11/04/2013

a tribute to Pak B (sort of)

Di kantor, saya bekerja bersama seorang rekan yang senior bukan hanya dari segi jabatan, tapi juga usia. Sebut saja namanya Pak B. Pak B sudah menjadi rekan saya selama 3 tahun. Meskipun dia tergolong atasan di unit kami, tapi sikapnya yang friendly dan sangat peduli terhadap rekan-rekannya menciptakan hubungan pertemanan yang akrab dan tidak kaku. Kalau kehidupan kami di kantor dijadikan serial televisi, Pak B adalah tokoh “mentor” yang akan didatangi rekan-rekannya saat sedang gundah atau butuh nasehat.

Sebagian besar anggota unit kerja kami seringkali makan siang bersama-sama, termasuk Pak B, dan saya. Saya perhatikan, setiap kali jam makan siang tiba, istri Pak B akan menelpon. Maka kalau handphone Pak B sudah berdering, saya dan rekan-rekan sibuk meledeknya, “Ayo yang diabsen, yang diabsen!”
Suatu kali, Pak B bertanya kepada saya, “Memangnya kamu nggak pernah ngingetin suami kamu makan, ya?” yang saya jawab sambil tertawa, lalu berkata, “Buat apa diingetin, Pak? Sudah gede kok bisa lupa makan.”

Pak B cuma tersenyum dan bilang, “Bukan perlu diingetin atau nggak. Tapi nunjukin perhatiannya itu, lho.”

Kali lain, suami saya menelpon ketika Pak B sedang membuka laptop di dekat saya. Percakapan kami, seperti biasa, singkat dan seperlunya saja. “O, ya, nanti kamu yang duluan, ya. Aku tunggu di X. Oke, bye.”
Pak B lantas melihat ke arah saya dengan tampang heran, dan berkata, “Ngomong sama suami, kok, nggak ada mesra-mesranya?”
Saya menjawab, “Plis deh, pak, nikah udah segini tahun masih mesra-mesraan. Kaya abege aja!”

Pada suatu waktu, saya berdiskusi (atau lebih tepatnya curhat) pada Pak B tentang pandangan saya seputar parenting. Seperti yang saya katakan tadi, Pak B sudah dianggap mentor oleh kami rekan-rekannya. Bukan cuma dalam urusan pekerjaan, tapi juga urusan pribadi. Percakapan kami kurang lebih seperti ini,

Saya (S): “Saya suka heran, deh, Pak, sama mereka yang nambah anak dengan alasan ‘Nanti sepi di rumah kalau nggak ada lagi yang diurusin.’ Kenapa nggak dilihat justru sebagai kesempatan, ya.”
Pak B (PB): “Kesempatan ngapain?”
S: “Kesempatan untuk berduaan lagi sama suami, pacaran lagi! ‘Kan udah bertahun-tahun disibukkan ngurus anak. Justru ketika anak sudah gede, saatnya fokus ke hubungan suami-istri lagi, dong. Prioritasin pasangan, mendewasakan hubungan, dan lain sebagainya.”
PB: “Nah, makanya dimulai dari sekarang, dong, maintenance hubungannya. Jangan cuek-cuek sama suami. Tetap mesra kaya masih pacaran. Suatu hari nanti, kan, tinggal berduaan doang.”

Jleb! Saya terdiam mendengar kata-kata Pak B. Ternyata itu ‘pesan’ yang dia coba berikan selama ini lewat pertanyaan-pertanyaannya kepada saya. Hubungan suami-istri memang perlu dijaga ke-sok mesra-annya (hehehe), dan dihindarkan sebisa mungkin dari nuansa “sudah terbiasa” dan “sudah seharusnya.”

Ah, I think we need to catch up where we left it. Sebelum terlambat.

Akhirnya saya berkata pada Pak B, “Bener juga, ya, Pak.” Dan Pak B cuma terkekeh geli.

