09/12/2014

sleep well with a seahorse

Tanggal 27 November 2014 lalu, gue diajak Mommies Daily ikutan acara “Peluncuran Fisher-Price Soothe & Glow Seahorse™.” Sekilas info yang gue tahu waktu itu, Soothe & Glow Seahorse™ ini mainan yang bisa membantu ibu-ibu dalam menidurkan anaknya. Gue aware sih, kalau kadang emang diperluin trik khusus supaya anak jadi lebih gampang tertidur. tapi bagaimana cara mainan ini membantu misi 'mulia' ibu-ibu tadi, dan kenapa anak butuh tidur yang berkualitas, ini yang pengen gue ketahui lebih lanjut. 

Kalau dari pengalaman sendiri, Bumy waktu bayi emang tergolong nggak gampang untuk ditidurkan. Apalagi pas masih newborn, alamaak... Gue inget banget orang-orang bilang "Bayi emang begitu, rewel. Tapi nanti pas udah lewat 40 hari pertama udah enggak, kok." Dan gara-gara itu gue literally menghitung hari sampai tiba di hari ke-41. Maklumlah, ibu-ibu amatir. Gue berharap entah bagaimana Bumy akan bisa tertidur pulas dengan mudah dan sentosa di malam hari, semudah menjentikkan jari.
Lalu gimana, terbuktikah 'urban legend' tersebut? Ternyata nggak sama sekali, tuh T___T anak gue tetep aja rewel kalau mau tidur malam sampai sekitar 4 bulanan.

Gue baru bisa tidur malem dengan enak ketika Bumy udah disapih, yaitu pas umurnya 2 tahun. Dia nggak lagi nyari nenen di tengah malam, palingan minta dianterin pipis. Terlebih sekarang, pas dia udah bisa tidur sendiri. Gue bukan cuma bisa menikmati tidur yang nggak kepotong-potong, tapi di kasur juga bisa lebih leluasa (tidurnyaaa, hahaha); otomatis lebih berkualitas, deh, tidur gue dan Adit. Kalau udah begini, rasanya makin berat, yah, untuk punya newborn lagi? xD

Ngomong-ngomong tidur berkualitas, di acara kemarin ternyata dikupas tuntas soal ini. Vera Itibiliana yang seorang psikolog anak, memaparkan bahwa selain nutrisi, waktu bermain, dan stimulasi yang tepat, ternyata porsi tidur yang berimbang itu juga penting supaya tumbuh-kembang anak maksimal. Kenapa begituh?
Jadi, saat anak tidur tuh terjadi sebuah proses di mana otak anak berkembang dengan pesat. Kalau kita lihat mata anak bergerak-gerak sambil tidur, nah, itu tandanya proses ini sedang terjadi, dinamakan REM (Rapid Eye Movement) Sleep atau tidur yang aktif. Saat itu, anak sedang menstimulasi dirinya sendiri.

Kebutuhan tidur anak berusia di bawah 18 bulan itu 15-18 jam per hari menurut Tracy Hogg, pengarang buku "Secrets of the Baby Whisperer" (one of my favorite parenting books inih!). Udah gitu, ternyata pola tidur anak mulai dari bayi akan berpengaruh sampai besar nanti, jadi orangtua perlu mengusahakan anak punya waktu tidur yang rutin meskipun jadwal kegiatan maupun ritme kehidupan anak berubah-ubah. Ini penting karena saat anak udah bersekolah, waktu masuk dan keluarnya 'kan pada jam-jam yang sama. 



para narasumber acara kemarin: Tan Shu Mei (Fisher-Price) - Vera Itabiliana, S.Psi, - Cathy Sharon (Brand Ambassador Fisher-Price)

Di sini, mbak Vera ngasih insight dan kiat-kiat menghadapinya, antara lain

1. Ternyata kecemasan dan stres yang dirasain ibu tuh bisa mempengaruhi anak, dan ini bisa membuat anak lebih sulit tertidur!

Menurut gue, ini menjelaskan banget problema yang gue hadapi pas Bumy masih newborn, deeh. Bawaannya emang sutris aja waktu itu; khawatir ASI nggak cukup, khawatir stok ASI perah nggak memadai padahal udah mau kembali ngantor, khawatir kalau anak cegukan terus, dan ina-inu yang bisa panjang banget kalo diurutin. Pengalaman gue dan Adit bikin Bumy tertidur tuh pernah sampai ngebawa doi ngider-ngider naik mobil jam 2 pagi. Taubaat.

2. Orangtua bisa mencoba dan mengatur waktu tidur yang tetap buat anak. Meskipun kedengarannya sulit, tapi ortu harus bersikap fleksibel agar anak bisa menemukan waktu yang tepat buat diri mereka sendiri, dengan waktu tidur yang rutin sebagai tujuan. Ini maksudnya nggak usah dipatok anak kudu udah tertidur jam sekian hanya dalam beberapa hari, tapi pelan-pelan aja kita ciptain suasana yang memudahkan anak-anak tertidur.
Caranya bisa dengan merekayasa atmosfernya; kita ajak anak masuk ke kamar, membuat ruangan menjadi redup supaya mata anak jadi rileks, mengatur suhu ruangan yang nyaman, bisa juga memainkan suara-suara yang menenangkan. Ini yang gue dan Adit lakuin. Bumy diajak masuk ke kamar sejam sebelum target waktu tidurnya, trus kita bikin rileks dengan mandi air anget dulu, dibacain cerita, trus lampu kamarnya dimatiin dan kita nyalain lampu tidur yang redup.

3. Terakhir, orangtua bisa memberikan anak semacam security object, seperti selimut kecil, bantal guling, atau soft toy yang bisa dipeluk.
Di sinilah Fisher-Price hadir menyediakan solusi. Soothe & Glow Seahorse™ ini mainan yang akan menyala serta memainkan lagu pengantar tidur dan suara laut yang menenangkan ketika diremas dengan lembut. Setelah lima menit, musik akan mati dan lampu akan redup, sehinggu membantu bayi tertidur. Hehe, mainan pintar ini. 



pic from Fisher-Price's website
Fisher-Price menganggap tidur yang cukup dan berkualitas itu penting agar perkembangan otak anak bisa maksimal. Bergerak dari situ, diadakan kontes #BayikuBobo di www.bayikubobo.com sebagai sarana para orangtua di Indonesia untuk sharing pengalaman menidurkan bayi. Cerita dan pengalaman yang dibagikan ini selain bisa jadi informasi berharga buat orangtua lain, juga bisa menjadi semacam pukpuk di bahu, nggak, sih? Like saying, "Yes, we've been through the same problem before," hehehe.

