27/11/2013

the weekend with girl from mars

i had a me-time galore last weekend. setelah minggu sebelumnya yang padat dan cukup bikin kelimpungan. nyiapin (seribu perintilan) ultah bumy (atau bisa juga disebut: pertama kalinya kami menghelat acara yang melibatkan banyak orang di rumah sendiriii), ngebut bikin artikel for the upcoming MD's project, dan alhamdulillah dapet cipratan kerjaan copywriting dari Nisha xixixi <3<3

bokap nyokap nginap sejak kamis malam di rumah. besoknya, mereka bawa bumy ke karawaci sepulang sekolah. jadi, resmi sejak jumat siang gue memiliki rumah untuk diri sendiri :P
tapi malah bingung gitu mau ngapain....
glundungan di kasur sampe bosen. akhirnya memutuskan nyetel dvd yang udah dibeli dari dua bulan lalu tapi belum juga ditontonin.
  • "the paperboy": ada nicole kidman, matthew mccoughnahey, sama zac efron, tapi filmnya lebih "festival' daripada "hollywood"-y. gak bisa bilang gue suka sama ceritanya sih, tapi film ini kuat juga 'tonjokan'nya ey. bikin kepikiran sampe sebelom tidur :|
  • "penelope": picked this movie randomly, tapi debi bilang film ini bagus. gue juga berharap demikian saat memilih karena ada james mcavoy-nya. ternyataaa... what happened was worse: film ini bikin jatuhati ugal-ugalan sama mr. mcavoy nan tampancharmingbritishpula! xD but also a feel-good romance&family movie it is. tentunya gak sah disebut begitu kalo gak bikin mata basah di satu dua adegan.
  • "on the road": film dari tahun 2012, main casts-nya belum ada yang gue kenal selain tom sturridge, kiki dunst, dan kristen stewart. tapiii, dua cowok main casts ini bikin termehek-meheeek (nobody uses this word anymore, right? only makes it legal for me to put it in here). aarghh sam riley + garrett hedlund = ibuk-ibuk menjelang 30 tahun yang kelojotan terpesona. hysteria aside, i think this movie is not your typical hollywood movie. lebih "jiffest" lah macam si paperboy (which is to be expected, lha wong ceritanya dari buku fenomenalnya jack kerouac, the one and only "on the road"). sedikit banyak mengingatkan pada "motorcycle diaries" karena tema coming-of-age-nya. tapi yang ini terasa lebih "amerika," karena memotret kegalauan kaum muda amerika di tahun 40an, dengan karakter-karakter yang restless, don't wanna settle, dan gak takut keluar dari comfort zone. inspiring lah.
  • "paris manhattan": LOVE THIS MOVIE TO THE MOON AND BACK. film ini tentang cewek yang suka banget sama woody allen dan film-filmnya. ain't that soooo familiar or what?! yang makin bikin hati teraduk-aduk (by excitement!) adalah skenarionya yang "woody allen" banget!! lucu, tolol, witty, unpredictable, tapi hit you on the gut saat menyuguhkan hikmah dan kebijaksanaan hidup. this movie is a homage to woody allen, yet ALSO serves as a love letter to his fans! can't say how much i lovvve, luurrveee, the movie :)))

so, that's day one.
on day two, noo we didn't have somekinda hornymoon day. kita berdua bangun pagi-pagi karena masing-masing punya agenda. adit ikut volunteering benerin sekolah ke parung, sementara gue menunaikan janji untuk... senam sama ibu-ibu kompleks. oh yes, i'm "there," at the point where i put on my training suit at 6 am on saturday morning, to mingle and jiggle.
meskipun demikiaaan, seru juga olahraganya (baca: bikin badan rontok, keringetan, dan ngos-ngosan). sesudahnya, berhubung si embak telah kembali bekerja, gue menghabiskan pagi dengan glundungan lagi di kasur... LOL. saat-saat seperti ini nih, ternyata malah bikin kangen banget sama anak. si koala. bocah lucu. yang mengganggu mama dengan pertanyaan "kok?" dan "kenapa?"nya 111000 kali dalam sehari. huks. 


sorenya, gue nungguin kiti dateng ke rumah. we were about to have a date that saturday night... not just a regular date, but a DATE WITH TIM WHEELER AND ASH. hahaha... oh yeaah (no-pun intended), satu lagi band masa muda gue dihadirkan ke jakarta. excited banget jiwa forever-13-tahun-kuu.
jalanan jakarta juga bersahabat banget sore itu, jadi jam 5an kita udah sampe di senayan.
begitu tiba di lapangan D, tercium... bau rumput itu. hembusan angin dan keriuhan dari speaker raksasa itu. i instantly felt like home. funny, huh. maybe because the place has been holding some memorable events in my life. weezer. blur. and now ash. SUBHANALLAH.


di awal malam itu, anginnya terasa agak dingin. gue sempet menyesal gak pake jaket atau numpuk baju di badan. penontonnya bisa dibilang sepi, tapi semangat nostalgia dan kekangenan yang mutual di antara sanubari para hadirin bikin suasananya jadi terasa intim. bagaikan a private gig. beneran deh gak dilebih-lebihkan, haha. (ya Allah, lagi nulis ini tiba-tiba terdengar "Lost in You" dari media player....).

ash tampil enerjik, dan mr. wheeler ramaah banget sama kite-kite. momen "ledakan kerinduan" gue terjadi kala lagu "sometimes" dan "angel interceptor" hihihi, ini nih yang bikin kecanduan sama konser. 
gue jadi inget jaman kuliah dan jatcin sama seorang pria 'aneh' dari provinsi yang istimewa, haha. jadi inget juga sama masa-masa SMP dan doyan nyetel kaset "1977" sekaligus OST. Angus. ajaibnya, ash ngebawain lagu "Jack Names The Planet" yang cuma bisa gue temukan di kaset Angus itu!