10/04/2013

please, please, please let me get what i want

boy, these past couple of weeks have been quite energy-draining.
not that i'm complaining or anything. masalahnya, 'sisa' capeknya masih terasa di badan sampai sekarang. kondisi beta saat menulis ini sih udah jauuh mendingan, dibandingkan 24 jam lalu. kemarin tuh muka bagian kanan rasanya nyut-nyutan, i popped painkillers as if they had been chocolate candies.
jadii, what have i been up to?

selasa dua minggu lalu, bumy dirawat di KMC. i totally had no idea he was gonna be admitted. per hari itu, bumy udah 4 hari demam. udah lewat 72-hour rule dong ya. gue tadinya biasa-biasa aja, menganggap common cold, karena anaknya emang udah batpil. tapi, gue perhatiin hari itu kok dia lemessss bawaannya. awalnya bikin janji ke dokter jam 4 sore, tapi jam 12 siang gue nekat bawa bumy konsul, karena kondisinya semakin lemes. mulai worry gue jadinya.
pas ketemu dokter, langsung disuruh cek darah. hasilnya, trombosit bumy 150 ribuan, di bawah batas normal RS yang 223 ribu. berhubung PRT depan rumah sempat dirawat karena DBD bulan lalu, dokternya juga ada kecurigaan ke arah situ dan merekomendasikan bumy dirawat. gue sih setuju aja, soalnya doi udah mulai males minum. jadilah gue untuk pertama kalinya ngurusin administrasi rawat inap seorang diri. sambil gendongin bocah ke mana-mana pula. dianya sih nggak minta (huhu emang selalu pengertian dia), cuma gue nggak mungkin aja bolak-balik ninggalin dia duduk sendirian di ruang tunggu. ketika gue lagi ngurus-ngurus, gue perhatiin dia kayak udah capek nahan badannya sakit. kebayang sih rasanya. gue juga pernah diare sampe trombosit turun, trus rasanya badan kayak diulek. huhu my poor baby.

jam 3:30 sore, bumy masuk ke ruangan rawat inap. begitu sampai di lantai 3, susternya masih pada inget gitu -___- 

masih bisa manyun-manyun dia, liat dong muka ane.


bagian paling bikin... apa ya, gak tau harus kagum atau miris, adalah bumy nggak pernah nangis tangannya ditusuk jarum selama di RS. ambil darah, pasang-copot infus. padahal harus dicolok tiap pagi karena jadi suspect DB, 'kan. mungkin karena gue suka ceritain barney ke dokter trus ditusuk rasanya cuma kayak digigit semut ya. or maybe he's just a big boy already, huhu.

di hari ke-3, dokternya udah nyuruh pulang karena alhamdulillah sakitnya viral infection aja.
satu hal yang bikin gue worry adalah rencana kita melancong ke singapur just 4 days away from the hospital check-out day. takutnya bumy masih ringkih gitu imunitasnya :S
jadi gue putuskan senin konsul lagi ke KMC (emang udah seharusnya konsul pasca-rawat juga sih).
ketika ketemu dokter (saat itu dr. Anita), ditegaskan kalo bumy udah fine-fine aja. alhamdulillah. emang sih doi udah lincah banget, makannya juga banyak seolah making up for his sick days. yaudah, gue juga tenang ngajak doi melala.

but i had another problem myself. sejak bumy dirawat, gue mulai kena flu berat. berhubung gue doang yang nungguin bumy di RS, jadi gue menghindari minum obat flu yang bikin ngantuk dong. pas bumy check out dari RS, flu gue malah memburuk. gue mulai minum neozep untuk 'ngejar' keberangkatan ke singapur.
ternyata, pas hari keberangkatan, gue masih tetep flu -___- yeah, what do you expect laa, istirahat kurang, trus udah mau melala lagi. jadilah kemarin gue merasakan yang namanya kuping sakit selama berada di pesawat. sebelum berangkat, gue udah rewel curhat ke Sasa dan Nisha, hehehe. makasih ya mau menampung keluh-kesahku :*

meanwhile, days in singapore are... as i said many times, unambitious. bumy and i spent most of our days napping and watching tv. adit sendiri ke sana dalam rangka training. jadi dia berangkat pagi, maksi bareng kita, balik ke kantor lagi, trus baru melala sorenya.
gue sama bumy ngabisin waktu (kalo lagi keluar kamar) dengan ngiterin raffles city mall yang ada tepat di bawah hotel. mayanlah, melenturkan lidah buat ngomong singlish sama para kasir dan SPG (yeah right). but overall, i was just too lazy and sick to venture the city just by myself (while bringing bumy along of course). sorenya sih, kita sempat berkunjung (baca: belanja) ke ikea, orchard, vivo, bahkan clementi. i didn't even want to visit non-shopping-related places.
karena selama di sana, flu gue memburuk. awalnya meler doang, jadi ke sakit menelan, dan gejala sinus, yaitu muka sebelah kanan cenat-cenut.