Gampang banget cara ikutannya, kita tinggal unggah foto atau video yang menggambarkan pengalaman unik ketika berusaha menidurkan si kecil. Abis itu kita share foto atau video itu di Facebook dan Twitter, dan ajak teman-teman kita untuk vote. Jangan lupa like/follow Fan Page Facebook, akun Twitter, dan juga akun Instagram Fisher Price Indonesia untuk dapatin informasi lengkap tentang kontes ini. Kita juga bisa tahu update produk-produk Fisher-Price yang mengedepankan pilar-pilar utama perkembangan anak, loh. Siap-siap ngileer sama semuanya. 


07/12/2014

thoughts on aging

Masih dalam rangkaian posting edisi "karawaci bersinar," gue sebut kalau dari sering ke sana, gue jadi bisa lebih sering 'nemenin' bokap-nyokap. Dari situ, somehow gue jadi mendapat insight seputar masa pensiun dan menjadi tua; some are in a form of warning, some other in ideas. Hal-hal random aja, sih, kayak...

a. Masa produktif itu pendek dan cepet berlalu banget, yah... 


Kalo udah pernah duduk ngebahas dana pensiun emang jadi lebih aware, sih, tapi dengan berinteraksi langsung dengan generasi baby boomers ini saat kita sendiri sedang di masa produktif, kok ya MAKIN BERASA. 
Nggak bisa dipungkiri deh, kalau kita - gue dan Adit - yang kelas menengah yang (alhamdulillah, though) di tengah-tengah banget dan berdikari ini perlu fokus menyiapkan diri secara finansial buat masa pensiun. Keputusan-keputusan terkait duit harus mempertimbangkan periode pas udah nggak produktif atau digaji lagi. Udah tau, sihh, tapi tetep aja suka 'lupa' kalo duit itu peruntukkannya BUKAN cuma buat masa kini, tapi juga masa depan...
pengennya masa pensiun bisa leha-leha gini.
tapi duit tetap ngalir! :))

Lagi-lagi alhamdulillah, bokap-nyokap kita nggak ada yang butuh bantuan kita secara finansial because of all the wise decisions they made while they were still in their productive years. They can still live their life (and lifestyle) comfortably - nggak berlebihan, tapi juga nggak kekurangan.

Gue yakin "wise decisions" mereka terkait lifestyle itu berwujud antara lain jarang ngemol, menjauhi belanja-belenji demi menyenangkan hati, eating out, serta hal-hal tersier/hedon lainnya... *uhuk!*

Keputusan-keputusan bijak dan gaya hidup 'secukupnya' yang mereka terapin itu ternyata memberikan benefit yang tak terkira, bukan cuma buat diri mereka sendiri, tapi juga buat kita, anak-anaknya. Gue pernah baca sebuah artikel QM Financial yang ngebahas "sandwich generation." Generasi ini disebut demikian karena terhimpit di tengah-tengah: perlu menghidupi anak-anaknya sambil tetap membiayai kebutuhan orangtua. 
Fenomena ini banyak dialami oleh generasi X dan Y kayak kita-kita ini. Entahlah, mungkin begitu banyak dari generasi baby boomers ini (generasi bokap-nyokap kita, maksudnya) yang belum paham perencanaan keuangan hingga menyebabkan fenomena generasi sandwich. Off topic sedikit, menurut gue program OJK untuk memberikan materi perencanaan keuangan ke anak-anak mulai usia SD itu keren banget. Gunanya ya untuk menghindari kesalahan yang sama diulang oleh generasi Z dan fenomena tadi terulang. 

FYI, dana pensiun yang perlu disiapin bukan cuma untuk kebutuhan hidup semata - yang harus bisa catch up sama inflasi jugak - tapi meliputi dana kesehatan setelah pensiun. Gue dan Adit pertama kali dibuat melek soal ini dari edukasi-edukasinya QM; kita jadi tersadar kalau premi askes semakin tua usia applicant akan semakin mahal, belum lagi terms & condition-nya juga macem-macem beda insurance company, Jadi, ya harus pinter-pinter milih dan siapin dana bayar preminya. Trus, tau sendiri kalo semakin tua, semakin rentan juga kita kena penyakit. And this thought leads me to thinking...
 

b. About health
Interaksi langsung maupun nggak langsung sama bokap-nyokap sendiri and people from their generation bikin kita semakin melek akan pentingnya menanamkan kebiasaan hidup sehat. Healthy lifestyle ini investasi yang nggak boleh ditunda-tunda lagi, deh.
Orangtua seorang temen gue ada yang baru ketauan kena lung cancer akibat kebiasaan merokok :( Gue langsung nasehatin bokap gue untuk berhenti, tapi yaa "namanya orang tua..." suseh untuk bisa di-brainwash.
Nyokap gue lain lagi, doyannya makan enak yang cenderung nggak sehat.
Jarang olahraga pula. Walhasil pas tua gini agak tergantung sama obat-obatan. 


Gue dan Adit sama-sama punya faktor keturunan terkait penyakit denegeratif, kaya sejarah diabetes di keluarga, tekanan darah tinggi, dsb. Jadi bisa dibilang menerapkan healthy lifestyle ini ikhtiar lah untuk menjaga kesehatan dan meraih kehidupan yang lebih nyaman ke depannya.
Kesimpulannya, nggak ada alasan lagi untuk nggak olahraga dan nerapin clean eating. *kibarin apron*



c. About fulfillment.  

Ini terpikir gara-gara rasa keluhan kesepian yang dilontarkan nyokap. Nggak, dia nggak kurang sibuk, tapi menurut gue, she's now facing her own demons. Maksud demons di sini apa? I'm talking about unresolved issues, personality flaws, and/or a lack of long-term vision about oneself.

are you with him?
Regarding the above meme, I kinda agree, sih.
Gue melihat gimana some people "age into their personality," and how it doesn't always turn out pretty.
Dari situ, gue semacam membentuk opini kalau masa pensiun justru can lead a person to whole new kinds of problems kalau seseorang nggak punya visi jangka-panjang atau arah hidup yang jelas. Kasus-kasus kayak depresi karena nggak kunjung dapet cucu, atau kesusahan karena udah pensiun tapi masih 'digelendotin' sama anak-anak dan anak-anak dari anak-anaknya, atau puber ke...sekian berujung unhappy marriage or else a divorce, dan banyak hal "serem-serem" lainnya, menurut gue nggak disebabkan oleh perubahan status atau karena kurang kesibukan. Penyebabnya justru apa-apa yang udah ada dan nggak ada di diri seseorang. 