1977 = celebration of long-lost youth <3

"sometimes it happens feelings die.
all years are lost in a blink of an eye.
we once had it all, but events conspired. 
sometimes...." 


hati dan kepala gue juga membuncah akibat raungan distorsi gitar dan dentuman drum yang seolah jadi trademark musik masa muda gue. era sembilanpuluhan. kangen banget sama tune macam begini! jadi kepikiran, apakah tune ini akan jadi 'klasik' dan semakin langka? and will today's youngsters cringe at the sound of it the way i did when i heard my dad's 70's music as a teenage kid? but i believe good music perseveres. one day, another teenage kid will fall in love with this kind of music perpetual adolescents like ash made.

  

busuk banget foto-fotonya yaa. maklum deh dari jarak jauh (yang kanan dari screen. iseng diambil setelah kiti komentar muka tim wheeler "model-model tom cruise."), dan gue juga gak pernah ngotot capture foto dan video saat konser. karena bakal ada banyaaak foto yang lebih keren yang diambil sama para fotografer dan juga rekaman video konser versi lengkap yang akan di-upload-in ke youtube. jadi ngapain ngerusak momen merekam kenangan di kepala dan hati sendiriii.

oiya, efek rumah kaca/pandai besi juga tampil dengan sangat memukau. lagu-lagu pandai besi bikin teringat sigur ros. megah, bagai mimpi, dan menghanyutkan. love them. highlight dari performance mereka adalah cholil sang vokalis ngajak anaknya ke panggung. sepanjaaang performance, si bocah kecil berdiri di samping bapaknya, dan kadang tangannya megangin ujung kemeja bapaknya. :"}}} (pas lihat akun instagram tim wheeler, ternyata dia ambil foto si anak yang lagi ikut manggung, dan dikasih caption: "The band on before us has a 3 year old genius prodigy amongst their ranks" :D)

malam itu, gue, kiti dan adit sampe di rumah jam 11an. bukannya langsung tidur, malah asik ngobrol. mana yang dibahas soal keuangan, yang ada malah makin semangat ngoceh. tiba-tiba sekitar jam 12:30 pagi, listrik mati. bubaaar deh. esoknya, kita sempat maksi dulu bertiga di demang cafe di sarinah. lagi-lagi nostalgia! terakhir kita barengan ke sini ya pas ngerayain ultah pertama bumy tiga tahun lalu. tempatnya masih cozy, makanannya masih enak-enak. cuma kok sepi banget yaa untuk minggu siang?



setelah semalaman bersama dan gak kepikiran buat foto berdua...zzz. 

well, anyway, i guess all there is to say now is... alhamdulillah.

15/11/2013

we should have a house there

ini ketiga (atau keempat?) kalinya kita ke bandung tahun ini. sejauh ini, buat kita emang kota itu yang paling 'masuk' dari segi budget dan jarak untuk quick getaway. perjalanan kemarin seperti biasa buah keimpulsivan kita. "bete nih, butuh jalan-jalan!" maklum deeh, si embak tiba-tiba madol dan gue harus kembali jadi IRT berdikari. suntuk juga beberes rumah melulu. selain itu, gue juga penasaran mau menyambangi toko-toko crafts, lapak barang bekas, dan pasar cibadak. jadi, sehari sebelumnya gue susun semacem-itinerary untuk ngejadwalin kapan dan mana aja tempat yang mau dituju. biar gak ada yang kelewat, gitu. 
trus berhubung adit udah dapet cuti, kali ini kita berangkat bukan saat weekend, tapi hari kamis pagi. 
berikut rute kita selama di sana berikut sedikit ulasan tempat-tempat yang baru kita kunjungi:

- jendela  alam, lembang.
kita agak ragu mau memilih tempat ini atau de ranch, awalnya. tapi karena saat menyusuri lembang, yang pertama ditemukan jendela alam, ya udah kita mampir ke situ. 
tempatnya gak gitu gede, tapi lumayan menyenangkan buat anak-anak. begitu masuk, bumy langsung kalap lihat area playgroundnya yang lumayan gede. padahal model mainannya jadul. cuma ditambah suasana yang bersih, sepi, dan adem hawa puncak, jadi betah juga di situ.

