19/01/2017

EoH: Toastmasters

udah 2017 tapi masihhhh bahas 2016 aja... gagal moveon much, huh?
sebenernya murni alasan teknikal aja sih, yaitu karena gue nggak kunjung sempat (baca: males) menuangkan hal-ihwal kejadian 2016 di blog. I've learned that it's not healthy, to just let moments in life pass me by. mengurutkan dan menceritakan ulang apa-apa yang gue alami dan rasakan sebenernya paling membantu gue untuk menata pikiran dan hati. 
bisa dibilang ini 'kebutuhan' tipikal seorang outgoing introvert, buat menggali hikmah dari ini dan itu. because I just like to keep working on myself. 

well, kali ini gue mau mengingat-ingat lagi apa aja hal 'baru' yang gue cicipi di 2016. gue berharap bisa menemukan semacam pola sih dari paparan ini... thus I know better how to improve myself. 
let's start from

- kenal, dan lalu ikut jadi member Toastmasters
ini nih, kegiatan positif yang paling mewarnai 2016 gue. what is it?? gue juga dulu bertanya-tanya begitu. apaan sihhh ini, kok namanya aneh? jangan-jangan MLM?

jadii, suatu hari sahabat gue di kantor, Wieke, ngajak "tan, ikutan toastmasters, yuk!" 
karena gue 80% yakin doi bukan tipe yang berkecimpung di dunia MLM, maka pas Wieke cuma ngasih jawaban "udah, pokonya ikut dulu aja tan, biar tau," gue pun manut aja.
ternyata setelah gue ikutin, kegiatan ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan toast atau roti panggang, heeu... 

ditelaah dari wikipedia, Toastmasters International adalah organisasi nonprofit yang sifatnya edukasional, yang tujuannya membantu para anggotanya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, public speaking, dan juga leadership. 

kalau gue jelasin dengan bahasa bodoh, di Toastmasters ini kita cuma perlu dateng, dan ngomong. 
kebetulan club TM di kantor gue memakai kurikulum bahasa inggris, jadi manfaatnya jelas banget buat gue, ya untuk melatih lidah terbiasa berucap dalam bahasa inggris, juga melatih pikiran buat menyusun omongan in english. 
ini tantangan bangetttt buat gue. per-bahasa-an is definitely one of my passions, I love learning about it. tapi gue cuma terbiasa mendengar dan menulis in english, bukannya berbicara. gue kerap merasakan lidah gue kelu kala harus bertutur dalam bahasa enggris. gagap, bingung mau ngomong apa. kalau nulis bisa deh sok-sokan jadi grammar nazi, tapi pas ngomong? ke laut aja tuh grammar semua. besides, there's a safety net in writing, because you can edit what you're saying. it's a whole different thing when it comes to speaking. 


source
dalam setiap Toastmasters meeting, ada sesi yang disebut Table Topic. di sini, kita dikasih topik atau pertanyaan secara impromptu alias dadakan (yang biasanya terkait tema meeting kali itu). bukan cuma harus bisa "menjawab" atau ngarang speech yang nyambung sama pertanyaan dadakan tadi, kita juga dikasih batas waktu untuk ngomong, yaitu selama 2 - 2,5 menit doang. 
menantang banget, bukaaan, untuk bisa mengutarakan gagasan dalam waktu singkat? omongan kita pun harus 'juntrung' - lebih bagus lagi kalau terstruktur dan menarik. tapi, semakin susah, semakin nyenengin juga buat gue. I totally enjoy the stuggle to find the answer, or to compose something worth speaking about. 

jangan lupa, di sini kita ditonton.. hence the *public* speaking. 
jujur yah, gue itu grogian banget. grogian parah. sobat-sobat masa SMA tuh tau banget gimana gue yang talkative bahkan gak tau malu ini bisa berubah kicep begitu disuruh tampil di depan khalayak. 
melalui Toastmasters, gue belajar sesuatu tentang diri gue sendiri. 
sesuatu yang baru disadari... padahal udah lama dirasakan. 
bahwa gue nggak mau making a fool out of myself in public, or in short, gue ini jaim-an banget. mungkin karena ego gue terlalu tinggi ya... atau gue somehow menikmati pakai topeng yang berbeda-beda. almarhum sahabat gue, Weich, pernah bilang, "Lo tuh anak bandel yang pandai berkamuflase jadi anak baik-baik, tau gak, Chom." and I guess that is somewhat true. gue nggak mau membiarkan diri gue yang "sebenar-benarnya (if there's such thing)" diketahui oleh orang yang berada di luar lingkaran nyaman gue. it could be people I'm trying to impress, teachers, colleagues, relatives, strangers, or even my own parents. 
I was afraid. and I realized that my shame comes from fear. the fear of being judged, and the fear of being rejected. 

balik ke Toastmasters, gue merasa seseorang harus benar-benar datang dulu buat tau sendiri gimana atmosfer membangun dan saling menolong begitu terasa di sini. because there, you are ALLOWED to make mistakes. you are allowed to have flaws.. to say the wrong things.. because making mistakes gives you the chance to learn. 
isn't that beautiful?

dari pertemuan demi pertemuan Toastmasters yang hadiri selama 2016, gue jadi sadar kalau speech yang paling 'menarik,' adalah speech yang 'jujur.' you can always tell the difference, I believe. 
terasa banget bedanya ketika seseorang ngomongin tentang what he/she knows, atau how much he knows about something, dengan what he/she feels, believes, likes, yearns, or experiences. those things come from the heart, and it's ALWAYS interesting. their face will light up, they will talk out of enthusiasm, and they make other people want to listen. 