in case anyone wants to see merlion from the back


sungkem dulu sama sponsor

well, enough about that. i had paid a visit to ENT specialist the other day, and now i'm on antibiotics. yay! :P

balik dari bandara, kita dijemput sama mertua gue. baliknya bukan ke jagakarsa, tapi ke rumah nyokap di karawaci. jadinya malah ngumpul deh di rumah nyokap, bahkan ada pacar adek gue segala. rameee sampe malem.
jujur, gue jadi keenakan tinggal di karawaci/rumah nyokap. soalnya lagi sakit gini, berasa banget ada yang ngurusin. mau makan ada, gak usah nyuci piring, bisa molor terus-terusan ('kan pengaruh obat, heuheu).
kalo dipikir-pikir, dua minggu rumah jagakarsa gak ditempatin.
hari ini, gue merasa agak rikuh kembali harus cuci piring sendiri setelah keenakan diservis di RS, hotel, lantas rumah nyokap, hehe.

oya, di sisi kehidupan sosial, i'm sooo glad i got to meet my old best buddies.
di sing, ketemu tia. sohib gue di binus. it was only a few hours but we talked/shared/rambled like mad. rasanya kayak baru kemaren ketemu trus curhat panjang-lebar. padahal mah... the last time we saw each other pas bumy usianya 1 tahun.
adit juga seneng tuh bisa ketemu tia, bisa dapet insight karier dan kehidupan di sing.

trus pas di karawaci, gue bisa ketemu kiti dan elmo. huahhh, kangen gila sama dua orang ini. seharusnya ada satu orang lagi sih 'anggauta' kita (the ultimate crazy one justru.) but she couldn't make it. berhubung kehadiran gue awalnya didasari jebe semata, jadi gue gak tau apa yang kiti dan elmo mau omongin eh rapatin. ternyata mereka mau adain social works gitu. ih hebat bangett temen-temenku. aseli, ini orang berdua kayak gak ada hedon-hedonnya... yang dibahas masalah proposal, sumber dana, dst dsb. trus mereka dengan manisnya ngomong ke gue, "chom, kalo ada waktu, ikutan ajaa." uhuk! malu ati aye. so i told them, harusnya sih gue bisa-bisa aja, secara udah jadi IRT 'kan, hehe. semoga aja beneran bisa gue bergumul dalam urusan sosial-kemasyarakatan gini... karena udah setahun ini cuma WACANA judulnya *menatap nanar formulir keanggotaan volunteering*. 

the medical doctors and me, the mental. we fit like puzzle pieces, eh?
other than that, of course we had a curhat session. and it's funny how we barely talked about other people.... instead, we discussed our opinions about life, marriage, jobs, and philantropy. uh wow, them girls gave a whole new, refreshed point of view, really.
after meeting them, i got a funny feeling inside of me, and i felt like i just had to tweet it. i said, "to meet old, close pals again after awhile is like a journey to who you were and why you're the person you are now."

seeing them, talking to them, it just reminded me of the girl i used to be. the foolish girl that hung out with them. they knew my battle, they knew my struggle. and they've always known the much crazier version of me that existed before i met adit, hehehe. it's like looking at an old photo album. it's nostalgic, but also feels great, even now as i'm remembering it.

anyway... random stuff in my head that i just need to get out of the systems:
- tiba-tiba keinget soal form CLTP yang baru mau diajukan minggu ini. trus perut jadi mules aja gitu. jadi khawatir prosesnya panjang dan memakan waktu lama.
- should i get a full-time maid or a part-timer like i used to?
- i haven't written anything for MD this month. (.__.)
- OH! the seminar! how can i not mention that? a whole other post, i guess.
- loving this book. it made me laugh like a maniac, EVEN at the doctor's waiting lounge with a cenut-cenut face.
 
worth every-leftover-pennies! (ket: beli di airport pas mau balik).
- bumy's done the assessment at his future school.
- how come the cough syrup hasn't done its magic? which is to make me feel sleepy on a snap? have i grown immune of it??


30/03/2013

The Big Choice



Per hari ini, sudah hampir satu bulan saya menjalani hari-hari cuti dari titel karyawati, dan bertugas sebagai ibu yang ‘ngepos’ di rumah.
Saat mem’publikasi’kan kondisi saya ini, entah secara lisan atau melalui social media, reaksi pertama yang saya dapatkan, hampir selalu pertanyaan “Kenapa??” (sengaja pakai dua tanda seru untuk menyatakan ekspresi keheranan para penanya, hehe).


