19/01/2015

superstar

tepat seminggu lalu, kita dateng ke acara konser Tribute to the Carpenters. i was so excited when i first knew about this event. kebayang bisa dateng sama Adit dan Bumy juga. we are, after all, sort of enthusiastic Carpenters fans (meskipun ini pernyataan yang agak-agak self-proclaimed sih, hehehe).
image from here

sesampainya di Pacific Place sore itu, kita masih berpikir suasana konsernya akan mini dan intim. jarang, kali, ABG yang suka the Carpenters... gitu gue pikir.

tapii, ketika kita makan malam di Ky*chon, kebetulan meja di seberang kita diisi oleh segerombolan anak-anak kuliahan yang hip dan "G*ods Dept" banget. lalu tanpa diniatkan untuk nguping, kita jadi tau kalo mereka mau dateng ke konser yang sama. tepatnya dari celetukan seorang di rombongan itu, "'Just like me... they long to be... close to youu' pasti lagu ini nanti dimainin, deh!" wew, kuno amat pemikiran gue yang mengira selera musik nggak bisa lintas generasi segitu jauhnya. hahaha... mungkin gue terlalu underestimate selera anak-anak kuliahan jakarta masa kini xD

berhubung acaranya dijadwalin mulai jam 7 sementara Bumy belum kelar makan, gue memutuskan jalan duluan ke venue untuk liat-liat situasi. ternyata begitu sampai di depan Atamerica, antrian udah panjang sampai ke bagian pintu terluar Atamerica. mak! begitu akhirnya bisa masuk, gue intip tempat konser akan diadain dan menemukan semua tempat duduk udah keisi. telat pisan ternyataa T__T

gue nungguin Adit dan Bumy bisa masuk di bagian luar tempat konser. sambil duduk-duduk di salah sofa di situ, gue denger seorang staf Atamerica ngomong kalo ini pertama kalinya pengunjung acara di situ serame ini! ternyata bukan gue doang yang salah perhitungan, hahah.
pas udah jam 7, gue telpon Adit lagi, dan dia bilang dia masih stuck di antrian yang sekarang udah mengular sampe ke luar Atamerica. yaudah deh, gue putusin masuk ke bagian konsernya duluan aja. masih kebagian duduk, sih... tapi di ubin tepat di depan panggung. glek. well, at least i can get that 'intimate' vibe i was imagining about.

sebenernya, selain pengen denger rendition lagu-lagu Carpenters, gue punya motif lain yang bikin gue ngotot dan excited dateng ke acara ini. tak lain tak bukan seorang penampil yang gue kagumi dan sukai sejak lama, tapi culunnya, nggak pernah gue liat perform secara langsung. it's Imel! atau lengkapnya Imelda Simangunsong, kakaknya THE Dewi Lestari, hehe.
image from here
gue sukaaaaaaa banget album dia produksi tahun 2002 silam, yang judulnya "Di Ladang Stroberi." sebenernya sih tau soal Imel ini dari sohib gue si Level 7. dia merekomendasikan album tersebut dibumbui dengan kata-kata "ris, you HAVE to listen to this. she's ah-mazing!"
ternyata setelah mendengarnya sendiri, it turned out that i fell in love with each and every song on that album. bahkan saking lagu-lagu di situ 'dapet' banget nuansa dari pesan dan tema yang mau disampein, tiap kali gue 'jatuh cinta,' gue menganalogikannya dengan "berada di ladang stroberi." x)))


well, back to the concert, jam 7 lewat, akhirnya masuk juga para performers malam ini: the Simangunsong sisters, hehe. sebutan ini sendiri baru 'dibuat' ketika Dewi Lestari 'ngobrol' dengan para penonton dan bertanya-tanya nama apa yang cocok buat 'grup' mereka ini. dari obrolan tersebut, gue juga jadi tahu kalo the sisters ini biasanya cuma 'manggung' di acara-acara keluarga, macam natalan, gitu. gue jadi ngerasa beruntung banget bisa dateng ke acara ini karena seolah-olah bisa sekejap mencicipi kerennya acara keluarga mereka itu hehehe.

jujur, gue nggak nyatetin song list mereka malam itu. tapi yang jelas, sebagian lagunya gue kenal dan sangat sangattt nikmati. kayak "Rainy Days and Mondays," "Superstar," "For All We Know," "We've Only Just Begun," "I Need to be in Love(!!)," "Sing," daaaan masih banyak lagi. gilakkk membuncah banget dada ini oleh kegembiraan hahahaha.

cerita dan kesan-kesan yang gue dapat dari konser ini dirangkum dalam titik-titik peluru berikut:

- the sisters bilang kalau dalam memilih lagu-lagu untuk dimainkan di konser ini, mereka pilih lagu yang cocok dengan warna suara mereka semua. hasilnya, menurut gue, lagu-lagu the Carpenters dibawakan dengan nuansa yang fresh dan 'baru' karena Dewi, Imel, dan Arina nyanyi dengan gaya khas atau signature style mereka masing-masing.


pada satu titik, rasanya kayak mendengar Mocca bawain the Carpenters dan nuansanya jadi "indie" banget. di titik lain, lagu the Carpenters jadi bernuansa jazz dengan suara Imel dan dentingan piano yang dia improvisasikan sedemikan rupa. dan ada saat-saat di mana Carpenters terasa 'paling' Carpenters ketika Dewi yang nyanyi, karena emang suaranya yang paling 'dekat' dengan Karen Carpenter. tapi most of the time, karena hampir sepanjang konser mereka bertiga nyanyi bersama-sama dalam satu lagu, lagu-lagu Carpenters yang dibawakan jadi terasa begitu kaya berkat banyak "warna" suara yang dicipratkan.

- gue dan Adit beberapa kali karaokean berdua aja dan milih untuk nyanyiin lagu-lagu Carpenters. i have to admit kalau kesederhanaan struktur lagu yang terdiri dari bait awal - chorus - bait kedua - chorus - bridge - lalu chorus diulang-ulang, bisa terasa membosankan. emang sih, kekuatan lagu-lagu Carpenters justru terletak pada kesederhanaannya itu - yang diracik dengan legitnya suara "chocolate-and-cream alto"-nya Karen Carpenter. tapi, gue bayangkan on a concert, hal ini bisa menjebak mood drifting along menuju hal yang monoton dan predictable, apalagi kalo yang bawain suaranya standar-standar aja. tapi yang terjadi pas konser mini ini, nggak ada tuh rasa 'bosen' - meskipun kita udah pada tau struktur lagu-lagu Carpenters bakal sesimpel apa. gue rasa ini berkat 'olahan' improvisasi Imel, baik dalam permainan pianonya yang jazzy maupun dalam menyanyikan lagu-lagunya. Arina juga bawa her iconic flute ke panggung. hal lain yang jadi faktor gue rasa adalah karisma ketiga perempuan ini, yang memang udah dikenal dan membawa citra musik yang berkualitas. 
Dewi Lestari juga berhasil mengisi jeda antar lagu, jadi suasanya makin akrab hehe. mulai dari berbagi panggilan sayang antara kakak-beradik itu, juga nyeritain kesan personalnya terhadap lagu-lagu Carpenters. that way, we got to have another peek at their childhood and family life.
Imel juga beberapa kali ngasih insight tentang the Carpenters dan gimana mereka milih lagu untuk dibawakan.   
oh iya, pada beberapa lagu di penghujung konser, Reza Gunawan didaulat untuk naik ke stage dan mengiringi dengan piano. it really felt like a family gathering! i guess these factors gave 3 points score for that "intimacy" i craved, hehe.