di sekitar playground ada saung-saung buat ngebakso dan kolam renang. pas kita lagi menikmati kedamaian nongkrong saung, tiba-tiba aja dateng puluhan anak-anak tk menyerbu sambil teriak-teriak girang. ternyata ada sekolah yang lagi field trip -___-  
lantas kita putusin buru-buru selesaiin makan biar bumy gak harus ngantri animal feeding dan lain-lain barengan bocah-bocah itu. 'cos there were lots of them.
untungnya abis main di playground, mereka disuruh snack time. jadi kita bisa lanjutin wisata dengan tenang, hehe. pertama bumy nyoba pony ride, abis itu animal feeding. 
ternyata sebelum mulai feeding, anak diajak untuk nyabutin wortel dulu di kebun wortel, abis itu diajak nyuci wortel-wortelnya. baru deh keliling jendela alam untuk ngasih makan hewan ternak satu demi satu. ada rusa, landak, kelinci, sapi, sampe ayam dan angsa. 

kelar feeding time, kita liat-liat rumah kaca yang isinya tanaman hias dan sayur-mayur. jadi pengen nyobaaa bikin kebon sayur di rumah.




































- cottonwood, pasteur.
penasaran aja sih liat tempatnya kayak apa, trus mau menyambangi souvenir shopnya. kita pikir bisa numpang breakfast di situ, ternyata ora iso. (berhubung judulnya bed&breakfast… kekeke). hotelnya kecil, tapi ucul beratss. mayan deh, puas foto-foto dan liat-liat.

bocah masih "fresh" banget













- opus one setiabudi.
nemu tempat ini secara gak sengaja. karena mau quick lunch sebum nyampe di hotel, kita berhenti buat makan di brussel spring, abis itu liat-liat ke toko di sebelahnya. awalnya gue tertarik karena liat kursi-semacam-ottoman-tapi-bentuknya-bulet, dengan motif ala cath kinston. ternyata banyak barang-barang lucunya di situ. di lantai atas ada alat-alat makan, printilan scrapbook. aksesoris dapur, dan lain-lain. sementara di bawah ada baju-baju, dan pojok aksesoris rumah dan taman bernuansa rustic dan shabby chic. gaya ini lagi heits banget di bandung, kayaknya. 

- pvj, sukajadi.
kita memutuskan untuk sowan ke mall buat makan malem. sebenernya milih ke sini karena dua hal doang: ada auntie anne sama sepatu incaran gue, glintz shoes, lagi buka booth di situ. gue juga demen sih sama mall ini, soalnya bagus dan gak riweuh. meskipun sempet ribet dan gempor nyariin atm di sini yahhh, tapi gue seneng soalnya berhasil dapet sepatu incaran, pretzels auntie anne (NYUM!), dan icip-icip di stradivarius, hahaha. 

- zen living, sukajadi.
di sore-sore pada hari ke-dua, gue dan adit merasa sangat gempor, soalnya kita banyak jalaann (gak di mol, gak di pasar). akhirnya gue browsing cari tempat family massage yang oke, dan dapetlah banyak rekomendasi tentang tempat ini. sebenernya di padma hotel ada outletnya si zen ini. cuma kita udah nebak, pasti harganya harga hotel! ternyata bener, hahaha. yaudah kita ke yang di sukajadi, dan ambil refleksi yang 90 menit. berhubung bumy gak boleh ikut masuk ruang 'perawatan' kalo gak di-treat, akhirnya kita ajak refleksi juga deh doi. 
tempatnya keren sih, tiap kursi empuk cozy gitu trus ada tv dan headphone-nya. interiornya gelap, soothing, dan harus aromatherapy. dari segi treatment, yaah lumayan, meskipun lebih enak kokuo di belakang plaza bii thamrin. 

- thai palace, dago.
abis refleksi, gue ujug-ujug kepengen makan tom yum. lagi-lagi melalui internet, kita nemu info kalo tempat ini bisa jadi pilihan. kirain rasanya setara atau paling enggak mirip-mirip cj tom yum lebak bulus yaaa… secara yang kasih rekomendasi banyak banget. tapi… setelah makan, ternyata enggak mirip. tom yumnya agak kemanisan buat kitaaa. trus gak ada cita rasa daun ketumbar kayak di cj. 
buat bumy, kita pesen ayam barbecue. enak ternyata ayamya, renyah dan gurih. 

- selasar sunaryo.
salah nih, kita jalan dari hotel ke sini jam 4 sore. hari kerja ternyata tetep macet di prapatan mcd dago situ. jadi baru sampe di kawasan dago pakar jam 4:30. adit mengandalkan GPS buat nyari lokasi tempat ini. gue udah curiga, kenapa diarahin ke kompleks perumahan? tapi berhubung adit nurut sama si GPS, akhirnya kita sampe di depan tanah kosong. kata adit, "menurut GPS sih di sini nih tempatnya!" -_________-
akhirnya puter baliiik, 15 menit kemudian baru sampe di lokasi benernya selasar sunaryo. ternyataaaa, kafenya tutup jam 6, waitressnya pas kita mau pesen bilang, "cuma bisa pesen minum ya bu, soalnya kita udah mau tutup." :(((( padahal perut kite udah bergeloraaa. 
akhirnya kita cabs tanpa order, dan memutuskan kembali ke selera asal: yamin warung lela. antiklimaks abis.

- istana plaza.
liat-liat mol di jalan pasir kaliki ini berhubung mau nyari makan siang khas mol :P ternyata di dalemnya ada toko "made with love" yang jual kertas-kertas lucu dan printilan scrapbook. banyakkk banget pula paper punch martha stewart-nya. gue cuma beli doily paper di sini, abis itu ke gramed buat beli kertas asturo (mau bikin prakarya buat ultah bumy ceritanya).