Seperti pernah saya ceritakan di sini, sudah lama saya mencita-citakan “banting setir.” Bahkan gagasan menjadi SAHM sudah saya pikirkan sebelum menikah.
Saya ingat pembicaraan dengan calon suami beberapa tahun silam tentang parenting. Salah satu yang kami sepakati adalah kami tidak ingin anak diasuh oleh pembantu saja. Idealnya sih, saya ingin menjadi ibu yang mengasuh sendiri buah hatinya. Tapi saya masih ingin tetap bekerja setelah menikah, atau bahkan setelah punya anak, untuk mencapai kondisi paling memungkinkan dari segi finansial, dan paling nyaman dari segi kesiapan mental.
Setelah benar-benar menjadi orangtua, saya dihadapkan pada dilema yang umum dihadapi para ibu baru: Kembali ngantor atau tidak?

Kalau ingin mengikuti gambaran ideal tadi sih, inginnya memegang anak secara full-time, nursing kapanpun anak meminta, menerapkan attachment parenting, dan seterusnya. Tapi saya merasa kondisi rumah tangga kami saat itu belum ‘kokoh’ dari segi finansial. Dan saya tahu pasti bahwa saya belum siap secara mental. Kenapa?
Karena sebagian dari diri saya diam-diam lega ketika harus kembali ngantor. Saat ibu-ibu di kantor berkomentar dengan penuh empati pada hari pertama saya masuk setelah cuti hamil, “Duuh, pasti sedih, ya, ninggalin anak di rumah…” Dalam hati saya menjawab, “Sebenarnya enggak juga, sih.”

Betapapun saya merasa bersalah karena merasa begitu, saya harus mengakui ada kelegaan bisa bekerja. Going to the office feels like a breath of fresh air. Saya bisa bertemu orang-orang, membicarakan hal selain popok dan pup, dan tidak perlu melulu nursing (dus, alasan untuk berganti pakaian selain daster dengan kancing di dada.)
Mungkin bisa dibilang ini adalah wujud ketidaksiapan saya untuk menjadi stay-at-home-mom. Seperti kita semua tahu, gambaran ideal bisa terdistorsi jika sudah dihadapkan dengan kenyataan :D

Lalu, kok sekarang ‘nekat’ mau jadi SAHM?

Hari demi hari yang saya lalui bersama anak saya memberikan saya pelajaran, untuk semakin mengenal diri saya, dan menyadari wujud relasi saya dengan anak.
Saya melihat bahwa anak saya lebih clingy kepada oma-nya.
Saya melihat bahwa yang tertanam pada dirinya adalah pola asuh oma-nya yang bersama dia 12 jam sehari 5 hari seminggu.
Saya menyadari bahwa saya kekurangan kesabaran setelah menempuh 4-6 jam perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Saya cenderung cranky menghadapi ‘kesalahan’ khas kanak-kanaknya.
Hampir setiap hari (kerja), saya hanya sanggup “berbasa-basi” sejenak dengan anak sebelum akhirnya tidur membawa kelelahan.

Saya tergugu saat menyadari bahwa my kid deserves better. Kini anak saya telah memasuki masa di mana porsi pengasuhan lebih dititikberatkan untuk me-nurture kemampuan psiko-emosional anak, selain kognitif dan kesehatan fisiknya. Ini adalah saat untuk menanamkan kebiasaan baik, menumbuhkan kemandirian, dan menancapkan pondasi kepribadian dan karakternya. Saya bertanya pada diri sendiri, “Sebaik apa kualitas pengasuhan yang dapat saya berikan dengan tetap bekerja? Dan sebaik apa jika saya berhenti bekerja?”

Untuk menjawab pertanyaan, saya menggali diri sendiri. Gambaran ideal tentang pengasuhan sudah tertanam di diri saya sejak lama. Saya sendiri dibesarkan oleh ibu bekerja, dan semakin dewasa, saya semakin menyadari bahwa she and I are so much alike. She was so stressed out when trying to balance her work and personal life. Seperti yang saya rasakan sekarang. Saya sadar, pasti ada banyak ibu-ibu bekerja di luar sana yang secara fisik maupun emosi menjalani apa yang saya jalani dan tetap bisa melakukan performa yang prima. Memiliki jumlah waktu serta kesibukan yang sama dengan saya, dan tidak mengeluh. Tapi, manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lain. Kita unik, dengan karakter, kepribadian, dan cara kita menjalani hidup.
Saya ingin mencoba melakukan yang terbaik, dalam pandangan dan dengan cara saya. Dan kebetulan saja, dengan kondisi sebagai pekerja 8 to 5 (meski dalam praktiknya 5 to 8), saya merasa tidak bisa mencapai kualitas pengasuhan yang ingin saya berikan kepada anak dengan tetap bekerja.


