27/04/2014

the talk about the bird and the bees

Bagaimana Bicara Tentang Seks Pada Anak?



by: - Tuesday, April 22nd, 2014 at 7:30 am
In: Books / Movies / TVshow / Music / Web Mommy Chatter Parenting 5 responses


Minggu ketiga April ini saya masuki dengan muram. Penyebabnya tak bukan adalah kasus kejahatan seksual pada seorang anak yang sedang ramai diberitakan. Sebagai seorang ibu, bagaimana mungkin saya dapat tenang-tenang saja?

Meski kerap mendengar kasus kejahatan seksual melalui televisi dan media lainnya, jujur saja, hal ini terkesan berjarak dari kehidupan saya. Ya, fakta adanya kejahatan seksual terjadi pada anak-anak memang membuka mata saya untuk lebih waspada dan siap membekali anak dengan pendidikan seksual. Namun, mungkin dengan naifnya, saya berharap hal ini tidak akan perlu saya hadapi.

Saya berpikir seperti itu hingga berita tentang kekerasan seksual pada anak TK menyentak kesadaran saya. It’s happening around us. At places we might pass by on daily basis. To kids whose age are similar to ours. Jadi, apalagi yang ditunggu untuk mulai serius menyikapi hal ini?

Belum lama ini, saya membaca buku yang judulnya sangat menarik perhatian, karena mengingatkan saya akan PR besar yang menghadang di depan perjalanan saya sebagai orangtua. “What Your Child Needs to Know about Sex (and When)” yang ditulis oleh Dr. Fred Kaeser. Begitu saya mengetahui siapa Kaeser dan apa latar belakang yang dimilikinya, saya berpikir buku ini ditulis oleh orang yang benar-benar paham mengenai topik pendidikan seks.

Dr. Kaeser mendapatkan gelar doktoratnya dalam bidang human sexuality studies dari New York University. Dia pernah menjabat sebagai director of health services untuk 260 sekolah dan director of health education untuk 1300 sekolah di Amerika Serikat. Sepertinya tidak ada yang pertanyaan seputar pendidikan seks dari orangtua, maupun anak-anak, yang belum pernah dia dengar.

Dia menulis buku ini, selain untuk merangkum frequently asked question seputar pendidikan seks, juga untuk membantu orangtua menghadapi dampak dari fenomena “hypersexualized world” pada anak-anak.


disneykiss
*Gambar dari sini

Dr. Kaeser menjelaskan, bahwa saat ini, imaji dan pesan-pesan berbau seks bertebaran dan terekspos pada diri anak kita, secara tak terbatas. Televisi, musik, papan iklan, media cetak, internet, alat komunikasi, film – ada begitu banyak medium yang menggambarkan seks dan seksualitas. Anak-anak kita secara konstan terpapar pada pesan-pesan berbau seks dengan cepat, hampir dari segala arah, sepanjang masa kanak-kanaknya. Pesan-pesan ini tidak hanya eksplisit, tapi seringkali berbau kekerasan, juga kental oleh pencitraan di mana laki-laki mendominasi dan perempuan submisif. Yang membuat masalah semakin pelik, pesan-pesan ini seringkali hadir tanpa bimbingan dan intervensi dari orangtua.

Ketidaksiapan orangtua untuk menjadi sex educator bagi anak-anaknya, menyebabkan orangtua hanya mengandalkan program pendidikan seks dari sekolah, atau mengharapkan media menerapkan batasan usia dalam tayangannya, atau hal-hal lain dari pihak eksternal. Padahal, menurut Dr. Kaeser, it’s your message that counts. Bimbingan dan instruksi dari orangtua sangat dibutuhkan anak-anak untuk membentuk value systems (tatanan nilai-nilai)-nya sendiri. Values (nilai-nilai) mengendalikan kesadaran kita atas apa yang benar, apa yang salah, apa yang patut dihargai, dan apa yang perlu dihindari.

Anak-anak kita perlu mendengar langsung dari kita tentang perilaku apa yang kita anggap benar dan salah, terutama dalam hal-hal terkait seks – seperti tentang intercourse, masturbasi, homoseksualitas, kontrasepsi, aborsi, oral sex, sex toys, tinggi rok dari lutut, celana yang menggantung di bawah garis underwear, dan lain-lain.

Ada fakta lain yang diutarakan Dr. Kaeser dalam buku ini dan cukup membuat saya terkejut. Dunia saat ini telah menjadi semakin sexually explicit, dan ini berarti para orangtua dari anak-anak kecil terpaksa berhadapan dengan perilaku seksual dan kekhawatiran yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya. Sementara itu, anak-anak menghadapi rangsangan seksual pada usia lebih muda dan dalam frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan seluruh generasi terdahulu. Sebagai akibatnya, anak-anak masa kini lebih berisiko untuk berpikir dan bertindak dalam cara-cara seksual sebelum mereka siap secara emosi maupun tahapan perkembangan. Kita harus siap mendiskusikan aspek-aspek seks dan seksualitas dengan anak setidaknya saat mereka berusia 10 tahun.