- Imel is an awesome musician. hahaha this is the groupie in me yang butuh membuat penekanan. 

well, satu setengah jam di malam itu rasanya cepet banget. padahal lumayan pegel juga sih, karena gue duduk bersila sambil memangku Bumy di sekitar 3 lagu terakhir. :D tapi rasanya seneng banget bisa menikmati suguhan keren dari Simangunsong sisters ini. 
btw, do i need to reveal how i cried on several songs? it's *that* beautiful. :')


15/01/2015

scribbles

beda banget sama bulan kemaren, januari ini gue rajin banget ngeblog, dah (tapi minim nulis artikel huhu). baru keinget kalau ada beberapa cerita yang 'tercecer' dari tahun lalu dan sayang kalau nggak didokumentasikan.

- ultah bumy yang kelima. 
yaay, alhamdulillah anakku udah 5 tahun, hehehe. udah bisa apa aja, bundaaa? :))) 
hmm, yang paling terasa dari semakin besarnya dia tuh antara lain pertanyaan-pertanyaan dan celotehnya yang semakin 'menarik.' nanyanya bukan lagi "itu apa? ini apa?" melainkan "KENAPA?" 
segala hal, deh, ditanya. dari yang challenging sampe yang bikin kesel. 

kalau gue mencoba menebak personality bumy dari sejauh yang gue perhatiin dan rasain, gue anggap dia pribadi yang penuh perhatian. he cares about how he makes other people feel. he's also a bit sensitive. bukannya mudah uring-uringan nggak jelas, sih (thank God), tapi dia bisa nunjukin apresiasi ke hal-hal kayak musik atau attitude orang lain, atau ngeliat anak kucing terlantar di mayestik bisa bikin dia murung dan matanya berkaca-kaca... :}
dia juga semakin "social"; main sama siapa aja, kalo ke tempat baru pasti dapet teman baru. ke playparq sejam, udah dapet temen akrab kayak udah kenal 3 bulan. di sekolahnya yang baru, syukurnya hal ini memudahkan proses adaptasi doi. he's friends with everybody - meski suka jaim kalo disapa temen-temen cewek. di lingkungan rumah, dia masih akrab sama his dearest Naya, hehe. trus juga masih suka temu kangen sama temen-temen dari eks-sekolahnya. 

btw, ultahnya kemarin semacam dirayain kecil-kecilan di sekolah. kecil-kecilan karena emang cuma dirayain secara montessori, tanpa kue ultah dan bagi-bagi bento aja. 


pakai mahkota, selempang, lantas bawa globe keliling lingkaran 5 kali.

sebelumnya, di rumah, tepat pas tanggal lahirnya kita makan bareng mricans di CJ tom yum. abis itu, beli kue ultah buat dipasangin lilin angka 5 dan ditiup di depan oma-opa, haha. oh ya, kayak tahun lalu, ditiupnya bareng Naya. :D




buat urusan di sekolah, alhamdulillah meskipun udah berada di belahan dunia yang berbeda, bunda Nisha teteeppp mau direpotin. huhu, makasih yahh bundoo. gue minta tolong didesainin stiker buat ditempel di kotak bentonya nanti. bentonya sendiri gue pesen sama Puan - rasanya enak, loh. 
udah, gitu aja, nggak pake goody bag-goody bag-an, haha. tambahannya cuma pesen kue bolu ketan item buat guru-guru dan staf sekolah. 


thanks again, bundo :*



potongan kue pertama


kedua. mamaknya? bagian moto doang...


so proud of himself karena disuntik nggak nangis haha
lainnya dari usia 5 tahun ini adalah waktunya mengulang beberapa imunisasi. ini sebenernya diingetin dokter pas Bumy dirawat gara-gara DBD kemarin. yang kemarin udah baru polio sama DPT. selanjutnya ada MMR, Hib, dan tifoid juga kalo nggak salah. trus karena Bumy belum pernah vaksin PCV, disaranin buat ambil vaksinnya juga on the next visit.


- berkunjung ke tempat-tempat "hip" di kalangan kelas menengah ng*hek, yaitu Ikea dan PIK. 
hkahkakhahkk. sayangnya belum ke pasar santa xD

pas ke Ikea, gue sama adit berduaan aja karena kebetulan Bumy bisa dititipin ke oma. kita dateng hari Sabtu jam 2an gitu. ternyata salah timing, deh, karena rame buanget. padahal waktu itu bukan tanggal muda, hehehe... gue pikir macem di Hyperm*rt gituh, yang ramenya pas abis gajian aja. 
begitu masuk ke parkiran, kagum karena parkirannya gratis! tapi pas masuk ke dalem sih nggak gitu heran, karena ya sama kayak di singapur. cuma animo masyarakat endonesa ini bener-bener tinggi, yah. mulai dari orok sampai tua renta ada semua di situ, nggak ada satu pojokan pun di sini yang nggak rame. bahkan di toilet pun antre. 
tadinya gue sama adit udah antre beli makanan di restonya, tapi mengular banget dan kayaknya kita nggak bakal kebagian duduk juga. akhirnya nyerah dan beli hotdog plus es grim 4 rebuan aja. xD


tapi, emang setiap kunjungan ke ikea tuh membuahkan inspirasi, ya. at least buat gue sih gitu. 
adit yang mantan barista pernah nyeritain soal konsep "starbak experience." ini maksudnya setiap kostumer sbux disuguhi 'dunia' a la sbux dengan dekorasi interiornya yang nyaman bin modern, dengan istilah-istilah dan penamaan khas sbux untuk sajian beverages-nya, things like that. 
nah, kunjungan ke ikea ini membuat gue ngerasain hal semacam itu, yang gue sebut sebagai "an ikea experience." suguhan contoh dekor dengan bermacam-macam gaya, alur penempatan barang-barang dagangan dan rute 'perjalanan' kita dalam toko superbesar yang udah dirancang sedemikian rupa sehingga nggak ada yang kelewat untuk kita nikmati (walhasil pegelnya sama banget kayak pas di ikea singapur; cuma untungnya di sini nggak harus gempor jalan kaki menuju MRT), arcade hotdog murah - es krim 4 ribu - kopi/teh/soda yang diambil sendiri, trolley untuk memuat makanan di resto yang unik imut-imut itu, bahkan sampai font dan warna signage yang simpel-namun-jelas-dan-tentunya-stylish; semuanya "khas" ikea. ikea banget. cuma bisa dialami di 'dunia' ikea, kurang-lebih begitu. 