Saya sendiri percaya akan paham “quality over quantity.” Saya bertaya pada diri sendiri, untuk apa secara fisik bersama anak berjam-jam tapi tetap tidak mampu membangun relasi yang baik, apalagi kualitas pengasuhan yang baik?
Seperti halnya apa manfaat ikut banyak seminar parenting jika tidak bisa mengubah diri?
Dan, untuk apa punya cita-cita jika tidak berusaha diwujudkan?

Saat kuliah, saya selalu membuat target pencapaian IP. Prinsip saya, berikan dulu yang ‘terbaik,’ end-result tidak perlu dipusingkan. Karena penentu berapa besar nilai bukan cuma usaha kita, tapi ada juga faktor x, y, z. Bisa saja saat ujian kita sakit. Bisa saja materi yang kita baca tidak diuji. Ada puluhan bahkan ratusan skenario lain. Yang terpenting adalah berusaha, melakukan yang terbaik menurut saya.
That way, I won’t ask myself at the end of day, “What if i had done this instead of that? What would have happened if i tried harder?”

Maka pelan-pelan saya mencoba menata hati agar berjalan ke arah usaha ‘terbaik’ itu. Saya mencoba less-attached kepada kenikmatan-kenikmatan yang didapat dari kantor (dalam wujud gaji, terutama, hehe). Saya bahkan berkonsultasi dengan psikolog keluarga agar bisa mendapatkan masukan yang paling sesuai dengan kebutuhan saya. Saya juga banyak membaca testimonial ibu-ibu yang “banting setir” supaya mendapat gambaran realistis, misalnya bagaimana beradaptasi dengan perubahan dunia yang tadinya ‘luas’ menjadi ‘sempit?’ Saya juga dapat banyak masukan untuk memanfaatkan waktu dan status sebagai SAHM.

Dari situ, saya menyadari bahwa yang paling penting adalah tidak defensif, buka hati dan rasakan. Kekhawatiran orang-orang terdekat muncul karena mereka sayang dan ingin yang terbaik bagi kita. Komentar-komentar yang kesannya negatif, muncul mungkin karena pengalaman negatif namun bisa dijadikan pelajaran dan alarm pribadi.
Pada akhirnya, no one knows how it’s gonna turn out. Namanya juga usaha :) Seperti saat membuat target tadi, yang paling penting, lakukan bagian berusahanya dulu. I do my part and let God do the rest. Pretty much a leap of faith, right?

Kesimpulannya, saya ingin mencoba melakukan yang terbaik dalam VERSI saya, dan kebetulan saja, dengan segala ‘konspirasi’ kosmik yang telah membentuk kepribadian dan jalan hidup saya, saya memilih ini.

Saat sedang membuat tulisan ini, saya teringat pada adegan di film Mona Lisa Smile yang menurut saya, bisa menggambarkan apa yang saya coba paparkan. Joan Brandwyn yang diperankan oleh aktris Julia Stiles, adalah karakter perempuan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga setelah menikah. Padahal ia mendapat pendidikan, dan kesempatan, untuk bisa berkeluarga DAN berkarir di masa di mana hak perempuan untuk berkarir sulit didapatkan. Saat dosennya menyayangkan pilihan Joan, dia berkata,

“You stand in class and tell us to look beyond the image, but you don’t. To you a housewife is someone who sold her soul for a center hall colonial. She has no depth, no intellect, no interests. You’re the one who said I could do anything I wanted. This is what I want.”

Meski saya tidak se-jumawa Joan Brandwyn, tapi dia memang mewakili apa yang ingin saya sampaikan. I went to school, had my options, and this is what i want now. What’s yours, Mommies? :)

22/03/2013

a thousand w's and a billion h's

ingat pernah menulis (iya pake tangan dan pulpen, Bumy, if you read this someday and the world is hillybilly-all-techy-that-people-won't-write-with-hands-anymore) lirik lagu ini di diary saat sma dahulu. 
trus tiba-tiba keinget karena ada satu dua bait lirik yang berlompatan di kepala karena satu dua trigger.
it's deep, meaningful, and soothing in a way. 
written in bold are the ones i'm favoriting at this moment.
enjoy.



