03/01/2014

mirror mirror on the wall

Will You Judge Me If…?


by vanshe — Monday, December 2nd, 2013 at 7:30 am

 

Will you judge me if…


I say I’d like to have my “me time” by putting my kid at the daycare sometimes? So I can have the house to myself. Atau agar saya bisa ‘nongkrong’ dan menulis. Atau untuk bertemu teman-teman, nonton konser, dan lainnya?

Saya merasa lega ketika bisa menitipkan anak di rumah orangtua sehingga saya bisa sekedar leyeh-leyeh, atau kadang pacaran dengan suami?

Di rumah, I’d like to keep my kid ‘busy’ jadi saya bisa mencuri-curi waktu menonton serial kriminal favorit, atau ANTM?

Makanan yang saya sajikan seringnya dipilih karena faktor kepraktisan?
Saya mengajak anak ke tempat-tempat yang seringnya menyangkut urusan saya? Karena ia tak bisa saya tinggal di rumah. Kadang, ia terlihat letih ‘menemani’ saya, dan di akhir hari, ia tetap tidak mendapat haknya untuk sekedar bermain?
Jika saya bilang saya sering kesal ketika anak tidak mau duduk tenang di carseat, dan stroller ketika diajak ngemol? Padahal mungkin dia pegal dan bosan terus-menerus diikat dan lebih suka berlarian.
I don’t always childproof my kid’s surroundings? I let him hear adult’s songs when we’re in the car. Kadang saya lupa memakaikan topi, terlebih sunscreen, ketika kami jalan-jalan. Dan saya juga tidak selalu memilih destinasti yang child-friendly.
Atau, jika saya bilang saya memilih melahirkan secara caesar karena takut?
Saya pernah memilih meminta anak dirawat di RS karena panik, dan bukan karena kondisi anak sudah gawat-darurat? (amit-amiiit)
Saya prefer pospak karena merasa itu lebih praktis?
Atau, jika saya bilang kadang saya merasa parenting terasa ribet dan kebanyakan aturan, jadi saya lebih memilih membiarkannya ‘mengalir’?
Semakin banyak saya bertanya (dan mengakui ‘dosa-dosa’), ada kesadaran yang hadir. Bahwa mungkin yang paling sulit bukanlah menghadapi omongan atau judgement orang.
Yang paling sulit adalah mengakui pada diri sendiri bahwa diri ini tidak akan bisa sempurna, dan karenanya berbuat salah.
Sesudahnya, tantangan ‘baru’ sudah menanti, yaitu bagaimana merasa nyaman dengan pilihan yang sudah diambil dan hidup dengan konsekuensinya.
Now, I still don’t know which way is The Best, and which way is The Worst.
But I do know that I can’t always be “my best” version of a mother, or even a person. I can only be me, a human being, with all ups and downs in my life.










*gambar dari sini

Sebanyak apapun seminar yang saya ikuti, literatur parenting yang saya baca, dan jutaan opini yang saya dengar tentang gaya parenting, di akhir hari, MUNGKIN yang terhitung adalah…

seberapa keras gelak tawa yang anak dan saya buat ketika kami sedang bersama,
seberapa lega rasa hati ketika akhirnya bisa mengalahkan ‘godaan’ untuk berteriak marah ke anak,
seberapa banyak air mata terkucur ketika saya mengenang hari yang sudah dilalui bersama anak dan menyesali hal-hal yang seharusnya bisa saya perbuat dengan lebih baik,
atau seberapa besar saya berharap akan datang hari esok dan esok dan esoknya lagi, untuk ‘menebus’ apa yang sudah dan tidak lakukan untuknya.


Ya, mungkin itu semua, alih-alih seberapa baik, atau buruk, saya di mata orang lain sebagai orangtua. :)

31/12/2013

au revoir 2013

soon 2013 will be a passing year. i know it's super cliche but, ain't time go faster as you're older? these four years go like in a snap to me. library iTunes isinya masih itu-itu aja. tapi anak tau-tau udah makin gede, tantangan sebagai emak makin bertambah secara kualitas, dan tentu saja, tolak ukur paling menohok dan menampar: i am no longer a twenty-something.

so how did 2013 go?
maunya sih gak bikin tulisan yang mencoba terkesan grateful padahal ujung-ujungnya pamer juga (hope i haven't done that too many times). just wanna ramble and talk to myself and wish some of my good friends cared to read it, heheh.

