17/09/2013

sahm journey (six months after)

Catatan Ibu Rumah Tangga Pemula

by vanshe — Thursday, September 5th, 2013 at 7:09 am
 
Bulan ini adalah bulan ke lima saya menjalani lakon sebagai ibu rumah tangga. Ya, ibu rumah tangga “saja,” yang stand by menunggui anak 24/7, dan tidak punya bisnis online :)

Perjalanan ini baru seumur jagung. Penyesuaian masih terus dilakukan. Tantangan-tantangan baru akan singgah. Makanya, saya sadar masih pemula.  Saya membuat catatan ini selain untuk merekam, juga untuk memberi gambaran kepada Mommies yang mungkin juga ingin mengubah ‘jabatan’ menjadi Ibu Rumah Tangga :)

Bulan ke-1.
Mungkin tepat jika masa ini disebut masa bulan madu. Semua masih terasa begitu segar dan exciting. Saya begitu menikmati ritual baru di rumah: sarapan bersama setiap pagi. Duduk bareng tanpa terburu-buru (karena kini suami menggunakan jasa KRL) terasa seperti sebuah ‘kemewahan’ dan menjadi penyemangat hari.

Saat ini juga masa awal adaptasi, dengan rutinitas baru di mana waktu luang seolah terbentang luas, dengan angan-angan yang agak ambisius, juga dengan kondisi finansial yang baru. Untuk yang terakhir, ini saatnya saya mempraktikkan peta finansial baru dengan single income.

Di masa ini juga, I think I’m (still) relaxed about everything. Saya menikmati pilihan yang terbentang luas untuk mengisi hari. Kadang, untuk menghindari kepenatan, saya mengajak anak berjalan-jalan berdua saja, mencicipi kenyamanan coffee shops baru, atau sekedar grocery shopping di supermarket baru.

Bulan ke-2.
Kini, waktu luang yang seolah abundant tadi, malah membuat saya limbung.
Karena masih memutuskan tidak memakai jasa ART, kegiatan sehari-hari saya diisi dengan mengurus rumah — masak, bebenah — di samping tentu saja mengurus anak. Ternyata ‘padat’nya aktivitas fisik ini malah membuat saya penat, secara fisik maupun mental. Saya kerap merasa kehabisan energi di akhir hari, sehingga tidak bisa melakukan hal-hal untuk “me time” seperti menulis atau sekedar browsing internet.

Tapi ketika saya sedang leyeh-leyeh bersantai, saya malah merasa rikuh. Karena merasa “Pekerjaan rumah ‘kan numpuk, kok saya malah santai-santai?” Saya kerap merasa HARUS melakukan a, b, c. Padahal mood sedang tidak ingin.

Bulan ke-3.
Belajar dari apa yang terjadi, saya mencoba mencari jalan keluar dengan menyusun jadwal kegiatan yang jelas dan realistis untuk kegiatan di rumah. Jadwal kegiatan ini penting terutama untuk Bumy. Setelah menjalani assessment psikologis di calon sekolahnya, saya jadi tahu bahwa pembentukan rutinitas berperan besar dalam perkembangan anak.

Saya sendiri masih tidak menggunakan jasa ART. Karena, yah, saya merasa masih bisa meng-handle pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan ART (little did I know… ;D).
Jadi, jadwal ini akan memuat selain kegiatan untuk Bumy, juga jadwal kegiatan untuk saya sendiri. Bentuknya seperti ini:


Saya menempelkannya di tempat yang paling sering saya lihat, yaitu di badan kulkas, hehehe. Selain jadwal tersebut, saya juga (ehem) menempelkan motivational writing. Apa sih tujuannya? Meskipun saya kurang doyan melahap buku-buku motivasi, tapi saat ini adalah saat di mana saya merasa sangat membutuhkan suntikan penyemangat to be a little bit better in doing my new role. Salah satu di antaranya adalah “Memberi saja, percaya saja,” yang saya dapatkan dari psikolog keluarga terkenal Toge Aprilianto ;)

Selain jadwal kegiatan, saya juga menyusun menu mingguan untuk memudahkan kegiatan masak. Akibat jam praktik yang semakin sering, menu yang saya buat mulai variatif dan rasanya juga lebih enak (Disclaimer: Kesan ini subjektif, hehe).

Di sisi lain, saya menghadapi masalah baru tentang bagaimana mengontrol emosi saat menghadapi anak balita. Usia 3 tahun sepertinya usia ABG versi bayi, deh. Anak mulai mahir ngotot mempertahankan keinginannya, suka usil, tantrum, dan lain-lain. Meskipun sudah beberapa kali mengikuti seminar pengasuhan anak, ternyata saat masuk ke tahap praktik, untuk melakukan apa yang (menurut para pakar pengasuhan itu) benar, sangatlah sulit.

Untuk setidaknya memudahkan saya dan Bumy melalui fase ABG-versi-bayi ini, saya menjadikan kegiatan outdoor wajib dilakukan setiap hari agar energi anak tersalurkan, dan dia tidak mudah cranky. Saya sendiri kerap bertanya dulu sebelum bereaksi, “Anak 3 tahun pantas diomeli untuk ini atau tidak?” Well, at least I tried to.

Satu hal lagi yang ‘terlupakan’ oleh saya di awal menjadi IRT tanpa jasa ART, adalah membuat rumah lebih fungsional untuk aktivitas anak dan child-proof. Bumy sudah ‘jago’ memainkan kunci rumah, dan dia semakin curious saja setiap hari. Jadi, kami membuat beberapa penyesuaian, seperti
  • Memasang rantai di pintu utama, and to always take the keys off every door.
  • Make space for Bumy’s activities while he’s downstairs with me -> sediakan karpet untuk main di dalam, alat-alat taman dan bola kaki untuk main di halaman.
  • Facilitate Bumy to be able to go the toilet himself (menyediakan dingklik dan toilet seat anak), and involve him in my activities (mengajaknya menyapu, berkebun, memotong-motong bahan makanan, mengaduk adonan, dsb).
Bulan ke-4.
Saat ini, dampak positif dari dibuatnya jadwal kegiatan mulai terasa. Saya jadi punya persiapan mental untuk menghadapi hari yang akan datang, karena tahu what to expect from it. Pada hari yang ‘sibuk,’ saya tidak kaget dan merasa kekurangan “me time“. Sementara pada hari yang ‘santai,’ saya tidak merasa rikuh karena berpikir “Kok nggak ngapa-ngapain, nih?” karena memang sudah dijadwalkan nyantai, hehe.

Tapi, ada masalah baru lagi. Kali ini soal mengatur porsi belanja bulanan. Karena baru kali menjadi kapten urusan dapur rumah tangga, saya belum menguasai cara mengatur menu yang efektif dan efisien dari segi biaya. Akibatnya, saya bisa grocery-shopping ke supermarket 2-3 kali seminggu.

Saya juga (akhirnya mengakui) mulai kewalahan tanpa bantuan ART. Tenaga dan waktu menjadi terkuras untuk urusan rumah tangga. Padahal tujuan utama saya “kembali ke rumah” adalah supaya bisa men-deliver pengasuhan yang lebih berkualitas.

