seperti gue tulis di blogpost kontemplatif seputar sekolah, gue akan membahas beberapa sekolah - baik yang sudah gue sambangi, maupun belum. sejak mau naik ke TK sampai bulan september lalu, gue emang udah intensif mencari tahu dan juga visit ke beberapa sekolah.
berikut cerita dan sedikit ulasan tentang beberapa sekolah yang bikin gue tertarik.
1. sekolah NA
tertarik sama sekolah ini udah sejak lama, tapi mundur teratur ketika tau sekolahnya bakal pindah ke wilayah jaktim. tapi entah kenapa suatu hari gue membuka web page sekolah ini, dan berkat itu, jadi tau kalau pindahnya ke wilayah bambu apus. gue perhatiin peta lokasinya, ternyata gak jauh dari pintu tol. ketika gue tanya temen yang setiap hari commuting bintaro - pondok kopi lewatin tol jorr, menurutnya traffic dari exit tol rumah gue (cilandak) menuju bambu apus itu lancar kalau pagi. selain itu, kebetulan ada saudara adit yang tinggal deket lokasi sekolah, jadi bisalah kita minta titip intip-intip kalau perlu.
akhirnya kita putuskan untuk datang langsung ke lokasi sekolah. ternyata lokasinya deket banget dari exit tol, mungkin cuma 50 meter. udah gitu, pintu masuk ke tolnya lagi juga tinggal muter. nggak ribet, deh. kita sempat masuk ke dalam bangunan sekolah yang bagus, megah, dan lengkap. berhubung sebelumnya udah sering baca soal sekolah ini, jadi gue merasa udah paham tentang kurikulum dan metode pembelajarannya. yang jadi concern utama justru soal jemputan. pas gue tanya ke pihak sekolah, bumy masih bisa dimasukkan pada tengah tahun belajar, tapii sayangnya jemputan untuk anak TK udah pada penuh, baik yang dari cilandak KKO maupun yang dari prapanca. yaah, terpaksa batal, deh daftar ke sini.
beberapa waktu kemudian, kita sempat ngobrolin sama opanya bumy soal pilihan sekolah dan lokasinya. biasanya sih dia cuma mau tau dan gak banyak komentar, tapi kali ini dia ngasih masukan singkat, dia bilang, "jangan deh, ke sekolah yang pakai lewat tol segala." hadeeh... ya emang sih, gue juga agak gentar kalau harus nyetir sendiri bolbal tol jorr gitu, makanya ngandalin jemputan.
btw, selain dari banyak ulasan positif tentang metode pengajaran sekolah ini, yang gue suka dari sekolah ini tuh uang pangkal maupun bulanannya gak mencekik, padahal fasilitas sekolahnya bagus dan oke banget.
2. sekolah BS
gue tertarik karena sekolah ini menyediakan fasilitas yang keren dan lengkap, dengan kualitas guru yang oke, plus kurikulumnya juga komprehensif - sisi akademis maupun character building, semua masuk. trus juga seperti yang gue tulis di sini, sekarang gue nggak masalah dengan pemakaian bahasa asing di sekolah. malahan kalau bisa trilingual, belajar bahasa mandarin juga :D berhubung gue udah pernah menjajal bahasa mandarin satu semester yaah, kayanya bagus juga kalau dikuasai sejak dini, mumpung anak lagi golden age.
tapi satu concern utama ya tentu aja, jarak. sempat berangan-angan (baca: blaga gila) sih, apa kita tinggal di karawaci aja during weekdays? xD
seperti saran di artikel ini, i did a lot of browsing, dan menemukan banyak testimoni positif dari orangtua tentang hasil pendidikan di sekolah ini. gara-gara tertarik sama sekolah ini juga gue jadi ngeh soal kurikulum internasional, baik itu IB, cambridge, maupun IPC. dan ternyataa, beda kurikulum juga membedakan biaya sekolah yaa... iseng gue intip school fee sekolah ini yang di simprug, walhasil terlongo-longo sendiri jadinya haha.
3. sekolah AJ
jujur, sekolah ini gue pertimbangkan sebagian besar karena faktor lokasi yang deket dari rumah. hal lain yang juga jadi pertimbangan adalah bangunan sekolahnya yang bagus dan terlihat bersih. akhirnya gue datang langsung ke sekolah ini setelah sebelumnya nanya tentang seat availability dan biaya. kesan yang gue dapatkan adalah sekolah ini emang bersih dan terawat. lokasi kelas-kelas TK ada di lantai satu dan cukup secluded, diapit oleh ruang kepala sekolah, playground, dan semacam area bercocok tanam. toilet untuk anak TK juga bersih, dan cuma bisa dipakai oleh anak SD kelas 1 yang kelasnya berada di samping ruang kepsek.
ruangan kelasnya bersih dan terang, ada dispenser untuk hand soap/sanitizer tapi pas gue tengok ke kelas TK A, dispenser tsb lagi kosong, sih.
kurikulum buat TK bisa ditemukan di sini, metode pembelajarannya active learning dengan beberapa program unggulan. kalau kesan secara personal sih, sekolah ini mengingatkan pada sekolah-sekolah swasta terkenal berbasis agama. fasilitas lumayan oke, skala sekolahnya juga lumayan besar dari segi level pendidikan maupun murid. ada komite juga buat orangtua (ibu-ibu sih sepertinya yang aktif). tapi to be honest gue nggak merasakan adanya chemistry dengan sekolah ini, entah karena gue nggak dapet greget keunikan atau kenapa.
4. sekolah GM
gue menemukan sekolah ini saat browsing sekolah di kawasan jaksel. yang sangat membuat gue tertarik tentunya adalah metode pendidikannya yang diklaim montessori secara full, serta dikombinasi dengan nilai-nilai islami PLUS lingkungan hidup. sounds too good to be true, eh? karena kadung tertarik, akhirnya kita putuskan untuk datang langsung ke lokasi. kesan-kesan yang didapat begini:
- kondisi sekolah sekarang masih menggunakan bangunan berbentuk rumah, sementara gedung baru sedang dibangun. kita intip pembangunannya sih mungkin baru selesai tahun depan, ya? tapi pihak sekolah bilang kemungkinan ready by november.
- ruangan kelasnya bersih, terang, rapi. karena kelasnya di dalam rumah, jadi toiletnya juga dekat dengan tempat belajar, bukan di luar.
- ketika visit, pihak sekolah pertama-tama menjelaskan ke kita tentang apa itu metode montessori dan gimana penerapannya di sekolah ini. sesi ini berguna juga sih, dan untung gue dateng sama adit, jadi dia bisa dapet info yang sama. gue sendiri udah merasa familiar dengan metode ini karena sempat baca-baca juga, tapi ketika dijelasin lagi, ternyata banyak hal yang gue nggak tau dan ujung-ujungnya bikin pengen tau lebih banyak. selengkapnya tentang penerapan metode tsb di sekolah ini bisa dibaca di sini.
tapi berhubung sekolah bumy sebelumnya mengklaim mengadaptasi metode montessori meski hanya sebagian, gue jadi tertarik untuk membandingkan, dong ya, se-full apa metode tsb dijalankan di sini. ternyata, bedanya banyak. montessori itu nggak cuma ngajarin practical life skills ataupun sensorial, tapi juga bahasa, matematika, dan culture yang terdiri dari science dan geografi. udah gitu, di montessori juga anak yang jadi penentu mau belajar apa, bukannya guru yang menentukan materi apa yang harus dipelajari. lengkapnya tentang montessori mungkin bisa di-googling sendiri lah ya. tapi balik ke sekolah ini lagi, di sini guru-guru udah pada certified untuk metode montessori dan aparatus yang digunakan juga otentik. overall, setelah ngobrol panjang-lebar soal metode ini, terdengar oke banget karena anak diarahkan untuk jadi lifelong learner, mandiri, sekaligus tau apa yang mau dia achieve dalam hidup.
- bahasa yang digunakan full english, tapi as stated here, emang bukan dengan logat native speaker, sih. dari yang gue dengar, aplikasi bahasanya cukup konsisten, gak campur-campur.
- kita putuskan untuk ngikutin bumy trial di sini. yang paling gue suka sih pembahasan dari observasi trial-nya ya, detil banget dan banyak ngasih saran perbaikan.
- hal-hal teknis lainnya seputar sekolah ini misalnya makan siang dan snack dapat dari sekolah, sistem keamanannya cukup established, dan ngasih report perkembangan anak per bulan, per mid-term maupun per term.
5. sekolah BM
sekolah ini udah gue incar sejak sebelum bumy masuk TK, tapi baru beneran disambangi kemarin untuk trial. yang gue suka, sekolah ini memberikan kesempatan 2 hari trial. gratis pula.
kesan-kesan yang didapat antara lain:
- sekolah ini memberikan kenyamanan buat para pengantar anak. tukang parkirnya ada beberapa orang dan cukup sigap. ini penting mengingat lahan parkirnya sedikit dan sekolahnya ada di pinggir jalan yang nggak gede. selain itu, disediakan tenaga asisten/helper yang bertugas mengawasi anak-anak bermain dalam jumlah yang juga cukup banyak. ini memudahkan orangtua yang drop off anak sebelum jam belajar dimulai, karena sudah ada yang menjaga anak di lingkungan sekolah. udah gitu, area nunggunya juga banyak, bisa di luar (banyak tempat duduk, adem dengan angin sepoi-sepoi) bisa juga di dalam (ber-ac, ada tv, majalah, dan wifi!).
- bangunan sekolahnya bisa dibilang sederhana, tapi ruangan-ruangannya luas dan bersih. playgroundnya besaar dan ada di dalam ruangan maupun di luar/halaman belakang. lucu banget deh halaman belakangnya. asri, hijau, bersih, ada kolam ikan juga.
- setelah bumy trial, gue jadi tau kalau metode montessori yang diterapkan "nggak full banget" dan bahasa yang digunakan nggak 100% english juga.