in terms of personal goals
, let's see... one, gue berhasil mewujudkan cita-cita jadi IRT, thanks to bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. ini bukannya tanpa pengorbanan, sih. sebelum memutuskan, hati guepun dibikin riuh oleh perdebatan internal kayak, apa usia produktif gue ini mau dipake "hanya" sebagai IRT? apa gue gak nambahin beban suami gue sebagai pencari nafkah utama? apa gue bener-bener mau jadi IRT atau sekedar pelarian because I hated my regular job so much? 
syukurlah jalan pikiran ini diluruskan berkat ngobrol sama adit. in his own way, dia ingetin long-term goals kita sebagai keluarga, dan kasih tau gue untuk siap nanggung KONSEKUENSI pilihan gue, apapun itu. cara berpikir logis khas laki-lakinya ini dulu sering bikin gue keki kalo curhat. tapi nampaknya sekarang malah bikin ketularan... meskipun cuma sedikit :P
gue inget dulu waktu belom nikah, gue sebel banget pas cerita gue pengen bisa S2 di bidang psikologi atau malah kuliah S1 lagi tapi pelajarin hal yang bener-bener gue minati. eh, dia bilang, tujuan kuliah laginya apa? apa gue udah nemu jalan karir yang sesuai sama apa yang mau gue pelajarin itu? apa biaya yang dikeluarin bakal sebanding dengan hasilnya? 
meskipun nyebelin, tapi pertanyaan-pertanyaan kayak gini malah menyelamatkan gue dari being erratic. ngeliat kasus pilihan kerjaan gue, misalnya. gue loncat-loncat kerjaan tanpa tau apa yang mau gue capai.
setelah kenal urusan financial planning, cara adit 'ngingetin' gue ini ternyata mirip sama kredo "tujuanlo apa?" dan gue jadi sadar kalo kredo ini ternyata bisa diaplikasikan di berbagai sisi kehidupan. kalo lo mau ke anyer, ya jangan naik pesawat arah ke surabaya dong, cin!-gitu kata ligwina. 

that's why, long-term goals keluarga dan a set of values yang kita anggap prinsipil sebagai keluarga, berguna sebagai kompas buat kita, dan gue terutama.
bahkan setelah gue hampir-mantep masukin permohonan cuti di luar tanggungan perusahaan, ada aja godaan untuk ikut seleksi global talent programlah, beasiswalah. tapi karena udah punya 'kompas,' gue bisa balik lagi ke jalan yang sesuai dengan tujuan gue, dan apa yang really matters buat gue. pertanyaan internalnya bukan "do i want this?" atau "do i need this?" tapi
- kalo gue bisa dapet beasiswa atau ditempatin di luar negeri, apa gue bisa jauh-jauh dari anak dan keluarga? adit gak bisa korbanin pekerjaannya di sini cuma untuk luntang-lantung nemenin gue di sana ntar, since he's got a career here.
- apa gue bakal bisa gak rewel atau malah stres?
- apa sih yang mau dikejar? prestise? kepuasan personal?
konsekuensinya ya tentu aja: gak usah ngiri hati dan insecure denger cerita dan liat foto-foto di sosmed dari temen-temen seangkatan yang disekolahin di ostrali, inggris, paris atau ameriki. #nyem

begitupun saat memutuskan tinggal di sini. di 'udik,' 25 kms away from my parents.
of course there are times when i question what i've chosen. kayak pas lagi senewen dikuntit anak seharian, boro-boro bisa megang laptop untuk ngejar deadline tulisan atau curhat di blog. atau pas bikin review financial plan dan tersadar biaya hidup naik semua ya booo, huahhua.

well, satu yang jelas: hidup tuh dinamis. masalah-masalahnya juga dinamis. justru di sini makin pentingnya punya kompas, menurut gue. karena values dan principle kita gak dinamis. those things define who we are, and those things can't be lost or taken away. 
...eh, kok jadi orasi?

sementara in terms of financial goals, hmm i have to say the result gives me a bittersweet feeling. mungkin malah banyakan bitter-nya daripada sweet!
well, keputusan besar kita untuk pindah rumah tentunya berakibat besar juga ke kondisi tabungan kita. gue dan adit semacam yang saling menatap dan bilang "oke, you jump, i jump, yah!" ketika ngitung budget ngisi rumah tahun lalu. tapi tetep aja, di akhir tahun ketika mereview gini, agak nelongso liat kinerja investasi kita, hahaha.
kalau dibreakdown, "dosa-dosa" finansial kita tahun ini tuh
- memakai lebih dari 50% dana likuid untuk urusan ngisi rumah.
- baru kembali rutin berinvestasi bulanan di kuartal terakhir tahun 2013.
- belum bisa men-tackle dengan baik cashflow dengan satu pintu... ini lebih ke dosa gue, sih xD budget belanja bulanan kadang melar, budget weekend juga. ujung-ujungnya ngebobol dana darurat, deh huahuahua.
syukurlah urusan sekolah bumy gak keganggu. sekolah yang kita pilih 'masuk' dari segi visi misi, metode, maupun (yang terpenting!) biaya. dan ketika biaya hidup mulai merangkak naik gini, baru kerasa benernya saran QM soal biaya sekolah anak yang sebaiknya gak lebih dari 10% income bulanan.

