24/10/2011

untitled #26

my kid now:
- hums song's tune (biasanya "bintang kejora") and other self-invented tunes when he's alone playing, or sitting on the carseat while 'enjoying' the scenery... haha kocak liatnya.

- is really improving his ability to be my and adit's "teacher." i read #obsat's twits about @iburobin who is a midwife and introduces this whole 'new' concept about gentle birth, aware parenting, and the likes. the twit goes like this: @HanitaNitnut: Ibu Robin..how can u manage 8 children amazingly, while I'm overwhelmed with only 2? | "simple dear, just remember that they are our teachers." i read this with an awe.... now i can understand (and truthfully, do my best to comprehend) bumy's "challenging" attitude. he is teaching us to be patient. he is teaching us to be terrific parents. he is teaching us about unconditional love.

at times i think those parenting experts surely don't call this phase "challenging two" for no reason. bumy would throw tantrums for little matters, yell at us when he dislikes something, pull my hair and then giggles when i tell him it's wrong (with a galak facial expression). i try my best to keep in mind: he is testing to know our reaction, and he is learning to communicate his needs. i'm certainly not perfect in being such a zen mom, but i do try and try and try . :D

- sometimes kisses me out of the blue, and boy, that makes me jump out with joy :D one night, i teased him with "cium mama dulu dong sebelum bobok," and he immediately kissed my cheek with a loud "muwahh." i thought that was it, but it turns out he was to shower me with kisses. he kissed my face for like nine times and it was "muwah! muwah! muwah!" hereby i tag it as one of those golden moments as a mom, heheh.

- voluntarily sits in his carseat everytime he's in the car. i'm glad i could make adit cooperates on this.

- is still being breastfed *seka peluh* there are nights when i still have to wake up up to 5 times because he demands to be breasfed.

- starts to call bigger kids "teman" instead of "kakak." and now he calls babies with "dedek."

- demands to be read aloud when he finds a book. he would give me the book, sit on my lap, and would not set me free until i finished reading the whole book. this is good, right? considering he's being stuffed with non-stop tv in my mother's house during weekdays.

*a working mother's melancholy on a monday morning*

20/10/2011

untitled #20

i look at my boss who just spent her night sleeping at the office for the nth time. i can't help not to wonder when was the last time she sees her children.... it disturbs me to know that i'm dealing with a workaholic on daily basis. and she's a woman. randomly i browsed some info regarding workaholism on the internet, and i found this:

"...He says that the spouses and children of workaholics grow feeling isolated and lonely, because of the vacant relationships caused by their workaholic parents. Children of workaholics, he says, continue to carry those feelings in to their adulthood." from here.

all of a sudden i feel regret and guilt for having brought my work home and ignore bumy when i was busily trying to get my tasks done. God, please give me strength to have balance with these roles You bestow upon me....

12/10/2011

our children will be next

"...Only 600 miles to the south, there's a vast city. And here you find civilized man. Civilized man refused to adapt himself to his environment; instead, he adapted his environment to suit him. So he built cities, roads, vehicles, machinery, and he put up power lines to run his labour-saving devices. But somehow he didn't know where to stop. The more he improved his surroundings to make life easier, the more complicated he made it.
So now his children are sentenced to 10-15 years of school, just to learn how to survive in this complex and hazardous habitat they were born into. And civilized man, who refused to adapt to his surroundings, now finds he has to adapt and re-adapt every hour of the day to his self-created environment. For instance, if it's Monday and 7:30 comes up, you have to dis-adapt from your domestic surroundings and re-adapt yourself to an entirely different environment. 8:00 means everybody has to look busy. 10:30 means you can stop looking busy for 15 minutes. And then you have to look busy again.
And so your day is chopped into pieces, and in each segment of time you adapt to a new set circumstances. No wonder some people go off the rails a bit...


But in the Kalahari, it's always Tuesday, or Thursday if you like, or Sunday. No clocks or calendars tell you to do this or that.
"

From The Gods Must Be Crazy (1981) :D

15/09/2011

morning bell

berawal dari keluhan mutual gue dan adit di tengah kemacetan, "susah amat sih kita bangun pagi?!" karena untuk kesekian kalinya kita telat bangun dan berdampak terjebak in routine traffic jam madness kota jakarta. kebetulan sehari sebelumnya gue baru membeli buku "Allah Maha Pemurah Maka Engkau Gampang Menikah" oleh Ustadz Yusuf Mansur. tak disangka-sangka, gue menemukan bagian yang sukses membuat gue mewek sampai gak bisa membacakannya buat adit tanpa membuat suara jadi ciut dan berulang-ulang menyeka sudut mata :')

"Ketika saya jalan-jalan ke toko buku di kawasan Senen, saya membaca sebuah puisi yang membuat air mata saya menetes. Ada sebuah tulisan yang sangat menggugah hati saya.