- dari sekolah-sekolah yang sudah disurvey di atas, cuma ini yang nggak ada level SD-nya.
alhamdulillah akhirnya pilihan bisa dijatuhkan juga setelah seminggu gelisah setiap sebelum tidur, haha. tapii, selain pergeseran opini, gue juga dapet masukan berharga dari urusan nyari-nyari sekolah ini.
satu, jangan mudah termakan iming-iming keindahan visi-misi-program-dsb dari sebuah sekolah. kesan pertama bisa salah.... that's why i try to keep my expectation as low as possible. yang tertera di atas kertas bisa memukau, tapi pembuktiannya kelak ada pada day-to-day operations.
dua, gue jadi belajar untuk gak gampang memuji kelebihan sebuah sekolah, mempublikasikannya, ataupun merekomendasikannya pada orang lain. gue sadarin setelah baca tulisan Arienda di blognya seputar sekolah anak; dia belum mau menyebutkan nama sekolahnya dulu, karena takut pendapatnya akan berubah seiring dengan waktu, dan tulisannya nanti akan misleading orang lain. dan yak, postingan berlabel sekolah udah pada gue edit dan bahkan beberapa diumpetin :))
itu aja, sih. semoga di sekolah barunya bumy bisa belajar dengan lancar, aman, dan nyaman, dan semoga gue dan adit diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menyekolahkan anak dalam segala hal. aamiin.
last note, beberapa referensi seputar memilih sekolah gue dapatkan dari
- http://mommiesdaily.com/2013/04/04/pilih-pilih-sekolah/
- http://mommiesdaily.com/2013/10/28/memilih-sekolah-terbaik-untuk-anakku/
- http://mommiesdaily.com/2013/05/24/menimbang-dan-memilih-sekolah-anak/
01/10/2014
30/09/2014
which school?
setelah hampir lima tahun jadi orangtua, gue menyadari kalau terjadi banyak pergeseran dalam pemahaman maupun cara berpikir gue (efek memasuki usia kepala 3?), salah satunya ya seputar pengasuhan.
dulu saat masih bertitel new parents, kayaknya apa-apa bawaannya ribet. pilihan ngelahirin, pilihan ngasih anak asi vs sufor, jadi ibu rumah tangga atau working mom; ini baru yang "esensial" aja. di luar itu masih banyakkk macam pilihan yang bisa bikin mumet. name it, deh: jenis stroller, merk popok, pilihan aktivitas buat anak, pilihan DSA, naro asip di botol apa plastik, dst dlsb.
padahal, TERNYATA pendapat kita soal hal-hal itu bisa berubah. apa yang dulu dianggap prinsipil dan dipikirin bolak-balik sampai kurang tidur, ternyata bisa menjadi tidak se-prinsipil itu seiring dengan berjalannya waktu. those options don't get any easier, sih. tapi mungkin kitanya yang jadi lebih 'mateng' sebagai pribadi, dan juga sebagai orangtua.
dalam tulisan ini, hal yang secara khusus mau gue bahas karena juga mengalami fenomena pergeseran opini tadi, adalah soal pilihan sekolah.
sebenernya udah sejak Bumy mau masuk TK gue mau menuangkan pendapat gue di blog soal pemilihan sekolah. eh, tapi ternyata ada untungnya juga tulisan itu kepending terus (terima kasih, time-management skill-ku yang buruk), karena seiring dengan berjalannya waktu, ternyata opini gue, ya itu tadi, bergeser.
dulu, pertama kali melalui fase nyari-nyari sekolah "terbaik" buat anak, check list gue sifatnya idealis banget. maunya yang full berbahasa indonesia, yang gak ngajar calistung, yang membumi, sekaligus yang mendahulukan pembentukan karakter anak di atas segalanya.
ketika mulai survey-survey sekolah untuk jenjang PG dulu, kriteria jadi lebih spesifik, misalnya yang
- metode pendidikannya oke; bikin anak suka belajar, bukannya terbebani.
- kurikulumnya nyambung dengan visi kita buat anak.
- biayanya nggak melebihi 10% income hehehe.
tapi tentunya kriteria "idealis" di awal tadi tetap diikutkan. buat gue saat itu, yang jadi prioritas ya yang ada di list tadi. yang lain-lain ya bukan prioritas. cincay ajah. nggak perlu deh fasilitas yang keren bin mutakhir, yang penting si anak hepi dengan metode pengajaran yang asik.
atau nggak pentinglah kualifikasi guru-gurunya kayak gimana, yang penting punya kepedulian tinggi.
atau juga nggak apa-apa deh metode pendidikannya masih eksperimental, yang penting anak gue bisa bersosialisasi dan terbiasa bersekolah.
sekarang, dengan bertambahnya pengalaman menyekolahkan anak, mulai deh mata gue terbuka dan gue bisa melihat dengan lebih jelas faktor-faktor lain dalam memilih sekolah buat anak.
gue juga jadi terbantu untuk mengenali apa sih hal-hal yang sifatnya bener-bener krusial buat gue.
kadang gue mikir, mungkin perbedaan antara mau jadi idealis dengan being ill-informed itu tipis, ya? karena jujur aja, dengan menganggap kriteria gue itu udah yang paling ideal, gue jadi kurang kritis sama cara berpikir dan pilihan gue sendiri, dan ujung-ujungnya, jadi suka nyinyir sama pilihan-pilihan lain. misalnya dengan menganggap pilihan gue udah yang paling oke dan "bener."
bergerak dari situ, gue mulai menyambangi beberapa sekolah, dan ternyata gue dapet bermacam-macam insight dari kunjungan-kunjungan itu. misalnya dari
- sekolah A: fasilitasnya bagus, metode yang ditawarin menarik. tapi gue liat "gaya" SDM-nya bikin kurang sreg. pas gue diajak liat sebuah ruangan, ada guru yang posisinya lagi duduk di lantai dan nyender ke dinding sampai melorot. err... kurang pantes aja deh pas lagi jam kerja sikap badannya kayak gitu, menurut gue. gue juga pernah menemui kelakuan SDM sebuah sekolah yang ngingetin anak-anak buat gak lari-lari dengan teriak kenceng-kenceng, atau malah ada yang gurunya pada selfie rame-rame (er, we-fie?) bukannya ngawasin murid-muridnya yang pada lagi outdoor play.
ini bikin gue nyadarin kalo attitude SDM sebuah sekolah itu penting. karena anak-anak 'kan meniru dan menyerap perilaku siapapun di sekelilingnya, terlebih yang ketemu tiap hari seperti di sekolah.
- sekolah B: megah, fasilitas oke banget, metode pengajaran inovatif dan keren. tapi kok gue perhatiin chemistry guru-guru dengan para muridnya kurang. malahan guru terkesan bagaikan babysitter karena kurang berwibawa. ini ngasih gue insight bahwa selain kualifikasi pendidikan, kualitas guru sebagai pendidik juga perlu diperhatikan.
- sekolah C: lokasinya ribet, biayanya mahal banget. tapi pas lihat kondisi belajar-mengajarnya, chemistry guru dan murid bagus, anak-anaknya juga tenang dan terarah. begitu ngobrol dengan vice principalnya, jadi tau kalau metode pengajaran yang diterapkan ternyata oke banget karena memandang anak sebagai entitas yang unik dan menjadikan value "respect" sebagai landasan untuk mendidik, prasarana mengajar otentik dan sesuai dengan metode yang digunakan, udah gitu guru-gurunya secara rutin di-training. hmm jadi tau kalau biaya yang dikenakan itu emang sebanding dengan kualitas pendidikan yang diberikan.
- sekolah D: metode pendidikan inovatif karena terdiri campuran beberapa jenis metode, cuma sayangnya fasilitas dan kondisi sekolah kurang memadai, serta tenaga pengajarnya minim pemahaman tentang kesehatan dan higienitas. sementara itu, kesan dari interaksi dengan pihak sekolah begitu menggoda karena dipaparkan visi yang aduhai, metode pendidikan, character building, dsb. gimana, dong, tuh?
dari hal-hal di atas, gue jadi banyak dialog sama diri sendiri, dan juga diskusi sama adit. misalnya soal kebersihan dan keamanan sekolah. tadinya sih, gue nggak rewel urusan higienitas atau safety. katanya 'kan, sedikit kotor itu baik. begitu juga sedikit-sedikit kena virus, bukannya bisa membangun imunitas? tapi jika dipikir ulang, gimana anak bisa sempat di-build karakternya kalau jarang dateng ke sekolah karena sakit atau naudzubillah, kenapa-kenapa di sekolah?
lalu soal fasilitas sekolah. emang sih, nggak ngarep tiap kelas punya playground sendiri (nggak kuat bayarnya jugak xD), tapi setidaknya tersedia fasilitas yang memadai dan terawat untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar. ini sifatnya subjektif banget, sih. apa yang buat orang lain cukup, belum tentu dipandang memadai sama gue; begitupun sebaliknya.
yang lainnya, faktor bahasa yang digunakan. idealisme gue untuk milih sekolah yang bahasa indonesia full only thok mulai terkikis berkat informasi bahwa belajar bahasa lain sejak dini itu nggak apa-apa, asalkan si anak siap dan kondisi di rumah mendukung - kayak dibeberkan di artikel ini.
well, segini banyaknya sekolah di jaksel dan sekitarnya - belum lagi di kawasan yang agak jauh tapi dikaruniai banyak sekolah bagus kayak serpong - tentunya gak mungkin gue sambangi satu persatu. nah, gue terbantu banget oleh thread "School's Cool"-nya MD, karena banyak mamah-mamah yang rajin nyari tau soal opsi-opsi sekolah dan mau berbagi soal apa yang dicari dari metode pendidikan tertentu. salah satunya, gue jadi tau kalau sekolah itu bisa dibedakan nggak cuma dari kurikulumnya, tapi juga menurut jenis manusia seperti apa yang ingin dicetak. misalnya ada sekolah yang ingin mencetak manusia dengan leadership skill dan kepercayaan diri yang tinggi, jadi ya jangan nyinyir kalau sekolah itu sering ngadain school performance, baik itu dengan cara mengasah skill presentasi, maupun menumbuhkan keberanian untuk tampil di depan orang banyak.
atau ada sekolah yang ingin mencetak manusia yang unggul di bidang akademis, jadinya ya wajar kalo anak-anak di sekolah dapet banyak tugas, dikejar target untuk meraih nilai akademis gemilang, dsb. atau bila ada sekolah yang ngebiarin murid-muridnya kotor-kotoran dan gelayutan di pohon, ya jangan mencibir juga, mungkin metode dekat-dengan-alam sesuai dengan visinya untuk mencetak anak-anak yang membumi.
begitu juga ada sekolah yang ingin mencetak manusia-manusia dengan pemahaman tinggi di bidang agama, atau yang ingin mencetak pengusaha-pengusaha sukses, daaan lain-lain.
akhirnya, ya balik lagi ke visi kita buat anak seperti apa. iyaah benar, capek-capek visiting, trial, interview, ujung-ujungnya peer besar itu harus diberesin sama orangtua dulu. mau kurikulum yang bagaimana? udah kenal baik kepribadian dan preferensi cara belajar anak, belum? belum lagi faktor-faktor eksternalnya, seperti kondisi sekolahnya gimana, berapa jarak rumah ke sekolah, ada jemputan atau nggak, ekskulnya apa aja, makanan disediain atau nggak (faktor penting buat gue! hehe), sampe "sekolah itu peminatnya banyak, nanti kalo kita nggak kebagian seat, gimana??"
so officially, pusiang urusan sekolah kembali dimulai. apalagi sekarang udah harus lebih membidik ke arah SD.
pada kesempatan berikutnya, akan gue ulas hasil menyambangi beberapa sekolah, yahh.