oya, gue juga akhirnya ngelanjutin QMPC ke level 2. yayy. materinya lebih advanced, dan buat gue, lebih seruuu. dijelasin soal asuransi, cara bikin review investasi, cara ngitung kinerja reksadana, dan bisa konsultasi lagi sama planner QM. kemarin kebetulan banget gue kebagian konsul sama ex-planner  saat jadi klien, mba Titis. kita ketawa-ketiwi catching up kabar deh ujung-ujungnya.
my favorite topics kemarin itu adalah cara membaca potensi dan pergerakan pasar yang dibawain sama mas Ajo, dan of course, sesi yang dibawain Ligwina. kita diceritain tentang kondisi ekonomi dunia dan Indonesia, serta hal-hal menarik lain kayak penerapan JKN atau national health care system di Indo per Januari 2014 nanti, pembuatan daftar harta dan penunjukan ahli waris, sampai yang paling bikin gue antusias: ide Ligwina untuk bikin program volunteering di bidang financial planning. tujuannya untuk menjangkau mereka yang belum terjamah ilmu financial planning, kayak buruh pabrik, atau ibu-ibu kelas menengah ke bawah.

apalagi, yah? in terms of social life, kini lingkar pertemanan gue 'meluas' berkat adanya geng arisan ibu-ibu sekolah Bumy, trus ibu-ibu kompleks juga. thankfully, sekolah Bumy bikin semacam parents' club untuk ibu-ibu yang anaknya sekolah di situ. kegiatannya bulanan, sejauh ini udah ada acara nonton film bareng dan workshop singkat tentang brain gym. harapan gue sih, kegiatan komunitas ini bisa merambah ke kegiatan spiritual kayak ngaji bareng, dan juga kegiatan sosial.
di sisi lain, gue juga bersyukur bisa kenal sama teman-teman baru yang 'sepaham,' kayak ibu-ibu di Mommies Daily. i'm thankful for the day i wrote that email to Lita :D gue bisa dapet kesempatan berkreasi, to share my thoughts, mengasah kemampuan menulis, dan bertukar pemikiran sama ibu-ibu berpikiran maju inih.

meanwhile, the number of my closest friends remain. cara gue memaknai persahabatan aja yang berubah, sepertinya. sahabat itu gak harus update tentang kisah terbaru hidupnya secara berkala... yang penting ada komitmen untuk showing up, untuk investing in the relationship. gue juga belajar untuk lebih jadi diri sendiri dalam persahabatan... karena ternyata berbeda pendapat itu bukan dosa besar (ini breakthrough pemikiran untuk diri gue si former yes girl). malahan gue baru menyadari kalau seorang teman iya-iya aja, menyetujui aja semuaa yang lo lakukan meskipun tindakanlo itu 'jelas-jelas' melenceng, it means she or he is doing it for themselves. justru kalau dia tells it like it is atau gak selalu sependapat sama elo, they're actually doing it for you.
besides, now i think i'm too 'old' to put up with other people's bullshits... kalopun ada advice "what you should know by the time you're 30" yang bakalan gue 'beli', it's gonna be "know what you want, and don't settle for bullshits." it helps me recognizing what or whom i am comfortable with, and what or whom i don't wanna deal with.

so, in conclusion, yeah, 2013 is another year to be grateful for. meskipun gue masih sering 'kalah' dari diri sendiri untuk get out of the bed and exercise. meskipun masih sering ngomel-ngomel dan yelling ke anak. meskipun masih suka belanja impulsif. but hopefully i don't take all these blessings for granted.
"so this is the new year... and i don't feel any different
the clanking of crystal, explosions off in the distance.

so this is the new year... and i have no resolutions
for self-assigned penance, for problems with easy solutions."
("The New Year" - Death Cab for Cutie)

29/12/2013

undone


liburan natal kemarin was such a "perfect" holiday. meskipun hari minggunya kita harus rushing ke UGD KMC *dan* RSPI gara-gara gue panik bumy sesak napas akibat flu (long story... tapi ringkasannya aja udah panjang bener, bukan?), tapi alhamdulillah di hari-hari berikutnya kita bisa santai dan punya quality time. oiya yang nyenengin adalah (adit) udah gajian juga! hehe.
rabu pagi kita cuss pertama ke rumah eyang bumy di cengkareng. sorenya ke karawaci, untuk nginep. turned out adit and i were able to have a decent quality time as a couple during our sleepover there. which is not really a surprise, sih :P

begitu sampai di karawaci, nitipin bumy sama oma dan opa (kenyataannya: bumy dah gak mikirin emak bapaknya begitu udah di pelukan oma), kita meluncur ke the one and only, our most favorite place to be spoiled: bersih sehat. berhubung udah ada 3 bulan setelah gue terakhir dipijat sebodi, rasanya nyessss banget. kelar pijet, kita putusin untuk gak segera balik ke rumah nyokap (iyalah!). tapi mau mampir ke mol kok ya enggan... gokil bener antrian mobil yang pada mau masuk ke parkiran lippo karawaci. clueless about where else to hang out, kita mutusin sekenanya untuk nongkrong di toko buku books and beyond (dahulu "times") di seberang benton junction. yah kalo udah di toko buku, alamat gak bakal sebentar deh nongkrongnya. hampir 2 jam kita di situ. mana ujung-ujungnya kesambet setan sale akhir tahun juga. mayan deh bisa dapetin beberapa buku dengan harga yang rada gak masuk akal, hahaha. contohnya ini:

dari 180 ribu jadi 28 ribu sahajaaa.

