06/06/2014

life on the slow lane

idup di rumah, yaa... begini-gini aja.
saking lamanya nggak ngeblog, jari-jari rasanya kelu. nggak tau mau mulai berceloteh dari mana. setelah membahas soal kutipan-kutipan yang nampol, gue cuma punya ide untuk merangkum sekenanya beberapa aktivitas dan acara yang dilalui selama beberapa bulan kemarin.
emang sih di bulan-bulan ini dan lalu banyak banget tanggal merah. tapi kita nggak ke mana-mana.
enggan plesiran dengan alasan sayang duitnya, dicampur dengan males ngebayangin aftertaste jalan-jalan berupa capek dan bokek, dan... ya gitu, clueless aja mau ke mana dan ngapain (this sounds totally depressive).
anyways, what have i been doing lately?


  • dateng ke acara QM Circle di balai kartini. syukurlah gue dapet tiket gratisan berkat kuis twitter di MD, hihihi. meskipun beberapa hal udah pernah gue dengar (maklum, alumni QMPC 2 level dan pernah jadi klien juga...), tapi tetap ada refreshing factors dari acara kemarin. ada sesi sharing dan berbagi insight dari michael tampi soal building your own business (banyak saran-saran yang mengena, salah satunya kalo mau mulai bisnis, start from what you have - tangible and intangible equity, gitu kali ya), juga ada CEO rumah.com yang ngasih insight seputar investasi properti, lalu insights tentang investasi reksadana dari para manajer investasi dari panin dan samuel asset management. ilmunya itu loh yang menyegarkan banget. berhubung gue udah jadi IRT kali ye, jadi rasanya berharga banget bisa dapet masukan dari 'dunia luar.' selain itu, 'berurusan' sama QM itu selalu terasa seperti 'main' ke tempat yang familiar buat gue. terlepas dari berbagai pemberitaan negatif yang sekarang lagi rame, buat gue sih, ilmu dari mereka tetap sangat berharga dan sejatinya, berkat dengerin ocehan ligwina-lah gue jadi bisa (dan akhirnya tertarik banget) ngurusin perencanaan keuangan keluarga.



  • sempat ngadain playdate lagi sama mamak-mamak sekolahan. kali ini venuenya di tamani cinere. anak-anak menguasai playground mini yang ada di dalem restoran. mamak-mamaknya juga puas banget ngobrol karena area playground cuma sejengkal dari tempat duduk. 
anak-anaknya manah??

  • kalau seputar jalan-jalan yang non-mall (hehehe), kita sempat plesiran ke godong ijo. perjalanan ke sini dilakuin secara impulsif - seperti biasa. awalnya, minggu pagi itu kita mendadak bertandang ke rumah temen sekolah bumy, namanya izza. jadiii... bumy nih lagi penasaran banget sama izza. kayanya sih gara-gara cuma izza temen cewek yang nggak mempan doi gombalin, hahaha. doi cuek banget deh sama bumy. kalo anak-anak cewek lain di sekolah udah pada 'nyangkut' sama bumy (wonder why? the kid once asked me, "ma, anak cewek kalo dibilang cantik seneng gak sih?" -__-), yang satu ini tanggapannya dingin-dingin aja xD
    berhubung seminggu sebelumnya gue sempat bertandang ke rumah izza untuk ngambil kue pesanan (bunda izza ahli bikin kekuean, btw) tapi tanpa ngajak bumy, jadilah doi bertanya-tanya dan kepengen mampir ke rumah izza. "ma, bumy pengen ke rumahnya izza, nih. bumy pengen tau kamarnya kaya apa." eerr....
    daripada pusiang dicurhatin melulu sama bocah yang lagi penasaran, akhirnya minggu pagi kita mampir deh, semacam nganterin anak ngapel ke rumah gebetan... padahal masih playgrouuup ini bocah *lap keringet*.
    to cut long story short, setelah bertamu di rumah izza satu jam (dan selama itu izza cuma ngomong satu kalimat ke bumy, "bumy, kamu mau ke mana?" tapi bumynya senang bukan kepalang. "ma! tadi izza ngomong sama bumy loh!"), kita ngerasa nanggung untuk balik lagi ke rumah. iseng-iseng ngambil jalan yang belum pernah dilewatin, ujug-ujug kita mengarah ke sawangan. liat-liat google maps, eh nemu tempat yang kayanya asik buat 'nongkrong', yaitu godong ijo. yo wes, jadinya mancing deh kami siang itu. bumy dan bapake gembira banget bisa mancing. gue sih duduk-duduk santai aja di saungnya, sibuk ngunyah. makanannya enak-enak loh. kita kemarin mesan pindang patin, tumisan sayur, sama singkong thailand - enak banget nih yang ini! gak terasa dua jam lebih kita di pemancingan, balik-balik ke rumah bawa ikan patin 6 ekor.






malamnya, melahap hasil tangkapan
  • pada suatu sabtu pagi juga tau-tau kita nyangsang di taman mini indonesia indah. awalnyaa, cuma mau nyari sarapan. dengan busana gembel seadanya dan tanpa mandi, kita iseng mau nyari jajanan di kawasan depok. tapi, begitu udah di depok dan muter-muter, kok ya belom pada buka? tadinya mau nyari kawasan jajan tempat orang-orang olahraga pagi gitu, tapi malah gak nemu. yaudah dengan impulsifnya kita masuk ke tol cijago yang mengarah ke... bogor. dipikir-pikir kalo ke bogor melencengnya kejauhan banget, kita putusin untuk keluar di exit tmii, hehehe. lumayan juga bisa mampir ke situ, nostalgia dan ternyata bikin bumy hepi, meskipun setelah diliat sekarang kok ya jadul banget mainan-mainannya. 