- magic pizza
udah ngincer pizza di sini dari dua tahun lalu! tapi belom pernah beruntung dapet tempat parkir di riau junction-nya, huhu. syukurlah kemarin kita mampir pas hari kerja, dan meskipun mau masuk ke parkirannya ngantri juga, tapi akhirnya bisa dapet tempat parkir. pizzanya enakkkk, dan murah! jadi kita bisa pilih sendiri toppingnya mau apa aja. dijual makanan dessert juga, gue nyobain pizza dengan topping peach dikasih chocolate sauce. 

- pasar cibadak.
dalam perjalanan menuju ke sini, kita lewatin toko-toko terkenal kaya toko WK, petra, yang modelnya mirip toko maju di mayestik. terkenal karena harganya murah sih, kalo gue baca. tapi kita gak mampir karena gak nyari printilan jahit juga. 
akhirnya sampailah di jalan cibadak. niatnya sih nyari kertas-kertas kado atau origami bermotif lucu, mainan buat souvenir ultah bumy, aksesoris rotan, dan lain-lain. karena katanya di cibadak ini lengkap. kita menyusuri jalan cibadak hampir dari ujung ke ujung. meskipun panjang, tapi nyaman jalan di sini. bersih dan gak riweuh. alhamdulillah cuacanya juga lagi adem. di sini, kita nemu
- mainan binocular plastik buat jadi souvenur ultah bumy
- miniatur tokoh-tokoh jack and neverland pirates. 
- benda-benda rotan gitu. tapi gak beli ey.
- banyakkk toko kertas dan stationary, tapi gak ada kertas origami bermotif.

- cr*y*ns cr*ft.
kita ngalamin kejadian nyebelin di sini, ceritanya gue nanya kertas-kertas kado di belah mana ke embak spg. yang di depan bilang di belakang, yang di belakang bilang di depan. tokonya gede gitu terbagi jadi bagian depan dan belakang. udah bolak-balik, dan akhirnya memutuskan untuk cabs, eeeh akhirnsya gue nemu kertas kado garis-garis merah putih tepat plek seperti yang dicari. gue langsung semangat banget! gue comot tuh kertas kado, dan nanya ke embaknya, "ini harganya berapa?" si embak bergaya bingung-bingung gitu, trus bilang, "oh ini gak dijual." 
tau-tau, ada suara dengan nada yang kurang ramah nyamber, "bilangin, itu xyxyxyxy (kayak ngedumel gitu, ngomongnya cepet-red), gak dijual, itu impor!" 
gue dan adit langsung bertatapan dan freezing gitu. buset deh! sampe segitunyaaa gak mau address langsung ke customer, padahal kita bisa DENGER suaranya. dah gitu pake bilang-bilang impor… ya trus kenapa kalo impor?? dikira gue gak pernah nyentuh kertas kado linoluna atau yang dijual di aksara, apah? (bete)
selain ketidakramahan tadi, kita juga heran. itu kertas kado udah rada kotor, kalo buat jadi barang display terlalu kumel :|

- java preanger coffee, cisangkuy.
mampir ke sini gara-gara adit pernah nyicipin "es krim goreng" pas acara kantornya. nama hidangan itu versi adit sih, nama 'resmi' di menunya lupa. tempatnya luas, cozy, dan kopinya endess (kata adit). biji kopi yang dipake (dan seperti dijual juga) di sini produksi ladang kopi di bumi parahyangan sepertinya. karena ditaro di display gitu nama-nama jenis kopinya, dan rasanya emang khas/berbeda. 

yang di belakang itu coffee beansnya

- glintz room, cilaki.
gue udah ngincer sepatu ini sejak liat akun instagramnya. berhubung kalo mesen perlu 4 minggu, makanya gue niatin mau nyamperin tokonya langsung. emang udah beli sih sepatu yang gue suka di booth pvj, tapi pengen liat lebih banyak lagii di toko induknya. akhirnya gue beli dua pasang lagi, lucu-lucu bangettt. ini foto-foto tokonya dan sepatunya dari akun instagramnya yang gue screen-capture. enjoy!





















dari sekian banyak tempat yang berhasil disambangi, tetepp aja ada yang gagal, huhu. misalnya garasi opa (padahal deket banget dari hotel!), warung laos, dan kandura keramik. 

karena kita balik dari bandung hari sabtu siang, lalu lintasnya ramaah banget. tapi begitu sampe di ujung cikampek, tau-tau ketemu macet. yang tadinya mau lewat jorr, dibatalin karena ngantrinya kok udah panjang ajaa. tapi begitu pilih tol dalkot, rada nyesel juga… karena sama aja macetnya T__T 


yang nyebelin adalah gue dan adit udah kebelet pipis sekaligus laper. bumy untungnya tidur nyenyak sepanjang perjalanan. akhirnya kita putuskan mampir di tebet untuk makan di resto padang dahulu. keinget kalo hidden park lagi ngadain event di taman honda tebet, kita mampir dulu deh sekalian ngelurusin badan. tamannya jadi bagus banget, deh. karena tema minggu itu sports & play (cmiiw), jadi ada bocah-bocah skater dan speda yang pada beraksi. bumy betah banget, sampe nangis diajak pulang. foto-fotonya gue taro on the next post.