Kita perlu menjelaskan kenapa anak usia ini belum boleh membuat akun Facebook, Twitter, dan sejenisnya. Kita perlu bicara tentang berita anak-anak (atau orang dewasa) yang melecehkan anak lain. Kita perlu bicara tentang kontrasepsi, kondom, dan cara agar anak terlindungi dari Penyakit Menular Seksual (PMS).
Ini semua adalah konsekuensi dari kondisi dunia yang semakin tanpa-batas. Ten becomes the new sixteen.

Dalam buku ini, Dr. Kaeser memberikan panduan yang lengkap bagi orangtua berupa jenis informasi apa yang perlu diberikan kepada anak sesuai dengan usia dan gender-nya. Materi yang ‘berat’ ini dipaparkan olehnya dengan gaya penulisan yang lugas dan applicable (turut disertakan contoh daftar pertanyaan, strategi untuk masalah tertentu, skenario role-play, dsb). Ia juga mengajak orangtua berdiskusi dengan anak tentang “The Three Biggest Sex Words” yaitu Love, Trust, dan Respect. Ketiga hal ini sangat penting – mengingat begitu banyak orang yang melakukan sexual abuse dalam hubungannya, berbohong tentang kondisi PMS-nya, atau berselingkuh. Tanamkan pada anak-anak bahwa jika mereka memiliki cinta, rasa percaya, dan rasa hormat, hal-hal negatif tadi tidak akan terjadi.


Sedikit bocoran dari buku ini, key points yang perlu dikuasai oleh orangtua dalam hal ini antara lain:

1. Sadari dan hadapi fakta bahwa anak-anak kita dapat dipengaruhi oleh pesan-pesan seksual ini. Realize the kind of planet we live in. Anak-anak kita adalah mahluk hidup, mereka berpikir tentang seks, mereka telah mendengar dan melihat hal-hal berbau seks, dan mereka dikelilingi oleh hal-hal yang mendorong ketertarikan mereka pada seks.

2. Jangan menunda membicarakan soal seks sampai anak bertanya lebih dulu kepada kita. Komunikasikan seks dengan anak sedini dan sesering mungkin.

3. Manfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu sebagai kesempatan untuk memberikan pendidikan seks kepada anak. Misalnya saat menonton televisi bersama anak, atau melihat papan iklan yang mengirimkan pesan berbau seks, bersiaplah untuk mengintervensi dan membantu anak memahaminya.

4. Coba untuk terus mengawasi dan waspada dalam memonitor kehidupan anak. Gunakan program tertentu di komputer yang digunakan anak, terapkan parental control pada televisi maupun gadgets yang digunakan anak (baca: Survival Guide Orangtua di Era Internet), dan awasi interaksinya dengan anak-anak lain.

5. Kenali lagi gaya pengasuhan kita, apakah authoritarian, permisif, uninvolved, atau authoritative. Dr. Kaeser memberikan penekanan pada gaya authoritative. Pada gaya pengasuhan ini, orangtua mencoba menyeimbangkan relasi orangtua dengan anak, menyatakan aturan dan batasan secara jelas, mengizinkan anak mengutarakan pendapatnya, dan menggunakan positive reinforcement untuk membentuk perilaku.

Singkatnya, saya berkesimpulan bahwa buku ini sangat penting dan layak menjadi buku pintar orangtua dalam memberikan pendidikan seksual. Kita diingatkan betapa pentingnya memenangkan pertarungan untuk menjadi the number one influence bagi anak-anak kita.
Yaitu agar anak-anak kita menunda melakukan hubungan seks hingga mereka dewasa dan dalam hubungan yang sah. Agar mereka tidak hamil di luar nikah atau terkena PMS saat masih remaja. Agar mereka terhindar dari hubungan yang sexually abusive. Dan terutama agar mereka memiliki perilaku seksual yang sehat.
“If we do our job correctly, we win.” Dr. Kaeser wrote.
So, Mommies, I don’t think we should wait any longer. Let’s do that (huge) homework.