meskipun nggak gitu menikmati kunjungan perdana karena manusianya buanyak banget, tapi gue keluar dengan perasaan yang segar. refreshed. contoh-contoh dekorasi untuk segala macam ruangan berhasil bikin excited untuk dikit-dikit mempercantik rumah lagi. penggunaan item-item sederhana macam ambalan atau rak buku simpel atau frame foto atau apalah itu yang bersatu-padu dengan cantiknya ketika ditempatkan dengan tepat bikin berseru, "waah, ternyata bagus, ya, kalo digituin!" 

begitu juga ketika mendengar seruan antuasias seorang oma-oma ke suaminya - sang opa-opa, "kita bisa taro kayak gini di kamar, nih!" dan melihat pasangan muda dengan dandanan a la kustomer go*ds dept yang bersikap aloof dan awkward di tengah lautan keluarga-keluarga suburban, namun dengan suara pelan berkata ke satu sama lain, "aku pengen karpet ini... eh, sofa kayak gini cocok, deh, buat di ruang tamu kita, eh yang itu juga...." hihihi. 
terasa banget antuasiasme positip orang-orang di situ buat bikin 'sarang'nya lebih keren dan nyaman ditempatin. 

but ofkorrsss, gue inget 'sabda' penyeimbang dari "the fight club" yang bilang,
"Like so many others, I had become a slave to the Ikea nesting instinct."
meskipun itu baru gue sebut-sebut di pikiran ketika mencoba menahan diri supaya nggak kalap beli ini-itu, sih... kekekek. tapi gue pastinya mau berkunjung lagi, on a much comfortable time, buat menyegarkan mata dan nyobain duduk-duduk ketje di restorannya, seenggaknya.  

oh ya, kalau ke PIK, waktu itu kita nyoba dateng pertama kali siang-siang, hari kerja pula. berhubung panas banget, gue agak males motoin tampilan luar rupa-rupa toko yang cantik dan lucu-lucu. kita cuma berkeliling trus capcipcup milih tempat desserts. yang kita pilih lumayan juga, namanya Honey Bean. maunya sih nyoba makan berat kalau ke situ lagi.




- happy news from the singletons.
fresh from sydney! ujug-ujug ngasih undangan

some of them tied the knot recently. Ika, my dearest pal from tlkm, akhirnya menemukan belahan hatinya yang ternyata seorang binusian hahaha. Dyah, akhirnya mengalahkan segala rintangan dan nikah sama sang kekasih hati, ihikhik. kabar-kabar ini bikin bahagia. bukan soal berganti statusnya yang bikin begitu, tapi karena gue tau banget mereka tuh pribadi-pribadi keren tak ternilai bak berlian, yang bertransformasi dari gadis-gadis muda jadi perempuan-perempuan dewasa yang mau berbagi hidup sama orang lain. yes, they went through that process of growing up first before they got married, nggak kayak gue yang nikah pas masih 'bocah' banget, hehehe, dan itu keren. so, i'm happy for their courage and the decision they chose to make. saya bersulang dengan segelas es krim buat kalian; langgeng selalu, yah.

berhubung post ini sudah terlanjur poanjang, gue bubuhi dengan foto-foto sekalian, deh.



menemukan tempat ini di belantara cilandak. tried it. dan, kok ya, jadi enggan balik lagi haha.
pada suatu hari, gue dikabarkan menang 'lomba' kirim foto yang diadain sama Rimba Baca. a few days later we picked up the present dan ternyata isinya ini! seneng banget Bumy dapet buku-buku bagus inih. thanks, Rimba!
my birthday feast. ekonomis! :)))


wedding gift DIY, dibikin di dalam pojok crafting toko paper clip SMS berdua adit. berbekal gunting pinjaman dari toko frame dan double tip, jadilah ini. semoga sudi dipasang di "love nest" mereka hahaha...


just... love it :)


07/01/2015

the regimen

menyadari usia udah kepala 3, gue jadi agak lebih concerned untuk ngurusin kondisi kulit, wajah terutama. sebelumnya sih, gue udah pernah secara khusus belanja skincare untuk anti aging dan juga untuk ngatasin permasalahan wajah. tapi, jujur ajah, masih lebih sering males untuk melakukannya secara teratur. tapi, makin ke sini, rasa males itu semakin bisa teratasi. begitu rutinitas udah kebangun, rasanya sayang aja kalau kelewat. selain itu, sepertinya kerjaan sampingan gue nge-proofread artikel-artikel Female Daily selama setahun belakangan ini juga otomatis menambah pengetahuan gue seputar skincare, hehehe. kebangetanlah kalo nggak! jadi makin tau soal kandungan-kandungan tertentu, kegunaannya, produk-produk alternatif (kayak opsi untuk save instead of splurge), dan juga bermacam-macam tips and tricks.

udah beberapa bulan ini gue membangun "skincare regimen" yang ternyata memberikan hasil yang lumayan, untuk standar gue pribadi loh ya, haha. emang hasilnya belum bikin pangling seketika karena gue emang ogah ke dokter muka atau melakukan perawatan di klinik tertentu, tapi pelan-pelan kerasa. misalnya saat mengapply makeup, jatohnya jadi lebih 'menyatu' atau blending, karena kondisi muka sekarang nggak kering dan nggak kusam(-kusam amat, haha).


image from here

tanpa banyak prakata lagi, beginilah "regimen" yang gue terapkan sekarang.

> buat malam hari (sengaja gue mulai dari malam hari karena lebih panjang):

- gue mencoba menerapkan metode double cleansing secara tekun. meskipun lebih 'ribet,' tapi melihat hasilnya, wah jadi ogah untuk skip langkah satu ini.
gue sebutin di sini kalau tadinya gue pakai cleasing oil Hada Labo. well, hasilnya emang memuaskan. tapi, gara-gara ikutan workshop Sulwhasoo di FD tempo hari, gue berkesempatan nyobain cleasing oilnya, trus jadi jatuh cinta! muka cemong karena makeup ataupun kotor semata, bisa jadi bersih sih sih dan halus lembap setelah pakai cleansing oil Sulwhasoo ini.
cara pakainya, gue biasanya pakai 2 pump untuk muka yang habis ber-makeup. dipijit-pijit lembut aja sampai cairannya berubah jadi putih (awalnya bening), abis itu gue cuci pakai spons yang direndam air hangat, seperti yang diajarkan ketika workshop hehe.

