! satu jam kemudian, perut mulai laper, jadi kita putuskan turun ke sarinah to get some food. dan yakkk kondangan #2 juga batal dihadiri because we were too sleepy, too tired, and too hungry to dress up and put some make up, huhu. jadi kita jalan-jalan maghrib dehh di sarinah. pilih-pilih tempat makan, whether it's gonna be BK, hongkong cafe, or GM, maybe. saat lagi menyusuri sarinah, gue tiba-tiba inget, "kenapa gak Demang (cafe) aja bi? kalau sabtu minggu kan diskon 50% pake CC mandiri?" sempat ragu juga masih berlaku gak yah diskon tersebut, tapi begitu kita cek ternyata masih... hihiy.
di Demang, ternyata suasana masih kosong melompong, jadi kita bisa dapet seat di sofa 'utama' hehe. it was as cozy as i remembered, bossa nova songs covering the beatles were played on the speakers as we sipped our latte :) jadi sekarang kalau kita order kopi dari jam 3-7 pm (kalo gak salah) kita bisa ambil snack di buffet yang terhidang, for free! snack yang disajikan tuh bolu mini, cake mini, lemper, dan lain-lain.
kita order nasi sop buntut goreng (adit) dan nasi goreng ala demang (gue). promo CC mandiri-nya ternyata udah gak berlaku untuk semua makanan, tapi cuma untuk makanan yang bertanda khusus aja. kalau diperhatiin sih yang didiskon 50% itu makanan yang harganya di atas 50 ribu semua, jadi yah cukup worth the discount lah. total damage eating there was IDR 99.000. not bad for food served in quite big portion, cozy ambience, and long hour visit. kita nongkrong di situ cukup lama, sekitar 2 jam. alhamdulillah Bumy juga kooperatif, dia jumpalitan aja di sofa yang emang besar dan sibuk ngaca-ngaca.
 

jam 8 malam kita kembali ke hotel. my flu seemed to get worse... so i put my sweater on, hid myself inside the big hotel blanket, and turned the tv on to watch Big Brother Malam Ekstradisi, haha. sementara kita asik nonton tv, Bumy sibukkk mengeksplorasi kamar hotel dan ngacak-buang-lalu-temukan barang-barang di hotel -___- adit sempat ngajak Bumy berendam dulu di bathtub karena itu adalah tujuan utama kita menginap, yaitu biar anak ngerasain bathtub, huahaha. jam 10 malam, kita matikan lampu, dan tiduuuuur sampai jam 7 pagi :D
sebenernya gue sendiri baru bisa tidur jam 12 malem. nyesel juga sih kelupaan beli panadol, karena badan gue masih demam semriwing-semriwing. tapi yang bikin nggak bisa gampang tidur adalah karena mikirin urusan kantor. all the devils inside my head. adit yang tadinya tidur gue gangguin supaya mendengarkan eike curhat. pemikiran yang seliweran di kepala gue saat itu adalah kalo emang rejeki gue dari kantor sekarang harus berhenti, i shouldn't worry, karena sumber rejeki gak cuma dari situ. gue bisa lihat 'preview' diri gue sepuluh tahun dari sekarang di diri rekan-rekan kerja gue. mereka udah berusia lebih dari 40 tahun, 'terjebak' di perusahaan ini karena udah kadung didomestikasi (ini istilah yang gue pakai untuk menjelaskan proses 'penanaman' seseorang di zona nyaman), mereka kayak hewan yang udah puluhan tahun dipelihara oleh manusia, sehingga gak akan berani melangkah keluar jika dilepas ke alam bebas untuk berburu makanan sendiri. mereka mungkin kecewa terhadap sistem yang ada sekarang, atau minimal kesel sama bos yang semena-mena, kayak gue sekarang, tapi gak ada yang bisa mereka lakukan cuz they don't have the guts to change anything in their working environment. kalaupun udah diperlakukan semena-mena, mereka gak bisa just walk out and give everything up. mereka gak tau dunia luar, alam kerja non-BUMN, seperti apa. mereka takut akan kompetisi.
cara berpikir para rekan kerja berumur yang gue gambarkan ini
bukan sekedar hasil kesoktauan. gue hidup di antara mereka selama 3 tahun. dan gue sadar pelan-pelan gue mulai bertransformasi dalam hal pola pikir menjadi terdomestikasi seperti mereka. gue males melanjutkan sekolah. gue berpikir this is my last stop in terms of job searching. gue gak mau ribet-ribet menambah kompetensi. karena gue pikir this is it, the comfort zone: gaji rutin diterima tanpa perlu bikin achievement yang berarti.
tapi kejadian menyebalkan ini should be my wake-up call. gue harus mulai (minimal) open-minded menjajaki kemungkinan-kemungkinan baru. ke mana sih tujuan gue? apa gue mau meniti karir yang mengoptimalkan kompetensi gue? apa gue mau menjajaki dunia enterpreneurship? apa apa apa? this is my homework.

