01/08/2016

aku berkisar antara mereka

Guess I've been distracting myself so much from writing for my own blog.
The last update made was two months ago... it was only until the passing of Weich, my bestest friend, that I felt the urge to write again. To say something, because it hurts too much just to be silent about it.  
The latest entry was the playlist, yang gue kira akan bisa dibuat weekly, bi-weekly kalau best effort, tapi nyatanya? Dua bulan lebih gue nggak bisa menuangkan isi pikiran dan (keruwetan) hati. It’s a bit ironic that I was feeling kind of low on those two or three months.. semacam merasa males, unenthusiastic about life. Well, I thought I had hit a low until I got dragged down into the lowest lows. 

*****
Seperti yang tertuang di blog entry dua bulan lalu, gue sedang bergulat memikirkan gimana caranya hidup dengan passion sebagai bahan bakar utama. Jadi galau karena dipikirin doang sih ya, nggak dilakuin hehehe.
Tapi mungkin yang bikin semakin galau adalah ketika hadir kesempatan untuk kerja bener-bener sesuai passion tadi. I landed two job interviews, satu buat startup sebagai content writer, satu di international NGO buat posisi communications officer.
I was so excited menjalani prosesnya. Mulai dari written test (online) sampai tatap muka langsung. Rasanya suatu kesempatan yang langka dan berharga banget bisa membahas hal-hal yang jadi minat dan juga kemampuan gue. Tapi jujur, gue sadar hati dan tekad gue setengah-setengah dalam menjalaninya. I was constantly making a pro-cons list and actually felt afraid if I should make a decision.
In a way, ada bagusnya juga ketika proses rekrutmen gue tidak dilanjutkan di kedua tempat tadi. I did feel disappointed. Tapi, gue juga menyadari kalau sekarang bukan waktu yang tepat. So, bisa jadi gue dihadapkan ke dua tawaran tadi untuk membuat gue menyadari apa yang paling penting buat gue sekarang. 

 "Don't you understand? When you give up your dream, you die."

***** 
Bulan Mei dan bulan puasa yang baru berlalu bernuansa campur-baur di ingatan gue. 
Gue bertemu Weich dan juga Wawan di tanggal 21 Mei di FX. It was the night of M83 concert. Such a rare occurrence it was. Weich dan Wawan, or the May 13th twins as i call them. Belum pernah terjadi dalam sejarah pertemanan gue untuk meet and greet (emji) sama mereka berdua sekaligus. Yep, padahal kita bertiga kenal sejak SMA. Tapi entah kenapa Wawan dan Weich never really got along. Bukan yang musuhan atau gimana sih, simply mereka nggak merasa klik aja dengan satu sama lain. Beda stream, gitulah.
Tapi kemarin, justru Wawan yang semangat pengen ketemu Weich, karena mau nanya-nanya tips ngadepin IELTS. Jadi, kemarin itu Wawan seolah-olah baru mengenal Weich. Berkali-kali dia melempar komentar, "Gilak koleksi temenlo, Ris!" saking takjubnya sama pengetahuan Weich. :')
He was indeed lovely, and charming...
Originally, my plan for the night was to emji with Wawan dan Weich sampai jam 8 malam di FX. Sesudahnya gue berencana mampir ke konser M83 di Lapangan D Senayan. Meskipun sampai last minute gue belum beli tiketnya, tapi rencana udah disusun sedemikian rapi sampai-sampai gue, Adit dan Bumy check in di The Sultan supaya deket ke FX dan juga Lapangan D. Janjiannya jam 5, dan seperti biasa, Weich dateng on time :')) 
Ketika jam 8 akhirnya tiba, gue memutuskan untuk nggak jadi nonton M83. I don't know, rasanya nggak rela aja memotong waktu perjumpaan yang jarang banget terjadi itu. Obrolan kita seruuuuu banget dan topik nggak abis-abis. Jam 11 malem, kita mau pindah tempat duduk, tapi akhirnya batal, dan kita berpisah. I hugged and kissed Weich goodbye... I told him bahkan sejak awal emji kalau berat banget rasanya hati gue ini melepas dia. Gue mellow bangeeettt. Entah kenapa! Dia cuma ketawa dan bilang "Kan gue cuma 1,5 tahun di sana, Chom. Nanti lo main ajaa." Gue nggak bisa jelasin kenapa rasanya sedih dan berat banget buat gue... Meskipun selama ini di Jakarta emang kita jarang ketemu muka, tapi rasanya dia "selalu ada" aja. Berbeda kalau dia udah di Sydney... He would've felt so far... and unreachable... (little did I know, right?). 


the M(ay)83 brothers...


the last picture of us... 
Ya Allah we had a really great time that evening.... sungguh nggak menyangka itu bakal jadi pertemuan terakhir kita. Malam itu rasanya kita bertiga excited banget. Sampai udah jam 1 pagi masih sibuk komen-komenan di Path dan berkirim mesej via Whatsapp. 
To think about it now, I should really be so thankful, aren’t I? Karena masih sempat punya momen “farewell” yang proper sama Weich… dan bikin dia tersenyum bahagia malam itu.

*****
Satu hal yang juga sangat kental nuansanya di bulan puasa lalu bagi gue pribadi, is that I got to be around people so much. Sangat kontras dengan yang gue alami tahun lalu sehingga gue nggak kebayang having gone through such a lonely life just a year ago. What a difference a year could make…
Of course there were bukbers, lots of it. Belum lagi munggahan dan halal bihalalnya. Don’t we Indonesians just love ngariung? Semua kegiatan itu seringnya ya sama “temen-temen baru” di kantor, dan "temen-temen lama" juga pastinya. 
Sempat reuni sama bapak-ibu rekan-rekan di kantor Jaksel dulu, including my former lady boss, hehehe... Reuni juga sama Nisha yang udah balik dari UK dan Lia yang udah balik juga..dari cuti melahirkan x) Lalu bukber sama so-called Tim EYD yang dipersatukan oleh status sebagai kontributor buat Mommies Daily. Alhamdulillah banget, deh…


munggahan bersama eks rekan-rekan di Jaksel. ada yang udah pensiun, ada yang udah jadi bos, ada yang masih jadi cengceremen (*unjuk jari)
yay full team <3 look at those "babies" - udah tinggi-tinggi semua!


tlkm gatsu toastmasters club; bukber sekaligus penunjukan presiden baru (the one with red top)


si jelata di antara para celebblogger #blessed xD

my loveliest girls

#girlsquad yang telah dibubarkan paksa.. tapi semoga solid selaluh <3
BFFs mamah-mamah kesayangan 

Tapi di sisi lain, gue dan Adit semacam sepakat memprioritaskan bukber sama keluarga besar. Weekend pertama bulan puasa kita bukber sama Mricans dan Cengkarengs. Minggu depannya, Mricans ngundang bapak Adit bukber di rumah. Lalu ketika udah 10 hari terakhir, Adit ngabisin weekend dengan i’tikaf sama bapaknya di Cengkareng. Little did we know those moments are the ones we would miss dearly. Iya, karena tanggal 20 juli kemarin bapaknya Adit wafat, secara tiba-tiba. Tanpa ada sakit, tanpa ada tanda-tanda.


:'(

Innalillahi wa innailaihi roji’un… who would’ve known. Masih terasa nyeselnya waktu beliau ultah tanggal 17 juli (yes, just three days earlier) beliau ultah yang ke-67 dan kita nggak bisa dateng ke rumahnya. Padahal beliau katanya nungguin kita dateng… :’(
***** 
looking at himself on the big screen...
Cerita lain, anak lanang semata wayang tahun ini lulus dari TK. He really couldn't wait to be anak SD. I was immersed in various kinds of feelings from the moment I saw him trying on his elementary uniform. 
Seneng dan bersyukur... Sekaligus malu... Mengingat gue yang begajulan ini sudah dianugerahi amanah berupa anak manusia, tapi sejujurnya belum bisa melaksanakan peran sebagai ibu dengan sebaik-baiknya. Selain itu, yang paling terasa ya bingung dan takjub... because, why so soon? 
Waktu oh waktu. 
Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa
Bertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata mereka
Pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:
Kenyataan-kenyataan yang didapatnya
(Bioskop Capitol putar film Amerika,
Lagu-lagu baru irama mereka berdansa).
Kami pulang tidak kena apa-apa
Sungguhpun Ajal macam rupa jadi tetangga
Terkumpul di halte, kami tunggu trem dari kota
Yang bergerak di malam hari sebagai gigi masa.
Kami, timpang dan pincang, negatip dalam janji juga
Sandarkan tulang-belulang pada lampu jalan saja
Sedang tahun gempita terus berkata
Hujan menimpa. Kami tunggu trem dari kota.


