21/12/2014

words aptly spoken

"We have taller buildings but shorter tempers; wider freeways but narrower viewpoints; we spend more but have less; we buy more but enjoy it less; we have bigger houses and smaller families; more conveniences, yet less time; we have more degrees but less sense; more knowledge but less judgment; more experts, yet more problems; we have more gadgets but less satisfaction; more medicine, yet less wellness; we take more vitamins but see fewer results. 

We drink too much; smoke too much; spend too recklessly; laugh too little; drive too fast; get too angry; stay up too late; get up too tired; read too seldom; watch TV too much and pray too seldom.

We have multiplied our possessions, but reduced our values; we fly in faster planes to arrive there quicker, to do less and return sooner; we sign more contracts only to realize fewer profits; we talk too much; love too seldom and lie too often. 

We've learned how to make a living, but not a life; we've added years to life, not life to years
We've been all the way to the moon and back, but have trouble crossing the street to meet the new neighbor. 
We've conquered outer space, but not inner space; we've done larger things, but not better things; we've cleaned up the air, but polluted the soul; we've split the atom, but not our prejudice; we write more, but learn less; plan more, but accomplish less; we make faster planes, but longer lines; we learned to rush, but not to wait; we have more weapons, but less peace; higher incomes, but lower morals; more parties, but less fun; more food, but less appeasement; more acquaintances, but fewer friends; more effort, but less success. 
We build more computers to hold more information, to produce more copies than ever, but have less communication; drive smaller cars that have bigger problems; build larger factories that produce less. We've become long on quantity, but short on quality.

These are the times of fast foods and slow digestion; tall men, but short character; steep in profits, but shallow relationships. 
These are the times of world peace, but domestic warfare; more leisure and less fun; higher postage, but slower mail; more kinds of food, but less nutrition. 
These are the days of two incomes, but more divorces; these quick trips, disposable diapers, cartridge living, throw-away morality, one-night stands, overweight bodies and pills that do everything from cheer, to prevent, quiet or kill. 
It is a time when there is much in the show window and nothing in the stock room."
Words by Bob Moorehead.

10/12/2014

walking after you

setelah 9 tahun bersama dan 7 tahun menikah, gue masih bertanya-tanya... tanggal anniversary kita tuh 9 apa 13 desember, sih?? 
but i'm sure this feeling is mutual, karena semalem adit menanyakan hal yang sama...
zzz, so much for a romantic commemoration. 

but, really, i'm glad we've gone this far. we are a weird and a bit nonsensical combination - me being "complicated," him being "basic". but if i have to be extremely honest, i know from day one that he could be the one. 
a dear friend once said a bit mean (but truthful!) thing to me, "you've got a nice thing going on here. if this got messed up, i'd know it's you." the one who screws things up, she meant -__-  
but i appreciate her for saying it. because deep down, i know it's true.... 

well, 7 tahun itu bisa dibilang lama, sih. diukur bukan dengan patokan siapa-siapa, melainkan kondisi 'pelayaran' hubungan kita sendiri yang jadi barometer. we fight kinda a lot because both of us are stubborn dan sok tau. we strive to maintain this 'ship' afloat, and we've got many challenges ahead.
also, God knows that we're not perfect parents. but here we are, still sailing. 
alhamdulillah, and may God help us. ^___^

anyways, nggak ada kencan khusus untuk memperingati dan semacamnya. now i'm sitting in a starbucks and this song is suddenly played on my iTunes. udah lama banget gue nggak dengar lagu ini, ternyata masih semanis dan seindah biasanya. tapi kali ini, tau-tau, kok jadi inget sama mitra hidup, ya? apa gara-gara kata-kata "Things just won't do without you, matter of fact?" 
dan mungkin juga karena bikin teringat sama tulisan gue beberapa (puluh) tahun lalu...


"jangan pernah pergi. aku jauh lebih suka diriku sejak kau putuskan membopongku beserta sekwintal beban beratku dan tersenyum setiap kali aku mendesah bosan dan ingin dibuang saja dari dunia. kau dan ketekunanmu mengipasi lepuhan-lepuhan di kakiku, membuatku bisa memandang mereka dan tersadar bahwa pilihanku hanyalah mengobati.
saat malam, kau akan segera lelap hanya setelah semenit berbaring, aku tak pernah bisa. kuhabiskan kantuk untuk memandangimu dan terlalu tergugu tak bisa memutuskan apakah kau memang bermental malaikat atau cuma dungu. pagi terlalu cepat datang lagi dan langsung membuatku silau dengan penyesalan karena membuang-buang malam untuk main teka-teki sampai tak memelukmu sesering biasanya. kau tak kenal lelah, akan merayu sambil mengacak-acak rambutku untuk segera mulai berjalan lagi.
sepanjang hari, saat mendaki ataupun tertatih menurun, aku akan berceloteh tentang apa saja. kalau matahari begitu terik, begitu sering aku memaki, menangis, dan memukul-mukul punggungmu yang berkeringat. kau tak menghiraukan rasa laparmu dan rewelnya bayi besar di gendonganmu. nuraniku sesekali mengetuk-ngetuk dan membuatku ingin melangkah sendiri. tapi tentu kedua tanganmu selalu sedia memapah dan lalu akan kuseka dahimu yang basah kuyup.
karenanya, teruslah di sini. kaki-kaki ini belum lagi kuat menapaki hidup yang terus berguncang bak koantas dan bertaburan begitu banyak ranjau darat. aku berjanji senantiasa membuka mata untuk ketulusanmu dan belajar dari itu. dan semoga akan datang juga suatu hari di mana aku akan berjalan di sampingmu dan kau hanya akan perlu menggandeng satu tanganku." 