Kalau dari awal nggak punya konsep diri yang 'utuh' ya wajar kalau mengharapkan diri dibuat jadi 'utuh' oleh achievement anak-anaknya, entah berupa karir, uang, status, atau kehadiran cucu :| 
Kalau dari awal nggak memupuk kemandirian di diri anak, ya wajar sampe tua digelendotin... ya nggak, sih?
Trus juga kalau dari awal udah nggak punya 'connection' sama pasangan, nggak heran kalau ujung-ujungnya 'basi' atau malah bubar....

So, dampaknya baru kerasa pada tahap usia ini.... To me it's like they're clueless atau merasa salah jalan pas bensin udah mau abis :|

Selain itu, gue juga mau menanamkan ke diri sendiri bahwa status "pensiun" itu bukan berarti saatnya berhenti belajar dan nggak produktif lagi. Emang sih, masa pensiun itu waktunya menikmati buah kerja keras, tapi gue prefer nantinya gue dan Adit bikin-bikin "sesuatu" yang bisa jadi "our baby" untuk ditumbuh-kembangkan sampai kita tua nanti. Sesuatu, a project, yang bisa jadi outlet kreativitas, inovasi, sekaligus bermanfaat untuk jadi kesibukan kita di masa tua. Lebih baik lagi kalau si "baby" itu bisa menyentuh kehidupan banyak orang dan memberikan social impact positif. We should really work on it from now, deh.


Lastly, still on aging, ada video TED talk yang inspiratif banget, judulnya "How to Live Passionately" by Isabelle Allende. She's a 71 year-old woman, dan dia 'ngajarin' gimana caranya agar tetap awet muda - but on the inside. She does this sambil ngasih perspektif baru tentang apa makna "menjadi muda." Ini cuplikan speech-nya yang enlightening menurut gue:

"So how can I stay passionate? I cannot will myself to be passionate at 71. I have been training for some time, and when I feel flat and bored, I fake it. Attitude, attitude. How do I train? I train by saying yes to whatever comes my way: drama, comedy, tragedy, love, death, losses. Yes to life. And I train by trying to stay in love. It doesn't always work, but you cannot blame me for trying."
Well, the truth is, contemplating about aging makes me feel giddy and scared. Because a part of me thinks to age is a blessing, yet the other part thinks it's a curse - because you watch your loved ones and friends die, your body weakens, your youth fades, your kids live their own lives, etc. 
But I guess it all boils down to each individual's perspective, huh? Because as Kurt Vonnegut said,
"We are what we pretend to be, so we must be careful about what we pretend to be."

So, maybe to be able to age gracefully, we need to "invest" the habit by living through the process from early on, just like achieving financial independence and health. We start from what we have and then work hard to reach our goals. I know, it doesn't always work, but... you cannot blame me for trying, right? :))

06/12/2014

kid-friendly pools in karawaci

berawal gara-gara eh, berkat sering ke karawaci, kita jadi mengeksplor kawasan tangerang dan sekitarnya lagi. berhubung si mas lagi getol-getolnya berenang, thanks to swim lessons di anak air bersama kak rangga hahaha, minggu pagi diisi dengan berenang semacam menjadi aktivitas rutin. kebeneran, dedek susanto juga udah bisa diajak renang. makin bersemangatlah kita memboyong si dedek beserta abah-bundanya untuk pool-hopping. 

pertama-tama, kita nyoba mampir ke kolam renang Sekolah Pelita Harapan (SPH) lagi, sebelumnya setau kita kolam renang itu cuma boleh dimasuki sama yang les berenang di situ aja. kebetulan, pas mampir lagi ke situ hari minggu dan kita lupa kalau hari minggu kolam renang itu ditutup. pas kita tanya ke satpam sih, katanya udah bisa dimasuki khalayak umum lagi. tapi so far kita belum cek lagi.

akhirnya pilihan beralih ke kolam renang sports club Palem Semi. di sini, kolam renangnya udah di-improve, ada 3 macem kolam; yang cetek buat bayi-bayi or anak piyik; satu lagi cetek juga namun dengan arcade perosotan dan guyur-guyuran lebih besar; satu lagi kedalaman 1 hingga 2 meter (kalo gak salah). di sini, biaya masuknya emang nggak gitu mahal sih, 20 ribuan aja, tapi ya gitu, jadinya ruame.

minggu lalu kita nyoba ke kolam renang di sports club perumahan Victoria Park di Ligamas. sebenernya keputusan renang di sini impulsif - tadinya mau ke palem semi, tapi pas ngelewatin daerah perum 1 menuju ke palem ternyata muaceett parah gara-gara pasar kaget -__-


di victoria, suasana beda buanget sama di palem; tenang dan bersih, hehe. kolam renangnya emang cuma 2 macem, satu cetek banget, semata kaki orang dewasa, kali;  satu lagi 1 - 1,5 meter. udah gitu nggak ada perosotan maupun arcade seru-seruan kaya di palem. biaya masuknya, kalo nggak salah inget, 37 ribu buat anak-anak (bayi gratis) dan 47 ribu buat orang dewasa. di sini ada outdoor playground, sih, lokasinya di sebelah kolam, tapi gue liat udah nggak terawat bahkan rusak atau kurang aman.
selain itu, kolam renang dikelilingi pohon kelapa, dan... ada kelapanya :| gue jadi rada ngeri. emang posisi pohonnya nggak tepat di atas tempat duduk berpayung sih, tapi tetap aja ngeri kejatuhan kepala pas lagi melintas di bawahnya.

buat orang dewasa sih lebih enak berenang di sini daripada di palem. kolamnya gede, sepi, jadi bisa puas bolak-balik cardio. nyokap gue aja jadi kepengen (akhirnya) berenang (lagi) abis diajak ke sini. 

oh iya, ada lapangan hijau yang gede juga dalam kompleks sports club ini, jadi anak-anak bisa puas lari-lari atau main bola kalau mau, hehe. 


susanto dan abah hehehe

abaikan yang di belakang xD



serem juga gak ada jaring pengaman di bawahnya, padahal jarak antar rantai itu mayan jauh untuk ukuran tapak anak-anak

related: kid-friendly places in karawaci.