 ("Aku Berkisar Antara Mereka" - Chairil Anwar)


28/07/2016

lost ones

"tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada
pohon berbunga itu

tak ada yang bijak lebih dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu 
di jalan itu

tak ada yang arif lebih dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar
pohon bunga itu..."

june was a very strange month for me.
i lost a best friend. 
he wasn't sick or anything. 
he went to his campus that morning. he walked up in front of his class to present his report, and afterwards, he sat down. he seemed a bit dizzy, but when his friend asked him whether he's alright, he said he's fine. 
just a minute later, he collapsed. 
it was later found out that his heart stopped working. just like that. 

seperti biasa, kepala atau logika yang lebih dulu mengambil alih 'kemudi' untuk memaknai. it was not logical. i know people die everyday... but why him? why now? 
he couldn't even say a proper goodbye. 

sampai kalbu pelan-pelan menelusup di tengah rasa marah dan kesedihan... 
maybe his sudden departure can be seen as something that life's trying to teach me about. that, no matter hard or thorough you've been preparing yourself for all the wildest scenarios, it will still hit you like a hurricane on a calm, harmless morning. or in my case, on an idle thursday afternoon. when you're thinking that you are finally being okay, and your loved ones are safe wherever they are, and there's nothing else in this world that you need aside from that fact and simple basic needs like a comfortable means of transport, a decent job that pays the bill, and a good night sleep. 

and that maybe people are dispensable. that we don't belong to this earth. that we're only here for a while. that we don't have forever. we only have the rest of our lives. 
and that made me realize how the younger a person is, the more often they will use phrases like "for the rest of my life" atau frase lain sejenis, yang dipakai dalam kalimat-kalimat kayak,
"I love him forever and ever," or
"We'll never get along, not for the rest of my life" or
"We are sooo gonna be friends until the rest of our lives."

how very... gullible, isn't it?
baru sekarang gue bisa menilai begitu. betapa kata-kata itu menunjukkan pemikiran yang begitu gullible, dan naif, karena kurangnya pengalaman hidup. iya sekarang, setelah sudah "berumur," sudah puluhan kali janjian sebatas wacana ("Tak ada teman / telah terpencar" kata Pure Saturday), dan sudah mengalami ujung-ujungnya berteman dengan orang yang dulunya disebelin. 

tapi bukan berarti sekarang frase-frase tadi sama sekali nggak pernah terucap. deep within, I still belive some things will last forever (and ever). 
contohnya persahabatan yang gue miliki dengan dia... weich. 
bisa dibilang, I have always believed that there would always be me and him. apapun yang terjadi. teman-teman, bahkan sahabat-sahabat lain bisa come and go. bisa jadi strangers. tapi kami? I believed we were gonna be friends for the rest of our lives. 
FOR THE REST OF OUR LIVES. 

tapi, bukankah manusia memang seperti itu? we want things to go the way we expect them to. kita bahkan berpikir sudah seharusnya dunia berjalan seperti yang kita rencanakan. maybe it's a simple, blind confidence, that engrosses us like a plague. 
seperti yang juga menjangkiti gue; gue yakin hidup akan berjalan "sebagaimana mestinya." gue dan weich terus bertumbuh bersama just like we had been doing for this past 20 years. gue akan menyaksikan weich menikah with whoever the bride or the groom is, just like he did when I got married on 2007. gue akan mendampingi dia membesarkan anak-anaknya kelak, jadi "onti kome" just like he had been "paman weich" buat bumy. 

sampai lalu suatu hari terbukti semua itu nggak akan pernah bisa terjadi.
weich had passed away.
yes, weich, MY weich. 

masih teringat dengan jelas, gimana di kamis sore itu gue sedang bersama teman-teman toastmasters menuju venue buka bersama. iseng membuka aplikasi path, gue temukan echa, teman kantor weich, menulis status mengajak mendoakan kesembuhan weich. she wrote "Tio" so I was like, "maksudlo Tio = Weich? dia kenapa??" to which she answered, "iya, Setio. dia kena serangan jantung tadi pagi." 
what. the. hell. i thought... 
what, is this a joke?? 
tapi gue tau echa wouldn't joke about such thing. it'd be too cruel. 

sesudah membaca itu, gue bengong... sampai temen yang nyetir mobil salah masuk parkir karena gue nggak menjalankan 'tugas' selaku penunjuk jalan. hampir secara otomatis gue mengirimkan pesan ke weich via whatsapp, hanya untuk bertanya "cin lo gimanaaaa??" I still believed he would reply, maybe not immediately, but he would. soon. 

di sisi lain, ada satu hal yang baru gue pahami tentang diri gue.. betapa ternyata ada semacam kompartemen-kompartemen emosi di diri gue. saat itu, I could manage to go on with the bukber, bisa ngobrol-ngobrol seru, ketawa-ketawa. padahal dalam hati gue kalut mikirin kabar weich. 
meskipun begitu, jujurnya, there was still a glimpse of optimism in my heart. gue somehow yakin kejadian ini akan 'berlalu' dan weich bisa tertangani dengan baik karena dia langsung dibawa ke RS sesaat setelah serangan tsb terjadi. 
tapi bisa jadi saat itu gue belum sepenuhnya 'sadar' akan apa yang terjadi... karena begitu sampai di rumah, udah bersih-bersih, udah nangkring di ranjang, baru deh terasa... betapa gue sangat TAKUT kehilangan weich. betapa gue SEDIH ini harus menimpa dia. betapa gue dibuat KHAWATIR tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. 
barulah gue bisa nangis... 

aneh juga saat menyadari kalau beberapa minggu belakangan gue memasang gambar bertuliskan "life is short. stay awake for it" sebagai profile picture di whatsapp. mungkin terdengar kurang masuk akal, tapi entah kenapa terasa sangat relevan dengan kejadian yang menimpa weich hari itu. 
bener-bener baru paginya gue me-remove gambar itu. ya lagi-lagi entah kenapa. 
gue cuma inget merasakan a rush of desire to "do the things I've always felt scared of." 
gue bahkan menuliskan satu demi satu hal-hal apa yang termasuk kategori tersebut, seperti naik haji... punya anak kedua... kuliah lagi... dll. 
things that have been my 'monsters.' karena cuma membayangkan melakukan hal-hal itu aja membuat gue ingin berlari kabur. 

but why on THAT particular morning, gue merasa sudah saatnya menghadapi monster-monster jiwa itu? 
lalu sorenya gue mendengar berita tentang weich. bagaimana dia tiba-tiba mengalami serangan jantung.. in the middle of our oh-so-young life... 

gue tau betapa weich sudah berjuang untuk mencapai mimpi-mimpinya, salah satunya adalah mewujudkan goalnya kuliah di sydney ini. he had beaten one of his monsters! gimana dengan berdarah-darah dia belajar english buat meraih skor IELTS yang qualified. gimana dia menata hidupnya hingga bisa kaya sekarang. gimana dia bisa menjadi dirinya saat ini yang 'genah,' yang kritis, yang wise... 

and that's exactly why I need him to stay with me... because I need him to help me face my monsters. 
just like what he's been doing ever since we were TWELVE. oh God... 

gue bisa membayangkan dia memutar bola mata mendengar permintaan gue ini, dan berkata, "Chomeyyy, selalu deh ya! you are such a selfish bitch!"
but he knew how demanding I could be and that never bothered him. because we are MORE than just any person to each other. 
we are US. what can I say, it always feels like we are one soul divided into two bodies. 
"it's like you're my mirror / I couldn't get any better with anyone else beside me..."

and that's when I truly realized, that life is, indeed stupidly short. and we needed each other to go through it....

tapi.. jika Allah berkehendak, maka manusia hanya bisa ikhlas menerimanya. hari sabtu jam 11 siang, gue menerima kabar that weich had passed away. his struggle was over. 
and there's nothing that i could do but to accept it. 
but to live life like i hadn't lost a limb... 

twenty years. twenty fucking years. 
we've made so many memories, countless laughter, fights, and hugs... but still it's not enough. 
there's still so many people i want to introduce him with. still so many thoughts ands ideas i need to share with him. there's still too much love i need to show him. 
but... how ungrateful would that make me be?
how more tortured could i get?
i'm sure that's not what God intended for me... not for him also... 
he left with dignity. dalam keadaan yang mulia... dalam kondisi sangat sangat bahagia dan puas sama hidupnya. how many people have that kind of privilege, to feel content and satisfied and GRATEFUL for their life? 

ketetapan Allah pastilah yang terbaik. karena dari Zat yang Maha Suci tidak akan lahir suatu keburukan. 

later on, i noticed how on the farewell video he made before he departed to sydney, he quoted words from Arisan! 2 the movie, 

"teman, selalu datang dan pergi... hanya teman sejati yang selalu di hati
saat teman ada di sisi, itu adalah anugerah... dan, saatnya untuk dinikmati,"

...and how he closed the video with a prayer, 
"Semoga, jika diijinkan Tuhan, kita bisa bersama lagi," with his gentle, soft voice. 
which i kept listening to over and over again. 

so long, my golden bestfriend. 
i have no regrets for everything we had been through. if there is a chance for me to repeat this life i'd shared with you, i'd take it without a doubt. 
but not to change a thing... simply just to feel everything twice. 

