12/02/2016

how to spend weekends in jakarta

mengklaim diri sendiri sebagai penikmat weekend yang antusias, tapi cukup lama gue nggak menuangkan reportase aktivitas weekend di blog. tujuan gue berceloteh soal ke mana aja pas weekend bukan cuma untuk dokumentasi, sih. kalau bisa bermanfaat buat orang lain ya syukur.. tapi gue doyan reportase di blog supaya bisa dibaca ulang di lain hari. I love reliving the moments, because weekends seem like the only time I could feel alive *lebhe sikit*.


me when I see weekend coming (gif from here)
setelah gue balik kerja, akhir pekan kerap dihabiskan oleh kita sekeluarga di mall. sebenernya nggak ada urusan gue kerja atau nggak, sih, karena dari dulu ngemall udah jadi kebiasaan, haha.
tapi sekarang, mau nggak mau setiap minggu siang kita rutin ngemall untuk nganterin bumy les musik. iyah, pake istilah "mau nggak mau" karena gue malah jadi maleuzz banget rasanya mampir ke mall pas weekend. pengennya tidur-tiduran, streaming netflix sampe bego quality time sama anak, olahraga di rumah, dan sejenisnya. tapi mungkin ini memang harga yang harus dibayar oleh mamak sok ambisius seperti daku. jadi nda papa, gue dan adit korbankan waktu bobok siang di akhir pekan demi masa depan anak (sok heroik kekeke). meskipun begitu, ada juga keuntungan yang bisa dipetik dari keharusan keluar rumah on weekend itu.
sehabis pengajian atau les musik, karena nanggung, biasanya kita jadi sekalian kelayapan. berhubung udah enek sama mall, melipirnya ya ke tempat yang bukan-mall.
emang rada ribet sih harus menclok ke sana ke mari. tapi seru juga, jadi dapet 'pemandangan' yang berbeda. kayak di celotehan ini, kita sempat mampir ke museum sama passer baroe. kalau dirangkum, kegiatan non-mall kita di akhir pekan itu biasanya berupa...

• getting outdoorsy
outdoor activity itu selalu nyenengin buat kita. tapi lebih seru lagi kalo bisa nyoba tempat baru buat manen keringet.
outdoor place yang suka disinggahi ya yang deket-deket rumah macam Ragunan sama UI Depok. tapi demen juga nyoba tempat-tempat 'baru' kayak Scientia Square Park nan nge-heits atau taman-taman tjantik di belantara DKI Jakarta - sebut saja taman langsat, taman honda tebet, taman tanjung (nama-nama ini pernah jadi lokasi Hidden Park), taman ayodya, pun taman tabebuya deket rumah yang tenar ituh (asumsi aja sih, soalnya temen gue anak Bekasi sampe rela mampir ke situ).

suatu ketika kita main ke Eco Park di Ancol. singgah hari Minggu pagi sekitar jam 7an, ternyata suasananya enak banget. luas, hijau, dan crowd-nya orang-orang yang beneran mau olahraga. oiya masuk ke sini gratis, cuma bayar biaya masuk Ancol. kemarin itu adit bawa sepeda, tapi di Eco Park juga disediain sepeda untuk disewa. selain itu juga ada motor-motoran kecil kayak yang dipake bumy dan adit.




the map







ada banyak pilihan aktivitas juga kalau kita udah kelar keringetan. bisa keliling pake buggy car, bisa ngasih makan ikan, dan bisa jajan! iya, ada tempat jajanan gitu berupa kios-kios dan juga gerobak, di mana pilihan makanannya buanyak banget. sistem belinya pakai voucher gitu.
kelar main di Eco Park, bisa mampir ke Ancol Beach City mall buat ngajak bumy main pasir, trus makan seafood di Rasane - yummm.






wajah-wajah "fresh" (from kasur)




mampir ke Ancol Beach City


udah ditungguin yacht, nih! :D




 getting artsy (fartsy?)
ini kegiatan yang baru gue coba. pengen mulai ngajak bumy ke tempat dan kegiatan berbau seni budaya (biar nggak tuna-seni kayak mamaknya). lucky thing is, karena dia udah nggak balita, jadi bisa dikasih tau untuk "tertib" dan juga udah cukup mudeng sama yang diliat.

tempo hari kita mampir ke Jakarta Biennale 2016 yang diadain di Gudang Sarinah, Pancoran. nggak disangka bumy tertarik banget sama apa yang ditampilin di pameran. pengalaman baru kayaknya buat dia, karena ada hal-hal yang nggak 'biasa' untuk dinikmati. dia juga bisa 'berinteraksi' baik secara fisik maupun lewat pikiran, sama apa yang diliatnya itu. meskipun venue acara kemarin nggak senyaman mall di mana dia biasa nongkrong, tapi 'ni anak sampe nggak mau diajak cabut dari situ. besoknya malah minta 'main' ke pameran yang sama lagi.
















