kamis lalu, gue dan adit ketemu lagi dengan financial planner (FP) kami. setelah melalui traffic yang amit-amit, dari thamrin ke mega kuningan 2,5 jam sahaja T__T akhirnya sampe juga kita di kantor QM. untungnya FP kami yang baik hati mau menunggu kita ngaret 1,5 jam dari janji, dan meladeni pertemuan sampai jam 9 malam.
ringkasan meeting kemarin:
- FP memberikan rencana keuangan kami yang hampir 'matang.' kita dikasih tau angka investasi bulanan dan tahunan kita. melihat angka investasi bulanan, respon kita: senyum dikulum. saat melihat angka investasi tahunan, respon kita: "emang kita afford segitu, mbak??" panik mode on ceritanya. FP bilang, angka yang diberikan ini menjadi acuan kita dalam menyisihkan yearly income. mekanisme investasinya nggak harus sekaligus, bertahap juga bisa. misalnya dapat yearly income 5 juta, sementara ada 5 pos tujuan keuangan yang perlu diisi. kita bagi-bagi aja untuk tiap pos jadi masing-masing dapat 1 juta. atau bisa juga kita penuhi dulu angka kebutuhan di satu pos tertentu.
- sementara ini yang perlu asuransi jiwa adit aja, karena peran doi sebagai pemberi nafkah utama.
- review produk reksadana yang sudah kita miliki. alhamdulillah, dari 8 produk yang udah gue pilih, semuanya masuk ke rekomendasi reksadana QM. gak sia-sia gue melototin thread reksadana di FD huahahha, emang mantap rekomendasi para suhu di situ :P
jadi, investasi terhadap produk-produk itu bisa dilanjutin, cuma peruntukkannya aja yang berubah. kalau tadinya produk reksadana A untuk tujuan Y, berdasarkan rekomendasi sang FP, peruntukkannya berubah jadi untuk tujuan X. FP membuat rekomendasi disesuaikan dengan jenis tujuan kita, apakah itu dana darurat, dana pensiun, atau dana pendidikan. FP kita memberikan pilihan sih, mau nerusin peruntukkan yang udah gue buat atau mau ngikutin rekomendasi dia, jadi nggak ada yang bersifat wajib. karena gue sadar diri jam terbang browsing gue gak bisa disandingkan dengan jam terbang si FP menangani real clients, jadi gue nurut pisan deh.
- membahas teknis implementasi rencana keuangan. karena gue udah punya rekening Commbank, jadi tinggal meneruskan cara pembelian reksadana sekarang. kalau mau diserahkan kepada Client Representative Officer (CRO) juga bisa, tergantung bagaimana nyamannya kita. selain itu adit juga menanyakan gimana bentuk 'pelaporan' hasil investasi kita nantinya, sudah sejauh mana mencapai tujuan dan sebagainya.
weekend kemarin, kita mencoba mereview kebiasaan kita yang baik apalagi yang jelek menyangkut duit. kita sadari 'kelemahan' terbesar kita adalah pada tahap penerapan budgeting: gak bisa menerapkan budgeting seindah konsepnya. akhirnya kita coba list down apa aja pengeluaran 'dadakan' yang sering kita buat, dan menyusun aliran uang yang paling nyaman tapi juga 'membatasi' supaya kita punya rem. karena kita sadari, service dari QM ini membantu dalam hal pencapaian tujuan finansial, wujudnya adalah rekomendasi produk. tapi kalau untuk penerapan budgeting, kembali ke diri sendiri bisa disiplin atau nggak, mau mengubah gaya hidup atau gak.
setelah gue dan adit berdiskusi, pos pengeluaran kita akan terdiri dari:
1. dompet di rumah (untuk hal-hal yang sifatnya bulanan dan rutin)
2. dompet di kantor/rekening payroll masing-masing (untuk lunch)
3. dompet di mobil (because we literally spend 5 to 8 hours a day on the road. jadi ini untuk kebutuhan selama kita di jalan: makan, parkir, tol)
4. rekening kesehatan (untuk membayar jasa kesehatan di luar coverage asuransi dari kantor)
5. rekening belanja bulanan dan mingguan
6. rekening reimburse (untuk bayar credit card)
7. rekening dana darurat
8. rekening belanja tersier (sifatnya akumulatif, jadi kalau jatah bulan ini gak dipakai, bulan depan jatah belanjanya lebih besar. selama ini sih gue belum pernah berhasil mengakumulasi :|)
9. rekening commbank untuk 'belanja' reksadana.
banyak yah. salah satu faedah pasangan bekerja di bank adalah keribetan pembukaan rekening bisa diminimalisir. selain itu, akses ke atm juga gampang, mau pecahan 20, 50, 100 ribu, sampai untuk cash depositpun ada. adit tinggal turun ke lobby kantornya doang, hehe. trus gak semua rekening itu rutin diisi setiap bulan (misalnya rekening belanja tersier *sigh*) karena emang jatah bulanannya gak selalu ada x) yang penting posnya udah ada supaya gak tercampur dengan jatah pengeluaran yang lain. gue pernah baca twit seorang FP (a famous one, but can't remember which one), "air untuk minum ya jangan dicampur sama air buat mandi."
begitulah, semoga bisa memberi gambaran bagi anda yang tertarik menggunakan jasa FP *winks at Nisha* :D
weekend kemarin, gue membawa adit dan bumy melihat-lihat (yang diharapkan salah satunya nanti menjadi) sekolah bumy. gue nggak punya target spesifik sekolah mana aja yang mau dilihat, karena gue nggak terlalu updated mengenai sekolah, terutama preschool, di lingkungan tempat tinggal gue. selain karena perkembangan jumlah preschool yang pesat di wilayah pinggiran seperti karawaci, gue juga belum punya waktu (ceileh) untuk secara khusus 'survey' sekolah.
lagi-lagi berkaitan urusan financial planning, sejak pertemuan pertama di QM, gue dan adit udah diajak berkhayal ingin menyekolahkan bumy di mana. saat itu, karena blank, kita main tunjuk aja sekolah swasta yang jaraknya paling dekat dari rumah. kenapa sekolah swasta yang menjadi acuan udah gue paparkan di posting mengenai "first meeting with my planner." jadi yaa mengikuti 'naluri asal sebut' seperti yang kita lakukan di QM, kemarin kita meluncur menuju sekolah swasta terdekat tersebut dan lalu ke BSD untuk lihat-lihat Al-Azhar.