Setio yang baik hati... yang lembut... yang penyayang... yang sabar menghadapi gue... yang selalu mau BERUSAHA meluangkan waktu dan berletih-letih membelah ketidakramahan jakarta untuk bertemu gue. yang gue hubungi kalau butuh ketawa. yang cuma perlu berkomunikasi sama gue lewat tatapan mata and we would instantly know what's on each other's mind. 

i could write a hundred pages just to show how much i know about him and how a thousand things could remind me of him, but... it really doesn't matter. he'll always be on my mind. he always has been my inspiration. and it is a blessing to have known him and enjoyed his company. 
he has given the world something. 
and if that's all there is, maybe it was enough.


*
*
*
in loving memory of Setio Nugroho (1983 - 2016)

26/05/2016

thursday playlist: travelling north

so I'm starting out this new "series" for my blog, which is a playlist series. 
this is where I document a chain of songs that captures the way I'm feeling throughout the week. 

and for a start, I made this one called "travelling north." 
what the heck is it intended for?

masih berhubungan dengan blogpost gue di minggu ini, yang berjudul "on loving." di situ gue ngebahas soal konsep mencintai diri sendiri - more or less. I wrote something like, 
"..kalo memang passion gue itu hal yang membuat gue bahagia/fulfilled/feel whole, maka gue harus terus mengejarnya, mencari-cari alasan untuk 'bertemu' dengannya, dan mencurahkan energi untuk bisa 'bersama'nya. 
just like when you're in love."

and this is what the playlist all about. 
tentang jatuh cinta, pada sesuatu yang MUNGKIN nggak akan pernah bisa lo rasakan untuk miliki. tentang gimana perasaan yang kuat itu terus menarik lo, sehingga mau nggak mau lo mengambil risiko juga untuk "berjudi." 
even though you might end up broken and beaten down, but you just have to take the chance anyways. because you just can't fight the feeling. that longing to something that pulls your heart the hardest. that one thing that never fails to excite you. that passion. 

a wise man once said passion adalah sesuatu yang we enjoy the most, sekaligus sesuatu yang sifatnya "must" buat kita. 
"Must is who we are, what we believe, and what we do when we are alone with our truest, most authentic self. It's that which calls to us most deeply. It's our convictions, our passions, our deepest held urges and desires - unavoidable, undeniable, and inexplicable.To choose Must is to say yes to hard work and constant effort, to say yes to a journey without a road map or guarantees, and in so doing, to say yes to what Joseph Campbell called 'the experience of being alive, so that our life experiences on the purely physical plane will have resonance within our innermost being and reality, so that we actually feel the rapture of being alive.'Choosing Must is the greatest thing we can do with our lives."
(from the book "The Crossroads of Should and Must")
the words "travelling north" are uttered in Vashti Bunyan's "Train Song."
bagi gue, lirik lagu itu berbicara tentang mencari sesuatu yang udah lama hilang. elo tau apa yang lo cari, tapi nggak tau harus ke mana supaya ketemu. so you travel north to find it... lo nggak tau apa yang akan terjadi ketika lo akhirnya bisa bertemu sama dia/hal tsb ("don't even know what I'll find when I get to you"), but you know for sure that you will finally be where you truly belong. *sigh*

but as we all know, the journey to attain something we desire is often not a smooth one. you will feel endless doubts. you'll question yourself so many times you'd lose your mind. 
you'll get lost. you'll be afraid to even possess the faintest sight of hope. 
so you'll try to relent that desire. you'll even try to turn back and change your course... you'll try to say goodbye. you'll struggle to stop wanting, but fail. until one day you just don't care "if the feeling goes both ways," and start the search all over again. 

and so it's all rendered in these following songs:
1. Oh Nadine (You were in My Dreams) - Willow Smith
2. The Circle Married the Line - Feist
3. Your Type - Carly Rae Jepsen
4. Kiss It Better - Rihanna
5. Lost in You - Ash
6. Goodbye to Love - The Carpenters
7. Feels Like We Only Go Backwards - Tame Impala
8. Do I Wanna Know? - Arctic Monkey
9. Train Song - Ben Gibbard & Feist


19/05/2016

on loving

ada sebuah pernyataan di majalah parenting yang nyantol banget di kepala gue. 
dalam sebuah artikel, dikatakan kalau apa yang dibutuhkan oleh anak dari orangtua bisa terangkum dalam 3 hal, yaitu cinta, aturan, dan konsistensi. 
berasal dari narasumber yang juga psikolog dan bisa dianggap expert di bidangnya, mata gue bak dibukakan lebar-lebar saat 'menemukan' pernyataan tersebut. terlebih waktu itu gue masih menjabat titel orangtua baru alias newbie, yang sehari-harinya berkutat dengan perasaan takuuut, was-was, dan khawatiiiir, tanpa henti mempertanyakan apakah yang gue lakukan selama ini udah 'bener' apa malah 'salah' tanpa gue ketahui. 

I'm no expert myself. kalau dinilai, semua yang gue lakuin dalam menjalankan peran sebagai ibu menerapkan paham trial & error semata. tapi semenjak mengenal konsep "3 Bahan Pokok" tadi, gue merasakan langkah gue lebih ringan.. well, if you can't trust your own heart, what else can it be? walhasil, setelah tau teori ini, kelar deh teori yang lain-lain. 

sampai lalu tiba-tiba terbetik di pikiran, kalau 3 hal tadi esensial demi well-being anak, kenapa nggak coba diterapin ke diri sendiri juga?

mencintai (anak maupun mencintai diri sendiri), kayaknya terdengar mudah banget, deh. of course we love our children. and of course we love ourselves. tapi gue rasa tantangannya terletak pada gimana mencintai secara sehat. mencintai tanpa menggenggam erat-erat, tanpa merasa anak itu "milik" atau our God-given right sehingga berhak kita perlakukan kayak gimana aja, semau kita. 

kalau meminjam istilah Ki Hadjar Dewantara, menurut gue wujud cinta yang bener itu adalah dengan menumbuhkan ia atau mereka yang kita cintai, bukannya dengan mengekang atau mendikte.... 
attachment is the very opposite of love. love says "I want you to be happy." attachment says "I want you to make me happy."
saat udah menjabat titel sebagai orangtua, gue hampir secara otomatis ngerasa perlu banyaakk banget belajar. waktu masih newbie dulu, getol banget melajarin soal ASI, MPASI, dan tumbuh-kembang anak. abis itu jadi getol belajar soal financial planning demi terwujudnya impian-impian buat anak dan keluarga. lantas getol belajar tips 'n tricks seputar parenting (demi bisa meghentikan tantrum anak tanpa harus ketularan tantrum), seputar pendidikan (demi bisa memilih sekolah 'terbaik' jadi nggak malu-maluin kalau check in location di Path), seputar ini itu, banyaaak sekali. 
emak-emak jaman sekarang pasti udah familiar banget deh sama ungkapan, "perasaan dulu emak-bapak gue nggak ribet-ribet amat kayak begini, dah!"
dan ya, sungguh ya, kalimat itu juga terlontar di benak gue. 
meski harus gue akui kalau implikasi dari pemikiran tersebut kadang berupa hal negatif, sih, di gue. kadang gue jadi suka menyesalkan, kok dulu nyokap gue nggak concern sama hal ini sih. atau kok dulu bokap gue nggak peduli amat waktu gue lagi begini begitu. I wish they would have learned "how to be a parent" like I've been doing until now! 

hehehe gue ngerti siih, nggak bolehlah nyalah-nyalahin emak-bapak sendiri. they did their best, and yes I believe in that as well! nggak ngerasa gue orangtua paripurna juga, kok... tapi ya itu tadi, sometimes, I just can't help not to wonder... how much difference would that make?