Sementara itu, ada hal-hal baru yang saya pelajari dan terapkan, seperti
  • Membiasakan family weekly review. Saat ini hanya antara saya dan suami. Kalau sudah lebih besar, Bumy tentunya akan “urun rembuk” dalam review ini.
  • Memelajari tentang pentingnya nutrisi dan higienitas makanan untuk anak.
  • Baru menyalakan tv di rumah saat suami sudah pulang kantor, dan menjatah pemakaian gadget. Tidak ada salahnya dicoba, ‘kan?
  • Mulai mencoba hal-hal baru untuk dipelajari, seperti creative writing course, bahkan belajar berdagang akibat ajakan dari teman (hehe, never say never, really).
Bulan ke-5.
Highlight terbesar bulan ini adalah akhirnya saya menggunakan jasa ART. Kebetulan ada embak yang mau bekerja part-time dan bisa memasak. Wah, seketika separuh beban (berat) saya terangkat. Berkat adanya bantuan embak, pengaturan menu menjadi lebih efisien dan budget grocery-shopping bisa dihemat.

Dengan waktu yang lebih luang, saya bisa menjalani rutinitas baru berolahraga setiap pagi. Anak saya juga mulai bersekolah, sehingga saya bisa punya keleluasaan untuk “me time.”
It seems like things do get easier.

Tapi, seperti yang pernah saya baca,
“Everything is a phase, even the good parts.
Just when kids start sleeping, they stop napping;
Just when they start walking, they begin throwing tantrums;
Just when they get used to soccer, they add piano lessons;
Just when they start putting themselves to bed, they begin having homework and needing their parents’ help again;
Just when they get the hang of taking tests, along comes texting, dating, and online hazing.” – Bruce Feiler.
And I realize one thing, that doing this new role is like a whole new “school” for me.
Saya banyak BELAJAR mengenal sisi diri yang ‘baru’; yang ternyata bisa juga memasak; yang perlu lebih rileks dan less ambitious menangani urusan rumah tangga; yang menyesuaikan hasrat pribadi untuk peran utama saat ini — sebagai main caretaker anak.

Saya juga belajar menjinakkan sisi ‘gelap’ diri yang moody dan emosional.
Belajar mengatur ego (bukan mengalahkannya), dan menyelaraskan hubungan dengan anak.
Yang menarik, UJIAN di “sekolah” baru ini berlangsung setiap hari, bahkan bisa berkali-kali dalam sehari. Wujud ujiannya juga seringkali tidak terduga. Bisa dalam bentuk anak tiba-tiba gemar menyemburkan susu di atas karpet. Atau mengucapkan kata yang membuat mata terbelalak. Atau anak tantrum saat sedang diajak berbelanja berdua.
‘Bahan’ ujiannya juga sering belum saya kuasai sebelumnya. Seperti pertanyaan “Kok begini? Kok begitu?” yang tidak ada habisnya.

Exciting, isn’t it, Mommies? :)))
gambar dari Google search result

*thumbnail dari sini

05/09/2013

how to be a woman.

(warning: long rants, no pic).

akhir-akhir ini gue nemuin ramainya (lagi) perdebatan soal whether women should be working or jadi IRT. kali ini perdebatannya agak lebih seru, soalnya digawangi oleh orang-orang yang punya puluhan ribu follower di twitter, hehe. 

satu orang/tokoh, awalnya bikin panas suasana dengan memaparkan argumentasinya soal kenapa perempuan sebaiknya jadi IRT aja. gak kerja. mencurahkan segenap waktu, tenaga, dedikasi, dan seterusnya untuk keluarga. menurut dia sih, aturan agama seperti itu. kebetulan agama dia sama dengan gue ya, tapi kok baru kali ini gue nemuin orang yang menginterpretasikan ajaran agama kami seperti itu. dengan saklek, gak liat kondisi jaman. lagian apa doi lupa kalo Siti Khadijah juga dulu wanita bekerja? (garuk-garuk)
personally, apa-apa yang dia twitkan itu secara garis besar mirip dengan apa yang ada di pikiran gue saat gue memutuskan mau resign. but dare i say i agree with him? i don't think so deh. 

gue memilih untuk resign dulu, karena first and foremost, kondisi gue memungkinkan untuk begitu. emang sih, gue gak nunggu sampe suami gue jadi CEO dulu, tapi gue emang punya batasan. 
pertama, batasan keuangan. yang meskipun dana darurat belum ketutup semua, tapi at least gue taulah rasio keuangan yang aman supaya gue bisa resign dengan tentrem. 
kenapa perlu itung-itungan dulu? lha karena dari awal rumah tangga gue ini berdiri dengan dua tiang (pendapatan). semua keputusan, baik cashflow bulanan dan tahunan, investasi, sampe ngutang, dibuat berdasarkan dua tiang tadi. kalo satu tiang patah, bakalan pincang dong kondisi keuangan RT gue? itu yang mau gue dan adit hindari. 
masa gak tawakal sih? 'kan rejeki bakal ada aja. well, sebagai orang yang (maunya sih ngaku) beriman, gue juga percaya itu. percaya buanget. tapi, apa iya mentang-mentang beriman trus mau loncat aja dari gedung tanpa pake parasut? 
kalo RT ini isinya cuma gue dan adit sih yuk cus terjun pake parasut (terjemahan: narik semua dana darurat terus ambil cuti 3 bulan buat keliling dunia, sounds like fun!). tapi 'kan udah ada tanggung jawab dunia akherat: si buah hati. urusan pendidikan dan kesejahteraan hidup doi pastinya jadi prioritas utama. 
lagian inget 'kan, kalau Allah tidak akan membantu suatu kaum sampai mereka membantu dirinya sendiri? dari situ menurut gue, umat islam dididik supaya gak ngegampangin masalah duniawi. prepare dulu, usaha keras dulu, nah fungsi doa ya biar kita tawakal sama hasilnya. (*not* putting any ustadzah meme on).

batasan yang kedua, adalah kesiapan mental. dikira perempuan gak punya pertimbangan logis dan perasaan kali ye? disuruh nyemplung ke kehidupan IRT tanpa babibu trus harus langsung mau aja? well, kalo itu perempuan dibesarkan dan dididik seperti itu, mungkin bisa sih. 
tapi perempuan kelas menengah jaman sekarang, we were raised to be professionals. kami dididik untuk jadi mandiri, untuk jadi "kuat" secara finansial, untuk menguasai berbagai kebisaan supaya gak jadi beban buat orang lain. don't i hear an "amen!"? 
generasi bokap-nyokap kita yang secara historis 'lulus' dari cengkraman gonjang-ganjing revolusi, pemberontakan dalam negri, lantas diikuti dengan kenyamanan lahir batin era orba (istilahnya baby boomer generation), mewariskan kita pemahaman dan harapan yang, menurut gue pribadi nih, feminis, tapi juga materialistis. 
kenapa feminis, dan kenapa materialistis?
karena mereka gak mau kita ngalamin susah kaya mereka. mereka gak mau kita jadi kaya nenek dan ibu mereka dulu, yang harus nadahin uang ke suami, jadinya terkekang secara fisik maupun mental. 