(titled "jusqu'a la fin" or "until the end.")

i'm on his back. atau mungkin lebih tepatnya, being carried on his back. hehehe. semoga dia nggak gampang kecapekan; tetap bersabar mendengar rengekan dan ngajarin gue berjalan. 




09/12/2014

sleep well with a seahorse

Tanggal 27 November 2014 lalu, gue diajak Mommies Daily ikutan acara “Peluncuran Fisher-Price Soothe & Glow Seahorse™.” Sekilas info yang gue tahu waktu itu, Soothe & Glow Seahorse™ ini mainan yang bisa membantu ibu-ibu dalam menidurkan anaknya. Gue aware sih, kalau kadang emang diperluin trik khusus supaya anak jadi lebih gampang tertidur. tapi bagaimana cara mainan ini membantu misi 'mulia' ibu-ibu tadi, dan kenapa anak butuh tidur yang berkualitas, ini yang pengen gue ketahui lebih lanjut. 

Kalau dari pengalaman sendiri, Bumy waktu bayi emang tergolong nggak gampang untuk ditidurkan. Apalagi pas masih newborn, alamaak... Gue inget banget orang-orang bilang "Bayi emang begitu, rewel. Tapi nanti pas udah lewat 40 hari pertama udah enggak, kok." Dan gara-gara itu gue literally menghitung hari sampai tiba di hari ke-41. Maklumlah, ibu-ibu amatir. Gue berharap entah bagaimana Bumy akan bisa tertidur pulas dengan mudah dan sentosa di malam hari, semudah menjentikkan jari.
Lalu gimana, terbuktikah 'urban legend' tersebut? Ternyata nggak sama sekali, tuh T___T anak gue tetep aja rewel kalau mau tidur malam sampai sekitar 4 bulanan.

Gue baru bisa tidur malem dengan enak ketika Bumy udah disapih, yaitu pas umurnya 2 tahun. Dia nggak lagi nyari nenen di tengah malam, palingan minta dianterin pipis. Terlebih sekarang, pas dia udah bisa tidur sendiri. Gue bukan cuma bisa menikmati tidur yang nggak kepotong-potong, tapi di kasur juga bisa lebih leluasa (tidurnyaaa, hahaha); otomatis lebih berkualitas, deh, tidur gue dan Adit. Kalau udah begini, rasanya makin berat, yah, untuk punya newborn lagi? xD

Ngomong-ngomong tidur berkualitas, di acara kemarin ternyata dikupas tuntas soal ini. Vera Itibiliana yang seorang psikolog anak, memaparkan bahwa selain nutrisi, waktu bermain, dan stimulasi yang tepat, ternyata porsi tidur yang berimbang itu juga penting supaya tumbuh-kembang anak maksimal. Kenapa begituh?
Jadi, saat anak tidur tuh terjadi sebuah proses di mana otak anak berkembang dengan pesat. Kalau kita lihat mata anak bergerak-gerak sambil tidur, nah, itu tandanya proses ini sedang terjadi, dinamakan REM (Rapid Eye Movement) Sleep atau tidur yang aktif. Saat itu, anak sedang menstimulasi dirinya sendiri.

Kebutuhan tidur anak berusia di bawah 18 bulan itu 15-18 jam per hari menurut Tracy Hogg, pengarang buku "Secrets of the Baby Whisperer" (one of my favorite parenting books inih!). Udah gitu, ternyata pola tidur anak mulai dari bayi akan berpengaruh sampai besar nanti, jadi orangtua perlu mengusahakan anak punya waktu tidur yang rutin meskipun jadwal kegiatan maupun ritme kehidupan anak berubah-ubah. Ini penting karena saat anak udah bersekolah, waktu masuk dan keluarnya 'kan pada jam-jam yang sama. 



para narasumber acara kemarin: Tan Shu Mei (Fisher-Price) - Vera Itabiliana, S.Psi, - Cathy Sharon (Brand Ambassador Fisher-Price)

Di sini, mbak Vera ngasih insight dan kiat-kiat menghadapinya, antara lain

1. Ternyata kecemasan dan stres yang dirasain ibu tuh bisa mempengaruhi anak, dan ini bisa membuat anak lebih sulit tertidur!

Menurut gue, ini menjelaskan banget problema yang gue hadapi pas Bumy masih newborn, deeh. Bawaannya emang sutris aja waktu itu; khawatir ASI nggak cukup, khawatir stok ASI perah nggak memadai padahal udah mau kembali ngantor, khawatir kalau anak cegukan terus, dan ina-inu yang bisa panjang banget kalo diurutin. Pengalaman gue dan Adit bikin Bumy tertidur tuh pernah sampai ngebawa doi ngider-ngider naik mobil jam 2 pagi. Taubaat.