well, kembali ke saat ini, gara-gara kepikiran untuk menerapkan aturan "3 Bahan Pokok" tadi, gue jadi mulai berpikir, bahwa sekarang ini, saat gue udah kadung dewasa, tanggung jawabnya ya ada di tangan gue sendiri. gue yang harus mensuplai apa-apa yang gue perlukan tadi; ya cinta, ya aturan, ya konsistensi. ("lha emang iyaaaa, jeng.. telmi amat!" mungkin begitu respon sebagian khalayak blog ini saat membaca kalimat gue itu kekekek. but I'm a slow learner, so.. maklumin ye). 

gue perlu memberikan cinta yang menumbuhkan itu ke diri gue sendiri, for my own sake. gue yang perlu menerima segala kelebihan dan kekurangan diri, tanpa judging, tanpa bad-mouthing, and without being discouraging. 
lucu deh kalau dipikir-pikir, kita jauuuuh lebih sungkan sama orang yang kita nggak kenal dibanding sama diri kita sendiri. 

trus, as we all know, mencintai juga terwujud dalam usaha membahagiakan, right? 
kalo buat anak, setengah mati deh kita berusaha memberikan yang terbaik (kaki jadi kepala, kepala jadi kaki kalo kata bapak-bapak di kantor). why not do the same buat diri sendiri? 
it does sound kinda selfish sih, terutama buat emak-emak. karena seperti yang gue rasain sendiri, begitu jadi emak-emak, prioritas kesenangan diri munduuur ke urutan sekian puluh. padahal udah sering denger 'kan salah satu rumus parenting yang bilang kalo "happy mothers make happy kids?" segitu esensialnya loh membahagiakan diri sendiri, sampe dianggap bisa ngejadiin anak-anak kita bahagia juga. esensial, dan juga segitu simplenya kalo dipikir-pikir.  

hmm... in order to do that, firstly we need to define what "happiness" means for us dulu nggak sih? karena setiap orang pasti punya konsep yang berbeda-beda tentang bahagia itu seperti apa. kalo di tafakur sih dibilangin kalau bahagia itu kondisi jiwa, batiniah, bukannya badan atau jasmaniah. jiwa ini yang abadi. ketika badan udah nggak bisa berfungsi lagi, atau rusak, atau hancur, jiwa ini masih akan terus eksis. cuma berpindah alam aja.. dari alam dunia ke alam kubur lantas alam akhirat. 
kalo udah aware of that fact, masih penting lagi nggak sih apa-apa yang kita kejar di alam dunia inih? 
seharusnya sih... kita membahagiakan jiwa dengan sebanyak-banyaknya ngumpulin bekal. karena kayak dibilang tadi, jiwa ini yang abadi, yang bakalan "pulang." 

some things changed sejak gue balik kerja full-time lagi. secara fisik ya jelas banget, gue jadi punya tempat yang dituju setiap pagi selain sekolah bumy. tapi yang paling berasa ada perubahan ya jelas di hati. I definitely feel "happier." bukan berarti hari-hari di kantor melulu diisi tawa canda riang serta asupan nilai, ilmu, dan inspirasi yang bermakna. sucky things happen. almost always.. like a lot, malahan hahaha. tapi gue jadi makin kenal kebutuhan jiwa gue sih, yang butuh bersosialisasi, yang butuh memedulikan hal-hal di luar urusan domestik. gue seneng ngantor karena I get to meet people. even though the work is not satisfying, soul-wise. 
tempo hari waktu tafakur, dokter yuniar ngingetin gue lagi soal niat bekerja. supaya terhitung ibadah, kita perlu lurusin niat... apalagi sebagai perempuan, nyari nafkah itu bukan "main job" gue. kalo menurut beliau sih, niat yang 'lurus' itu adalah membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga... bukan yang lain-lain. 
gue nggak bisa bilang apakah sanubari gue setuju sepenuhnya dengan pernyataan itu, sih. karena ada hal lain yang gue "cari" dari bekerja. gue pengen bisa ngasih impact yang nyata, bikin perubahan positif, termasuk juga bener-bener mengenal dan menumbuhkan diri gue. 


tempo hari ada kesempatan berkarir yang hampir datang ke pangkuan gue. meskipun akhirnya batal, tapi proses yang udah gue lalui bikin gue tersadar, kalo gue akhirnya tau apa passion gue. gue juga tersadar kalo memang passion gue itu hal yang membuat gue bahagia/fulfilled/feel whole, maka gue harus terus mengejarnya, mencari-cari alasan untuk 'bertemu' dengannya, dan mencurahkan energi untuk bisa 'bersama'nya. 
just like when you're in love. 

tapiiii kembali ke prinsip "3 Bahan Pokok" tadi, kalo nurutin cinta doang, ya bisa-bisa buta, terjatuh, atau mabuk. sebagai orangtua, apapun yang gue lakukan buat anak rasanya dilandaskan sama pemikiran kalau semua itu demi kebaikan dia. tapi cinta yang menumbuhkan, yang bener, juga berarti memagari dengan peraturan. seperti yang pernah gue bahas di blogpost ini, cinta ibu ke anaknya sampai bisa dianalogikan dengan cinta Tuhan pada mahlukNya. Tuhan aja ngasih kita peraturan; yang mana semuanya itu demi kebaikan kita (di akhirat kelak). dari situ bisa jadi contoh juga buat gue sebagai orangtua, kalo mencintai bukan berarti membebaskan sejadi-jadinya. 
kalau untuk diterapkan ke diri sendiri, dengan demikian gue juga PERLU menerapkan aturan ke diri gue sendiri. mulai dari disiplin bangun pagi, sholat lima waktu, disiplin urusan duit, eat right, fight right, punya batasan-batasan yang nggak boleh dilanggar, dan lain sebagainya. in short, I need to do the RIGHT things. 

terakhir, adalah konsistensi. yak, semua aturan yang udah diterapkan tadi ya perlu dilakukan terus-menerus. kalau kita larang anak melakukan satu hal, ya harus konsisten dilarang di setiap kesempatan dan kondisi, tanpa ada dalih alih-alih hehe. begitupun ke diri sendiri, kalau udah yakin sama satu nilai/value tertentu, ya jangan dikotak-katik lagi... 
makanya gue suka banget kata-kata/doa "semoga istiqomah." di dalamnya ada harapan untuk bisa terus sukses melakukan sesuatu sampai titik akhir... sesuatu yang bener, yang positif, tentunya. 
"I'll take it nice and slow
Feeling good on my own without you
Got me speaking in tongues
The beautiful, it comes without you
I'm gonna put my body first
And love me so hard 'til it hurts"

13/05/2016

membongkar mitos-mitos montessori

tempo hari gue nyetatus di Path seperti ini:
"New milestone unlocked: bayar uang pangkal SD."

lega rasanya udah menjatuhkan pilihan, meskipun seperti yang pernah gue ocehkan di sini, sampe batas waktu terakhir harus memilih tetep aja gue belum merasa 100% sreg.

dipikir-pikir sekarang, yang bikin kita nggak sreg adalah faktor-faktor di luar metode pendidikan yang diterapkan. contohnya lokasi, yang udah nggak bisa diapa-apain kecuali kita pindah rumah (#ihaveadream). trus juga uang pangkalnya yang bakal bikin kita mikir sekian kali kalau mau relokasi - ya sapa tauk adit dapet kerjaan di negeri tetangga atau pindah benua, gituh (#agirlcandream) - saking agak 'meleset'nya dari ancer-ancer uang pangkal SD di financial plan awal.
serta sederet hal-hal lainnya sih... yang udah pernah gue beberkan sebelumnya. intinya, it wasn't THE perfect choice.

but when the time came for us to make a choice, setelah ditimbang-timbang, satu hal yang bikin sreg sampai bisa melampaui faktor-faktor tadi ya metode pendidikan yang dipake. it's none other than the authentic montessori method, applied with Islamic values. yang udah paket combo bangetlah di mata gue!


kenapa montessori segitu memikatnya bagi gue secara pribadi, jawabannya ya karena pendidikan tsb oke banget. secara garis besarnya, karena montessori menyesuaikan dengan perkembangan (otak) anak, mendukung multiple intelligences dan active learning, melatih kemandirian anak (dalam berpikir dan berperilaku), PLUS... membentuk anak jadi lifelong learner.
biar afdol, kalau mau liat pembahasan lebih runut seputar kayak apa montessori dan manfaatnya kayaknya bisa ditemukan di sini.