05/12/2014

hometown/haven

akhir-akhir ini, tepatnya sih setelah adit kembali ke bangku perkuliahan, kita jadi lebih sering ke karawaci. banyak, sih, benefitnya, kayak: makan siang dan malam tersedia (krusial! esensial!), udah gitu bisa nguyel-nguyel boneka susanto sepuasnya.
tapi, selain itu, setelah gue pikir-pikir, ada hal-hal lain sih yang bisa didapetin dari rutin mampir ke karawaci.

1. bisa me-time maupun couple time karena Bumy bisa dititipin ke oma atau teta debi.
kadang kalau gue lagi males kelayapan atau males ngangon anak (true story. lagian emang ada yah ibu-ibu yang nggak pernah capek ngangon anak?), gue relakan Bumy diajak melala sama debster dan venda ke mall sama adek susanto, hehe.

meskipun ke karawaci tuh berat di bensin, tapi banyak ngasih win-win solution.
kalau gue perlu ikutan workshop atau acara-acara Female Daily & Mommies Daily, nggak pusing mikirin Bumy bakal bete atau rewel di acara. dia bisa riang-gembira ngemol (anak gue banget) atau quality time sama oma-opa.
sementara gue either bisa molor aja di rumah, nyelesaiin kerjaan (atau blogging kaya gini haha), nyalon, pijet ke bersih sehat, atau ketemuan sama sohib-sohib yang susah ditemuin di jakarta selama hari kerja. kadang malah bisa kencan sama adit. 

2. kita jadi bisa kembali mengeksplor kawasan karawaci, tangerang, dan serpong. ketiga tempat itu berbeda, lho, dan mungkin emang cuma penduduk "native" tangerang yang tau di mana perbedaannya sih. hahaha. beberapa minggu belakangan, this is what we've been doing
  • ngajak bumy dan dedek susanto berenang. pengen ceritain lebih lengkap soal ini, tapi di post terpisah aja, deh.
  • ke jus kode di tangerang kota (jangan heran dengan rupa-rupa penamaan lokasi seperti ini. tapi bukan berarti ada tangerang udik juga, sih!). gue baru tau kalo jus ini terkenal! soalnya gue nyobain baru akhir-akhir ini, dan yang ngasih tau pun adit yang bukan seorang "native" xD ciri khas jus di sini tuh gelasnya jumbo - meski bisa minta ukuran reguler juga - dan buah-buahnya seger, bukan yang bonyok-bonyok trus dijus. kita bisa liat sendiri kok, karena 'dapur'nya bisa dilihat sama pengunjung. selain ngejus, di sini kita juga bisa jajan banyak makanan lain kayak mie pangsit, cwiemie (kesukaan gue nih), pempek, dimsum, rujak, soto mie, daaan lain-lain.(gue nemu review tentang jus kode secara lebih komprehensif di blog ini)
  • "menjelajah" kawasan alam sutera yang semakin macem-macem suguhannya. yang sekarang lagi hits banget ya ikea laah. tapi sayangnya gue belum ke situ, hehe... males ah, masih mainstream! xD lagian gue juga nggak kepengen-kepengen banget sih liat gerai ikea di sini, rasanya udah puas melototin katalognya kalo mau nitip-nitip ke orang haha. tapi suatu hari di weekend, kita bertiga memutuskan main ke alsut sore-sore. enak, deh, cuacanya abis ujan gitu jadi adeemm. itinerary (ngok) hari itu sbb:
pas baru sampe, masih mendung. 
sejurus kemudian hujan deresss

-> nemenin bumy main di little jungle. indoor playground baru yang guede banget itu lohh. pernah direview sama Amel di artikel ini kalau mau tau info lengkapnya. yang jelas, bumy hepi abiss; ada inflatable bounce gedee, giant soft play, perosotan tinggii banget (tapi bikin anak-anak uji nyali dan ujungnya, doyan!). nggak bakal mau berhenti deh kalo nggak disuruh udahan.

sayangnya kita, eh gue, lupa bawa kaos kaki dan botol minum. bisa sih dibeli di situ. kaos kaki nggak gitu mahal, minumnya yang lumeyen. mana anak-anak 'kan lelarian, bergerak, leluncatan terus, otomatis sering haus.


salah satu corner
selengkapnya soal Little Jungle,
Lokasi: The Flavor Bliss, Jl. Alam Sutera, Kav 6, Unit 26, Serpong, Tangerang
Jam operasional: Senin s/d Kamis: 11.00-19.00, Jumat: 11.00-20.00, Sabtu: 09.00-21.00, Minggu: 09.00-20.00.
Harga tiket weekday: Reguler: Rp 50.000 | VIP: 70.000 | Dewasa: Rp 10.000
Harga tiket weekend: Reguler: Rp 70.000 | VIP: Rp 100.000 | Dewasa: Rp 15.000

-> kelar main, kita keliling-keliling flavor bliss, deh. lengkap banget makanan di sini, sushi tei segala ada (patokan banget haha). kemarin itu, kita nyobain es krim roti ala-ala singapur :P trus lanjut beli jus dan rujak di juice cornernya rumah buah. suki banget ngejus di sini. emang beda harga sama jus kode sih, haha... buah-buahnya juga lebih "sophisticated" dan sekarang, tempatnya udah dibikin ruangan berkaca, dulu mah cuma berbentuk, literally, teras.

waktu gue sama adit kencan berduaan ke flavor bliss, kita makan pempek di sari sanjaya. lalu seolah pempek itu appetizer, kita bersemangat mau melahap ini-itu; lha wong segala macem pilihan ada. mau yang manis ucul-ucul tinggal ke nanny's pavilion, mau nyushi ya taulah ke mana, mau yang endonesa banget ada, yang internationale juga ada.
sisi yang gue paling suka dari tempat ini sih karena letaknya bukan di mall. mirip benton di karawaci. bisa ngenyangin perut, abis itu jalan-jalan santai menikmati angin berdesir-desir di sore hari, ahaay.

 

back to topic, jadi apa lagi "hikmah" yang dipetik dari sering ke karawaci?