these are the thoughts that go through my head
in my backyard on a Sunday afternoon
when I have the house to myself and I am not
expending all that energy on fighting with my boyfriend

is he the one that I will marry?
why is it so hard to be objective about myself?
why do I feel cellularly alone?
am I supposed to live in this crazy city?

can blindly continued fear, induced regurgitated life, denying tradition be overcome?

where does the money go that I send to those in need?
if we have so much why do some people have nothing still?
why do I feel frantic when I first wake up in the morning?
why do you say you are spiritual yet you treat people like shit?

how can you say you're close to God,
and yet you talk behind my back as though I am not a part of you?
why do I say I'm fine, when it's obvious I'm not?
why's it so hard to tell you what I want?
why can't you just read my mind?

why do I fear that the quieter I am the less you will listen?
why do I care whether you like me or not?
why is it so hard for me to be angry?
why is it such work to stay conscious and so easy to get stuck,
and not the other way around?

 
will I ever move back to canada?
can I be with a lover with whom I am a student and a master?
why am I encouraged to shut my mouth when it gets too close to home?
why cannot i live in the moment?

("These are The Thoughts" by Alanis Morissette)

20/03/2013

remah-remah hari

baru juga rabu, tapi rasanya minggu ini sering banget keluar rumah deh. hampir tiap hari balik ke rumah lagi pas udah gelap. kok gak sejalan sama status SAHM?! (baca: kangen tidur abis sarapan dan abis makan siang)
senin, gue dan bumy ngikut adit berangkat kerja. soalnya doi mau ada rencana kunjungan ke kantor orang di area SCBD, yang mana jauh dari stasiun. jadi menurut dia mendingan bumy taro di daycare aja biar pulangnya bisa bareng naik mobil. rempong deh kalo dipikir-pikir sekarang. tapi gue nurut aje. bagusnya, jalanan senin pagi itu bersahabat banget. perjalanan cuma 1 jam dari rumah ke kebayoran.
setelah bumy di-drop di daycare, gue nongkrong deh, kali ini di KFC gunawarman. ternyata, mereka lagi promo paket hazelnut coffee + donut 11 ribu ajah. bagus deh, bisa ngopi murah, dapet wifi pula. (sok keren gitu gue nongkrong buka laptop ala pekerja freelance. padahal browsing doang bukannya berkarya, fufu).

besoknya, berhubung paspor kita udah gak diambil sejak dibikin 6 bulan lalu, adit ngajak kita ke imigrasi tangerang. repot amat sih harus ngambil sendiri?! soalnya sebelumnya adit udah nyuruh "biro jasa" ngambilin, tapi dia nakut-nakutin. katanya kalo udah 6 bulan gini bakalan ribet dan susah. intinya minta biaya tambahan doi. jadi adit decide ambil sendiri aja, biar tau gimana dan apa kendalanya (baca: gak rela dikibulin calo).
ternyata, proses ngambilnya gak lebih dari 10 menit. paspor kita masih disimpenin. meskipun petugasnya sempat rada nakut-nakutin juga, bilang "wah udah kelamaan nih, udah digunting kayaknya." tsk.

balik dari imigrasi, berhubung udah deket sama rumah nyokap, kita memutuskan mampir dulu. lumayan bisa makan gratis (old habits die hard). dari rumah nyokap, kita mampir dulu ke ruko paramount di gading serpong. keren amat deh di situ, makanan rukonya burger king, domino's, ramen, dan tempat bilyar haha.
trus sampai di rumah udah jam 9 malem. tepar berats.

sementara hari ini, adit ada urusan harus ke klien (padahal lagi cuti). kebetulan, ada agenda makan siang sama nisha dan lia juga. senangnya beta bisa bersosialisasi, hehe. sebelum maksi, kita ke playgroup di kemang dulu. nanya-nanya soal admission, keliling-keliling sekolahnya, dan berujung membawa formulir pendaftaran :7
sekolahnya bagus, bersih, dan sistemnya terlihat udah 'matang.' gue jadi bingung sendiri deh nih (siapa suruuuh). kalo di tetum, sekolahnya lebih deket, bayaran lebih murah
(bobot 80% dari seluruh pertimbangan, hahaha). tapi kalau menyasar sd tujuan, pengennya 'merintis' dari sekarang melalui playgroup dan tk kemang itu. 