sementara faktor materialistisnya gak bisa dipukul rata sebenernya. tapi, karena harapan orangtua kita agar kita mandiri tadi, kadang meluas ke arah "the more the better." kalo bisa kumpulin uang sebanyak-banyaknya, ya lebih bagus dong. jadinya lebih sejahtera. 
udah naluri orangtua kalo ingin kehidupan anaknya lebih baik dari dia. well, for some people, lebih baiknya itu diukur dari materi semata. tanpa mempertimbangkan kerjaan si anak bikin dia happy atau gak, berkontribusi ke masyarakat atau gak, dst. 
but again, gak semua orangtua generasi kita kaya gitu. tapi kebanyakan gitu sih, hihihi.  

i have to be honest, kalo naluri (sok) idealis gue tadinya berargumen, "pengorbanan jadi IRT gak bisa dibandingkan lurus dengan nilai materi dong! pengorbanan itu urusannya sama jiwa! balasannya akherat, cuy!" hehehe. 
tapiiii... lucky for me, a wise man once spoke to me dan memberi gue pencerahan
awalnya gue berdebat sama doi (si wise man) soal "kenapa ya generasi bokap-nyokap gue dulu tujuan pengasuhannya lebih difokuskan untuk menjadikan anak profesional? gue merasa ortu gue 'skip' bagian menjadikan gue calon istri yang baik, calon ibu yang baik, bahkan muslim yang baik!"
doi dengan kalemnya menjawab, "gini ya ris, menurut gue itu gak salah (menempatkan tujuan menjadikan anak sebagai profesional di atas yang lain-lain). emang sih, akan jauh lebih baik kalo ortu juga menjadikan tujuan yang lain-lain itu prioritas. tapi, coba deh lo pikirin, seandainya lo sekarang ini belom kawin, dan boro-boro punya anak, sedangkan ortu lo gak nyiapin lo untuk jadi profesional yang, well, kompeten, bakal kaya apa iduplo?
itulah gunanya ortu lo nyekolahin lo tinggi-tinggi, dan encourage elo supaya punya pencapaian dan prestasi pribadi. supaya hiduplo mandiri, dan lo tau gimana caranya menghidupi dirilo sendiri."

setelah itu doi nyeritain ponakannya, cewek usia 26 tahun, belum nikah, yang pendidikannya gak begitu tinggi. kerja jadi CS di sebuah operator telekomunikasi. ditempatin di daerah yang jauh dari jakarta. karena gak betah, setahun kemudian berhenti kerja. sekarang? doi numpang tinggal di rumah si wise man sembari nyari-nyari kerjaan. 6 bulan berlalu, dan doi belum juga dapet kerjaan. 
wise man ngajak gue ngebandingin kondisi gue dengan si ponakan. berkat punya kerjaan, gue jadi punya posisi dalam hidup. gue jadi punya pilihan. gue jadi punya pengetahuan, yang membantu gue membuat pilihan. 
dan itu semua bisa dibilang berkat orangtua yang udah nyekolahin gue sampe S1, di tempat yang bagus, dan mendorong gue untuk dapet kerjaan yang bagus juga. 

so i get it then. penting bagi perempuan untuk sekolah tinggi, untuk dapetin kerjaan bagus, untuk earn money--sebanyak-banyaknya kalo dia bisa. jadi saat dia udah berumah tangga, dia bisa punya, 1) tabungan pribadi, 2) knowledge, 3) networking, dan 4) pilihan.

kembali ke soal tokoh yang nyuruh semua perempuan jadi IRT itu (ok gue agak nuduh nih), bagian yang paling bikin gue gak setuju adalah he made it sound like women can't think for themselves, dan bahwa seolah-olah pencapaian perempuan hanya satu dimensi, yaitu whether dia bisa ngurus anak dan rumah dengan bener atau gak (what are we, di abad medieval??).
seolah-olah garis hidup perempuan udah digariskan, yaitu jadi IBU RUMAH TANGGA. 
gimana dengan perempuan yang gak nikah? yang gak punya anak? atau yang tadinya nikah tapi lantas menjanda? 
kalo para perempuan itu melarat karena gak tau gimana caranya making money, what then?
of course of course, mungkin argumentasi gue ini bisa dianggap "ah sudut pandang yang lo pake duniawi doang, sih." 
kembali ke tameng "pengorbanan jadi IRT itu pahalanya surga cuy!", gue hanya bisa mengamini kata-kata itu (kurang objektif, secara sekarang gue IRT :P), tapi gue rasa, jalan masuk surga buat masing-masing orang pasti gak cuma satu. karena Allah Maha Sempurna, yang tahu bahwa hidup hambaNya gak homogen, gak diukur dari satu parameter aja--in this case, kalo ngikutin kata si tokoh twitter itu, cuma dari whether dia milih jadi a "full time" mother atau gak.  

kembali ke soal batasan mental tadi, knowing that i did have the privilege to choose, memberikan kepercayaan diri dan some kind of strength. 
gue jadi bisa memberi syarat, bahwa gue mau resign when i'm ready. gue gak menunda-nundanya sampai "liat gimana entar, deh," karena jadi IRT itu emang cita-cita gue, tapi gue mau menunggu sampai secara mental gue bener-bener siap sama resikonya. 
resiko dikhawatirin sama bokap-nyokap.
resiko dianggap gak produktif. dianggap males. dibilang, "hari gene gak bantuin suami?!"
resiko bosen di rumah, bete, dsb dsb. 
that's why i made preparations. 

(jadi kepikiran, apa 'fenomena' desperate housewives berakar dari perempuan yang gak ngerasa punya pilihan?) 

beberapa minggu kemudian, masih di twitter, tokoh lain, kebetulan perempuan, membuat argumentasi terhadap twit-twit si tokoh yang nyuruh perempuan jadi IRT itu. 
dia mewakili sudut pandang perempuan yang pernah merasakan jadi IRT selama beberapa tahun, lantas sekarang menjadi ibu bekerja. meskipun gue gak setuju dengan semua pendapat dia, tapi menurut gue emang ada beberapa poin yang bener banget. kaya visi doi supaya para perempuan itu "merdeka." bahkan jika lo seorang IRT. dia ajarin gimana caranya, yaitu dengan membuat dan jalanin financial plan keluarga, memiliki akses ke dana darurat, punya fasilitas asuransi kesehatan. dia juga menghimbau supaya IRT gak jadi IRT tok, yang gak punya kegiatan produktif. untuk jadi "merdeka," kita perlu buat kontribusi ke society. 
gue merasa terdukung banget ketika dia menyebut gak harus pekerjaan yang menghasilkan uang, tapi bisa lewat pekerjaan volunteering. karena, well, salah satu cita-cita gue ketika udah resign sebagai pegawai adalah mau ikutan volunteer works. 

she also twitted, "Coba jujur deh. Happy atau dibuat2 happy? Sehingga jd IRT atau ibu bekerja betul2 hasil lo memilih. Yg mana pun pilihan lo" 
meskipun in my (zen-wannabe) opinion, happiness itu should be for no external reason. tapi i totally agree dengan bagian jadi apapun asal benar-benar hasil kita memilih. guess it all boils down to what really matters to each person, i replied (eh trus di-RT dong sama si ibuk, hehehe) (mental fangirl). apapun role yang kita pilih pasti ada resikonya, ada naik-turunnya. 
in the end, yang penting kita sesama perempuan saling dukung dan less judgmental aja terhadap satu sama lain. easier said than done, sih :P 

31/08/2013

never enough (family time)

it's saturday. and why on earth am i blogging on saturday?

yah, mumpung bumy lagi dipegang bapaknya.. kita juga belum ada tekad mau ke mana-mana untuk mengisi hari. beta bikin "rekap" hal-ihwal yang terjadi seminggu ini aja, deh...