10/11/2013

where youth and laughter go

it's almost november. all of a sudden, it's nearing the brink of a whole new year.
instead of being bothered by the realization of my new year resolutions, i am putting some serious thoughts on turning thirty. you see, in shaa Allah i'd turn to big three-o this december.  
to tell you the truth, to me it's more scary than exciting. i'm like, "dang… i'll be thirty already? i'm grateful for having been living this long. but… does that mean i should be a highly-functioning, mature, rational adult?"
if the answer is yes, then how come i'm still mesmerized by the memories of my high school years? how come i'm still this silly, moody, anxious, little girl inside? i know i'm a woman bearing one child in reality. but mentally, i think i'm a forever-13-year-old!

to give myself a little comparison, i remember when my mom and dad were in their thirties. aside from the fact that they looked much younger (lol), i can also recall the sense of their struggle. 
they hadn't had much in terms of material possession but they worked diligently. they came from blue-collar background, were provided only with high-school level of education, but they could land promising government-owned jobs. they worked hard and never complained. they never thought about getting a new job. they earned each rupiah hard and they were thankful. 
our family didn't even have a car. but i remember we celebrated our birthdays every year, got five pieces of new outfits every lebaran, and never worried about basic necessities.
we didn't travel much. our farthest trip was to jogja when i was in the 3rd grade. in the other years it was merely bandung and carita. 
they had two kids by the time my mom was 32. they didn't put much thought about raising children. or about nurturing their relationship. they simply set some ground rules and they do it instinctively. 

the way i see it is, like, my mom and dad slipped into their forties abruptly. i didn't notice any significant difference of their transformation. it's like they're suddenly becoming THIS old. 
it seems like after thirty, you don't remark any other big, meaningful milestones. life just folds onto you without any warning. senility just will come crushing and turning you into an old bloke overnight.  

...so here i am now, a bit jittery about being thirty. 

with the way we are living now, with social medias and the internet as daily consumptions, being thirty is 'told' as being such a big deal. not that i'm blaming them entirely. i mean, i've read articles about "30 things you should know when you're 30" and others alike, describing thoroughly about what we should've achieved, what we should've understood, where we should've been.  
even without those articles encouraging my nervousness, i would still be critical towards myself and my achievements. 

turns out, i'm not alone in feeling this way about facing the upcoming decade. 
my best cat friend, kiti, told me the other day that she felt the anxiety, too (fyi, she turned 30 last june. cheers, dear!). she told me that she wrote a letter as a medium for her contemplation, her self-reflection, and also as a record of her 20's life. 
she said it could make her feel at ease. finally at ease, and able to face the big three-o calmly, serenely, and gratefully. 

sounds like a nice tip, huh?

so, let's see, within the last decade, i have
- finished my education studying something i didn't think i would be trapped to work in... i mean i love IT, with its calculus, physics, logics and stuff. but it kinda trapped me into a "stereotype" work-wise. 
- had a nice "masa muda," tried to figure out lives cluelessly.  
- tau-tau pake jilbab. hahaha. 
- worked at three places, all of which i've learned valuable lessons from, specifically and most importantly is how i dread office work. 
- made seriously stupid mistakes. 
- tried to be the kind of person i wasn't comfortable with just to impress some people. some people i didn't even like. 
- found a boy who loves me and happens to be a reallllly great guy. 
- been living the married life, well, not so smoothly and successfully at times. but i'm trying to. turns out that it's a BIG job being someone's wife and mother. (imagine a 13 year-old--at heart--doing that kind of hard work 24/7? tough luck huh).
- had a kid. a more-than-beautiful, ever-so-bright, loving kid. 
- WATCHED BLUR PERFORM LIVE. and weezer. oh You're so kind, God.
- been taught the hard way about how to be financially independent. 
- not traveled much. still haven't had the kick (and the bucks!) to travel more.
- been able to understand and communicate with parents better. now that i'm the same age with them when they first had kids, it's reasonable. 
- lived away from my parents. thus embarking a new journey as a stay-at-home mother.  

compared to my parents, yes, i've done different things. i'm also not as tahan-banting and persistent at work as they were. 
but i sense that somehow i'm living the similar kind of safe lives that they have. 
we settled down. we try to live within our means. we take options with lesser risks. 
is it a discovery to be frowned upon? if i'm being honest, i'd say, a part of me has always wanted a simple, safe, and practical kind of life, anyway. 

also as a part of my contemplation, i tried to write down some things that i've learned upon being a 20-something. 

- that it's not necessary or even important to have a witty, or fun, or trendy, or know-it-all type of friends. not even if they're super nice to you. 
the ones who matter are those who truly care about you. and you need to choose wisely what kind of people you want to keep in your life. filter strictly to determine which are worth to keep. and then hold on tightly to ones who really care. 

- should you dream, dream big. make it as big as you can.

- but the real test comes when you're living the dream. whether it makes you or breaks you.