02/04/2014

we got a long one and that wasn't enough

oh boy, that was one long weekend we had. sabtu-minggu-senin, ditambah selasa karena adit ambil cuti. sebenernya sih, kita nggak punya rencana istimewa apa-apa untuk mengisi weekend kemarin itu. mau roadtrip, tapi kebayang di mana-mana bakalan macet dan ramai oleh manusia.
kalo jalan-jalan yang rada jauh atau pake naik pesawat, seperti biasa, karena nggak ada hasrat jadinya ya nggak disiapin juga duitnya.
akhirnya, kamis malam, gue dan adit random aja nemu ide untuk staycation. tapi bolehlah staycation-nya pake nginep di hotel. kayak beberapa tahun lalu, nginep di tengah kota, mall-hopping and the likes.

ketika hotel udah di-book dan ngebahas mau 'melancong' ke mana dan ngapain aja, tiba-tiba kita notice... kok badan bumy anget?
saat itu udah jam 10 malem. sepanjang hari bumy baik-baik aja, nggak nunjukin gelagat gak enak badan.
langsung deh, kita pasang mode siap-siaga. karena emang lagi 'musim' sakit banget... di sekolah, selain common cold, ada yang gondokan, bahkan cacar air segala. aduh, jangan sampeee deh, kejadian sama bumy.

besoknya, gue observasi kondisi bumy. bolak-balik ngecek suhu badan, kasih minum banyak-banyak, tenggakin madu sarikurma jus buah dsb.
sembari memantau, gue dan adit mutusin untuk ngebatalin booking-an hotel aja dulu. berhubung bookingnya online dan ada t&c harus cancel maksimal 24 jam sebelum check-in, daripada kena charge padahal kita gak nongol, ya dibatalin deh.

tapi alhamdulillah, sepanjang hari itu, suhu badan bumy normal. legaaa.

dengan demikian, positif kita staycation dengan bobok di rumah aja. kelayapan juga sih, tetep. itinerary-nya kurang lebih begini:

sabtu:
- ke binus -- berhubung adit sepertinya jadi kuliah lagi (aamiin), kita ke binus untuk legalisir ijazah dll. yaampun gue terakhir kali menginjak kampus anggrek SEMBILAN tahun yang lalu. pangling.sekarang bagian dalem kampusnya semakin mirip mol dengan adanya gerai fast food ternama, iBox, bahkan toko sportswear. bagian-bagian yang dulu familiar sama angkatan gue dan adit juga udah banyak yang berubah (yaeyalahh, sembilan tahuuun).
trus, yaah mellow juga,sih. mau se-indifferent apapun perasaan gue tentang kuliah di binus, tapi tetep aja.... sempet kepikiran sih, orang-orang yang alumni UI or ITB mungkin bakal bawa-bawa anaknya ke ex-kampus mereka trus berkata "nanti kuliah di sini ya nak!" gak terjadi hal yang sama pada gue dan adit... tentunya. hahaha. meski gue gak menepuk dada tiap menyebut nama almamater gue, tapi tetap terselip perasaan bangga... tak lain tak bukan pada bokap-nyokap. yang bisa nyekolahin gue <3

- ke karawaci -- biasa, dititahkan sama nyokap karena doi mau kangen-kangenan sama bumy. dengan senang hati juga sih, kita ke sana. begitu bumy hinggap di gendongan oma, kita melesat ke bersih sehat, haha. bistu lanjuut nyushi di midori, lalu ketemuan sama kiti di books n beyond dari sore sampe malem. kelar nongkrong, kita ngajak kiti ke rumah nyokap buat makan cwie mie rame-rame haha.

dulu ini belum ada



minggu:

- berhubung sejak beberapa hari lalu gue tiba-tiba ngidam main bilyar, jadilah sibuk nyari tempat menyodok yang kid-friendly. ada gitu? ternyata ada.... tapi sebelum main, kita ke... one of the hippest and hottest spots in town, waha kitchen. haha, niat deh gue hunting tempat yang "layak dicoba" dan "beda." abis kalo ke foodcourt lagi, foodcourt lagi, gak berasa "staycation"-nya doong (alesan) (padahal latah).
tempatnya, seperti yang diliat di instagram, kece banget interiornya. kita dateng sore-sore, dan sepertinya pas deh, karena gak rame. suka banget juga karena tempatnya no smoking. selain itu, makanannya juga oke taste-wise. gak rugi deh. 'kan ada tuh, tempat-tempat yang nikmat di mata tapi gak nikmat di lidah. this one is totally worth to try.

- Q bilyard dan bowling di plaza indo. this one is the best i could get. smoke-free, soalnya.
sebenernya kita pake meja bilyar yang terletak di bagian depan area bowling, dan kondisinya yaa gitu deh... tempatnya sempit (ada sudut yang gak memungkinkan stick bisa dipake mukul karena gak muat), mejanya 'seadanya' dan... pake koin :)))
maunya sih, pakai meja yang ada di bagian dalam Q bilyard-nya sendiri... tapi bebas merokok ey di dalem situ, huhu. kayanya di mana-mana tempat bilyard smoking area deh, meskipun dalam ruangan ber-ac (baru inget, setelah berpuluh-puluh tahun gak main). anyway, it was fun! seperti yang gue idam-idamkan. girang bisa ngalahin adit hahaha.
sesudahnya kita main bowling juga. again, it's been ages since i last bowled.


complimentary semprong di waha


we got a nice cozy spot

ini di toilet













gak heran doi kalah, mainnya berdua sama asisten sodok




senin:
- jogging keliling kampung. akhirnyaaa olahraga juga (pas nimbang di bersih sehat, ternyata bb udah nambah 1 kg lagi) xD
- menggembel (literally) ke citos karena males ganti baju abis olahraga. malamnya bikin ayam panggang di rumah (a la chef bubi).

selasa: ke museum layang-layang. abis itu beli sotomie jalan durian, dan tidur umpel-umpelan bertiga di rumah. 

kelar deh!

nonton film festival layang-layang dulu sebelum mulai tour
posenya begini ketika nonton film

















give us some moreeeee....