1. the big event minggu lalu adalah jalan-jalan ke bandung sama mricans, full team. rencananya diajukan secara mendadak, padahal. sekembalinya dari anyer, tau-tau terlontar aja ide (entah dari siapa) untuk plesir sekeluarga... lagi. dan bandung jadi pilihan karena, well, we had jut been to the beach. dan deket pula dari rumah.
tumben banget bokap mau diajak pergi-pergi. biasanya ke mol aja ogah. mungkin karena sekarang udah bebas dari tugas nyetir.
jadi kita capcus sabtu pagi. berangkatnya agak santai, jam 7 kita baru jalan dari rumah. ketemuan sama mricans di rest area bekasi timur. ternyata udah ruameee banget 'tu rest area. sampe agak susah nyari parkir. bisa ditebak, perjalanan menuju tol cipularang agak tersendat karena volume kendaraan....
sampe di bandung, first stop kita TMP Pandu. ziarah ke makam bokapnya bokap gue. ini kunjungan pertama untuk gue, adek-adek gue, dan of course, para menantu. gue gak nyangka, sering banget bolak-balik bandung, ternyata makam opung gue ada di jalan pasteur.
kalo diperhatikan, kondisi makam beliau cukup terawat, except for that vandalism bit done by some stupid kid. tapi, bagian yang agak bikin "awww" adalah tanggal wafat beliau yang cuma beberapa bulan dari kelahiran bokap gue. that way, my dad never got to know his dad, almost for his whole life. it reminds me of the saying "we only give the love we ever received." gue jadi agak bisa memahami 'kekakuan' sikap bokap gue yang gak bisa mengekspresikan cinta, terlebih lewat kata-kata. lewat sikap aja kadang sering disalahartikan, hehe. tapi it's amazing that my dad turns out to be a great and loyal family man considering he didn't have a father figure his whole life.
"fathers, be good to your daughters.
daughters will love like you do." ("Daughter" by John Mayer)
there were three
:')

setelah dari makam, kita langsung nyari tempat makan, karena emang udah jam 11 siang. sebenernya di itinerary adit (yes he did it again), nasi timbel cimandiri dijadwalkan sebagai sarapan. tapi karena waktu kedatangan kita yang molor dari jadwal, akhirnya ya tetep makan nasi timbel, tapi buat lunch.
setelah itu, sesuai dengan agenda utama kita ke bandung (according to adit and me), kita ke jonas untuk foto keluarga. hehehe. tadinya sih kita mau foto keluarga gini sebelum lebaran. tapi pas survey harga, ternyata macam K*ng* dan T*rz*n tuh price listnya bikin "glek" yaa. emang harga sesuai hasil siih. tapi sekarang ini seyogyanya yang bayarin 'kan gue dan Debster, kalo jut-jut-an gitu, kelas teri macam kita tentunya mundur teratur :P
di jonas, biaya foto berdelapan (dengan pilihan hasil kualitas foto yang, bukan first grade sih, tapi second or third gitulah) cuma 350 ribu buat 3 pose. murmer parah!

meskipun kondisi di jonas yang rame banget dan riuh-rendah kayak di ITC, ternyata kita gak perlu nunggu lama untuk ngantri difoto. palingan 15 menit. sesudah difoto, kita milih pose mana yang mau dicetak, lantas bayar, dan nunggu hasilnya seminggu kemudian.
tentunya pertanyaan selanjutnya adalah "masa ngambilnya kudu ke bandung lagih??"
dikirim juga bisa kok. tapi berhubung keluarga Naya mau ngebandung tanggal 7 Sept, kita minta tolong untuk diambilin, hehehe.

the next thing we knew, our time in Bandung was spent to eat, eat, and eaaatttt like monsters. hahah. ya ngapain lagii. FO udah banyak di BSD. mau diajak ke saung angklung, adek gue si preggie bilang, "aduh lagi gak napsu sama kegiatan-kegiatan berbudaya, nih." -__-
so eating was our mission.
di hotel langganan, kita nongkrong angin-anginan begitu sampe. sambil ngemil.
bandung lagi terik banget mataharinya, tapi anginnya mayan kenceng dan dingiiin. gimana gak bikin napsu makan meninggi, tuh?
sore jam 5an, kita udah jalan untuk makan malem ke Tizi. we all love meat so everyone was happy. kelar makan, tadinya sih mau karaoke ke Nav. tapi jalanan macet, udah jam 8:30 aja. akhirnya kita putusin naik ke Dago Pakar, demi mie yamin lela malam-malam.
the next day, sebelum balik, kita makan batagor kingsley, lantas cus masuk tol. sayangnya seputar gasibu situ muacet banget, jadi kita nyari-nyari jalan tikus (baca: nyasar-nyasar akibat nurutin GPS. again!) menuju tol. sekitar jam 1, kita berenti di rest area untuk makan sederhana (sowan ke restonya Yardan, haha), lantas pisahan deh sama mricans.



siang yang terik tapi bikin masuk angin

bawaan orok kali ye?
wa-le

2. selebihnya foto-foto aja deh yaaa... (males-nulis akut!)


mainan dari kerdus. gak disangka doi seneng banget, trus ujug-ujug bilang "makasih ya ma" sambil senyum manis. ohok!!






sesi 'kreatif' (padahal lagi bosen berat) pake daun-daun layu dan rontokan kemboja





pemandangan jumat malam, jam 7:30 di MARGONDA (mentang-mentang IRT, kelayapan malah nyari macet). lagi demen main ke depok, nih. ternyata gak jauh (d'oh!), dan syurga makanan heuheu.

22/08/2013

soul-charging holiday

this month feels like a long holiday. gue emang (masih) IRT, tapi berhubung anak libur sekolah (dan les), jadi rasanya ikut libur juga dari rutinitas nganter.

sekolah bumy mulai libur 2 minggu sebelum lebaran. di hari terakhir masuk sebelum libur, kelasnya ngadain "cooking class." apa sih yang dimasak? kue biji ketapang, haha. trus ketika keluar dari kelas, masing-masing anak bawa sekotak kecil kue yang mereka bikin, sama kartu lebaran--yang ternyata udah dibuat sejak hari sekolah sebelumnya.

tapi sekolah ngasih pe-er selama liburan ini, yaitu ngebawa foto, karcis, suvenir, atau apapun dari kegiatan selama libur lebaran. jadi, kemarin liburan ngapain aja?