well, mungkin ada yang mikir semua benefit tadi iming-iming 'dagang' semata.. of kors gue pun nggak menampik gimana output dari pendidikan montessori akan sangat tergantung pada penerapannya di lapangan.

tapi gue harus bilang kalau sejauh ini I feel quite optimistic, sih.
ada kejadian di mana bumy ikut 'tes' observasi di sekolah lain yang tadinya jadi kandidat calon SD. sekolah ini reputasinya terbilang cetar-lah. kurikulumnya lumayan didominasi nuansa akademik, nilai UN level SD-nya oke, dapat peringkat ke sekian di DKI. dari hasil riset, kunjungan, dan hearsay, bisa disimpulkan kalau sekolah ini punya threshold yang cukup tinggi untuk kemampuan kognitif calon siswanya.
gue sih nggak nyiapin apa-apa buat bumy untuk ngikutin tes di situ. bahkan yang nganterin bumy tes cuma embak ART (dan tukang kebon freelancer sebagai ojek dadakan).
setelah tes, tentunya hasilnya diobrolin oleh Kepsek sekolah tersebut dengan gue. as I said, gue nggak ngoyo untuk masukin anak ke sini, dengan berbagai pertimbangannya, jadi nggak ada debar-debar aneh juga ketika mau denger gimana hasil observasinya. but when I talked with the principal, this is what I heard: "aduh, kalo anak montessori nggak usah ditanya lagi deh, kemampuan calistungnya di atas rata-rata. (mereka) juga mandiri dan dewasa banget dibandingkan yang lain."
*insert gif hidung kembang-kempis*

singkatnya, bumy diterima masuk ke situ. tapiii setelah mikir bolak-balik, alih-alih masukin bumy ke sekolah tsb, gue dan adit tetep milih sekolah bumy yang sekarang dengan segala risikonya. sekolah bermetode montessori otentik yang memang belum bisa menyelenggarakan UN di sekolah sendiri (karena belum punya lulusan), yang belum dapet akreditasi, lahannya terbatas, dan manajemennya juga masih 'hijau.'
tapi jika dilihat lewat perspektif yang berbeda, sekolah bumy sekarang ini udah cukup lumayanlah dalam menerapkan metode yang diusung - karena ya keliatan hasilnya di bumy.

kalau gue liat-liat sekeliling, cukup banyak orangtua yang milih nyekolahin anaknya di sekolah bermetode montessori. karena nama montessori sendiri nggak dipatenkan, makanya banyak sekolah yang bisa mengadopt maupun mengklaim menerapkan metode tersebut - meski mungkin cuma sebagian, dengan dicampur metode pendidikan lainnya. montessori juga lebih banyak diterapkan buat pendidikan anak usia dini aja alih-alih dilanjutin sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
ketika diulik-ulik (meski tanpa sengaja hehe), ternyata banyak stigma yang beredar seputar montessori, bahkan di kalangan orangtua yang juga udah menyekolahkan anaknya di TK montessori. salah satu yang suka gue denger adalah "aduh montessori kayaknya terlalu santai/kurang nampol kalo buat SD."

gue paham banget sih maksudnya. sekolah montessori (anak gue) emang nggak ngasih nilai, rewards, hukuman, bahkan juga nggak ada PR.
sementara di mata (banyak) orangtua, masa bersekolah di SD itu seharusnya dipergunakan untuk 'menggempur' anak dengan pelajaran, rupa-rupa skills, dan disiplin dalam belajar. I used to think that way jugak.

tapi... kala ku menyadari kalo diri ini nggak bisa sabar ngajarin anak, gue bersyukur sekolah bumy ngajarin calistung tanpa harus gue drill sama sekali di rumah (tau-tau anaknya bisaa aja).
menyadari diri ini pemalas, begitu mendarat di rumah maunya main-main sama anak sekadarnya, gue bersyukur sekolah bumy nggak ngasih PEER dan project yang sulit-sulit.
menyadari diri ini mudah stres, hati gue adem pas baca status temen yang anaknya bersekolah di SD montessori kayak begini: "di saat ibu-ibu lain lagi sutris ngajarin anaknya buat UTS, kami bisa leyeh-leyeh, ketawa-ketawa, main-main bareng." ya secara sekolah bumy nggak ngasih ujian, ulangan, atau sejenisnya tiap sekian bulan.
guilty as charged, gue mikirin yang enak di gue doang hahaha.

but in a more serious light, I believe in montessori education. efeknya keliatan banget di diri bumy. mungkin ini mamak semacam pamer bin riya' yah, tapi jika memang yang dijadikan tolak ukur cuma kemampuan kognitif semacam calistung, 'rapot' bumy udah bisa dapet nilai A semua.
meskipun begitu, gue prefer menilai anak secara lebih luas. seperti yang pernah gue tulis di sini, scope penilaian setiap kemampuan anak yang diterapkan di pendidikan montessori nggak sesempit yang gue kira. anak bukan cuma dibentuk untuk lulus dari TK dengan kemampuan akademik yang kuat; tapi yang lebih penting, dengan ATTITUDE bahwa belajar itu menyenangkan, seru, dan tanpa batas.
karena itulah gue terkagum-kagum melihat gimana ada semacam eagerness di diri bumy untuk belajar dan menguasai suatu hal. terasa kalau ada working ethics yang ditumbuhkan di dirinya. ini hal yang nggak kasat mata, karena nggak bisa diukur cuma dengan menanyakan "1+1 berapa?" atau "ini huruf apa? dibacanya gimana?"

kalau mau bicara faktor penguat secara scientific, ternyata ada studi yang diterbitkan di jurnal "Science" di tahun 2006 yang menyatakan bahwa murid-murid montessori cenderung menunjukkan skill sosial dan kreativitas yang lebih advanced, dan bisa perform lebih baik dalam ujian baca dan matematika dibandingkan anak-anak lain di program tradisional.

that being said, asumsi kalo montessori itu nggak memberikan efek 'nampol' buat anak sejatinya bisa disebut mitos.. ya ndak?

dari situ, gue pun mulai lebih kepo sama asumsi-asumsi semacam ini.
tujuannya apa? bukaan, bukan supaya bisa bales nyinyir ke orang lain hahaha. justru supaya gue bisa lebih sreg sama pilihan yang udah dibuat. lalu kalaupun ada asumsi negatif yang ternyata emang valid, ya supaya gue udah siap aja, gitu *pasrah*
kebetulan, suatu hari seorang ibu yang punya concern besar sama pendidikan (dan kebetulan nyekolahin anak-anaknya di sd montessori hehe) nge-share artikel di sini. judulnya "Montessori Myths Busted", dan ini yang mau gue share ulang di blogpost ini. kurang lebih gue bakal nerjemahin apa isi artikelnya aja sih, tapi mungkin bakal ditambahin juga sama pendapat gue pribadi.

Mitos #1: Montessori cuma buat anak-anak yang berbakat.
apa iya anak harus berbakat buat bisa disekolahin di montessori?
jelaslah sebenernya montessori itu buat semua anak, tanpa memandang level kemampuannya. tapi asumsi ini muncul mungkin karena di mata orang awam, murid-murid montessori kerap terlihat lebih advanced dibandingkan anak-anak lain seusianya, yang menimbulkan asumsi kalo sekolah tsb cuma bisa memenuhi pendidikan untuk anak-anak yang berbakat. (personal note: ini kok berasa humblebrag banget yak? hahaha).

padahal yang sesungguhnya terjadi adalah, pendidikan Montessori memanfaatkan dorongan alami di diri setiap anak, yaitu dorongan kuat untuk belajar, dan memberi stimulasi sesuai kecerdasan majemuk anak. ketertarikan anaklah yang menjadi pedoman bagi guru untuk mengatur pembelajaran yang bisa menstimulasi anak.



