soon
2013 will be a passing year. i know it's super cliche but, ain't time
go faster as you're older? these four years go like in a snap to me.
library iTunes isinya masih itu-itu aja. tapi anak tau-tau udah makin
gede, tantangan sebagai emak makin bertambah secara kualitas, dan tentu
saja, tolak ukur paling menohok dan menampar: i am no longer a
twenty-something.
so how did 2013 go?
maunya sih gak bikin
tulisan yang mencoba terkesan grateful padahal ujung-ujungnya pamer juga
(hope i haven't done that too many times). just wanna ramble and talk
to myself and wish some of my good friends cared to read it, heheh.
in terms of personal goals,
let's see... one, gue berhasil mewujudkan cita-cita jadi IRT, thanks to
bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. ini bukannya tanpa
pengorbanan, sih. sebelum memutuskan, hati guepun dibikin riuh oleh
perdebatan internal kayak, apa usia produktif gue ini mau dipake "hanya"
sebagai IRT? apa gue gak nambahin beban suami gue sebagai pencari
nafkah utama? apa gue bener-bener mau jadi IRT atau sekedar pelarian
because I hated my regular job so much?
syukurlah
jalan pikiran ini diluruskan berkat ngobrol sama adit. in his own way,
dia ingetin long-term goals kita sebagai keluarga, dan kasih tau gue
untuk siap nanggung KONSEKUENSI pilihan gue, apapun itu. cara berpikir
logis khas laki-lakinya ini dulu sering bikin gue keki kalo curhat. tapi
nampaknya sekarang malah bikin ketularan... meskipun cuma sedikit :P
gue
inget dulu waktu belom nikah, gue sebel banget pas cerita gue pengen
bisa S2 di bidang psikologi atau malah kuliah S1 lagi tapi pelajarin hal
yang bener-bener gue minati. eh, dia bilang, tujuan kuliah laginya apa?
apa gue udah nemu jalan karir yang sesuai sama apa yang mau gue
pelajarin itu? apa biaya yang dikeluarin bakal sebanding dengan
hasilnya?
meskipun
nyebelin, tapi pertanyaan-pertanyaan kayak gini malah menyelamatkan gue
dari being erratic. ngeliat kasus pilihan kerjaan gue, misalnya. gue
loncat-loncat kerjaan tanpa tau apa yang mau gue capai.
setelah
kenal urusan financial planning, cara adit 'ngingetin' gue ini ternyata
mirip sama kredo "tujuanlo apa?" dan gue jadi sadar kalo kredo ini
ternyata bisa diaplikasikan di berbagai sisi kehidupan. kalo lo mau ke
anyer, ya jangan naik pesawat arah ke surabaya dong, cin!-gitu kata
ligwina.
that's why, long-term goals keluarga dan a set of
values yang kita anggap prinsipil sebagai keluarga, berguna sebagai
kompas buat kita, dan gue terutama.
bahkan setelah gue hampir-mantep
masukin permohonan cuti di luar tanggungan perusahaan, ada aja godaan
untuk ikut seleksi global talent programlah, beasiswalah. tapi karena
udah punya 'kompas,' gue bisa balik lagi ke jalan yang sesuai dengan
tujuan gue, dan apa yang really matters buat gue. pertanyaan internalnya
bukan "do i want this?" atau "do i need this?" tapi
- kalo gue bisa
dapet beasiswa atau ditempatin di luar negeri, apa gue bisa jauh-jauh
dari anak dan keluarga? adit gak bisa korbanin pekerjaannya di sini cuma
untuk luntang-lantung nemenin gue di sana ntar, since he's got a career
here.
- apa gue bakal bisa gak rewel atau malah stres?
- apa sih yang mau dikejar? prestise? kepuasan personal?
konsekuensinya
ya tentu aja: gak usah ngiri hati dan insecure denger cerita dan liat
foto-foto di sosmed dari temen-temen seangkatan yang disekolahin di
ostrali, inggris, paris atau ameriki. #nyem
begitupun saat memutuskan tinggal di sini. di 'udik,' 25 kms away from my parents.
of
course there are times when i question what i've chosen. kayak pas lagi
senewen dikuntit anak seharian, boro-boro bisa megang laptop untuk
ngejar deadline tulisan atau curhat di blog. atau pas bikin review
financial plan dan tersadar biaya hidup naik semua ya booo, huahhua.
well,
satu yang jelas: hidup tuh dinamis. masalah-masalahnya juga dinamis.
justru di sini makin pentingnya punya kompas, menurut gue. karena values
dan principle kita gak dinamis. those things define who we are, and
those things can't be lost or taken away.