2. Orangtua bisa mencoba dan mengatur waktu tidur yang tetap buat anak. Meskipun kedengarannya sulit, tapi ortu harus bersikap fleksibel agar anak bisa menemukan waktu yang tepat buat diri mereka sendiri, dengan waktu tidur yang rutin sebagai tujuan. Ini maksudnya nggak usah dipatok anak kudu udah tertidur jam sekian hanya dalam beberapa hari, tapi pelan-pelan aja kita ciptain suasana yang memudahkan anak-anak tertidur.
Caranya bisa dengan merekayasa atmosfernya; kita ajak anak masuk ke kamar, membuat ruangan menjadi redup supaya mata anak jadi rileks, mengatur suhu ruangan yang nyaman, bisa juga memainkan suara-suara yang menenangkan. Ini yang gue dan Adit lakuin. Bumy diajak masuk ke kamar sejam sebelum target waktu tidurnya, trus kita bikin rileks dengan mandi air anget dulu, dibacain cerita, trus lampu kamarnya dimatiin dan kita nyalain lampu tidur yang redup.

3. Terakhir, orangtua bisa memberikan anak semacam security object, seperti selimut kecil, bantal guling, atau soft toy yang bisa dipeluk.
Di sinilah Fisher-Price hadir menyediakan solusi. Soothe & Glow Seahorse™ ini mainan yang akan menyala serta memainkan lagu pengantar tidur dan suara laut yang menenangkan ketika diremas dengan lembut. Setelah lima menit, musik akan mati dan lampu akan redup, sehinggu membantu bayi tertidur. Hehe, mainan pintar ini. 



pic from Fisher-Price's website
Fisher-Price menganggap tidur yang cukup dan berkualitas itu penting agar perkembangan otak anak bisa maksimal. Bergerak dari situ, diadakan kontes #BayikuBobo di www.bayikubobo.com sebagai sarana para orangtua di Indonesia untuk sharing pengalaman menidurkan bayi. Cerita dan pengalaman yang dibagikan ini selain bisa jadi informasi berharga buat orangtua lain, juga bisa menjadi semacam pukpuk di bahu, nggak, sih? Like saying, "Yes, we've been through the same problem before," hehehe.

Gampang banget cara ikutannya, kita tinggal unggah foto atau video yang menggambarkan pengalaman unik ketika berusaha menidurkan si kecil. Abis itu kita share foto atau video itu di Facebook dan Twitter, dan ajak teman-teman kita untuk vote. Jangan lupa like/follow Fan Page Facebook, akun Twitter, dan juga akun Instagram Fisher Price Indonesia untuk dapatin informasi lengkap tentang kontes ini. Kita juga bisa tahu update produk-produk Fisher-Price yang mengedepankan pilar-pilar utama perkembangan anak, loh. Siap-siap ngileer sama semuanya. 


07/12/2014

thoughts on aging

Masih dalam rangkaian posting edisi "karawaci bersinar," gue sebut kalau dari sering ke sana, gue jadi bisa lebih sering 'nemenin' bokap-nyokap. Dari situ, somehow gue jadi mendapat insight seputar masa pensiun dan menjadi tua; some are in a form of warning, some other in ideas. Hal-hal random aja, sih, kayak...

a. Masa produktif itu pendek dan cepet berlalu banget, yah... 


Kalo udah pernah duduk ngebahas dana pensiun emang jadi lebih aware, sih, tapi dengan berinteraksi langsung dengan generasi baby boomers ini saat kita sendiri sedang di masa produktif, kok ya MAKIN BERASA. 
Nggak bisa dipungkiri deh, kalau kita - gue dan Adit - yang kelas menengah yang (alhamdulillah, though) di tengah-tengah banget dan berdikari ini perlu fokus menyiapkan diri secara finansial buat masa pensiun. Keputusan-keputusan terkait duit harus mempertimbangkan periode pas udah nggak produktif atau digaji lagi. Udah tau, sihh, tapi tetep aja suka 'lupa' kalo duit itu peruntukkannya BUKAN cuma buat masa kini, tapi juga masa depan...
pengennya masa pensiun bisa leha-leha gini.
tapi duit tetap ngalir! :))

Lagi-lagi alhamdulillah, bokap-nyokap kita nggak ada yang butuh bantuan kita secara finansial because of all the wise decisions they made while they were still in their productive years. They can still live their life (and lifestyle) comfortably - nggak berlebihan, tapi juga nggak kekurangan.

Gue yakin "wise decisions" mereka terkait lifestyle itu berwujud antara lain jarang ngemol, menjauhi belanja-belenji demi menyenangkan hati, eating out, serta hal-hal tersier/hedon lainnya... *uhuk!*

Keputusan-keputusan bijak dan gaya hidup 'secukupnya' yang mereka terapin itu ternyata memberikan benefit yang tak terkira, bukan cuma buat diri mereka sendiri, tapi juga buat kita, anak-anaknya. Gue pernah baca sebuah artikel QM Financial yang ngebahas "sandwich generation." Generasi ini disebut demikian karena terhimpit di tengah-tengah: perlu menghidupi anak-anaknya sambil tetap membiayai kebutuhan orangtua. 
Fenomena ini banyak dialami oleh generasi X dan Y kayak kita-kita ini. Entahlah, mungkin begitu banyak dari generasi baby boomers ini (generasi bokap-nyokap kita, maksudnya) yang belum paham perencanaan keuangan hingga menyebabkan fenomena generasi sandwich. Off topic sedikit, menurut gue program OJK untuk memberikan materi perencanaan keuangan ke anak-anak mulai usia SD itu keren banget. Gunanya ya untuk menghindari kesalahan yang sama diulang oleh generasi Z dan fenomena tadi terulang. 