minggu lalu, kita mampir ke Galeri Nasional. kebetulan lagi ada pameran seni patung, instalasi dan lukisan (setelah dilihat di situs Galeri Nasional, tajuk pamerannya adalah Conversation: Endless Acts in Human History by Entang Wiharso and Sally Smart) sekaligus Architecture UI Fair (AFAIR) 2016.
di pameran arsitektur, ternyata bumy excited banget sampai hampir kalap liat rupa-rupa maket dan desain bangunan xD kita sampai harus keliling ruang pameran dua kali karena dia merasa "kayanya bumy belum liat yang itu, deh!" atau "mau liat lagi yang inii..." I felt an odd, pleasant feeling as I watched him finding something that might be his passion. hal kayak begini nih, yang bikin gue semangat buat ngenalin hal-hal baru ke bumy.
















and so he stared and stared and stared...
lain kali, pengen nyoba mampir kalau ada pemutaran film (ramah anak) atau pagelaran tari yang suka diadain di tempat bernuansa budaya lain macam TIM dan Salihara. plus, ngajak bumy nonton teater atau musical ensemble yang melibatkan anak-anak - nggak usah yang fancy-fancy dengan HTM jutaanlah, kalau bisa malah yang berbau kegiatan sosial. tulung diinpo-inpo ya kalo ada, gan! :D

• coffee shop/breakfast place hopping
this is definitely on my list of ultimate favorite things. sarapan sambil ngopi itu hal yang bahkan saat cuma dibayangin, udah bisa bikin gejolak hati menenang, tensi turun, dan mood membaik. haha.
dan ini juga kegiatan yang selalu gue nanti-nanti saat weekend. kalau bisa nyobain tempat baru, ya alhamdulillah. kalau harus ngulang makan di tempat biasa, ya seneng-seneng aja sik.

minggu lalu, kita mampir ke Suwe Ora Jamu di Jl. Petogogan. yang beda dari tempat ini, selain ngopi, kita sekalian nge-jamu. macem-macem banget menu jamunya, udah kayak jus yang bisa di-mix dengan ini-itu.
harga makanan dan minumannya juga nggak overpriced (macem kebanyakan coffee shop).
kalau minggu lalu, kita main ke Giyanti Coffee & Roastery di Jl. Surabaya yang konon rating kelezatan kopinya bagus banget (kata temen yang penggemar kopi). ini tempat... asli deh, unik but in a good way. ngopi di situ ngasih pengalaman suasana yang beda. suasananya vibrant, hangat dan menyenangkan haha mungkin harus coba sendiri untuk rasain. adit si penggemar kekopian bilang kopi di sini emang beneran enak. buat gue sih, latte yang kemarin diicipi enak. sementara bumy menyesap baby cino alias susu di-steam yang dikasih coklat dan marshmallow buat dicelup-celup.
lain kali, pengen nyoba But First Coffee di Gandaria sama Yellow Truck Coffee di Margonda, nih. atau mungkin nyobain that coffee shop di Bintaro yang pernah batal dimasuki.


di Giyanti













ngiler nggak, sih?!


menu jamunya :D


bubur kacang ijo, ketan item, roti bakar, cappucino, kopi tubruk, beras kencur. we had a feast!
kalau udah mentok nggak dapet ide coffee shop/breakfast place yang pas buat dicoba on weekend, biasanya ya kita ujung-ujungnya ke Starbak atau Pizza Hut. yang belakangan ini menu sarapannya lumayan enak haha, dan nggak pricey juga.

• hosting friends
iya, menjamu tamu. dan iya, ini semacam pencapaian untuk diriku yang (agak) ansos dan apatis. gue seneng sih bisa meet and greet sama sohib-sohib. tapi jujur ajah, gue nggak punya setetes pun bakat dan hasrat untuk menjadi Martha Stewart-wannabe. I like things simple. lha kalo pake jilbab aja peniti maksimal satu biji, boro-boro gue mau musingin dekorasi meja makan atau nyusun 5 menu yang color-coordinated buat tamu. my favorite parts of hosting are the talking, the laughing maniacally, and the connecting. jadiii, I would really love it if any of you guys want to come by my house (beneran!), but please don't expect anything fancy. I'll give you a nice exprience of ngobrol ngalor-ngidul, instead, hehehe.


our most recent guests <3
jakarta emang nggak pernah kekurangan 'hiburan,' yak. dan waktu yang paling nyaman buat menikmati jakarta ya emang saat akhir pekan atau libur panjang. semoga kita selalu nemu cara-cara dan celah-celah baru untuk dinikmati di kota tercinta inih. 