- kelar pakai cleansing oil, namanya juga double cleasing, jadi masih ada satu tahap lagi untuk ngebersihin wajah. sekarang giliran pakai face wash atau cleanser. gue pakai Sulwhasoo Snowise EX Cleansing Foam. ini lagi-lagi karena keracunan pas workshop. gue cuma pakai 1 totol kecil trus dikasihkan air secukupnya supaya berbusa. abis itu apply ke muka, pijit-pijit, dan bilas pakai spons lagi. di langkah akhir pemakaian spons, airnya gue ganti jadi air dingin. meskipun double cleansing pakai Sulwhasoo ini jatohnya agak splurge (sigh) tapi hasil yang diberikannya itu, loh - muka jadi halus, resik, cerah, tapi nggak kering - efektif buat jadi pembenaran kekeke.

- begitu kelar bersih-bersih, waktunya menerapkan metode double toning. hahaha apalagi inihh. baca di sini deh untuk lengkapnya. atau artikel ini yang ngasih tau kalau exfoliate with acid bisa "mengusir sel kulit mati sekaligus mendorong proses regenerasi kulit."
soal double toning, singkatnya memakai 2 jenis toner, dikutip dari artikel pertama, "di mana yang satu berguna sebagai eksfoliator dan yang lainnya untuk hidrasi."

exfoliating toner dipakai duluan, in my case sebelum pre-essence dan hydrating toner.
gue pakai 2 macem produk untuk ini, dipakainya selang-seling tiap malam. satu Paula's Choice Skin Perfecting 2% BHA Liquid Exfoliant, satu lagi Alpha-H Liquid Gold.
sebenernya untuk kulit berminyak itu lebih cocok BHA karena mengandung salicylic acid yang bisa meresap lebih baik ke pori-pori, ngilangin blackheads, dan ngurangin kadar minyak di permukaan kulit. makanya BHA dianggap bisa ngatasin masalah-masalah 'khas' kulit berminyak kayak pori-pori besar atau kondisi wajah yang blemish-prone.

tapi, ya nggak ada salahnya pakai AHA juga yang mengadung glycolic acid karena bisa ngangkat sel kulit mati, dus berkhasiat buat anti-aging. (maap-maap kalau sotoy). well, more on AHA dan BHA bisa dibaca di artikelnya dr. Oz (versi amrik kok) ini, hehehe.

oh ya, sebenarnya pemakaian Alpha-H ini ada jangka waktunya, cuma boleh selama 3 bulan kalo nggak salah. selain itu, kadar exfoliating toner yang dipakai juga disarankan nggak langsung yang persentasenya tinggi, gradually di-build up dulu, gitu. dan gue memakai exfoliating toner ini dengan kapas. cukup 3-5 tetes untuk seluruh muka.

btw, terkait "acid-acidan" ini dan anti-aging, gue jadi pengen nyoba produknya Peter Thomas Roth gara-gara buka situs Sephora. beberapa produk PTR jadi masuk ke wishlist, kayak Un-Wrinkle Peel Pads dan 40% Triple Acid Peel(!). sayang harganya kurang ramah di kantong, nabung dulu dah.


- abis exfoliating toner, gue pakai Sulwhasoo First Care Activating Serum. yap, masih bertahan dan suka sama pre-essence satu ini. gue baca di FD, produk ini disebut pre essence karena memang fungsinya mengoptimalkan pemakaian essence/serum. jadi ya dipakainya sebelum pakai essence/serum dan sebelum (hydrating) toner.
cara pakainya ditotolkan di 5 titik wajah, trus dipijat dengan lembut aja.

- kelar ini, saatnya buat hydrating toner. gue pakai Hada Labo Shirojyun Ultimate Whitening (kemasan biru). gue masih pakai ini setelah sekian lama dan cocok-cocok aja. sempat nyoba pakai Sulwhasoo Balancing Water tapi malah bruntusan. cara pakainya dikiit aja karena encer banget, trus ditepuk-tepukin ke wajah.

- selanjutnya, waktunya pakai serum, gue masih pakai Paula's Choice Skin Balancing Super Antioxidant Mattifying Concentrate Serum yang belum abis-abis hahaha... semoga belum expired deh :| gue pilih ini karena khusus buat anti-aging berkat kandungan peptide-nya. gue suka efek abis pengaplikasian produk ini karena muka jadi haluuus, and yes, matte.

- untuk eye serum, gue pakai Ole Henriksen Ultimate Lift Eye Gel Roll On. begitu diolesin, eye cream ini langsung ngasih tingling sensation. sebelumnya gue tulis kalau semakin gue rajin pakai produk ini, kok rasanya malah jadi menjurus ke perih. meskipun begitu, kulit gue nggak teriritasi sama sekali, sih, jadi gue lanjutin saja. lagian, review yang gue baca emang so far valid, karena kantung mata emang membaik dan moga-moga beneran mengurangi kerutan halus di area mata.
nah, belakangan ini gue coba mengoleskan produk ini cuma satu kali di sekeliling mata - sebelumnya bisa 2-3 kali - eeh, ternyata ini efektif ngilangin rasa perih yang gue sebut tadi. jadii, nampaknya penyebab rasa perih tadi karena overdosis produk... xD

- kalau lagi rajin banget (baca: belom ketiduran), biasanya gue lanjutin dengan pakai Hada Labo Gokujyun Alpha Ultimate Antiaging Cream (kemasan merah). meskipun harganya tergolong bersahabat, tapi kandungannya oks punya; ada retinolnya, collagen, sama cencunya hyaluronic acid.

err kok udah panjang banget ya, padahal baru buat malam hari...