- that today, more than 12 years later, you can finally appreciate the top 40 music from your youth. one is because they are, in fact, good. second is because you no longer care about being defined as a certain kind of person from your choice of music. music is good because it's good. although i still don't dig K-pops or maher zein. i'm talking about sheila on 7's "dan," dewa 19's "kirana," and kla projects' "menjemput impian." ;))

- that you should NOT have gone to that dermatologist to do facial twice a month in your early 20s. because now it leaves damn scars and sponge-like skin :(((

- how you wish you've discovered the perfect foundation instead. 

- that sometimes you need to get out of the car, take public transportations, eat at food stalls, visit those orphanage or slum areas. not to prove how much you care, but simply to soften your heart. (inspired by kicauanien.tumblr.com)

- that you should dance, sing songs out loud, read heaps of beautiful books, watch movies that make you cry, write poems and proses, create arts and crafts, not to get money or fame, but to experience becoming, to find out what's inside you, to make your soul grow. (Kurt Vonnegut--one of my favorite authors--wrote it in a letter).

- that it's not how well or bad you were raised. but how life molds you and who you decided to be. (besides, how long can you blame your parents? not for the rest of your life, right?) 

- that it's perfectly okay to read self-help books. again, it doesn't define who you are or show your weakness. you read it because now they make perfect sense. you're no longer a college girl with broken heart issue, or who is mad at your mom for not allowing you to take that out-of-town trip. now you understand what the "cheese" is, why you need to form better life habits, or why you need to have your financial life sorted out. 

- that the job of taking care of a child 24/7 is EXPECTED to be filled with boredom, repetition, and even stress sometimes.

- that each of us has our own love language. 

- that there actually ARE persons who are glad when someone else is being fortunate, and not greedy, and won't tread on other people's heads (metaphorically) just to stand out among others. and i'm thankful to have encountered these so-not-of-this-earth people. 

- that the louder you yell, the less the kid will listen. to do it effectively, do the exact opposite thing: speak softly. (TOUGH work, though).

- that you can't expect a person to give what they don't have inside. can't expect sincere compliments from a person who never receives any. can't expect empathy from a person who never feels understood. and so on.

- that to make yourself feel better, sometimes it's not about finding the right answer, but about whether you ask the right question. "what are you passionate about? how do you want to be remembered after you're gone?" 
thanks, Kiti, for asking those questions to me :)

- remember "misi 21?" i think I can say i believe in its effectiveness now. scientists say it only takes 21 days to change a habit. in my case, after 21 days (although i wasn't even counting) of erasing path application, i no longer feel like i need the app at all. guess now i should try doing something positive consecutively and then make it my new habit. how 'bout sleeping at 9 pm sharp first? :))

- that happiness is indeed only real when shared. be it in a form of being suddenly silent together in a car when coldplay's "fix you" is heard from the speakers. or when the next-door neighbor brought you a dozen of jco just because. or when you cried on your friend's shoulder at your favorite band's concert.  

- "memories are a wonderful thing, if you don't have to deal with the past."

- almost fifteen years after high school, and i still can't figure out how life works, and what my duty is exactly on this earth.  
after watching "Never Let Me Go," written by Kazuo Ishiguro, i think the message conveyed in it is an analogy for our lives. the characters in the book/movie are "clones" who know exactly what they were created for. which is to complete the task of donating their organs. once they're done doing the donations, they will be dead, but they are said as having been "complete."
just like them, we are also here to complete each of our own tasks. although unlike the clones, we can't figure out what the tasks are clearly and easily. and maybe that's the point of living? to keep searching, and then to keep trying to be complete.  

last but not least, i've learned that regular flossing and routine visits to the dentist are definitely a good investment. start it earlier for a better, brighter future with no root canal therapy involved.


i'm not writing this to sound mature and wise, though. i see it as a soliloquy, something i need to do to ease my heart a little, by cataloguing things that i have done and learned. 
i wish to learn more, and hopefully produce positive outcomes…. 

so, how am i feeling now? 
still jittery? 
guess there's no other way but to embrace it, huh? welcome, you big buffy three-o. 

05/11/2013

the treasure market

last week was fun. and new. 
hari sabtu, sehubungan dengan makin dekatnya ultah bumy, kita menunaikan to-do untuk ke mayestik. tujuannya sih mau nyari kain flanel doang, sama pita-pita. tapi adit tiba-tiba muncul hasrat homemaking-nya, punya ide nyari bahan untuk ganti jok kursi makan. 
kita sampai mayestik jam 9:30an, langsung menuju ke bakmi boy, karena belom sarapan. ternyata belom buka. tapi udah ada beberapa orang dengan setia menunggu di luar, karena bukanya jam 10. kita gabung deh sama para penunggu bukanya bakmi boy itu.

semangkok untuk sendiri... bujug.

anteng menanti di luar kedai boy. banyak jajanan sih.

setelah makan, kita keliling-keliling toko bahan. sempat masuk juga ke gedung yang baru. tapi liat-liat doang (mau beliin bumy sajadah angry birds tapi gak ada #tackyparentsaretacky).
dari situ, kita ke toko maju. buttons and ribbons galoreee. selalu suki ke situ. meskipun berdempetan sangat. 