3. ini nggak memberi benefit jasmaniah sih, malahan jadi semacem tombo ati, yaitu jadi bisa sering ngobrol dan nemenin bokap-nyokap.
dari sering ngobrol dan ketemu ini, gue jadi tau kalo nyokap belakangan sering ngerasa lonely. emang, sih, doi ada kesibukan (ngurus susanto), tapi dia butuh "something else." more like a connection, kali yah? setelah ngobrolin ini, and i was the one giving her consolation and advices - talk about reserved roles! - gue jadi bisa lebih memahami kebutuhan-kebutuhan doi sih... dan jadi somehow dapet 'warning' juga buat diri sendiri....
ada beberapa insight, terutama seputar masa pensiun, yang jadi kepikiran dari obrolan dan observasi terhadap bokap-nyokap, yang bakalan gue bahas di post terpisah aja, deh, biar nggak kepanjangan, hehe...

anyway, time for pic galore!


di teras jus rumah buah
baru inget ambil fotonya setelah digigit. tipikal!





next time pengen cobain ah

sibuk pilih-pilih hidangan pendamping di jus kode

02/12/2014

heading to a #brightfuture with Project Sunlight

Gue pernah cerita di artikel buat Mommies Daily seputar angan-angan, ambisi, dan harapan buat punya rumah sendiri... Pas baru nikah, kita emang dipinjamin rumah sama bokap-nyokap, tapi dikasih due date kapan kudu cabutnya, bo.
Dari situ, gue dan Adit jadi bisa memetik hikmah berupa pelajaran buat jadi mandiri dan akhirnya bisa beli rumah sendiri. Rumah pertama kita tuh kecil dan 'seadanya' banget. dan nggak bisa dipungkiri kalau ada beberapa kekurangan yang jadi ganjalan.
Berhubung rumah itu rumah second, jadi diperlukan beberapa perbaikan di sana-sini, kayak genteng bocor, benerin ventilasi kamar, cat ulang, dan membuat kondisi toilet dan dapur jadi lebih layak. 

Dua tempat yang disebut belakangan ini jadi concern utama gue.
Buat gue, dapur nggak perlu mewah ber-kitchen set marmer atau diisi dengan perkakas nan high tech (ya emang nggak afford jugak!), yang penting bersih! Kebersihan penting banget buat gue, karena 'kan di tempat itu bahan-bahan makanan disiapkan, trus peralatan memasak serta makan dibersihkan. Gue sendiri tipe yang ogah makan di tempat jorok. Memang daku tak terlahir sebagai anak milyuner, tapi udah bawaan nggak suki sama yang jorse-jorse. Trus kita juga menyempatkan ngecek apakah air di situ layak minum atau nggak, karena pastinya nanti bakal dipake buat bebersih, masak, bahkan diminum 'kan. Jangan sampai taunya mengandung zat-zat berbahaya buat badan dan lingkungan.



Gambar dari sini
Satu lagi, toilet, yang mana poin penting banget buat gue. Gue bahkan ultimatum Adit, gue nggak mau masuk dulu kalo toiletnya belum ciamik. Lagi-lagi, nggak perlu toilet berhiaskan pualam, yang penting buat gue:
1. Bersih
2. Toiletnya layak.
3. Ada wastafel buat cuci tangan.

 
Gue orangnya nggak jijikan, tapi pengennya sebisa mungkin dapet toilet yang kondisinya nyaman buat dipandang dan digunakan - meski kalo udah darurat, ya, sikat bleh!


Nah, gue perhatiin, di kota besar kayak Jakarta aja, jarang banget gue bisa dapetin toilet yang layak. Bahkan di restoran, gue masih nemu banyak yang kondisi toiletnya amburadul, atau nggak ada tisu toiletnya, atau bahkan sabun cuci tangannya abis. Gimana di tempat umum macam stasiun, terminal, atau pom bensin?? Gue emang pernah nemuin beberapa yang bersih (dan itu gue catet!), tapi, bisa ditebak, persentasenya miniiim banget.

Kebetulan, dua minggu lalu gue diajak Mommies Daily ikutan acara peluncuran Project Sunlight yang digagas oleh Unilever. Apa, sih, ini? Sama sekali nggak berhubungan dengan nyuci piring, ternyataa... Project Sunlight ini bergerak dari gagasan Unilever untuk mengajak orang-orang di seluruh penjuru dunia mewujudkan masa depan yang lebih cerah buat anak-anak dan generasi mendatang. Caranya adalah lewat mengampanyekan cara hidup yang lebih sustainable (lestari).

Nah, pada Project Sunlight kali ini, Unilever menyoroti kondisi sanitasi di Indonesia dan mengambil tema "Dukung Masa Depan Sehat."
Tema dan fokus gerakan ini tepat sasaran banget sih, menurut gue. Karena pada acara kemarin itu, dipaparkan kalau kondisi sanitasi di Indonesia tuh tergolong buruk. 110 juta penduduk nggak punya sanitasi yang baik, lebih dari 40 juta orang cuma punya akses yang minim untuk sumber air bersih, dan bahkan ternyata cuma ada 2% akses toilet bersih di perkotaan! Beneeer 'kan, tuh, pengalaman gue, susah banget nyari toilet layak di Jakarta!
Tau nggak, dari rate ini bisa disimpulkan kalo negara kita adalah salah satu yang terendah di dunia dan di antara negara berpenghasilan menengah.

Project Sunlight ini di-launch tanggal 14 November 2014 lalu dan cuma diadakan di 5 negara terpilih. Indonesia, nih, dianggap strategis... ya wajarlah, lha wong angka-angka tadi udah berbicara sendiri, huhuhu. 


Lalu, apa kaitan antara kondisi sanitasi dengan masa depan yang lebih cerah buat anak-anak kita dan generasi mendatang? Ternyata, terdapat fakta yang menyatakan bahwa ribuan anak menderita atau meninggal karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, dan penyebab utamanya adalah kesulitan mendapatkan akses untuk sanitasi yang layak dan air minum yang higienis. Anak-anak tuh bisa meraih mimpi mereka, menjadi apapun yang mereka mau asalkan mereka sehat, 'kan? Nah, lewat Project Sunlight ini, Unilever mengajak kita semua turun tangan, baik untuk meningkatkan awareness soal sanitasi maupun untuk langsung berbuat mengedukasi kebiasaan sehat.