I guess Toastmasters does more to me than just improving my ability to speak in english... it makes me realize, that when I open up, I become better. 
speaking in front of people gives me the chance to allow myself to make mistakes. to accept correction and suggestion. and ultimately, to allow myself to be ME, to like me for who I really am. which is a person with sooo many rooms for improvement. and that is totally okay. 

wajar dong ya, kalau gue ketagihan? 

hhh, nggak kerasa ngocehin soal toastmasters udah cukup buat jadi satu entry sendiri. 
sebelumnya gue pernah bahas juga tentang gimana "kurikulum" leadership di toastmasters disusun dengan sedemikian KERENnya di blogpost ini. atau tentang gimana toastmasters meeting selalu kasih insight dan bikin hati tercerahkan, in its unique, supportive, ways, di blogpost ini

last but not least, I met some of the most interesting and inspiring people in my office through this club. 
ada bu Attie yang udah mau 70 tahun tapi masih getol banget belajar, meng-improve diri, dan menebarkan semangat itu ke orang lain.
ada pak Anggoro yang SUPER DUPER keren (wrote about him the other day). 
ada Ikkuyo yang native Japanese (she teaches us to be on time and polite and respectful), dan berusia di atas 50 tahun, tapi masih wara-wiri untuk jadi mentor klub kita tanpa dibayar(!). 

just like an interesting - and inspiring - speech, it's not because they're such perfect people. not at all. but it's their enthusiasm, truthfulness, and sincerity to be themselves and in giving feedback for others that make other people feel accepted and, therefore, improved around them. 

Toastmasters obviously brings me to a higher level in terms of skills, and also in terms of personal maturity.
kalau ada yang berminat ikutan Toastmasters mungkin bisa Googling "Toastmasters club in Jakarta" ya untuk menemukan club yang cocok. club di kantor gue kebetulan hanya untuk internal, hehe, but maybe we could collaborate through club visiting activities. 



09/01/2017

EoH: the new

beberapa waktu lalu, sesudah Toastmasters meeting, tanpa direncanakan gue berkesempatan makan siang bareng pak Anggoro. yes, THE pak Anggoro. have I mentioned him in this blog?

beliau ini tergolong senior leader di kantor. but he's completely different from the rest (of his kind). not only he's a PhD graduate, he's also inspiring dalam arti yang sebenar-benarnya (ini perlu penjelasan because at the office, the term is often used cynically).
he inspires us - the youngsters especially, yang memang haus akan sosok senior yang mengayomi dan menumbuhkan (bukan cuma mengeksploitasi), with his positive attitude, humility, and the way he leads by example.
has my explanation given enough preview of how "VVIP" he is?

nah, waktu maksi itu sebenernya kita berempat, tapi semesta mengatur dua orang lainnya beli makanan agak lama. jadi tinggallah gue menunggu di meja yang sama dengan beliau. tiba-tiba dia ngomong gini,
"what's new with you, Ris?"
agak kaget dengernya, rasanya kayak ditodong table topic session (a very toastmasters joke it is). saat mau jawab, pikiran blank... jadi gue cuma cengar-cengir. "ah gini-gini aja, pak."

tapi mungkin si bapak diam-diam punya skill sebagai curhat-magnet ya, karena ujung-ujungnya gue menemukan diri gue curhat soal dilema pekerjaan yang dihadapi. well, saat maksi itu kebetulan beberapa hari sebelumnya gue baru saja secara resmi menolak job offer di NGO yang gue sebut-sebut tempo hari. di tengah masa-masa 'sulit,' atau pas masih kebingungan mau nolak apa nggak, gue sempat kepikiran buat konsultasi sama pak Anggoro sebenernya. cuma yaah... karena satu dan lain hal, rencana itu nggak terwujud.
lucunya, kesempatan yang hadir justru buat curhat sama beliau setelah gue mengambil keputusan. I told him about what went through my mind... kekecewaan gue sama gimana talent management diimplementasikan di kantor, ketidakmampuan gue mengikuti 'arus' di kantor, pandangan gue terhadap masa depan gue di perusahaan ini (which is, unquestionably, surem), dan hal-hal sejenis.... he listened to me, attentively. dan nggak menyanggah apa-apa yang gue utarakan.
and I guess that was... sufficient. our conversation confirms my surmise, about what to expect if I had chosen to stay in the company.

sekarang ini masa kerja gue udah 6 tahun lebih. posisi masih gini-gini aja, seorang cengceremen. tapi to be honest, gue nggak punya secuil pun ambisi untuk meraih lebih dari itu, di sini. because I know what it takes to step up the ladder, and I don't have it.
kalau gue lihat keadaan sebagaimana adanya, sekarang ini di kantor gue seperti seorang veteran, yang nggak naik-naik kelas meski udah bertahun-tahun bersekolah. haha!
di kantor ya seperti itu keadaannya: gue kerap menjadi pihak yang ditinggalkan. entah ditinggalkan teman-teman di tangga karir, atau ditinggal rekan-rekan kerja (yang sekarang kebanyakan jauh lebih muda) mendulang rejeki di sumur lain.