01/04/2014

celoteh

"Nanti ya, pa, kalau Naya mau melahirkan anak yang kedua, Bumy mau parkir (mobil) Mercy-nya di luar rumah sakit. Trus Bumy mau pegang bahu anaknya (yang pertama-red)."
"Emang kenapa dipegangin, Mi?"
"Biar aman."

"Masa Bumy takut sih, keramasnya disiram pake gayung? Ichan berani, lohh."
"Bumy berani kok, ma!"
"Tapi kok, kemaren mama denger Bumy teriak-teriak pas disiram pake gayung di rumah oma?"
"Itu Bumy teriak-teriak kesenengan, maa."
"... yadeh."

(nunjuk kacamata papanya yang terletak di ujung meja) "Pa, tuh kacamatanya nanti jatoh. Nanti mama marah. Mama galak banget, loh!"

(menegur papanya yang lagi buka laptop di rumah) "Papa dapet email dari mana?"
"Dari kantor."
"Bumy dapet email dari daycare."

"Bumy mau ganti nama, ah. Bhumyamca namanya jelek!"
"Mau ganti nama jadi apa?"
"Diganti gini ya... Basupa... Sepudita."
"Artinya?"
"Artinya: mobil dari sedan malah jadi mogok, gitu."
"Kalo yang bantal tadi?" (bantal juga disuruh ganti nama-red)
"Kalo bantal namanya gini, Kamu Sisa-sisa Masih Ompol Harus Dikeringin Dulu Dari Bantal Yang Basah Bau. Gitu deh!"


19/03/2014

ch-ch-changes!

Dari Kantor ke Rumah: My #ExcitingChange


by vanshe — Monday, March 17th, 2014 at 7:30 am

 

Bulan lalu, #excitingchange menjadi tema yang diusung Female Daily Network. Ini dapat kita lihat lewat makeover tampilan website, dan fokus baru yang diusung Female Daily.
Secara tidak langsung, hal ini menginspirasi saya untuk mengevaluasi berubahnya peran saya dari ibu bekerja jadi Ibu Rumah Tangga (IRT). Has it also been an exciting change?

Seorang sahabat berkata pada saya, “I think it takes at least a year to adapt with a new place, or a new role.
My friend said that based on her personal experience. Dia meninggalkan tanah air untuk menuntut ilmu ke Inggris selama beberapa tahun.

The first year in UK was rough, she said. Meskipun Inggris adalah negara yang selalu dia (kami!) impi-impikan untuk tinggali suatu hari, dan seperti layaknya penduduk negara dunia ke tiga yang belum pernah tinggal di luar negeri, kami bayangkan segala sesuatu di sana pasti 100 kali lebih baik, lebih keren, lebih menawan… hehe. Tapi tetap saja, beradaptasi tidak pernah semudah memutuskan membeli barang saat Mothercare sedang sale (analoginya emak-emak banget!). Butuh sekitar satu tahun baginya untuk benar-benar ‘menikmati’ segala sesuatu tentang Inggris. Ya makanannya, ya cuacanya, ya budayanya.

And then, as predicted, saat kembali ke Indonesia, she started back at one in terms of adapting. Lucu, ya, padahal sebelumnya seumur hidup dia tinggal di Indonesia.
Kalimat soal beradaptasi itu muncul di kepala saya ketika mencoba mengulas perubahan yang telah dijalani selama, well, tepat setahun ini. Have I been adapting well? Is the change really THAT exciting?
Hmm, untuk menjawab itu, sebaiknya saya reka ulang apa saja yang ada di bayangan saya sebelum benar-benar banting setir.
Sebelumnya, saya bayangkan, jadi IRT itu…

Pasti punya banyak waktu luang! I would have time to attend yoga classes, untuk berkonsentrasi menulis, untuk mencoba banyak resep, melahap banyak buku. Saya juga bisa punya banyak quality time dengan anak.
Namun kenyataannya….

Mengatur waktu supaya semua keinginan sekaligus kewajiban terpenuhi itu butuh skill manajemen waktu yang mumpuni. Mau jadi ibu bekerja kek, mau jadi IRT kek.