'Alangkah nikmatnya orang yang bisa bangun pagi. Betapa bahagianya orang-orang yang bisa melihat fajar. Betapa bahagianya orang-orang yang bisa melangkah shalat subuh ke masjid, menghirup udara segar, merasakan desiran angin, merasakan segarnya udara pagi. Betapa indahnya kubayangkan, ketika tangan kanan menuntun istri dan tangan kiri menuntun anak. Betapa enaknya seorang ayah yang bisa bercanda bersama anaknya ke mesjid.'

Ternyata, tulisan itu dibuat oleh seorang ayah yang sudah 15 tahun merindukan kehadiran seorang anak. Ya Allah, dia yang tidak punya anak saja bisa membayangkan hal itu, sedangkan saya yang punya anak tidak pernah membawa anak saya shalat subuh ke mesjid."

*sniffs*
*counts my blessing*

12/09/2011

Cita-cita

Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja:
ingin sampai rumah saat senja supaya saya
dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela.

Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk,
uang makin banyak maunya, jalanan macet, akhirnya
pulang terlambat. Seperti turis lokal saja, singgah
menginap di rumah sendiri buat sekedar melepas penat.

Terberkatilah waktu yang dengan tekun dan sabar
membangun sengkarut tubuhku menjadi rumah besar
yang ditunggui seorang ibu. Ibuwaktu berbisik mesra,
“Sudah kubuatkan sarang senja di bujur barat tubuhmu.
Senja sedang berhangat-hangat di dalam sarangnya.”

(2003)
Sajak Joko Pinurbo

25/08/2011

the house


tempat ini adalah "love nest" ke-dua gue dan adit. 

rumah pertama kita adalah rumah pinjaman dari nyokap gue. lokasinya di karawaci, nggak jauh dari rumah nyokap. begitu gue hamil, kita jadi mendamba punya rumah sendiri, terutama rumah yang letaknya nggak di pinggir jalan dan bentuknya cluster. sebelum hamil sih emang udah punya cita-cita punya rumah sendiri, tapi kondisi expecting baby membuat kita makin terpacu. rumah pinjaman itu letaknya di jalan utama yang ramai dan berisik, dari segi keamanan juga 'kurang' karena posisinya nggak secluded (meski alhamdulillah kita sering lupa ngunci pintu rumah tapi barang-barang aman).

nggak lama, cita-cita kami mendapat jalan. nggak jauh dari rumah pinjaman, kita menemukan sebuah cluster kecil yang terdiri dari 50 rumah saja. suasana di situ tenaaang banget, karena kondisinya yang 'tertutup.' lucunya, asman gue di kantor ternyata punya saudara yang tinggal di cluster tersebut. dia lantas memberikan info bahwa ada satu rumah yang dijual, tapi pemiliknya maju mundur terus, begitu udah ditawar eh dia batalin. 
adit lantas mulai 'bergerilya' ngumpulin info rumah yang kabarnya mau dijual itu. dia mencoba nongkrong di pos satpam cluster itu, dan menggali info cara mengontak si empunya rumah (kondisi rumah saat itu dikontrakkan ke orang yang bekerja sebagai tour guide, so he's away most of the time). to cut a story short, we got the house after a couple of months process. kalau diingat-ingat sekarang, banyak juga obstacle sampai akhirnya rumah tersebut resmi jadi milik kami. tapi alhamdulillah, banyak juga solusi dari arah yang tidak disangka-sangka. sebut aja, DP untuk pembelian dipinjemin nyokap (an extremely soft loan it was), bos adit setuju memberikan ijin deviasi untuk fasilitas KPR (seharusnya kerja 5 tahun dulu baru bisa ngutang rumah), dan dengan perjuangan yang berat menghadapi si pemilik rumah yang... let's say ababil to the max dan jenis manusia yang "langka" (believe me, this is an euphemism), alhamdulillah kami bisa menempati si rumah impian. 

tapi emang bener deh kalau manusia itu gampang lupa dan pinter nyari-nyari kejelekan untuk dikeluhkan (bawa-bawa nama umat manusia untuk menutupi keburukan diri, huhu). sebelum pindah, gue sama sekali nggak pernah memasuki rumah itu. jadilah pas udah masuk, gue terkaget-kaget. kondisinya perlu banyak (bangettt!) perbaikan, dan luasnya juga kurang dibanding rumah pinjaman nyokap. i know, i was ignorant about the house selama proses pembelian (maklum baru punya orok :P), i was so naive to expect the condition when we were about to move in was at least resembled our previous house. ternyata, kami perlu merenovasi toiletnya dulu (besar-besaran *sigh*), perlu memberesi kebocoran di bagian belakang rumah, ngecat di sana-sini, merapikan halaman, taman, and so on and so on. 
setelah semua usaha perbaikan itu selesai, we were left kinda bankrupt (hehe) and still not quite satisfied with the house. to be honest, i was the one who's always complaining. harus gue akui bahwa sebelumnya gue keenakan tinggal di rumah yang udah difasilitasi nyokap gue. pas pindah, kondisinya udah nyaman dan layak karena emang udah direnovasi. terlebih gue nggak perlu keluar duit untuk urusan renovasi. nah di rumah baru ini, udahlah keluar duit (yang menurut gue) banyak, tapi tetep aja masih nggak puas dengan hasilnya. boro-boro deh kepikiran dan punya budget untuk bikin kitchen set apalagi bedroom set, merenovasi 'seadanya' aja udah bikin kantong ngos-ngosan. kita, oh well gue, jadi tau kalo beli rumah tuh bukan cuma perlu uang DP, tapi juga biaya notaris, BPHTB (untungnya didiskon karena fasilitas karyawan), asuransi rumah, endebre endebre. 