FYI, dana pensiun yang perlu disiapin bukan cuma untuk kebutuhan hidup semata - yang harus bisa catch up sama inflasi jugak - tapi meliputi dana kesehatan setelah pensiun. Gue dan Adit pertama kali dibuat melek soal ini dari edukasi-edukasinya QM; kita jadi tersadar kalau premi askes semakin tua usia applicant akan semakin mahal, belum lagi terms & condition-nya juga macem-macem beda insurance company, Jadi, ya harus pinter-pinter milih dan siapin dana bayar preminya. Trus, tau sendiri kalo semakin tua, semakin rentan juga kita kena penyakit. And this thought leads me to thinking...
 

b. About health
Interaksi langsung maupun nggak langsung sama bokap-nyokap sendiri and people from their generation bikin kita semakin melek akan pentingnya menanamkan kebiasaan hidup sehat. Healthy lifestyle ini investasi yang nggak boleh ditunda-tunda lagi, deh.
Orangtua seorang temen gue ada yang baru ketauan kena lung cancer akibat kebiasaan merokok :( Gue langsung nasehatin bokap gue untuk berhenti, tapi yaa "namanya orang tua..." suseh untuk bisa di-brainwash.
Nyokap gue lain lagi, doyannya makan enak yang cenderung nggak sehat.
Jarang olahraga pula. Walhasil pas tua gini agak tergantung sama obat-obatan. 


Gue dan Adit sama-sama punya faktor keturunan terkait penyakit denegeratif, kaya sejarah diabetes di keluarga, tekanan darah tinggi, dsb. Jadi bisa dibilang menerapkan healthy lifestyle ini ikhtiar lah untuk menjaga kesehatan dan meraih kehidupan yang lebih nyaman ke depannya.
Kesimpulannya, nggak ada alasan lagi untuk nggak olahraga dan nerapin clean eating. *kibarin apron*



c. About fulfillment.  

Ini terpikir gara-gara rasa keluhan kesepian yang dilontarkan nyokap. Nggak, dia nggak kurang sibuk, tapi menurut gue, she's now facing her own demons. Maksud demons di sini apa? I'm talking about unresolved issues, personality flaws, and/or a lack of long-term vision about oneself.

are you with him?
Regarding the above meme, I kinda agree, sih.
Gue melihat gimana some people "age into their personality," and how it doesn't always turn out pretty.
Dari situ, gue semacam membentuk opini kalau masa pensiun justru can lead a person to whole new kinds of problems kalau seseorang nggak punya visi jangka-panjang atau arah hidup yang jelas. Kasus-kasus kayak depresi karena nggak kunjung dapet cucu, atau kesusahan karena udah pensiun tapi masih 'digelendotin' sama anak-anak dan anak-anak dari anak-anaknya, atau puber ke...sekian berujung unhappy marriage or else a divorce, dan banyak hal "serem-serem" lainnya, menurut gue nggak disebabkan oleh perubahan status atau karena kurang kesibukan. Penyebabnya justru apa-apa yang udah ada dan nggak ada di diri seseorang. 

Kalau dari awal nggak punya konsep diri yang 'utuh' ya wajar kalau mengharapkan diri dibuat jadi 'utuh' oleh achievement anak-anaknya, entah berupa karir, uang, status, atau kehadiran cucu :| 
Kalau dari awal nggak memupuk kemandirian di diri anak, ya wajar sampe tua digelendotin... ya nggak, sih?
Trus juga kalau dari awal udah nggak punya 'connection' sama pasangan, nggak heran kalau ujung-ujungnya 'basi' atau malah bubar....

So, dampaknya baru kerasa pada tahap usia ini.... To me it's like they're clueless atau merasa salah jalan pas bensin udah mau abis :|

Selain itu, gue juga mau menanamkan ke diri sendiri bahwa status "pensiun" itu bukan berarti saatnya berhenti belajar dan nggak produktif lagi. Emang sih, masa pensiun itu waktunya menikmati buah kerja keras, tapi gue prefer nantinya gue dan Adit bikin-bikin "sesuatu" yang bisa jadi "our baby" untuk ditumbuh-kembangkan sampai kita tua nanti. Sesuatu, a project, yang bisa jadi outlet kreativitas, inovasi, sekaligus bermanfaat untuk jadi kesibukan kita di masa tua. Lebih baik lagi kalau si "baby" itu bisa menyentuh kehidupan banyak orang dan memberikan social impact positif. We should really work on it from now, deh.