05/02/2016

about easy money

cukup lama gue nggak berceloteh soal hal-hal yang berbau finansial di blog. bukannya gue kehilangan minat terhadap tetek-bengek financial stuff, sik. perduitan 'kan bisa dibilang salah satu passion gue, hehe.  
jujur aja, belakangan ini financial planning keluarga agak terbengkalai. boro-boro punya guideline atau peta finansial, cashflow bulanan aja nggak terlalu dipantau lagi. yang penting utang lunas dibayar setiap bulannya, dan akupun bisa bernapas lega. 



efeknya apa? 
ya berasa banget sih, jadi seolah berjalan tak tentu arah. financial wishlist mengawang ke mana-mana. bahkan ada investasi yang 'terpaksa' dicairin demi beberapa tujuan jangka pendek. 

nah, sekarang mungkin karena efek tahun baru (iya bener, efek tahun baru), mulai tumbuh lagi concern terhadap urusan perduitan di sanubari.  
gue bebenah dulu, sik sebelum mulai menggila dan mengawang-awang bikin wishlist. beresin cashflow, check up kesehatan finansial (ngerjainnya sambil meringis-meringis ketakutan), dilanjutin nyusun plan baru... plan yang much less ambitious dibanding sebelum-sebelumnya, tapi realistis. 
dalam "financial wishlist" gue, selain ada hal-hal standar dan serius (kayak "healthy financial condition," dana darurat, dsb), ada sesuatu yang gue rasa perlu dimasukin. apakah itu?

jadi awalnya gini, suatu hari gue dan bumy lagi cerita-cerita mesra seperti biasa, tau-tau dia nyeletuk, "ma, masa temen bumy si anu nggak punya mobil, loh!" dia ngomong gitu dengan takjubnya. 
reaksi pertama gue cuma, "emang kenapa mi kalo nggak punya mobil? mama juga dulu waktu kecil nggak punya mobil."
dia jawab, "kalo mau jalan-jalan gimana?"
"ya naik bis. atau taksi sekali-sekali." 
dia pun manggut-manggut tapi mukanya masih keheranan. 

kejadiannya sederhana banget, tapi ternyata membekas euy di gue. 
gue jadi mikir... has my kid been having it easy? and is it wrong if he had? 
it's not like we're super rich or anything, but my kid does enjoy things I couldn't when I was his age. contoh nyata pertama ya soal mobil itu. now it seems pretty normal, right? everyone has a car. at least everyone I and bumy know. 
hal ini semacam 'wajar' untuk saat ini, di mana jumlah middle class di Indonesia lagi meroket. bedalah sama jaman bokap-nyokap gue masih produktif dulu. dan ini juga ngaruh ke gaya hidup. buat bokap-nyokap, mobil pribadi itu prioritas kesekian. kita juga jarang banget nge-mall. dan masih bisa idup tuh tanpa harus liburan setiap 3 bulan. 

tapi kalau dilihat secara objektif, it's like we (the so-called middle class) are living inside a capsule. kita cuma bergaul sama mereka yang ada di kapsul itu aja. padahal di luar kapsul, ada bermacam-macam ragam gaya hidup. hal ini yang sering bikin nggak sadar how privileged we are. 

somehow gue jadi keinget materi seminar tim bu Elly, yang mengusung istilah "digital native" untuk membedakan jenis manusia dalam mempersepsi teknologi. mereka yang tergolong digital native adalah anak-anak kita yang sejak lahir udah 'melek' teknologi digital. bahkan mungkin sejak di dalem perut pun tanpa disadari udah akrab sama gadget dan teman-temannya. karena mereka adalah "native" alias warga asli di ranah digital, mereka menganggap beginilah normalnya dunia bekerja. keberadaan dunia yang digitalized menjadi common sense buat mereka.

mungkin begitu juga yang terjadi dengan keberadaan privilege, fasilitas, dan kenyamanan hidup. anak-anak kita (gue) yang sedari kecil hidup dan dibesarkan dalam 'kapsul' mungkin akan berpikir "this is how the world works." everyone should have cars, decent houses, and other privileges. 
dan muncullah perasaan "berhak" itu. these kids will grow up thinking they're entitled with cushioned life. 

komik ini bisa ngejelasin dengan simpel dan gamblang tentang apa dan gimana privilege itu.


dari sini

suatu ketika gue lagi nonton serial tv favorit gue, "Orange is the New Black." ada suatu adegan di mana Alex dan Nicky lagi ngobrol. bagi yang nggak nonton tv show ini, Alex adalah seorang pengedar drugs (dan dipenjara karena itu), sementara Nicky pecandu drugs. padahal Nicky ini anak orang kaya (from Upper East Side) tapi dipenjara karena mencuri mobil orang gitu deh. 
nah, sambil ngelipet laundry, mereka berkhayal seandainya mereka udah kenal sejak di dunia luar penjara dulu. apakah  Alex bakal nge-hire Nicky untuk kerja jadi pengedar atau drug intel di jaringannya? 
jawaban Alex begini, 
“My business was built on sniffing out girls like her and turning them into drug mules. You grew up rich so you’re used to easy money, you have enough stamps on your passport to avoid suspicion, you hate your parents, you’re in your experimental phase, all you want to do is f*ck a woman or a black guy, have some adventure and still be able to afford a Birkin bag.”
excuse the french, tapi pesan yang ada di dalam dialog ini membangunkan gue, cin, terutama bagian yang di-bold. 
the answer is yes, Alex would definitely hire Nicky, atas dasar alasan yang dijembrengin di atas. latar belakang idup Nicky yang udah terbiasa sama easy money, tapi kurang perhatian dan butuh 'sensasi' dalam hidupnya, menjadikan dia sosok yang tepat untuk terlibat di jaringan pengedar drugs. 