The exciting change yang saya hadapi adalah menemukan bahwa dinamika seorang IRT itu sangat berbeda dengan saat masih bekerja. Ketika jadi IRT, we set our own timeline, and create our own schedule. Jam ‘kerja’ IRT nggak jelas dan terencana seperti waktu jadi karyawan. Dan, aktivitas apa yang kita pilih untuk mengisi jam ‘kerja’ tadi juga sepenuhnya tergantung pada kita.

Meskipun akhirnya membuat jadwal mingguan, kelemahan saya adalah masih gampang dikendalikan oleh mood. Kadang seharusnya saya mengajak anak bermain di luar, tapi, kok rasanya males banget. Kadang jadwalnya menulis, tapi, kok saya lebih mood bebenah.

Selanjutnya, perubahan dalam kehidupan sosial.
Sebelum jadi IRT, saya bayangkan, sepertinya bakalan nelongso, nih. Saya akan jarang ketemu teman-teman lama. Dunia juga akan ‘menyempit’ karena berotasi di sekitar rumah saja.

Kenyataannya, memang sih, saya jadi lebih banyak berada di rumah dibandingkan sebelumnya. Bertemu dengan teman-teman lama juga hanya sesekali. Tapi ternyata, circle of friends saya merambah ke lingkungan baru, misalnya ibu-ibu di sekolah anak saya. Berawal dari pertemuan saat mengantar dan menjemput anak, berlanjut ke Whatsapp group, hingga janjian untuk playdate. Di sini, saya menemukan teman-teman yang “setipe” dan nyambung dengan peran baru saya.

Berkat mereka, saya jadi tahu tempat-tempat yang child-friendly di kawasan tempat tinggal, ‘tren’ terbaru di dunia fashion (anak-anak), sampai berbagai rupa jajanan untuk dicicipi.
Sementara soal dunia yang ‘menyempit’ tadi, pada kenyataannya saya menemukan cara untuk membuatnya jadi lebih luas. Caranya dengan lebih intens mengurusi kerjaan sampingan, menemani anak saat les, serta mengikuti kelas-kelas olahraga.

Last but not least, soal pencitraan.

Waktu masih bekerja, saya berikrar pada diri sendiri. Kalau sudah jadi IRT, saya:
1. Nggak mau ngomongin urusan domestik dengan siapapun kecuali suami.
Kenapa tidak? Karena… frankly, to me, it’s boring! I don’t wanna hear the long and winding drama about someone’s ART. Or how your floor hasn’t been mopped, or how your kids are fighting all over the place.
2. Nggak mau ‘tertangkap basah’ bergosip. Karena saat masih bekerja, saya sering mendengar komentar, “Aduh, ngurusin orang lain aja, kayak emak-emak kurang kerjaan!”
Ew… gengsi ‘kan, kalau saya nanti dicap kurang kerjaan a.k.a. hidupnya membosankan hanya karena membahas gosip artis (artis luar negri sekalipun! Hihi).

Ketika sudah menjalani peran sebagai IRT, dan tanpa bisa dihindari membahas urusan domestik dengan orang lain, juga tetap suka membahas gosip artis dan selebtwit, saya jadi sadar, bahwa:
1. Membahas urusan domestik bukan dosa besar, kok. Asalkan teman bicaranya tepat dan membahasnya pun tidak untuk berkeluh-kesah panjang-lebar. Saya malah bisa mendapat wawasan dan saran kalau sharing dengan orang yang tepat.
2. Nggak usah insecure sama pendapat orang kalau tertangkap basah bergosip, atau masak pakai bumbu instan, atau ‘tanpa sengaja’ memukul pantat anak saat dia tantrum sementara kepala sedang senut-senut karena PMS.

In fact, nggak usah insecure soal gimana citra diri ini di mata orang lain, apapun peran yang kita pegang, selama apa yang kita lakukan tidak merugikan orang lain dan sejalan dengan nilai-nilai yang kita anut.
Well, I don’t say bergosip atau memukul anak itu perilaku yang membanggakan, sih.
Tapi, seperti saya ceritakan di sini, we can never be perfect, and we’ll always have ups and downs in life.

Dengan demikian, one thing I learned is to not judge people based on what they show from the outside.
Karena, banyak kok, orang yang bermulut manis, tapi enggan menolong orang lain.
Atau yang hobi mengomentari IRT itu “kurang kerjaan” padahal sebenarnya kepengen jadi IRT.
Atau yang menampilkan kesan sebagai ibu nan paripurna, padahal sadis banget kalau marah-marah sama anak.

Akhirnya, kembali lagi ke pertanyaan di awal, has it been an exciting change? 

Setelah mengulasnya panjang-lebar di sini, saya dapat menyimpulkan: The change feels scary sometimes, not comfortable occasionally, but mostly, it feels exciting. Perubahan ini membawa saya ke tempat-tempat baru, mengajak saya mencoba hal-hal baru. Meskipun pada awalnya serbuan perubahan itu membuat saya kewalahan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, saya dapat menentukan apa yang menjadi fokus saya.