Lastly, still on aging, ada video TED talk yang inspiratif banget, judulnya "How to Live Passionately" by Isabelle Allende. She's a 71 year-old woman, dan dia 'ngajarin' gimana caranya agar tetap awet muda - but on the inside. She does this sambil ngasih perspektif baru tentang apa makna "menjadi muda." Ini cuplikan speech-nya yang enlightening menurut gue:

"So how can I stay passionate? I cannot will myself to be passionate at 71. I have been training for some time, and when I feel flat and bored, I fake it. Attitude, attitude. How do I train? I train by saying yes to whatever comes my way: drama, comedy, tragedy, love, death, losses. Yes to life. And I train by trying to stay in love. It doesn't always work, but you cannot blame me for trying."
Well, the truth is, contemplating about aging makes me feel giddy and scared. Because a part of me thinks to age is a blessing, yet the other part thinks it's a curse - because you watch your loved ones and friends die, your body weakens, your youth fades, your kids live their own lives, etc. 
But I guess it all boils down to each individual's perspective, huh? Because as Kurt Vonnegut said,
"We are what we pretend to be, so we must be careful about what we pretend to be."

So, maybe to be able to age gracefully, we need to "invest" the habit by living through the process from early on, just like achieving financial independence and health. We start from what we have and then work hard to reach our goals. I know, it doesn't always work, but... you cannot blame me for trying, right? :))

06/12/2014

kid-friendly pools in karawaci

berawal gara-gara eh, berkat sering ke karawaci, kita jadi mengeksplor kawasan tangerang dan sekitarnya lagi. berhubung si mas lagi getol-getolnya berenang, thanks to swim lessons di anak air bersama kak rangga hahaha, minggu pagi diisi dengan berenang semacam menjadi aktivitas rutin. kebeneran, dedek susanto juga udah bisa diajak renang. makin bersemangatlah kita memboyong si dedek beserta abah-bundanya untuk pool-hopping. 

pertama-tama, kita nyoba mampir ke kolam renang Sekolah Pelita Harapan (SPH) lagi, sebelumnya setau kita kolam renang itu cuma boleh dimasuki sama yang les berenang di situ aja. kebetulan, pas mampir lagi ke situ hari minggu dan kita lupa kalau hari minggu kolam renang itu ditutup. pas kita tanya ke satpam sih, katanya udah bisa dimasuki khalayak umum lagi. tapi so far kita belum cek lagi.

akhirnya pilihan beralih ke kolam renang sports club Palem Semi. di sini, kolam renangnya udah di-improve, ada 3 macem kolam; yang cetek buat bayi-bayi or anak piyik; satu lagi cetek juga namun dengan arcade perosotan dan guyur-guyuran lebih besar; satu lagi kedalaman 1 hingga 2 meter (kalo gak salah). di sini, biaya masuknya emang nggak gitu mahal sih, 20 ribuan aja, tapi ya gitu, jadinya ruame.

minggu lalu kita nyoba ke kolam renang di sports club perumahan Victoria Park di Ligamas. sebenernya keputusan renang di sini impulsif - tadinya mau ke palem semi, tapi pas ngelewatin daerah perum 1 menuju ke palem ternyata muaceett parah gara-gara pasar kaget -__-


di victoria, suasana beda buanget sama di palem; tenang dan bersih, hehe. kolam renangnya emang cuma 2 macem, satu cetek banget, semata kaki orang dewasa, kali;  satu lagi 1 - 1,5 meter. udah gitu nggak ada perosotan maupun arcade seru-seruan kaya di palem. biaya masuknya, kalo nggak salah inget, 37 ribu buat anak-anak (bayi gratis) dan 47 ribu buat orang dewasa. di sini ada outdoor playground, sih, lokasinya di sebelah kolam, tapi gue liat udah nggak terawat bahkan rusak atau kurang aman.
selain itu, kolam renang dikelilingi pohon kelapa, dan... ada kelapanya :| gue jadi rada ngeri. emang posisi pohonnya nggak tepat di atas tempat duduk berpayung sih, tapi tetap aja ngeri kejatuhan kepala pas lagi melintas di bawahnya.

buat orang dewasa sih lebih enak berenang di sini daripada di palem. kolamnya gede, sepi, jadi bisa puas bolak-balik cardio. nyokap gue aja jadi kepengen (akhirnya) berenang (lagi) abis diajak ke sini. 

oh iya, ada lapangan hijau yang gede juga dalam kompleks sports club ini, jadi anak-anak bisa puas lari-lari atau main bola kalau mau, hehe. 


susanto dan abah hehehe

abaikan yang di belakang xD



serem juga gak ada jaring pengaman di bawahnya, padahal jarak antar rantai itu mayan jauh untuk ukuran tapak anak-anak

related: kid-friendly places in karawaci.

05/12/2014

hometown/haven

akhir-akhir ini, tepatnya sih setelah adit kembali ke bangku perkuliahan, kita jadi lebih sering ke karawaci. banyak, sih, benefitnya, kayak: makan siang dan malam tersedia (krusial! esensial!), udah gitu bisa nguyel-nguyel boneka susanto sepuasnya.
tapi, selain itu, setelah gue pikir-pikir, ada hal-hal lain sih yang bisa didapetin dari rutin mampir ke karawaci.