  • ohyaa, kita sempat kedatangan tamu-tamu juga. kelinci kecil - eh, nggak kecil lagi ding sekarang, lebih tepat disebut "kelinci tambun" - dan ayah bundanya akhirnya menginaaaap di rumah kitaaa. senangnyaaa *uwel-uwel si tambun*
    sesuai niat, pagi-pagi jam 6 kita boyong keluarga kelinci ke ragunan untuk jalan pagi-pagi. girang banget deh (kita, kalo ayah bunda kelinci ngos-ngosan diajak keliling ragunan "gede banget ya ternyata!").
    tamu lainnya, temen-temen kuliah adit juga sempat main ke sini membawa serta anak-anak mereka, hehehe. terhura deh jauh-jauh disamperin. bumy seneng bangett ketemu temen-temen baru. anak-anak ini juga pada mudah dihibur banget. cukup diajak berenang di kolam cetek di kompleks, trus diajak jalan kaki ke taman angsa buat main becek-becekan hahaha. tapi pas udah waktunya pulang, they had a hard time saying goodbye :)))
tembam

sarapan pecel dalam ragunan



  • dan akhirnyaaa, kita ngajak bumy ke kidzania. padahal les musik seminggu sekali di pp, tapi tak pernah terbersit untuk mengunjungi kidzania. biaya masuknya lumejen juga yaa. untuk weekend, chargenya 150 rb untuk anak-anak seusia bumy (4 tahun, udah gak dapet harga toddler), trus 90 rb untuk masing-masing pendamping. bumy seneng dan excited banget nyobain semua "wahana" pekerjaan, kecuali bikin kue atau pizza dan ngasuh bayi. tapi sayangnya, masih cukup banyak pekerjaan yang cuma bisa dicoba anak usia 6 tahun ke atas. cuma begitu kita naik ke lantai 2, ada banyak anjungan bebikinan yang bisa dicoba bumy, kaya bikin coklat, bikin teh, ngerakit sepatu, ada juga pabrik handuk, dsb. bumy kaya gak ada capeknya, malah gue dan adit yang gempor banget 3 jam ngider-ngider di dalem situ. bagusnya, berhubung kita dateng di weekend yang banyak hari kejepitnya (selasa kamisnya tanggal merah), jadi lagi sepi banget tuh kondisi di dalem. kalo lagi rame, waktu antri untuk tiap pekerjaan pastinya jadi lebih lama. 
lagi ngambil duit nih di bank


simulator sim ceritanyah


kerja yok kerjaa




yay pitih

'palagi yah? udah kepanjangan kayanya nih entry :P
selain semua kegiatan yang berbau melala ini, seperti judul post, my life is on the slow lane. ibu-ibu sekolahan yang jago pe-pastry-an - sebut saja "uncu" - dengan baik hatinya berinisiatif ngadain sesi belajar membuat kue. gue ikutan sesi bikin cheesecake, tiramisu, sama macarons. mantap deh, uncu, ilmunya (meski gak janji bakal gue praktekkin lagi di rumah sih). trus tiap rabu, lagi-lagi uncu yang berinisiatif, ngajarin kita crochet. wih jiwa ibu PKK gue makin menggeliat nih seharusnya :))) 

episode ngacak-ngacak dapur uncu

kitab baking uncu

is this on my wishlist yet? jiwa PKK-wi sepertinya belum terketuk

selain itu, ya gini-gini aja. yoga tiap kamis dan minggu (kalo lagi rajin), marah-marah sama bumy (eh? pakabar "memberi saja, percaya saja"?? xD), lagi doyan main dan jajan ke depok (sepertinya kami tak bisa melawan naluri jiwa "pinggiran" kami terlalu lama. begitulah, doyan dan cocoknya ya main ke kawasan pinggir kota), dan kadang juga... kepikiran buat balik kerja lagi heuheu... yang ini mungkin akan gue beberkan pada kesempatan curhat/monolog selanjutnya.

28/05/2014

didn't see it coming

beberapa hari ini, seperti gue memang sedang terlalu melankolis. 
udah begitu, alam semesta seolah terlampau mendukung dengan menyodorkan tontonan, lagu atau kata-kata yang bikin airmata makin gampang jatuh....
saking udah lamanya nggak berbincang sama diri sendiri dan audiens yang dibayangkan ada lewat blog, gue cuma bisa memecah kebisuan dengan kutipan kata-kata. yah begitulah.

1. beberapa hari lalu, gue iseng nonton louie sambil menyantap brunch. selalu suka serial ini, selalu terbahak dengar dan lihat lelucon louis ck. tak disangka, kali itu gue juga dibikin nangis. pada episod yang gue tonton, bintang tamunya joan rivers. 

pic from here

ceritanya, louie berpapasan dengan rivers saat dia (louie) baru mengundurkan diri dari pekerjaannya ngisi lawakan di casino punya donald trump. pas rivers denger louie minta berhenti, reaksinya:

Rivers: What do you mean you quit? Nobody quits.
CK: I quit.
Rivers: Are you crazy?  Are you a trust-fund baby that you quit?
CK: No, it’s just that they got upset cause I was saying stuff about the casino and I was making fun of Trump.
Rivers: You’re in a Trump hotel! You don’t make fun of the owner of the hotel.  Are you crazy? He’s not gonna hire a comedian that’s gonna say fuck Donald Trump.
CK: I know, but I just, I…
Rivers: You know, this is not an easy business.  I mean, you wanna try my life sometimes? I work in Arizona–how about that? And Indian casinos.  You think that’s easy? You tell a joke, they don’t like it, instead of a tomato they throw a tomahawk.  What do you expect? I mean you got a job, how lucky are you for goodness sakes?
You know what’s wrong with you guys? You don’t know when you’re lucky. Appreciate where you are for God’s sakes. It goes up, it goes down! ...Know when you’re lucky!
CK: Yeah, I know.  I mean I know all that.  It’s just that sometimes I get sick of the bullshit.
Rivers: Sick of the bullshit? What is your problem? Ugh. I am a million years old.  Do you know what I’ve been through?  I’ve been in this business for a million and two years and I’m a WOMAN! I’m a WOMAN! It’s not easy…I have done it all. Done it all. And the only thing I’ve learned, the ONLY thing I’ve learned is you don’t quit. You don’t quit.
Rivers: Listen. I wish I could tell it gets better. but it doesn’t get better. You get better.  You think it’s been easy? I’ve gone up, I’ve gone down.  I’ve been bankrupt. I’ve been broke.  But you do it. And you do it because…because we love it more than anything else. That’s why you’re doing it. 

me: *sobs uncontrollably* 

2. lagu entah siapa yang didengar pagi-pagi sepulang mengantar anak ke sekolah, ada kata-kata begini, "even when I lose I'm winning, 'cause I give you all of me."
teringat relasi dengan anak -> love is a losing game.