jadi terlintas di pikiran gue, betapa hal-hal yang didapetin dengan mudah rentan membawa penikmatnya ke 'jurang' - kalo penikmatnya itu nggak dibekali sama kesadaran dan ilmu yang cukup. dikembaliin ke diri sendiri, tentunya gue nggak mau anak gue tumbuh jadi penikmat easy money yang bakal bisa direkrut jadi drug mule. tapi kembali ke realitas, namanya anak semata wayang, emang sih, gue sering beliin bumy sesuatu tanpa dia minta atau harus berusaha keras. kalo adit sih agak beda, dia sering bilang nanti kalau udah kelas 4 SD bumy disuruh ke sekolah naik angkot aja. tentunya alasan keamanan wajib jadi pertimbangan yah (gue sendiri langsung mencak-mencak pas denger usul adit), tapi deep down gue ngerti maksud di balik nyuruh anak naik angkot itu. 

mungkin selain untuk bikin anak paham soal value of money, juga seperti yang tertuang dalam tulisan di blog ini.. 
"Jika engkau terlalu sering makan di restoran mewah, sesekali makanlah di warung kecil pinggir terminal atau gubug di tengah sawah
Jika engkau terbiasa naik mobil mentereng, sesekali nikmatilah berdesakan di dalam bus dalam kota yang padat
Jika engkau terlalu sering tidur di kasur yang empuk, sesekali lelaplah di pelataran masjid
Jika engkau acap berbelanja di pusat perbelanjaan megah, sesekali rasakan asyiknya berbelanja dan menawar di pasar rakyat
Jika engkau terbiasa berdiskusi dengan orang orang berdasi, sesekali akrablah berbincang santai dengan anak anak kecil dan bapak bapak di bawah jembatan

Tidak.. Bukan untuk membuktikan dirimu peduli..
Hanya sekedar untuk... melembutkan hati."

maka kalau bisa disimpulkan, gue punya satu tujuan finansial untuk tahun ini (dan seterusnya) yang bersifat sangat urgent, yaitu ngasih pemahaman tentang konsep uang dan keuangan ke bumy. 

dimulai dari ngasih dia pengertian tentang apa aja kegunaan uang. kayak dijelasin lewat video edukasi buat anak ini, uang itu memiliki fungsi untuk di-"earn, save, spend, and donate." jadi, uang itu nggak turun dari langit, atau keluar dari ATM. you've got to earn it, by working, by empowering yourself. 
sesudah didapatkan, kita punya pilihan mau menggunakan uang tadi buat apa. yang jelas, setiap pilihan ada konsekuensinya. 
lantas bergerak ke soal membedakan wants vs needs - yang mana gue sendiripun nampaknya masih sering gagal ujian, hehe. urusan uang ini implikasinya bisa ke mana-mana, sampai pemerintah di negara-negara maju pun mulai bertindak untuk memberikan materi financial education sejak usia dini. 



it's never too early to start educating our kids about money. sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, kayak menabung. ilmu diasupin lewat hal-hal kecil, contoh, dan kebiasaan. semoga bisa nyantol dan jadi kompas idupnya kelak. 
mitamit ya buun xD

30/01/2016

i hear mirrors

it starts with a random thought.
tiba-tiba gue teringat gimana lewat tafakur gue kerap diajak dan diingatkan untuk berkaca. 
saat berkaca, pantulan diri akan terpampang jelas dan nyata. setiap bopeng, setiap lekuk. setiap kelebihan, setiap kekurangan. melalui berkaca secara spiritual, kita jadi tau seperti apa "wujud" diri.  lalu dari situ, diharapkan kita bisa sadar apa yang perlu secara legowo kita terima, dan apa yang perlu diperbaiki.  

and then I remember some songs... 

1. "I'll be Your Mirror" by The Velvet Underground


the song has this part:
"I'll be your mirror, reflect what you are, in case you don't know
I'll be the wind, the rain and the sunset,
the light on your door to show that you're home.."

kata-katanya indah, tapi juga mengandung semacam warning. hubunganlo dengan pasangan akan menjadi bayangan yang lo liat di 'kaca.' begitupun hubunganlo dengan anak, 'rekam jejak' perilakulo terhadap anak, pun terhadap orang yang berinteraksi denganlo sehari-hari. what they think about you shapes the way they treat you. and eventually, will be a reflecting image of yourself.

kalau lo berhasil membentuk hubungan yang indah dengan pasangan, anak, atau siapapun, then you will find to a beautiful "home" to return to. tapi kalau hubunganlo nggak diurusi dengan baik - ditelantarkan, atau malah diisi rekam jejak yang buruk - maka yang akan lo temui adalah rumah yang bobrok.
hubungan sebab-akibat biasa.
jadi mungkin hikmahnya, jangan keburu ngamuk kalau sikap orang-orang di sekitar lo nggak positif terhadaplo. bisa jadi mereka cuma memantulkan kembali apa yang mereka terima dari lo selama ini.

2. "Mirrors" by Justin Timberlake



man, I just love his performance here. 
JT's hotness aside, this song is beautiful, and deep, yet bears a warning. 