- embak ART pulang kampungnya seminggu sebelum lebaran... selama 2 minggu. lumayan juga. tapi gue nggak stressed out, sih (nyombong nih?), lha baru juga ngerasain nikmatnya pake ART sebulan. masa udah sok-sokan jetlag gak bisa beberes dan masak sendiri? gengsiii, hehehe.

- bukber, catching up, silaturahim, etc. absen ketemu setahun sekali-untuk sebagian temen. ada yang tau-tau bawa calon suami, ada yang pas ketemu lagi anaknya udah dua ajee. sama ikut-ikut jebe temen-temennya adit gitudeh. oiya, bukber sama tetangga dearest juga dong. deket sih, di andakar doang, haha.

mesra pada setiap kesempatan
my eternal boyfriend dengan gaya angkat-ketek andalan
 
minus si rio. karena dia yang moto :P

- bumy perdana ke ocean park BSD. tapi gue gak ikut karena lunglai. adit ke situ ramean sama temen-temennya. katanya sih seru, emang rame, tapi karena tempatnya luas jadi gak kaya cendol. padahal kunjungannya abis lebaran.

- bumy mulai les di yamaha, hari pertamanya seminggu sebelum lebaran. ikut program music wonderland. maunya sih, nantinya anak bisa mengapresiasi musik dengan baik, memainkan dengan terampil, dan kalo bisa ya mencipta juga suatu hari. 

anak-anak belum pegang instrumen di level ini. masih belajar tempo, ritme, dsb. sebagai pendamping, gue ikutan joget-joget juga deh -__-

- gue mulai merapat ke rumah nyokap dua hari sebelum lebaran. enaknyoo, makan tinggal makan, dan gak perlu beberes karena ART nyokap "yang setia" (as nyokap proudly claims), cutinya mulai dari hari H sampai H+2 doang.
selama di situ, ya puas-puasin deh, ngemol. apalagehh. sempat ngajak bumy nonton smurf 2 di living world. doi sekarang udah duduk anteng sepanjang film, dan udah menuntut duduk sendiri -__-
trus sempat keluyuran bareng adek-adek di malam hari pertama, nyari tempat nongkrong yang buka. akhirnya nyangkut di flavor bliss. bumy pake piyama aja gitu. kita semua juga menggembel karena niatnya mau nyari tempat nongkrong kaki lima aja. ternyata gak ada yang buka (iyalahh). yaudahlah cuek ajaa, tamu-tamu lain juga ternyata banyak yang bercelana pendek doang.

- pada weekend terakhir menjelang bumy masuk sekolah, gue dan adit tergerak untuk ngajak bumy jalan-jalan "beneran." kayanya gak seru banget bawa foto nongkrong di mol doang, heuheu. akhirnya kita putusin untuk cuss ke anyer. but it's gonna a day trip only, gak pake nginep, soalnya males ajaa (nyari hotel yang agak lumayanpun susah).
eh ternyata, bokap nyokap dan rio mau ikutan juga. jadilah kita empet-empetan di mobil mini sepanjang perjalanan. untungnya jalanan ke anyer sekarang udah muluuss. beda banget sama pas gue terakhir ke situ tahun 2009 (lama aje), mobil terguncang-guncang sampe ke carita, padahal lagi hamil muda tuh.
dari hasil browsing, gue nemuin kalo ada pantai di anyer yang berpasir putih, dan ombaknya juga lumayan. gue emang aiming gak mau mengarah sejauh ke carita. namanya pantai florida pasir putih, ciparay. lokasinya di KM 137. biaya masuk 75 ribu per mobil pribadi.
kita sampai di situ jam 8:10-an, setelah berangkat dari karawaci jam 6:20.
pantainya masih gak rame. dan ternyata bener juga, pasirnya putih, ada ombak-ombaknya tapi gak gede, dan untuk tempat parkir mobil juga luas.
awalnya bumy ketakutan sama air dan ombak pantai. opa, rio, bapaknya, yang masuk-masuk ke air, diteriakin dengan panik, "jangan masuk-masuk air!! no no no! ayo sini om iyooo, sini opaaa!" hahaha. tapi teori nyokap gue bener juga, gak sampe 30 menit, doi udah enjoy main di pantai, udah berani masuk-masuk ke air. sampai akhirnya menolak diajak udahan.

 
panik!
jam 10an kita cabut karena matahari makin panas, dan ada beberapa bis yang baru berdatangan. bakalan rame tuh.
tujuan kita berikutnya adalah... saung anyar yang satu grup dengan bersih sehat, di KM 127.
ketika sampe di saung anyar, sekitar jam 12 (jaraknya cuma 10 km tapi waktu tempuhnya sejam, soalnya ada buka-tutup jalan gitu), kita jadi tamu satu-satunya.
tempatnya terbuka luassss. saung-saung makan di antara pohon kelapa (yang buahnya dicabutin semua, yes i checked). ada mainan-mainan besi dan kayu sederhana sebagai playground anak. trusss, ada bersih sehatnya jugaaa. hihihi.
tapi kita gak ada yang minta pijet sih, cuma refleksi aja sekitar 30 menit. ini keistimewaan saung anyar, mbak-mbak massaseuse-nya bisa layanan refleksi.
pas mau makan, kita disodorin menu saung anyar yang khas sunda dan menu midori. karena yeah, ada japanese restonya juga di situ. sebelum makan, adit dan nyokap refleksi. bokap dan rio nemenin bumy main (makin legam aja doi). sementara gue kriyep-kriyep di saung...

kelar refleksi dan makan, adit numpang mandi. gue dan nyokap sempat mampir juga ke area mandi yang mana diperuntukkan bagi tamu yang abis pijat di BS. ternyata ihh, area mandinya kece banget. tempatnya "outdoor" gitu, secluded dan private, tapi ala beach resort, yang atapnya kebuka, angin bebas lewat. ada kolam buat rendam-rendam air hangat, ada sauna. nyokap gue terpesona banget, haha, dia bilang, "bener-bener bersih... dan sehat, yah!"
btw, makanannya enak-enak, yang sunda maupun jepang. harganya juga pas banget, gak ada kesan digetok. lagian, gue ngerasa untung banget ada grup bersih sehat di anyer. mereka kan bersetifikat ISO gitu (pijetnya doang apa restonya juga ya? entah deh), jadi cara masaknya udah standar di gerai mana aja. yang jelas, meskipun restonya belom ISO, dapurnya kebuka gitu, kokinya pada berseragam, dan gak jorok.