sekolah swasta terdekat dari rumah gue dan cukup 'punya nama' adalah Islamic Village (selanjutnya gue singkat Isvil). pendidikannya berbasis islam, fasilitasnya lumayan (kolam renang, mesjid sendiri), jenjang pendidikan lengkap mulai dari playgroup sampai SMA, dan jenis kurikulumnya macem-macem, mulai dari yang standar nasional sampai internasional (dengan biaya yang berbeda-beda pula). emang dasar orangtua amatir, kita 'survey' sekolah di hari minggu aja gituh... jadi kita niatkan sejak berangkat dari rumah bahwa hari itu kita mau liat kondisi dan fasilitas sekolahnya aja, informasi detil kayak kurikulum, biaya, dan metode pengajaran bisa ditanyakan lewat telpon... atau pada survey berikutnya :P
di Isvil ini, nggak ada pihak yang bisa ditanya seputar urusan administrasi (wajar sih), tapi di Al-Azhar BSD, satpam dan petugas parkirnya tau loh usia minimal masuk playgroupnya, yaitu 2 tahun 8 bulan. di masing-masing sekolah, kita diijinikan masuk ke lingkungan sekolah dan lihat ruangan kelasnya (dari luar, karena dikunci, neik). di Al-Azhar, jenjang pendidikannya juga lengkap, dari PG sampai SMA. ada kantin di dalam lingkungan sekolah, yang menurut info ibu-ibu kantor yang anaknya sekolah di situ, berada di bawah supervisi sekolah. jadi nggak neko-neko pakai pewarna tekstil dan formalin segala, insya Allah.
saat berjalan di lorong sekolah Al-Azhar, gue dan bubi ngobrol,
B: "dari dulu aku selalu berkhayal loh gimana ya rasanya sekolah di tempat yang bagus."
R: "aku juga gak tau gimana rasanya. dari SD sampe SMA di sekolah negri terus. malah kuliah di swasta! kebalik yah, harusnya SD-SMA di swasta, kuliahnya negri."
B: "semoga bumy bisa ya kayak gitu."
ihik, jadi merasa sebagai orangtua sebenar-benarnya kalau udah mikirin sekolah anak (selama ini kan weekend parents semata :P) . bukan cuma biayanya aja yang perlu dipikirin, tapi juga visi misi kita dalam mendidik/pendidikan anak.
gue sempat baca di sini mengenai pendidikan anak. beliau pernah ikut seminar di mana para orangtua diminta membayangkan visi misinya tentang pendidikan anak sebelum memilih sekolah dan sebagainya.
visi adalah satu saja keinginan untuk anak kita sebelum kita menutup mata untuk selama-lamanya. sementara langkah-langkah yang akan kita lakukan demi tercapainya visi kita tadi disebut misi. nah kita juga harus tau mana yang ingin kita capai lebih dulu dari berbagai tujuan/visi misi tadi.
jujur gue tergiur banget setelah lihat sekolah-sekolah bagus kemarin. padahal belum juga mengeksplorasi kurikulum dan metode pengajarannya... tapi membayangkan anak gue pakai seragam sekolah itu, ngerasain sekolah di tempat bagus, aduhh guenya yang jadi merinding mupeng, hahaha.
tapi tentunya gue dan adit harus kembali ke fokus utama kita, seperti yang udah dibilang di blog bu Indah tadi, kita harus menyusun visi dan misi dulu sebelum nantinya memilih sekolah. visi misi itu yang nantinya akan menjadi guidance kita dalam menyusun skala prioritas dan pemilihan sekolah untuk bumy.
jam 3 subuh hari ini, gue terbangun karena bumy jatuh dari tempat tidur (!!!). setelah menenangkan bumy, dan puas mengutuk diri "bad mommy! bad!!" gue nggak langsung bisa tidur dan malah jadi mencoba menyusun "visi" gue terhadap bumy.
kalau gue diminta 'memilih' harapan gue akan bumy, akan menjadi anak yang bagaimana dia nantinya, gue ingin dia:
- soleh. wellofkorrrs lah ya... semoga bisa menjadi investasi dunia akherat.
- mandiri
- have a "can-do" attitude
- penuh cinta kasih terhadap sesama dan lingkungan
- knows what he wants from life.
selanjutnya mengenai sekolah yang gue pikir akan membantu mewujudkan visi tadi, gue membayangkan sekolah yang:
- memberikan dasar pengetahuan agama
- memberikan stimulasi sesuai milestone anak
- mengajarkan anak untuk 'survive' di dunia orang dewasa (memberikan basic life skills, tata krama, how to operate tools found in house, on the street, and familiar places the kid goes to).
faktor-faktor lain semacam fasilitas pendukung belajar, kualitas guru, lokasi, dan tentunya biaya, juga menentukan pilihan kita nantinya. semoga aja berjodoh dengan yang paling tepat. kita sendiri berencana menyekolahkan bumy di PG ketika usianya 3 tahun, jadi kita masih punya kesempatan untuk survey dan menimbang-nimbang. untuk saat ini, gue tertarik masukin bumy ke Rumah Main Cikal (RMC) karena di situ disediakan program tertentu sesuai kebutuhan perkembangan anak. gue berniat mengikutkan doi ke program Early Talkers & I Can Do It Myself, karena perbendaharaan kata anak gue (yang bisa dimengerti) masih limited banget ey. namun karena RMC jaooh aje dari rumah, pilihan lainnya mungkin ke Gymboree yang kabarnya akan dibuka di Lippo Karawaci. lumayanlah paling nggak bisa menyuplai kebutuhan anak gue untuk lari-lari dan jumpalitan, selain itu dia juga haus teman sepermainan hehe, jadi bisa dimanfaatkan untuk sarana bumy bersosialisasi juga.
secret wish: semoga sebelum bumy berusia 3 tahun, kita punya rejeki buat naro bumy di daycare yang memberikan pendidikan montessori selain untuk tempat makan, mandi dan tidur. atau kalau mau lebih ngelunjak, semoga by the time bumy reaches 3 years old, gue udah bisa resign (jengjeng!!) dan bisa memberikan supervisi maupun pendalaman materi tanpa batasan waktu. dream big, right?!
gue membeberkan cerita secara runut hari per hari, jadi bagian berikutnya adalah tentang yang terjadi di jumat malam lantas weekend.