in the morning, kita berendam di bathtub lagi, trus turun untuk sarapan. tapi ada hal yang kurang mengenakkan ketika mau sarapan. di depan restoran, kita dikasih tau petugas hotel kalau ternyata jatah breakfast cuma untuk 1 orang! adit buru-buru ke counter check in, untuk nanyain apakah jatah itu karena adit pake company discount. ternyata bukan, emang peraturannya sekarang seperti itu, breakfast hanya untuk 1 orang. boo!! akhirnya kita pilih bayar deh untuk 'tambahan'nya, daripada ribet.
selesai sarapan jam 10, kita liat-liat ke kolam renang. ternyata rame banget, dan matahari juga terik banget. jadi terpaksa agenda berenang-renang dibatalkan, Bumy diajak berendam lagi di bathtub biar gak kecewa :p
jam 12 siang, kita menuju ke Bekasi untuk menghadiri undangan sunat saudaranya adit. di sana Bumy seneng banget ngumpul sama sodara-sodaranya, padahal yang paling kecil usianya udah 5 tahun. lagi-lagi dia gak mau diajak pulang, asik banget main sama kakak-kakak umur 10 tahunan. dari bekasi jam 2 siang, sepanjang jalan Bumy tidur anteng di carseat. lantas kita menunaikan misi lain on the weekend yaitu menghadiri Kawan Lama Fair di Meruya. btw sebelum sampe di KL Fair, kita makan dulu di Sandwich Bakar meruya because i was craving for some roti bakar in the afternoon (yes i eat breakfast dish at all time). ternyata hidangannya enak-enak eyy di situ! gue pesan roti bakar coklat keju regular size, bubur kacang ijo, dan wedang jahe. burjonya gak standar, lumayan enak dan 'beda' buat ukuran tempat makan pinggir jalan. rotinya juga enak, mirip-mirip edy. total damage IDR 30.000 saja.

di KL Fair, ternyata udah rame tapi masih nyaman sih buat outdoor shopping fair, masih bisa sambil dorong-dorong stroller Bumy. pas banget juga kita sampai sore, jadi udara udah adem. tujuan utama sebenernya nyari sofa, tapi gak ada yang cucok ey. instead of sofa, we bought pillows (IDR 100.000 dapat 2 bantal informa), pillow cases (IDR 89.000 dapat 4 sprei bantal!), a small wooden chair for Bumy (IDR 100.000), and a small bolster for Bumy (IDR 25.000). i found the fair fun, and quite satisfying :D
from there, we finally headed home. well, not to our house actually, but to my mother's. selain karena sang oma udah rewel bilang kangen sama si cucu, di situ kita juga bisa ngaso hehe, ada yang nyuapin Bumy, ngeladenin dia lari ke sana ke mari. dan tentunya, free dinner for us!

the next blog post will be about what happened on monday. oh gawd my heart felt better already just to write about the weekend holiday :D

21/06/2011

dream big they say

after yet another late-night pillowtalk/discussion, and days spent at the hospital, we made/will make some adjustments:

1. ok, so we do need a maid. in this case, it's pembantu yang menginap. but for this, we'll try our luck after lebaran holiday, mencoba nitip sama saudara atau kenalan yang mudik. siapa tau kami bisa beruntung seperti dahulu saat 'mendapatkan' si yuli-ART nan lempeng klemar klemer tapi rajin dan tahan banting (walau akhirnya doi nyerah juga karena di-overeksploitasi tenaganya di rumah nyokap... hadehh).
sementara pada masa sebelum lebaran dan tentunya saat ramadhan nanti, we think we better...
2. langganan katering untuk makanan rumah.
nggak enak ati juga tiap hari numpang makan di rumah nyokap. nuff said.
3. jadi klien QM... huhuy.
we have high hopes for this... wajarlah yaa mengingat fee-nya juga nggak kecil untuk ukuran kondisi finansial kami. setahun belakangan gue emang udah mencoba buat rencana keuangan sederhana, meliputi dana pendidikan, pensiun, darurat. tapi gue masih puyeng menentukan produk asuransi yang tepat. kadang gue bisa mengalokasikan waktu untuk survey secara intensif, tapi lantas mentok di faktor harga, atau review yang kurang oke dari orang-orang/internet. akhirnya pencarianpun dimulai dari nol lagi... dan begituu terus. to be honest, dana kami terbatas banget bow untuk beli asuransi dalam karung (apa pula), dan kans untuk 'salah pilih' sepertinya cukup besar mengingat pengetahuan yang minim seputar produk asuransi. karena faktor-faktor itu, gue jadi merasa fee yang ditetapkan QM reasonable banget karena mereka punya product knowledge dan recommendation that could save us from all the hassle.
selain itu, belakangan ini gue jadi kurang bersemangat investasi di reksadana... malah jadi melirik emas sebagai instrumen investasi karena 'berwujud'. sibuk browsing sana sini, denger ini itu, malah jadi pusing sendiri. yasudahlah gue serahkan sahaja pada yang ahli kalau begitu.
ohya satu lagi alasan yang cukup kuat adalah supaya cashflow bulanan kita jadi lebih tertata. sekarang ini cashflow bulanan cuma 'indah' di bagian budgeting aja... begitu masuk ke realisasi, hhhh masih suka membengkak di pos-pos tertentu. sementara itu cashflow tahunan juga masih kurang tertib penggunaannya (baca: sering kalah sama godaan hantu konsumerisme, wekekek). kita ingin duit yang sudah di-earn dengan susah payah (plus ningggalin anak 12-13 jam sehari untuk gue!) bisa optimal pemanfaatannya. hidup di jakarta bikin gampang sutrisss (i know many people out there are with me on this), pelariannya jadi ke belanja-belanji gak jelas deh untuk menambal 'lubang' di hati :( eh agak melantur ya eike.
4. nggak jadi pindah rumah. akhirnya kita sadar, eling seeling-elingnya setelah berembuk di malam-malam nan panjang, huahaha. rumah kita sekarang bisa dibilang kurang 'nyaman' karena adanya kekurangan a sampai z... tapi it's the best we can afford for now. fokus kita sekarang ada di empat basic financial goals tadi, semoga urusan rumah-whether pindah ke lokasi baru atau renovasi-bisa dilaksanakan setelah ada perbaikan kondisi finansial (promosi! bigger salary! amin :D).
5. realistis mengenai budget pendidikan Bumy, masukin angkanya nggak muluk-muluk, kita pakai acuan menyekolahkan Bumy di tempat yang we can really afford. saat ikut talkshow QM di plaza BII tempo hari, Fitri, the speaker which is also a planner (yahiyalah), said somethin like "jangan digeber nyekolahin anak di playgroup, TK, dan SD international, ehh ujung-ujungnya pas kuliah S1 mampunya jadi cuma di ciamis (with all due respect to any ciamis universities-red)."
pastinyaaa gue sebagai orangtua punya gambaran ideal mau menyekolahkan anak di tempat yang paling bagus menurut gue, dan jujur gue rasa tuntutan itu berkaitan juga dengan status gue sebagai ibu yang away from her child most of the time, it becomes somekind of compensation. tapi begitu mendengar kata-kata dari Fitri itu, mata (hati) gue jadi terbuka lebaaar. Fitri menceritakan pengalaman dia sendiri saat hunting PG dan TK, dia dan suaminya nemu sekolah yang ideal banget, tapi uang pangkal dan bulanannya gede banget buat mereka. Fitri menolak gagasan nyekolahin di PG tersebut dengan alasan "kita aja orang dewasa kalo udah biasa naik taksi trus tiba-tiba naik bis lagi kan suka males ya bo," maksudnya kalau ternyata anaknya udah nyaman sekolah di PG tersebut trus nantinya terpaksa pindah karena orangtuanya nggak afford biaya sekolah di situ, kan kasian. sementara suaminya berpendapat "kita trial aja dulu di situ 3 bulan." akhirnya jadilah anak mereka trial dulu di PG ideal tersebut. begitu masa trial berakhir dan anaknya harus bersekolah di PG yang 'humble,' anaknya protes "aku maunya di sekolah yang ituuu, yang ada flying foxnya, ininya itunyaaa." huhu gimanaa gitu ya dengernya sebagai orangtua :|
jadi, setelah gue dan adit menilai secara objektif kemampuan kita dalam hal dana pendidikan, selain berpijak pada pemikiran "tiap anak ada rejekinya," kita juga mencoba REALISTIS kalau faktor sekolah anak bukan cuma ada di uang pangkal dan bulanan semata. tapi juga di faktor kualitas pendidikan dan gaya hidup si anak di sekolah itu nantinya.
jadi untuk sekarang, kita aiming sekolah Bumy-in terms of dana pendidikan-di sekolah negri sahaja, tempat sekolah gue dan adik-adik gue yang nggak kacrut ah perasaan, haha. of course we still want to aim for "the best," tapi seperti yang tadi gue bilang, in terms of dana pendidikan, karena goals kita bukan cuma sebatas nyekolahin anak (not that its value is undermined), untuk saat ini, we have to be reallistic :D *nyengir*


dan yah, sebenarnya kesadaran ini diperlukan terutama oleh gue. adit selama ini udah berusaha membuka mata eike dengan cara yang sangat khas orang jawa, hahaha, haluuuusss dan implisit. i've been forcing US too hard in this financial thingy... maunya 'nyaman' tapi kok dengan cara yang nggak bikin nyaman, salah kan. jadi kalau bisa disimpulkan, kali ini gue mencoba menerapkan sarannya Suze Orman, yaitu "to live within our means" bukannya beyond, baik dalam hal spending maupun investing.
oh well!