"..this promise that we're making two reflections into one,
'cause it's like you're my mirror, 
my mirror staring back at me"

mirip dengan lagu yang pertama tadi, pasangan akan menjadi pantulan diri kita. 
tapi lagu ini juga semacam memberikan janji yang manis dan menenangkan,

"if you ever feel alone and the glare makes me hard to find,
just know that I'm always parallel on the other side"

ini kayak ngasih tau kalau you're not fighting the fight alone by yourself. mungkin aja pasangan kita juga merasakan kesusahan atau kegelisahan yang sedang kita rasakan, tapi dengan cara yang berbeda dengan kita. gue inget gimana saat kemarin dadakan nggak ada pembantu. gue galau siang-malam mempertimbangkan apakah gue harus berenti kerja lagi. I was wallowing for days. ternyata, adit juga diam-diam pusing mikirin gimana cara nyari pembantu, contingency plan selama nggak ada pembantu, dan rentetan urusan ke depannya. gue baru tau segitu kepikirannya dia pas denger dia bilang, "dada aku sampe sakit rasanya, pusing mikirin ini." antara terharu sama mau ngakak gue dengernya. 

3. "Man in the Mirror" by Michael Jackson



it's a timeless classic. and a very wise song, too. 

"I've been a victim of a selfish kind of love
it's time that I realize that there are some with no home, no nickel to loan
could it be really me, pretending that they're not alone?

a widow deeply scarred, somebody's broken heart, and a washed out dream,
they follow the pattern of the wind, you see
'cause they got no place to be, 
that's why I'm starting with me

I'm starting with the man in the mirror, I'm asking him to change his ways
and no message could've been any clearer: 
if you wanna make the world a better place, take a look at yourself 
and then make a change. "

lagi-lagi ini bikin gue keinget materi tafakur: mengorbitlah di diri sendiri. nggak perlu ngurusin kenapa orang begini, kenapa dunia begitu. seperti halnya motivasi, hal-hal dan kondisi yang sifatnya eksternal atau di luar kendali diri, juga nggak akan efektif. 
motivasi eksternal nggak bisa memberi pengaruh jangka panjang, apalagi membentuk karakter.
begitu pula hal-hal eksternal, things that we have no control over, let alone can change.   
stop expecting people to change. stop wishing the world could change. bukannya mau ngasih perspektif yang suram, tapi kita justru perlu curahin energi ke hal-hal yang emang jadi porsi kita, yang ada dalam kendali kita. jangan ngatur Tuhan harusnya gimana ke kita, tapi kita justru perlu numbuhin rasa ingin lebih banyak berbuat baik, rasa ingin lebih taat.
stop comparing. stop trying to think positively. 

just see things as they are. 
and I guess that can only be done by constantly looking at our soul in the mirror. ada banyaaaakkk yang perlu dibenahi, ada banyaaakkkk sumber syukur, dan ada banyaaakkk sumber kesadaran. 
that being said, I'm writing this for myself. hahaha. ya siapa lagi yang gue tau banyak kekurangan dan khilafnya sehingga perlu banyak refleksi dan diingetin selain diri gue sendiri? 



22/01/2016

a year-long holiday

aah udah januari aja! 
not that I'm complaining though (alhamdulillah bisa ketemu tahun baru), but boy, ain't time flies... 
satu hal, desember yang penuh dengan libur panjang kemarin bener-bener nge-recharge quality time gue sama adit dan bumy. yes, meskipun konsep "quality time" sendiri udah jadi a bit of cliché. it's been overdone to the point where titel ibu bekerja pastiii selalu dikaitin sama "how to have quality time with your children." 

pic from here
I grew up thinking kapanpun waktu  yang dihabiskan bersama nyokap, itulah "quality time" gue dengannya. tapi setelah balik kerja LAGI, gue kembali merasa kualitas sama sekali nggak bisa dicapai tanpa kuantitas. 
pulang kerja, kalau bisa gue maunya langsung tengkurep di tempat tidur. hanya tersisa sedikit energi untuk bisa main-main, senang-senang, dan babysitting anak, setelah dikuras office hours dan macet. 
kalau melihat bumy secara kasat mata sih, dia terlihat hepi-hepi aja meski 'cuma' bisa bermanja dengan gue lewat dibacain buku selama 5-10 menit, dimandiin, disuapin, atau ditemenin latihan electone di hari kerja. 
jadi, kualitas itu relatif. 
but at least I myself could tell the difference between bersama anak secara fisik aja atau bersama anak with all my heart and soul. 

nah, thanks to all tanggah merah yang bererot di bulan desember, gue jadi bisa "be present" buat anak dalam waktu yang layak, kondisi fisik yang bukan cuma sisa-sisa, dan pilihan kegiatan yang juga lebih kreatip. 

as I wrote in this blogpost, kita nggak plesir keluar kota. so these are the random things we did instead:

- ngider-ngider bintaro. 