dulu saat masih bertitel new parents, kayaknya apa-apa bawaannya ribet. pilihan ngelahirin, pilihan ngasih anak asi vs sufor, jadi ibu rumah tangga atau working mom; ini baru yang "esensial" aja. di luar itu masih banyakkk macam pilihan yang bisa bikin mumet. name it, deh: jenis stroller, merk popok, pilihan aktivitas buat anak, pilihan DSA, naro asip di botol apa plastik, dst dlsb.
padahal, TERNYATA pendapat kita soal hal-hal itu bisa berubah. apa yang dulu dianggap prinsipil dan dipikirin bolak-balik sampai kurang tidur, ternyata bisa menjadi tidak se-prinsipil itu seiring dengan berjalannya waktu. those options don't get any easier, sih. tapi mungkin kitanya yang jadi lebih 'mateng' sebagai pribadi, dan juga sebagai orangtua.
dalam tulisan ini, hal yang secara khusus mau gue bahas karena juga mengalami fenomena pergeseran opini tadi, adalah soal pilihan sekolah.
sebenernya udah sejak Bumy mau masuk TK gue mau menuangkan pendapat gue di blog soal pemilihan sekolah. eh, tapi ternyata ada untungnya juga tulisan itu kepending terus (terima kasih, time-management skill-ku yang buruk), karena seiring dengan berjalannya waktu, ternyata opini gue, ya itu tadi, bergeser.
dulu, pertama kali melalui fase nyari-nyari sekolah "terbaik" buat anak, check list gue sifatnya idealis banget. maunya yang full berbahasa indonesia, yang gak ngajar calistung, yang membumi, sekaligus yang mendahulukan pembentukan karakter anak di atas segalanya.
ketika mulai survey-survey sekolah untuk jenjang PG dulu, kriteria jadi lebih spesifik, misalnya yang
- metode pendidikannya oke; bikin anak suka belajar, bukannya terbebani.
- kurikulumnya nyambung dengan visi kita buat anak.
- biayanya nggak melebihi 10% income hehehe.
tapi tentunya kriteria "idealis" di awal tadi tetap diikutkan. buat gue saat itu, yang jadi prioritas ya yang ada di list tadi. yang lain-lain ya bukan prioritas. cincay ajah. nggak perlu deh fasilitas yang keren bin mutakhir, yang penting si anak hepi dengan metode pengajaran yang asik.
atau nggak pentinglah kualifikasi guru-gurunya kayak gimana, yang penting punya kepedulian tinggi.
atau juga nggak apa-apa deh metode pendidikannya masih eksperimental, yang penting anak gue bisa bersosialisasi dan terbiasa bersekolah.
sekarang, dengan bertambahnya pengalaman menyekolahkan anak, mulai deh mata gue terbuka dan gue bisa melihat dengan lebih jelas faktor-faktor lain dalam memilih sekolah buat anak.
gue juga jadi terbantu untuk mengenali apa sih hal-hal yang sifatnya bener-bener krusial buat gue.
kadang gue mikir, mungkin perbedaan antara mau jadi idealis dengan being ill-informed itu tipis, ya? karena jujur aja, dengan menganggap kriteria gue itu udah yang paling ideal, gue jadi kurang kritis sama cara berpikir dan pilihan gue sendiri, dan ujung-ujungnya, jadi suka nyinyir sama pilihan-pilihan lain. misalnya dengan menganggap pilihan gue udah yang paling oke dan "bener."
bergerak dari situ, gue mulai menyambangi beberapa sekolah, dan ternyata gue dapet bermacam-macam insight dari kunjungan-kunjungan itu. misalnya dari
- sekolah A: fasilitasnya bagus, metode yang ditawarin menarik. tapi gue liat "gaya" SDM-nya bikin kurang sreg. pas gue diajak liat sebuah ruangan, ada guru yang posisinya lagi duduk di lantai dan nyender ke dinding sampai melorot. err... kurang pantes aja deh pas lagi jam kerja sikap badannya kayak gitu, menurut gue. gue juga pernah menemui kelakuan SDM sebuah sekolah yang ngingetin anak-anak buat gak lari-lari dengan teriak kenceng-kenceng, atau malah ada yang gurunya pada selfie rame-rame (er, we-fie?) bukannya ngawasin murid-muridnya yang pada lagi outdoor play.
ini bikin gue nyadarin kalo attitude SDM sebuah sekolah itu penting. karena anak-anak 'kan meniru dan menyerap perilaku siapapun di sekelilingnya, terlebih yang ketemu tiap hari seperti di sekolah.
- sekolah B: megah, fasilitas oke banget, metode pengajaran inovatif dan keren. tapi kok gue perhatiin chemistry guru-guru dengan para muridnya kurang. malahan guru terkesan bagaikan babysitter karena kurang berwibawa. ini ngasih gue insight bahwa selain kualifikasi pendidikan, kualitas guru sebagai pendidik juga perlu diperhatikan.
- sekolah C: lokasinya ribet, biayanya mahal banget. tapi pas lihat kondisi belajar-mengajarnya, chemistry guru dan murid bagus, anak-anaknya juga tenang dan terarah. begitu ngobrol dengan vice principalnya, jadi tau kalau metode pengajaran yang diterapkan ternyata oke banget karena memandang anak sebagai entitas yang unik dan menjadikan value "respect" sebagai landasan untuk mendidik, prasarana mengajar otentik dan sesuai dengan metode yang digunakan, udah gitu guru-gurunya secara rutin di-training. hmm jadi tau kalau biaya yang dikenakan itu emang sebanding dengan kualitas pendidikan yang diberikan.
- sekolah D: metode pendidikan inovatif karena terdiri campuran beberapa jenis metode, cuma sayangnya fasilitas dan kondisi sekolah kurang memadai, serta tenaga pengajarnya minim pemahaman tentang kesehatan dan higienitas. sementara itu, kesan dari interaksi dengan pihak sekolah begitu menggoda karena dipaparkan visi yang aduhai, metode pendidikan, character building, dsb. gimana, dong, tuh?
dari hal-hal di atas, gue jadi banyak dialog sama diri sendiri, dan juga diskusi sama adit. misalnya soal kebersihan dan keamanan sekolah. tadinya sih, gue nggak rewel urusan higienitas atau safety. katanya 'kan, sedikit kotor itu baik. begitu juga sedikit-sedikit kena virus, bukannya bisa membangun imunitas? tapi jika dipikir ulang, gimana anak bisa sempat di-build karakternya kalau jarang dateng ke sekolah karena sakit atau naudzubillah, kenapa-kenapa di sekolah?
lalu soal fasilitas sekolah. emang sih, nggak ngarep tiap kelas punya playground sendiri (nggak kuat bayarnya jugak xD), tapi setidaknya tersedia fasilitas yang memadai dan terawat untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar. ini sifatnya subjektif banget, sih. apa yang buat orang lain cukup, belum tentu dipandang memadai sama gue; begitupun sebaliknya.
yang lainnya, faktor bahasa yang digunakan. idealisme gue untuk milih sekolah yang bahasa indonesia full only thok mulai terkikis berkat informasi bahwa belajar bahasa lain sejak dini itu nggak apa-apa, asalkan si anak siap dan kondisi di rumah mendukung - kayak dibeberkan di artikel ini.
| gambar dari sini |
well, segini banyaknya sekolah di jaksel dan sekitarnya - belum lagi di kawasan yang agak jauh tapi dikaruniai banyak sekolah bagus kayak serpong - tentunya gak mungkin gue sambangi satu persatu. nah, gue terbantu banget oleh thread "School's Cool"-nya MD, karena banyak mamah-mamah yang rajin nyari tau soal opsi-opsi sekolah dan mau berbagi soal apa yang dicari dari metode pendidikan tertentu. salah satunya, gue jadi tau kalau sekolah itu bisa dibedakan nggak cuma dari kurikulumnya, tapi juga menurut jenis manusia seperti apa yang ingin dicetak. misalnya ada sekolah yang ingin mencetak manusia dengan leadership skill dan kepercayaan diri yang tinggi, jadi ya jangan nyinyir kalau sekolah itu sering ngadain school performance, baik itu dengan cara mengasah skill presentasi, maupun menumbuhkan keberanian untuk tampil di depan orang banyak.
atau ada sekolah yang ingin mencetak manusia yang unggul di bidang akademis, jadinya ya wajar kalo anak-anak di sekolah dapet banyak tugas, dikejar target untuk meraih nilai akademis gemilang, dsb. atau bila ada sekolah yang ngebiarin murid-muridnya kotor-kotoran dan gelayutan di pohon, ya jangan mencibir juga, mungkin metode dekat-dengan-alam sesuai dengan visinya untuk mencetak anak-anak yang membumi.
begitu juga ada sekolah yang ingin mencetak manusia-manusia dengan pemahaman tinggi di bidang agama, atau yang ingin mencetak pengusaha-pengusaha sukses, daaan lain-lain.
akhirnya, ya balik lagi ke visi kita buat anak seperti apa. iyaah benar, capek-capek visiting, trial, interview, ujung-ujungnya peer besar itu harus diberesin sama orangtua dulu. mau kurikulum yang bagaimana? udah kenal baik kepribadian dan preferensi cara belajar anak, belum? belum lagi faktor-faktor eksternalnya, seperti kondisi sekolahnya gimana, berapa jarak rumah ke sekolah, ada jemputan atau nggak, ekskulnya apa aja, makanan disediain atau nggak (faktor penting buat gue! hehe), sampe "sekolah itu peminatnya banyak, nanti kalo kita nggak kebagian seat, gimana??"
so officially, pusiang urusan sekolah kembali dimulai. apalagi sekarang udah harus lebih membidik ke arah SD.
pada kesempatan berikutnya, akan gue ulas hasil menyambangi beberapa sekolah, yahh.
23/09/2014
on august and september
- bosen dengan tempat main yang itu-itu aja, atau lebih tepatnya mall yang itu-itu aja, minggu lalu, kita main ke bintaro xchange dan mall kelapa gading. dalam satu hari. sedih yak kedengarannya, weekend abisnya dari mall ke mall aja? hehehe... yaabes kalau siang panas banget, sementara gue lagi nggak bernapsu juga untuk mengejar kegiatan-kegiatan berbudaya #hapalah. atau mungkin sebenernya yang kita cari tuh berkeliling pake mobilnya; nggak kepanasan, tapi juga nggak bermuram durja di rumah aja.
anyways, gue sempat nongkrong alone/me time pas di MKG. bumy dan adit main-main, sementara gue buka laptop di jco, nyelesaiin hutang kerjaan, browsing, dsb. sembari kerja, tanpa dikehendaki gue ikut mencuri dengar obrolan tamu-tamu di meja sebrang. yang satu keluarga agak-muda, yang satu lebih-tua. yang agak-muda ini anaknya cuma satu dan udah kelas 3 SD. ketebak dong, yang lebih-tua sibuk mem'bully' dengan "kok nggak dikasih adek siiih anaknyaaa... kasian lohhh nggak ada temen maiiin" and the likes. tapi kedengarannya pasangan agak-muda (PAM) ini udah terlatih banget untuk menjawab dakwaan-dakwaan semacam itu.