Mitos #2 – ruang kelas Montessori itu kacaww alias chaos.
kalo ada yang nyoba merhatiin seperti apa kegiatan dalam ruang kelas montessori sehari-seharinya, selama dua jam gitu misalnya, maka yang akan diliat sesungguhnya bakalan jauh banget dari ribut dan kisruh. penerapan sistem pembelajaran dalam montessori mengizikan anak melakukan banyak hal sendiri. kemerdekaan pembelajaran sangat ditekankan, dan sebaliknya intervensi dari orang dewasa dalam lingkungan belajar sangat tidak dianjurkan. anak-anak didorong untuk melatih self-discipline-nya sendiri, dan ini berlaku juga bahkan untuk anak-anak yang masih sangat kecil.
guru lebih bertindak sebagai pemandu dan memfasilitasi anak untuk belajar sendiri, dengan menggunakan material yang sudah dirancang khusus untuk tujuan belajar tsb.

berbeda dengan di sekolah tradisional, dalam pendidikan montessori anak-anak nggak diajak berpindah-pindah tempat dalam kelas secara berkelompok atau disuruh melakukan aktivitas yang sama di saat bersamaan. anak-anak justru akan dipaparkan pada berbagai jenis material yang bersifat self-correcting.
prosesnya gini, pertama-tama guru akan mendemonstrasikan sebuah material, atau bahkan terkadang bisa ditemukan anak yang lebih tua yang melakukan demonstrasi itu. lalu anak-anak bebas memilih aktivitas mana yang menarik bagi mereka. mereka ditinggalkan sendiri untuk bereksperimen dan berlatih dengan material tadi, yang sebenernya suatu hal yang membantu anak-anak ini mengajarkan diri sendiri berkonsentrasi, membangun skill koordinasi, dan juga kemandirian dalam suatu keteraturan yang tidak membutuhkan pengawasan orang dewasa.

montessori percaya kalau setiap anak harus merasa santai, tenang, dan tenggelam dalam aktivitas. saat terjadi argumentasi antara anak-anak, mereka dibiarkan berusaha menyelesaikannya sendiri. meskipun begitu, mereka juga memperoleh keterampilan manajemen konflik dari para guru, yang membantu mereka menyelesaikan masalah.

Mitos #3 – Montessori tidak memfasilitasi perkembangan sosial.
respek yang ditunjukkan guru kepada setiap anak menjadi teladan bagi anak-anak untuk saling menghargai. anak-anak kecil berinteraksi dengan anak-anak lain dan juga dengan orang dewasa, sehingga secara bertahap mereka menjadi lebih peduli dan sensitif terhadap sekelilingnya. rentang usia 2-3 tahun dalam kelas menyebabkan pembelajaran terjadi dari anak-anak yang lebih besar ke yang lebih kecil, dan ini terjadi secara alamiah.

namun montessori juga menghargai anak dan kebutuhannya akan privasi. selain memenuhi kebutuhan anak untuk beraktivitas sendiri(an), area dan aktivitas dalam kelas juga memungkinkan anak-anak saling berinteraksi. anak-anak yang lebih besar sering menjadi guru bagi yang lebih kecil, serta anak bisa bekerja sama ataupun sendiri-sendiri sesuai pilihan mereka.



Mitos #4 – Montessori tidak ketat secara akademis.
banyak orangtua khawatir menyekolahkan anak di pendidikan Montessori karena berpikir metode ini tidak akan mempersiapkan anak-anak mereka untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Sekali lagi, ini bisa dibilang sangat tidak benar.
Sistem Montessori tahu bahwa anak-anak yang masih sangat kecil dapat memahami konsep-konsep yang rumit jika mereka diperkenalkan secara konkret. Sebagai contoh, jika mereka telah belajar tentang tabel perkalian menggunakan material '100's Board' maka mereka akan memiliki pemahaman yang jauh lebih besar tentang perkalian ketika pembelajaran berkembang menjadi simbol abstrak.

Seiring anak tumbuh dewasa, mereka mempelajari keterampilan seperti membaca, menulis dan juga meneliti dengan mengeksplorasi mata pelajaran lain dalam kurikulum, seperti kajian budaya dan ilmu pengetahuan. Keterampilan tidak hanya diajarkan untuk kepentingan itu, tapi juga untuk mendorong peserta didik maju lebih cepat karena mereka sering mempelajari area yang menarik bagi mereka.



Seperti dikutip dalam studi Angeline Lillard yang diterbitkan dalam jurnal, Science, pada tahun 2006, "Siswa Montessori terbukti secara signifikan lebih siap untuk sekolah dasar dalam keterampilan membaca dan matematika daripada anak-anak non-Montessori.
"Mereka juga teruji lebih baik pada 'fungsi eksekutif,' yaitu kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan dan masalah yang lebih kompleks, suatu indikator kesuksesan dalam bersekolah dan hidup di masa depan."

Menurut neuroscientist, Dr Steven Hughes, "Jika kami memutuskan bahwa tujuan pendidikan seharusnya adalah membantu otak setiap anak mencapai potensi tertinggi perkembangan ... pendidikan Montessori menyajikan pendekatan pendidikan yang secara radikal berbeda - dan juga secara radikal efektif -  yang mungkin menjadi metode terbaik untuk memastikan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional yang optimal dari setiap anak."

Mitos #5 – Anak-anak yang lebih besar akan mengintimidasi yang lebih kecil.
anak-anak Montessori disusun dalam kelas dengan rentang usia 2 sampai 3 tahun. ini bikin banyak orang tua khawatir nantinya anak-anak yang lebih tua akan mengintimidasi anak-anak yang lebih kecil.

padahal kondisi mixed-age (campur-usia) ini memberikan kesempatan bagi siswa yang lebih berpengalaman untuk menjadi role model dan membantu anak lain. hal ini menaikkan harga diri anak.
dengan adanya rentang usia di kelas, kompetisi diminimalisir sebagai motivator. Para siswa dapat dengan nyaman berbagi pengetahuan dengan satu sama lain. Mereka belajar untuk bekerja sebagai tim dan menghargai kontribusi masing-masing anggota dalam situasi apapun. Kemampuan ini bisa menjadi "alat" bagi anak dalam memecahkan konflik, yang akan membangun toleransi untuk sudut pandang yang berbeda dan mempersiapkan anak-anak menjadi orang dewasa yang penuh kasih.

Mitos #6 – Montessori Terlalu Terstruktur
Beberapa orang meyakini kalau Montessori kacau dan tidak terstruktur, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, sementara yang lain percaya kalau montessori terlalu terstruktur. di mata mereka, anak-anak duduk dan bekerja sepanjang hari dan tidak diizinkan untuk bergerak.
Dalam kelas Montessori, anak-anak benar-benar memiliki kebebasan untuk berjalan-jalan di sekitar kelas, menyelesaikan pekerjaan dalam urutan yang mereka pilih. Tidak ada batasan waktu di dalam kelas, yang berarti selama 3 jam siklus kerja, anak-anak dapat mengunjungi meja suara, atau material sensorik, practical life, kemudian pindah ke Matematika. Satu hal yang penting adalah ketika mereka berinteraksi dengan material, 'bekerja' terasa lebih seperti 'bermain' yang semakin membuat mereka terlarut dalam aktivitasnya.

Mitos #7 – Anak-anak bebas melakukan apa saja di dalam kelas montessori
Sebenarnya lingkungan montessori disiapkan dengan sangat hati-hati dan kaya dengan material yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak.
anak dapat mengeksplorasi apa yang menjadi ketertarikan mereka. Jika anak-anak diajarkan kemerdekaan memilih sejak dini, mereka dapat jauh lebih termotivasi untuk belajar.



Guru bergerak di dalam kelas, membimbing dan mendorong anak-anak untuk menantang diri mereka sendiri di area pembelajaran yang sedang mereka jelajahi dan di area-area baru. Guru menjadi pengamat terlatih danmembantu anak-anak untuk bertumbuh secara intelektual selagi mereka menguasai keterampilan baru. Bahkan, di tingkat yang lebih rendah, anak-anak belajar untuk membuat rencana kerja mereka sendiri untuk satu hari yang mencakup area dasar seperti matematika, membaca, budaya, ilmu pengetahuan dan banyak lagi. Manajemen diri ini menjadi fondasi penting seiring tingkat pemahamana anak bergerak ke tingkat lebih tinggi.

Mitos #8 – program Montessori tidak akan bisa mengimbangi kurikulum di sekolah non-Montessori.
Mitos ini sering diangkat dan pastinya tidak terjadi. Faktanya anak-anak Montessori seringkali maju jauh melampaui tingkat yang dicapai di sekolah umum. Ini telah dibuktikan oleh hasilnya. Sering ada komentar bahwa anak-anak Montessori sangat cemerlang dan lebih unggul secara akademis ketika dimasukkan ke sekolah umum. Ini juga terbukti saat mereka berada di jenjang SMA.