3. lagi-lagi, di pagi hari pas anak lagi sekolah, pencet-pencet remote tv terus nyangkut di film "jane austen book club." salah satu film favorit sepanjang masaaaa iniii. saking terlalu lama gak menonton ulang, gue jadi seperti baru menonton pertama kali. 
tetap nangis pas adegan prudie bimbang lalu dapet premonition "what would jane do?" / "don't walk."

pic from here

tetap senyum-senyum dan malu-malu sendiri liat grigg susah-payah menunjukkan cinta ke jocelyn.

pic from here. btw this is the ultimate dream-date for me, ever! at the library, looking at and talking about books. x))

tapi yang 'baru' adalah tersentak ketika seolah baru mendengar kata-kata prudie yang ini,
"...because our mothers are like time bombs. They just... They tick away inside of us."
HOW VERY TRUE.

4. pada suatu malam yang terlalu larut, gue melongo sendirian belum bisa tidur dan tiba-tiba teringat film "fight club." i'm not at my most random here. yet. entahlah, mungkin karena lagi suka berpikir dan tergoda untuk membuat diri lebih hepi dengan material possessions dan sadar juga sih betapa banal, predictable, dan how-very-middle-class-of-me that is. lagi suka bertanya-tanya sendiri "when will enough be enough?" atau "do we really need to buy X even as an investment? what are we preparing for actually? how much of financial security do we prefer?" 
dan ini bikin gue jadi inget film fight club. kenapa film itu menyindir konsumerisme abis-abisan. 
dan kenapa juga film itu menyerang preferensi orang-orang untuk hidup mengejar kestabilan materi dan konformitas? emangnya salah kalo mau hidup stabil dan terjamin?? emangnya salah kalo mengejar 'kesempurnaan'? bukannya itu manusiawi?
ujung-ujungnya gue googling "what is the movie fight club really about??" 
and then i found this page
gue baca satu demi satu kutipan yang udah dikurasi oleh penulis blog tersebut. and then, damn it hit me. 
  • Reject the basic assumptions of civilization, especially the importance of material possessions.
pic from here

  • Do you know what a duvet is?…It’s a blanket. Just a blanket. Now why do guys like you and me know what a duvet is? Is this essential to our survival, in the hunter-gatherer sense of the word? No. What are we then?…We are consumers. We’re the byproducts of a lifestyle obsession.Murder, crime, poverty, these things don’t concern me. What concerns me are celebrity magazines, television with 500 channels, some guy’s name on my underwear. Rogaine, Viagra, Olestra…Fuck Martha Stewart. Martha’s polishing the brass on the Titanic. It’s all going down, man. So fuck off with your sofa units and strine green stripe patterns. I say never be complete, I say stop being perfect, I say let…lets evolve, let the chips fall where they may.
  • What do you want? Wanna go back to the shit job, fucking condo world, watching sitcoms? Fuck you, I won’t do it.
pic from here

  • If you are reading this then this warning is for you. Every word you read of this useless fine print is another second off your life. Don’t you have other things to do? Is your life so empty that you honestly can’t think of a better way to spend these moments? Or are you so impressed with authority that you give respect and credence to all that claim it? Do you read everything you’re supposed to read? Do you think every thing you’re supposed to think? Buy what you’re told to want? Get out of your apartment. Meet a member of the opposite sex. Stop the excessive shopping and masturbation. Quit your job. Start a fight. Prove you’re alive. If you don’t claim your humanity, you will become a statistic. You have been warned.
  • This is your life, and it’s ending one minute at a time.

damn.... (sekali lagi).
pic from here

5. ok, just one more. dari bapak toge aprilianto: "prestasi itu tentang hasil karya. berjuang meraih tujuan dengan mengelola diri. bukan tentang hasil lomba, bersaing meraih gelar juara dengan mengalahkan orang lain."

so what is it that you're trying to tell me, universe? pasti berkaitan dengan curhatan panjang beberapa waktu lalu deh (mungkin bakal di-post sesudah ini) (sape juga yang mau tau??) 

27/04/2014

the talk about the bird and the bees

Bagaimana Bicara Tentang Seks Pada Anak?



by: - Tuesday, April 22nd, 2014 at 7:30 am
In: Books / Movies / TVshow / Music / Web Mommy Chatter Parenting 5 responses


Minggu ketiga April ini saya masuki dengan muram. Penyebabnya tak bukan adalah kasus kejahatan seksual pada seorang anak yang sedang ramai diberitakan. Sebagai seorang ibu, bagaimana mungkin saya dapat tenang-tenang saja?

Meski kerap mendengar kasus kejahatan seksual melalui televisi dan media lainnya, jujur saja, hal ini terkesan berjarak dari kehidupan saya. Ya, fakta adanya kejahatan seksual terjadi pada anak-anak memang membuka mata saya untuk lebih waspada dan siap membekali anak dengan pendidikan seksual. Namun, mungkin dengan naifnya, saya berharap hal ini tidak akan perlu saya hadapi.

Saya berpikir seperti itu hingga berita tentang kekerasan seksual pada anak TK menyentak kesadaran saya. It’s happening around us. At places we might pass by on daily basis. To kids whose age are similar to ours. Jadi, apalagi yang ditunggu untuk mulai serius menyikapi hal ini?

Belum lama ini, saya membaca buku yang judulnya sangat menarik perhatian, karena mengingatkan saya akan PR besar yang menghadang di depan perjalanan saya sebagai orangtua. “What Your Child Needs to Know about Sex (and When)” yang ditulis oleh Dr. Fred Kaeser. Begitu saya mengetahui siapa Kaeser dan apa latar belakang yang dimilikinya, saya berpikir buku ini ditulis oleh orang yang benar-benar paham mengenai topik pendidikan seks.