keesokan paginya, gue dan adit kembali bingung mau nyari sarapan. udah kaya satu dekade aja pindah dari karawaci yah, padahal mah baru setahun xD akhirnya gue komando eh, ajak adit keluar dulu aja, destinasi ditentukan kemudian. ngider-ngider sebentar, akhirnya kita berenti di benton junction. seperti biasa, seperti dahulu, untuk nyarap di law's kopitiam. gue menyempatkan diri sesaat meresapi momen yang sedang dijalani; pagi akhir pekan di karawaci. gue inget baru beberapa bulan tinggal di ciganjur, ada rasa kangen sama suasana seperti begini: kemudahan mendapatkan sarapan yang 'enak' dan dengan atmosfer yang 'nyaman,' modern, dan 'terlindungi'-cita rasa khas pinggiran kota. ketenangan, oase, secangkir kopi, di minggu pagi, di tengah deru sepeda motor dan riuh kompor restoran.
tapi tepat pada saat ini, setelah setahun di ciganjur, gue sadari kalau rasa kangen itu gak lagi ada. yaah, mungkin gak bener-bener hilang sih, tapi udah gak terlalu bermakna. kini gue udah terbiasa dengan sarapan "hanya" dengan yang tersedia di kulkas dan meja makan. atau kalau lagi ingin, ke ubin atau kampung kandang; kawasan jajan yang kenyamanan dan harganya sepersepuluh benton junction, hehehe. 
our rumah udik now starts to feel very much like home. gue bahkan udah bisa menerima 'hobi' penduduk sekitar untuk bakar sampah sore-sore dan memaknainya sebagai berkah karena bisa ngusir nyamuk, hahaha.
i also feel, like, i really *like* where i am right now, condition-wise. i enjoy the seclusion of our rumah udik in ciganjur, yet i'm also glad whenever we visit karawaci. because it (karawaci) is where my roots are. to me, the town will always be defined with the comfort of my parents' house, familiarity, and friendship. alas, despite all my rage and ambitions and efforts to be an urban fella, i realize i am still just a "bocah (dari) perum" xD

seolah sarapan di law's kopitiam belum cukup untuk membuat gue 'penuh' akan kesadaran dan nostalgia, gue dan adit memutuskan untuk keliling ke kawasan pasar lama tangerang. bok, bakal lewatin bekas sma gue dong, tuh. oh high school bloody high school :')))
ketika udah ngelewatin bekas sekolah, bangunannya udah sama sekali beda. dulu mah reyot pisan, humble, kusam. sekarang udah kaya gedung. it's always a mixture of mostly-uncomfortable feelings that i get every time i reminisce about high school. gue kangen masa-masa itu, teman-teman gue itu, tapi gue TAHU semuanya gak akan pernah terulang. kalaupun someday diadain reuni, gue tau gue gak akan mendapati teman-teman gue seperti dahulu. yang tolol, carefree, or even... young. haha. 
what's so depressing about that, anyway?-satu sisi diri gue bertanya, toh, that's an inevitable fact of living.
tapi satu sisi yang lain menjawab dengan murka, "what's NOT depressing about that?!"
that's why i could relate so well with woody allen, i guess.

tiba di pasar lama, gue dan adit parkir dan menyusuri trotoar sempit yang disesaki pedagang buah, bunga, dan bahkan perlengkapan berdoa umat buddha. kita mampir sebentar di varia, karena gue mau beli pensil alis viva, haha. liat kedai bubur ayam yang terkenal enak itu, tukang es podeng yang legendaris, dan pedagang babi panggang. gue dan adit akhirnya berjalan lagi ke mobil sambil menenteng dua plastik isi buah-buahan. lalu, kita ke toko es kode yang juga terkenal di kawasan "chinatown" situ. ah, i really loved it there. kota tangerang, teman-teman berlogat sewan, akan selalu kukenang, hahahha.
anyway, i didn't take any picture during the visit to pasar lama. eventhough the place held a handful varieties of colors :7 i just didn't think it was practical to flash my phone here and there. so here are some totally irrelevant pictures i snapped last week.

i was desperately trying to keep the little man busy... obviously. otherwise, what reason did i make a selfie for?

decided to fill my saturday morning with some bookshelf-rearranging activity. and these are simply my best of the best.

from where we got inspiration to name the kid "bumi"

sunday afternoon at the park-which-name-i-still-couldn't-figure-out

like always.