hahahaha matter loh ini! buat kita setidaknyaaa :D
jadi, once upon a day kita bingung gitu mau keluyuran ke mana. awalnya mau nyoba coffee shop yang lagi sering tampil di instagram. tapi sesampainya di situ, ternyata tempatnya kecil (not really a problem sih), penuh (everyone seems to rely what their leisure spots would be on reference from the selebgrams), and not smoking-free (the dealbreaker for us). meskipun udah dapat tempat parkir (it was a struggle, maybe since we came on a saturday afternoon), tapi kita batal mampir. 
bingung juga mau ke mana, sementara perut udah laper. berhubung kita udah di sektor 1, kita putusin melipir ke D'hoek. 
bisa dibilang tempat jajan ini nostaljik buat gue dan adit, hehe. pas jaman bumy masih fase MPASI, kita bolak-balik ke sini sehabis ngambil pesenan MPASI di Mamma Kanin. di d'hoek opsi makanannya macem-macem buanget. ada sate RSPP, pasta, soto ayam, blenger burger, nasi kebuli, you name it they have it. 

abis makan, berhubung hari itu panas banget, maka kita beride untuk ngadem di bioskop. setelah cari-cari, akhirnya pilihan jatuh ke Lotte Bintaro. ini pertama kalinya kita main ke sini, dan ternyataaa.. we fell in lovve xD 
bayangin, ada bioskop XXI, plus playground (Playtime kayak di Aeon), plus arcade zone yang luas, plus Lotte Mart jadi bisa sekalian belanja groceries, pluuus Bersih Sehat Refleksi (menaikkan ponten 50 poin), trus opsi tempat makannya juga lumayan variatif.. walhasil, sejak tau tempat ini, kita jadi suka mampir kalo weekend, hehe. 

selain Lot 9, di mana lagi ya tempat nongkrong yang azig? ke BXC udah malessss karena susah banget dapet parkir. di lain kesempatan, kita malah nyobain mie ayam di seberang STAN, trus ngebungkus martabak san fransisco pulang. tolonglah para warga Bintaro yang terhormat, kasih gue rekomendasi... 


- ngider-ngider Jakarta. 

di suatu sabtu, secara impulsif kita main ke Museum Satria Mandala.
sebenernya ini untuk menuhin keinginan bumy, karena udah lama dia penasaran mau mampir, terutama buat "liat tandu jenderal Sudirman!" 
koleksi museum ini ternyata lumayan. yak, ini pertama kalinya gue masuk ke dalem sini meskipun posisinya di sebelah kantor persis. kalau halamannya sih sering, secara sehari-harinya gue numpang parkir di situ. 
kelar dari museum, berhubung masih jam 11an, kita kepikiran untuk mampir ke museum yang lain. pilihan saat itu adalah ke Gedung Antara di Pasar Baru yang konon ada museum jurnalistiknya. 
tapi sebelum ke pasar baru, kita mau maksi dulu dan sambil jalan, lewatin kawasan pecenongan. why not mampir, rite? kita pun maksi di RM Medan Baru. yes, the infamous Medan Baru dengan sambal ganja dan burung puyuhnya hahahha. it was a feasttt. love love the dishes (but no so much love for the price, ngok). 
sesuai rencana, abis makan kita ke pasar baru. saat kita memasuki gedung Antara yang dituju, eh.. kok kosong melompong? tau-tau ada satpam menghampiri kita, dia bilang lagi nggak ada event. jadiii museum jurnalistik itu teh event semata xD yaudah daripada bengong-bengong doang, kita foto-foto dan keliling Pasar Baru :D 
gue kok agak sedih ya pas liat-liat kondisi di sini. pedagangnya hampir semua "old school" baik itu tampilan tokonya, produk yang dijual, begitupun cara mereka menjual. pengunjung kawasan situ juga sedikit. kebanyakan cuma lewat atau liat-liat (kayak kita). mungkin pas bokap-nyokap gue masih di usia produktif, tempat ini masih jadi pilihan untuk berbelanja ya.. tapi generasi sekarang sepertinya udah mulai melupakan ada yang namanya pasar baru. 





















- oh ya di bulan desember kemarin selain gue ulang tahun (a proud 32 yo!), ulang tahun pernikahan, juga ada momen bisa bersua sama Kiti. iyaa, dia singgah sejenak ke sini karena Ncin nikah :D  

we finally had our "quality time" after monthssss. mulai dari tafakur bareng (hikss kangeeeen), dilanjutkan dengan gue dan adit ngajak kiti makan di HaloNiko! thank God she loves the dishes! selesai makan, catching up kabar, curhat, dsb, kita ajak kiti ke agenda selanjutnya, yaitu nonton Star Wars: The Force Awakens. xD ini momen nonton kedua kali buat gue, adit dan bumy. tapi tetap aja masih seru laaah *nelen ludah tiap Poe Dameron muncul*. 




alhamdulillah ditraktir sama mantan bos super baik hati, pak Kun (paling kiri) :D




di HaloNiko!




with our "soul" mother :D
menjelang akhir tahun, orang-orang kantor gue ngadain maksibar. untungnya, inisiator dan koordinator acara hari itu - salah seorang manager - orangnya asik. jadilah abis makan, dia ngajak kita nonton bareng. dan tebak apa yang ditonton? none other than Star Wars: The Force Awakens... hattrick-lah gue ciiin. tapi alhamdulillah, yang ketiga ini ditraktir dan nontonnya di studio 4DX-nya Blitz pula x))))

lastly, how did we spend our new year's eve?