Dr. Kaeser mendapatkan gelar doktoratnya dalam bidang human sexuality studies dari New York University. Dia pernah menjabat sebagai director of health services untuk 260 sekolah dan director of health education untuk 1300 sekolah di Amerika Serikat. Sepertinya tidak ada yang pertanyaan seputar pendidikan seks dari orangtua, maupun anak-anak, yang belum pernah dia dengar.

Dia menulis buku ini, selain untuk merangkum frequently asked question seputar pendidikan seks, juga untuk membantu orangtua menghadapi dampak dari fenomena “hypersexualized world” pada anak-anak.


disneykiss
*Gambar dari sini

Dr. Kaeser menjelaskan, bahwa saat ini, imaji dan pesan-pesan berbau seks bertebaran dan terekspos pada diri anak kita, secara tak terbatas. Televisi, musik, papan iklan, media cetak, internet, alat komunikasi, film – ada begitu banyak medium yang menggambarkan seks dan seksualitas. Anak-anak kita secara konstan terpapar pada pesan-pesan berbau seks dengan cepat, hampir dari segala arah, sepanjang masa kanak-kanaknya. Pesan-pesan ini tidak hanya eksplisit, tapi seringkali berbau kekerasan, juga kental oleh pencitraan di mana laki-laki mendominasi dan perempuan submisif. Yang membuat masalah semakin pelik, pesan-pesan ini seringkali hadir tanpa bimbingan dan intervensi dari orangtua.

Ketidaksiapan orangtua untuk menjadi sex educator bagi anak-anaknya, menyebabkan orangtua hanya mengandalkan program pendidikan seks dari sekolah, atau mengharapkan media menerapkan batasan usia dalam tayangannya, atau hal-hal lain dari pihak eksternal. Padahal, menurut Dr. Kaeser, it’s your message that counts. Bimbingan dan instruksi dari orangtua sangat dibutuhkan anak-anak untuk membentuk value systems (tatanan nilai-nilai)-nya sendiri. Values (nilai-nilai) mengendalikan kesadaran kita atas apa yang benar, apa yang salah, apa yang patut dihargai, dan apa yang perlu dihindari.

Anak-anak kita perlu mendengar langsung dari kita tentang perilaku apa yang kita anggap benar dan salah, terutama dalam hal-hal terkait seks – seperti tentang intercourse, masturbasi, homoseksualitas, kontrasepsi, aborsi, oral sex, sex toys, tinggi rok dari lutut, celana yang menggantung di bawah garis underwear, dan lain-lain.

Ada fakta lain yang diutarakan Dr. Kaeser dalam buku ini dan cukup membuat saya terkejut. Dunia saat ini telah menjadi semakin sexually explicit, dan ini berarti para orangtua dari anak-anak kecil terpaksa berhadapan dengan perilaku seksual dan kekhawatiran yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya. Sementara itu, anak-anak menghadapi rangsangan seksual pada usia lebih muda dan dalam frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan seluruh generasi terdahulu. Sebagai akibatnya, anak-anak masa kini lebih berisiko untuk berpikir dan bertindak dalam cara-cara seksual sebelum mereka siap secara emosi maupun tahapan perkembangan. Kita harus siap mendiskusikan aspek-aspek seks dan seksualitas dengan anak setidaknya saat mereka berusia 10 tahun.

Kita perlu menjelaskan kenapa anak usia ini belum boleh membuat akun Facebook, Twitter, dan sejenisnya. Kita perlu bicara tentang berita anak-anak (atau orang dewasa) yang melecehkan anak lain. Kita perlu bicara tentang kontrasepsi, kondom, dan cara agar anak terlindungi dari Penyakit Menular Seksual (PMS).
Ini semua adalah konsekuensi dari kondisi dunia yang semakin tanpa-batas. Ten becomes the new sixteen.

Dalam buku ini, Dr. Kaeser memberikan panduan yang lengkap bagi orangtua berupa jenis informasi apa yang perlu diberikan kepada anak sesuai dengan usia dan gender-nya. Materi yang ‘berat’ ini dipaparkan olehnya dengan gaya penulisan yang lugas dan applicable (turut disertakan contoh daftar pertanyaan, strategi untuk masalah tertentu, skenario role-play, dsb). Ia juga mengajak orangtua berdiskusi dengan anak tentang “The Three Biggest Sex Words” yaitu Love, Trust, dan Respect. Ketiga hal ini sangat penting – mengingat begitu banyak orang yang melakukan sexual abuse dalam hubungannya, berbohong tentang kondisi PMS-nya, atau berselingkuh. Tanamkan pada anak-anak bahwa jika mereka memiliki cinta, rasa percaya, dan rasa hormat, hal-hal negatif tadi tidak akan terjadi.


Sedikit bocoran dari buku ini, key points yang perlu dikuasai oleh orangtua dalam hal ini antara lain:

1. Sadari dan hadapi fakta bahwa anak-anak kita dapat dipengaruhi oleh pesan-pesan seksual ini. Realize the kind of planet we live in. Anak-anak kita adalah mahluk hidup, mereka berpikir tentang seks, mereka telah mendengar dan melihat hal-hal berbau seks, dan mereka dikelilingi oleh hal-hal yang mendorong ketertarikan mereka pada seks.

2. Jangan menunda membicarakan soal seks sampai anak bertanya lebih dulu kepada kita. Komunikasikan seks dengan anak sedini dan sesering mungkin.

3. Manfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu sebagai kesempatan untuk memberikan pendidikan seks kepada anak. Misalnya saat menonton televisi bersama anak, atau melihat papan iklan yang mengirimkan pesan berbau seks, bersiaplah untuk mengintervensi dan membantu anak memahaminya.

4. Coba untuk terus mengawasi dan waspada dalam memonitor kehidupan anak. Gunakan program tertentu di komputer yang digunakan anak, terapkan parental control pada televisi maupun gadgets yang digunakan anak (baca: Survival Guide Orangtua di Era Internet), dan awasi interaksinya dengan anak-anak lain.