11/12/2013

december come to me

what's not to be grateful about?

to still have both my parents around.

bintitan sembuh. ha.

the wonderful (albeit premature) surprise by husband and the kid. also the mere fact that i have them in my life.

to be surrounded by the nicest, most heartfelt people. (o dear friends, you know who you are.)

our 6th year anniversary. ("and it looks like / we might've made it ?")

and last but definitely not least, for the chance to fulfill my dreams, to do what i love, and to expand my life into ongoing, boundless joy.







07/12/2013

a loong weekend (and story) on december


akhir pekan kemarin rasanya panjaaang, deh. adit cuti dari jumat sampai rabu soalnyaa. 
agenda utama kita untuk mengisi cuti adalah perpanjang sim. hh… gak asik bener.

jumat pagi, kita ngantar bumy sekolah. sebenernya hari itu jadwal bumy menceritakan kisah hidupnya di kelas. ini kegiatan wajib di sekolahnya untuk anak yang berulang tahun di bulan yang sedang berjalan. sebelumnya, gue udah nyerahin foto-foto bumy dari baru lahir, usia 1, 2, 3, dan 4 tahun, juga cerita singkat tentang kelahiran bumy, kebisaan dan hal-hal unik pada tahun demi tahun usianya. cerita dan foto-foto itu nantinya dijadikan buku sama kakak guru, untuk nanti diceritain oleh bumy dan mamanya. 
di sekolahnya, gak boleh ada perayaan ultah. gak boleh bawa goody bag atau makanan. sebagai gantinya, kita disuruh cerita kisah hidup anak dan membawa pohon untuk ditanam di sekolah. suki bener gue sama kebijakan ini! :D

tapi, berhubung mau perpanjang sim, jadi kita minta izin supaya sesi cerita kisah hidupnya ditunda. gue dan adit lalu naro mobil di stasiun lenteng agung, dan naik kereta ke kalibata. udah lama gak naik krl, ternyata udah lumayan banyak perbaikannya ya. beli tiketnya udah pake kartu elektrik, jadi masuk dan keluarnya gak sembarangan kayak dulu. kondisi keretanya juga lebih baik. trus udah dikasih banyak petunjuk dan signage seputar info rute krl. 

to cut long story short, ternyata gue gak bisa perpanjang sim di situ karena ktp gue produksi kabupaten tangerang. zzz. 
dari kalibata, kita buru-buru jemput bumy di sekolah, lalu cus ke cinere untuk maksi. kita mampir juga di ace dan informa cinere. ternyata lagi ada program tanam seribu pohon gitu. kalau belanja  minimal 200 ribu, kita dapet bibit pohon. pilihannya ada nangka, sirsak, pepaya california, mangga, dll. bibitnya bukan masih berupa biji loh, tapi udah ada batang dan daun-daunnya (baru tau itu disebutnya "bibit").

sabtu, kelar olahraga bersama ibu-ibu kompleks (LOL… latihannya belly dance pula), kita ke daan mogot dengan harapan bisa perpanjang sim di situ. setelah bermacet-macet di tengah panas terik, sampe juga di daan mogot, tapi hanya untuk mendapatkan lagi-lagi penolakan. sim gue ternyata harus diperpanjang di TIGARAKSA ajeee bo. 

weslah, nyerah. kita putusin ke alsut aja buat ngadem. di situ, kita makan pisang ijo (nyemm), nonton "Frozen" (lucu amat ini film! lagu-lagunya bagus, olaf bikin ngakak, and in the end i cried like i always do everytime i watch disney movies), lanjut ngemil makan eskrim rotinya gentong. 
dari alsut, kita mampir di mrican sebentar buat minjem piring dan pecah-belah lain. di situ, ngemil es-esan lagi, kali ini es teler oyen. kembung kembung dah. 

nyem
minggu, kita ke tempat wisata rakyat deket rumah: ragunan. kali ini agendanya sepedahan. berhubung cuma punya sepeda satu, gue nyewa sepeda, deh. cuma 10 ribu per jam. 
tapi aseli beta ngos-ngosan! mana di ragunan rutenya baik-turun. jadinya keseringan berhenti buat benerin napas -___-


mereka aja deh yang pose, gue udah sibuk nuntun sepeda

baru tau ada danau di ragunan #kamse


minggu sore, kita kondangan ke taman mini, bareng kiti juga. kelar kondangan, malah nyari makan, akhirnya nyangkut di burger grill depok. udah bingung malem-malem mau nyari makan di manah. 