I don't really mind. honestly.
kalau diingat niat awal kembali ngantor, selain ada income tetap yang jumlahnya lumayan, juga buat ngisi waktu sembari nunggu anak bersekolah. benefit lain ada yang disadari kemudian, kayak jadi nggak kesepian karena bisa bersama banyak orang di kantor (hal sepele tapi ternyata memberi suntikan energi buat gue yang outgoing-introvert ini). atau dapat temen-temen baru yang asik, yang bisa diajak makan siang bareng sambil ketawa-ketiwi. atau sesepele alasan untuk bangun dan mandi di pagi hari. gue mensyukuri semua itu.
mungkin rejeki gue di kantor ini diberikan Allah dalam wujud semua benefit tadi, alih-alih jabatan mentereng dan income yang lebih besar.

pilihan gue untuk melaju di jalur lambat di kantor memungkinkan gue untuk bisa melalui hari dengan santai, dan beban yang, sejauh ini, lumayan tertahankan. tapi perasaan jenuh dan bosen (dan muak dan hopeless) tetep aja kadang muncul, sih. waktu gue curhat ke seorang dedek di kantor, tak dinyana dia ngasih gue 'wejangan' yang lumayan bikin tersadar. dia bilang, magabut itu nggak sama dengan nganggur. hehe. jadi, nikmati aja keleluasaan waktu yang masih dimiliki. justru bisa jadi kesempatan juga untuk memperluas hidup sampai menembus dinding gedung kantor.
as cliché as it may sound, well.. sometimes I just need to look at the bright side.


source
untuk tahun yang baru ini, harapan gue nggak muluk-muluk. gue cuma pengen bisa menjawab kalau lain kali dapat kesempatan ketemu pak Anggoro dan diberikan pertanyaan yang sama,
"what's new with you, Ris?" jawabannya akan berupa either one or some of these statements
- I'm pursuing a masters degree in media and communication, pak,
- I'm thriving to run a half marathon AND a triathlon, pak (dream big, right?!),
- I'm half the way to obtain my DTM (Distinguished Toastmaster) level, pak,
- I'm busy juggling between the office and my volunteer work in children's education, pak,
- I'm taking a vocal course, pak, and preparing to enter my band to Fuji Rock Festival's lineup (bebaaasskan),
- I'm planning for my pilgrimage with the family, pak,
- I'm expecting my second child, pak (o really? haha!),
- I'm scheduling my early retirement while establishing my digital-based business, pak.
insya Allah.

kalau diliat lagi sih, nggak satupun harapan di atas menyangkut urusan di kantor. haha.
tapi yahhhh, kalau menyadari apa kebutuhan jiwa, sesungguhnya it doesn't really matter apapun jawaban gue. yang terpenting adalah gue bisa melalui hari-hari dengan nyaman di kantor, di rumah, atau di manapun, karena kebahagiaan di jiwa ini nggak "terampas" apapun yang jadi ketetapan Allah SWT.

27/12/2016

EoH series: the walk

source
jalan kaki sore-sore, sepulang ngantor, bisa dibilang jadi aktivitas favorit gue akhir-akhir ini. 
I try to do it every day, if possible. 
jarak tempuhnya nggak jauh sih, palingan bayar di bawah 10 ribu perak kalau naik ojek aplikasi. tapi kesempatan buat bergerak dan (sedikit) berkeringat, sambil menyesap suasana sore hari, itu yang bikin gue ketagihan melakukannya. 

waktu baru mulai memilih jalan kaki dari kantor, niatnya sih cuma supaya badan ini nggak mager-mager amat. paling tidak efektiflah buat mengurangi rasa bersalah gue setelah seharian duduk manis di depan laptop selama 8 jam. 

tapi semakin sering dijalani, this afternoon walk gradually becomes a necessity for me. gue jadi menemukan celah-celah lain yang bisa dinikmati, contohnya: I can be alone with my own thoughts. 

alone time ini makin gue sadari jadi kebutuhan jiwa gue. sebagai orang yang ngaku-ngaku "an outgoing introvert," gue mendapat suntikan energi dari interaksi dengan orang-orang yang 'mengelilingi' gue. 

tapi seolah buat mengimbangi kondisi terekspos ke 'luar' itu, gue tetep perlu momen buat balik lagi ke 'dalam.' (mungkin karena itu dulu gue bisa selon aja melewati macet sambil nyetir sendirian sepulang kerja dari Priok, karena yaa jadi bisa dapet alone time.)  