pas mau difoto, langsung pasang muke letih gini 

dari toko maju, kita memutuskan ke parkiran soalnya bumy (dan adit) mau ikutan lomba hot wheels gitudeh di ratplaz. eeh ternyata nemu tukang piring lucu-lucu. bikin kalap! 


kelar belanja piring, kita sempatin belanja dulu di abang-abang, hkahakhka. bistu meluncur deh ke ratplaz. 
why i said the weekend was new? karena baru kali ini deh rasanya ngajak si koala ke pasar mayestik. seneng juga karena doi gak rewel. dah kenyang makan bakmi seporsi kali ye(!).  

sorenya, sementara adit ngurusin ganti jok sofa, gue ngegunting-guntingin kain flanel buat bikin eye patch. 





jadi deh!

keesokan harinya, sejak pagi hari kita giat bekerja bakti xD berhubung udah resmi gak punya embak lagih, jadi ya gue manfaatin adit deh buat kerjain yang berat-berat (berat bukan berarti perlu tenaga banyak, tapi lebih ke berat ngegerakin badan, zzz). 

sorenya ke karawaci deeh, tak lain tak bukan buat naro setrikaan, heheheh.

padahal kita udah rencanain mau ke hidden park di taman honda tebet kayak Nisha. tapi kita nongkrong di mrican sampe malem (numpang maksi + dinner supaya expense weekendnya sesuai budget hihi).