kita cus dari saung anyar jam 2an. pas arah balik ke jakarta, kok macet? akhirnya gue dan adit nekad ngikutin GPS yang nyuruh kita ambil jalur selatan. ternyataaaa jalannya ancur currrr. parah. hahahaha. lobangnya segede-gede mobil! para penumpang yang tadinya udah siap molor, langsung melekkk karena tegang, hahaha. bokap nyokap gue sampe pada gak komplen (karena awalnya mereka nolak ide ngikutin GPS), karena tegang nyuruh adit ambil kiri, kanan, haha. sepanjang jalan juga cuma bukit-bukit gundul, jaraaang banget ada rumah penduduk. kebo aja gak ada. amit-amit kalo mobil sampe kenapa-napa di middle of nowhere gitu :S
di tengah jalur selatan, gue liat GPS kalo jalur ini masih sejauh 9 km lagi bok. akhirnya kita putusin balik lagi ke jalur utama, dengan sebelumnya memasuki jalur kampung-kampung gitu. jalannya berkelok-kelok dan sempit... petualangan abis! tapi alhamdulillah akhirnya kita nongol deket kompleks krakatau steel, semua bisa mendengus lega. dan molor deh. hehe.

jadi begitulah, alhamdulillah we had a nice fun. 
prakarya dengan benda-benda pantai

20/08/2013

Motherhood; I Learn It Day by Day


It’s been almost four years since my last pregnancy, but I can still remember the days of transforming into a baby carrier and being a new mother, quite vividly. A warm feeling twirls in my heart as I recall those days of excitement, nervousness and a bundle of different kinds of feelings.
As I peruse scribbles and notes I made during my pregnancy and the first year of being a mother, this is what I found:
Who is she again?
  • Expect the unexpected. Oh yes, please do. Even though “the book” tells you everything you need to expect, but still, sometimes what happens to your mind, emotions, and even your body, isn’t thoroughly covered in the book. Morning sickness doesn’t apply to you; it’s an all day long sickness. The sex feels weird. The exploding household budget gives a pang to your chest. And that body, oh God that body! Even though you’ve diligently applied body butter to it, the stretch marks still stubbornly emerge. And that face is no longer recognizable (at least by the forever17 brain of yours) thanks to all the bad acne, the bigger nose, and special parts that have darkened even though you have never sunbathed.
  • Thou cannot hide anything from your Ob-Gyn. Not that second pint of ice cream you ate last night, not that Indomie Ayam Bawang, and no, forget about keeping your most private part of your life private. You think it’d feel better after you chose a female Ob-Gyn? Well, not really. :|
  • Thou shalt NOT lie about anything to your Ob-Gyn. You will realize this over time.
  • You don’t sleep. Hardly. At all.
  • Babies’ nails grow fast. Faster than their hair. Even though you’re still collecting the nerve to cut those tiny nails of theirs, the growth just won’t slow down. So you cut them, slowly, carefully, with a trembling hand, while trying hard not to jump when the baby yawns.
  • Babies cry. Often for no reason. So just get yourself up the bed for the 9th time at night, get her off her crib, and rock that swing!
  • You’re no longer pregnant, yet you still eat like a monster. Embrace it.
  • Plan ahead. Plan waaaay ahead. About health fund, insurance, babysitter vs daycare vs grandma’s parenting issue, even about which parenting magazine to subscribe!
  • When pregnant, investing in childcare and breastfeeding classes is way more useful than a shopping havoc at ITC. Needless to say, I learned it the hard way.
  • You’ll get accustomed to hospital’s scent/excessive “Carbol” aroma due to your routine visits.
Brace it, baby. For there will be others. :))
  • As 21st century’s parents, you’ll have a whole lot of new ‘trends’ to adapt with, such as:
-   Not to worry about babies becoming ‘bau tangan’ no more, because now, apparently, there is such thing as attachment parenting method,
-   Too many drugs is no good, rational use of drug (RUD) is the guideline and home treatment is the first option,
-   Giving your baby the freedom to watch TV at an early age is not good,
-   “Empeng” is not good (if it’s revolutionary, then it’s worth to adapt. (oh, really?)),
-    Hypno-parenting method
And these stuff will likely put you into endless confrontations with your mother.
  • As 21st century’s parents, you’ll be exposed to abundant information and inputs about child care; therefore, you can no longer rely on the old “Mother Knows Best” proverb. :S
  • You’ll befriend online shops and address the seller as “sis” like everybody else does, like in “Kurangin dong, sis.”
  • You’ll value money more, because a one time eating out equals to a week’s supply of diapers.
Just seconds after the 40-day rule is abolished, we were out and about! :))
  • Commitment you make to give ASIX (ASI ekslusif) means you have to be ready to nurse 24/7 (face it when people refuse to help you calm the baby during colic dengan alasan “Kan botol susunya di kamu.”)
  • There will be “growth spurts” period, and during that time, you’ll nurse incessantly. So the best attire would be detachable tops.
  • Being married to a man who’s not afraid of diapers is one of the best decisions you’ve ever made.
  • Being such a neat and hygienic freak about it all would only make matters worse (and more likely make you suffer from baby blues).
  • (Because) (relying on) common sense is the best policy. You’ll figure it out when you lie awake at night, exhausted, reviewing the not-so-nice conversations you had with your spouse over sanitizing the whole house with disinfectant.
  • (Thus) in the end you’ll make peace with your mother (and her ‘old-school’ childcare methods).
  • A ‘teman sepenanggungan’ is a luxury to have throughout stressful times as a new mother  because she’s the one who’d understand the lack of sleep, the cracking nipple, the why-don’t-you-stop-crying moments, etc….
  • Less toiletries is better (for the baby).
  • You’ll consider blogging to record your journey but never have the time to do it.
  • You’ll consider being a full-time mother but don’t have the guts to do it.
  • You can’t help not to compare your baby with others’. Just admit it. You can’t and you never will be able to.
  • Once in a while, you smile upon seeing a pregnant woman…. if you had the guts, maybe you’d pat her on the shoulder, as a way of saying, “Hang on in there, sister. You’re up for something soooo good it would make up for all the immensity and pain. :)”
  • You’ll have to learn to trust strangers. Eventually you’ll have to. When they give you reasonable suggestions on online forums. When they look at you sympathetically, and then open the door voluntarily for you, as you carry the baby in one hand, and push the stroller (which she refuses to sleep in) with the other.
  • A baby’s smile is contagious. Therefore, no matter how very little you sleep, or how you just vent out your frustration (at the bathroom, with the door locked and the shower turned on), when she smiles, you just can’t help not to smile back.
  • That’s why you need to just make it easy on yourself because babies are the most forgiving creature.
  • But still, as a new mom, sometimes the littlest things worry you… well, most of the time, actually.
  • Yet, despite all the turbulence and sleepless nights and the never-ending worry, you realize you wouldn’t trade the experience with anything else in the whole…wide…. world. :)
Hello there, I’ve been expecting you :)

18/08/2013

on tolerance

saat gue sedang duduk terpaku di depan tv menonton law & order criminal intent, dear husband (DH) memberi wejangan, "nanti jangan malem-malem ya tidurnya." which i responded with, "iyeee!" then continued munching a very delicious homemade baked salmon & potato with keju lumer on top specially made by him. heheh.