meskipun begitu, kadang sambil berjalan sendirian terlintas keinginan untuk ditemani. random aja sih.. kepengen punya temen ngobrol a la before sunrise/set, haha. I dont know. maybe just for the sake of having a friend around. keinginan ini nggak pernah terwujud. at least sampai sekarang. tapi dari situ, ternyata gue bisa belajar sesuatu. 


suatu hari, gue janjian minta dijemput sama pak supir di kantor. sayangnya, sore itu traffic nggak masuk akal banget, mungkin karena hujan seharian, supir gue nggak kunjung sampe di kantor. daripada nunggu tanpa kepastian, gue bilang ke dia buat langsung ketemuan di kantor Adit aja, jadi nggak makin buang-buang waktu. 


waktu itu, gue lagi bener-bener nggak mood buat jalan kaki. badan lagi kerasa capeeekkk banget. udah nyoba nyetop taksi beberapa kali, tapi nggak dapet-dapet. trus tau-tau gerimis! dan seolah untuk membuat gue semakin males jalan, footwear gue saat itu cuma sepasang sendal tali-tali - yang tentunya kurang cucok yaa buat berbecek-becek jalan kaki.


to make things worse, entah kenapa sore itu gue kegenitan bawa laptop pulang! daannn karena kepalang yakin bakal dijemput supir, hari itu gue bawa handbag - alih-alih backpack macho seperti biasanya. 

what are the odds??
tapi apa mau dikata? I had to walk the walk. 
I totally wouldn't mind had the circumstances been better. but maybe sometimes you just had to improvise. 
jadi mulailah gue melangkah, dengan agak terseok-seok karena sendal tali-tali sok cantik gue itu alasnya licin dipakai jalan menembus becek. 

sepanjang jalan, yaudah sibuk ngeluh-ngeluh dalem hati. 

tapi nggak lama kesadar sendiri sih, I was just making matters worse, haha... tas tetep aja berat, kaki tetep aja pegel, kebahagiaan terampas pula. rugi banget 'kan! jadi, abis itu gue coba mencari hal yang bisa dienjoi-enjoi-kan saja. hal-hal seperti I wasn't even in a rush. walking might've done me good. plus keinget kata-kata di tafakur, "Allah memang memberi ketidaknyamanan, tapi Dia tidak pernah memberi keburukan." 
segitunya yah!

setengah perjalanan udah ditempuh, sampailah gue di putaran jalan sebelum masuk kawasan SCBD. karena harus nyebrang, jadi gue berhenti dulu sejenak untuk perhatiin mobil-mobil yang lewat. 

di tengah atensi liatin mobil, gue sempat notice eh ada yang mirip mobil gue . tapi berhubung mobil gue pasaran banget, jadi nggak terlalu geer. sampai lalu gue perhatiin plat nomornya.. eh kok 3 hurup belakangnya sama? tiba-tiba mobil yang gue perhatiin itu bunyiin klakson. otomatis gue liat yang nyupir dong. ndilalah... supir gue o__O
bok, pas-pasan banget! 

padahal sepanjang jalan kaki gue udah nggak koling-kolingan lagi sama doi (mahzab '80an banget). 

I. was. stunned. 

yang pertama terlintas di pikiran adalah ini:

betapa Allah memberikan gue apa yang gue BUTUHKAN.
exactly. precisely. 
not the 'sugary' things I've been wanting. not the cherry on top. not the unneeded embellishment. He gives me things I really, truly, need. fullstop. 

isn't that something?!

 "Allah memang memberi ketidaknyamanan, tapi Dia tidak pernah memberi keburukan." 
I'm glad I walked the walk that afternoon, because who could've guessed, something priceless was wrapped inside that walk: a lesson. 

26/12/2016

EoH series: the epiphany

so, I mentioned about this so-called series of writing for my blog, called the Enlightenment of the Heart (EoH). rasanya sayang aja kalau apa-apa yang sempat mampir di hati nggak dituangkan di sini. karena, buat gue pribadi, achievement nggak melulu diukur dalam bentuk perubahan secara fisikal. transformasi mental dan segala usaha yang menyertainya, juga bisa dianggap pencapaian. malah mungkin itu yang beneran matters. 
well, for a start, because it's December (still), which happens to be my birthday month as well, I'd like to ramble about stuff relating to the occasion. 

yes, I've turned 33. bukannya nggak bersyukur, tapi gue nggak lagi terlalu menandai ultah sebagai momentum yang sebegitu bermaknanya. mungkin ini lazim ya setelah melewati usia 30. you don't expect that many milestones, nggak kaya waktu masih 20an. ada momentum first cool job, first serious relationship, first marriage (haha), first pregnancy, first-time parenting, dst. 
sekarang? yah not that there is nothing I'm looking forward to; masih adalah keinginan untuk mewujudkan first time haji, first time jadi home owner (not loaner haha), nyunatin anak, and so on - tapiii.. (mungkin) sensasi pencapaiannya nggak sebegitu meletup-letupnya. perhaps it's because, as you get older, things don't feel as special as they used to be, and you yourself also no longer feel *that* special. moments are just moments, they fleet by, they pass. 
   