1. bisa me-time maupun couple time karena Bumy bisa dititipin ke oma atau teta debi.
kadang kalau gue lagi males kelayapan atau males ngangon anak (true story. lagian emang ada yah ibu-ibu yang nggak pernah capek ngangon anak?), gue relakan Bumy diajak melala sama debster dan venda ke mall sama adek susanto, hehe.

meskipun ke karawaci tuh berat di bensin, tapi banyak ngasih win-win solution.
kalau gue perlu ikutan workshop atau acara-acara Female Daily & Mommies Daily, nggak pusing mikirin Bumy bakal bete atau rewel di acara. dia bisa riang-gembira ngemol (anak gue banget) atau quality time sama oma-opa.
sementara gue either bisa molor aja di rumah, nyelesaiin kerjaan (atau blogging kaya gini haha), nyalon, pijet ke bersih sehat, atau ketemuan sama sohib-sohib yang susah ditemuin di jakarta selama hari kerja. kadang malah bisa kencan sama adit. 

2. kita jadi bisa kembali mengeksplor kawasan karawaci, tangerang, dan serpong. ketiga tempat itu berbeda, lho, dan mungkin emang cuma penduduk "native" tangerang yang tau di mana perbedaannya sih. hahaha. beberapa minggu belakangan, this is what we've been doing
  • ngajak bumy dan dedek susanto berenang. pengen ceritain lebih lengkap soal ini, tapi di post terpisah aja, deh.
  • ke jus kode di tangerang kota (jangan heran dengan rupa-rupa penamaan lokasi seperti ini. tapi bukan berarti ada tangerang udik juga, sih!). gue baru tau kalo jus ini terkenal! soalnya gue nyobain baru akhir-akhir ini, dan yang ngasih tau pun adit yang bukan seorang "native" xD ciri khas jus di sini tuh gelasnya jumbo - meski bisa minta ukuran reguler juga - dan buah-buahnya seger, bukan yang bonyok-bonyok trus dijus. kita bisa liat sendiri kok, karena 'dapur'nya bisa dilihat sama pengunjung. selain ngejus, di sini kita juga bisa jajan banyak makanan lain kayak mie pangsit, cwiemie (kesukaan gue nih), pempek, dimsum, rujak, soto mie, daaan lain-lain.(gue nemu review tentang jus kode secara lebih komprehensif di blog ini)
  • "menjelajah" kawasan alam sutera yang semakin macem-macem suguhannya. yang sekarang lagi hits banget ya ikea laah. tapi sayangnya gue belum ke situ, hehe... males ah, masih mainstream! xD lagian gue juga nggak kepengen-kepengen banget sih liat gerai ikea di sini, rasanya udah puas melototin katalognya kalo mau nitip-nitip ke orang haha. tapi suatu hari di weekend, kita bertiga memutuskan main ke alsut sore-sore. enak, deh, cuacanya abis ujan gitu jadi adeemm. itinerary (ngok) hari itu sbb:
pas baru sampe, masih mendung. 
sejurus kemudian hujan deresss

-> nemenin bumy main di little jungle. indoor playground baru yang guede banget itu lohh. pernah direview sama Amel di artikel ini kalau mau tau info lengkapnya. yang jelas, bumy hepi abiss; ada inflatable bounce gedee, giant soft play, perosotan tinggii banget (tapi bikin anak-anak uji nyali dan ujungnya, doyan!). nggak bakal mau berhenti deh kalo nggak disuruh udahan.

sayangnya kita, eh gue, lupa bawa kaos kaki dan botol minum. bisa sih dibeli di situ. kaos kaki nggak gitu mahal, minumnya yang lumeyen. mana anak-anak 'kan lelarian, bergerak, leluncatan terus, otomatis sering haus.


salah satu corner
selengkapnya soal Little Jungle,
Lokasi: The Flavor Bliss, Jl. Alam Sutera, Kav 6, Unit 26, Serpong, Tangerang
Jam operasional: Senin s/d Kamis: 11.00-19.00, Jumat: 11.00-20.00, Sabtu: 09.00-21.00, Minggu: 09.00-20.00.
Harga tiket weekday: Reguler: Rp 50.000 | VIP: 70.000 | Dewasa: Rp 10.000
Harga tiket weekend: Reguler: Rp 70.000 | VIP: Rp 100.000 | Dewasa: Rp 15.000

-> kelar main, kita keliling-keliling flavor bliss, deh. lengkap banget makanan di sini, sushi tei segala ada (patokan banget haha). kemarin itu, kita nyobain es krim roti ala-ala singapur :P trus lanjut beli jus dan rujak di juice cornernya rumah buah. suki banget ngejus di sini. emang beda harga sama jus kode sih, haha... buah-buahnya juga lebih "sophisticated" dan sekarang, tempatnya udah dibikin ruangan berkaca, dulu mah cuma berbentuk, literally, teras.

waktu gue sama adit kencan berduaan ke flavor bliss, kita makan pempek di sari sanjaya. lalu seolah pempek itu appetizer, kita bersemangat mau melahap ini-itu; lha wong segala macem pilihan ada. mau yang manis ucul-ucul tinggal ke nanny's pavilion, mau nyushi ya taulah ke mana, mau yang endonesa banget ada, yang internationale juga ada.
sisi yang gue paling suka dari tempat ini sih karena letaknya bukan di mall. mirip benton di karawaci. bisa ngenyangin perut, abis itu jalan-jalan santai menikmati angin berdesir-desir di sore hari, ahaay.

 

back to topic, jadi apa lagi "hikmah" yang dipetik dari sering ke karawaci?