> anyways, kalau untuk pagi hari:
- cuci muka pakai Hada Labo Tamagohada yang AHA/BHA
- Sulwhasoo First Care Activating Serum
- hydrating toner kadang pakai kadang nggak...
- essence: Secret Key Dragon Blood Essence, atau kadang-kadang Hada Labo Shirojyun Ultimate Whitening Essence.
- Alpha-H Daily Essential Moisturizer SPF30, ini cepat meresap di muka, formulanya ringan, dan cocok buat muka berminyak gue karena bikin halus seketika. udah gitu ada SPFnya juga!
- dan akhirnyaa, sunscreen: Skinaqua UV Whitening Moisture Gel SPF 30 PA++(kemasan putih). lovve this sunscreen so much; cepat menyerap, ringan, dan nggak nimbulin white grease.


image from here
setelah ngejalanin ini semua, tetep aja sih kadang muncul jerawat gede di muka pas periode PMS atau sedang mens.
emang ngerawat kulit wajah tuh ternyata nggak cukup dengan mengoles krim ini-itu semata, tapi juga pola makan yang sehat dan bersih, rajin olahraga, sama... rajin sholat kali ya, hahaha. nah, justru tindakan-tindakan 'pelengkap' ini yang gue masih belum bisa jalanin dengan rutin dan rajin *melirik satu baskom es grim baskin robbins di kulkas* xD

oiya, selain yang di atas, sebenernya ada beberapa produk yang gue suka tapi nggak rutin dipake. 
misalnya Paula's Choice Resist Pure Radiance Skin Brightening Treatment. ini serum untuk mencerahkan wajah, gue pakai udah agak lama tapi ngasih hasil yang biasa-biasa aja.  

trus Secret Key Deep Moisture Energy Facial Oil yang ada kandungan argan oilnya. suka gue pakai kalau jerawat lagi bermunculan di malam hari sebagai pelembap. 

masih buat jerawat, atas rekomendasi Nuri, gue pakai Nu Skin Clear Action Acne Medication Night Treatment. ini ampuh menjinakkan jerawat yang lagi 'mateng.'

satu lagi, Vichy Purete Thermale yang merupakan micellar water. kalau dari artikel ini, micellar water fungsinya membersihkan wajah dari makeup. gue kutip dari artikel yang sama,
"Micellar water mengandung micelles yaitu butiran minyak mikroskopik di mana pada saat dituangkan di kapas, bersama dengan kapas, ia akan berfungsi seperti magnet dalam menyedot semua kotoran dan minyak-minyak berlebih pada wajah sehingga wajah bersih. Dua kali ulasan Micellar water saja – satu usapan untuk membersihkan makeup dan satu usapan lagi untuk membersihkan wajah secara menyeluruh, maka hasilnya mirip dengan double cleansing tapi dengan langkah lebih mudah. Penyelamat di saat sedang capai sekali."
that is so valid. kalo udah ngantuk dan capek tak tertahankan, gue pakai ini aja.

so, that's it, my so-called skincare "regimen" hehe. tapi namanya manusia serakah, masih adaa aja barang yang nongkrong di wishlist. contohnya clarisonic mia yang bikin penasaran tapi gue masih maju-mundur untuk beli karena mihil. trus juga pengen nyobain Sulwhasoo Snowise EX Set yang sepertinya serumnya oke punya. yastralah nggak abis-abis bahan ginian. skincare terbaik mah tetep deh, air wudhu hkhahkahkak - kata si muka kusam. xD  

eehh tambahan dikit, gue nemu artikel yang berguna tentang gimana 'membentuk' rutinitas skincare dari Paula's Choice. jelas dan mudah dimengerti banget. ini dia artikelnya.
moga-moga berfaedah hehe.

06/01/2015

keep believing is the hardest thing

hari ini adalah hari ulang tahun partner hidup gue, the father of my child, the one who's been so patient upon witnessing my erratic behaviors and watching me make the same mistakes over and over again. ugh.
please, don't get sick of me yet.

anyways, begitu adit sampai di rumah, kita langsung cabs lagi. ke holycow kemang hehehe. yaaa gitu deh, modus dapet steak gratisan. gue sih nggak doyan steak, tapi bumy dan adit iya. it was just like any other dinner we've had, cuma sempat saling mengingat-ingat umur.

gue: "eh, ini ultah kamu yang keberapa ya? 32?"
adit: "bukan, 33."
...sejurus kemudian,
gue: "aku kira kita cuma beda setahun..."
adit: "emang berapa? kamu kemaren ultah yang ke-30 bukan?"
hadeh. macam wayang pak lurah aja ini percakapan.



oke melencengnya kejauhan.

nah, balik dari holycow kemang, entah siapa yang ngomporin, tau-tau kita ngayal-ngayal babu. salah satu khayalan itu adalah tinggal di c*s*mora cipete karena kayanya lebih deket jaraknya ke sekolah bumy namun suasananya masih rindang bersahabat, hakakhak. ya ngakaklah, lha kalo diseriusin bisa merinding sendiri mikirin jumlah angka nol rumah di kawasan itu.

seperti gue racaukan di sini, gue sekarang entah jadi pesimistis soal berangan-angan, atau makin berhati-hati aja dalam berkeinginan. gue segera berujar ke adit, "halah, apa mungkiin?"
respon dia terhadap celetukan pemadam-bara-impian gue yang malesin tersebut ternyata memberikan efek yang tidak gue sangka-sangka di sanubari.
dia ngingetin kalau dulupun pas kita berangan-angan pindah rumah ke ciganjur, rasanya out of this world banget. lebay. ketinggian. impossi-b-le. tapi, who'd have known? ternyata kesampean (meski dengan darah dan airmata, sih... teteup). 

mungkin emang udah waktunya gue dapet pencerahan, ya, setelah sekian lama bermuram durja dalam realitas. karena abis dengar kata-kata doi itu, dada rasanya enteng. seketika gue merasa kembali antusias. 
untuk ngapain? ya untuk kembali bermimpi! (semoga tidak terdengar seperti jargon MLM)

so what if i have dreams? even the seemingly impossible ones? as long as i don't let those dreams become obsessions, i mean, we all could benefit from some targets and directions in life, right?
gue jadi menyadari kalau antusiasme itu bahan bakar untuk menapaki hidup. tanpa antusiasme, hidup rasanya ya hambar aja, bahkan mungkin meaningless. if i were smarter, i would've remembered how i spent years doing a job i didn't feel passionate about. hari demi hari dilalui bak zombie, just waiting for pay day to come. why would i go there again? after all, being realistic surely doesn't equal to shutting down every silly, crazy dream i have in mind, just like what i did to adit earlier. that's just plain bitter.

ah, mungkin inilah "fungsi" sebenar-benarnya dari partner hidup: memberi tepukan lembut di bahu supaya kita bisa 'sadar' dan kembali ke jalur saat mata udah sepet dan hati udah eneg. if that's the case, then he really does an awesome job. like he's been doing all these years.
(serenading "kau jiwa yang s'lalu aku pujaaa...").

so, again, happy birthday to you, ub! let's make a long list of silly, crazy dreams, shall we?
 