tapii... mungkin karena dengan khusus "disuruh", gue malah jadi kepingin melanggar. (he literally has two children). seperti sekarang, bumy dan DH udah tertidur, gue malah 'iseng' nyalain laptop.

something is bothering my mind. mungkin ini sesuatu yang jarang gue ulas, tapi i'm just kinda into it tonight.
sejak kemarin malam, gue--antara sengaja dan tidak--memantengi akun twitter haf*dz ary (HA) yang sedang berdebat dengan salah seorang celebtwit. bahan perdebatan mereka adalah tentang si HA yang minta didanai 30 M supaya dia sudi berangkat jihad ke gaza. geez, this guy.
well, dari kalimat itu udah ketebak lah ya gue 'memihak' ke mana.
i have to be honest that this guy's tweets makes me cringe most of the time. why most of the time? karena dulu, long long time ago (yeah, about two years ago doang sih kayaknya), i did follow his twitter account. he was twitting about menanamkan keberanian supaya mulai berbisnis, gue inget.
penilaian gue saat itu sih, berapi-api juga nih orang. tapi inputnya gue rasakan berharga. sampe-sampe gue save beberapa twitnya (soal berbisnis tadi) yang menurut gue "oke", lalu malamnya gue bacain ke adit, untuk minta pendapat dia. adit sih yang, "ah terlalu menggampangkan nih orang." needless to say he wasn't impressed.

sampai lalu beberapa lama setelah follow, gue perhatiin, kok 'ni orang memuat twit-twit yang anti agama tertentu, dan dengan cara yang frontal banget. awalnya gue masih berpikir positif, oh mungkin nih orang gerah sama kenyataan di lapangan di mana (menurut dia) banyak terjadi usaha-usaha pemindahan agama. jadi gue bertahan deh, tetep follow. bahkan gue berusaha ngambil yang baik-baik, yang bisa dijadiin warning untuk diri sendiri.
tapi lama-lama, omongannya mulai ngelantur. gue gak bisa inget saat ini apa aja yang ngelantur itu, but i can remember clearly how i felt. ngelantur yang gue maksud adalah mencaci-maki dan mendiskreditkan agama lain. gini yah, gue dibesarkan dari lingkungan keberagamaan yang gak homogen. keluarga bokap 95% beragama berbeda dari gue. but i've known them my whole life, and we get along fine. kalo lebaran, mereka seringnya jadi tamu keluarga yang datang paling awal dan pulang paling akhir. kalo natalan dan tahun baru, kita gantian sowan. dan gak pernah sekalipun mereka mencoba menyusupkan materi untuk pindah agama ke keluarga gue. they are just people, normal non-antagonist people, who happen to have a different religion than ours.

jadi, gue mencoba menganalisa kegerahan gue sama si HA ini karena menurut gue, pengalaman hidup gue bersama para pengikut agama lain itu baik-baik aja. gak kayak dia. yang jadi sampe sebegitu provokatifnya mengejek agama lain. dan gue gak suka ocehan gaya caci-makinya itu. he openly provocates war. dikira ada gitu orang agama lain jadi mau convert jadi muslim gara-gara dicaci maki? reaksi otomatis orang kalo digituin ya defensif, kali. lagian dengan gayanya yang khas-anak-rohis itu, bukankah seharusnya he knows better, thus he can act more terdidik dan santun? whateverlah, yang jelas gue akhirnya memutuskan untuk unfollow dia.

tapi unfollow nggak serta-merta bikin gue bebas dari twit-twitnya HA. beberapa orang yang gue follow adalah followers dia, dan kadang meretweet dia. untungnya, akun yang gue follow itu gak pernah meretweet ocehan-ocehan berbau kebencian dan provokatif HA. jadi gue gak ngerasa perlu meng-unfollow mereka juga.

lalu yang namanya kegiatan ITJ mulai merebak di twitter. HA nih salah satu ponggawanya juga. dan followers HA yang gue follow tentunya pro ITJ. i'm not saying i'm pro JIL, tapi gue juga gak pro ITJ sih. saat menemukan tulisan ini (Terganggu dengan JIL dan Anti-JIL), gue jadi merasa sangat terwakili. on why i don't feel i need to choose, and yes, some people (moslem, indonesian, who don't pick any side of "liberalism" hullabaloo) are bugged by HA.

kenapa gue gak milih? karena it bothers me, to see how a large part of HA's followers menganggap semua ocehan HA as if he can do no wrong. menelannya bulat-bulat, dan gak terkesan ada usaha untuk menjadi objektif.
gini ya, gue selalu berusaha mengapresiasi apapun yang gue baca secara rasional, dan kalo bisa, kritis. sounds so intellect, huh? ya enggak juga siih, maksudnya cuma supaya gak gampang tergoda secara emosional, dan supaya gak ngebebek aja tanpa pake filter pikiran dulu. nah, menurut gue, ini yang gue gak suka dari para followers HA itu. mereka membela ocehan-ocehan HA tanpa pandang bulu. disuruh benci X, ngikut. disuruh bela Y, ngikut. si HA ocehannya ambigu, mereka yang sibuk nyariin dalih. si HA ocehannya ngawur, mereka yang sibuk nyari pembenaran. lah?

gue mencoba objektif, sih. pada episode twitwar si HA dengan celebtwit kemarin, gue mencoba menilai juga ocehan pihak lawannya HA. i do think si lawan ini melebih-lebihkan dan kadang gak punya bahan 'perdebatan' (more like adu bacot, actually) yang "tepat." kayak nyela-nyela tampangnya HA-lah, atau nuduh HA makan duit sumbangan dari orang-oranglah (did they say it based on facts?). (usaha untuk--semoga--objektif) ini membuat gue gak "pro" ke pihak manapun, dan "bebas" membuat penilaian sendiri.

dalam urusan social media, mungkin kredo paling tua ini selalu bisa dijadiin penyelamat: kalo gak suka, ya tinggal tutup. gak usah baca twitnya, acuhkan postingannya, dsb.
ya, gue tau itu. kemarin ini gue baca twitwar HA juga atas keinginan sendiri. gue tau gue punya pilihan untuk mengacuhkan dia dan orang-orang lain sejenis dia. (another tokoh that posted really irritating twits is the one who *dictates* perempuan harus seperti apa. geesh, maybe i'll 'deal' with him later. kalo mood.).
tapi yang namanya ketidaknyamanan ini ingin gue entaskan. at least for tonight. gue gak peduli kalo dijudge sebagai islam ktp, islam abangan, atau apapun. tapi gue emang hidup dan dibesarkan dalam paham diversity and tolerance. keislaman gue dan keluarga gue emang jauh banget dari sempurna, tapi gue bersyukur gue gak merasakan kebencian dan menyebarkan caci-maki pada orang-orang yang berbeda agama dari gue. 
gue juga bersyukur gak pake kacamata kuda, yang menerima buah pikir seseorang tanpa disaring dulu, tanpa mempertimbangkan how he/she acts would make me feel. because it matters; penilaian gue, perasaan gue, attitude gue. amit-amit jangan sampe kehilangan identitas di masa keberlimpahan informasi ini.

ngelantur ya gue? well, maybe i am.
sepertinya gue merasa se...terganggu ini sebagiannya karena memikirkan seperti apa era kehidupan anak(-anak) gue kelak. apa nanti pemerintahan yang fasis yang akan berkuasa? apa nantinya di bumi ini semua orang harus 'seragam'? apa nantinya kebencian terhadap perbedaan akan menjadi hal yang wajar? it scares me, really.
(deep sigh)

at the end of this note, gue ingin memuat satu lembar halaman dari buku "Karung Mutiara Al-Ghazali" yang gue miliki sejak SMP dulu. satu halaman ini sangaatttt membekas di diri gue, i practically remember it everytime gue mulai merasa holier-than-thou. i hope it'd touch you as well. 