kebetulan gue ambil cuti di 31 desember itu - sementara kemarinnya adit yang cuti gara-gara si mbak pulang kampung. di rumah, gue ngajak bumy crafting ala-ala. kita bikin ginian. gue nulisin doang, bumy yang ngedikte xD




sore-sore, gue ajak bumy ke pacific place buat jemput bapaknya. mol waktu itu sepiii banget, entah karena orang-orang agak ngeri ngemol atau pada nyimpen tenaga buat begadang. abis itu kita makan malem di CJ Tom Yum, trus balik ke rumah untuk ganti piyama, ngegotong kasur ke ruang tamu buat tidur-tiduran nonton film sambil ngemil bertiga, trus masang hasil crafting di puun depan rumah.




sebutlah ini "wish tree" ahahaha. 

ternyata damai banget rasanya yak di rumah aja. emang tahun ke tahun aktivitas malem tahun baru kita begini melulu sih (well, except on 2011 karena gue kudu lembur ngantor, ugh bad memory) and it never fails to excite me, cin.. karena kayak kata lagu: when I am with you, there's no place I'd rather be <3<3<3

04/01/2016

what's in a year?

gambar dari sini
this is 9 pm on a saturday night. and where am I right now?
di kasur aja, cyiin, sementara bumy dan bapake sudah terlelap. tumben yah kita 'disiplin' banget di malam libur, udah kayak malam hari kerja aja. maklumlah, 'kan lagi long weekend. oh yes, libur natal ini empat hari aja gituu... dari kemarin kita udah jalan-jalan random seharian, begadang, dan bangun siang. bisa dibilang udah cukup kenyang bergaya hidup 'hedon' selama beberapa hari ini, hihihi. tapi hari ini, kayaknya badan mulai tepar, jadi dari jam 8 udah mulai merapat ke kasur. bumy dan bapaknya sih yang begitu. gue masih anteng di ruang tamu, sembari blogwalking, buka socmed, dan sejenak nonton "Annie Hall" yang kebetulan diputar di AMC. 

karena nyebut socmed, gue jadi keinget kalau banyak orang yang lagi menghabiskan long weekend ini dengan berlibur entah ke luar kota atau luar negri. kita mah di sini-sini aja. menikmati jakarta yang lengang, hahaha dalih standar ini. to be honest kalau 'amunisi'nya ada, ya tentunya pengen liburan jugalah. tapi, lagi-lagi diliat dari postingan socmed orang-orang, tempat wisata malah justru penuh. iya, mulai dari yang di bandung sampai di los angeles, keluhannya sama: tempat wisata penuh sesak, dan jalanan dari-menuju tempat wisata macet. jadi kayaknya kalaupun next time punya amunisi, mending dipake buat plesir saat low season, deh. lagian, suasana kantor di mana banyak yang lagi cuti gini justru enak buat dinikmati *kedip-kedip licik* hehehe. 

saat ini sebenernya gue lagi nggak punya topik khusus buat 'dibahas' di blog. well, I guess you could tell blog gue ini memang tempat ngelantur yang cenderung tidak informatif - no sarcasm or irony intended, really. this blog is just a place where I could feel connected with myself. 

what should I talk about? since we're getting closer to new year, how about making somekinda review of how this year has been? 
it doesn't have to be on chronological order, but at least I could have something to reflect upon. let's start it with..
- about school choice 
ini salah satu sumber dilema/kepusingan terbesar gue dan adit tahun ini. meskipun pilihannya hanya antara 2: a "new" school or the incumbent - tapi kita maju-mundur terus dalam proses membuat keputusan. 
sejujurnya sih, kita nggak merasa 100% sreg saat membuat pilihan, karena we sort of waited for something to happen. a 'sign' yang bisa melonjakkan rasa sreg kita hingga full 100%. well, that 'sign' never did come. sampai lalu deadline memilih akhirnya hadir dan kita terpaksa membuat pilihan. kalau dipikir ulang sekarang, rasanya sombong banget deh pemikiran kita itu. kenapa merasa berhak diberikan pertanda, dorongan, atau apalah sebutannya. bukankah kita justru seharusnya melakukan 'porsi' tindakan kita sebaik-baiknya, yaitu mencari tahu, menghitung risiko, menemukan solusi, dan lain-lain yang kendalinya memang kita miliki? bukannya dengan songong meminta keajaiban supaya tau-tau bisa mampu beli apartemen deket calon SD bumy kelak.. hahaha. 
jadi berarti keputusan diambil dengan agak gambling, dong? yaa bisa dibilang begitu xD 
kalau dibilang mencari yang terbaik, bisa dibilang "terbaik" itu ya yang paling sesuai dengan kebutuhan kita. kita butuh bumy diberi asupan ilmu bukan cuma duniawi tapi juga bekal buat ke akhirat. kita butuh bumy bisa nentuin cara belajar, apa yang mau dia pelajari, dengan "kecepatan"nya sendiri, sehingga dia bisa 'mandiri' dalam berpikir. by choosing this one school, bismillah semoga jalan kita dimudahkan untuk memenuhi (kebutuhan) pendidikan bumy ini.