awalnya si koala rapi jali begini, meski gak mau bergaya pas difoto

senin, keluar rumahnya buat nganter bumy sekolah dan les aja. 
selasa, keinget agenda utama cuti, kita putuskan untuk cus ke tigaraksa. udahlah jauh beneer, nyari kantor polresnya juga susah. eeeh pas udah ketemu jalannya, ternyata lagi ada demo buruh dan mereka nutup jalan T____T akhirnya kita lewat jalan-jalan kampung…. begitu akhirnya sampe di polres, tau apaaaaa? pelayanan perpanjangan simnya udah TUTUP sejak jam SETENGAH DUA BELAS. astaghfirullah. mau nangis tapi airmata rasanya dah kering (drama!). gue dan adit malah ngakak kaya orgil di parkiran polres. kita sampe situ jam setengah satu ajaa padahal x)))

pas mau pulang, ketemu polisi di jalan dan disuruh puter balik. karena massa buruh udah nutup akses keluar dari situ. sok lah kita muteeerrr ke arah serpong. ada kali dua jam di jalan… dan itu juga baru sampe serpong. sampe rumah, bodi dan mood udah lecek selecek-leceknya. 

rabu, kita kelayapan ke mayestik. horeee… rinduku lunas. ngebakmi boy, trus keliling-keliling. dapet ginian nih:


yo wes, tuntas juga cuti lima harinya adit. tadi malem, pas dia bilang "besok papa udah masuk kerja yaa," bumy dan gue teriak, "jangaaaan, papa jangan kerjaaa!" 
yah moga-moga ada waktunya kita bisa puas seneng-seneng bertiga lagi sepanjang hari kerja. kalo bikin warung bisa kali ye? tapi kudu punya pegawai dong, biar bisa ke mana-mana bertiga terus? yak #panjang deh…. 

berikut "cinderamata" weekend panjang kemarin,

so the pretty plates went to the wall
dikirimin bundanya naya. dua-duanya belum mandi tuh!

handmade abes



pendatang baru rumah kami, gue kasih nama "betty" karena mirip sama kucing gue dulu si betty cordelia abuba. tapi bumy memutuskan nama lengkap doi menjadi "betty mobil jaguar." -__-

"ma, bumy lagi pacaran nih sama betty!" -______-




05/12/2013

selalu suka (sehabis) hujan di bulan desember


hello, december! my favorite month of the year, hehehe. 
sedari kecil gue suka bulan ini. selain karena bulan kelahiran, juga karena bulan ini seringnya hujan. hobi gue sejak kecil selain bersepeda keliling kampung sampai kulit legam, ya mandi ujan. 
beberapa waktu lalu adek gue bilang, "bi masih inget banget, kalo ujan, kakak langsung lari keluar trus ujan-ujanan." dengan ekspresi begini doi ngomongnya: -____-
bener banget, gue masih ingat dengan jelas perasaan girang di diri-versi-kanak-kanak kalau hujan udah turun. apalagi kalau hujannya deras! waah, basah-basahan di tengah gemuruh hujan tuh rasanya menyenangkan banget. 

funny though, i don't remember when i stopped doing that. 
or more precisely, why? hehe.

ujan-ujanan terakhir yang bisa gue recall adalah pas kuliah. yeah, di binus kemanggisan, salah satu red zone kemacetan di jakarta barat (menuliskannya aja udah kebayang bau knalpot angkot). waktu itu gue abis kuliah sore, dan selesai jam 7 malem. rute pulang gue adalah ngangkot dari kampus ke kebon jeruk. abis itu baru ngebis ke karawaci. 
tapi malam itu, entah kenapa gue lagi maleus nerusin perjalanan dengan ganti angkot, jadi dari pertigaan relasi sampai ke jalan raya perjuangan, gue jalan di bawah hujan. dingin, gelap, dan harus waspada menghindari trotoar yang bolong, but i felt so… peaceful, i think. 
fufu… such a hopeless romantic :)) 

selain momen-momen mandi hujan, hal lain yang selalu tiba-tiba muncul di ingatan dan bikin kangen adalah kenangan ngeband di rumah temen gue di bsd waktu sma. i remember watching the rain fall from my friend's room on the second floor, and noticing how beautiful and perfect the view was. daun-daun pohon seolah berkilau karena basah. udara agak berkabut. dan gue sedang berada di tengah kehangatan, di antara hal-hal yang gue cintai dan membuat gue merasa aman: musik, dan kawan-kawan. 

beberapa tahun ini, tepatnya setelah jadi kacung korporat, gue nggak begitu gembira menyambut hujan. sedihnya begitu. karena gue harus commuting, dan kondisi lalu-lintas jakarta yang busuk.
hujan malah dikeluhkan, bahkan diharapkan tak usah datang :( 

tapi sekarang, setelah bisa melepas status sebagai pekerja, gue kembali bisa menikmati hujan. emang sih, gue belum bisa hujan-hujanan lagi dengan riang gembira seperti masih kecil dulu. tapi hati ini udah kembali hangat dan bersyukur saat hujan turun. 
kalau siang-siang hujan, gue bisa meringkuk di atas kasur dan kruntelan sama bumy di bawah selimut. 
kalau hujan turun sampai sore, kita akan mendekam di dalam rumah. dia ngeteh, gue minum kopi. gue ketak-ketik di laptop, dia sibuk coret-coret kertas. mendengarkan "make you feel my love," lalu "cahaya harapan impian karunia angkasa raya" yang endah bersahaja. 
kayak sekarang. 

oh terima kasih, hujan. untuk mengingatkan bahwa kebahagiaan tercipta dari saat-saat sederhana seperti ini. untuk melatari banyak kenangan indah dan kadang, memungkinkannya terulang. 