11/08/2013

now and then

any of you familiar with The Carpenters?
atau bahkan menyukai lagu-lagu mereka, the way i do?

adit mengenal dan menyukai beberapa lagu mereka karena saat les LIA puluhan tahun silam, guru kelasnya mengajak bersama-sama nyanyi dan menyelami lirik lagu "Yesterday Once More." gue gak inget pernah diajak nyanyi-nyanyi gitu sih, selama les LIA. tapi mungkin karena gue gak pernah les di level basic yaa... (#pamerterselubung #doesitevenmatternow? #yeahlookathimnow, #andlookatmenow #focusplease?).

anywaays, interaksi paling memorable gue dengan lagu-lagu The Carpenters, adalah karena dulu, saat gue dan adit baru nikah, and we were heading to hit the road dalam rangka bulan madu, one of their songs was playing through my ipod. it was "We've Only Just Begun."
saat itu, gue udah mengoleksi beberapa lagu The Carpenters. tapi gue gak pernah mengapresiasinya secara khusus, i merely collected them because they have good tunes. seperti "Close to You" misalnya, yang emang commonly popular. 
tapi saat "We've Only Just Begun" terdengar di mobil, saat itu, gue jadi seolah mengalami aha moment. gue baru menyadari betapa lirik lagu itu tepat banget untuk kami saat itu.


"we've only just begun... to live
white lace and promises
a kiss for luck and we're on our way
(how very true!)
before the rising sun, we fly
so many roads to choose
we start our walking and LEARN TO RUN."

oh boy, how magnificent and grand those words are. gue dan adit saat itu were "freshmen" yang melangkah ke dalam gerbang pernikahan. with all the white laces and promises yang bisa diartikan sebagai kehebohan persiapan wedding dan janji-janji manis sehidup semati. now we are entering the real deal. we were babies. we were learning how to stand on both our feet before we even could run. 


"sharing horizons that are new to us
watching the signs along the way
talking it over just the two of us
working together day to day... together" 

tidakkah kata-kata itu begitu... um, advisory? of all the hullabaloo we have witnessed and encountered during our wedding preparation, how come we have missed THIS? the message and wisdom needed to guide us in order to survive the wedding itself? watch the signs along the way. talk everything over. and WORK it. together, day to day, forever. gosh.

melompat ke suatu hari di tahun 2013, gue sedang berada di dalam mobil. adit was driving. and i was just wandering off in my thoughts. and then this song was heard, 


"the harderst thing i've ever done is keep believing
there's someone in this crazy world for me
the way that people come and go through temporary lives,
my chance would come and i might never know...

i used to say "no promises, let's keep it simple."
but freedom only helps you say goodbye.
it took a while for me to learn that nothing comes for free
the price i've paid is high enough for me

i know i need to be in love
i know i've wasted too much time
i know i ask perfection of a quite imperfect world
and fool enough to think that's what i'll find"

you know what crossed my mind? myself in the early 20s. 
jomblo, kepengen nikah, tapi gak punya siapa-siapa. ada sih cowok, tapi gak ada yang serius dan "sepaham." i totally needed to be in love. 
bagian paling nonjok tentunya yg dibuat bold: (but) i asked for perfection. 
well, untuk kasus nyari jodoh, syukurlah gak lama kemudian gue ketemu adit dan berujung kewong. tapi it still applies to me and most of my dramatic cases today. i still ask for perfection. i want to always make the perfect choice. the perfect method for parenthood. the perfect image. blablabla. the following line should be a warning to me. i'd be a fool to think i could achieve perfection. 

maybe sometimes settling down is the right option. i settled down with adit. he's not the artsy-fartsy type that i always fell for, he didn't read or listen to what i do, but, look at us now. we can talk for hours, and i get his support for every choice i make. 
this reminds me of "Before Midnight." how they first started out as "soulmates," yet in their most recent years (their 40's), they somehow end up facing the condition (ups and downs, dillemmas and also the kind of intimacy) that is alike to what every couple has: how to deal with their own demons, how to make the marriage work, how to fight right. i mean, it (the movie) resonates a message to me that it doesn't matter how you started as a couple. what matters is whether you're happy with your life, and whether you want to make it work. 

but The Carpenters also "caters" my darker side, my gloomy days, and whatever you may call it. salah satu lagu favorit gue saat sedang di kubu "yang" (as in yin-yang), adalah "Rainy Days and Mondays."


"talkin' to myself and feelin' old
sometimes i'd like to quit
nothin' ever seems to fit
hangin' around, nothin' to do but frown
rainy days and mondays always get me down."

i think every word describes my blues perfectly. saat lagi letih menghadapi dunia, saat lagi pengen 'mogok' and forget about everything else. saat sedang rainy days and mondays, hehe. 
hal lain tentang lagu ini menurut gue, adalah memberi gambaran tentang masalah yang dihadapi penulisnya. we know karen carpenter is a talented musician, but she also had her own blues. she battled bullimia. bahkan konon dia meninggal karena penyakit (mental?)nya itu. so my point is, this girl really knows what she's talking about when she talked about gloomy days and dark moods. 

to end this little note/rambling, i'd like to put one more song that i find meaningful. it's "I Won't Last A Day without You." maybe some of you will find it corny, or lovey-dovey. tapi i totally relate with every word. it resonates my feeling, my trouble with going on and dealing with the world at times. but luckily i have a wonderful life partner. no matter seberapa sering gue misuh-misuh dan sok gak butuh kalo lagi kesel sama doi. 


"day after day, i must face a world of strangers where i don't belong,
i'm not that strong.
it's nice to know that there's someone i can turn to
who will always care, you're always there.

when there's no gettin' over that rainbow,
when my smallest of dreams won't come true,
i can take all the madness the world has to give
but i won't last a day without you."

ihik. 
so, thank you, The Carpenters, for accompanying us since the beginning of our journey. ohya dan berkat seringnya gue nyetel lagu-lagu carpenters di mobil, adit jadi ikut familiar sama mereka. dan kalo karaoke, sama-sama inget untuk masukin lagu carpenters di playlist. 
my pleasure, dear husband.