tahun ini, alhamdulillah kita tergerak dan punya rejeki untuk mengganti warna cat rumah. i like the color, lebih kalem, dan memberikan suasana yang lebih cerah. gue dengan spontan bilang ke adit, "rumah ini 'dibenerin' sedikit aja tapi jadi terasa lebih nyaman ya bi," kebetulan hari itu jumat, adit bilang dia jadi inget isi khotbah yang baru dia dengar. 
"Nabi Muhammad SAW dulu tuh lantai rumahnya dari tanah doang loh beb. tapi beliau berkata 'baiti jannati,' rumahku surgaku. jadi rumah itu nggak harus mewah untuk nyaman ditinggali, tapi lebih ke rasa syukur yang menempati." 
ealahh tumben suami eike bijaksana kekeke... tapi mau nggak mau gue jadi tersentil mendengarnya. semoga kami diberkati dengan rasa syukur yang melimpah, ya Tuhanku.... 

anyways i'd like to share some shoots from our humble love nest. the pictures are before the 'makeover', so let me remind you they're uber-humble, hehehe. biarpun demikian, tapi udah beberapa kali ditawar orang loh... hihihi, mungkin karena kondisi clusternya yang, seperti gue sebut tadi, tenang dan secluded. kali aja ada yang tertarik jadi tetangga gue ;D you are so welcome (masih ada satu rumah tuh yang dijual). 


03/08/2011

untitled #53

selintas dokumentasi hari:
- tadi pagi ada talkshow QM di hardrock, tapi yang ngisi Fitri Noeriman. tema yang dibawakan adalah basic financial planning. ada satu kalimat yang gue suka banget, mungkin karena gue merasakan banget pesan di kalimat itu: "Dari kecil, kita cuma diajarkan gimana menabung dan berhemat, tapi tidak tentang bagaimana membelanjakan uang dengan bijak." bener banget deh! selanjutnya dia paparkan bahwa karena itulah begitu kita megang duit sendiri, some of us jadi foya-foya karena bingung duitnya mau diapain. hahaha... duit, mau dipegang atau ditaruh di atm, kalau nggak jelas peruntukkannya, jadinya nyampur aja gitu. gue jadi teringat quote yang gue sebut di blgopost sebelumnya tentang uang yang nyampur-nyampur bagaikan air. padahal seharusnya air tuh kita pisahkan, mana yang buat minum, mana yang buat cebok :D
semoga Bumy dapat edukasi yang penting itu yah... lebih baik lagi kalau dapatnya dari gue!
- ceramah di tvone yang gue dengar sore ini menarik, tapi berhubung gue nontonnya dari kejauhan (kita-kita 6 meter deh), gue nggak tau siapa nama ustadznya, atau bahkan judul ceramahnya. yang jelas, temanya adalah tentang rezeki. gue mulai memperhatikan ceramahnya ketika ada pertanyaan "kenapa kok ada orang beriman yang miskin, sementara ada orang kafir yang kaya raya?" jawaban si ustadz bagus deh menurut gue. dia bilang (disclaimer: agak gue dramatisir ya jawabannya, hihi), "kalau ada orang kafir loncat dari lantai 12 pakai parasut, dan orang beriman loncat juga tanpa parasut, kira-kira siapa yang mati? lagipula, rezeki itu bukan cuma berupa materi, tapi bisa juga berupa kenikmatan ibadah. kalau ada orang yang ngomong, 'ah gue nggak sholat tapi dapat jabatan oke tuh.'
coba kita lihat dari sudut pandang yang lain: memang dari segi materi dia mendapat kelimpahan, tapi apakah dia merasakan manisnya ibadah? apa dia merasakan nikmatnya bangun dan bersujud di sepertiga malam? apa dia bisa mengucurkan airmata ketika berdoa kepada Allah?"
duh... duh T_T
- berkat meminjam majalah cleo si debi, gue jadi tau film "one day" sudah beredar. tapi kurang jelas juga beredarnya di indonesia berwujud film bioskop atau dvd (bajakan). i hope anne hathaway would do justice to emma morley's character!