Nggak perlu ngotot memasak tiga macam hidangan berbeda kalau memang dari awal tidak suka berlama-lama di dapur.
Tidak usah terus-terusan ngedumel soal ART, karena memang butuh dan terbantu oleh tenaganya.
Berhenti mengkhawatirkan apakah kenalan akan ngomongin yang jelek-jelek soal saya di belakang, karena toh mereka cuma kenalan, bukan mereka yang penilaiannya penting buat saya.

Berkat punya fokus, saya jadi bisa mencurahkan pikiran dan tenaga ke hal-hal yang memang penting buat saya. Dan nyuekin hal-hal di luar itu.
So I think this change has definitely brought me to a new level.

Bagaimana dengan Mommies, apakah baru mengalami exciting change juga? And what did you learn from it? Silakan berbagi di sini. :)

*gambar dari sini dan sini

06/03/2014

flow and adapt

sejak bulan lalu, gue mulai mengikuti kelas yoga. i mentioned it earlier, that i love the ambience and also the teacher's style.
gue ikutin kelas yoga di hari biasa, karena kalau hari libur, susah banget bangun paginya. sekalian buat ngisi waktu 'kosong' pas bumy gak sekolah. jadi ya otomatis bumy gue bawa.
karena bawa bumy, sebelum berangkat yoga, pagi-pagi pasti gue udah riweuh deh nyiapin ini-itu. baju ganti, botol minum, susu, sampe mainan. berhubung si bocah usianya baru 4 tahun, rentang perhatian doi tentunya pendek. pas pertama kali gue ajak, dikit-dikit dia 'berulah.' ya duduk di mat guelah, merengek-rengek, dsb.
dari situ, gue belajar untuk bikin kesepakatan sama doi. doi boleh atau dapet xyz ASAL mau nungguin mama yoga dengan tenang. hehehe. alhamdulillah it works. gue salut juga sih sama kemampuan si bocah memenuhi kesepakatan ini. dan tiap minggu, each of us sort of makes improvements. gue tambahin pesan kalo dia harus main dengan tenang, not making any noise. gue juga dapet ide nambahin cemilan buat bekal dia. dia juga mulai memahami kalo kelas yoga udah mulai, area melantai gak boleh dimasuki lagi. he also learns how to keep himself busy. kadang dia nemu teman main, kadang ya asik aja main sendiri.

anyways, sebenernya yang bikin gue mau nyeritain soal kelas yoga adalah materi hari ini yang menarik banget buat gue. Chandra, sang guru, bilang kalo fokus latihan hari ini adalah menyeimbangkan energi chakra ke-tiga, chakra manipura.
sebelumnya gue ceritain dulu, kalo ada 7 chakra utama di dalam tubuh manusia. btw, gue tau dan menyadur ini dari buku "Panduan Lengkap Yoga"  oleh Pujiastuti Sindhu yang gue beli sebelum mulai ikut kelas, hehe. bukannya overprepared sih, cuma kebetulan nemu bukunya di books 'n beyond dan pas lagi dapet diskon ultah adit :p
back to topic, chakra itu maksudnya pusat energi di dalam tubuh kita. chakra ke-tiga yang jadi fokus latihan ini letaknya di hati, tepatnya kelenjar pankreas dan adrenal. unsurnya api.
nah, Chandra tadi ngejelasin sebelum kita mulai latihan, kalau chakra ini mewakili kualitas wiilpower, atau kemauan keras. it deals with sense of belonging, mental understanding of emotions, self-esteem, personal power, stamina, success, ego (from myyogaonline.com).

nah, attitude yang keluar dari ketidakseimbangan chakra ini bisa berupa perfeksionis, gampang marah, bahkan gila hormat. lebih lengkapnya dari myyogaaonline.com, masalah fisik dan emosional yang bisa muncul akibat ketidakseimbangan chakra ini di antaranya lack of self-esteem, depression, judgmental, anger, rage, hostility, perfectionism, issues with self-image and fear of rejection.... gue tercengang pas dengar itu. loh... kok, mirip-mirip sama yang sering gue 'derita' yah :(((
gue cenderung perfeksionis. meskipun gue curigai ini bawaan orok alias akibat pola asuh. tapi, apapun penyebabnya gue rasa gak gitu penting, yang justru di-highlight adalah gimana caranya menyikapi kekurangan ini (ternyata bener ya ini kekurangan. 'kan kalo lagi interview, pas ditanya apa kekurangan kamu, seringnya dijawab "saya perfeksionis").

lebih jauhnya lagi, karena chakra ini menguasai bagian liver, kidney, adrenals, dan lainnya di seputar ulu hati, disfungsi fisik yang bisa terjadi tuh diabetes, stomach ulcerns, intestinal tumors, colon disease.... glek, gue jadi inget kalo maag gue suka kambuh kalo lagi "banyak pikiran."

begitulah, gara-gara pembukaan dari sang guru, gue jadi menjalani dan memaknai latihan hari ini dengan lebih atentif.
latihan diawali dengan metode pernapasan kapalabhati, atau bernapas menghembus kuat dengan tarikan otot diafragma (perut). setelah gue baca, cara bernapas ini  bermanfaat untuk meredakan stres dan membersihkan pikiran dari energi negatif. disarankan dilakukan oleh penderita diabetes, penyakit jantung, juga tekanan darah tinggi. baru pertama kali gue mencoba pernapasan model begini.