3. ini nggak memberi benefit jasmaniah sih, malahan jadi semacem tombo ati, yaitu jadi bisa sering ngobrol dan nemenin bokap-nyokap.
dari sering ngobrol dan ketemu ini, gue jadi tau kalo nyokap belakangan sering ngerasa lonely. emang, sih, doi ada kesibukan (ngurus susanto), tapi dia butuh "something else." more like a connection, kali yah? setelah ngobrolin ini, and i was the one giving her consolation and advices - talk about reserved roles! - gue jadi bisa lebih memahami kebutuhan-kebutuhan doi sih... dan jadi somehow dapet 'warning' juga buat diri sendiri....
ada beberapa insight, terutama seputar masa pensiun, yang jadi kepikiran dari obrolan dan observasi terhadap bokap-nyokap, yang bakalan gue bahas di post terpisah aja, deh, biar nggak kepanjangan, hehe...

anyway, time for pic galore!


di teras jus rumah buah
baru inget ambil fotonya setelah digigit. tipikal!





next time pengen cobain ah

sibuk pilih-pilih hidangan pendamping di jus kode

02/12/2014

heading to a #brightfuture with Project Sunlight

Gue pernah cerita di artikel buat Mommies Daily seputar angan-angan, ambisi, dan harapan buat punya rumah sendiri... Pas baru nikah, kita emang dipinjamin rumah sama bokap-nyokap, tapi dikasih due date kapan kudu cabutnya, bo.
Dari situ, gue dan Adit jadi bisa memetik hikmah berupa pelajaran buat jadi mandiri dan akhirnya bisa beli rumah sendiri. Rumah pertama kita tuh kecil dan 'seadanya' banget. dan nggak bisa dipungkiri kalau ada beberapa kekurangan yang jadi ganjalan.
Berhubung rumah itu rumah second, jadi diperlukan beberapa perbaikan di sana-sini, kayak genteng bocor, benerin ventilasi kamar, cat ulang, dan membuat kondisi toilet dan dapur jadi lebih layak. 

Dua tempat yang disebut belakangan ini jadi concern utama gue.
Buat gue, dapur nggak perlu mewah ber-kitchen set marmer atau diisi dengan perkakas nan high tech (ya emang nggak afford jugak!), yang penting bersih! Kebersihan penting banget buat gue, karena 'kan di tempat itu bahan-bahan makanan disiapkan, trus peralatan memasak serta makan dibersihkan. Gue sendiri tipe yang ogah makan di tempat jorok. Memang daku tak terlahir sebagai anak milyuner, tapi udah bawaan nggak suki sama yang jorse-jorse. Trus kita juga menyempatkan ngecek apakah air di situ layak minum atau nggak, karena pastinya nanti bakal dipake buat bebersih, masak, bahkan diminum 'kan. Jangan sampai taunya mengandung zat-zat berbahaya buat badan dan lingkungan.



Gambar dari sini
Satu lagi, toilet, yang mana poin penting banget buat gue. Gue bahkan ultimatum Adit, gue nggak mau masuk dulu kalo toiletnya belum ciamik. Lagi-lagi, nggak perlu toilet berhiaskan pualam, yang penting buat gue:
1. Bersih
2. Toiletnya layak.
3. Ada wastafel buat cuci tangan.

 
Gue orangnya nggak jijikan, tapi pengennya sebisa mungkin dapet toilet yang kondisinya nyaman buat dipandang dan digunakan - meski kalo udah darurat, ya, sikat bleh!


Nah, gue perhatiin, di kota besar kayak Jakarta aja, jarang banget gue bisa dapetin toilet yang layak. Bahkan di restoran, gue masih nemu banyak yang kondisi toiletnya amburadul, atau nggak ada tisu toiletnya, atau bahkan sabun cuci tangannya abis. Gimana di tempat umum macam stasiun, terminal, atau pom bensin?? Gue emang pernah nemuin beberapa yang bersih (dan itu gue catet!), tapi, bisa ditebak, persentasenya miniiim banget.

Kebetulan, dua minggu lalu gue diajak Mommies Daily ikutan acara peluncuran Project Sunlight yang digagas oleh Unilever. Apa, sih, ini? Sama sekali nggak berhubungan dengan nyuci piring, ternyataa... Project Sunlight ini bergerak dari gagasan Unilever untuk mengajak orang-orang di seluruh penjuru dunia mewujudkan masa depan yang lebih cerah buat anak-anak dan generasi mendatang. Caranya adalah lewat mengampanyekan cara hidup yang lebih sustainable (lestari).

Nah, pada Project Sunlight kali ini, Unilever menyoroti kondisi sanitasi di Indonesia dan mengambil tema "Dukung Masa Depan Sehat."
Tema dan fokus gerakan ini tepat sasaran banget sih, menurut gue. Karena pada acara kemarin itu, dipaparkan kalau kondisi sanitasi di Indonesia tuh tergolong buruk. 110 juta penduduk nggak punya sanitasi yang baik, lebih dari 40 juta orang cuma punya akses yang minim untuk sumber air bersih, dan bahkan ternyata cuma ada 2% akses toilet bersih di perkotaan! Beneeer 'kan, tuh, pengalaman gue, susah banget nyari toilet layak di Jakarta!
Tau nggak, dari rate ini bisa disimpulkan kalo negara kita adalah salah satu yang terendah di dunia dan di antara negara berpenghasilan menengah.