<3

from postsecret.com

01/12/2013

confession of an intense weekender

Menyiasati Budget Akhir Pekan


by vanshe — Monday, November 25th, 2013 at 7:30 am

 
Kalau sudah menyebut kata-kata “weekend” atau “akhir pekan,” baik saat masih bekerja atau sudah jadi ibu rumah tangga seperti sekarang, saya selalu excited. Saya kira saat sudah tidak jadi pegawai kantoran, saya akan biasa-biasa saja menghadapi weekend. Karena toh sehari-hari juga sudah “libur.” Tapi ternyata, excitement (alias kenorakan, hehehe) saya sama saja, tuh. I’m sure you Mommies know why.
Akhir pekan adalah saat kami sekeluarga bisa puas menikmati quality time.
Seperti yang saya tulis di sini, jika menyangkut quality time, kadang yang terpenting bukanlah ke mana atau melakukan apa, tapi bersama siapa. Kadang hal-hal sesederhana tidur siang bertiga bisa membuat ‘tangki’ kebersamaan kembali terisi penuh. Tapi, kadang karena terlena dengan semangat beraktivitas bersama saat akhir pekan, pengeluaran juga bisa menjadi kurang terkontrol.
Sudah sejak pacaran, saya dan suami memiliki pos pengeluaran untuk digunakan saat akhir pekan. Kalau dulu, sih, tujuannya untuk jadi budget pacaran. Tapi sekarang, pos yang juga kami sebut “Weekend Budget” itu digunakan untuk membiayai kegiatan keluarga kami bersenang-senang, bersantai, atau jalan-jalan selama akhir pekan.
Kenapa pos ini dipisah dari pos pengeluaran lainnya? Karena pengeluaran saat weekend biasanya jauh lebih besar dibanding hari-hari lain. Dari segi frekuensi eating out, misalnya. Kalau sehari-hari kami eating in tiga kali sehari, saat weekend, biasanya kami makan dengan membeli jadi atau makan di mall. Selain itu, kegiatan yang dilakukan saat weekend juga lebih ‘niat,’ seperti berwisata ke luar kota, mengajak Bumy main ke playground atau event tertentu, dan sebagainya.


Pada saat menentukan besaran anggaran weekend, saya dan suami menetapkan nominal X sebagai angka budget mingguan. Angka X itu tidak berubah hingga kini kami telah pindah tempat tinggal.

Namun belakangan ini, saya perhatikan anggaran weekend kami seringkali ‘melar’ dari seharusnya. Yang tidak kami sadari adalah bahwa perubahan tempat tinggal ternyata berpengaruh pada pengeluaran yang kami buat saat weekend.


Kalau dulu kami masih sering mampir ke Rumah Oma untuk leyeh-leyeh saat weekend (dan ujung-ujungnya numpang makan, yang berarti menghemat biaya eating out :D), sekarang ini kami justru memanfaatkan momen kebersamaan Bumy dengan Oma untuk pacaran (yang berarti more eating out).

Setelah duduk bareng dengan suami untuk membahas ‘kebocoran’ “Weekend Budget,” ini yang kami lakukan:

1. Kami mem-break down kegiatan saat weekend, lalu merinci pengeluaran yang dibuat. Tujuannya adalah untuk menemukan titik-titik kebocoran budget.

Dari sini, kami dapat menyimpulkan bahwa, selain tidak menyadari berubahnya bentuk spending kami setelah pindah, penyebab kebocoran adalah karena kami tidak punya skenario atau rencana untuk mengisi weekend dengan kegiatan apa. Ini membuat kegiatan maupun pengeluaran yang kami buat sifatnya impulsif. Akibatnya, porsi eating out menjadi lebih besar, biaya untuk jalan-jalan juga tidak disiapkan sebelum menyusun budget.

2. Mencari cari untuk menyiasati agar pengeluaran bisa sesuai dengan budget. Atau membuat penyesuaian yang masuk akal pada budget kami, bila memang perlu.
We came up with an idea. Kami mencoba membuat skenario untuk kegiatan weekend kami, dengan memberikan tema yang berbeda tiap minggu. Begini hasilnya,
Minggu 1.
Tema : Ke Rumah Oma.
Kegiatan : Menginap di Rumah Oma, Bumy having quality time with Oma, papa-mama having quality time together, hehe.