nah, karena pemaknaan akan ultah yang nggak segitu sensasionalnya itulah, gue nggak really expected anything. nggak ada rencana khusus untuk diri sendiri dan keluarga kecil. diinget ultahnya syukur, nggak juga ndak masyalah samsekk. 
di pagi hari ultah itu, begitu terbangun dari tidur, gue cek hape dan menemui ucapan ultah pertama. dari syapakah? ternyata bokap. 
mungkin itu biasa aja, ya. secara dialah (salah satu) orang yang membawa gue hadir ke dunia. tapi entah kenapa hal itu membuat seperti ada yang terhimpit di hati gue, dan himpitannya membawa kaca-kaca ke bola mata. tiba-tiba gue disadarkan, oh such a great time it is to be alive. 
everyday is, actually. 
kesadaran itu seolah membuka pintu di hati gue, yang bikin gue merasa bersyukurrrrrrr banget. it IS a special time; sungguh waktu adalah rejeki tertinggi… Alhamdulillah gue masih diberi kesempatan untuk diucapin selamat ultah sama bokap gue. Alhamdulillah I still have both of my parents around. 

sekitar setengah jam kemudian, nyokap nelpon, juga untuk ucapin selamat ultah. nggak tau kenapa, kayak ada switch yang ditekan bersamaan di hati kita berdua, karena di tengah ucapannya, gue tiba-tiba merasa trenyuh banget - padahal ucapan nyokap standar-standar aja - dan nyokap pun tau-tau mewek! haha.. maybe we are melancholic creatures, but I believe at that moment, the same realization touched our hearts. kesadaran bahwa laku sesederhana mengucapkan selamat ultah ini sejatinya sangatlah berharga… ya, karena hal ini belum tentu bisa terulang! 
:'))))) ya Allah gue jadi trenyuh lagi… 

source
segala puji bagiMu ya Allah… saat itu, gue merasa kayak dipersembahkan HADIAH yang berhargaaaaa banget dari Dia… kesadaran yang tiba-tiba hadir itu, gue percaya adalah wujud cintaNya. 
setelah itu, seolah agar kesadaran itu benar-benar tertancap di hati, Elmo berkata dalam ucapan ultahnya, 
"Chomey… Semoga hari ini penuh berkah ya. You are loved and blessed."

:')
sometimes, this fragile self needs to be reminded, again and again. 
I AM special. this moment IS special. 
terima kasih banyak ya Allah… 

meanwhile, other notable moments that I remember from that day were
- Adit ngucapin selamat selagi gue nongkrong di toilet. haha. dia ngelongok ke kamar mandi dan bilang "hepi bersdey ya mah," atau semacam itulah xD guess this is how an #oldmarriedcouple does it. 
- hal pertama yang Bumy ucapin begitu kebangun (masih di kasur), "mama hari ini umurnya udah TIGA TIGA ya?" 
- sampe di kantor, dicurhatin sama sese-dedek yang lagi melalui breakup. dia belum sadar gue ultah, jadi kita sibuk deh tuh ngebahas the guy who broke her heart. begitu tau gue ultah gara-gara adeee ajeee yang ngucapin di grup kantor, dia langsung meluk gue dan bilang "yaampun mba riska ultahnya bareng sama si X!" a.k.a. the guy she's been venting about!! hahahahah mungkin ada #hikmah yang terselip dalam kebetulan itu?? entahlah.  

tapi, somehow dari kejadian breakup si dedek, gue jadi dapat semacam pencerahan. 
entah gimana gue jadi kepikiran tentang gimana budaya atau lifestyle masa kini yang cenderung "sekarang-centris" alias cuma peduli sama SAAT INI. walhasil manusianya (me included) jadi cuma fokus pada usaha mengejar kesenangan sesaat. atau obat instan. atau apapun namanya yang bisa segera dinikmati. dan ini terasa bukan cuma di skala personal, tapi juga dalam skala besar. terlihat dari gimana banyak industri yang nggak peduli sama kondisi bumi yang seharusnya jadi legacy untuk generasi selanjutnya. gimana bisnis cuma peduli sama gimana biar untung untung untung duit duit duit, tanpa mikirin kualitas jualannya. kok "kita" nggak belajar dari sejarah… gimana dulu bangsa Romawi dulu unggul dan menguasai dunia tapi bisa ancur juga. 
generasi yang sekarang ini lagi bisa berjalan di muka bumi kayak nggak sadar kalau kita ini cuma generasi kesekian dari sekian ribu generasi yang sudah dan mungkin akan datang kelak. we are only, simply, a tiny blip in the universe! it (our lives) doesn't really matter, yet it also really totally matters. 
why? there is a perfect answer to that, something I read about in Rookie actually. let me quote:
"if your life is just a teeny tiny blip on the radar, the only meaning it has is what I give it, and the only person it needs to mean anything to is ME." (source)

it came to me like an epiphany.
gue tiba-tiba tersadarkan, kalau gue ada di sini, for a while on earth, for a reason. pasti ada manfaatnya. mungkin bukan buat diri gue sendiri, mungkin buat generasi ratusan tahun ke depan, apapun itu, it doesn't matter. what matters is gue yang harus kasih makna buat hidup gue sekarang. 
dan lucunya… kesadaran yang tiba-tiba ini membuat gue merasa kalau segala ambisi duniawi yang gue rasakan nggak lagi begitu penting. keinginan untuk dikenal, dikenang, dirayakan, atau apalah… yang penting cuma: enjoying my TIME on the planet as fully as possible… and make the best use of the time I have… each and every day. 

it was undoubtedly the best thing that could've happened, on my birthday. 