PAM: "nggak usahlah. biaya sekolah YANG BAGUS sekarang mahal."
pasangan agak tua (PAT): "halahh, masukin sekolah ya nggak usah yang bagus-bagus amat. sekolahin di **** (nyebut nama sekolah swasta terkenal) aja, nggak mahal kok!"
PAM: "ehehehe... yaa nanti kan maunya kuliah di luar negri."
PAT: "iihh nanti anakmu dapet jodoh orang luar loh! emangnya mau dapet mantu orang sono?"
PAM: "eheheheh...."
diam-diam gue mengacungkan jontos tanda solidaritas dan penyemangat buat pasangan agak-muda ini. boleh deh ntar gue contek jawaban-jawaban ngelesnyah.
ok, ceritanya gitu aja, sih. no moral of the story.
- sumpah gue butuh banget struktur hidup. ketemu halaman ini dan ngerasa masalah gue banghet yang dibahas. for maybe i am a shut in; one thing for sure, my mind IS scattered all over the place and i don't know where to put my hands on.
setelah gue jahit agar sesuai dengan problema dan kondisi gue, nasehat polly bisa disimpulkan seperti ini:
so i guess that's exactly what i'm gonna do. atau lebih tepatnya what i need to do.
lihatlah gue saat ini, jam 4 sore dan belum mandi, kurang tidur tapi nggak bisa tidur (siang), berniat megang kerjaan tapi malah loncat ke sana ke sini di dunia maya, mau abcd tapi malah melakukan wxyz. setidaknya bumy udah makan mandi tidur siang main keurus, memang. tapi in general, i'm a huge mess.
jadi tadi gue akhirnya membuat langkah-langkah kecil: nanya soal pembantu pulang-pergi ke tetangga, nyari alamat klinik psikolog yang deket dari rumah, nyiapin jadwal dan dana buat ngegym, nyiapin dana buat ngikutin bumy jemputan, dan nulis ini. still so much work to be done. but this is where i start.
- akhirnya ke kineruku. yep setelah bertahun-tahun penasaran, berniat, dan hanya sampai pada menyambangi hegarmanah 52 tapi ruku-nya lagi tutup, sabtu lalu berhasil juga gue masuk ke situ. kebetulan bisa ketemu juga budi warsito, one of the owners. gue tau budi ini pertama kali dari blognya di jaman dahulu kala, budibadabadu.blogspot.com. awal-awal mbaca, gue mikir "ini orang gilak amat otaknya" i mean he could abruptly associate a word with random songs, books, films, names, or whatever. it's like a huge "library" on his head.
and then i was hooked on the blog dan jadi suka baca tulisan-tulisan lama di arsip blog tsb. tapi tau-tau blog itu inactive. sempat linglung juga sih, bertanya-tanya bisa nemuin tulisan doi di mana lagi... sampai lalu bisa menemukan budi lagi di multiply. kalau nggak salah ingat sih begitu kisahnya... pokoknya lewat multiply itu gue jadi bisa 'kenal' sama beliau dan tau soal ruku/kineruku. siapa sangka ternyata dia punya dan mengelola sebuah perpustakaan in real life. dengan gemes dan penasaran gue membayangkan segilak apa koleksi perpustakaan yang dikurasi oleh THE budibadabadu... sampai tahun demi tahun berlalu dan gaung kineruku as one of the "it" places in bandung semakin terdengar. tapi sedihnya, gue belum juga berhasil sowan.
padahal 'kan hotel concordia semacam 'rumah' gue kalo ke bandung, dan jaraknya cuma selemparan batu dari hegarmanah. tapi ya gitu... siapa bisa menggegas suratan hidup? hahahah.
well, saat akhirnya gue masuk dan liat koleksi kineruku, rasanya ekspresi gue udah kaya muka bumy saat masuk ke toko mainan yang superbesar dan koleksinya menggetarkan dada. etapi mungkin aja gue udah nyengir lebar, garuk-garuk kepala, dan mondar-mandir tanpa gue bener-bener sadari sih. bingung mau mulai dari mana, tapi gue putuskan untuk memulai dari koleksi filmnya. sayang seribu sayang, gue nggak bisa minjem film karena waktu pinjamnya cuma 3 hari... dan nyesel juga nggak bawa laptop supaya bisa sempat nonton di hotel. setelah pandang-pandang dan pegang-pegang koleksi film dan cd, baru deh gue ke koleksi buku. gue mulai dari rak puisi dan hmm mungkin non-fiksi, di situ gue udah mulai 'pusing' karena excited lihat judul-judulnya. setelah mencomot buku "ariel"nya sylvia plath, buku puisi emily dickinson, dan bukunya yb mangunwijaya, gue ke rak fiksi. di situ gue lebih terhenyak lagi. i knew this would happen, makanya gue menyambangi rak fiksi belakangan. because, you know, i'm totally into "delayed gratification" dan udah curiga kalau koleksi buku fiksi di sini bakal bikin gue megap-megap. to cut long story short, buku yang gue pungut di sini adalah "noone belongs here more than you"nya miranda july yang nggak bisa gue temukan di manapun (di jakarta, tangerang) dan "nine stories"nya jd salinger.
sekilas catatan untuk budi: 1) terima kasih sudah mengizinkan gue yang berdomisili di jakarta untuk bisa minjam buku-buku di ruku, and it's an awesome place you're running! 2) tolong kabari kalau movie room sudah available lagi karena God only knows betapa saya kepingin nonton "eliana, eliana" hehe, 3) yang ini baru kepikiran, kalau saya mau meminjam lagi, apa bisa minta tolong dikirimkan ke jakarta?? sadar sih, betapa ngelunjaknya permintaan satu ini xD
yasudahlah sepertinya blogpost ini udah terlalu random. akan lanjut berceloteh di lain hari. :D
anyways, gue sempat nongkrong alone/me time pas di MKG. bumy dan adit main-main, sementara gue buka laptop di jco, nyelesaiin hutang kerjaan, browsing, dsb. sembari kerja, tanpa dikehendaki gue ikut mencuri dengar obrolan tamu-tamu di meja sebrang. yang satu keluarga agak-muda, yang satu lebih-tua. yang agak-muda ini anaknya cuma satu dan udah kelas 3 SD. ketebak dong, yang lebih-tua sibuk mem'bully' dengan "kok nggak dikasih adek siiih anaknyaaa... kasian lohhh nggak ada temen maiiin" and the likes. tapi kedengarannya pasangan agak-muda (PAM) ini udah terlatih banget untuk menjawab dakwaan-dakwaan semacam itu.
PAM: "nggak usahlah. biaya sekolah YANG BAGUS sekarang mahal."
pasangan agak tua (PAT): "halahh, masukin sekolah ya nggak usah yang bagus-bagus amat. sekolahin di **** (nyebut nama sekolah swasta terkenal) aja, nggak mahal kok!"
PAM: "ehehehe... yaa nanti kan maunya kuliah di luar negri."
PAT: "iihh nanti anakmu dapet jodoh orang luar loh! emangnya mau dapet mantu orang sono?"
PAM: "eheheheh...."
diam-diam gue mengacungkan jontos tanda solidaritas dan penyemangat buat pasangan agak-muda ini. boleh deh ntar gue contek jawaban-jawaban ngelesnyah.
ok, ceritanya gitu aja, sih. no moral of the story.
- sumpah gue butuh banget struktur hidup. ketemu halaman ini dan ngerasa masalah gue banghet yang dibahas. for maybe i am a shut in; one thing for sure, my mind IS scattered all over the place and i don't know where to put my hands on.
setelah gue jahit agar sesuai dengan problema dan kondisi gue, nasehat polly bisa disimpulkan seperti ini:
"Escaping is not going to help. Rewarding yourself in moderation will. But you absolutely must
1) exercise, 2) write down your feelings for you and no one else, 3) eat good things, 4) sleep regular hours, 5) get up early and do your work SOMEWHERE YOU CAN CONCENTRATE, 6) expect more from see a therapist, 7) focus, and 8) remind yourself, over and over and over, that things will get better.
THINGS WILL GET BETTER."
so i guess that's exactly what i'm gonna do. atau lebih tepatnya what i need to do.
lihatlah gue saat ini, jam 4 sore dan belum mandi, kurang tidur tapi nggak bisa tidur (siang), berniat megang kerjaan tapi malah loncat ke sana ke sini di dunia maya, mau abcd tapi malah melakukan wxyz. setidaknya bumy udah makan mandi tidur siang main keurus, memang. tapi in general, i'm a huge mess.
jadi tadi gue akhirnya membuat langkah-langkah kecil: nanya soal pembantu pulang-pergi ke tetangga, nyari alamat klinik psikolog yang deket dari rumah, nyiapin jadwal dan dana buat ngegym, nyiapin dana buat ngikutin bumy jemputan, dan nulis ini. still so much work to be done. but this is where i start.
- akhirnya ke kineruku. yep setelah bertahun-tahun penasaran, berniat, dan hanya sampai pada menyambangi hegarmanah 52 tapi ruku-nya lagi tutup, sabtu lalu berhasil juga gue masuk ke situ. kebetulan bisa ketemu juga budi warsito, one of the owners. gue tau budi ini pertama kali dari blognya di jaman dahulu kala, budibadabadu.blogspot.com. awal-awal mbaca, gue mikir "ini orang gilak amat otaknya" i mean he could abruptly associate a word with random songs, books, films, names, or whatever. it's like a huge "library" on his head.
and then i was hooked on the blog dan jadi suka baca tulisan-tulisan lama di arsip blog tsb. tapi tau-tau blog itu inactive. sempat linglung juga sih, bertanya-tanya bisa nemuin tulisan doi di mana lagi... sampai lalu bisa menemukan budi lagi di multiply. kalau nggak salah ingat sih begitu kisahnya... pokoknya lewat multiply itu gue jadi bisa 'kenal' sama beliau dan tau soal ruku/kineruku. siapa sangka ternyata dia punya dan mengelola sebuah perpustakaan in real life. dengan gemes dan penasaran gue membayangkan segilak apa koleksi perpustakaan yang dikurasi oleh THE budibadabadu... sampai tahun demi tahun berlalu dan gaung kineruku as one of the "it" places in bandung semakin terdengar. tapi sedihnya, gue belum juga berhasil sowan.
padahal 'kan hotel concordia semacam 'rumah' gue kalo ke bandung, dan jaraknya cuma selemparan batu dari hegarmanah. tapi ya gitu... siapa bisa menggegas suratan hidup? hahahah.