seperti yang gue sebutkan di post sebelumnya, gue dan adit semacam sepakat bahwa kita membutuhkan refreshing. setelah kita menilik agenda weekend, ternyata ada janji ke dokter gigi di smile centre plus 2 undangan pernikahan di hari sabtu, dan 1 undangan sunat di hari minggu (yang sunat saudara, dan bapaknya adit juga menitahkan dia dateng, jadi yaa...). adit ngajak nginep di sari pan pacific LAGI, karena lokasinya di tengah kota, dan we're familiar with the place. familiar di sini maksudnya udah tau kamarnya gimana, fasilitasnya apa aja.
to be honest, i wasn't too excited, badan udah tambah drop karena flu. tapi gue setuju aja, karena akan menghemat waktu, tenaga, dan bensin untuk bolak-balik ke jakarta. Bumy juga bisa ngerasain suasana baru di hotel. jumat malam jam 8, gue sms the infamous Mamma Kanin untuk pesan baby meals mendadak. alhamdulillah respon mbak Inta the owner bagus banget, dia menyanggupi request gue untuk ambil ordernya jam 11 pagi. gue juga konsultasi sama dia, makanan apa yang paling praktis dalam hal penyimpanan dan penghangatan mengingat we would be on the road most of the time. akhirnya gue pesan small macaroni schotel dan small indonesich pastei (kalo gak salah), plus the infamous cheese bliss cookies juga dunks.
besoknya, kita mulai siap-siap packing jam 8 pagi, dan baru beres jam 10 lewat! gue udah deg-degan karena nggak enak kalo telat ambil order di mamma kanin :( padahal kemaren buat requestnya buru-buru dan mendadak pula. setelah menempuh perjalanan yang riweuh dan macet sepanjang serpong, akhirnya sampai juga di rumah mbak Inta di bintaro jam 11:30.
dari bintaro, kita meluncur menuju PTIK untuk menghadiri kondangan #1. tapi pas lagi mengantri di kemacetan tanah kusir, tiba-tiba adit bilang, "beb mesin panas, nih. aku minggir dulu ya." panik juga sih gue, agak trauma sama kejadian mesin panas (apa sih yang gak bikin gue trauma??). untung kita bisa berhenti pas di toko ban, jadi adit bisa masukin mobil ke parkiran toko itu, gue dan Bumy juga bisa turun trus numpang ngadem di ruang tunggu toko. pas keluar dari mobil, ya ampuuun udara panas bangetttt... gue bingung juga kenapa mesin mobil bisa tau-tau panas. sebelumnya 'ni mobil nggak pernah bermasalah kayak gitu. tapi karena bisa ngadem di ruang tunggu, gue bisa tenang karena bisa sambil nyuapin Bumy. Bumy lari-lari dengan riang di situ karena banyak benda-benda aneh di mata dia: display ban, kap mobil, dan tv guede.
setelah sekitar 30 menit di situ, kita jalan lagi. ketika di radal, gue liat waktu udah jam 12:45. sementara undangan cuma sampe jam 1. kita pikir-pikir, daripada nanti sampai di gedung acaranya udah bubar, sementara itu kita juga udah kelaperan tapi malah susah lagi cari makanan (yaddayadda), kita putuskan untuk melipir aja ke Hema dan yakk batal dateng ke kondangan #1.
dulu waktu pacaran kita lumayan sering nongkrong di sini. entah kenapa dulu gue pikir makanan di sini enak-enak, hahaha. last time we went there was when i was 30-something-week pregnant, with bloated body and pimples and everything. kemaren ke sana lagi udah bawa anak! :D
di situ kita pesan nasi goreng ala hema (adit), sup dengan puff pastry (asli gue blank ini namanya apa), lasagna, dan minuman float. floatnya terlalu manis sampe gak bisa gue habisin >_< lasagna-nya terlalu encer, seperti buat makanan bayi, tapi baby meals dari mamma kanin aja masih kalah encer dibanding ini! total damage IDR 120.000. quite pricey yah untuk makanan dengan kualitas dan kuantitas yang cuma segitu.
dari Hema, kita capcus ke Sarpas untuk check in. jam 2 siang check in, jam 2:30 harus udah jalan lageee ke Smile Centre di Tebet. hayahhh gue males banget sebenernya... lagi ngantukkk, dan gue juga selalu berat hati sih menyambangi dokter gigi, secara akan bertemu rasa ngilu sakit nyeri. huffh. urusan di Smile Centre selesai jam 4:30. Bumy seneng banget main di play corner mini di situ, sampe gak mau diajak pulang. kita bilang, "mi pulang yuk!" eh dia malah kisbai dan dadah-dadah ke kita. emang nyaman banget deh buat tempat main anak, sayang sekali kita gak foto. jadi lantainya dikasih parket trus dilapisi karpet evamat dan bantal-bantal duduk gitu. di situ dihamburkanlah segala macem mainan untuk anak dan buku-buku bacaan. sederhana sebenernya, tapi cukup nyaman buat anak-anak.
kondangan #2 diadakan malem jam 7 di al-azhar kebayoran. jam 5 sore kita udah tiba lagi di hotel. niatnya mau leyeh-leyeh sebentar, tapi kok... ngantuk tenan ya! satu jam kemudian, perut mulai laper, jadi kita putuskan turun ke sarinah to get some food. dan yakkk kondangan #2 juga batal dihadiri because we were too sleepy, too tired, and too hungry to dress up and put some make up, huhu. jadi kita jalan-jalan maghrib dehh di sarinah. pilih-pilih tempat makan, whether it's gonna be BK, hongkong cafe, or GM, maybe. saat lagi menyusuri sarinah, gue tiba-tiba inget, "kenapa gak Demang (cafe) aja bi? kalau sabtu minggu kan diskon 50% pake CC mandiri?" sempat ragu juga masih berlaku gak yah diskon tersebut, tapi begitu kita cek ternyata masih... hihiy.
di Demang, ternyata suasana masih kosong melompong, jadi kita bisa dapet seat di sofa 'utama' hehe. it was as cozy as i remembered, bossa nova songs covering the beatles were played on the speakers as we sipped our latte :) jadi sekarang kalau kita order kopi dari jam 3-7 pm (kalo gak salah) kita bisa ambil snack di buffet yang terhidang, for free! snack yang disajikan tuh bolu mini, cake mini, lemper, dan lain-lain.