pic from here

05/01/2015

all this is that

hhh... selama desember kemarin gue sama sekali nggak rambling di blog.
sibuk banget sih, nggak. yaah standar aja rutinitasnya: nganter sekolah, 'nongkrong' bengong-bengong di kemang berharap dapat inspirasi buat artikel, nganter les, masak, nginem, gitu-gitu deh. tapiii... bulan desember ini emang gue jadi lebih banyak berkontemplasi (baca: bengong).
wajar kali ye, bukan cuma karena udah masuk penghujung tahun, tapi juga banyak momen-momen reminder, contohnya: Bumy udah 5 tahun ajah. weww anakku bukan balita lagii! udah gede, udah mau SD! *histeria mamah muda*
daaann... gue udah tigapuluhsatu tahun bok. alhamdulillah wa syukurillah. bersyukur diberi usia dan kesempatan menikmati hidup, tapi juga ada rasa malu mengingat belum banyak berbuat buat orang lain.
selain itu, bulan desember juga momentum anniverssary pernikahan, peringatan tragedi tsunami aceh, natalan, tahun baru, yang semuanya bisa jadi pengingat dan bahan buat refleksi diri.

kalau gue lihat entry bulan desember yang gue buat tahun-tahun sebelumnya, sepertinya lebih banyak perubahan yang terjadi di periode-periode itu dibandingkan sekarang.
contohnya catatan milestone perkembangan Bumy, entah itu dari disapih, toilet trained, atau masuk sekolah. trus juga perubahan kondisi hidup, kayak pindah rumah, pindah kerja, atau traveling ke tempat-tempat baru. sementara gue melihat tahun ini nggak banyak terjadi loncatan atau letupan. not that it's bad, sih. gue memaknai ini sebagai episod menjalani pilihan-pilihan yang udah dibuat. mungkin kayak belajar naik sepeda, ini adalah saat di mana kita udah menguasai sepeda roda 2, dan sekarang lagi belajar menjaga keseimbangan.

gue masih di rumah sambil kerja freelance sembari memasuki CLTP tahun ke-2.
adit masih kerja di tempat yang sama.
kita masih menempati rumah ciganjur, desember ini genap 2 tahun. sempat pakai ART trus nggak, trus pakai lagi dan kapok lagi haha.

tapi, pastinya ada perubahan selain bertambah tua, 'kan?
i hope so! at least i'd like to think i've 'learned' a few things the past year... seperti

- kalau biasanya hidup gue diisi dengan target-target, kali ini, membuat NY's resolutions aja nggak. waktu mau mencoba bikin, yang terjadi malah gue reality check ke idup sendiri.
berapa ya buku yang belum kelar gue baca? jawabannya, numpuk!
berapa ya tempat yang belum jadi dikunjungi?
what good deeds did i miss doing? karena ternyata bukan cuma kesempatan aja yang bisa kelewat.
udah gitu tahun ini gue nggak jadi medical check up. standarlah, karena males, juga enggan, dan cemas. nah ya, cemas. rasanya gue jadi jauh lebih pencemas semenjak ngejalanin hidup lebih banyak di rumah. gue jadi takut nyetir sendiri (sambil bawa Bumy) memasuki tol, gue kadang cemas di tempat ramai, trus gue juga gampang annoyed kalo ada sesuatu berjalan di luar rencana atau harapan.
so, maybe this year i ought to be more relaxed, to loosen up and quit fussing about the small stuff. tapi tetap perlu meneguhkan niat buat medical check up, sih.


amen. pic from here


- i talked about this paradigm shift regarding our choice for Bumy's education here. ujung-ujungnya sih jadi membawa ke soal toleransi, yang dimulai dari keluarga sendiri.

- related to that, i do believe that family should always comes first. perhatian, cinta, dan dedikasi untuk keluarga itu semacam investasi yang nggak akan pernah rugi. hal ini perlahan-lahan gue pahami melalui interaksi gue sama mricans, juga sama extended family dari pihak gue dan adit. yaah, pelan-pelan karena gue emang bawaannya individualistis dan maunya serba praktis. wujudnya jadi males ikut acara-acara keluarga, trus kalau untuk urusan keluarga yang jadi pertimbangan awal selalu "ngeribetin gue, nggak, nih?"
but aging seems to improve me on this. 
gue juga jadi semakin yakin betapa nggak ada ruginya ribet-ribet demi keluarga sendiri setelah membaca artikel ini; ada kata-kata begini:
“Spend more time with your folks. It’s a different relationship when you’re an adult and it’s up to you how you redefine your interactions. They are always going to see you as their kid until the moment you can make them see you as your own man. Everyone gets old. Everyone dies. Take advantage of the time you have left to set things right and enjoy your family.”
time is the one thing you can never get back.



Mason Jr. in 12 years time. pic from here
- lastly, gue jadi inget salah satu film favorit yang menurut gue layak menjadi masterpiece, yaitu "Boyhood." disutradarai sutradara ngehek Richard Linklater, film ini bukan cuma gokil karena difilmkan selama 12 tahun, tapi penuturan dan pesan yang disampaikan juga menusuk ke sanubari.

film ini kayak ngajarin gue dan adit tentang parenting, being a parent, and also about life.
how to talk about sex with your kids, how to try to make your kids understand about the choices you make as a parent,  also that the journey to be a friggin' good parent and a good person is a long one.

gue sendiri jadi menyadari kalau nggak akan ada keluarga yang sempurna, begitu juga gue sebagai orangtua nggak akan bisa mengukirkan hidup yang sempurna buat anak gue karena gue dan partner ya manusia, nggak sempurna. kepribadian orangtua, cara orangtua membesarkan anak, kondisi kehidupan anak saat kecil, hal-hal itu emang punya andil dalam membentuk kepribadian anak. tapi apa pilihan-pilihan si anak or how the kid will turn out to be, itu  di luar kendali orangtua. we can only hope they will turn out alright.

film ini juga menyadarkan betapa hidup terdiri dari hal-hal indah, menyebalkan, menyedihkan, sulit, enak, dan ribuan rasa lain all rolled into one. pilihan kita mau fokus mengingat atau menilai hidup kita dari momen yang mana; misalnya mau mengingat orangtua kita lewat kenangan indah sama mereka, atau lewat hal nyebelin yang mereka pernah lakukan....
seperti kata-kata yang pernah gue baca, "in the moment, it doesn't matter about the ending at all."
yeah, it really doesn't matter how things will end. just seize the moment. (or maybe let the moment seize us, seperti kata Mason Jr. di film ini).


image from here. and yes, "Jesse" is Mason Sr. in this movie

there are also some memorable dialogs from this movie (pastinya!). like this one,
Mason: So what's the point?
Dad: Of what?
Mason: I don't know, any of this. Everything.
Dad: Everything? What's the point? I mean, I sure as shit don't know. Neither does anybody else, okay? We're all just winging it, you know? The good news is you're feeling stuff. And you've got to hold on to that. 

dan dialog ini, damn! i think every parent is bound to say this at one point, dan bahkan kalau nyokap gue lebih articulate, she would definitely say the same thing.