Chandra juga ngejelasin, gerakan yoga yang kita lakuin untuk fokus ke chakra ke-tiga tadi dapat mengobarkan unsur api di dalam diri kita. that's why, dia kasih gerakan memuntir ke kiri-kanan dan Navasana supaya bisa menjaga kobaran api supaya tetep seimbang.
Affi pernah tulis di sini soal makna gerakan yoga favoritnya. it's Virabhadrasana or warrior pose. gue sangat terpukau oleh deskripsinya akan makna gerakan tersebut.
ketika gue mencoba cari tau makna gerakan Navasana or boat pose, gue mendapatkan ini:

"Nava means ship or vessel and asana means seat or pose. The pose represents a boat where the arms are the oars. The capacity for movement and fluidity is where water gets it power.  The essence of our inner journey is seen through the water element.

Boat pose has a beneficial effect on the skeleton, which is governed by the water element.  This pose can help to turn a weak spine into one of support and strength.  It is also said the Navasana tones the kidneys.  This pose will give them greater ability to regulate the fluids in the body. The pathway of the bladder runs up the back of the legs through the buttocks and along the spine.  The bladder official is responsible for the storage of fluids and helps us to flow and adapt to change, like a boat on the waves." (dari sini)

hmm... to flow and adapt to change. i think i need that the most these days.

and i think this is why i like doing yoga. ada maksud dan dasar filosofi dari setiap gerakannya. gue juga suka sama guru gue karena dia ngejelasin semua ini. gak cuma ngajak jungkir-balik yang penting keringetan dan berpose cihuy. chandra juga selalu ngingetin kita to listen to our body, and respect our body. jangan ngejar bisa mencapai pose tertentu dan menghukum badan kita ketika gak bisa mencapainya. tujuan utama kita seharusnya adalah mengenal diri dengan lebih baik, dan berusaha agar diri kita, badan kita, dan orang-orang tersayang kita bisa mendapat manfaat dari latihan yang kita lakukan. esensinya seperti gambar kutipan yang ditaro Chandra di newsletter ini:

i totally love it!

well, meskipun mengikuti latihan dengan lebih atentif, kok rasanya pas ngejalanin tadi, badan gue gempor buanget yahhh. biasanya sih gempor juga, tapi yang ini jauuhh lebih melelahkan. entah apa karena area abdomen dan ulu hati gue emang lagi bermasalah... yang jelas, gue sampe beberapa kali jatohin diri ke child pose saking gak bisa ngikutin gerakan xD

well, i'm zillion miles away from being a yogini at heart atau bahkan beli outfit lulu lemon, sih. but i'm definitely hooked on the classes.

23/02/2014

how are you doing?

all i can say is, there's nothing not to love about this weekend.

  • we got a new family member... this kyut kelinci who was born just 3 days ago.
so, how is it you're gonna call moi? bunda? mak tuwo? definitely not "tante" laa
  • malam minggu bisa sampe di rumah dengan selamat sentosa meskipun banjir di mana-mana, dan kita LAGI-LAGI gagal memperpanjang sim ke tigaraksa.... gagalnya ya karena sepanjang perjalanan ke sana ketemu banjir melulu. huhu. 
  • oiya hari sabtunya, gue dan adit sempat kencan. nyobain mol baru. apakah itu? mol "bale kota" ajhaa di tengah kota tangerang. hahaha. lumayan loh, ada starbucksnya :))) 
  • setrikaan kelaaarrr (albeit baru satu batch saja... another one is already numpuk) (vive le domestic independence!) #apakataludah.
  • sempat nyobain tempat makan baru lagi, this time it's ketjil kitchen at gandaria. a nice place with cool interior. ada all-day breakfast pula di menunya. 


  • ketawa-ketawa di mobil, bertiga. 
  • and finally, to end the weekend by watching "girls" oh how i wish i were 25 all over again. (the truth is, i ended the weekend by cuci piring lalu ngetik blog). 

ps: the title of this post is a homage to girls' episode i just watched. i'm loving the song at the ending credit, it's "how are you doing?" by the living sisters. check out the lyrics deh... mengingatkan gue pada recent events yang terjadi. ujug-ujug, temen-temen dari tlkm menyapa. ada yang lewat gtalk, ada yang nelpon. to simply ask, "how are you doing?" and it just delighted me. i'm fine, thank you, how about you?


how are you doing?
how are you doing?
i'll be fine, how about you?
i'm fine too

how is it going?
how is it going?
yes it goes, what about you?
it goes for me too

nothing new, can't complain
skies are blue, sunshine or rain
something to eat, watch a show
after that, i'll sleep like a baby

what are you up to?
what are you up to?
not much, nothing to do
what about you?

how are you doing?
i'm fine, how about you?