Project Sunlight ini di-launch tanggal 14 November 2014 lalu dan cuma diadakan di 5 negara terpilih. Indonesia, nih, dianggap strategis... ya wajarlah, lha wong angka-angka tadi udah berbicara sendiri, huhuhu. 


Lalu, apa kaitan antara kondisi sanitasi dengan masa depan yang lebih cerah buat anak-anak kita dan generasi mendatang? Ternyata, terdapat fakta yang menyatakan bahwa ribuan anak menderita atau meninggal karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, dan penyebab utamanya adalah kesulitan mendapatkan akses untuk sanitasi yang layak dan air minum yang higienis. Anak-anak tuh bisa meraih mimpi mereka, menjadi apapun yang mereka mau asalkan mereka sehat, 'kan? Nah, lewat Project Sunlight ini, Unilever mengajak kita semua turun tangan, baik untuk meningkatkan awareness soal sanitasi maupun untuk langsung berbuat mengedukasi kebiasaan sehat.

Gambar dari sini

Sebagai orangtua, yang gue lakukan pastinya menerapkan kebiasaan baik dan sehat dari rumah sendiri, ya. Edukasi soal sanitasi bisa disampein lewat cara-cara yang gampang dan seru supaya anak tertarik dan mau niru. Mulai dari ngajarin anak menjaga personal hygiene dengan cara nyikat gigi yang bener, menerapkan kebiasaan mencuci tangan, dan  bebersih sendiri di toilet. Maupun ngajak anak menjaga kebersihan toilet (untungnya Bumy 'hobi' diajak nyikat toilet), dan lingkungannya.
Dan ternyata di acara kemarin, Astri Wahyuni selaku External Affairs Manager PT. Unilever Tbk., juga bilang, 

"Fasilitas bisa dibuat cepat, tapi perilaku bersih butuh waktu untuk ditanamkan." 
Bener banget, deh, gue liat sendiri banyak toilet yang (tadinya) bagus jadi jorse gara-gara perilaku pemakainya yang cuek.

Untuk menyebarkan gagasan Project Sunlight ini, Unilever memilih wakil anak Indonesia untuk menyampaikan ide-ide meraih mimpi dan kehidupan yang lebih baik, yaitu Dira Noveriani. Paparan Dira oke dan menohok banget, deh. Salah satunya dia bilang, tantangan bagi kita menerapkan kebiasaan hidup yang sehat itu sebenarnya sikap apatis dan kurangnya edukasi. Videonya bisa ditonton di sini:
 



 

Nah, kita semua bisa ikut berpartisipasi, lho, untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik buat anak-anak kita dan generasi mendatang. Selain menyiapkan anak-anak kita sendiri buat jadi agent of change lewat edukasi soal sanitasi, kita juga bisa masuk ke website Project Sunlight, yaitu www.projectsunlight.co.id.

Dari situ, kita bisa:

- Lihat (View). Caranya dengan menyaksikan film inspirasional di situs. Tiap kali film ini ditonton, Unilever akan menyumbangkan Rp100 untuk Project Sunlight!

-Bertindak (Act). Ada beberapa cara partisipasi untuk ini, antara lain: 

1. Menulis ide untuk #brightfuture di situs Project Sunlight mengenai bagaimana bisa membuat perubahan. Unilever akan menyumbang Rp1.000 untuk setiap ide yang dituliskan.
2. Kita juga bisa turun langsung dengan menjadi relawan edukasi kesehatan di sekolah dasar di Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, dan Yogyakarta. Unilever akan menyumbang Rp100.000 untuk setiap partisipasi relawan.
3. Kalau masih sulit nyari waktu buat jadi relawan, sebagai ebo-ebo, kita bisa berpartisipasi lewat belanja. Untuk setiap pembelian produk Lifebuoy, Pepsodent dan Domestos di Lotte Mart, Unilever akan menyumbang Rp1.000, lho!

-Berbagi (Share). Sebarkan cerita atau video inspirasional mengenai gagasan anak tentang masa depan untuk menginspirasi lebih banyak orang. Gampang banget, 'kaan?

Last but not least,


-Ikut (Follow). Yuuk, ikutin cerita inspirasi di Project Sunlight.

Di website Project Sunlight, kita juga bisa dapetin materi edukasi untuk 'menularkan' kebiasaan sehat, lho, misalnya buat ART atau nanny di rumah. Atau kita bisa mencetak trus tempel materi itu di sekolah anak, puskesmas, atau PAUD dekat rumah. Untuk info lebih lengkap, bisa dilihat di Fan Page Unilever.

Ada banyaak, deh, cara buat berpartisipasi. Tapi menurut gue, langkah awal yang utama adalah stop jadi apatis! Dengan menyadari kalau isu sanitasi ini masalah kita bersama, akan tumbuh kepedulian untuk menyelamatkan anak-anak dan generasi mendatang.

Semoga kelak senyum semua anak Indonesia bisa seceria si mas :')
Jadii, udah kepikiran mau berbuat apa di #ProjectSunlight? Yuuk, cus kita wujudkan!