04/11/2013

the (grand)mamas and the (grand)papas

Menjelang akhir pekan, saya teringat untuk mengecek kalender. Tujuannya hanya untuk memastikan apakah minggu ini giliran kami menginap di rumah ibu saya, atau “rumah oma” begitu anak saya menyebutnya. Semenjak kami pindah ke tempat tinggal baru, yang jaraknya sekitar 30 km dari rumah oma, dibuat kesepakatan tidak tertulis bahwa kami harus menginap di rumah oma setiap dua minggu sekali. Lebih tepatnya sih, kami membawa Bumy menginap di sana.
Ibu telah membantu saya mengasuh Bumy sejak hari pertama saya membawa Bumy pulang dari rumah sakit. Ketika kami memutuskan pindah rumah, ibu ikut bahagia, tapi juga patah hati. Sebulan pertama sepertinya masa yang paling berat buat beliau. Ibu menelpon Bumy setiap malam sambil menangis. Kami rikuh, tapi juga memaklumi bahwa hal tersebut memang bagian dari proses yang harus dilalui.
Ketika saya melihat ke sekeliling, saya menemukan banyak sekali kenalan maupun teman yang menjalani peran sebagai ibu bekerja, sangat terbantu oleh bantuan para nenek dan kakek yang ikut mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka. Selain karena sistem kekeluargaan di Indonesia di mana para orangtua masih tinggal di rumah yang sama atau dekat dengan para kakek-nenek, juga karena kakek-nenek dianggap dapat menjadi pengasuh yang lebih terpercaya dibandingkan menitipkan anak dengan orang yang bukan keluarga.
Tidak hanya itu, menurut sebuah laporan mengenai demografi penduduk, pada tahun 2050, populasi usia 65 tahun ke atas di banyak negara Asia akan jauh lebih tinggi dari sekarang. Bandingkan dengan kondisi para orangtua dari dua generasi sebelumnya, saat bahkan begitu lazim seorang anak tidak memiliki kedua orangtua biologis. Baik akibat kondisi dunia di mana terjadi peperangan, maupun akibat kualitas hidup yang menyebabkan angka harapan hidup (life expectancy) pendek. Dengan demikian, keluarga inti yang terdiri dari multi-generasi kini menjadi populer dan menjadi bagian dari gaya pengasuhan anak terkini.
Menurut penelitian oleh ahli di bidang antropologi evolusi, Sarah Blaffer Hrdy, para kakek dan nenek dapat dipandang sebagai alasan utama manusia dapat hidup sebagai keluarga. Mengapa demikian? Karena kakek-nenek menjadi alloparents atau pengasuh yang bukan orangtua biologis dari anak – selain tante, babysitter, atau anak yang lebih tua dalam keluarga. Namun, dalam sejarah manusia, para kakek-nenek, atau nenek secara khusus adalah alloparents utama sebuah keluarga.
Para peneliti menyebut pengasuhan bersama generasi kakek-nenek sebagai “The Grandmother Effect,” yaitu pengaruh besar dan positif dari para nenek yang membesarkan sendiri atau membantu membesarkan anak-anak dari anak mereka. Entah karena ada kematian dalam keluarga, pemisahan keluarga oleh jarak, maupun alasan finansial dan sosial lain, para nenek telah memainkan peran yang sangat penting dalam mengasuh cucu-cucunya.
Sejarah mencatat sejumlah nama orang-orang hebat yang dibesarkan oleh para nenek. Di antaranya presiden Barack Obama, Maya Angelou, Oprah Winfrey, Bill Clinton, Jack Nicholson, dan Eric Clapton. (*)
Apa yang dilakukan para nenek sehingga dapat memberikan pengaruh yang besar dan positif dalam pengasuhan?
Riset mencatat, para kakek-nenek mengajarkan anak-anak social skills, seperti bagaimana cara bekerja sama, bagaimana berbelas-kasih, dan bagaimana untuk bertenggang-rasa. Saat dilakukan riset terhadap ratusan remaja di Amerika Serikat, ditemukan bahwa jika para nenek terlibat dalam pengasuhan anak, anak-anak itu dapat berhubungan lebih baik dengan komunitas sosial, lebih terlibat dalam kegiatan di sekolah, serta lebih menunjukkan perhatian terhadap sesama. Anak-anak yang dibesarkan oleh para nenek juga memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan dapat lebih mudah beradaptasi.
Sementara bagi keluarga kontemporer, dukungan pengasuhan oleh para nenek memberikan kondisi di mana orangtua memegang peranan utama untuk mendisiplikan tingkah-laku yang negatif, dan para kakek-nenek mendorong tingkah-laku yang positif. Selain itu, ditemukan juga bahwa semakin tinggi keterlibatan para kakek-nenek dalam pengasuhan anak, akan semakin tinggi pula keterlibatan para ayah.
Untuk para kakek-nenek, keterlibatan dalam pengasuhan cucu juga memberikan energi jiwa tersendiri. Meskipun demikian, keterbatasan kondisi fisik patut menjadi poin yang perlu dipertimbangkan. Karenanya, disarankan untuk membatasi waktu pengasuhan oleh kakek-nenek dengan tidak menjadikan mereka satu-satunya pengasuh utama bagi anak.
Kondisi pengasuhan bersama kakek-nenek memang memberikan segudang manfaat. Namun seperti kita ketahui, memiliki banyak tantangan juga. Aturan yang kita terapkan seringkali berbeda dengan para kakek-nenek. Belum lagi kecendrungan para nenek untuk mengikuti keinginan cucu-cucunya. Guna mengatasi konflik yang akan atau malah sudah muncul, ada baiknya kita membangun relasi pengasuhan bersama yang “enak” dengan para kakek-nenek.
Menurut artikel di babyzone.com, relasi pengasuhan yang nyaman itu sangat mungkin untuk dicapai, dengan menerapkan langkah-langkah berikut.
1. A—Agree on the arrangement.
Sepakati hal-hal teknis seputar pengasuhan anak. Lebih mendetil lebih baik. Mulai dari waktu anak bersama kakek-nenek, metode pemberian asi, tidur siang, hingga perlukah “membayar” jasa pengasuhan mereka. Seiring dengan bertambahnya usia anak, hal-hal teknis ini akan meluas ke ranah pendisiplinan. Pastikan kita dan kakek-nenek sejalan dalam hal metode pendisiplinan (jika ini rasanya sulit dicapai, paling tidak, kita dan kakek-nenek sejalan untuk berkompromi dalam perbedaan ;) ).
2. B—Set boundaries.
Batasan yang perlu ditetapkan di sini adalah batasan emosional. Ada kalanya orangtua kita, atau para kakek-nenek, berkomentar mengenai hal-hal yang terjadi di dalam rumah kita, atau mengenai cara pengasuhan kita. Kesepakatan untuk menerapkan batasan privasi memang mungkin dilakukan, meskipun dari segi tradisi ketimuran, hal ini mungkin akan terasa kurang pas bagi sebagian dari kita.
Jika kita merasa kurang nyaman memaparkan batasan terhadap orangtua kita sendiri, atau bahkan kurang nyaman dengan komentar-komentar yang mereka berikan, sebaiknya kita mempertimbangkan untuk mengurangi frekuensi pengasuhan anak oleh kakek-nenek. Ajak anak menginap di rumah kakek-nenek seminggu sekali misalnya, atau sepakati waktu kunjungan tertentu. Dengan demikian, kita dapat menjalani pola asuh yang ingin kita berikan kepada anak, sambil tetap memupuk kedekatan anak dengan kakek-neneknya.
3. C—Communicate.
Membuat pola komunikasi yang baik dan rutin dengan kakek-nenek. Fokuskan pembahasan pada pengasuhan anak, dan berikan kesempatan pada kakek-nenek untuk menuangkan isi hati mereka. Ini penting dilakukan agar relasi pengasuhan dengan kakek-nenek terhindari dari drama keluarga. Supaya tidak terkesan resmi atau tegang, kita bisa menjadwalkan family night out bersama kakek-nenek.
Pada waktu yang tepat, jelaskan nilai-nilai yang ingin kita tanamkan kepada anak, juga cara mencapainya. Dengan ini kita dapat memberikan pengertian kepada kakek-nenek mengenai pola asuh yang ingin kita terapkan.
Last but not least, tunjukkan apresiasi atas bantuan yang mereka berikan. Bisa berupa oleh-oleh sederhana saat kita menitipkan anak untuk pacaran dengan suami (ibu saya selalu berbinar-binar matanya kalau saya bawakan sate padang, meskipun sudah jam 10 malam!), meminta masukan kakek-nenek mengenai pemilihan sekolah atau kursus anak, atau ‘sekedar’ ucapan terima kasih.
“Grandparents, like heroes, are as necessary to a child’s growth as vitamins.” – Joyce Aliston.

Referensi:
- “The Secrets of Happy Families” oleh Bruce Feiler.
- “Grandmother Daycare: How to Make It Work” oleh Jeannie Brown.http://www.babyzone.com/mom/relationships/grandparents-childcare_69709?page=4