*"epiphany" (noun)

a moment when you suddenly feel that you understand, or suddenly become conscious of, something that is very important to you - source


20/12/2016

december specials: EoH

"let me photograph you in this light, 
in case it is the last time that we might be exactly
like we were before we realized
we were sad of getting old, it made us restless
it was just like a movie, it was just like a song
when we were young..."

kata-kata di lagu ini, mau nggak mau bikin gue teringat masa muda. dan Weich. of course, my youth had Weich in it. in almost every moment. 

masa muda benar-benar rasanya berlalu kaya ditiup angin dalam sekejap. 
how can those years be so short? can't I have a say in this violent roll of time?
i remember how it felt when I was just turning 24.. it's like I had a big space to do stuff, unlimited time, and vast choices. 
trus tau-tau sekarang udah 33.  
dan trus tau-tau I'm on my own, without Weich... 

alhamdulillah tahun 2016 ini gue dikasih kesempatan oleh Allah untuk melalui banyak hal... ulang tahun gue, Bumy, Adit, dan keluarga. ulang tahun pernikahan yang ke-sembilan (dear Lord!). another year with both of my parents. another year to make mistakes, and to learn... truly, Allah memberi gue pelajaran dalam bentuk kehilangan. kehilangan mertua, kehilangan sahabat, ditinggalkan rekan kerja. 

it feels like I've lost so, so much. 
yet gained so many treasures as well...

and now, December is here again. the countdown to the new year has been started... 

what have I learned thus far?
about myself? about people around me? about love, life and death?
have I changed? or am I merely becoming a truer version of myself?

saking udah lamanya nggak n̶u̶l̶i̶s̶ meracau di blog, gue jadi bingung mau mengulas tahun yang nyaris akan berlalu ini dari mana. kalau Nazura Gulfira pernah bikin serial Reproduction of Happiness (ROH) di blognya untuk membahas hal-hal yang membuat hatinya senang, gue jadi kepikiran untuk membuat semacam serial juga. 

mungkiiin... untuk berbagi tentang hal-hal yang berkesan banget bagi gue di tahun 2016 ini. mohon maklum kalau bahasan di serial itu singkat dan acak. karena tujuannya cuma buat mendokumentasikan stream of thought dan semata-mata 'tuk mengajak hati ini bicara, sih. ahahah... 

apa ya sebutan untuk serial ocehan itu? 

how about... "Enlightment of the Heart" series.
mungkin bagi orang lain apa-apa yang gue celotehkan akan terkesan biasa-biasa aja, tapi bagi gue, membukakan mata hati dan pintu pikiran. 

we are only young once. maybe one day I'll look back at these things bothering my mind and laugh them off. but I believe the real treasure lies in the process. in the way those thoughts transform me into someone who can recognize my own potential, and settle into who I am, and make life work for me. 

maybe.



20/11/2016

now my heart is...

hello, blog!

rasanya seneng banget bisa duduk manis sambil ngetak-ngetik di ranjang, dalam kondisi udah mandi di jam 8 Minggu malam. alih-alih sedang kelelahan setelah berjibaku dengan jalanan seperti biasanya. 
di luar abis ujan seharian pula. I can't even describe how "full" my heart feels right now. alhamdulillah.... 

weekend ini terlalu menggembirakan. honestly. 
kemarin kita 'sukses' menggelar acara syukuran super-sederhana dalam rangka ulang tahun Bumy. mungkin udah 3 tahun sejak gue mau berepot-repot bikin acara dalam rangka merayakan ultah Bumy, dan tahun ini pun awalnya nggak mau bikin apa-apa. apalagi di sekolah Bumy sekarang nggak boleh ada perayaan ultah dengan cara bagi-bagi goody bag - which I'm thankful for! - yang juga menjadikan semakin nggak ada 'motivasi' eksternal bagi gue untuk ngerayain, hehe. 

agak merasa bersalah sih sama Bumy.. karena waktu gue kecil dulu nyokap bikin perayaan ultah gue setiap tahun selama gue di SD. ya cuma pesta kecil-kecilan, tiup lilin sambil ngundang anak tetangga, but I remembered feeling very happy. 

tapiii.. beneran deh, secara gue ini emak pemalas, gue merasa kurang ada meaning-nya berepot-repot bikin party bertema ini-itu. untungnya di montessori ada tradisi commemorating ulang tahun yng disebut Birthday Walk (yang nggak ada hubungannya dengan selebrasi dan parti-parti), jadi at least setiap anak nggak akan merasa terlupakan di hari ultahnya. 