bumy dapat kado dari bunda Nisha dan kakak Nara. girang banget doi (apa silau kena blitz nih)

sekarang gue sibuk lagi browsing tentang kedua sekolah playgroup dan tk itu... feeling sih masih berat ke tetum ya. lagian, gue baca ada juga anak yang dari luar playgroup kemang itu bisa diterima. binun ey.

fiuh, semoga aja bisa bikin keputusan yang paling tepat deh, dan end-result-nya juga oke. amin.

oya, tambahan random update lagi. pas kemaren di mrican, nyokap gue ujug-ujug ngomong, "dit, kamu jadi ketua panitia ya." adit yang lagi ongkang-ongkang kaki nonton tv, langsung duduk tegak, "hah? kok saya, mah?"
panitia acara kawinan adek gue maksudnya. hahahha. garuk-garuk pala deh dia abis itu, kelakuan khas kalo lagi bingung. tapi ya, emang tipikal anak sulung, control freak. lagaknya aja bingung di permulaan. gak sampe 30 menit, dia udah mulai "on fire." langsung nanya ke debby (adek gue), "jadi apa aja yang udah beres nih? checklist-nya mana? technical meeting sama vendor kapan?" jadilah adek gue dibikin begadang sampe jam 1 pagi, hahaha. btw, kemarin dikirimin foto undangan yang udah jadi sama adek gue. senyum puas deh si ketua panitia, karena satu item bisa checklist (dari sekian puluh). 

btw, pembuatan undangan ini 90% campur tangan gue dan adit, hehehe. #sindromanaksulung #controlfreak
lirik lagu ini sebenernya kandidat kuat kata-kata yang mau dipasang di undangan gue dahulu. tapi 'kalah' sama potongan dialog di film When Harry Met Sally. seneng deh, in a way jadi terwujud juga obsesi memampangkan kata-kata keren ini di undangan :P






"I'll be your mirror, reflect what you are
in case you don't know, 
I'll be the wind, the rain, and the sunset, 
the light on your door
to show that you're home." 
("I'll be Your Mirror" by The Velvet Underground)







18/03/2013

something about taking the road less taken



CAN I AFFORD TO BE A STAY-AT-HOME-MOTHER?

by vanshe — Monday, March 18th, 2013 at 7:30 am


Saat menjelang akhir tahun, seperti banyak orang, saya menyusun resolusi untuk dicapai di tahun yang baru. Daftar yang saya miliki tidak begitu panjang, tapi ada beberapa hal yang kerap tercantum pada daftar itu selama beberapa tahun belakangan. Salah satu resolusi yang berulang itu adalah untuk menjadi stay-at-home mother, atau disingkat SAHM.

Alasan saya terus bekerja setelah menjadi ibu, selain agar memiliki sarana aktualisasi diri, juga untuk meraih target-target finansial kami sebagai keluarga. Sebutlah target dana-dana yang sifatnya ‘wajib’ seperti dana pendidikan anak, dana pensiun, dan dana darurat, hingga target dana yang sifatnya ‘tersier’ seperti liburan atau nonton konser. Tentunya, dengan bekerja, saya memiliki privilege untuk berkontribusi pada target-target ini. Tapi, keinginan untuk menjadi SAHM terus-menerus menggedor dinding nurani saya, dan setelah 3 tahun menunggu, insya Allah tahun ini saya bisa mewujudkannya.

Hal pertama yang saya pikirkan sebelum resmi “banting setir” adalah mengukur kesiapan dari segi finansial. Seperti judul artikel ini, saya bertanya pada diri sendiri, “Can I afford to be a SAHM?”
“Kran” penghasilan yang tadinya mengucur dari dua titik, akan berkurang satu, dan basically, we will be living on single-income.

Penantian saya selama 3 tahun untuk mewujudkan resolusi sebagai SAHM, memberikan saya waktu untuk menyusun persiapan dari segi finansial maupun mental. Kali ini, saya ingin berbagi persiapan yang saya lakukan dari segi finansial (sisi mentalnya hopefully segera menyusul, hehe), semoga bisa memberikan insight pada Mommies yang memiliki resolusi serupa :)

Hal-hal yang saya lakukan untuk mengukur kesiapan dari segi finansial, di antaranya:

1. Mencatat budget bulanan.
Kegiatan ini sebenarnya sudah menjadi ‘makanan’ saya sejak mulai berumah-tangga. Tapi sekarang, pencatatan budget yang saya lakukan difokuskan untuk mencari pos pengeluaran mana saja yang bisa dikurangi, atau bila perlu, dihilangkan.
Dari sini, kita juga dapat mengetahui seberapa besar ‘biaya’ yang kita keluarkan jika terus bekerja, dan seberapa banyak yang bisa dihemat dengan menjadi SAHM.
Saya juga berusaha mengisi budget-tracking dengan sejujur mungkin. Karena sebelumnya, kegiatan budgeting ini seringkali manis di awal (bulan) saja. Begitu sampai pada tahap review di akhir bulan, saya tutup muka melihat realisasi pengeluaran :)) Kejujuran dalam mengisi budget-tracking ini diharapkan bisa menghasilkan gambaran cashflow keuangan keluarga dalam versi paling baru dan realistis.