Mom: [Mason is leaving for college] This is the worst day of my life.
Mason: What are you talking about?
Mom: [Starts crying] I knew this day was coming. I just... I didn't know you were going to be so fucking happy to be leaving.
Mason: I mean it's not that I'm that happy... what do you expect?
Mom: You know what I'm realising? My life is just going to go. Like that. This series of milestones. Getting married. Having kids. Getting divorced. The time that we thought you were dyslexic. When I taught you how to ride a bike. Getting divorced... again. Getting my masters degree. Finally getting the job I wanted. Sending Samantha off to college. Sending you off to college. You know what's next? Huh? It's my fucking funeral! Just go, and leave my picture!
Mason: Aren't you jumping ahead by, like, 40 years or something?
Mom: I just thought there would be more. 

:')


i guess this video of "The Fall" from Rhye could set the mood right for this post. well, do enjoy.





04/01/2015

homogenic

there's been a paradigm shift regarding our choice for bumy's education. faktor utama yang membuat kita memilih sekolah bumy yang sekarang adalah penerapan metode montessori-nya. tapi, seiring dengan berjalannya waktu, kita jadi disadarin kalau sekolah ini JUGA menerapkan islamic values. hehehe, yeah i have to be honest kalau kita nggak ingin menyekolahkan anak di tempat beragama homogen. well, tadinya, at least.
sekarang ini, bumy membawa ke rumah apa-apa yang dia pelajarin di sekolah. bacaan sholat, doa-doa, pengetahuan tentang asmaul husna, minta belajar iqra, dll. dia jadi banyak nanya, emang ini artinya apa, itu gunanya apa, bahkan suatu hari ketika lagi mau sholat berjamaah, dia request bapaknya baca surat tertentu (yang ternyata bapaknya nggak hapal hahaha!). kadang jadi semacam a slap in the face, kok kita yang lebih tua dan 'mengirim' dia untuk belajar tentang islam malah pengetahuannya cetek?

tapi, semakin dijalani, hal ini jadi motivasi. seiring dengan bumy makin gede, gue jadi makin banyak belajar juga. belajar dari awal lagi sih, tepatnya. membaca(kan) kisah-kisah nabi, berusaha menghapal surat-surat juz'amma, begitu juga berusaha walking the talk. adab dalam islam itu gimana, perilaku Rasullullah SAW seperti apa, dsb.
nggak cuma soal agama, pertanyaan-pertanyaan dan keingintahuan anak juga mencakup banyak ranah; ya science, sosial, budaya (untung belum politik ekonomi dan sosial segala). i'm sure every other parent out there has or maybe is going through the same phase. mungkin ini malah baru permulaan; ke depannya, gue yakin pertanyaan-pertanyaan itu akan lebih kompleks dan menantang. and maybe this is what makes parenting so darn exciting, hehehe.

kembali ke soal homogenitas agama di sekolahnya sekarang, sebelumnya gue suka menganggap preference orangtua untuk masukin anaknya ke sekolah homogen itu didasari ekspektasi yang naif. kenapa naif? karena dari pengalaman hidup, gue ketemu banyak orang yang TK-SMA di sekolah islam, khatam Al-Qur'an berkali-kali, pengetahuannya luas soal islam, dst, tapi perilakunya yaa nggak jauh beda sama gue yang TK-SMA di sekolah nasional. apa yang didoktrinkan ke anak tuh nggak menjamin perilaku, pilihan-pilihannya, apalagi nasibnya.
jadi, sekarang ini, sebisa mungkin gue ngingetin diri gue buat nggak 'ge-er.' bahwa apa yang bumy pelajari sekarang ya nggak bisa diharapkan untuk jadi 'jaminan' hidupnya bakal aman dan sentosa ke depannya, secara moril. dan, apa yang dia pelajarin di sekolah itu bisa stick dan gak jadi hapalan atau retorika semata asalkan value yang sama juga diterapkan dan dijalanin di luar sekolah. ya sama siapa lagi kalau bukan oleh emak-bapaknya? *sigh* 
gue jadi keinget waktu lagi hamil, ada ibu-ibu rekan kerja senior yang nyuruh gue rajin baca Qur'an. gue cuma nyengir sopan menanggapinya. pas ibu-ibu itu udah berlalu, ex-bos gue, pak elfin, komentar, "berat yah tuntutan buat ibu hamil!" seraya ngakak -__- little did i know kalau ke depannya lebih buanyaakkk tugas dan 'beban' moril yang harus diemban. itu mah baru kulit-kulitnya doang!

tapi gini, tak kenal maka tak sayang, bukan? gimana bisa 'sayang,' akrab, dan memahami, kalau belum kenal sama sekali?
jadi, sekarang gue memaknai bersekolahnya bumy di sekolah islam ini sebagai salah satu wujud ikhtiar. dia mau naksir atau jatuh cinta itu gimana pilihan dia nanti, yang penting gue dan adit udah jalanin porsi kita untuk mengenalkan dan ngasih pemahaman.
lagian, bukannya pernah gue nyatakan di tujuan pengasuhan kalau ingin bumy salah satunya jadi orang yang soleh? (oh come on, don't act so surprised!) 

terlepas dari itu, gue mensyukuri kondisi keluarga besar yang setengahnya berbeda keyakinan. karena gue rasa ini bisa jadi semacam "penyeimbang." meskipun sekolahnya homogen, tapi kondisi ini bisa jadi sarana buat Bumy memahami tentang perbedaan dan toleransi secara langsung. kayak kemarin pas mau Natal, dia excited mau berkunjung ke rumah Opung yang ngerayain. gue jelasin kalau saudara-saudara kita ada yang agamanya berbeda, but that doesn't really make any difference. they love us the way we are, and so do we. blood is thicker than water - or any difference among us for that matter. 

ah, tiba-tiba gue jadi inget this particular video, di mana pendeta terry jones lagi 'asyik' berpidato menjelek-jelekkan agama islam di tengah keramaian times square. islam minoritas di sana, nggak kayak di sini, terlebih setelah 9/11, jadi tercap agama teroris. liat deh gimana reaksi New Yorker terhadap hate speech terry jones. gue masih mewek setelah nonton berkali-kali! sungguh, toleransi adalah kunci...