well, saat akhirnya gue masuk dan liat koleksi kineruku, rasanya ekspresi gue udah kaya muka bumy saat masuk ke toko mainan yang superbesar dan koleksinya menggetarkan dada. etapi mungkin aja gue udah nyengir lebar, garuk-garuk kepala, dan mondar-mandir tanpa gue bener-bener sadari sih. bingung mau mulai dari mana, tapi gue putuskan untuk memulai dari koleksi filmnya. sayang seribu sayang, gue nggak bisa minjem film karena waktu pinjamnya cuma 3 hari... dan nyesel juga nggak bawa laptop supaya bisa sempat nonton di hotel. setelah pandang-pandang dan pegang-pegang koleksi film dan cd, baru deh gue ke koleksi buku. gue mulai dari rak puisi dan hmm mungkin non-fiksi, di situ gue udah mulai 'pusing' karena excited lihat judul-judulnya. setelah mencomot buku "ariel"nya sylvia plath, buku puisi emily dickinson, dan bukunya yb mangunwijaya, gue ke rak fiksi. di situ gue lebih terhenyak lagi. i knew this would happen, makanya gue menyambangi rak fiksi belakangan. because, you know, i'm totally into "delayed gratification" dan udah curiga kalau koleksi buku fiksi di sini bakal bikin gue megap-megap. to cut long story short, buku yang gue pungut di sini adalah "noone belongs here more than you"nya miranda july yang nggak bisa gue temukan di manapun (di jakarta, tangerang) dan "nine stories"nya jd salinger.
sekilas catatan untuk budi: 1) terima kasih sudah mengizinkan gue yang berdomisili di jakarta untuk bisa minjam buku-buku di ruku, and it's an awesome place you're running! 2) tolong kabari kalau movie room sudah available lagi karena God only knows betapa saya kepingin nonton "eliana, eliana" hehe, 3) yang ini baru kepikiran, kalau saya mau meminjam lagi, apa bisa minta tolong dikirimkan ke jakarta?? sadar sih, betapa ngelunjaknya permintaan satu ini xD
![]() |
| tau-tau teringat salah satu scene kesukaan di "jane austen book club" |
yasudahlah sepertinya blogpost ini udah terlalu random. akan lanjut berceloteh di lain hari. :D
29/08/2014
completely (not) me
despite the sad story i shared earlier, bulan puasa held some other memorable moments.
ada satu hari yang begitu gue kenang ternyata unik juga karena dalam sehari itu gue ngurus orang yang sakit, menengok kelahiran, sekaligus mengantar kepergian.
kebetulan hari itu gue harus ke rumah sakit untuk bawa bumy kontrol, dan lalu nyari-nyari lab yang bisa melakukan kultur urine. sesudahnya, nengokin adik bayinya naya. trus tanpa disangka, sore itu kita menerima kabar kepergian bude-nya adit, bu ani. bu ani ini baik banget, btw. :'( orangnya lembut, kocak, dan ramaaahhh banget. dia selalu seneng kalo ketemu bumy, bahkan suka ngeledekin bumy "cantik" haha. i hope she's resting in peace now.
ah... one minute we were welcoming a new soul to this earth, who could've guessed the next minute we were to bid adieu to another?
but, if that doesn't teach me about life, then what will?
lalu pada kesempatan lain, gue bahagia banget bisa punya quality time sama temen-temen lama. temen-temen yang udah deket sejak lama, maksudnya. orang-orang yang tau gue tuh dasarnya gimana, tanpa 'tertipu' embel-embel status, foto-foto instagram, atau hal-hal baru yang gue ikutin. bukan sekadar memenuhi rasa kangen dan ngasih kenyamanan, meeting them is also like opening a window to my own soul, karena gue tersadar kalo mereka tuh orang-orang yang inget apa mimpi-mimpi gue (sedari) dulu.
sama weche dan nuri, gue sempat ngebahas soal "udah umur segini masih belom tau mau jadi apa." terasa agak ironis sih membahas ini sehabis ngelayat almarhumah teman SMA kita. i mean, di umur segini, satu dari kita udah habis waktunya di dunia, sementara kita masih aja clueless....
dipikir-pikir, ini kayanya sejalan banget sama artikel "Why Generation Y Yuppies Are Unhappy?" yang gue sebut di sini, hehe. we're just too damn narcissistic and think we should be so special that we spend too much time searching for our "passion" - or that glorious meadow with flowers and unicorns haha - instead of focusing on doing the hard work.
gue juga sempat kencan sama dyah. temen lama dari sma, yang sampai hari ini belum juga married, hahaha (we're, like, so close i don't even bother menjaga perasaannya) xD
ngoceh ngalor-ngidul dan melakukan ritual sekaligus hobi kita: NGELUH. hahaha. beberapa ocehan si dyah yang layak-quote di antaranya:
"gila lu, berenti kerja. kasian amat dong laki lu harus nyari duit sendiri!" -_____-
"hahaha ngomongin apaan sik lu sama ibuk-ibuk?"
terlepas dari komentar-komentar sampahnya, ada yang bikin terkesiap. ketika gue lagi curhat soal bingung mau balik ngantor atau ngapain, dia bilang, "udahlah lo nulis aja. gue suka baca tulisanlo, padahal gak semua tulisan orang bisa gue nikmatin loh."
well, kata-kata si dul mungkin bukan universal truth karena faktanya gue bukan penulis or blogger tenar, tapi itu bermakna banget buat gue karena datang dari dia.... maybe i should just stick to what i enjoy the most. yeah i'm just a typical gen Y, aiming for that glorious meadow with flowers and unicorns :)))
bulan puasa ini juga alhamdulillah sempat ketemu untuk farewell sama nisha :') malu deh, bukannya gue yg kasih farewell gift, malah nisha yang bawain kado buat bumy dan mamaknya hihi. gue ikutan excited ngebayangin nisha bakal hijrah ke UK dan segala keseruannya. bukan cuma pindah tempat tinggal sih doi, tapi juga ganti profesi, dari ibu bekerja jadi ibu rumah tangga seperti diriku. can't wait to hear her stories (rants? haha) dan foto-foto cantik ciamik dari bumi inggris... aahh.
hmm what else now? oh iya, sepertinya bulan puasa ini banyak diisi dengan yang lama-lama. teman-teman lama, dan juga kenangan lama. yang belakangan ini terjadi pas gue nganterin adit ujian BSMR di sekolah LAN pejompongan. rumah nenek gue dulu di kompleks itu dan gue serriiiing banget nginep di situ dari kecil. bahkan ajang menginap di rumah nenek jadi kegiatan yang selalu gue tunggu-tunggu tiap kali liburan panjang. nenek selalu ngajak gue ngelakuin hal-hal yang nggak tipikal kegiatan di rumah bokap-nyokap gue banget: bikin kue (sementara slogan nyokap gue adalah "anak-anak tugasnya belajar! nggak usah deket-deket dapur!" well, mom... siapa sangka ujung-ujungnya gue jadi domestic housewife), ke pasar benhil naik bajaj, ke pasar senen dan kwitang nyari buku, ngajarin menyulamlah (yang gak juga gue kuasai sampe hari ini), ngasih gue setumpuk buku, olahraga minggu pagi, sholat berjamaah sama andung selepas adzan, dan ini mungkin yang paling nggak sreg buat gue: masuk kamar tepat jam 9 malam, haha. oh God i miss my grandma, and that house. so anyways, gue ngajak adit ngelewatin bekas rumah nenek gue. di jalan itu ada empat rumah, dan hanya bekas rumah nenek gue yang udah berubah, dirombak total. semua tetangganya masih orang yang sama (knew this from my mom), dan bentuk rumah dan halamannya masih sama.
it's a bit sad to see. it also feels as if all my chilhood stories that happened in that house now only exist in memory.
but, let bygones be bygones, right? ...right?
now let me just curl up and shed a tear inside my blankie.
PS: the post title is a tribute to the following song
ada satu hari yang begitu gue kenang ternyata unik juga karena dalam sehari itu gue ngurus orang yang sakit, menengok kelahiran, sekaligus mengantar kepergian.
kebetulan hari itu gue harus ke rumah sakit untuk bawa bumy kontrol, dan lalu nyari-nyari lab yang bisa melakukan kultur urine. sesudahnya, nengokin adik bayinya naya. trus tanpa disangka, sore itu kita menerima kabar kepergian bude-nya adit, bu ani. bu ani ini baik banget, btw. :'( orangnya lembut, kocak, dan ramaaahhh banget. dia selalu seneng kalo ketemu bumy, bahkan suka ngeledekin bumy "cantik" haha. i hope she's resting in peace now.
ah... one minute we were welcoming a new soul to this earth, who could've guessed the next minute we were to bid adieu to another?
but, if that doesn't teach me about life, then what will?
lalu pada kesempatan lain, gue bahagia banget bisa punya quality time sama temen-temen lama. temen-temen yang udah deket sejak lama, maksudnya. orang-orang yang tau gue tuh dasarnya gimana, tanpa 'tertipu' embel-embel status, foto-foto instagram, atau hal-hal baru yang gue ikutin. bukan sekadar memenuhi rasa kangen dan ngasih kenyamanan, meeting them is also like opening a window to my own soul, karena gue tersadar kalo mereka tuh orang-orang yang inget apa mimpi-mimpi gue (sedari) dulu.
sama weche dan nuri, gue sempat ngebahas soal "udah umur segini masih belom tau mau jadi apa." terasa agak ironis sih membahas ini sehabis ngelayat almarhumah teman SMA kita. i mean, di umur segini, satu dari kita udah habis waktunya di dunia, sementara kita masih aja clueless....
dipikir-pikir, ini kayanya sejalan banget sama artikel "Why Generation Y Yuppies Are Unhappy?" yang gue sebut di sini, hehe. we're just too damn narcissistic and think we should be so special that we spend too much time searching for our "passion" - or that glorious meadow with flowers and unicorns haha - instead of focusing on doing the hard work.
gue juga sempat kencan sama dyah. temen lama dari sma, yang sampai hari ini belum juga married, hahaha (we're, like, so close i don't even bother menjaga perasaannya) xD
ngoceh ngalor-ngidul dan melakukan ritual sekaligus hobi kita: NGELUH. hahaha. beberapa ocehan si dyah yang layak-quote di antaranya:
"gila lu, berenti kerja. kasian amat dong laki lu harus nyari duit sendiri!" -_____-
"hahaha ngomongin apaan sik lu sama ibuk-ibuk?"
terlepas dari komentar-komentar sampahnya, ada yang bikin terkesiap. ketika gue lagi curhat soal bingung mau balik ngantor atau ngapain, dia bilang, "udahlah lo nulis aja. gue suka baca tulisanlo, padahal gak semua tulisan orang bisa gue nikmatin loh."