12/02/2014

when the rain falls...

Mommies, beberapa minggu terakhir hujan terus-menerus turun, bukan? Setahu saya tidak hanya di Jakarta, tapi di kota-kota lain. Jika biasanya di pagi dan sore hari saya bisa mengajak anak beraktivitas di luar rumah, maka kini kami lebih sering harus berkegiatan di dalam rumah saja. Meskipun ‘terkurung’ di dalam rumah, anak-anak (dan juga kita) tetap bisa bersenang-senang, lho. Bagaimana jika Mommies mencoba beberapa pilihan kegiatan untuk indoor time selama hari hujan ini?


  • Pretend play
Atau menciptakan skenario pura-pura, seperti mengadakan “tea party” bersama anak. Ajak anak mengenakan pakaian pesta, siapkan meja kecilnya dengan taplak cantik, peralatan keramik untuk minum teh, dan mulai berpura-pura bersikap formil seperti sedang minum teh dengan putri atau pangeran cilik. Mommies bisa menyiapkan menu cemilan sederhana untuk melengkapi acara minum teh ini, seperti kue bolu, cookies, atau sandwich mini. Anak juga dapat menyusun daftar tamunya sendiri, yang mungkin akan terdiri dari boneka beruang, atau koleksi Barbie-nya.
Mommies juga bisa mengajak anak memilih aksesori seperti scarf, topi, dasi, kacamata, atau perhiasan (plastik, mungkin) untuk dipinjam. Dari situ, ajak dia membayangkan tema cerita atau tempat dari suatu skenario khayalan. Saat skenario ciptaannya sedang berjalan dengan seru, Mommies bisa merekamnya untuk kenang-kenangan.

  • Membuat perburuan harta karun di dalam rumah.
Mommies bisa membuat peta harta karun sederhana berikut petunjuk-petunjuk yang tersebar di penjuru rumah. Gunakan kesempatan ini untuk mengajak anak belajar, seperti menemukan benda-benda dengan bentuk tertentu, berhitung, atau mengenal warna. Hadiahnya dapat berupa benda sederhana seperti sebatang coklat, atau mainan.
  • Berkemah di dalam rumah.
Anak saya suka sekali berpura-pura berkemah. Gunakan tenda kecil jika Mommies punya, namun kalau tidak, ciptakan tenda dengan seprai yang diuraikan di atas sofa, atau dikaitkan ke tiang-tiang penyangga dadakan yang ada di dalam rumah. Isi ‘tenda’ dapat dibuat nyaman dengan menggelar karpet kecil, menaruh bantal-bantal, boneka-boneka, juga cemilan untuk dinikmati si kecil di dalam tenda.
  • Get creative!
Manfaatkan sore hari berhujan sebagai sesi kreatif dengan anak di rumah. Mommies bisa mengajak anak bermain lego, mengecat piring plastik, mengajarinya origami, membuat alat musik dari benda-benda di dalam rumah (yang tidak merugikan jika rusak, tentunya), membuat kukis, menari mengikuti irama lagu atau meniru dance routine untuk anak-anak dari Youtube, maupun membuat lukisan hidup. Apakah itu? Mommies bisa mengajak anak berbaring di atas kertas karton besar, lalu menggambar cetakan tubuhnya. Dari situ, Mommies bisa melukis dengan cat akrilik atau crayon, serta menggunakan potongan bahan atau kertas kado, untuk menghias cetakan gambar anak.

 
Bumy di Rimba Baca

Jika Mommies ingin mengajak anak berkegiatan di luar rumah meskipun sedang hujan, beberapa hal ini mungkin bisa menjadi pilihan:
  • Mengajak anak ke bioskop menonton film anak-anak.
  • Ke museum, atau perpustakaan untuk anak seperti Rimba Baca.
  • Berjalan-jalan dalam hujan. Gunakan jas hujan dan sepatu bot, lalu berjalan-jalan di sekitar rumah. Anak-anak akan sangat menyukai membuat cipratan dari genangan air atau perang dengan pistol air. Sesudahnya Mommies bisa mengajak anak menikmati minuman panas.
  • Berolahraga indoor, seperti berenang di kolam renang indoor, bowling, atau menciptakan arena mini golf di dalam rumah.
Semoga tidak ada lagi kebetean saat hujan turun sepanjang hari, Mommies. Seperti stiker di buku-buku tulis kita saat masih sekolah dulu: Hujan bukan halangan. Dalam hal ini, bukan halangan untuk fun quality time bersama anak :).