5. Kenali lagi gaya pengasuhan kita, apakah authoritarian, permisif, uninvolved, atau authoritative. Dr. Kaeser memberikan penekanan pada gaya authoritative. Pada gaya pengasuhan ini, orangtua mencoba menyeimbangkan relasi orangtua dengan anak, menyatakan aturan dan batasan secara jelas, mengizinkan anak mengutarakan pendapatnya, dan menggunakan positive reinforcement untuk membentuk perilaku.

Singkatnya, saya berkesimpulan bahwa buku ini sangat penting dan layak menjadi buku pintar orangtua dalam memberikan pendidikan seksual. Kita diingatkan betapa pentingnya memenangkan pertarungan untuk menjadi the number one influence bagi anak-anak kita.
Yaitu agar anak-anak kita menunda melakukan hubungan seks hingga mereka dewasa dan dalam hubungan yang sah. Agar mereka tidak hamil di luar nikah atau terkena PMS saat masih remaja. Agar mereka terhindar dari hubungan yang sexually abusive. Dan terutama agar mereka memiliki perilaku seksual yang sehat.
“If we do our job correctly, we win.” Dr. Kaeser wrote.
So, Mommies, I don’t think we should wait any longer. Let’s do that (huge) homework.


02/04/2014

we got a long one and that wasn't enough

oh boy, that was one long weekend we had. sabtu-minggu-senin, ditambah selasa karena adit ambil cuti. sebenernya sih, kita nggak punya rencana istimewa apa-apa untuk mengisi weekend kemarin itu. mau roadtrip, tapi kebayang di mana-mana bakalan macet dan ramai oleh manusia.
kalo jalan-jalan yang rada jauh atau pake naik pesawat, seperti biasa, karena nggak ada hasrat jadinya ya nggak disiapin juga duitnya.
akhirnya, kamis malam, gue dan adit random aja nemu ide untuk staycation. tapi bolehlah staycation-nya pake nginep di hotel. kayak beberapa tahun lalu, nginep di tengah kota, mall-hopping and the likes.

ketika hotel udah di-book dan ngebahas mau 'melancong' ke mana dan ngapain aja, tiba-tiba kita notice... kok badan bumy anget?
saat itu udah jam 10 malem. sepanjang hari bumy baik-baik aja, nggak nunjukin gelagat gak enak badan.
langsung deh, kita pasang mode siap-siaga. karena emang lagi 'musim' sakit banget... di sekolah, selain common cold, ada yang gondokan, bahkan cacar air segala. aduh, jangan sampeee deh, kejadian sama bumy.

besoknya, gue observasi kondisi bumy. bolak-balik ngecek suhu badan, kasih minum banyak-banyak, tenggakin madu sarikurma jus buah dsb.
sembari memantau, gue dan adit mutusin untuk ngebatalin booking-an hotel aja dulu. berhubung bookingnya online dan ada t&c harus cancel maksimal 24 jam sebelum check-in, daripada kena charge padahal kita gak nongol, ya dibatalin deh.

tapi alhamdulillah, sepanjang hari itu, suhu badan bumy normal. legaaa.

dengan demikian, positif kita staycation dengan bobok di rumah aja. kelayapan juga sih, tetep. itinerary-nya kurang lebih begini:

sabtu:
- ke binus -- berhubung adit sepertinya jadi kuliah lagi (aamiin), kita ke binus untuk legalisir ijazah dll. yaampun gue terakhir kali menginjak kampus anggrek SEMBILAN tahun yang lalu. pangling.sekarang bagian dalem kampusnya semakin mirip mol dengan adanya gerai fast food ternama, iBox, bahkan toko sportswear. bagian-bagian yang dulu familiar sama angkatan gue dan adit juga udah banyak yang berubah (yaeyalahh, sembilan tahuuun).
trus, yaah mellow juga,sih. mau se-indifferent apapun perasaan gue tentang kuliah di binus, tapi tetep aja.... sempet kepikiran sih, orang-orang yang alumni UI or ITB mungkin bakal bawa-bawa anaknya ke ex-kampus mereka trus berkata "nanti kuliah di sini ya nak!" gak terjadi hal yang sama pada gue dan adit... tentunya. hahaha. meski gue gak menepuk dada tiap menyebut nama almamater gue, tapi tetap terselip perasaan bangga... tak lain tak bukan pada bokap-nyokap. yang bisa nyekolahin gue <3

- ke karawaci -- biasa, dititahkan sama nyokap karena doi mau kangen-kangenan sama bumy. dengan senang hati juga sih, kita ke sana. begitu bumy hinggap di gendongan oma, kita melesat ke bersih sehat, haha. bistu lanjuut nyushi di midori, lalu ketemuan sama kiti di books n beyond dari sore sampe malem. kelar nongkrong, kita ngajak kiti ke rumah nyokap buat makan cwie mie rame-rame haha.

dulu ini belum ada



minggu:

- berhubung sejak beberapa hari lalu gue tiba-tiba ngidam main bilyar, jadilah sibuk nyari tempat menyodok yang kid-friendly. ada gitu? ternyata ada.... tapi sebelum main, kita ke... one of the hippest and hottest spots in town, waha kitchen. haha, niat deh gue hunting tempat yang "layak dicoba" dan "beda." abis kalo ke foodcourt lagi, foodcourt lagi, gak berasa "staycation"-nya doong (alesan) (padahal latah).
tempatnya, seperti yang diliat di instagram, kece banget interiornya. kita dateng sore-sore, dan sepertinya pas deh, karena gak rame. suka banget juga karena tempatnya no smoking. selain itu, makanannya juga oke taste-wise. gak rugi deh. 'kan ada tuh, tempat-tempat yang nikmat di mata tapi gak nikmat di lidah. this one is totally worth to try.