well, kata-kata si dul mungkin bukan universal truth karena faktanya gue bukan penulis or blogger tenar, tapi itu bermakna banget buat gue karena datang dari dia.... maybe i should just stick to what i enjoy the most. yeah i'm just a typical gen Y, aiming for that glorious meadow with flowers and unicorns :)))
bulan puasa ini juga alhamdulillah sempat ketemu untuk farewell sama nisha :') malu deh, bukannya gue yg kasih farewell gift, malah nisha yang bawain kado buat bumy dan mamaknya hihi. gue ikutan excited ngebayangin nisha bakal hijrah ke UK dan segala keseruannya. bukan cuma pindah tempat tinggal sih doi, tapi juga ganti profesi, dari ibu bekerja jadi ibu rumah tangga seperti diriku. can't wait to hear her stories (rants? haha) dan foto-foto cantik ciamik dari bumi inggris... aahh.
hmm what else now? oh iya, sepertinya bulan puasa ini banyak diisi dengan yang lama-lama. teman-teman lama, dan juga kenangan lama. yang belakangan ini terjadi pas gue nganterin adit ujian BSMR di sekolah LAN pejompongan. rumah nenek gue dulu di kompleks itu dan gue serriiiing banget nginep di situ dari kecil. bahkan ajang menginap di rumah nenek jadi kegiatan yang selalu gue tunggu-tunggu tiap kali liburan panjang. nenek selalu ngajak gue ngelakuin hal-hal yang nggak tipikal kegiatan di rumah bokap-nyokap gue banget: bikin kue (sementara slogan nyokap gue adalah "anak-anak tugasnya belajar! nggak usah deket-deket dapur!" well, mom... siapa sangka ujung-ujungnya gue jadi domestic housewife), ke pasar benhil naik bajaj, ke pasar senen dan kwitang nyari buku, ngajarin menyulamlah (yang gak juga gue kuasai sampe hari ini), ngasih gue setumpuk buku, olahraga minggu pagi, sholat berjamaah sama andung selepas adzan, dan ini mungkin yang paling nggak sreg buat gue: masuk kamar tepat jam 9 malam, haha. oh God i miss my grandma, and that house. so anyways, gue ngajak adit ngelewatin bekas rumah nenek gue. di jalan itu ada empat rumah, dan hanya bekas rumah nenek gue yang udah berubah, dirombak total. semua tetangganya masih orang yang sama (knew this from my mom), dan bentuk rumah dan halamannya masih sama.
it's a bit sad to see. it also feels as if all my chilhood stories that happened in that house now only exist in memory.
![]() |
| jadi modern minimalis ginih |
now let me just curl up and shed a tear inside my blankie.
PS: the post title is a tribute to the following song
27/08/2014
advice for lucy
the internet offers a wide array of info. sometimes it's gold-covered wisdom, or hilarious memes that make your day, or occasional drama, or most of the time, merely pure sh*t. but one day, i came across this interesting piece of article. even the title is a big head-turner (or in my case, a damn fast link-clicking): "Why Generation Y Yuppies Are Unhappy?"
did you just fast-click that one, too? if you're between 25 to early 30's, most probably you would.
anyways, my most favorite part is "the advice." i like it so much i need to rewrite it here. maybe one day i'd randomly browse this blog and one way or the other, stumble upon the post and be inspired all over again.
true dat.
PS: i think the problem (and the advice) could apply for marriage as well. hari gini tingkat perceraian makin tinggi, bukan? dan yang baru nikah seumur jagung udah cerai juga somewhat common. stop thinking your love life and or marriage should be so special it deserves an FTV; work on it! work really hard. for a long time.
did you just fast-click that one, too? if you're between 25 to early 30's, most probably you would.
anyways, my most favorite part is "the advice." i like it so much i need to rewrite it here. maybe one day i'd randomly browse this blog and one way or the other, stumble upon the post and be inspired all over again.
"Here’s my advice for Lucy:
1) Stay wildly ambitious. The current world is bubbling
with opportunity for an ambitious person to find flowery, fulfilling
success. The specific direction may be unclear, but it’ll work itself
out—just dive in somewhere.
![]() |
| pic from here |
2) Stop thinking that you’re special. The fact is, right
now, you’re not special. You’re another completely inexperienced young
person who doesn’t have all that much to offer yet. You can become
special by working really hard for a long time.
![]() |
| pic from here |
3) Ignore everyone else. Other
people’s grass seeming greener is no new concept, but in today’s image
crafting world, other people’s grass looks like a glorious meadow. The
truth is that everyone else is just as indecisive, self-doubting, and
frustrated as you are, and if you just do your thing, you’ll never have
any reason to envy others."
![]() |
| pic from here |
true dat.
PS: i think the problem (and the advice) could apply for marriage as well. hari gini tingkat perceraian makin tinggi, bukan? dan yang baru nikah seumur jagung udah cerai juga somewhat common. stop thinking your love life and or marriage should be so special it deserves an FTV; work on it! work really hard. for a long time.
06/08/2014
sometimes i don't need to believe in anything
bulan puasa, seperti kita tau, identik dengan bukber. seberapapun klisenya, bukber emang efektif menjadi sarana silaturahim.
pertemuan dan reuni-reuni kecil yang alhamdulillah bisa gue alami selama bulan puasa tahun ini bukan cuma jadi kesempatan untuk bisa berinteraksi (secara nyata) sama temen-temen, relasi, dan juga keluarga. tapi ternyata bisa membuka kesadaran dan ngasih pemahaman baru di diri gue.
well, para ulama bilang bulan puasa itu momen untuk melakukan refleksi terhadap jiwa masing-masing. somehow, gue seakan terfasilitasi untuk 'bercermin' lewat bukber dan beberapa kejadian.
salah satunya adalah saat menerima berita kepergian seorang temen satu sekolah selama SMP sampai SMA. kedatangan kabar itu sungguh-sungguh mengejutkan. i was shaken and i got so gloomy for the rest of the week. bulan maret lalu, gue dan temen-temen sekolah sebenernya juga udah dibuat terkejut atas kabar yang kita terima tentang dia. tiba-tiba kita tahu kondisinya sedang kritis di sebuah rumah sakit, akibat leukimia. gue pribadi terakhir berinteraksi dengan dia - rasanya sih - waktu anak-anak kita masih newborn atau mungkin di bawah satu tahun. yes, she had a child. waktu itu kita suka saling bertanya seputar ngurus anak atau beli baju, melalui facebook. lalu rasanya udah cukup lama gue nggak pernah berinteraksi atau dengar kabar dari dia lagi. ternyata, yah, karena akun facebooknya udah dideaktivasi.
waktu denger kabar dia sakitpun gue dan temen-temen udah sangat kaget. terlebih ketika tahu dia sekarang single parent. tapi, jeleknya gue, rencana mau nengokin dia cuma sebatas rencana. what's sad is the next news i heard about her is that she passed away.
gue harus mengakui kalau gue nggak pernah berteman sama dia. iya, bukannya nggak berteman dekat, tapi emang nggak pernah berteman. gue rasa the closest interaction i had ever had with her adalah saat di facebook itu. pengakuan lainnya adalah gue nggak pernah menyukai dia atau bahkan pengen berteman dengan dia selama kita satu sekolah. not until we had those facebook interactions.
what was she like, sih, you may wonder. waktu SMP dia populer, karena terbilang kece, selalu ranking 3 besar, dan puncaknya, dia menyalonkan diri jadi ketua OSIS. gue sendiri waktu SMP mainnya sama beberapa jenis 'geng.' ada geng cewek-cewek sok gaul (more like bengal sebenernya) yang suka ngebully dan badmouth other people. juga ada geng anak-anak yang gue anggap lumayan pinter tapi asik - karena sama-sama suka boyband (zzz). lucunya, atau anehnya, kedua geng ini sama-sama "sebel" sama dia, si teman ini. kenapa sebelnya gue kasih tanda kutip? karena, how i see it now, it's because none of us really knew her. none of us were in her circle of friends. dia anak yang aktif di sekolah, alim, dan tau-tau nyalonin diri jadi ketua OSIS; guess we just didn't like her for those reasons. to put it simply: we were just jealous. nothing more i can say about kelakuan konyol abege-abege 13 tahun....
lalu waktu SMA, gue satu sekolah lagi sama dia, tapi lagi-lagi nggak berteman. padahal jumlah anak SMP gue yang masuk SMA ini sedikit banget. gue main sama anak-anak yang gue anggap asik tapi kali ini hampir nggak ada yang terbilang pintar - untuk standar SMA 1 tangerang, hehe. sementara dia, jadi anak paskibra, OSIS, dan aktif di banyak ekskul, salah satunya jadi penyiar radio sekolah. at this period, i no longer hated her. but i have, really have to admit now, that i didn't think fondly of her. kalau gue inget-inget sekarang, mungkin karena dia sempat pacaran sama seorang temen 'geng' gue. temen yang dipacarinya ini adalah satu-satunya yang paling "beradab" di geng tsb. yang dapet ranking 5 besar, jago main piano, dan setia nyupirin kita ke mana-mana (meskipun pernah ditimpuk kapur pas pelajaran sejarah gara-gara duduk tegak tapi matanya merem). i guess now, maybe i was still mean to her because, once again, i was jealous. this time may be because i thought she "stole" one of our best buddies.
sepertinya yang membuat gue sangat terguncang hari itu, ketika mendengar kabar kepergiannya, selain karena dia masih begitu muda, punya anak seumur gue, dan gue menyesal nggak pernah nengokin selama dia sakit, juga karena gue pernah berpikir nggak baik tentang dia selama kita satu sekolah :(
gue dan beberapa teman melayat ke rumah orangtuanya beberapa hari kemudian. i was there with nuri, weche, sasa and some other friends. i met her child for the first time. a beautiful child. and then i spoke to her mom. ibunya sangaaaattt mirip dengan dia. wajahnya, suaranya. dan ibunya menceritakan perjuangannya menghadapi sakit yang dideritanya, sampai hari terakhir yang dilaluinya. beberapa kali gue menahan diri untuk nggak meneteskan air mata, ketika ibunya bercerita cucunya bilang "kangen bunda..." akibat nggak bisa tidur sekamar lagi dengan dia (badannya begitu sakit bahkan saat disentuh). ketika ibunya menceritakan perjuangannya menghadapi rupa-rupa perawatan dan akibat yang ditanggung. terlebih ketika ibunya bilang, "hati saya hancur... kehilangan anak." i just lost words. and how i wished i had offered her mom a hug.
yes... there are many things i wish i had done differently. tapi bagaimanapun, kisah hidup teman gue ini ada untuk diambil hikmahnya, i'm sure of that. she had been a very wonderful person inside and out - terbukti dari nggak pernahnya dia mendendam; gue bersyukur pasca masa sekolah masih sempat sharing sama dia, meski cuma sesaat. gue juga yakin she was a fighter until the very end.
malam setelah kabar kepergiannya, our mutual friend, ratri, mengupload foto rangkaian bunga yang dikirimkan ke rumahnya, dibarengi tulisan, "Selamat jalan sahabatku Echi, Allah memang Maha Penyayang. Dia memanggilmu di bulan yg penuh berkah ini, setelah ulang tahun hijriyah kamu, malam Nuzulul Qur'an. Melihat wajah kamu tadi yg begitu cantik, bersih & seperti hanya tertidur, aku percaya in shaa Allah kamu akan diberikan tempat terbaik oleh Allah SWT."
yes, i'm also sure of that.
pada akhir kunjungan kami ke rumah orangtuanya, tepat sebelum keluar dari pagar, nyokapnya Echi bilang, "kalian yang sudah pada punya anak, dijaga ya anaknya... jangan ditinggal-tinggal."