...eh, kok jadi orasi?
sementara in terms of financial goals, hmm i have to say the result gives me a bittersweet feeling. mungkin malah banyakan bitter-nya daripada sweet!
well,
keputusan besar kita untuk pindah rumah tentunya berakibat besar juga
ke kondisi tabungan kita. gue dan adit semacam yang saling menatap dan
bilang "oke, you jump, i jump, yah!" ketika ngitung budget ngisi rumah
tahun lalu. tapi tetep aja, di akhir tahun ketika mereview gini, agak
nelongso liat kinerja investasi kita, hahaha.
kalau dibreakdown, "dosa-dosa" finansial kita tahun ini tuh
- memakai lebih dari 50% dana likuid untuk urusan ngisi rumah.
- baru kembali rutin berinvestasi bulanan di kuartal terakhir tahun 2013.
-
belum bisa men-tackle dengan baik cashflow dengan satu pintu... ini
lebih ke dosa gue, sih xD budget belanja bulanan kadang melar, budget
weekend juga. ujung-ujungnya ngebobol dana darurat, deh huahuahua.
syukurlah
urusan sekolah bumy gak keganggu. sekolah yang kita pilih 'masuk' dari
segi visi misi, metode, maupun (yang terpenting!) biaya. dan ketika
biaya hidup mulai merangkak naik gini, baru kerasa benernya saran QM
soal biaya sekolah anak yang sebaiknya gak lebih dari 10% income
bulanan.
oya, gue juga akhirnya ngelanjutin QMPC ke level 2.
yayy. materinya lebih advanced, dan buat gue, lebih seruuu. dijelasin
soal asuransi, cara bikin review investasi, cara ngitung kinerja
reksadana, dan bisa konsultasi lagi sama planner QM. kemarin kebetulan
banget gue kebagian konsul sama ex-planner saat jadi klien, mba Titis.
kita ketawa-ketiwi catching up kabar deh ujung-ujungnya.
my favorite
topics kemarin itu adalah cara membaca potensi dan pergerakan pasar yang
dibawain sama mas Ajo, dan of course, sesi yang dibawain Ligwina. kita
diceritain tentang kondisi ekonomi dunia dan Indonesia, serta hal-hal
menarik lain kayak penerapan JKN atau national health care system di
Indo per Januari 2014 nanti, pembuatan daftar harta dan penunjukan ahli
waris, sampai yang paling bikin gue antusias: ide Ligwina untuk bikin
program volunteering di bidang financial planning. tujuannya untuk
menjangkau mereka yang belum terjamah ilmu financial planning, kayak
buruh pabrik, atau ibu-ibu kelas menengah ke bawah.
apalagi, yah? in terms of social life,
kini lingkar pertemanan gue 'meluas' berkat adanya geng arisan ibu-ibu
sekolah Bumy, trus ibu-ibu kompleks juga. thankfully, sekolah Bumy bikin semacam parents' club untuk ibu-ibu yang anaknya sekolah di situ. kegiatannya
bulanan, sejauh ini udah ada acara nonton film bareng dan workshop
singkat tentang brain gym. harapan gue sih, kegiatan komunitas ini bisa
merambah ke kegiatan spiritual kayak ngaji bareng, dan juga kegiatan
sosial.
di sisi lain, gue juga bersyukur bisa kenal sama teman-teman
baru yang 'sepaham,' kayak ibu-ibu di Mommies Daily. i'm thankful for
the day i wrote that email to Lita :D gue bisa dapet kesempatan
berkreasi, to share my thoughts, mengasah kemampuan menulis, dan
bertukar pemikiran sama ibu-ibu berpikiran maju inih.
meanwhile,
the number of my closest friends remain. cara gue memaknai persahabatan
aja yang berubah, sepertinya. sahabat itu gak harus update tentang
kisah terbaru hidupnya secara berkala... yang penting ada komitmen untuk
showing up, untuk investing in the relationship. gue juga belajar untuk
lebih jadi diri sendiri dalam persahabatan... karena ternyata berbeda
pendapat itu bukan dosa besar (ini breakthrough pemikiran untuk diri gue
si former yes girl). malahan gue baru menyadari kalau seorang teman
iya-iya aja, menyetujui aja semuaa yang lo lakukan meskipun tindakanlo
itu 'jelas-jelas' melenceng, it means she or he is doing it for
themselves. justru kalau dia tells it like it is atau gak selalu
sependapat sama elo, they're actually doing it for you.
besides, now
i think i'm too 'old' to put up with other people's bullshits...
kalopun ada advice "what you should know by the time you're 30" yang
bakalan gue 'beli', it's gonna be "know what you want, and don't settle
for bullshits." it helps me recognizing what or whom i am comfortable
with, and what or whom i don't wanna deal with.
so, in
conclusion, yeah, 2013 is another year to be grateful for. meskipun gue
masih sering 'kalah' dari diri sendiri untuk get out of the bed and
exercise. meskipun masih sering ngomel-ngomel dan yelling ke anak.
meskipun masih suka belanja impulsif. but hopefully i don't take all
these blessings for granted.
"so this is the new year... and i don't feel any different
the clanking of crystal, explosions off in the distance.
so this is the new year... and i have no resolutions
for self-assigned penance, for problems with easy solutions."
("The New Year" - Death Cab for Cutie)