Gambar dari sini

Sebagai orangtua, yang gue lakukan pastinya menerapkan kebiasaan baik dan sehat dari rumah sendiri, ya. Edukasi soal sanitasi bisa disampein lewat cara-cara yang gampang dan seru supaya anak tertarik dan mau niru. Mulai dari ngajarin anak menjaga personal hygiene dengan cara nyikat gigi yang bener, menerapkan kebiasaan mencuci tangan, dan  bebersih sendiri di toilet. Maupun ngajak anak menjaga kebersihan toilet (untungnya Bumy 'hobi' diajak nyikat toilet), dan lingkungannya.
Dan ternyata di acara kemarin, Astri Wahyuni selaku External Affairs Manager PT. Unilever Tbk., juga bilang, 

"Fasilitas bisa dibuat cepat, tapi perilaku bersih butuh waktu untuk ditanamkan." 
Bener banget, deh, gue liat sendiri banyak toilet yang (tadinya) bagus jadi jorse gara-gara perilaku pemakainya yang cuek.

Untuk menyebarkan gagasan Project Sunlight ini, Unilever memilih wakil anak Indonesia untuk menyampaikan ide-ide meraih mimpi dan kehidupan yang lebih baik, yaitu Dira Noveriani. Paparan Dira oke dan menohok banget, deh. Salah satunya dia bilang, tantangan bagi kita menerapkan kebiasaan hidup yang sehat itu sebenarnya sikap apatis dan kurangnya edukasi. Videonya bisa ditonton di sini:
 



 

Nah, kita semua bisa ikut berpartisipasi, lho, untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik buat anak-anak kita dan generasi mendatang. Selain menyiapkan anak-anak kita sendiri buat jadi agent of change lewat edukasi soal sanitasi, kita juga bisa masuk ke website Project Sunlight, yaitu www.projectsunlight.co.id.

Dari situ, kita bisa:

- Lihat (View). Caranya dengan menyaksikan film inspirasional di situs. Tiap kali film ini ditonton, Unilever akan menyumbangkan Rp100 untuk Project Sunlight!

-Bertindak (Act). Ada beberapa cara partisipasi untuk ini, antara lain: 

1. Menulis ide untuk #brightfuture di situs Project Sunlight mengenai bagaimana bisa membuat perubahan. Unilever akan menyumbang Rp1.000 untuk setiap ide yang dituliskan.
2. Kita juga bisa turun langsung dengan menjadi relawan edukasi kesehatan di sekolah dasar di Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, dan Yogyakarta. Unilever akan menyumbang Rp100.000 untuk setiap partisipasi relawan.
3. Kalau masih sulit nyari waktu buat jadi relawan, sebagai ebo-ebo, kita bisa berpartisipasi lewat belanja. Untuk setiap pembelian produk Lifebuoy, Pepsodent dan Domestos di Lotte Mart, Unilever akan menyumbang Rp1.000, lho!

-Berbagi (Share). Sebarkan cerita atau video inspirasional mengenai gagasan anak tentang masa depan untuk menginspirasi lebih banyak orang. Gampang banget, 'kaan?

Last but not least,


-Ikut (Follow). Yuuk, ikutin cerita inspirasi di Project Sunlight.

Di website Project Sunlight, kita juga bisa dapetin materi edukasi untuk 'menularkan' kebiasaan sehat, lho, misalnya buat ART atau nanny di rumah. Atau kita bisa mencetak trus tempel materi itu di sekolah anak, puskesmas, atau PAUD dekat rumah. Untuk info lebih lengkap, bisa dilihat di Fan Page Unilever.

Ada banyaak, deh, cara buat berpartisipasi. Tapi menurut gue, langkah awal yang utama adalah stop jadi apatis! Dengan menyadari kalau isu sanitasi ini masalah kita bersama, akan tumbuh kepedulian untuk menyelamatkan anak-anak dan generasi mendatang.

Semoga kelak senyum semua anak Indonesia bisa seceria si mas :')
Jadii, udah kepikiran mau berbuat apa di #ProjectSunlight? Yuuk, cus kita wujudkan!

24/11/2014

because adolescence never ends...

Memahami ABG Lewat Diary


by: - Friday, November 21st, 2014 at 7:00 am
In: Activity Mommy Chatter Tweens & Teen 3 responses

Ingat nggak, sih, seperti apa rasanya saat kita masih ABG? Tunggu sebentar, is there any other people out there still use the term “ABG” like i just did? Hihihi…
Saya sendiri, sih, ingat dengan jelas bagaimana rasanya. Tidak hanya berbekal ingatan, tapi saya juga bisa mengenangnya lewat buku harian alias “diary.” Saya masih menyimpan semua diary saya, mulai dari yang pertama, dated way back to 1993! Ternyata ada untungnya juga doyan curhat, saya bisa tinggal membuka buku-buku itu kalau ingin mengenang suatu kejadian.

Nah, beberapa hari yang lalu, tiba-tiba ada dorongan untuk membuka buku harian pertama saya, yang ditulis saat kelas 4 SD sampai 2 SMP. Hmm, meskipun bukan tanpa alasan juga, sih, saya ingat buku itu, pastinya ada faktor editorial letter Lita bulan ini yang bertema “Teenage Dream,” hehehe.

dear diary book(1)Buku harian pertama saya modelnya ‘klasik’ banget – untuk tidak menyebutnya norak. Covernya diisi gambar bernuansa romantis a la majalah remaja yang ngetren di tahun 90an. Buku harian pertama saya terinspirasi dari buku cerita berjudul “Dear Diary” yang waktu itu dikirimkan oleh tante yang tinggal di luar kota. Melalui buku yang dikarang oleh Carrie Randall itu, Lizzie, tokoh utamanya yang seorang ABG juga seperti saya, memperkenalkan saya pada konsep “curhat.” Lizzie menceritakan hidupnya sehari-hari dengan segala drama, keresahan, dan masalah yang sedang dihadapi.

Saat membuka kembali buku harian itu, saya sangat penasaran dan excited seperti akan membuka mesin waktu! Sekitar satu jam berikutnya, saya disuguhkan kembali keseharian saya semasa SD; wajah teman-teman (meski hanya lewat deskripsi); lagu-lagu kesukaan, daaan lainnya. Napak tilas mental ini, selain membanjiri dengan kenangan, ternyata juga menyuguhkan hal-hal yang bisa menjadi rambu-rambu pengasuhan bagi saya saat ini. Apa sajakah itu?