T______T
i guess that's her way of saying that we have to cherish our time here on earth. enjoy each moment spent with our kids. be grateful for even the littlest things.
now i can really see why we should. because life is just a blink of an eye....
so long, my friend. semoga kamu tidur nyenyak dalam pelukanNya.
pertemuan dan reuni-reuni kecil yang alhamdulillah bisa gue alami selama bulan puasa tahun ini bukan cuma jadi kesempatan untuk bisa berinteraksi (secara nyata) sama temen-temen, relasi, dan juga keluarga. tapi ternyata bisa membuka kesadaran dan ngasih pemahaman baru di diri gue.
well, para ulama bilang bulan puasa itu momen untuk melakukan refleksi terhadap jiwa masing-masing. somehow, gue seakan terfasilitasi untuk 'bercermin' lewat bukber dan beberapa kejadian.
salah satunya adalah saat menerima berita kepergian seorang temen satu sekolah selama SMP sampai SMA. kedatangan kabar itu sungguh-sungguh mengejutkan. i was shaken and i got so gloomy for the rest of the week. bulan maret lalu, gue dan temen-temen sekolah sebenernya juga udah dibuat terkejut atas kabar yang kita terima tentang dia. tiba-tiba kita tahu kondisinya sedang kritis di sebuah rumah sakit, akibat leukimia. gue pribadi terakhir berinteraksi dengan dia - rasanya sih - waktu anak-anak kita masih newborn atau mungkin di bawah satu tahun. yes, she had a child. waktu itu kita suka saling bertanya seputar ngurus anak atau beli baju, melalui facebook. lalu rasanya udah cukup lama gue nggak pernah berinteraksi atau dengar kabar dari dia lagi. ternyata, yah, karena akun facebooknya udah dideaktivasi.
waktu denger kabar dia sakitpun gue dan temen-temen udah sangat kaget. terlebih ketika tahu dia sekarang single parent. tapi, jeleknya gue, rencana mau nengokin dia cuma sebatas rencana. what's sad is the next news i heard about her is that she passed away.
gue harus mengakui kalau gue nggak pernah berteman sama dia. iya, bukannya nggak berteman dekat, tapi emang nggak pernah berteman. gue rasa the closest interaction i had ever had with her adalah saat di facebook itu. pengakuan lainnya adalah gue nggak pernah menyukai dia atau bahkan pengen berteman dengan dia selama kita satu sekolah. not until we had those facebook interactions.
what was she like, sih, you may wonder. waktu SMP dia populer, karena terbilang kece, selalu ranking 3 besar, dan puncaknya, dia menyalonkan diri jadi ketua OSIS. gue sendiri waktu SMP mainnya sama beberapa jenis 'geng.' ada geng cewek-cewek sok gaul (more like bengal sebenernya) yang suka ngebully dan badmouth other people. juga ada geng anak-anak yang gue anggap lumayan pinter tapi asik - karena sama-sama suka boyband (zzz). lucunya, atau anehnya, kedua geng ini sama-sama "sebel" sama dia, si teman ini. kenapa sebelnya gue kasih tanda kutip? karena, how i see it now, it's because none of us really knew her. none of us were in her circle of friends. dia anak yang aktif di sekolah, alim, dan tau-tau nyalonin diri jadi ketua OSIS; guess we just didn't like her for those reasons. to put it simply: we were just jealous. nothing more i can say about kelakuan konyol abege-abege 13 tahun....
lalu waktu SMA, gue satu sekolah lagi sama dia, tapi lagi-lagi nggak berteman. padahal jumlah anak SMP gue yang masuk SMA ini sedikit banget. gue main sama anak-anak yang gue anggap asik tapi kali ini hampir nggak ada yang terbilang pintar - untuk standar SMA 1 tangerang, hehe. sementara dia, jadi anak paskibra, OSIS, dan aktif di banyak ekskul, salah satunya jadi penyiar radio sekolah. at this period, i no longer hated her. but i have, really have to admit now, that i didn't think fondly of her. kalau gue inget-inget sekarang, mungkin karena dia sempat pacaran sama seorang temen 'geng' gue. temen yang dipacarinya ini adalah satu-satunya yang paling "beradab" di geng tsb. yang dapet ranking 5 besar, jago main piano, dan setia nyupirin kita ke mana-mana (meskipun pernah ditimpuk kapur pas pelajaran sejarah gara-gara duduk tegak tapi matanya merem). i guess now, maybe i was still mean to her because, once again, i was jealous. this time may be because i thought she "stole" one of our best buddies.
sepertinya yang membuat gue sangat terguncang hari itu, ketika mendengar kabar kepergiannya, selain karena dia masih begitu muda, punya anak seumur gue, dan gue menyesal nggak pernah nengokin selama dia sakit, juga karena gue pernah berpikir nggak baik tentang dia selama kita satu sekolah :(
gue dan beberapa teman melayat ke rumah orangtuanya beberapa hari kemudian. i was there with nuri, weche, sasa and some other friends. i met her child for the first time. a beautiful child. and then i spoke to her mom. ibunya sangaaaattt mirip dengan dia. wajahnya, suaranya. dan ibunya menceritakan perjuangannya menghadapi sakit yang dideritanya, sampai hari terakhir yang dilaluinya. beberapa kali gue menahan diri untuk nggak meneteskan air mata, ketika ibunya bercerita cucunya bilang "kangen bunda..." akibat nggak bisa tidur sekamar lagi dengan dia (badannya begitu sakit bahkan saat disentuh). ketika ibunya menceritakan perjuangannya menghadapi rupa-rupa perawatan dan akibat yang ditanggung. terlebih ketika ibunya bilang, "hati saya hancur... kehilangan anak." i just lost words. and how i wished i had offered her mom a hug.
yes... there are many things i wish i had done differently. tapi bagaimanapun, kisah hidup teman gue ini ada untuk diambil hikmahnya, i'm sure of that. she had been a very wonderful person inside and out - terbukti dari nggak pernahnya dia mendendam; gue bersyukur pasca masa sekolah masih sempat sharing sama dia, meski cuma sesaat. gue juga yakin she was a fighter until the very end.
malam setelah kabar kepergiannya, our mutual friend, ratri, mengupload foto rangkaian bunga yang dikirimkan ke rumahnya, dibarengi tulisan, "Selamat jalan sahabatku Echi, Allah memang Maha Penyayang. Dia memanggilmu di bulan yg penuh berkah ini, setelah ulang tahun hijriyah kamu, malam Nuzulul Qur'an. Melihat wajah kamu tadi yg begitu cantik, bersih & seperti hanya tertidur, aku percaya in shaa Allah kamu akan diberikan tempat terbaik oleh Allah SWT."
yes, i'm also sure of that.
pada akhir kunjungan kami ke rumah orangtuanya, tepat sebelum keluar dari pagar, nyokapnya Echi bilang, "kalian yang sudah pada punya anak, dijaga ya anaknya... jangan ditinggal-tinggal."
T______T
i guess that's her way of saying that we have to cherish our time here on earth. enjoy each moment spent with our kids. be grateful for even the littlest things.
now i can really see why we should. because life is just a blink of an eye....
so long, my friend. semoga kamu tidur nyenyak dalam pelukanNya.
03/08/2014
all summer days
hellaw blog, akhirnya muncul juga mood dan timing yang cucok buat ngobrol-ngobrol sama diri sendiri di sini (sembari diam-diam berharap ada yang peduli untuk membaca) hehehe.
anyways, emang sih masih suasana lebaran, mudik, dan semacamnya, tapi kali ini, gue mau menyoroti soal: liburan sekolah anak-anak tuh lama juga yaa. sebelum bulan puasa, bumy udah libur empat minggu. pas bulan puasa sempat masuk sekolah seminggu, eh udah libur lagi. selama tiga minggu!
is it a problem?
yah berhubung sekarang sehari-harinya gue dirempongin sama urusan pekerjaan rumah tangga, jadi pengennya energi bumy tersalurkan lewat aktivitas daripada bengong aja di rumah. eh nyambung gak sih? maksudnya, kalo bumy bisa dan udah puas main-main seperti layaknya sekolah, gue jadi punya waktu buat beberes, dan by the end of the day, dia gak senewen karena energi dan hasrat bersosialisasinya belum tersalurkan. hehehe... ya teori gue sih begitu.
jadi, buat liburan sebelum puasa kemarin, gue udah siap-sedia ngedaftarin bumy ke beberapa kegiatan. kebetulan, gue juga dapet banyak info untuk kegiatan pas liburan ini (istilah gayanya "summer class/camp" atau "holiday program") dari social media. seru-seru, deh. makin usia anaknya gede, makin beragam (dan "aneh-aneh" haha) juga aktivitasnya. misalnya aja ada camp untuk entrepreneurship, kemping beneran bersama keluarga di gunung, latihan olahraga intensif, atau belajar science, macem-macem pokoknya.
setelah menilik dan lalu menyortir beberapa kegiatan mulai dari jenis aktivitasnya, lokasinya, sampe - yang paling krusial - harganya, gue memutuskan ngikutin bumy kegiatan crafting dan bermusik. oiya lupa, selain sekolah, les musik dia juga diliburin. bener-bener off duty 'kan tuh... gue. yah dari pernyataan ini terkuak, kalo yang butuh beraktivitas (dus, keluar rumah tiap hari) sebenernya ya gue juga. xD
pertimbangan gue ngikutin doi kegiatan crafting di antaranya biar anak laki-laki yang hobi lelarian, sepedaan, dan leluncatan ini belajar duduk tenang, tekun, seraya mengasah kreativitas. jadi gue ikutinlah doi di kutakatik art & craft class. kegiatannya yang dari senin sampe kamis jam 9 sampe 12 siang ini ternyata juga bisa jadi sarana latihan buat bumy bersekolah TK. kenapah? karena pas PG kemarin, sekolahnya tiga kali seminggu dan cuma 2 jam pula. selama ikut kegiatan ini sih, keliatan proses adaptasinya bumy. hari pertama, baru 2 jam ngikutin kegiatan, doi - dan temennya yang satu sekolah - udah nguap dan loyo. besoknya, dia kaget, "loh kok kutakatik lagi, ma?" mungkin kebiasaan hari sekolahnya selang-seling.