01/01/2015

time is never time at all

where were you when you heard the news about tsunami 10 years ago?

gue inget banget waktu itu lagi di rumah sahabat gue, Kiti. actually that was already a few days after December 26th, dan kita lagi di situ dalam rangka ngumpulin baju dan lain-lain yang bisa didonasikan ke Aceh. waktu itu lagi hujan deras, kayak sekarang, dan meskipun biasanya gue suka banget sama hujan, tapi kali itu perasaan gue nggak menentu.

it was a massive tragedy, dan gue memaknainya secara personal. beberapa waktu sebelum itu, gue mendengar kabar kalau seorang teman SMP gue meninggal secara tiba-tiba. hanya dalam dua minggu, dia terkena penyakit yang debilitating dan nggak jelas apa, lalu baru ketahuan near the end kalau dia terkena penyakit lupus. ternyata lupus memang penyakit seribu wajah, karena dokter-dokter yang menangani teman gue itu juga menemui kesulitan mengenali apa penyakit dia dan cara mengobatinya. and the sad thing is that she passed away. waktu itu umur kita baru berapa, sih... 21 tahun bok.
dan rasanya itu fakta yang menohok gue banget. si teman ini, she was everyone's sweetheart. ceria, baik, ramah, solehah. trus tau-tau kena lupus aja gitu.
dan tiba-tiba gue tersadar betapa hidup terasa kayak satu undian besar... nasib nggak mandang apakah elo cakep, jelek, baik, jahat, antisocial, populer, atau bagaimanapun. hiduplo adalah bagaimana nasiblo 'dalam' suratan undian.
setidaknya, begitu pikiran (dangkal, naif, lugu) gue waktu itu.

lalu terjadilah bencana Aceh. gue semakin tergugu. tempat yang dijuluki sebagai serambi Mekah. gue bingung, kurang beribadah gimana lagi coba orang-orang itu? islami, taat. pastinya yang terjadi pada mereka bukan hukuman. berarti itu ujian, ya 'kan?
tapi... kok sebegitu berat, ya? 
gimana kalo orang macam gue yang diberi ujian? orang yang nggak mau tau agama, cuek, sembarangan.... udah punya bekal apa gue?

sanggupkah kita kalau kehidupan yang kita akrabi tiba-tiba sepenuhnya jungkir-balik hanya dalam satu kedipan mata?
sanggupkah kita menerima kehilangan orang-orang yang kita cintai?
sanggupkah kita mengikhlaskan kalau harta benda kita tiba-tiba raib?

image from here

tentu aja gue ketakutan membayangkan itu semua. gue ngerasa perlu tempat berlindung, perlu pegangan yang kokoh. dan gue sadarin kalau gue cuma bisa dapetin itu semua dari pemilik semesta alam ini.
bukan cuma ketakutan, gue jadi mulai nggak nyaman sama kebiasaan gue sehari-hari, sama cara gue menjalani hidup. gue ingin jadi lebih baik, yang 'layak' seenggaknya menurut standar agama yang gue anut. makanya, mungkin banyak yang kaget, termasuk nyokap gue sendiri, ketika ujug-ujug bulan april 2005 gue pake jilbab. padahal sih, 'proses'nya udah berjalan sekian bulan sebelumnya. momentum tsunami sendiri adalah salah satu trigger....

berkaca ke sekarang, sepuluh tahun kemudian. alhamdulillah gue masih diberi umur. 
alhamdulillah dua bulan setelah desember 2004 gue lulus kuliah, bulan depannya masuk kerja di citi, dua tahun kemudian nikah, trus punya anak. jadi ibu. and now i'm in my thirties. it feels like i've moved so far from a decade ago. i feel like i've understood more about life.
tapi... gue sadarin kalau kualitas keimanan gue masih... begitu-begitu aja. bahkan mungkin berkurang, kalau mau jujur. masih minim (baca: males) menimba ilmu agama, kurang ada keinginan mengupgrade pemahaman tentang islam... oh who am i kidding, bayar utang puasa aja nggak lunas-lunas! gue disibukkan oleh kehidupan sehari-hari. pilihan-pilihan yang gue buat hampir selalu didasari oleh faktor kepraktisan dan kecondongan hati, bukannya apa yang wajib dan yang perlu. 
mungkin hidup gue selama ini bukannya  mengumpulkan amal tapi malah menumpuk dosa. 
hiks... astaghfirullahalazim. 

gue menulis ini nggak bermaksud menggurui atau malah mengumbar aib, sih. momentum satu dekade tsunami aceh kemarin kayak 'membangunkan' gue lagi dari bobok siang dalam 'kepompong' hidup gue yang nyaman. hari-hari yang gue jalani dalam autopilot mode. tanpa menghitung dosa, amal, kualitas diri, dan sebagainya. hari-hari yang nggak gue maknai sebagai berkurangnya waktu di dunia, tapi semata-mata hari untuk dilalui... dalam kekhawatiran, rasa letih, ketakutan, dan ketidakpuasan yang sama - mungkin cuma berbeda bentuk - dengan sepuluh tahun lalu. 
kalau dulu yang dikhawatirin soal skripsi, cowok, urusan kerjaan.... sekarang yah jadi urusan cicilan rumah, cashflow, ina-inu soal anak, blablabla rumah tangga, pencapaian pribadi, etc. 
i'm still the same old, older me. 

.....

jadi, harus gimana? 
what have i learned? 
what do i want to do?

salah satu yang gue pelajari tahun ini adalah soal memilih keinginan. gue kerap kali menginginkan hal-hal yang memuaskan jasmani dan nafsu semata, tapi nggak membawa ketenangan hati, atau nggak 'dilengkapi' dengan kemampuan diri untuk memanfaatkan hal itu dengan baik jika tercapai.
i could wish for a prettier home - a bit upgrade here and there, but what good would it do if i still feel empty inside?
i could wish for more money, but what would that do? well, money sure takes you to a lot of nice places, but... can it give me health? can it give me perseverance? can it transform me to be passionate and enthusiastic all the time? can it even give me time?
i could wish for an opportunity to live abroad, but... have i been independent enough? have i proven to myself that i'm mentally ready?

i don't know whether this indicates i'm depressed or i've become... wiser? i wouldn't give such generous credit to myself, but i also don't want to view myself in a (too) negative light. maybe i'm simply evolving, as everyone would be. hopefully into something better....

well, i'm still quite not sure on how to sum it up. i surely have a wishlist, albeit how cliche it may sound, karena gue nggak mau percaya sama kata-kata "biarkan hidup mengalir...." i mean, are you willing to be taken straight into an abyss if that's where life flows? 
tapi, lagi-lagi, MUNGKIN ini berarti gue perlu belajar lebih banyak lagi tentang memilih, dan menyadari kalau hidup ini ya isinya pilihan. qada, qadar, ikhtiar.


"We’re all faced throughout our lives with agonizing decisions, moral choices. Some are on a grand scale, most of these choices are on lesser points. But we define ourselves by the choices we have made. We are, in fact, the sum total of our choices. Events unfold so unpredictably, so unfairly, human happiness does not seem to be included in the design of creation. It is only we, with our capacity to love that give meaning to the indifferent universe. 
And yet, most human beings seem to have the ability to keep trying and even try to find joy from simple things, like their family, their work, and from the hope that future generations might understand more." - Louis Levy.



if only choices were always this easy...