Mitos #9 – Montessori hanya berhasil untuk anak-anak tertentu.
lagi-lagi ini hanyalah mitos. montessori bisa diterapkan pada setiap anak. pendidikan ini menerapkan ketiga model pembelajaran, yaitu visual, pendengaran dan kinetik, sehingga setiap peserta didik bisa mencapai kesuksesan. Guru juga bertindak sebagai pengamat yang terampil seperti telah disebutkan tadi, sehingga bisa tahu kekuatan dan tantangan yang dihadapi setiap murid dalam kelasnya. setiap guru menghandle kelompok kecil murid sehingga bisa memastikan anak-anak memahami konsep sebelum bergerak ke pekerjaan independen yang terkait.

Mitos #10 – Montessori tidak memberi peluang untuk bermain bebas atau
pengembangan kreativitas.
Ada banyak waktu untuk anak bermain bebas di waktu istirahat. juga banyak kegiatan tambahan yang ditawarkan seperti seni, musik, drama, bahasa tambahan dan pendidikan jasmani. Kelas-kelas ini dianggap sangat penting untuk pengembangan anak secara keseluruhan. Kreativitas juga dipelihara dan didorong dalam lingkungan kelas dengan mendukung rasa ingin tahu dan minat anak. kita mungkin akan kaget kalau tahu berapa banyak inovator dalam teknologi tinggi dan seni yang punya landasan pendidikan di sekolah Montessori.

demikianlah. panjang yak... karena emang ternyata banyak mitos seputar pendidikan montessori. apalagi buat level pendidikan yang lebih tinggi dari PAUD; wajarlah banyak asumsi karena di Indo kita kenalnya kurikulum nasional yang akademik banget.
kesimpulannya, mitos-mitos ini timbul jika kita hanya melihat Montessori secara selintas. padahal dalam kenyataannya, pendidikan ini sangat memperkaya perkembangan diri anak.


click to enlarge
Article source: https://www.spielgaben.com/montessori-myths-busted/

19/04/2016

what I need to know about parenting, I learn it from..

Orange is the New Black.

gue udah pernah bilang sebelumnya, kalau serial ini membuat gue tergila-gila. gue bener-bener dibuat takjub dan terinspirasi setiap kali nonton, ya karena jalan ceritanya, karakter-karakternya, dan terutama, sama insight tentang gimana para perempuan ini bertahan hidup di penjara.
perempuan-perempuan yang ditampilkan di sini, meski emang bertitel "inmates" alias pesakitan, tapi they're basically "regular" women. kebanyakan dari mereka nyemplung ke penjara karena latar belakang ekonomi, meskipun later on I know kalo bukan itu doang faktor yang bikin seseorang terperosok ke penjara. contohnya sang tokoh utama, si Piper, yang anak orang kaya dan berpendidikan tinggi. begitupun Nicky yang gue sebut sekilas di sini. mereka nggak kekurangan duit, tapi tetep bisa kecebur melakukan kejahatan, and thus, end up in prison.



bicara soal terinspirasi, keseluruhan tiga season ngasih gue banyak banget insight, salah satunya ya soal parenting. yang unik, diceritain ada ibu dan anak yang dipenjara bareng, yaitu Daya dan ibunya, Aleida... technically sih ibunya duluan yang dipenjara, dan ketika tau anaknya dipenjara, hal pertama yang Aleida lakukan saat ketemu Daya adalah... nampar. haha, tapi tindakan itu bisa dimengerti banget! ya kalau diliat pakai kacamata emak-emak, siapa coba yang mau anaknya ngikutin jejak langkah yang salah? meskipun diri kita sendiri yang dicontoh.. *atut* 

anyways, beberapa kali gue menemukan diri gue mewek sembari nonton OITNB. episod yang berkesan banget tuh yang tentang Hari Ibu. jadi, penjara yang jadi background serial ini adalah Lichfield, penjara dengan tingkat keamanan rendah, di mana mereka yang dipenjara juga bukan pelaku kejahatan 'berat.' terharu deh ngeliat gimana 'perjuangan' anak-anak yang ibunya dipenjara hanya untuk bisa menghabiskan satu hari bersama sang ibu dalam kondisi seru dan ceria, meski masih tetap di dalam penjara.
diceritain juga betapa pusing ibu yang dipenjara saat menemui kenyataan anaknya getting out of hand. gimana coba caranya 'mengontrol' dan menjaga hidup anak-anaknya dari pengaruh buruk, sementara mereka sendiri lagi dipenjara? 


kiri: Daya, kanan: Aleida, Daya's mom
ada juga konflik yang dihadapi Daya yang tadi gue mention. dia hamil gara-gara pacaran sama seorang sipir (John, yang guanteng dan muanis banget hihihi). singkat cerita, seiring kehamilannya bertambah besar, Daya makin yakin kalo dia mau kehidupan yang jauuuh lebih baik buat anaknya. so she finally decided to give her child up for adoption. 
but then there's a twist!
ibunya, Aleida, ternyata ngebohongin pihak pengadopsi supaya anaknya Daya/cucunya bisa tetap bersama ibunya... emang sih, dengan segala risiko kemiskinan, kejahatan, dan sejenisnya. tapi itu semua semacam "nggak ada apa-apanya" dibandingkan terpisah dari ibu sendiri.... 
this is what she (Aleida) said exactly, 


Aleida: "I know that feeling you got when you had her in your arms. And if that went away forever, you'd be all kinds of f*cked up."
Daya: "You make her sound like she's drugs."
Aleida: "The worst kind. She's gonna make you feel better than you ever thought you could, then drain all your money and ruin your life.
You're always gonna need her. And even when you hate her, you're gonna love her."
that's it. I soooooo can relate with what she's describing. 
that's exactly what having a child is like... 
dan karena pada episod tersebut juga diceritain flashback Aleida waktu masih muda dan ngurus Daya yang masih kecil, mau nggak mau gue jadi teringat my own mamak. the one I always have fights with (yep, even until today). digambarin gimana pelan-pelan Daya mulai 'jauh' dari ibunya sendiri, emotionally. and I think that's also what happened between me and my mamak. 
dari awal gue dan dia nggak bisa berteman. iya, nggak bisa aja. karena beda generasi, kali. atau beda "style." atau bisa juga karena karakter kita terlalu sama. hahaha entahlah! yang jelas, pas adegan demi adegan flashback Aleida diputarkan, gue jadi kayak ngeliat apa yang nyokap gue alami dan rasakan saat ngebesarin gue yang beranjak ABG... 
boy, it was damn hard to watch! x( mewek berember-ember gue nontonnya... 

semacam disadarkan kalo selama "itu" ternyata nyokap selalu sayang sama gue. in her own way. 
because even when she hates me, she still loves me damn much. 
hiks. 

dan sekarangpun, setelah gue sendiri jadi ibu, itulah yang gue rasakan. my kid is like my drug. candu.
semua prioritas berubah, jungkir-balik bahkan, begitu dia hadir. I'm no longer that important. 
bagian yang akan gue tulis berikutnya mungkin melenceng jauh banget dari topik Orange is the New Black. adalah sekelumit isi tausiyah yang tempo hari gue dengar di kantor, yang ngasih tau kalo ternyata, Allah menciptakan "miniatur"nya di dunia, dalam wujud seorang IBU. 

kalau ditilik dari asal katanya (kebetulan yang ngomong ahli fiqih S2 or S3 dari Kairo, so I think she knows what she's talking about), 
ibu dalam bahasa Arab juga disebut dengan istilah murabbi, yaitu miniaturnya "Rabb."
Rabb disebut juga Al Khalik (pencipta), Ar Razziq (pemberi rizki), dan Al Malik (pengatur), sesuai dengan sifat-sifatNya. 
dan semua sifat ini ada di diri seorang ibu... ibu 'menciptakan' anak ke dunia (atas kehendak Allah), ibu memberikan rizki kehidupan pada anak-anaknya, dan juga udah 'bawaan' seorang ibu untuk jadi tukang ngatur... in this case mulai dari mengatur lewat didikan pada anak-anaknya, sampai mengatur hal-hal kecil perikehidupan. 

fakta ini lalu dikaitkan dengan perintah dan ketentuan Allah. kalau Allah nyuruh atau melarang kita melakukan sesuatu, jangan tanya "kenapa?" justru kita perlu bertanya "apa hikmahnya buat gue?" 
karena cinta Dia pada kita tuh bener-bener unconditional - hanya bisa dianalogikan dengan cinta ibu pada anaknya.. Apa yang seorang ibu lakukan pasti demi kebaikan anaknya... 

jadi mungkin karena itulah ridho Allah = ridho orangtua, dan juga kenapa surga sampai disebut ada di telapak kaki ibu.  