kegiatan di kutakatik ini, kalau dikutip dari agenda kegiatannya, meliputi "drawing mith mix media, simple sewing, simple baking/cooking, recycle art, etc...." perangkat yang dipake beragam; ya kardus, sedotan, barang-barang bekas macam kotak tisu, kemasan lotion atau shampo, dan lain-lain. setiap pulang kegiatan, bumy bawa oleh-oleh hasil karyanya. ada lukisan, robot-robotan, chain dari kertas yang bisa dibikin jadi hiasan kusen pintu (entah apa namanya), kalung buat mama hasil meronce, kukis yang dimasak sendiri, dlsb.
di sini, bumy juga dapet temen-temen baru. dan ini bikin dia excited banget. lucunya lagi, pas banget ada 3-4 anak cowok seumuran yang ikut kelas setiap harinya. trus mereka ini jadi semacem ngegeng, dan ketebak dong, kadang "ngerusuh" di kelas. yang paling resek sih salah satunya bumy *tarik napas* yang kabur-kaburanlah sampe bikin kakak-kakaknya sibuk ngejar, nyowel ini-itulah, sampe ngegodain anak cewek bareng-bareng -___- (maaf yaa, miss Raya).
nah, lanjut ke kisah dua minggu berikutnya. kali ini bumy ikutan program musikal di rumah main cikal. gue pilih ini salah satunya karena lokasinya gak jauh, bukan di mall fx tapi di sekolah cikal tb simatupang. dipikir-pikir, sekalian deh biar bumy nyicipin kerennya fasilitas sekolah di situ, meskipun cuma dua minggu, hakahkak.
program ini diadain senin sampe jumat, jam 9 sampe 12 juga. di sini mereka diajak main musik dengan barang-barang bekas. gue liat peserta untuk kategori usia bumy kebanyakan anak cowok. awalnya gue khawatir bumy bakal di-bully atau minder, gitu, karena badan doi tergolong kecil dan dia semacem outsider di situ. alhamdulillah ternyata lancar-lancar aja. malahan gue kaget, saat hari kesekian di minggu pertama, pas gue nganter bumy ke kelas, temen-temennya pada heboh menyapa dan manggil-manggil bumy. kakaknya juga bilang, bumy udah dicariin tuh sama si x, y, z.
kalau gue lihat, fasilitator untuk tiap kelas jumlahnya banyak dan sikapnya juga pada atentif banget. anak-anak bebas mengeksplor kawasan sekolah tapi tetap didampingi. kalau berpapasan, kakak-kakak fasilitator ini menyapa anak dengan namanya. mungkin ini juga yang bikin bocah-bocahnya pada gampang akrab.
pas udah masuk minggu kedua, dua embak-embak bilang, "ooh ini yang namanya bumy. ini si x nyeritain bumy melulu ke papa mamanya, bu." yaampun serasa anak gue sanchai di meteor garden x))
pada akhir program, anak-anak ini manggung di kota kasablanka. hepi bangetlah si mas ini dapet kesempatan manggung lagi. eh iya, ini kali ketiga doi 'manggung' setelah acara family gathering sekolah, dan keikutsertaan dadakan doi di sebuah lomba nyanyi. entah karena cita-cita doi yang "mau jadi penyanyi!" atau emang overdosis pede aja, dia seneng banget kalo tampil di depan khalayak (jelas sifat begini gak nurun dari gue).
kegiatan lain pas liburan kemarin diringkas lewat foto-foto aja deh ya. sekarang giliran gue puter otak nih, ngisi libur yang masih seminggu lagi. mana katering rumahan belum pada beroperasi huhuhuhu T___T
anyways, emang sih masih suasana lebaran, mudik, dan semacamnya, tapi kali ini, gue mau menyoroti soal: liburan sekolah anak-anak tuh lama juga yaa. sebelum bulan puasa, bumy udah libur empat minggu. pas bulan puasa sempat masuk sekolah seminggu, eh udah libur lagi. selama tiga minggu!
is it a problem?
yah berhubung sekarang sehari-harinya gue dirempongin sama urusan pekerjaan rumah tangga, jadi pengennya energi bumy tersalurkan lewat aktivitas daripada bengong aja di rumah. eh nyambung gak sih? maksudnya, kalo bumy bisa dan udah puas main-main seperti layaknya sekolah, gue jadi punya waktu buat beberes, dan by the end of the day, dia gak senewen karena energi dan hasrat bersosialisasinya belum tersalurkan. hehehe... ya teori gue sih begitu.
jadi, buat liburan sebelum puasa kemarin, gue udah siap-sedia ngedaftarin bumy ke beberapa kegiatan. kebetulan, gue juga dapet banyak info untuk kegiatan pas liburan ini (istilah gayanya "summer class/camp" atau "holiday program") dari social media. seru-seru, deh. makin usia anaknya gede, makin beragam (dan "aneh-aneh" haha) juga aktivitasnya. misalnya aja ada camp untuk entrepreneurship, kemping beneran bersama keluarga di gunung, latihan olahraga intensif, atau belajar science, macem-macem pokoknya.
setelah menilik dan lalu menyortir beberapa kegiatan mulai dari jenis aktivitasnya, lokasinya, sampe - yang paling krusial - harganya, gue memutuskan ngikutin bumy kegiatan crafting dan bermusik. oiya lupa, selain sekolah, les musik dia juga diliburin. bener-bener off duty 'kan tuh... gue. yah dari pernyataan ini terkuak, kalo yang butuh beraktivitas (dus, keluar rumah tiap hari) sebenernya ya gue juga. xD
pertimbangan gue ngikutin doi kegiatan crafting di antaranya biar anak laki-laki yang hobi lelarian, sepedaan, dan leluncatan ini belajar duduk tenang, tekun, seraya mengasah kreativitas. jadi gue ikutinlah doi di kutakatik art & craft class. kegiatannya yang dari senin sampe kamis jam 9 sampe 12 siang ini ternyata juga bisa jadi sarana latihan buat bumy bersekolah TK. kenapah? karena pas PG kemarin, sekolahnya tiga kali seminggu dan cuma 2 jam pula. selama ikut kegiatan ini sih, keliatan proses adaptasinya bumy. hari pertama, baru 2 jam ngikutin kegiatan, doi - dan temennya yang satu sekolah - udah nguap dan loyo. besoknya, dia kaget, "loh kok kutakatik lagi, ma?" mungkin kebiasaan hari sekolahnya selang-seling.
kegiatan di kutakatik ini, kalau dikutip dari agenda kegiatannya, meliputi "drawing mith mix media, simple sewing, simple baking/cooking, recycle art, etc...." perangkat yang dipake beragam; ya kardus, sedotan, barang-barang bekas macam kotak tisu, kemasan lotion atau shampo, dan lain-lain. setiap pulang kegiatan, bumy bawa oleh-oleh hasil karyanya. ada lukisan, robot-robotan, chain dari kertas yang bisa dibikin jadi hiasan kusen pintu (entah apa namanya), kalung buat mama hasil meronce, kukis yang dimasak sendiri, dlsb.
di sini, bumy juga dapet temen-temen baru. dan ini bikin dia excited banget. lucunya lagi, pas banget ada 3-4 anak cowok seumuran yang ikut kelas setiap harinya. trus mereka ini jadi semacem ngegeng, dan ketebak dong, kadang "ngerusuh" di kelas. yang paling resek sih salah satunya bumy *tarik napas* yang kabur-kaburanlah sampe bikin kakak-kakaknya sibuk ngejar, nyowel ini-itulah, sampe ngegodain anak cewek bareng-bareng -___- (maaf yaa, miss Raya).
nah, lanjut ke kisah dua minggu berikutnya. kali ini bumy ikutan program musikal di rumah main cikal. gue pilih ini salah satunya karena lokasinya gak jauh, bukan di mall fx tapi di sekolah cikal tb simatupang. dipikir-pikir, sekalian deh biar bumy nyicipin kerennya fasilitas sekolah di situ, meskipun cuma dua minggu, hakahkak.
program ini diadain senin sampe jumat, jam 9 sampe 12 juga. di sini mereka diajak main musik dengan barang-barang bekas. gue liat peserta untuk kategori usia bumy kebanyakan anak cowok. awalnya gue khawatir bumy bakal di-bully atau minder, gitu, karena badan doi tergolong kecil dan dia semacem outsider di situ. alhamdulillah ternyata lancar-lancar aja. malahan gue kaget, saat hari kesekian di minggu pertama, pas gue nganter bumy ke kelas, temen-temennya pada heboh menyapa dan manggil-manggil bumy. kakaknya juga bilang, bumy udah dicariin tuh sama si x, y, z.
kalau gue lihat, fasilitator untuk tiap kelas jumlahnya banyak dan sikapnya juga pada atentif banget. anak-anak bebas mengeksplor kawasan sekolah tapi tetap didampingi. kalau berpapasan, kakak-kakak fasilitator ini menyapa anak dengan namanya. mungkin ini juga yang bikin bocah-bocahnya pada gampang akrab.
pas udah masuk minggu kedua, dua embak-embak bilang, "ooh ini yang namanya bumy. ini si x nyeritain bumy melulu ke papa mamanya, bu." yaampun serasa anak gue sanchai di meteor garden x))
pada akhir program, anak-anak ini manggung di kota kasablanka. hepi bangetlah si mas ini dapet kesempatan manggung lagi. eh iya, ini kali ketiga doi 'manggung' setelah acara family gathering sekolah, dan keikutsertaan dadakan doi di sebuah lomba nyanyi. entah karena cita-cita doi yang "mau jadi penyanyi!" atau emang overdosis pede aja, dia seneng banget kalo tampil di depan khalayak (jelas sifat begini gak nurun dari gue).
![]() |
| with one of his best new buds |
kegiatan lain pas liburan kemarin diringkas lewat foto-foto aja deh ya. sekarang giliran gue puter otak nih, ngisi libur yang masih seminggu lagi. mana katering rumahan belum pada beroperasi huhuhuhu T___T
![]() |
| manggung APS (atas permintaan sendiri) di penvil. mayan deh dapet juara 3 *nyengir sambil usep keringet* |
![]() |
| bukber sama tante-tante dan kakak Nara (yang mau hijrah ke enggris, btw!) |
![]() |
| yang tadi candid, yang ini enggak zzz |
![]() |
| di manakah taman nan nampak jadul akibat gaya rambut dan pose si mas ini? |
![]() | |
| pecel madiun BSD aja kok |
Subscribe to:
Posts (Atom)





