kita order nasi sop buntut goreng (adit) dan nasi goreng ala demang (gue). promo CC mandiri-nya ternyata udah gak berlaku untuk semua makanan, tapi cuma untuk makanan yang bertanda khusus aja. kalau diperhatiin sih yang didiskon 50% itu makanan yang harganya di atas 50 ribu semua, jadi yah cukup worth the discount lah. total damage eating there was IDR 99.000. not bad for food served in quite big portion, cozy ambience, and long hour visit. kita nongkrong di situ cukup lama, sekitar 2 jam. alhamdulillah Bumy juga kooperatif, dia jumpalitan aja di sofa yang emang besar dan sibuk ngaca-ngaca.
jam 8 malam kita kembali ke hotel. my flu seemed to get worse... so i put my sweater on, hid myself inside the big hotel blanket, and turned the tv on to watch Big Brother Malam Ekstradisi, haha. sementara kita asik nonton tv, Bumy sibukkk mengeksplorasi kamar hotel dan ngacak-buang-lalu-temukan barang-barang di hotel -___- adit sempat ngajak Bumy berendam dulu di bathtub karena itu adalah tujuan utama kita menginap, yaitu biar anak ngerasain bathtub, huahaha. jam 10 malam, kita matikan lampu, dan tiduuuuur sampai jam 7 pagi :D
sebenernya gue sendiri baru bisa tidur jam 12 malem. nyesel juga sih kelupaan beli panadol, karena badan gue masih demam semriwing-semriwing. tapi yang bikin nggak bisa gampang tidur adalah karena mikirin urusan kantor. all the devils inside my head. adit yang tadinya tidur gue gangguin supaya mendengarkan eike curhat. pemikiran yang seliweran di kepala gue saat itu adalah kalo emang rejeki gue dari kantor sekarang harus berhenti, i shouldn't worry, karena sumber rejeki gak cuma dari situ. gue bisa lihat 'preview' diri gue sepuluh tahun dari sekarang di diri rekan-rekan kerja gue. mereka udah berusia lebih dari 40 tahun, 'terjebak' di perusahaan ini karena udah kadung didomestikasi (ini istilah yang gue pakai untuk menjelaskan proses 'penanaman' seseorang di zona nyaman), mereka kayak hewan yang udah puluhan tahun dipelihara oleh manusia, sehingga gak akan berani melangkah keluar jika dilepas ke alam bebas untuk berburu makanan sendiri. mereka mungkin kecewa terhadap sistem yang ada sekarang, atau minimal kesel sama bos yang semena-mena, kayak gue sekarang, tapi gak ada yang bisa mereka lakukan cuz they don't have the guts to change anything in their working environment. kalaupun udah diperlakukan semena-mena, mereka gak bisa just walk out and give everything up. mereka gak tau dunia luar, alam kerja non-BUMN, seperti apa. mereka takut akan kompetisi.
cara berpikir para rekan kerja berumur yang gue gambarkan ini bukan sekedar hasil kesoktauan. gue hidup di antara mereka selama 3 tahun. dan gue sadar pelan-pelan gue mulai bertransformasi dalam hal pola pikir menjadi terdomestikasi seperti mereka. gue males melanjutkan sekolah. gue berpikir this is my last stop in terms of job searching. gue gak mau ribet-ribet menambah kompetensi. karena gue pikir this is it, the comfort zone: gaji rutin diterima tanpa perlu bikin achievement yang berarti.
tapi kejadian menyebalkan ini should be my wake-up call. gue harus mulai (minimal) open-minded menjajaki kemungkinan-kemungkinan baru. ke mana sih tujuan gue? apa gue mau meniti karir yang mengoptimalkan kompetensi gue? apa gue mau menjajaki dunia enterpreneurship? apa apa apa? this is my homework.
in the morning, kita berendam di bathtub lagi, trus turun untuk sarapan. tapi ada hal yang kurang mengenakkan ketika mau sarapan. di depan restoran, kita dikasih tau petugas hotel kalau ternyata jatah breakfast cuma untuk 1 orang! adit buru-buru ke counter check in, untuk nanyain apakah jatah itu karena adit pake company discount. ternyata bukan, emang peraturannya sekarang seperti itu, breakfast hanya untuk 1 orang. boo!! akhirnya kita pilih bayar deh untuk 'tambahan'nya, daripada ribet.
selesai sarapan jam 10, kita liat-liat ke kolam renang. ternyata rame banget, dan matahari juga terik banget. jadi terpaksa agenda berenang-renang dibatalkan, Bumy diajak berendam lagi di bathtub biar gak kecewa :p
jam 12 siang, kita menuju ke Bekasi untuk menghadiri undangan sunat saudaranya adit. di sana Bumy seneng banget ngumpul sama sodara-sodaranya, padahal yang paling kecil usianya udah 5 tahun. lagi-lagi dia gak mau diajak pulang, asik banget main sama kakak-kakak umur 10 tahunan. dari bekasi jam 2 siang, sepanjang jalan Bumy tidur anteng di carseat. lantas kita menunaikan misi lain on the weekend yaitu menghadiri Kawan Lama Fair di Meruya. btw sebelum sampe di KL Fair, kita makan dulu di Sandwich Bakar meruya because i was craving for some roti bakar in the afternoon (yes i eat breakfast dish at all time). ternyata hidangannya enak-enak eyy di situ! gue pesan roti bakar coklat keju regular size, bubur kacang ijo, dan wedang jahe. burjonya gak standar, lumayan enak dan 'beda' buat ukuran tempat makan pinggir jalan. rotinya juga enak, mirip-mirip edy. total damage IDR 30.000 saja.
di KL Fair, ternyata udah rame tapi masih nyaman sih buat outdoor shopping fair, masih bisa sambil dorong-dorong stroller Bumy. pas banget juga kita sampai sore, jadi udara udah adem. tujuan utama sebenernya nyari sofa, tapi gak ada yang cucok ey. instead of sofa, we bought pillows (IDR 100.000 dapat 2 bantal informa), pillow cases (IDR 89.000 dapat 4 sprei bantal!), a small wooden chair for Bumy (IDR 100.000), and a small bolster for Bumy (IDR 25.000). i found the fair fun, and quite satisfying :D
from there, we finally headed home. well, not to our house actually, but to my mother's. selain karena sang oma udah rewel bilang kangen sama si cucu, di situ kita juga bisa ngaso hehe, ada yang nyuapin Bumy, ngeladenin dia lari ke sana ke mari. dan tentunya, free dinner for us!
the next blog post will be about what happened on monday. oh gawd my heart felt better already just to write about the weekend holiday :D
after yet another late-night pillowtalk/discussion, and days spent at the hospital, we made/will make some adjustments:
1. ok, so we do need a maid. in this case, it's pembantu yang menginap. but for this, we'll try our luck after lebaran holiday, mencoba nitip sama saudara atau kenalan yang mudik. siapa tau kami bisa beruntung seperti dahulu saat 'mendapatkan' si yuli-ART nan lempeng klemar klemer tapi rajin dan tahan banting (walau akhirnya doi nyerah juga karena di-overeksploitasi tenaganya di rumah nyokap... hadehh).
sementara pada masa sebelum lebaran dan tentunya saat ramadhan nanti, we think we better...