Skenario pengeluaran: Eating out selama di luar rumah (Oma), dan ‘biaya’ kencan (maybe we would go to the movies, or maybe we would have our date at a family massage parlor. Who knows? Yang penting biayanya sudah diperhitungkan ;).)


Minggu 2.

Tema : Staycation. Berkegiatan di sekitar rumah saja.

Kegiatan : Meskipun “tidak ke mana-mana,” pilihan kegiatannya banyak sekali, lho. Bisa beberes rumah bersama-sama, olahraga bareng, crafting, baking (ini bukan spesialisasi Mama saja, tapi bisa dilakukan bersama-sama), camping di halaman rumah, nonton DVD, atau main board games (berapa tahun lalu Mommies terakhir main monopoli? Ular tangga? Atau congklak?). Kita juga bisa mengundang teman-teman atau keluarga terdekat untuk bersilaturahmi ke rumah untuk mengadakan potluck, misalnya.

Skenario pengeluaran: Bolehlah dianggarkan untuk memesan makanan spesial yang diantar ke rumah, atau membeli es krim berukuran large bucket, hehe.


Minggu 3.

Tema : Enjoy Jakarta. Atau kota-kota satelitnya, BoDeTaBek.

Kegiatan : Bisa ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi bersama-sama, seperti museum, pasar tradisional, pasar tanaman hias, galeri, atau green kampongs. Mencoba transportasi publik. Menghadiri event tertentu yang bisa dicek melalui akun Twitter yang memuat informasi kegiatan di Jakarta dan sekitarnya.
Skenario pengeluaran : Biaya transportasi, tiket masuk, dan eating out selama di tempat berkegiatan.
Minggu 4.
Tema : Mengajak Bumy ke playground atau waterpark. Sebisa mungkin yang tidak berada di dalam mall.
Kegiatan : Ada banyak playground yang bisa dicoba, misalnya di dekat rumah saya, ada playground yang baru dibuka dan harganya sangat terjangkau. Taman-taman di wilayah Jakarta juga sudah banyak yang dibenahi dan nyaman untuk dikunjungi, lho, Mommies. Beberapa malah menyediakan sarana dan alat-alat bermain untuk anak-anak.

Skenario pengeluaran: Budget untuk ke playground.
Kalau diperhatikan, saya tidak menyelipkan agenda khusus ke mall, ya, Mommies? :D


Selama menyusun skenario weekend ini, saya teringat sekaligus terinspirasi oleh cerita dari beberapa orang ibu. Pertama dari rekan orangtua murid di sekolah Bumy yang pernah berbagi tentang kegiatan keluarganya saat weekend. Beliau pernah sambil lalu berkata, “Kalau hari libur, kita serumah kerja bakti. Beberes rumah, nyuci mobil, nyabutin rumput. Lumayanlah biar hemat. Anak-anak juga udah seneng banget diajak cuci mobil sama papanya, jadi gak usah mahal-mahal ke game arcades di mall.”


Ini berbeda dengan cerita eks-rekan kerja yang juga seorang ibu, sebut saja Bu Nana. Bu Nana pernah mengeluhkan, “Ternyata kalau dihitung-hitung, biaya ngajak anak-anak ke mall saat weekend, tuh, mahal juga, ya. Anak-anakku hobinya main di game arcades, belum lagi untuk makan di restoran dan belanja-belanja.”


Kebetulan, saya juga baru menyaksikan acara yang menampilkan Ligwina Hananto sang perencana keuangan di televisi. Beliau membahas tentang mengajak pasangan dan juga anak-anak untuk menjadi price-sensitive. Caranya adalah dengan menganalisa kebiasaan spending dan gaya hidup kita. Jika biasanya kita dan keluarga makan di tempat A dengan harga sekian, mungkin di tempat B bisa mendapat makanan yang sama tapi dengan harga yang lebih murah. Diharapkan dari situ, kita bisa menyadari apakah selama ini gaya kita “sok kaya” hihihi, atau apakah gaya hidup dan pengeluaran kita sudah sesuai dengan pendapatan kita.
  

Berkat bahasan ini, saya terinspirasi untuk menelaah kembali kebiasaan spending kami saat weekend. Karena seperti Ligwina bilang, mahal-murah itu relatif. Pilihan untuk menghabiskan uang kita dengan cara apa ada di tangan kita sendiri. Terlebih jika dikaitkan dengan mencontohkan kebiasaan spending yang baik pada anak. Tentunya saya ingin agar anak-anak saya kelak bisa menggunakan uangnya dengan bijak.

Selain itu, kami juga merasakan manfaat lain dari “metode” baru kami dalam menyiasati anggaran weekend ini, yaitu bertambahnya kreativitas dalam mencari kegiatan yang menyenangkan, bisa memperkaya quality time, sekaligus frugal.


Sharing yuk, Mommies, apa saja kegiatan ‘alternatif’ saat weekend yang bisa saya dan Mommies lain contek? ;)