- Q bilyard dan bowling di plaza indo. this one is the best i could get. smoke-free, soalnya.
sebenernya kita pake meja bilyar yang terletak di bagian depan area bowling, dan kondisinya yaa gitu deh... tempatnya sempit (ada sudut yang gak memungkinkan stick bisa dipake mukul karena gak muat), mejanya 'seadanya' dan... pake koin :)))
maunya sih, pakai meja yang ada di bagian dalam Q bilyard-nya sendiri... tapi bebas merokok ey di dalem situ, huhu. kayanya di mana-mana tempat bilyard smoking area deh, meskipun dalam ruangan ber-ac (baru inget, setelah berpuluh-puluh tahun gak main). anyway, it was fun! seperti yang gue idam-idamkan. girang bisa ngalahin adit hahaha.
sesudahnya kita main bowling juga. again, it's been ages since i last bowled.


complimentary semprong di waha


we got a nice cozy spot

ini di toilet













gak heran doi kalah, mainnya berdua sama asisten sodok




senin:
- jogging keliling kampung. akhirnyaaa olahraga juga (pas nimbang di bersih sehat, ternyata bb udah nambah 1 kg lagi) xD
- menggembel (literally) ke citos karena males ganti baju abis olahraga. malamnya bikin ayam panggang di rumah (a la chef bubi).

selasa: ke museum layang-layang. abis itu beli sotomie jalan durian, dan tidur umpel-umpelan bertiga di rumah. 

kelar deh!

nonton film festival layang-layang dulu sebelum mulai tour
posenya begini ketika nonton film

















give us some moreeeee....


01/04/2014

celoteh

"Nanti ya, pa, kalau Naya mau melahirkan anak yang kedua, Bumy mau parkir (mobil) Mercy-nya di luar rumah sakit. Trus Bumy mau pegang bahu anaknya (yang pertama-red)."
"Emang kenapa dipegangin, Mi?"
"Biar aman."

"Masa Bumy takut sih, keramasnya disiram pake gayung? Ichan berani, lohh."
"Bumy berani kok, ma!"
"Tapi kok, kemaren mama denger Bumy teriak-teriak pas disiram pake gayung di rumah oma?"
"Itu Bumy teriak-teriak kesenengan, maa."
"... yadeh."

(nunjuk kacamata papanya yang terletak di ujung meja) "Pa, tuh kacamatanya nanti jatoh. Nanti mama marah. Mama galak banget, loh!"

(menegur papanya yang lagi buka laptop di rumah) "Papa dapet email dari mana?"
"Dari kantor."
"Bumy dapet email dari daycare."

"Bumy mau ganti nama, ah. Bhumyamca namanya jelek!"
"Mau ganti nama jadi apa?"
"Diganti gini ya... Basupa... Sepudita."
"Artinya?"
"Artinya: mobil dari sedan malah jadi mogok, gitu."
"Kalo yang bantal tadi?" (bantal juga disuruh ganti nama-red)
"Kalo bantal namanya gini, Kamu Sisa-sisa Masih Ompol Harus Dikeringin Dulu Dari Bantal Yang Basah Bau. Gitu deh!"


19/03/2014

ch-ch-changes!

Dari Kantor ke Rumah: My #ExcitingChange


by vanshe — Monday, March 17th, 2014 at 7:30 am

 

Bulan lalu, #excitingchange menjadi tema yang diusung Female Daily Network. Ini dapat kita lihat lewat makeover tampilan website, dan fokus baru yang diusung Female Daily.
Secara tidak langsung, hal ini menginspirasi saya untuk mengevaluasi berubahnya peran saya dari ibu bekerja jadi Ibu Rumah Tangga (IRT). Has it also been an exciting change?

Seorang sahabat berkata pada saya, “I think it takes at least a year to adapt with a new place, or a new role.
My friend said that based on her personal experience. Dia meninggalkan tanah air untuk menuntut ilmu ke Inggris selama beberapa tahun.

The first year in UK was rough, she said. Meskipun Inggris adalah negara yang selalu dia (kami!) impi-impikan untuk tinggali suatu hari, dan seperti layaknya penduduk negara dunia ke tiga yang belum pernah tinggal di luar negeri, kami bayangkan segala sesuatu di sana pasti 100 kali lebih baik, lebih keren, lebih menawan… hehe. Tapi tetap saja, beradaptasi tidak pernah semudah memutuskan membeli barang saat Mothercare sedang sale (analoginya emak-emak banget!). Butuh sekitar satu tahun baginya untuk benar-benar ‘menikmati’ segala sesuatu tentang Inggris. Ya makanannya, ya cuacanya, ya budayanya.

And then, as predicted, saat kembali ke Indonesia, she started back at one in terms of adapting. Lucu, ya, padahal sebelumnya seumur hidup dia tinggal di Indonesia.
Kalimat soal beradaptasi itu muncul di kepala saya ketika mencoba mengulas perubahan yang telah dijalani selama, well, tepat setahun ini. Have I been adapting well? Is the change really THAT exciting?
Hmm, untuk menjawab itu, sebaiknya saya reka ulang apa saja yang ada di bayangan saya sebelum benar-benar banting setir.
Sebelumnya, saya bayangkan, jadi IRT itu…

Pasti punya banyak waktu luang! I would have time to attend yoga classes, untuk berkonsentrasi menulis, untuk mencoba banyak resep, melahap banyak buku. Saya juga bisa punya banyak quality time dengan anak.
Namun kenyataannya….

Mengatur waktu supaya semua keinginan sekaligus kewajiban terpenuhi itu butuh skill manajemen waktu yang mumpuni. Mau jadi ibu bekerja kek, mau jadi IRT kek.

The exciting change yang saya hadapi adalah menemukan bahwa dinamika seorang IRT itu sangat berbeda dengan saat masih bekerja. Ketika jadi IRT, we set our own timeline, and create our own schedule. Jam ‘kerja’ IRT nggak jelas dan terencana seperti waktu jadi karyawan. Dan, aktivitas apa yang kita pilih untuk mengisi jam ‘kerja’ tadi juga sepenuhnya tergantung pada kita.

Meskipun akhirnya membuat jadwal mingguan, kelemahan saya adalah masih gampang dikendalikan oleh mood. Kadang seharusnya saya mengajak anak bermain di luar, tapi, kok rasanya males banget. Kadang jadwalnya menulis, tapi, kok saya lebih mood bebenah.