2. langganan katering untuk makanan rumah.
nggak enak ati juga tiap hari numpang makan di rumah nyokap. nuff said.
3. jadi klien QM... huhuy.
we have high hopes for this... wajarlah yaa mengingat fee-nya juga nggak kecil untuk ukuran kondisi finansial kami. setahun belakangan gue emang udah mencoba buat rencana keuangan sederhana, meliputi dana pendidikan, pensiun, darurat. tapi gue masih puyeng menentukan produk asuransi yang tepat. kadang gue bisa mengalokasikan waktu untuk survey secara intensif, tapi lantas mentok di faktor harga, atau review yang kurang oke dari orang-orang/internet. akhirnya pencarianpun dimulai dari nol lagi... dan begituu terus. to be honest, dana kami terbatas banget bow untuk beli asuransi dalam karung (apa pula), dan kans untuk 'salah pilih' sepertinya cukup besar mengingat pengetahuan yang minim seputar produk asuransi. karena faktor-faktor itu, gue jadi merasa fee yang ditetapkan QM reasonable banget karena mereka punya product knowledge dan recommendation that could save us from all the hassle.
selain itu, belakangan ini gue jadi kurang bersemangat investasi di reksadana... malah jadi melirik emas sebagai instrumen investasi karena 'berwujud'. sibuk browsing sana sini, denger ini itu, malah jadi pusing sendiri. yasudahlah gue serahkan sahaja pada yang ahli kalau begitu.
ohya satu lagi alasan yang cukup kuat adalah supaya cashflow bulanan kita jadi lebih tertata. sekarang ini cashflow bulanan cuma 'indah' di bagian budgeting aja... begitu masuk ke realisasi, hhhh masih suka membengkak di pos-pos tertentu. sementara itu cashflow tahunan juga masih kurang tertib penggunaannya (baca: sering kalah sama godaan hantu konsumerisme, wekekek). kita ingin duit yang sudah di-earn dengan susah payah (plus ningggalin anak 12-13 jam sehari untuk gue!) bisa optimal pemanfaatannya. hidup di jakarta bikin gampang sutrisss (i know many people out there are with me on this), pelariannya jadi ke belanja-belanji gak jelas deh untuk menambal 'lubang' di hati :( eh agak melantur ya eike.
4. nggak jadi pindah rumah. akhirnya kita sadar, eling seeling-elingnya setelah berembuk di malam-malam nan panjang, huahaha. rumah kita sekarang bisa dibilang kurang 'nyaman' karena adanya kekurangan a sampai z... tapi it's the best we can afford for now. fokus kita sekarang ada di empat basic financial goals tadi, semoga urusan rumah-whether pindah ke lokasi baru atau renovasi-bisa dilaksanakan setelah ada perbaikan kondisi finansial (promosi! bigger salary! amin :D).
5. realistis mengenai budget pendidikan Bumy, masukin angkanya nggak muluk-muluk, kita pakai acuan menyekolahkan Bumy di tempat yang we can really afford. saat ikut talkshow QM di plaza BII tempo hari, Fitri, the speaker which is also a planner (yahiyalah), said somethin like "jangan digeber nyekolahin anak di playgroup, TK, dan SD international, ehh ujung-ujungnya pas kuliah S1 mampunya jadi cuma di ciamis (with all due respect to any ciamis universities-red)."
pastinyaaa gue sebagai orangtua punya gambaran ideal mau menyekolahkan anak di tempat yang paling bagus menurut gue, dan jujur gue rasa tuntutan itu berkaitan juga dengan status gue sebagai ibu yang away from her child most of the time, it becomes somekind of compensation. tapi begitu mendengar kata-kata dari Fitri itu, mata (hati) gue jadi terbuka lebaaar. Fitri menceritakan pengalaman dia sendiri saat hunting PG dan TK, dia dan suaminya nemu sekolah yang ideal banget, tapi uang pangkal dan bulanannya gede banget buat mereka. Fitri menolak gagasan nyekolahin di PG tersebut dengan alasan "kita aja orang dewasa kalo udah biasa naik taksi trus tiba-tiba naik bis lagi kan suka males ya bo," maksudnya kalau ternyata anaknya udah nyaman sekolah di PG tersebut trus nantinya terpaksa pindah karena orangtuanya nggak afford biaya sekolah di situ, kan kasian. sementara suaminya berpendapat "kita trial aja dulu di situ 3 bulan." akhirnya jadilah anak mereka trial dulu di PG ideal tersebut. begitu masa trial berakhir dan anaknya harus bersekolah di PG yang 'humble,' anaknya protes "aku maunya di sekolah yang ituuu, yang ada flying foxnya, ininya itunyaaa." huhu gimanaa gitu ya dengernya sebagai orangtua :|
jadi, setelah gue dan adit menilai secara objektif kemampuan kita dalam hal dana pendidikan, selain berpijak pada pemikiran "tiap anak ada rejekinya," kita juga mencoba REALISTIS kalau faktor sekolah anak bukan cuma ada di uang pangkal dan bulanan semata. tapi juga di faktor kualitas pendidikan dan gaya hidup si anak di sekolah itu nantinya.
jadi untuk sekarang, kita aiming sekolah Bumy-in terms of dana pendidikan-di sekolah negri sahaja, tempat sekolah gue dan adik-adik gue yang nggak kacrut ah perasaan, haha. of course we still want to aim for "the best," tapi seperti yang tadi gue bilang, in terms of dana pendidikan, karena goals kita bukan cuma sebatas nyekolahin anak (not that its value is undermined), untuk saat ini, we have to be reallistic :D *nyengir*
dan yah, sebenarnya kesadaran ini diperlukan terutama oleh gue. adit selama ini udah berusaha membuka mata eike dengan cara yang sangat khas orang jawa, hahaha, haluuuusss dan implisit. i've been forcing US too hard in this financial thingy... maunya 'nyaman' tapi kok dengan cara yang nggak bikin nyaman, salah kan. jadi kalau bisa disimpulkan, kali ini gue mencoba menerapkan sarannya Suze Orman, yaitu "to live within our means" bukannya beyond, baik dalam hal spending maupun investing.
oh well!

| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Restaurants |
| Cuisine: | European |
| Location: | Cipete |
Dua minggu lalu, gue, Adit, dan Bumy kelayapan di wilayah Jakarta Selatan. Saat sudah waktu lunch, kita mulai berdebat "makan di mana nihh." Setelah melewati Ampera dari ujung ke ujung, akhirnya kita memutuskan memutar balik dan menuju ke arah Cipete. Saat mengantri di lampu merah Puri Mutiara, kita noticed, "Wah Coquelicot masih ada, mau gak makan di situ?" Dahulu saat masih kos di Cilandak, kita pernah makan di situ karena ingin tau citarasa french cuisine dengan harga yang cukup terjangkau (hahah alesaaan, emang dulu kita foya-foya melulu dalam hal makanan, DINKS gitulho). Seinget gue, di situ nggak smoking-free... well it was years ago, tapi i wouldn't wanna risk udah terlanjur bawa Bumy ke dalam dan terpaksa seruangan dengan orang-orang yang merokok. Nah begitu menyebut-nyebut french cuisine, kita teringat kan ada lagi tempat makan yang menyajikan french cuisine dekat situ: Bokabuka! Restoran mungil dengan interior nan humble, tapi makanannya enak-enak.
Begitu sampai di Jalan Cipete Raya, lho kok plang Bokabuka adanya di kiri jalan (kalau dari arah Puri Mutiara), dulu kan di kanan. Ternyata Bokabuka buka lokasi baru, tempatnya lebih luas, bangunannya baru, lebih minimalis, dan tentunya hip, hahaha.
Kita datang sekitar jam 2 siang, jadi tamunya cuma ada kita, sepasang sahabat perempuan, dan sepasang kekasih (wekk sok tau hihi). Desain bangunannya ada semacam 'bilik-bilik' kecil gitu (tapi nggak bertirai kayak warnet gitu kok), jadi terkesan private dan secluded, oh so perfect kan buat pasangan yang sedang dimabuk cuintah... kekeke. Selain bilik-bilik, juga ada meja 'biasa' dan bar tables. Lantas kalau kita berjalan ke bagian dalam, ada outdoor space untuk yang merokok, dihiasi dengan kolam ikan dan pohon-pohon tropis.
Bumy senang diajak ke situ untuk lihat ikan, tapi harus selalu dipegangi sih, karena desain lanskapnya emang bukan untuk tempat bermain bocah :D meliputi 'jembatan' di atas kolam ikan yang berbentuk tiang-tiang pijakan single step, trus ada bagian kolam yang ditutup dengan kaca transparan tapi bisa dijadikan tempat berdiri, dan pinggiran kolam ikan yang nggak diberikan pembatas (for artistic reason, i believe).
Nah sekarang mari bahas makanannya.... kemarin kita pesan Grilled (tenderloin) Steak with Cream Cheese Sauce dan Spaghetti Aglio Olio. Not so frenchy yaaa, hihi. Well, steaknya oh soooo tender! Gue yang saat itu sedang sakit gigi aja bisa mengunyah tanpa keluhan. Padahal kita pesan yang well done loh. Rasa steaknya juga sangat gurih. Kita diberikan complimentary Garlic Bread with Cheese dan minuman Lemon Grass, yang menurut gue rasanya agak seperti jamu, but Adit found it refreshing :P
Untuk minuman, kita order juice, yang menurut waitress semuanya fresh, jadi bisa diminum Bumy juga. Tapi sayangnya karena menunggu agak lama untuk spaghetti, akhirnya kita batalkan order tersebut. Meskipun begitu, di kunjungan sebelumnya gue pernah nyoba aglio olio di sini dan rasanya enakkk :D jadi yah nggak begitu penasaran.
Dari segi ambience, it was quite cozy. jarak antar meja nggak dekat, ac-nya dingin, trus musik yang diputar adalah lagu-lagu folk berbahasa perancis. Jujurnya kami merasa agak merusak suasana tempat itu sih, hehehe, karena membawa batita yang lari-lariii ke sana ke mari, merengek ketika disodori makanan (fiuh!), dan mengoceh dalam bahasa bayi dengan volume tinggi :|
Service-nya oke. Waitressnya ramah dan sopan, dan gue juga terkesan saat kita minta order spaghetti-nya dicek, dan kalau emang belum dibuat, kita minta cancel order aja. Yang lazim ditemui kan nanti pelayannya ngecek ke dapur dan hampir selalu bilang "oh udah dibuat tuh" jadi kita nggak bisa cancel. Tapi kemarin waitressnya bilang boleh dicancel, karena kita emang nggak mau terlalu lama di situ (masih ada destinasi mall yang harus dituju, hehe). Sayang banget sih hidangan yang dicoba cuma itu, gue sempat curi pandang ke hidangan tamu lain, sepertinya range selection dessertsnya menggiurkan deh. Ada Apple Crumble yang membuat gue penasaran, pancake with ice cream, dan lain-lain. Tempat itu emang cucok blas buat sekumpulan kecil sahabat cewek untuk curhat-curhatan sambil berbagi desserts. Oh Kiti, kita kencan di sini yaa begitu kamu kembali ke tanah air! Selain itu, harusnya lain kali kita datang dengan perut kosong, supaya bisa nyoba signature dish di situ, yaitu Escargot.