- Ternyata, memperhatikan perasaan si kakak saat punya adik baru itu penting.
Curhat banget, ya? Jadi, waktu saya masih kelas 5 SD, adik saya yang ke-dua (laki-laki) lahir. sementara, saya sudah punya adik perempuan yang ‘hobi’nya berantem terus dengan saya. Nah, waktu itu, saya merasa setiap kali kami berantem, saya yang terus-menerus kena semprot, sementara si adik dibela.

Sepertinya, sih, bukan cuma karena saya mulai puber hingga sering galau sendiri, tapi mungkin juga karena mengalami yang disebut Manda sebagai “Kakak Blues.” Jadi bawaannya sensi dan carper menyambut kelahiran adik baru.
Maunya, sih, ketika nanti Bumy punya adik (entah kapan hihihi), saya sudah tahu cara menyiapkannya menjadi kakak baru, seperti di artikel ini.

- Bullying!
Akhir-akhir ini, berita tentang bullying (sedihnya) sudah kerap kita dengar, ya, Mommies. Sebenarnya, sih, sejak dulupun bullying sudah banyak terjadi. Mommies sendiri mungkin familiar dengan perploncoan yang seolah menjadi ritual di banyak sekolah, bukan? Tapi, ketika masih duduk di kelas 6 SD, bullying menjadi bagian dari hidup saya bukan karena menjadi korban, melainkan pelaku!

Yaa, ini memang bisa dibilang aib. Mungkin karena merasa punya banyak teman, saya jadi suka mengolok-olok teman yang terlihat ‘berbeda.’ Entah itu karena kekurangan maupun kelebihannya. Kalau dipikirkan sekarang, apa mungkin waktu itu saya kurang perhatian, ya, karena Kakak Blues tadi? Hehe… tidak tahu juga, sih. Tapi, menurut saya, kontrol dari sekolah yang minim juga bisa menjadi penyebab terjadinya bullying; baik karena murid yang jumlahnya banyak, perhatian guru yang kurang, maupun tidak adanya sistem untuk menangani bullying.

Tapi, waktu jadi murid SMA, seperti Kiki, saya merasakan di-bully. Biasalah, oleh kakak-kakak kelas yang sama-sama perempuan. Hal itu menyadarkan saya, bahwa meskipun tidak melibatkan kekerasan fisik, perasaan diteror dan juga diolok-olok TERNYATA didn’t hurt any less. :( Mungkin itu yang membuat saya jadi tidak mau mengulang tindakan bully ketika sudah jadi kakak kelas.

Kini, sebagai orangtua, tentunya saya tidak mau anak mengalami bullying. Menurut saya, anak perlu sering-sering diajak berempati agar memedulikan perasaan orang lain. Tapi, seperti Kirana, saya juga mengajarkan anak agar dapat membela dirinya jika di-bully.

Selanjutnya: Naksir-naksiran. Uhm!


diary*Gambar dari sini
- Yang satu ini ciri khas ABG banget, yaitu sudah mulai memerhatikan lawan jenis dan, pastinya, ingin diperhatikan.
Kalau menilik pengertian masa puber, ini berarti saat-saat di mana seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Biasanya dimulai di usia 8 hingga 10 tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. (Wikipedia)

Nah, jadinya wajar ‘kan kalau saya sudah mulai melirik lawan jenis saat kelas 5 SD? Hahaha… Dari yang saya baca di diary, sih, penyebab rasa suka itu karena si teman lucu atau seru diajak ngobrol, atau yah, semata-mata ‘cakep’ di mata saya waktu itu. xD

Pastinya bisa ditebak kalau urusan ini saya rahasiakan. Nggak kebayang saya bisa ngobrolin ini dengan orangtua saya. Tapi, saya maunya, sih, anak saya nanti mau bercerita pada saya (atau papanya, deh) jika dia sudah mulai naksir cewek, hehe. Sekadar suka would be harmless, I think. Justru kalau orangtua tahu, bisa menjadi jalan pembuka untuk diskusi soal seks dan seksualitas.

Tapi, sepertinya saya sudah mulai menyiapkan diri dari sekarang untuk diskusi ini, nih, Mommies. Karena seperti yang pernah dibahas di artikel ini, 10 is the new 16. Yup, anak-anak kita akan jauh lebih cepat ‘dewasa’ daripada kita dulu!

- Tentang memilih ekskul atau les di luar sekolah.
Nah, berhubung saya banyak bercerita soal kegiatan saya sehari-hari di buku harian, saya jadi teringat apa saja ekskul dan les saya waktu itu. Ternyata, saya dulu sebal banget kalau disuruh les menari oleh ibu. Sekarang saja, membayangkan saya yang kikuk dan pemalu ini menari membuat geli sendiri. Dulu, ibu saya mengikutkan saya les menari karena melihat adik perempuan saya luwes banget ketika menari dan sepertinya sih ingin saya lebih luwes dan percaya diri seperti dia. But to me, having to follow the dance course was excruciating. 

Lalu saya juga dipanggilkan guru privat ke rumah untuk les matematika. Saya baca kalau saya sebal banget
harus les ini dan cemberut sepanjang les pada guru saya. Poor teacher! 

Tapi sebaliknya, waktu itu saya senang banget melakukan kegiatan yang aktif dan outdoorsy seperti bersepeda, berenang, main kasti, main galasin/gobak sodor (sampai membentuk tim galasin “all stars” ketika SD! Hahaha), dan… jadi pramuka. Oh ya, i was a dedicated girl scout sampai beberapa kali ikut kemping.

Nah, membaca soal ini dari buku harian, saya jadi diingatkan untuk nggak memilihkan aktivitas untuk anak ketika dia sudah bisa membangun preference-nya sendiri. Kebetulan, beberapa hari lalu saya mendengar siaran radio pagi yang membahas soal karakteristik Generasi Y (1978-1994). Gara-gara dibesarkan dalam kondisi ekonomi yang stabil bahkan cenderung menanjak, anak-anak generasi ini jadinya tahu gampang aja. Apa-apa sudah disediakan dan dipilihkan. Misalnya saja pilihan sekolah dan les.
Gen Y sudah dipilihkan perlu ikut les apa saja yang bisa menunjang kemampuannya oleh orangtuanya; difasilitasi kalau menginginkan barang x, mempelajari skill y, dan lain-lain. Otomatis, ‘ciri khas’ generasi ini adalah maunya serba-instan dan kurang berjuang. Er… kalau berkaca pada diri sendiri, yaa memang (banyak) benarnya, siih, hahaha.