Selanjutnya, perubahan dalam kehidupan sosial.
Sebelum jadi IRT, saya bayangkan, sepertinya bakalan nelongso, nih. Saya akan jarang ketemu teman-teman lama. Dunia juga akan ‘menyempit’ karena berotasi di sekitar rumah saja.

Kenyataannya, memang sih, saya jadi lebih banyak berada di rumah dibandingkan sebelumnya. Bertemu dengan teman-teman lama juga hanya sesekali. Tapi ternyata, circle of friends saya merambah ke lingkungan baru, misalnya ibu-ibu di sekolah anak saya. Berawal dari pertemuan saat mengantar dan menjemput anak, berlanjut ke Whatsapp group, hingga janjian untuk playdate. Di sini, saya menemukan teman-teman yang “setipe” dan nyambung dengan peran baru saya.

Berkat mereka, saya jadi tahu tempat-tempat yang child-friendly di kawasan tempat tinggal, ‘tren’ terbaru di dunia fashion (anak-anak), sampai berbagai rupa jajanan untuk dicicipi.
Sementara soal dunia yang ‘menyempit’ tadi, pada kenyataannya saya menemukan cara untuk membuatnya jadi lebih luas. Caranya dengan lebih intens mengurusi kerjaan sampingan, menemani anak saat les, serta mengikuti kelas-kelas olahraga.

Last but not least, soal pencitraan.

Waktu masih bekerja, saya berikrar pada diri sendiri. Kalau sudah jadi IRT, saya:
1. Nggak mau ngomongin urusan domestik dengan siapapun kecuali suami.
Kenapa tidak? Karena… frankly, to me, it’s boring! I don’t wanna hear the long and winding drama about someone’s ART. Or how your floor hasn’t been mopped, or how your kids are fighting all over the place.
2. Nggak mau ‘tertangkap basah’ bergosip. Karena saat masih bekerja, saya sering mendengar komentar, “Aduh, ngurusin orang lain aja, kayak emak-emak kurang kerjaan!”
Ew… gengsi ‘kan, kalau saya nanti dicap kurang kerjaan a.k.a. hidupnya membosankan hanya karena membahas gosip artis (artis luar negri sekalipun! Hihi).

Ketika sudah menjalani peran sebagai IRT, dan tanpa bisa dihindari membahas urusan domestik dengan orang lain, juga tetap suka membahas gosip artis dan selebtwit, saya jadi sadar, bahwa:
1. Membahas urusan domestik bukan dosa besar, kok. Asalkan teman bicaranya tepat dan membahasnya pun tidak untuk berkeluh-kesah panjang-lebar. Saya malah bisa mendapat wawasan dan saran kalau sharing dengan orang yang tepat.
2. Nggak usah insecure sama pendapat orang kalau tertangkap basah bergosip, atau masak pakai bumbu instan, atau ‘tanpa sengaja’ memukul pantat anak saat dia tantrum sementara kepala sedang senut-senut karena PMS.

In fact, nggak usah insecure soal gimana citra diri ini di mata orang lain, apapun peran yang kita pegang, selama apa yang kita lakukan tidak merugikan orang lain dan sejalan dengan nilai-nilai yang kita anut.
Well, I don’t say bergosip atau memukul anak itu perilaku yang membanggakan, sih.
Tapi, seperti saya ceritakan di sini, we can never be perfect, and we’ll always have ups and downs in life.

Dengan demikian, one thing I learned is to not judge people based on what they show from the outside.
Karena, banyak kok, orang yang bermulut manis, tapi enggan menolong orang lain.
Atau yang hobi mengomentari IRT itu “kurang kerjaan” padahal sebenarnya kepengen jadi IRT.
Atau yang menampilkan kesan sebagai ibu nan paripurna, padahal sadis banget kalau marah-marah sama anak.

Akhirnya, kembali lagi ke pertanyaan di awal, has it been an exciting change? 

Setelah mengulasnya panjang-lebar di sini, saya dapat menyimpulkan: The change feels scary sometimes, not comfortable occasionally, but mostly, it feels exciting. Perubahan ini membawa saya ke tempat-tempat baru, mengajak saya mencoba hal-hal baru. Meskipun pada awalnya serbuan perubahan itu membuat saya kewalahan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, saya dapat menentukan apa yang menjadi fokus saya.

Nggak perlu ngotot memasak tiga macam hidangan berbeda kalau memang dari awal tidak suka berlama-lama di dapur.
Tidak usah terus-terusan ngedumel soal ART, karena memang butuh dan terbantu oleh tenaganya.
Berhenti mengkhawatirkan apakah kenalan akan ngomongin yang jelek-jelek soal saya di belakang, karena toh mereka cuma kenalan, bukan mereka yang penilaiannya penting buat saya.

Berkat punya fokus, saya jadi bisa mencurahkan pikiran dan tenaga ke hal-hal yang memang penting buat saya. Dan nyuekin hal-hal di luar itu.
So I think this change has definitely brought me to a new level.

Bagaimana dengan Mommies, apakah baru mengalami exciting change juga? And what did you learn from it? Silakan berbagi di sini. :)

*gambar dari sini dan sini

06/03/2014

flow and adapt

sejak bulan lalu, gue mulai mengikuti kelas yoga. i mentioned it earlier, that i love the ambience and also the teacher's style.
gue ikutin kelas yoga di hari biasa, karena kalau hari libur, susah banget bangun paginya. sekalian buat ngisi waktu 'kosong' pas bumy gak sekolah. jadi ya otomatis bumy gue bawa.
karena bawa bumy, sebelum berangkat yoga, pagi-pagi pasti gue udah riweuh deh nyiapin ini-itu. baju ganti, botol minum, susu, sampe mainan. berhubung si bocah usianya baru 4 tahun, rentang perhatian doi tentunya pendek. pas pertama kali gue ajak, dikit-dikit dia 'berulah.' ya duduk di mat guelah, merengek-rengek, dsb.
dari situ, gue belajar untuk bikin kesepakatan sama doi. doi boleh atau dapet xyz ASAL mau nungguin mama yoga dengan tenang. hehehe. alhamdulillah it works. gue salut juga sih sama kemampuan si bocah memenuhi kesepakatan ini. dan tiap minggu, each of us sort of makes improvements. gue tambahin pesan kalo dia harus main dengan tenang, not making any noise. gue juga dapet ide nambahin cemilan buat bekal dia. dia juga mulai memahami kalo kelas yoga udah mulai, area melantai gak boleh dimasuki lagi. he also learns how to keep himself busy. kadang dia nemu teman main, kadang ya asik aja main sendiri.