Dari segi harga, it's oh so reasonable. Harga yang dicantumkan di menu sudah termasuk ppn dan service tax, which i think is nice of them to put it that way :D Harganyapun sama sekali nggak overpriced untuk kualitas makanan dan tempat. So Bokabuka, we sure hope we're gonna visit you again :D
image from here
i gotta say i somewhat agree with miss marianne. the more hectic my job gets, the more i drag myself away from finishing it -__- alas, i lost 'the mood' to do my tasks on this riweuh monday, and made this entry.
beberapa waktu lalu di twitter orang-orang banyak yang meramaikan hastag #100happiness. gue nggak mau ikutan, abis takut pamer dan norak :p nanti yang menurut gue bombastik, menurut orang biasa aja. gimana nasib pencitraan gue kalau begitu? hehehe..
lantas, di saat pekerjaan/rutinitas/hidup lagi menghimpit dan cenderung bikin gue sering mengeluh lahir batin, gue tiba-tiba terpikir untuk membuat daftar hal-hal yang, menurut gue dan seinget gue, memberikan a sense of happiness di hati. ternyata manjur juga, seiring dengan gue mengingat-ingat hal apa aja yang pernah bikin bahagia, perasaan jadi lebih enteng. just like the old proverb says, "count your blessings." *gak tau lanjutannya* jadi beginilah... i haven't reached a hundred, moreover a thousand yet, but i am counting.
1. Our first actual date watching a free documentary des alwi's movie at galeri cipta TIM. :D
2. Our java trip, getting lost using a borrowed car.
3. Makan siang bersama teman-teman di citibank. Ah hari-hari yg indah, mungkin paling indah, sepanjang rekor gue sebagai pegawai.
4. Ngekos di ciganjur ditemani bubiku.
5. Bertemu Bhumyamca untuk pertama kalinya.
6. Perjalanan-perjalanan melelahkan kita dari karawaci ke ciganjur (dan sebaliknya) menggunakan motor honda karisma yg kita eksploitasi sampai rontok.
7. Mengurus Bumy bersamamu. At any given day, it's been a bliss for me. I'm forever thankful that he's got you as his dad.
8. The times we cried together. I'm thankful to ever having those times at all.
9. Our days at rumah pawon, cooking-trying out simple recipes together, sleeping the whole day, watching dvds from dusk til dawn, having our meals delivered just because we're too lazy to wash our faces and leave the house.
10. Everytime you hug me.
11. To read really touching books with eloquent writing, such as Nukila Amal's, Krauss', Foer's, Catcher in The Rye, Lahiri's, Arundhati Roy's, Hornby's, Nicholl's, and others' :D
12. Membaca blog dan mendapati entry baru di victorialand dan sourcreamnonion.
13. Grocery shopping with my little family. Makes me feel so functional, so... fairy-tale-like.
14. To ever sing in a band.. can't believe I did.
15. To get straight A's. Ah the achiever in me. She rarely comes out these days.
16. Setiap habis belanja baju yg okhe. Setiap habis belanja :|
17. Kelayapan sejak malam sampai pagi sama sahabat-sahabat hedonis, dulu, in
my younger days. Galau bersama, sok pinter bersama, memaki-maki pria bersama, ah I miss my girls.
18. Menyesapi lagu-lagu yg sinting bagusnya.. Oppie andaresta album bidadari badung, weezer pinkerton, radiohead, blur, pulp, ok I'm musically alive in 97/mtv-asia's-early-days.
19. Duduk di kursi belakang bis lipo maupun patas 104 sama Kiti, nyanyi lagu-lagu morrissey, and being together just because :)
20. Saat 'berhasil' menyusui Bumy selama 6 bulan, lantas 1 tahun...
21. Saling berkirim surat dalam bentuk surat beneran maupun buku curhatan sama sahabat-sahabat kala masih remaja. I'd like to read again our teenage ramblings, Nuri, Elis, Weich :*
22. Perayaan hari ulang tahun Bumy/setahun gue jadi ibu. It was just my kinda 'perfect' get-together.
23. Lulus dari binus. I couldn't wait!
24. Ngobrol menghina-hina orang t*lk*m dan diri sendiri sama Ika. Sambil makan buhanyak.
25. Hasil rontgen bagus, dan diberikan kata-kata penyemangat oleh dr. Albertus.
26. Setiap saat Bumy kembali sehat sehabis sakit.
27. Setiap saat Bumy sehat.
27. Main galasin sama teman-teman saat SD.
28. Saat hasil perasan asi lebih banyak dari yg diharapkan.
29. When my mother agrees on my opinion and choices. I do live in her shadows *facepalm*
30. Punya adik Debby Ferina. She is sunshine.
31. Akad nikah sukses dan dihadiri semua sahabat terdekat :')
32. Ngobrol tanpa perlu melengkapi kalimat sama Weich. Cos "you knoow."
33. The feeling of being taken care of, yaitu saat dapat pembantu rajin.
34. Hanging out with whom none of us need to say anything to impress, like (pathetically) pura-pura sukses. Certain circles do that, and I don't like being in that kinda crowd. Love it where everyone just be themselves and whine like there's no tomorrow :P
35. Makan coklat Silverqueen. Sejak punya duit jajan, gue hampir selalu menabung untuk bisa beli coklat ini tiap minggu.
36. Setiap berkeringat setelah olahraga. It's scientifically proven that exercising merangsang endorphines which make us think/feel happy. Pure physics.
37. Bisa punya hp canggih setelah sekian tahun bergaya hidup 'frugal' dengan cuma memiliki hp flexi sederhana, itupun syukurnya disubsidi kantor :)
38. Menjadi bagian dari (kelas) rebits. God, really, i was once living comic book scenes.
39. Saat nyokap gue histeris bahagia mengetahui gue hamil, saat gue tau gue akhirnya hamil, dan saat bubi nyium pipi gue bilang "selamatya beb." Err kaya ultah aja bi.
40. Saat disamperin bubi di rindam bandung dulu. Beberapa minggu gak ketemu, istrinya udah tanned, dekil, keker, dan berbaju kamra. Tapi perasaan gue saat ditengok itu bahagiaaa banget. Maklum penganten baru.
41. Saat lagi punya rejeki mentraktir mricans.
42. Saat akhirnya bisa menyetir. Sendirian. Dari tj. priok ke karawaci *puhleez*
43. Perjalanan-perjalanan impulsif kita. Bandung dan bandung lagi.
44. When the baby's asleep in my arms, with his cute adorable face (cue rabid bunda).
45. Watching modern family, SATC, gilmore girls. Those series give me
that feels-like-home sensation.
46. Our little celebrations (baca: justifikasi untuk fancy eating-outs).
47. Saat bisa menertawai diri sendiri.
48. When everything is in its right place. Yes, that's the OCD part of me speaking.
48. Jogja trips. Each trip brought nice surprises: ketemu kawan-kawan virtual, begadang sampe pagi sama Dyah dan awak Teater GM, tetiba jadi obyek brosur UGM (ditawarin aja gitu pas kita lagi nongkrong. pasti gara-gara sedang sama ex-model beneran, si Elis), nyangsang di solo tanpa rencana, melala sama si Bun, sampai tim jogjazz trip yg penuh drama.. great memories.