2. Menyusun cashflow tahunan dan mereview kesehatan keuangan keluarga.
Selain menyusun cashflow bulanan, cashflow tahunan juga sangat penting untuk dilakukan untuk mendapat gambaran lengkap mengenai kondisi keuangan kita. Dari cashflow tahunan, kita dapat mengetahui seberapa besar dana yang bisa kita alokasikan untuk berinvestasi, setelah dikurangi pengeluaran yang sifatnya tahunan. Me-list down pengeluaran tahunan tidak sulit kok, karena sifatnya yang rutin, seperti pembayaran pajak, premi asuransi, belanja keperluan hari raya, dan lain-lain.
Sementara rasio kesehatan keuangan keluarga yang dapat dihitung di antaranya rasio likuiditas, hutang, dan investasi. Dari situ, akan didapatkan gambaran riil mengenai kondisi keuangan kita. Tentunya ada batasan seberapa besar angka yang harus dicapai agar kondisi kita tergolong “sehat.”
Saya sendiri mencoba menentukan batasan minimum rasio yang perlu dicapai untuk mengukur kesiapan dari segi finansial. Tapi saya tidak menjadikannya tolak ukur, melainkan hanya sebagaibooster motivasi. Karena urgency untuk “banting setir” menjadi SAHM tidak dapat dibandingkan lurus dengan ‘angka,’ dalam hal ini nominal uang yang kita miliki, ‘kan?

3. Mencari cara mendapatkan penghasilan tambahan.
Yang enak dari hal ini, dengan lepasnya status saya sebagai pekerja, seakan-akan saya mendapat privilege untuk melakukan hal yang saya sukai. Melakukan hal yang kita sukai saja sudah menjadi obat jiwa, tentunyamendapatkan penghasilan tambahan dari hal itu menjadi ‘bonus’ yang sangat menyenangkan.

4. Melakukan trial‘ hidup dengan satu income beberapa bulan sebelum “banting setir”.
Selain untuk membiasakan diri supaya tidak terlalu ‘kaget’ nantinya, hal ini juga membantu kami menyusun prioritas pengeluaran. Misalnya dengan berusaha memenuhi dana darurat, meski belum bisa memenuhi pos ini seluruhnya, paling tidak mengurangi nominal kewajiban.
Melalui ‘trial‘ ini, saya menyadari bahwa dengan mengurangi pengeluaran, we can contribute by saving money. Misalnya dengan mengurangi cicilan bulanan, atau dengan cara sederhana, seperti berkebun sayur-mayur (bagi yang hobi), membuat sendiri mainan anak, memanfaatkan promo kartu kredit, dan banyak lagi.

5. Saya pernah membaca pengalaman seorang ibu yang “banting setir” menjadi SAHM, bahwa sebelum resign, dia membuat rekening persiapan. Rekening itu bertujuan membiayai kebutuhan yang sifatnya personal atau ‘tersier.’ Saya meniru cara ini, dengan menyisihkan dana untuk mengisi rumah. Mommies lain mungkin ada yang ingin menyisihkan untuk ikut seminar parenting, dana bangun rumah, traveling, dan lain sebagainya.

Sekarang giliran para Mommies yang ingin “banting setir” seperti saya untuk menjawab, can you afford to be a SAHM? And what are your preparations? :D


superconnected

Yang pernah bandel berkompensasi dengan jadi aktivis religi. 
Yang pernah jadi nobody pas jaman sekolah berkompensasi dengan sibuk berkoar-koar soal achievement (dan harta.) 
Yang eks-transmigran berkompensasi dengan lagak ala "orang sukses di ibukota." 
Yang (pernah?) jelek berkompensasi dengan... pamer dapet laki tajir, atau foto salju, atau koleksi tas branded? 

So, what do you compensate with?
I know I compensate. I just hope I do it so subtly noone would cringe :))