sampai sekitar sebulan lalu terlintas di pikiran, gimana kalo tahun ini kita ajak bumy berbagi kebahagiaan sama anak-anak di panti yatim? this idea is kinda new, and strange, for us, but maybe we needed to try it out. 

yaudah deh gue mulai pelan-pelan eksekusi (asli, pelaaan banget progressnya), mulai dari belanja goody bag, pesen bento (dua hal ini sangat sangatttt dibantu sama Bundo Rahma kesayangan), trus ngatur waktu sama pengurus yayasan. kue ultah Adit yang pesen ke Barska Cakes yang emang udah jadi 'langganan' tiap ada acara di kantornya. 

bersama bundo dan Azka setelah belanja printilan goody bag di Depok hehe

mendekati hari H, baru kepikiran buat bikin semacam stiker logo ultah kali ini, buat ditempel di bungkus bento, gitu. jadilah gue minta tolong sama temen kantor yang andal di bidang per-PPT-an (not gonna mention his name for I'm afraid it would ruin his "credibility" xD). alhamdulillaah banget, semuanya dimudahkan. 
it was indeed a new experience for us... and how did it feel?
ternyata 'beda' banget efek yang ditimbulkan, di hati. rasanya kayak... oh, this felt right, and should've been done more often. 
insya Allah, yaa <3






sebelum syukuran ultah, Sabtu paginya kita dateng ke event Science Fair yang rutin diadain setiap tahun di sekolah Bumy. karena Adit ada urusan, jadi kita ke sekolah sama Oma dan Opa. dari sekolah, barulah kita semua ngumpul. tim Mricans kumplit, Bun-Abah-Abhi pun hadir karena emang malamnya kita kudu dateng ke acara nikahan sodara dan juga mau nginep di Ciganjur. 



proud momma moment <3
setelah acara nikahan, sementara Oma-Opa balik ke Karawaci, kita nongkrong di Menteng buat makan, abis itu begadang bareng bayi-bayi di rumah. paginya, cuss ke Ragunan karena Bun dan Abah lagi mood berolahraga (a bit hard to believe, hahaha). 
di Ragunan cuma sampai 10 pagi karena udah mulai ramee dan semakin panas, abis itu kita ajak Bun-Abah-Abhi main ke Eleven Trees - tempat nongkrong favorit akhir-akhir ini karena tempatnya nyaman sekaligus memungkinkan tetap beraktivitas fisik. kayak yang pernah gue ceritain, di sini bisa main skateboard, sepeda, pingpong, basket, bilyar, bahkan numpang kerja karena ada coworking space-nya juga. we just lovvve this place, apalagi gue yang emang ngebet mau latihan pingpong hehe. 

setelah semua puas berkeringat di Eleven Trees (kecuali si Bun), kita pun balik lagi ke Ciganjur buat leyeh-leyeh, menikmati ujan, dan 'ngemil' soto mie plus tahu gejrot haha. this, too, should be done more often <3 

   




busted banget si bunda, sibuk ngemil anywhere haha
ah.. karena blogpost ini isinya rekapan hidup, perlukah gue ceritain hal-ikhwal di luar weekend? 
well, this past week I've

- declined that job offer I've been dreaming (as an editor in an NGO - should I keep repeating it? xD)
- had lunch with the marvelous/my idol Pak Anggoro (lucky me indeed) and somehow we got to talk about me declining the aforementioned offer. it's nice to know beliau sudi mendengar keluh-kesah gue, hehe. 
- jadi responden survey mengenai kebijakan terkait talent management di kantor, yang diadain sama konsultan ternama gitu dehhh. gue yakin mereka capcipcup milihnya, dan gue pribadi skeptis it would make any difference, but personally I'm just glad to be able to vent my frustration (or "the brutal facts" as they may call it). 
- jungkir-balik nyiapin dokumen buat tender... yang ujung-ujungnya nggak lolos kualifikasi. 
- main pingpooong. 

guess that's wrapped it all up. 
in short:

02/11/2016

life lately: swimming good

there are just so many things I haven't reported or rambled about in this blog. perhaps I am an obsessive oversharer, but I just *need* to write them down.
seolah punya utang ke diri sendiri kalau melihat "daftar" hal yang perlu diocehkan belum juga bertambah checklist-nya.
so, in random order, this is what I've been up to lately.