anyways, sebenernya yang bikin gue mau nyeritain soal kelas yoga adalah materi hari ini yang menarik banget buat gue. Chandra, sang guru, bilang kalo fokus latihan hari ini adalah menyeimbangkan energi chakra ke-tiga, chakra manipura.
sebelumnya gue ceritain dulu, kalo ada 7 chakra utama di dalam tubuh manusia. btw, gue tau dan menyadur ini dari buku "Panduan Lengkap Yoga"  oleh Pujiastuti Sindhu yang gue beli sebelum mulai ikut kelas, hehe. bukannya overprepared sih, cuma kebetulan nemu bukunya di books 'n beyond dan pas lagi dapet diskon ultah adit :p
back to topic, chakra itu maksudnya pusat energi di dalam tubuh kita. chakra ke-tiga yang jadi fokus latihan ini letaknya di hati, tepatnya kelenjar pankreas dan adrenal. unsurnya api.
nah, Chandra tadi ngejelasin sebelum kita mulai latihan, kalau chakra ini mewakili kualitas wiilpower, atau kemauan keras. it deals with sense of belonging, mental understanding of emotions, self-esteem, personal power, stamina, success, ego (from myyogaonline.com).

nah, attitude yang keluar dari ketidakseimbangan chakra ini bisa berupa perfeksionis, gampang marah, bahkan gila hormat. lebih lengkapnya dari myyogaaonline.com, masalah fisik dan emosional yang bisa muncul akibat ketidakseimbangan chakra ini di antaranya lack of self-esteem, depression, judgmental, anger, rage, hostility, perfectionism, issues with self-image and fear of rejection.... gue tercengang pas dengar itu. loh... kok, mirip-mirip sama yang sering gue 'derita' yah :(((
gue cenderung perfeksionis. meskipun gue curigai ini bawaan orok alias akibat pola asuh. tapi, apapun penyebabnya gue rasa gak gitu penting, yang justru di-highlight adalah gimana caranya menyikapi kekurangan ini (ternyata bener ya ini kekurangan. 'kan kalo lagi interview, pas ditanya apa kekurangan kamu, seringnya dijawab "saya perfeksionis").

lebih jauhnya lagi, karena chakra ini menguasai bagian liver, kidney, adrenals, dan lainnya di seputar ulu hati, disfungsi fisik yang bisa terjadi tuh diabetes, stomach ulcerns, intestinal tumors, colon disease.... glek, gue jadi inget kalo maag gue suka kambuh kalo lagi "banyak pikiran."

begitulah, gara-gara pembukaan dari sang guru, gue jadi menjalani dan memaknai latihan hari ini dengan lebih atentif.
latihan diawali dengan metode pernapasan kapalabhati, atau bernapas menghembus kuat dengan tarikan otot diafragma (perut). setelah gue baca, cara bernapas ini  bermanfaat untuk meredakan stres dan membersihkan pikiran dari energi negatif. disarankan dilakukan oleh penderita diabetes, penyakit jantung, juga tekanan darah tinggi. baru pertama kali gue mencoba pernapasan model begini.

Chandra juga ngejelasin, gerakan yoga yang kita lakuin untuk fokus ke chakra ke-tiga tadi dapat mengobarkan unsur api di dalam diri kita. that's why, dia kasih gerakan memuntir ke kiri-kanan dan Navasana supaya bisa menjaga kobaran api supaya tetep seimbang.
Affi pernah tulis di sini soal makna gerakan yoga favoritnya. it's Virabhadrasana or warrior pose. gue sangat terpukau oleh deskripsinya akan makna gerakan tersebut.
ketika gue mencoba cari tau makna gerakan Navasana or boat pose, gue mendapatkan ini:

"Nava means ship or vessel and asana means seat or pose. The pose represents a boat where the arms are the oars. The capacity for movement and fluidity is where water gets it power.  The essence of our inner journey is seen through the water element.

Boat pose has a beneficial effect on the skeleton, which is governed by the water element.  This pose can help to turn a weak spine into one of support and strength.  It is also said the Navasana tones the kidneys.  This pose will give them greater ability to regulate the fluids in the body. The pathway of the bladder runs up the back of the legs through the buttocks and along the spine.  The bladder official is responsible for the storage of fluids and helps us to flow and adapt to change, like a boat on the waves." (dari sini)

hmm... to flow and adapt to change. i think i need that the most these days.

and i think this is why i like doing yoga. ada maksud dan dasar filosofi dari setiap gerakannya. gue juga suka sama guru gue karena dia ngejelasin semua ini. gak cuma ngajak jungkir-balik yang penting keringetan dan berpose cihuy. chandra juga selalu ngingetin kita to listen to our body, and respect our body. jangan ngejar bisa mencapai pose tertentu dan menghukum badan kita ketika gak bisa mencapainya. tujuan utama kita seharusnya adalah mengenal diri dengan lebih baik, dan berusaha agar diri kita, badan kita, dan orang-orang tersayang kita bisa mendapat manfaat dari latihan yang kita lakukan. esensinya seperti gambar kutipan yang ditaro Chandra di newsletter ini:

i totally love it!

well, meskipun mengikuti latihan dengan lebih atentif, kok rasanya pas ngejalanin tadi, badan gue gempor buanget yahhh. biasanya sih gempor juga, tapi yang ini jauuhh lebih melelahkan. entah apa karena area abdomen dan ulu hati gue emang lagi bermasalah... yang jelas, gue sampe beberapa kali jatohin diri ke child pose saking gak bisa ngikutin gerakan xD

well, i'm zillion miles away from being a yogini at heart atau bahkan beli outfit lulu lemon, sih. but i'm definitely hooked on the classes.