oh mother... sekarang ini, gue merasa bersyukur banget seandainya performansi gue sebagai seorang ibu bisa seujung kukuuuuu aja dibanding nyokap gue. sebanyak apapun kekurangan beliau selama membesarkan gue sampai sekarang,tetep nggak akan bisa gue tandingi. 
"I have to keep reminding myself that I am their mother. Sometimes we are sitting at home and I feel like we are waiting for our mom to come home.- Ruby Wax"

15/04/2016

rainy day thursday

hari ini bisa berlalu begitu aja... seperti yang sudah-sudah. 
toh udah sekitar 3 bulan sejak gue terakhir ngapdet blog dan ngobrol sama diri sendiri (dan khalayak tidak kasat mata yg bermurah hati buka blog ini). 
tapi hari ini, kok rasanya keterlaluan aja kalau sampai nggak menuliskan betapa banyak dan 'padat' yg sudah dilimpahkan ke 'pangkuan' gue... yak, meskipun hari ini baru berjalan beberapa jam aja. 

gue memulai hari ini tanpa rencana bermakna... seperti biasa. 
yang berbeda cuma, I tried on a different foundation. and a different shade of liquid lipstick. I also noticed that my heart felt a bit 'lighter' after like, a week of feeling gloomy and intense. 
pas lagi jalan dari widya chandra, gue menimbang-nimbang apakah gue sebaiknya sarapan sendirian di kantin sam-sung atau langsung ke indikape aja. I chose the latter and then deeply regretted it. 
seketika gue merasa hari ini bakalan jadi menyebalkan buat gue. mana abis itu gue menemukan kantor nggak diisi siapapun kecuali satu orang aneh yang bikin gue nggak nyaman. entah kenapa juga dia milih duduk tepat di depan gue! we, both he and I, then sat in this silent, empty room. that asshole didn't even bother to turn the tv on. 

akhirnya gue putuskan buat buka-buka modul Toastmaster International aja. kebetulan baru sampe dua hari lalu..
jadi gini, sekarang gue udah resmi jadi member Toastmasters (TM). TM ini bukan semacam sekte, melainkan organisasi yang ada di seluruh dunia, dan kebetulan di Tlkm Gatsu ada club-nya. in short kegiatannya ngajak kita 'belajar' public speaking dengan baik.

anyways, pas gue udah baca-baca bukunya, jadi tau kalo ternyata misi TM bukan cuma mau menjadikan member-nya bisa berkomunikasi dengan efektif, tapi juga gimana biar berkembang leadership skills-nya, makanya ada modul Competent Leader juga. 


gue liat modul ini berisi 10 projects yg perlu "dilengkapi" sebelum kita bisa dianggap sebagai Competent Leader. derajat kesulitan project-project itu berjenjang, contohnya project pertama itu 'cuma' Listening, alias belajar mendengar (yang bukan cuma pake kuping, tapi juga mata dan hati) yang mana ternyata kompetensi dasar leadership.
kalau udah 'lulus' di project ini, selanjutnya ada project Critical Thinking, Time Management, sampai Mentoring.

setelah gue bolak-balik modul leadership ini, ada beberapa hal yang bikin gue termangu.. salah satunya poin-poin self-assessment di project Time Management ini:



guilty as charged, boro-boro gue bisa mendelegasikan tugas dengan baik, lha susunan prioritas aja belum jelas. 

atau poin-poin self-assessment di project Giving Feedback ini:



kenapa? karena rasa-rasanya gue belum bisa ngelakuin "(to) talk with a team member about his performance when I am calm" - anggaplah objek team member itu diganti jadi anak dan suami sendiri karena gue nggak punya anak buah. 
itu baru poin pertama loh, gimana dengan yang lain? coba aja telaah satu demi satu.
  • I offer feedback only on the team member's actions, not on her personality or qualitites. 
  • I offer specific suggestions for improvement. 
jawaban yang bisa gue berikan untuk semua pertanyaan itu "never" semua kayaknya!

tapi tapi tapi, semua fakta yang terbeberkan ini tujuannya bukan semata-mata untuk menelanjangi diri sendiri, sih. 

kehadiran modul ini sekonyong-konyong bikin gue teringat sama kata-kata 
"When the student is ready, the teacher will appear."
Dalam idup nggak ada yg kebetulan, 'kan?
poin-poin itu kok rasanya (bakal) berguna banget buat gue. nggak jauh-jauh mikir untuk jadi leader atau apalah (terlebih di kantor ini), justru gue berpikir hal-hal itu bisa untuk diterapin dalam ngurus anak. 
gue sendiri berpikir kalau leadership itu tergolong skill karena kemampuan itu macem otot, kalo dilatih terus akan jadi "sterek," tapi kalo nggak ya bakal tetep "klemer-klemer."
oh well. semoga deh lewat TM ini gue bisa jadi "leader" yang lebih baik, at least buat diri sendiri. 

benefit alias keuntungan yang bisa didapat dari mentoring dari sudut pandang organisasi. berguna banget, 'kan? sayangnya banyak organisasi atau perusahaan yang silap melakukannya *ehem*
ini poin-poin checklist di project Mentoring. gimana, selama ini udah pernah merasa dimentor kah?
but what this day has to offer me doesn't stop there. 
kelar mbolak-balik modul, gue kembali liatin laptop. buka-buka portal kantor, browsing tempat-tempat buat dikunjungin di singapur, dan sejenisnya. abis itu gue jalan ke toilet... eh ada ibu-ibu kantor yang baru balik umroh. jujur aja, insting awal gue adalah pengen menghindari beliau. 
nggak tau kenapa.
padahal ibu ini tergolong "revolusioner" dan "asik" dibanding orang-orang lain seumurannya di sini. dari obrolan-obrolan sekilas kita di toilet (selalu papasan di sini soalnya haha), terkuak kalo ibu ini pernah jadi atlet lari marathon kantor, aktivis serikat karyawan, dst. 

tapi emang udah digariskan gue kudu papasan dan berbasa-basi sama beliau, kayaknya, karena that's exactly what happened afterwards. 
obrolannya sih standar aja, seputar gimana pas umroh kemaren. tapi ada satu yang agak mencolek nurani gue... dia bilang apa yang 'didapat' masing-masing orang dari kunjungan ke sana tuh beda-beda. tergantung niatnya. ada yang puas dengan bisa check in dan foto-foto, ada juga yang udah mampir untuk ketiga, kelima, kesekian kalinya. dan ada juga yang bisa meraup banyak hikmah seperti beliau.. beliau cerita betapa terharunya dia pas bisa menyentuh Ka'bah. kata-katanya bikin air mata gue menggenang, 
"gimana sih, mbak, orang biasanya saya cuma bisa memandangi Ka'bah lewat sajadah saat sholat, sekarang bisa saya lihat langsung, sentuh bahkan." 
hiks... 
dia juga ngajak gue buat buru-buru ke sana, "mumpung masih muda, masih kuat. pergi deh mbak, sekeluarga. rejekinya pasti ada kalau udah ada niatnya." menusuk banget deh bok rasanya, apalagi didenger tepat sesudah gue browsing tempat halan-halan di singapur xD

entah gimana tau-tau obrolannya lantas beralih ke soal ngajak suami ke jalan yang benar, hahaha. menurut beliau, kadang harus kita yang jadi penggerak. "siapa sih yang nggak berharap dapet suami yang alim bak ustadz pas baru nikah dulu?" tapi hati manusia itu berubah-ubah. meskipun suaminya harus jadi imam, tapi kita tetep nggak boleh nyerah berusaha mengarahkan... 
ada celetukan beliau yang juga membekas banget, "makanya saya nasehatin anak saya supaya rajin belajar, bukannya bermaksud materialistis sih, mbak. tapi biar dia bisa leluasa buat beribadah. kalau ngejar dunia sih nggak akan ada abisnya, mendingan uang dipakai buat ngejar akhirat."

yaampun terhura gue dengernya!
kita pun menyudahi obrolan. "gih mbak, kerja lagi," katanya sambil senyum-senyum manis. gue hanya bisa menjawab dengan, "makasih banyak ya bu, buat oleh-oleh umrohnya. berharga banget loh oleh-oleh kayak begini, hihihi." 
setulus hati ey gue mengucapkannya. hikmah seindah ini jauh lebih bikin seneng dibandingkan oleh-oleh kurma, pacar, atau sajadah <3

abis itu, tiba-tiba rasanya hari ini jadi "cerah." meskipun dalam kondisi sebenarnya sore sampai malam malahan hujan deras banget, tapi it just made the day even better. 
I even saw a rainbow on my way home.