- keeping up with the so-called healthy lifestyle
hmm.. in terms of makanan, asupan yang gue berikan ke diri masih nyampur antara sehat dan sampah, sih. tapi yang jelas komposisinya masih sekitar 80 (sampah) - 20 (sehat). haha.
the big downside is we're no longer consuming nasi merah. entah kenapa lupa melulu mau beli beras merah.
...meanwhile, I just had my first indomie in a week.
should I get an applause for such resistance?

dalam hal olahraga, dua minggu ini gue mulai kembali getol olahraga. LAGI. sebelumnya sempat me-rajin, tapi trus sebulan off aja gitu... biasanya gara-gara PMS, rasanya badan jadi super pegel, nggak enak and then I'd feel too tired to workout. begituuu terus siklusnya: mencoba rajin selama seminggu-gagal olahraga selama tiga minggu-and so on.

main pingpong di Eleven Trees,
tempat nongkrong favorit terbaru
tapi akhir-akhir ini gue mulai coba rutinin lagi sih,
- latihan HIIT pake aplikasi
- dilanjutin yoga
- mencoba lari(-lari kecil manja) seminggu sekali
- atau renang, seminggu sekali juga
- main pingpong

haha... yang belakangan ini yang sedang gue gandrungi.
penyebabnya sih cuma karena di kantor ada meja pingpong, yang sebenernya udah ada sejak lama. cuma keinginan buat mulai nimbrung menggunakannya baru muncul akhir-akhir ini.
pertama-tama nyoba main sih 10 menit aja langsung ngos-ngosan. sekarang sih agak lumayan deh, bisa tahan main 30 menitlah, hehe. meski badan basah kuyup keringetan, tapi yaa... seneng. bahkan kalau lagi memungkinkan, bisa tuh gue main sampai 3 kali sehari bak mau jadi atlet kontingen PON xD

it does feel nice to find something new to learn about.
meskipun badan yang kaku ini jadi pegel-pegel banget sesudahnya. tapi kan emang katanya discomfort is a sign that you're stepping out of your comfort zone. (iya bukan sih? haha).

- I started freelancing again!
beberapa waktu lalu gue random aja ngirimin CV ke sebuah agency. syukurlah dapet respon positif, jadi mereka udah beberapa kali hire gue untuk penerjemahan.
job freelancing lainnya gue dapatkan setelah interview dengan founder sebuah startup di bidang finansial. I wasn't eligible for the full-time job, but got an offer to be a freelance contributor instead.

emang bener deh, semakin ke sini, semakin nyata pesan bahwa gue emang perlu lebih sering menjemput bola.

- we got a new cat!

namanya Miti.. atau Mitty? atau Mitchy?
entahlah.
jadii suatu hari Ika sijutekcuek Loekita nawarin salah seekor anak kucingnya buat Bumy. si kucing kita jemput ke rumah Ika di Priok sekalian 'tuk menengok bebi Ryu anak(manusia)nya yang baru lahir hehe... akhirnyaaaa Ika jadi emak-emak juga.
btw Miti ini beda banget personalitynya sama kucing incumbent di rumah, si Vicky yang kuckamp (kucing kampung) banget kelakuannya. Vicky nggak ada anggun-anggunnya, sebaliknya Miti jaim banget.

return of the baby snatcher


MITI <3

tapiiii sekitar dua minggu setelah kehadiran Miti, tiba-tiba Vicky ngilang. kirain dia kecantol kucing jantan manaaa gitu dan bakalan balik lagi, tapi nyatanya doi nggak ada tanda-tanda pulang sampe sekarang.
Bumy sedih nggak?
ndak sama sekali tuh -___- ini anak kadung jatuh cinta sama Miti jadi kayanya dia malah seneng karena bisa fokus mencurahkan cinta ke Miti, zzzz. semoga Vicky baik-baik aja deh di luar sana.

- and it's November already...
"the meaning of life is that it stops." - Franz Kafka
I still think about Weich, and death, a lot. but I don't see it as a bad thing anymore.
beberapa waktu lalu, gue liat postingan Arryo di Instagram, seperti ini,


kata-kata yang dia taro di caption fotonya itu bermakna banget.
but what spoke to me the loudest is this part: "Kantor hanya tempat lain untuk menambah sahabat."
karena sepertinya itu mendasari apa yang gue pahami selama ini. even though Murakami said one should not mix business with friendship. but guess I'm not that wise.
gue seneng di kantor bisa punya 'komunitas' di mana kita bisa ngobrolin hal-hal di luar kerjaan. I'm the kind of person who always craves for connection; membangun interaksi sama orang lain yang bikin kita saling kenal bukan cuma di permukaan. bukan cuma dunia terasa jadi lebih 'luas,' tapi juga bikin kita makin mengerti diri sendiri. so it's a priority for me, to make friends and build connection. 

during one of our always-cheerful and insightful-toastmasters meetings
gathering tantes & brondongs: nobar performance stand up comedy-nya Marcho
minggu lalu gue akhirnya sempat ketemuan sama Elms lagi. kita ngobroooolll panjang-lebar soal ide-ide yang berseliweran di kepala. gue sangat sangatttt mendukung Elms buat bikin website yang ngebahas all about wellness and health. because she is soooo into it right now, and has been living her life using those wellness guides she's been reading about. bakalan keren banget kalo dia bisa menularkan itu ke orang lain, bukan?
gue sendiri dapet (banyak) pencerahan juga dari percakapan kita. salah satunya, entah kenapa jadi tumbuh optimisme. keinginan untuk jadi lebih baik. untuk menata hidup dan prioritas. among many other inspirations she gave me.
Alhamdulillah.. I feel so blessed to 'have' her in my life.

sahabat yang mengajak ke arah kebaikan, rare and so hard to find <3