- tahun ini, gue juga dapat wake up call dalam hal kesehatan. ternyata, gaya hidup yang selama ini dijalani berdampak merugikan buat tubuh sendiri - terbukti, kadar kolesterol (jahat) gue dan adit tinggi, kak! kita emang naif (dan terlalu pede) sih kalo dipikir-pikir, hihihi... makan berlemak-berminyak-penuh gula semaunya, di rumah hobinya jadi couch potato, udah gitu keturunan darah tinggi+diabetes pula dari kedua sisi. jadi ya kita mulai bebenah soal ini. umur emang di tangan Allah, tapi ikhtiar itu wajib, dan merusak diri juga 'kan berdosa. kecuekan kita sama badan sendiri selama ini bisa dibilang 'usaha' merusak diri pelan-pelan in a way. sebelumnya, gue udah lumayan bertekad kuat merombak gaya hidup. menu makan sehari-hari disusun sehingga banyak sayur dan buahnya, goreng-gorengan dikurangi sampe beli phillips airfryer segala, trus olahraga jadi menu wajib sehari-hari. tapi tau-tau... gue dipanggil kerja full-time lagi! valid banget kata-kata yang bilang "setiap perubahan pasti akan dihadapkan pada tantangan." tekad yang udah bulat tadi langsung terhadang kendala waktu dan rutinitas baru. pelan tapi pasti, kita berusaha get around it, sih... road block bukan berarti bikin kita langsung berhenti sama sekali, 'kan. the only problem is, as always, consistency. concern sama kesehatan ini ya harusnya dijadiin habit, gaya hidup. semogaaa kalo bisa konsisten, kita bisa dapet bonus lingkar perut bisa mengecil, bisa crow pose, dan tuntas lari 5 km. aheey.  

- tahun ini juga jadi momen perubahan status gue: from SAHM, back to a WM once again
even though I've been missing bisa jemput bumy tiap hari, bisa bobok siang bareng, les yamaha di hari kerja, dst dsb, but I am thankful for the opportunity to work again. I said it then and I'll say it again: to have a choice is a  privilege! so hopefully I can be a better person by having this 'new' role. 

- a new skincare routine here. nggak banyak wishlist dulu, deh, mau rajin dan rutin aja dalam nerapin rutin ini. 

- new "projects" with fellow blogger/inspiring moms here, and project kalbu with Kiti here. kedua "project" ini bener-bener sarana katarsis sekaligus penyemangat dalam mewujudkan passion gue. alhamdulillah :)

- and 2015 is also very special karena di tahun inilah gue mengenal majelis tafakur.  
gue merasa, hal-hal yang disampaikan di majelis bener-bener apa yang selama ini gue butuhkan. gue diajarkan mengenai tauhid from stratch. setelah dijalani hampir 10 bulan ini, makin terasa kalau ilmu agama yang gue terima sebelum kenal tafakur tuh normatif banget, dan nggak menanamkan motivasi intrinsik untuk menjadi insan/muslimah yang lebih baik. di sini gue dikenalkan tentang konsep 'baru' tentang iman, tentang keyakinan ilahiyah. berhubung sepanjang hidup gue belajar tentang agama islam lewat cara pandang dan pemaparan yang melibatkan otak aja, jadi tantangan terbesar setelah bertafakur (di mana kalbu yang diisi dan diasah) adalah bagaimana mencabut keyakinan yang sudah ada di diri sejak kecil. 
intinya, kalau gue bisa meringkas kalimat untuk mereview kesan gue terhadap majelis ini, yang bisa gue bilang hanyalah: thank you for the disillusionment

kesimpulannya, there's a lot to be thankful for this year. meskipun sempat rada depresi, alhamdulillah bisa jalan-jalan, alhamdulillah kita semua sehat-sehat, alhamdulillah bisa menikmati banyak momen kebersamaan dengan keluarga. 
oh ya terkait parenting, gue sempat ikut beberapa seminar di tahun 2015. seru, membuka mata, dan ngasih banyak ilmu. tapi kalaupun bisa membuat resolusi, sepertinya gini:
- terkait parenting, I want to apply more verbs instead of putting on adjectives, to-do lists, atau nambah ilmu. not that it's bad. tapi gue pengen bisa mewujudkan hal-hal yang selama ini cuma gue pelajari, baca, atau angan-angankan doang. pengen bisa bacain buku cerita buat bumy tiap malem. pengen bisa SABAR (wishlist semua orangtua nih kayaknya - dan sebenernya ini udah dikabulkan loh, karena 'kan dikasih Allah media latihannya setiap hari hehe). pengen disiplin menjauhkan gadget kalau lagi bersama anak. pengen bener-bener dilakuin, deeehh pokonya. 

- buat hal-hal duniawi, antara lain seperti yang dicantumkan di bawah ini


hehe.. but the bottomline is, I hope this will be a great year; meaning I will be "great" in everything I come across. 
happy new year, y'all!