Saya simpulkan dari siaran itu, sebagai orangtua, kita tak perlu sedikit-sedikit menyodorkan sesuatu pada anak,  atau hanya memberi instruksi pada mereka. Selalu tanyakan pendapat mereka, dan libatkan mereka dalam proses. Kiat lengkap membantu memilihkan ekskul anak bisa disimak di artikel ini, ya, Mommies.

- Growing pains are inevitable.
Saya saksikan itu lagi lewat buku harian. Saya bergerak dari zona nyaman selama 6 tahun di SD ke SMP yang ‘asing’ dan berisi norma-norma baru. Teman-teman berubah; yang tadinya nyambung bisa tiba-tiba sombong. Mood swings membuat saya jadi sering ‘berantem’ dengan orangtua. Apalagi soal penampilan fisik… ugh, badan seolah membengkak, jerawat bermunculan; semua perubahan akibat pubertas yang kerap bikin rikuh. Above all that, I was also somewhat trying hard to “fit in” – ingin punya gaya berpakaian yang ‘benar,’ ingin tahu hal-hal yang keren, juga ingin bersikap ‘politically correct’ untuk standar pergaulan anak SMP, hehehe. Kalau dikenang sekarang mungkin terkesan sepele, tapi saat itu, it was the life I lived in. It didn’t feel comfortable.

Kalau saya ingat-ingat, sih, sepertinya orangtua saya berusaha sebaik yang mereka bisa untuk mendampingi saya melewati masa-masa itu; mereka memang tidak mendampingi secara emosional (understandable, mengingat ciri khas kepribadian generasi mereka), tapi mereka melakukan hal lain yang kalau saya nilai sekarang memang diperlukan: Mereka ‘mendoktrin’ saya dengan nilai-nilai, memberi batasan tanpa mengekang, juga memberikan konsekuensi jika perlu.

I think that’s something I’m going to imitate.  

Karena jika dinilai sekarang, sepertinya saya bisa melalui turbulensi masa puber dengan baik-baik saja. Maksudnya, saya bisa melanjutkan pendidikan, tidak memiliki masalah dengan kejahatan, narkoba dan sejenisnya, dan bisa dibilang…  pada akhirnya bersahabat dengan kedua orangtua. So I guess they raised me just fine.

Selanjutnya: Buku diary bukan sekedar curhat!

 
Girl Writing in Diary*Gambar dari sini
Menggali masa ABG melalui buku harian juga memberikan insight tentang betapa bermanfaatnya menularkan kebiasaan curhat ini pada anak-anak kita. Sebuah artikel di Huffington Post tahun 2013 menyebutkan bahwa 83 persen anak perempuan berusia 16 sampai 19 tahun masih mendokumentasikan hidup mereka di buku harian meskipun blog dan social media semakin populer. Dengan paper and pen, buku harian memenuhi kebutuhan untuk mengobservasi hidup dan mencurahkan emosi. It’s a tradition that keeps going strong. Tidak mengherankan, karena menulis buku harian atau jurnal memberikan banyak manfaat, di antaranya:

- Menuturkan perasaan dan pemikiran membuat kita melihatnya dengan lebih jelas.
- Membuat kita lebih mengenal diri sendiri. Dengan menulis secara rutin, kita bisa mengetahui apa yang membuat kita merasa senang dan percaya diri. Kita juga bisa lebih memahami situasi sulit atau orang-orang yang ‘toxic’ untuk kita, dan ini penting bagi kesejahteraan mental kita.
- Mengurangi stres. Menuliskan kesedihan, kemarahan, dan emosi negatif lain membantu mengurangi intensitas perasaan itu.
- Menjadi cara pemecahan masalah yang lebih efektif. Umumnya, kita memecahkan masalah dengan perspektif otak kiri yang lebih analitis. Tapi terkadang, jawaban dapat ditemukan dengan mengolah kreativitas dan intuisi yang khas otak kanan. Menulis membuka jalan untuk kemampuan ini.

Bagi remaja sendiri, manfaat emosional dari menulis jurnal dirangkum oleh para periset sebagai berikut:
  • Menyediakan a sense of control
  • Memungkinkan remaja merencakanan masa depan dengan lebih baik
  • Mengingatkan untuk bersyukur
  • Mengentaskan stres yang berkepanjangan
Kita bisa mendorong anak untuk membuat jurnalnya. But, sometimes the best way to support is to step back. Biarkan anak mengenali kebutuhan emosinya sendiri, berikan mereka waktu untuk mengisi jurnal, dan biarkan mereka menuangkan ekspresi maupun selera artistiknya lewat jurnal tersebut.

Namun jika anak belum berminat memiliki jurnal atau buku harian, kita dapat mencoba menumbuhkan minatnya dengan memberikan ide-ide untuk menjadi bahan tulisan mereka melalui beberapa pertanyaan, seperti
  • Apa saja ketakutanmu?
  • Apa yang ingin kamu capai dalam hidup?
  • Apa saja pertanyaan-pertanyaan yang ingin kamu tanyakan?
  • Tuliskan 3 hal baik yang terjadi hari ini.
  • Tuliskan 3 hal yang kamu inginkan terjadi di masa depan dan bagaimana mencapainya.

Apa Mommies juga punya kenangan yang berkesan seputar buku harian? Atau apakah anak-anak Mommies sudah ada yang suka curhat di buku hariannya sendiri? It must be very interesting. :)

Referensi:
http://www.homeschooling-ideas.com/
http://www.huffingtonpost.com/
http://psychcentral.com/
http://www.parentscanada.com/

21/11/2014

him

Gara-gara baca artikel "Doa Orangtua, Pelindung Tanpa Batas," selain terharu, jadi (makin) terkesan sama si pendamping hidup selama hampir-7-tahun-inih. Tiap kali abis dapat rejeki, kesenangan, atau hal-hal baik menimpa, komentarnya pasti,
"Ini pasti gara-gara doa nyokap kamu, deh."

T___T

Coming from a person who was left by her mother when he was merely 2 yo, it's a bit heart-wrenching.
Your mother must've been so proud of you if only she were here today.