49. Pas duit tiris eh dibayarin makan.
50. Punya asman pinter, buaik, cerdas, lucu, rajin, gak sembarangan nyuruh, visioner, bijak, dan kalo becanda nyambung abis sama gue, yaitu pak Elfin. Really, I could make another list about 1000 good things about him.
51. Masa-masa nginep untuk bikin skripsi. I heart sleepovers :p
52. Ngomong-ngomong tentang sleepover, another happiness came from my sleeping
over at my nenek' and late-andung's house in pejompongan. I loved loved it there. I was their object of affection and education, there were heaps of books, the house was big, empty, and got many luxurious stuff that didn't exist in mine. Should make a dedicated post about it.
53. Hari-hari saat kecil, punya sahabat dua anak lelaki, yang satu cengeng yang satu banci. Kita nginep di tenda pramuka, berkhayal jadi google pink yellow and black, did everything together.
54. Ketika bisa pake jilbab.
55. Kemping pertama kelas 6.
57. Main kasti di lapangan yang agak jauh dari sekolah, dan untuk ke situ, kita jalan kaki rame-rame.
58. Dapet/dikasih duduk di sarana transportasi umum.
59. A dose of morning sun.
60. Bersih Sehat.
61. Bersih, sehat :D
62. To show integrity. To say sorry and admit my wrongs.
63. When succeed at applying self-limitations. In terms of (junk)food intake, and sloth versus productivity. This gets harder as I'm older...
(quite a lot for an hour or so of brainstorming yah. and i'm quite in disbelief to see no point mentioning money :D)
got this really interesting article from http://www.investopedia.com/slide-show/top-5-budgeting-answers?partner=yahooau
and this is truly rellevant with our current financial condition and our ecek-ecek household budgeting.
Top 5 Budgeting Questions Answered
Budgeting has negative connotations, but it can do wonders for your overall financial picture and it takes very little effort to create and maintain a budget. Think of a budget as simply a tool for organizing cash flows. You are, in essence, a CEO on a smaller scale who is taking steps to ensure your company's (or family's) cash flow is monitored each month. In this article, we'll cover five of the most commonly asked questions with regards to budgeting, and show you how it really is possible to save money, pay off debt and still enjoy life.
1. How much should I set aside for investments?
When deciding how much you should put aside to save or invest, there are many factors to consider, including your age, disposable income and liquidity needs. Your age will help determine not only your asset allocation (younger investors should have higher equity allocations than older ones) but also how much money should be put toward future goals like buying a home or retirement.
Disposable income is independent of all your costs that need to be paid out in order to survive. You can spend it on toys or stash it away in savings. The amount of disposable income you have will determine how much fun you can have now, and how much fun you can plan for later in life. Liquidity means how fast you can convert your assets to cash. Your level of liquidity will generally determine what kind of interest rates you will receive or how fast you will be able to access your own money.
While there is no magic dollar amount that defines how much should be saved or invested, 10% of your net income is a desirable target (but starting at 5% is still admirable). It is essential that any money set aside for investing should be free and clear of any monthly or annual expenses. It should also only be considered if you have a "cushion account" of emergency funds that can be accessed quickly, such as in a savings account or Treasury bill.
2. How much should I allocate to debts like credit cards or car loans?
Some of our debt, such as car financing, comes with specific repayment schedules, but rolling debt instruments like credit cards can generally be paid off according to one's personal ability to pay. The ruling maxim here is this - don't allocate money to taxable investment accounts if you have existing credit card balances.
Some fixed-period loans will allow for overpayment, while others will not. You should evaluate the interest rate being paid to determine if paying a fixed debt off early is the right path. If you have existing credit card debt, chances are that this is costing you more in interest than an auto loan for example.
3. Should I overpay on my mortgage (if allowed)?
Your mortgage is often the cheapest source of debt you have (assuming that it is a conventional mortgage and not subprime), but it could still make sense to overpay on your monthly payments. First and foremost, all of the higher interest debt that can be settled should be done so first, before considering this option. Any money that is considered for overpayment should be money that would otherwise go into a savings or an investment account, meaning that all other budget categories are fully funded for the time being.
While it is possible to earn more on an investment than would be saved in mortgage interest, it does expose you to the increased risk of market fluctuations. Many people would rather pay a couple of hundred extra dollars per month towards their (typically) largest source of debt than subject a small investment account to possible losses in the markets. The more favorable your interest rate is on your mortgage, the more the scales tip in the favor of keeping the extra money to invest instead.
4. How should I maintain and update my budget?
In the first few months, it's essential to review account statements regularly and see exactly how much was spent on various expenses. These aggregate figures should be compared to the amount set up in your budget and any adjustments should be made to reflect the reality of your life. This is the best and easiest way for your budget to remain relevant in your financial life.
Inevitably you will come across "one time" expenses that you may wish to add up over the course of a year rather than per month. It would be better to add up all of these sporadic expenses to arrive at an annual figure for "home maintenance" or similar category in your budget. Remember, however, if you find that you've budgeted too harshly and have left little room for fun, you will not stick to this budget. If you find that you are covering bills, decreasing debt, filling your emergency fund and savings accounts, but just can't stand missing out on the latest movies or parties with friends, then you should re-evaluate your budget to reflect your new goals.
5. Why do I always seem to have expenses or wants that don't fit into my budget?
One reason why some people stop using a budget is because there are many expenses that don't seem to have a place in their budget. This is partly to be expected, and is easy to fix. Any good budget will have a "miscellaneous" category for all disparate expenses that come up in a given month or year.
Sometimes the answer is a simple as re-evaluating your original budget for any missing categories or places where you might have underestimated how much should be budgeted. Otherwise you'll always find yourself with expenses that don't have a home in your budget, and this could discourage you from sticking with the process. Over time you'll find that your budget more closely reflects your spending patterns, so long as you are honest with yourself about where the money goes.
Conclusion
Good budgeting may seem like a humbling or constricting endeavor, but it can actually be very freeing if approached with an open mind and with future goals in place. After all, the goal of any budget should be to maximize what can safely be spent on the things we want and need, while at the same time planning for a solid financial future. Following a good budget can lower debt, increase funding for investment accounts and reduce the overall stress that comes from not knowing how much money is needed from month to month.